Saturday, October 6, 2012

Tata cara mengerjakan shalat dalam Al-Qur’an

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Bersuci ketika hendak mengerjakan shalat

Allah berfirman

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka
1.   basuhlah mukamu, dan;
2.   tanganmu sampai dengan siku, dan;
3.   sapulah kepalamu, dan;
4.   (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan;
5.   jika kamu junub maka mandilah, dan;
6.   jika kamu sakit atau dalam perjalanan kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih);
7.   sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu,


Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (QS. 5:6)


Dalam firman Allah  disebutkan juga larangan untuk mengerjakan dan mendirikan shalat

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu
1.   dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, jangan pula  sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hinggakamu mandi.
2.   Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau kembali dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu.

Sesungguhnya Allah Maha Pema'af lagi Maha Pengampun. (QS. 4:43)



Inilah cara bersuci yang benar tidak perlu ditambah dan tidak perlu dikurangi. dan ayat diatas juga menjelaskan  larangan mengerjakan sekaligus mendirikan shalat yang  dijelaskan langsung oleh Kalam Allah dalam kitab yang menjelaskan segala sesuatu secara terperinci. Lalu apakah kalian masih tidak bisa menerima penjelasan ini wahai kaum pengingkar kitab Allah! Kalau kalian beralasan tidak mengerti apa yang disebutkan dalam Al-Qur’an baiknya anda bertaubat dan meminta Allah untuk membukakan pintu hati agar dapat mengimani ayat Allah tanpa mempertanyakannya.

Sebenarnya saya sungguh ingin menyinggung lagi penghinaan terhadap nabi di kitab yang lain itu tapi baiknya saya pisahkan segmentnya nanti pada lain kesempatan.

Diperintahkan agar memakai pakaian yang “indah“

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. 7:31)

Ini menarik, kata pakaian dan indah disini adalah sebuah bentuk kata yang mempunyai banyak arti yang paling tepat adalah pakaian taqwa seperti dijelaskan dalam Firman Allah

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan pakaian untuk menutupi 'auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat. (QS. 7:26)

Jadi kalau ada yang pakai baju indah dan mahal dalam ukuran mata manusia dan berjalan seakan akan menembus gunung dan berjengot panjang dan berdahi hitam, tapi tidak mengikuti ajaran Al-Qur’an, sama saja jahiliyah itungannya! Sebaliknya ada yang shalat dgn pakaian yang satu satunya dia punya, sudah agak robek, dan agak kusam tapi shalat berdasarkan Al-Qur’an, dan tidak berdahi hitam, insya Allah dia menemui kebenaran dalam mengerjakan shalat.


Seruan untuk mengerjakan  shalat

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari pertemuan, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. 62:9)

Katakanlah:"Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS. 17:110)

Kita diwajibkan untuk mengajak sesama manusia kearah keselamatan karena itu sesuai dgn konsep kata “islam“, Allah berfirman

Serulah  kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 16:125)

Sudah sepantasnya kita hanya bersaksi atas keesaan Allah dan kemuliaan Allah dalam seruan shalat kita


Penting untuk diingat!:

Di dalam shalat kita;
•   Dilarang menyekutukan Allah dalam hal apapun dalam seruan untuk shalat.
•   Dilarang memasukan nama siapapun manusia termasuk nama nabi setelah nama Allah.

Katakanlah:"Sesungguhnya aku hanya menyembah Rabbmu dan aku tidak mempersekutukan sesuatupun dengan-Nya". (QS. 72:20)

Memasukan nama Nabi Muhammad dalam prosesi mengerjakan dan mendirikan shalat adalah ajaran yang tidak ada di Al-Qur’an! dan termasuk perbuatan yang tidak semestinya karena Shalat adalah bentuk ibadah hanya ditujukan kepada Allah, mengingat Allah, bukan mengingat Nabi! Allah secara tegas dalam firmannya

Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. 20:14)

Seruan apapun asal hanya menyeru kepada kebesaran dan kemuliaan Allah maka seruan itu dianjurkan dan diwajibkan di dalam Al-Qur’an.

Katakanlah:"Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan jangan kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS. 17:110)

Mungkin disini ada diantara manusia kebanyakan akan mulai gelisah dengan pernyataan saya bahwa dalam shalat kita dilarang menyebut nama siapapun selain Allah, atau mungkin kaum kebanyakan, termasuk lembaga yang katanya ahli menentukan fatwa kupingnya matanya sudah kelabakan dan hati gelisah, ketika hanya nama Allah yang disebut! Ini wajar Allah telah memberitakan tentang ciri ciri kafirun seperti orang orang ini:

Dan apabila nama Allah saja yang disebut, kesallah hati orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka bergirang hati.' (QS. 39:45)

Mungkin para kafir akan sedikit berkata dalam hati “saya percaya kehidupan akhirat kok?“ stop dulu!, kehidupan akhirat bagaimana yang anda percaya, kehidupan akhirat yang diceritakan bahwa nabi Muhammad akan menolong anda di hadapan Allah, atau kehidupan akhirat yang konon diucapkan seolah olah  nabi Muhammad tukang meramal? Zalimlah kalian yang mengimani kitab kitab lain itu yang secara sengaja disusun oleh iblis, Asal kalian tahu nabi Muhammad tidak tahu sedikitpun tentang kehidupan akhirat, ini jelas dikatakan beliau setelah diperintahkan oleh Allah untuk mengatakannya di dalam Al-Qur’an, ketika ada yang bertanya mengenai kehidupan akhirat

Katakanlah:"Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku ini malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang telah diwahyukan kepadaku. Katakanlah:"Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat". Maka apakah kamu tidak memikirkan(nya). (QS. 6:50)

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat:"Bilakah terjadinya". Katakanlah:"Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Rabbku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah:"Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Rabb, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui". (QS. 7:187)


Firman Allah diatas mengugurkan ratusan hadist di kitab yang lain itu yang mengambarkan bahwa Nabi mengetahui keadaan hari kiamat. Kalau ternyata bukan nabi yang mengatakannya berarti siapa yang mengatakannya? Siapa lagi kalau bukan para musuh manusia yang akan menyesatkan kaum kebanyakan dengan hanya mengunakan nama Nabi!!

Lalu saya ingin mengundang pertanyaan untuk kaum kebanyakan yang menduakan Allah.
Dalam sebuah konsep yang anda  kenal syahadat
, kenapa kalian Cuma bersaksi atas nabi Muhammad kalau kalian pikir itu diperlukan dan diharuskan? Kenapa kalian tidak sekalian untuk bersaksi  atas seluruh nabi Allah lainnya, kan anda tahu kita diperintahkan untuk tidak membeda bedakan para Nabi Allah, lalu kenapa hanya nama Muhammad yang kalian saksikan?

Apakah kalian lupa firman Allah dibawah ini

Katakanlah (hai orang-orang mu'min):"Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'kub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan 'Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. 2:136)

Lalu kenapa kalian membeda bedakan dalam pengertian syahadat kalian? Apa karena kalian pikir islam telah disempurnakan dan dibawa hanya oleh nabi Muhammad? Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran dari Al-Qur’an!

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu dan tinggalakanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 7:180)

Nabi muhammad menyeru hanya kepada Allah dan menganjurkan segenap umat untuk hanya menyeru kepada Allah, lalu kenapa kalian kafir setelah petunjuk dan perkataan Nabi dalam Al-Qur’an! Kenapa kalian mengklaim mentaati nabi Muhammad tapi tidak mengindahkan apa apa yang dikatakannya di dalam Al-Qur’an.

Nabi Muhammad berkata di dalam Al-Qur'an seperti diperintahkan untk beliau mengatakan

Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali". (QS. 13:36)

Bagaimana justifikasi kontradiksi dalam kitab lain yang sama sekali berlawanan degn Al-Qur’an ketika dalam kitab yang lain itu nabi Muhammad “katanya“ menganjurkan untuk menyeru kepada Allah dan menyeru kepada dirinya? Tidaklah kalian para kaum yang menyebut orang orang yang memegang teguh kitab Allah sebagai ingkar atau sesat pantas menyebut nama Nabi muhammad, sementara kalian menduakannya dengan Allah!

Gerakan Shalat

Dibawah ini saya akan coba mengambarkan gerakan shalat satu persatu dimulai dari takbir sampai selesai, semuanya berdasarkan Al-Qur’an, ingat ini adalah cara saya mengerjakan shalat, cara anda mungkin berbeda –selama berdasarkan Al-Qur’an manusia atau lembaga  mana yang bisa mengeluarkan fatwa tentang kesesatan petunjuk yang semata mata di dapat dari Al-Qur’an?

Berdiri

Peliharalah segala shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. (QS. 2:238)

Kemudian Malaikat  memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya):"Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh". (QS. 3:39)

Rukuk dan sujud.

Seperti yang telah saya jelaskan diatas!Yang mungkin saya tambahkan adalah yang terpenting adalah “kesujud’an“ dan “keruku’an“ hati dan jiwa bukan fisik. Jadi boleh saja anda berdiri terus selama shalat atau anda sedang berjalan ketika melakukan shalat, sementara hati dan jiwa anda tunduk akan segala perintah Allah dan larangannya!

Bacaan shalat

Allah melarang kita untuk mengeraskan bacaa’an dalam shalat!

kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu". (QS. 17:110)

lalu bagaimana yang banyak ditemui di masjid masjid yang kadang mengunakan “sound system“ untuk membesarkan bacaan shalat? Yah baiknya anda jawab sendiri, apakah supaya didengar oleh “jama’ah“? Berarti shalatnya hanya kepalsuan dunia karena ayat tersebut secara tidak langsung ditujukan untuk terdengar oleh “jama’ah“ shalat bukan ditujukan pada Allah! Untuk shalat berjamaah saya tidak membahasnya disini. Yang saya coba kali ini tekankan adalah metode mengerjakan shalat secara pribadi.

Lalu apa yang dibaca dalam shalat?

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur'an) dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45).


atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan. (QS. 73:4)

“.....karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Qur'an dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 73:20)


Pada intinya anda mau membaca surat atau ayat apapun ketika shalat asalkan itu berasal dari Al-Qur’an. Maka tidak ada seroang manusia yang berhak menyalahkan anda, karena mengerjakan shalat itu adalah urusan anda dan Allah, jadi saya sangat menyesali sekali fatwa dari satu lembaga yang memenjarakan dan mengkafirkan seseorang yang membaca ayat Al-Qur’an dalam bahasa indonesia dalam shalatnya. Emang mereka pikir Allah Cuma menjadikan dan hanya mengerti bahasa arab! kalau orang tersebut (baca:yang ditangkap) pikir akan lebih mengerti dan memaknai shalatnya dalam bahasa indonesia, kenapa kalian bisa menempatkan diri sebagai hakim mendahului Allah, mana bisa kalian (baca:lembaga M) mengeluarkan fatwa mengenai din Allah sementara kalian sendiri adalah objek hukum Allah, kalo ga salah bahasa elitnya “nemo judex sua causa

Post a Comment