Wednesday, October 24, 2012

KEDUDUKAN DAN MAKRIFAT AHLI ZUHUD

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


“Wahai Ahmad! Sesungguhnya wajah-wajah ahli zuhud kekuning-kuningan dikarenakan kelelahan menghidupkan malam dan siang harinya berpuasa serta lisan mereka kaku karena banyak dzikir kepada Allah SWT. Hati-hati mereka terluka dalam dada-dadanya karena banyak diam. Mereka sudah mengeluarkan dari dirinya kerja keras bukan karena takut kepada neraka dan menginginkan surga, akan tetapi karena mereka melihat kepada malakut langit dan bumi sehingga mereka mengetahui bahwa Allah SWT. adalah berhak untuk disembah”.
Ibadah dan Penghambaan Ahli Zuhud
Kata zuhud dalam istilah ulama akhlak dan irfan diartikan; disebabkan (seseorang) sudah meraih kenikmatan-keinikmatan ukhrawi, dia menutup mata dari semua kenikmatan dunia dan tidak tamak dengannya. Dia meninggalkan aktifitas-aktifitas duniawi, pekerjaan dan usaha serta menyendiri untuk melakukan ibadah. Di sana ada sebagian hamba yang melakukan ibadah demi meraih balasan dan pahala Tuhan. Maqam yang lebih tinggi dari kedua kelompok ini adalah orang yang selain tidak perhatian kepada kelezatan dunia, tidak juga kepada kelezatan akherat atau pahala dari ibadah dan penghambaan; dalam istilah kelompok ini disebut dengan arif.Perbedaan antara âbid, zâhiddan ârifsering dikaji, akan tetapi berdasarkan riwayat ini (hadis mi’raj) zahid juga mencakup arif. Dengan kata lain, kezuhudan memiliki tingkatan-tingkatan dimana tingkatan tertinggi darinya adalah arif.
Pada bagian dari riwayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang zuhud, muka kekuning-kuningan dikarenakan ibadah dan menghidupkan malam dan dikarenakan sedikit tidur, warnah dari wajah mereka pun berubah. Di satu sisi, setiap malam sampai subuh mereka sibuk beribadah, selian itu siang harinya mereka berpuasa serta dikarenakan banyaknya berdzikir, lisan mereka menjadi kilu karena kelelahan. Dalam kalimat lain disebutkan “Dan lisan mereka kelu kecuali ketika berdzikir kepada Allah” artinya mereka kesulitan atau tidak terlalu berminat untuk berucap akan tetapi lisannya tidak pernah merasakan lelah ketika dzikir kepada Tuhan.
“Merekasudah mengeluarkan dari dirinya kerja keras bukan karena takut kepada neraka dan menginginkan surga”
Seperti apa yang telah disinggung, bahwa zahid (orang yang zuhud) dalam riwayat ini mencakup arif sementara para arif yang meletakkan istilah ‘arif’ sebagai lawan dari zahid atau dalam syair-syair Hafidz atau arif lain yang mencela seorang zahid, adalah dari sisi bahwa zahid menutup mata dati kenikmatan dunia dan menaruh hati kepada kenikmatan akherat, sedangkan seorang arif bahkan kepada kenikmatan akherat juga menutup mata dan hanya menginginkan keridhoan kekasihnya. Dalam riwayat ini dijelaskan bahwa ibadahnya seorang zahid; mulai dari malam hari sampai subuh, melakukan puasa, menahan kepedihan, menahan diri dari berbuat dosa dan menahan hawa nafsu adalah bukan karena takut kepada adzab Ilahi dan bukan dalam rangka meraih kelezatan surgawi, akan tetapi karena mereka melihat bahwa Tuhan patut untuk disembah:
Akan tetapi mereka mlihat kepada malakut langit dan bumi sehingga mereka mengetahui bahwa Allah SWT. patut untuk disembah”
Kandungan seperti ini juga banyak disinggung dalam riwayat lain, diantaranya Imam Ali as. berkata:
“Ilahi tidaklah aku menyembahMu karena takut dari siksaanMu dan tidak juga tamak kepada surgaMu, akan tetapi aku mendapatkanMu pantas untuk disembah, maka akupun menyembahMu”.[1]
Tiga Pembagian Ibadah Manusia
Dalam sebuah riwayat, Imam Shadiq as. membagi para penyembah Tuhan kepada tiga kelompok:
“Satu kaum menyembah Allah Aza wa Jalla karena rasa takut, itu adalah ibadahnya seorang budak”
Kelompok pertama, mereka menyembah Tuhan karena takut kepada akherat dan rakus kepada surga, ini adalah ibadahnya seorang budak. (Barang siapa yang menyembah Tuhan karena takut akan siksaan, ibarat budak yang taak kepada tuannya karena takut akan cambukannya).
“Dan kaum lain beribadah kepada Tuhan karena mengharap pahala, itu adalah ibadahnya pedagang”
Kelompok kedua, mereka yang menyembah Tuhan disebabkan harapannya untuk bisa mendapat balasan, ibadah jenis ini adalah ibadahnya pedagang.
Kelompok ini ibarat orang-orang yang bekerja untuk mendapat upah dan keuntungan dan bagaikan pedagang yang melakukan mu’amalah demi mendapat keuntungan, mereka pun beribadah kepada Tuhan demi bisa mendapatkan balasan akherat serta bidadari, pada hakekatnya mereka berdagang dengan Tuhan.
“Dan kaum lain beribadah kepada Tuhan karena kecintaan mereka kepadaNya, ini adalah ibadahnya orang yang merdeka dan ini adalah sebaik-baiknya ibadah”[2]
Kelompok ketiga, mereka dengan didasari kecintaan kepada Tuhan, mereka menyembahNya dan ini merupakan ibadahnya orang yang merdeka dan sebaik-baiknya ibadah.
Dalam riwayat lain, setelah menjelaskan dua kelompok hamba, Imam Shadiq as. berkata: “…akan tetapi aku menyembahNya karena kecintaanku kepadaNya…”.[3]Walau begitu kita jangan berpikiran bahwa ibadah karena didasari rasa takut akan adzab Ilhai atau karena untuk bisa meraih balasan ukhrawi adalah sesuatu yang jelek, sebab dalam Al-Quran orang-orang yang beribadah dan meninggalkan dosa karena ketakwaan, karena ketakutan akan siksaan Tuhan atau karena ingin mendapat pahala ukhrawi, selalu mendapat pujian. Akan tetapi ketika dibandingkan dengan orang-orang yang menyembah Tuhan disebabkan kecintaan mereka kepadaNya, kedudukan mereka lebih rendah akan tetapi mereka meyakini akan hari akhir. Seperti halnya kita dalam rangka menyiapkan diri untuk menghadapi musim dingin atau musim panas, seperti menyiapkan peralatan pendingin atau pemanas – sebab kita yakin bahwa panas dan dingin ada wujudnya dan kita menyiapkan diri untuk menghadapinya –. Jika kita yakin bahwa surga dan neraka ada wujudnya dan kita berusaha mempersipakan segala hal agar kita tidak terjerumus kepada neraka atau supaya kita mendapat kenikmatan-kenikmatan surga, adalah sesuatu yang positif. Sangat disayangkan kita belum bisa meraih keyakinan ini; oleh karenanya kita jangan menyepelekan dua kelompok pertama:
$¯RÎ)ß$$sƒwU`ÏB$uZÎn/§$·Böqtƒ$Uqç7tã#\ƒÌsÜôJs%
Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.[4]
Tingkatan paling tinggi dari ibadah adalah ibadahnnya seseorang yang merasa bahwa Tuhan pantas untuk disembah dan dalam rangka menjadi hambaNya, ia bersedia menanggung segala kesulitan sehingga dia bisa beribadah sesuai dengan kemampuannya. Dia hanya menaruh hari kepada Tuhan dan baginya kedekatan, keridhoan dan kecintaan Ilahi merupakan sesuatu yang sangat berharga sehingga dia menganggap kecil semua kenikmatan surga. Seperti manusia yang sangat mencintai seseorang di dunia ini, dia selalu berharap bisa bertemu kekasihnya walau harus menghadapi panas, dingin, semalaman dia terjaga, sehingga dia bisa ketemu kekasihnya walau sesaat. Begitu juga orang yang hatinya sangat mencintai Tuhan, baginya bertemu dengan Tuhan walau sesaat jauh lebih menyenangkan dari ribuan tahun merasakan kenikmatan surga! Alhasil, gambaran seperti ini sangat sulit bagi kita.
Sebagian orang yang tidak mengetahui hakekat dan ma’arif Ilahi, sering menyampaikan dalam tulisan dan ucapan mereka bahwa kecintaan kepada kenikmatan surga dan takut akan siksaan neraka adalah sesuatu rendah dan tidak bernilai serta sejenis penghambaan diri, manusia hendaklah mencari nilai-nilai dan bukan hanya mencari kesenangan diri dan terhindar dari siksaan neraka. Manusia yang sudah sampai kepada maqam tinggi hanya mencintai nilai-nilai dan bukan kenikmatan! Ucapan ini memang benar, akan tetapi diucapkan bukan pada tempatnya. Yang benar bahwa manusia yang memiliki maqam tinggi adalah mereka yang yakin akan hari akhir, surga dan neraka, akan tetapi hatinya hanya terpaut kepada Tuhan dan bukan pada itu semua. Dan bukan berarti mereka tidak perhatian kepada siksaan neraka dan kenikmatan surga, karena tidak mengimani dan meyakini itu semua. Selain itu, dalam pandangan mereka orang-orang seperti ini, nilai-nilai merupakan perkara wahmi dan khayali dimana bentuk terbaiknya termsuk kepada kesempurnaan jiwa, dan ini sebenarnya kembali kepada keakuan dan keegoisan!
Orang-orang yang berkata demikian pada hakekatnya tidak mengetahui bagaimana penghambaan orang-orang yang merdeka dan dengan apa yang dijelaskan oleh Imam Ali as.: “aku mendapatkan Engkau pantas untuk disembah”. Mereka tidak menyadari bahwa Imam Ali as. dan seluruh wali Tuhan meyakini akan adanya surga dan neraka. Walau mereka melihat luapan api dan zafir neraka, namun mereka tidak memperhatikannya, karena mereka khawatir dengan sesuatu yang lebih penting, takut kalau mereka tidak bisa meraih inayah kekasihnya.
Mungkin ayat yang berbunyi: “sesungguhnya kami takut dari Tuhan kami di hari yang kelam dan gelap” artinya; hari yang tidak ada rahmat Ilahi maka dunia bagi kita menjadi gelap dan kelam. Ketika keridhoan Tuhan tidak menyertai kita dan tidak merasa mendapatkan kebaikan dan kecintaan Tuhan, maka hari itu bagi kita akan terasa gelap dan kelam, tidak ada bedanya; baik kita berada di surga ataupun berada dineraka. Ucapan ini terdapat dalam doa:
Ya Ilahi, Tuanku, Pemimpinku dan Rabku! Aku bersabar atas adzabMu, bagaimana aku bisa sabar berpisah denganMu?!”[5]
Dia yang merasakan pahitnya perpisahan, baginya siksaan neraka sudah lagi tidak berarti, oleh karenanya dia berkata: “tidaklah aku menyembahMu karena takut akan apiMu…”. Akan tetapi kita tidak boleh putus asa dari kebaikan dan rahmat Tuhan dan dengan memperhatikan masalah ini akan menyebabkan keluarnya kecintaan kepada kotoran dan keburukan dunia. (Tuhan akan memberikan kebaikan dan nikmatNya kepada hambanya yang pantas dimana mereka berusaha untuk membersihkan diri dari kotoran dan dosa). Mendengar hal ini akan mengakibatkan munculnya ketakutan akan siksaan Ilahi dan akan meningkatnya keimanan kita kepada hari akhir yang akhirnya kita kepada maqam orang-orang yang kita tahu bahwa hati mereka hanya terpaut kepada Tuhan dan langkah untuk bergabung dnegan barisan para maksumin as.
Melewati Dunia Merupakan Langkah Awal Untuk Sampai Kepada Mengenal Tuhan
Bagi orang yang ingin melangkah di jalan makrifat murni Tuhan dan kecintaan kepadaNya dan memalingkan hati kita dari yang selainNya, langkah pertama adalah hendaklah dia meninggalkan kelezatan duniawi. Selama kita masih belum melewati kenikmatan-kenikmatan yang bercampur dengan kesulitan, bala dan kesusahan ini, bagaimana kita bisa melewati kenikmatan-kenikmatan akherat yang bersih dari segala kesulitan dan ujian.
Mengenai kenikmatan surga, Tuhan berfirman:
žwtbqãã£|Áãƒ$pk÷]tãŸwurtbqèùÍ\ãƒ
Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.[6]
Ditempat lain Tuhan berfirman:
ŸwöNßg¡yJtƒ$ygÏùÒ=|ÁtR$tBurNèd$pk÷]ÏiBtûüÅ_t÷ßJÎ/
Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya.[7]
Maka, ketika sudah bisa melewati kenikmatan surgawi yang sangat berharga dimana dimulai dari kenikmatan dunia yang lebih rendah dan mengurangi keterikatan kepada dunia. Hal ini bukan sesuatu yang mustahil, kecuali kita mulai dari dengan menghindar dari kanikmatan yang haran kemudian kepada kenikmatan-kenikmatan dunia yang halal. Sebab semakin besar kenikmatan yang sudah kita rasakan walaupun itu yang halal, maka hal itu akan menguatkan kecintaan kita kepadanya yang pada akhirnya akan terjerumus kepada kenikmatan-menikmatan yang haram. Jika manusia menginginkan agar tidak terjerumus kepada yang haram, hendaklah dia membuat batasan dan penghalang serta menghindar dari sebagian kenikmatan halal sehingga tidak terjerumus kepada yang haram. Janganlah melihat kepada sebagian perkara yang halal dan boleh sehingga kita tidak terjerumus kepada melihat sesuatu yang haram, sebab jika tidak, ketika manusia berjalan di ujung batas, dengan sekali kesalahan dia akan terjerumus.
Walaupun boleh bagi manusia untuk memakan makanan halal atau meminum minuman halal, akan tetapi pada saat-saat tertentu seperti bulan-bulan yang penuh berkah; di bulan rajab menjalankan puasa. Dengan ini maka kita akan terbiasa melawan hawa nafsu, begitu pula tentang pakaian, tempat tinggal dan yang lainnya. Tidak diragukan bahwa termasuk kepada jalan terbaik untuk bisa melawan sifat rakus diri dan menghindar dari sebagian nikmat adalah infak dan sedekah, dimana tentang hal ini Tuhan berfirman:
`s9(#qä9$oYs?§ŽÉ9ø9$#4Ó®Lym(#qà)ÏÿZè?$£JÏBcq6ÏtéB4
Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai[8]
Di ayat lain Tuhan berfirman:
õè{ô`ÏBöNÏlÎ;ºuqøBr&Zps%y|¹öNèdãÎdgsÜè?NÍkŽÏj.tè?ur$pkÍ5
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[9]
Menginfakkan harta serta apa saja yang disukai oleh manusia akan mengurangi keterikata dia kepada dunia. Dari satu sisi dia berpaling dari kenikmatan yang halal sehingga dia tidak terjerumus kepada yang haram, dan dari sini juga dia masuk kepada tahapan dimana dia bisa menutup mata dari kenikmatan surga – ini merupakan segi negative dan berlawanan dengan hawa nafsu dan meninggalkan rakus –, di sisi lain dari sisi positif, apa yang harus diperbuat sehingga dia pikirannnya hanya kepada Tuhan?
Puncak usaha kita dalam menjalankan kewajiban dan mengamalkan perintah Tuhan adalah supaya kita tidak terjerumus kepada siksaan neraka, dan jika neraka tidak ada, kita tentu tidak akan mengamalkan itu semua. Ketika manusia yakin bahwa dengan mengamalkan perintah Tuhan, dia tidak akan terkena api neraka, hendaklah dia berusaha untuk sebanyak mungkin meraih kenikmatan ukhrawi; ini merupakan kebahagiaan besar dimana dia bisa aman dari adzab Ilahi dan mendapat kenikmatan surga:
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uäö@ydö/ä39ߊr&4n?tã;ot»pgÏB/ä3ŠÉfZè?ô`ÏiBA>#xtã8LìÏ9r&ÇÊÉÈtbqãZÏB÷sè?«!$$Î/¾Ï&Î!qßuurtbrßÎg»pgéBurÎûÈ@Î6y«!$#óOä3Ï9ºuqøBr'Î/öNä3Å¡àÿRr&ur4ö/ä3Ï9ºsŒ×Žöyzö/ä3©9bÎ)÷LäêZä.tbqçHs>÷ès?
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?
(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu Mengetahui.[10]
Kita tidak bisa menutup mata dari kenikmatan-kenikmatan surga, walau pun keridhoan Tuhan terletak pada bahwa kita harus ada di neraka, kita tidak punya kekuatan untuk bisa tinggal disana, sebab kita lemah dan belum sampai kepada maqam penghambaan dan keikhlasan yang tinggi. Dalam hadis mi’raj Tuhan menyinggung hamba seorang mukmin dan sampainya seseorang kepada keharibaan rububi:
Ya Tuhan! Jika ridhoMu terletak bahwa aku harus mati terpotong-potong dan terbunuh sebanyak tujuh puluh kali dengan kematian yang paling pedih dari semua kematian manusia, maka ridhoMu adalah yang paling aku cintai
Makrifat ini tidak bisa diraih oleh kita (jika kita raih maka tentunya kita akan lebih siap untuk melepas semua kebahagiaan dunia), akan tetapi kita harus berusaha untuk mendekati jalur para wali Tuhan dan jika kita berhasil maka kita akan mendapat kebaikan dan pertolongan Tuhan. Untuk perkara penting ini, kita mulai dari perbuatan yang tidak banyak mengambil waktu dan tidak terlalu sulit; untuk perbuatan yang kiranya tidak penting kita berkata: Tuhan! aku lakukan ini hanya demi Engkau walaupun aku harus masuk ke neraka. Usahakanlah dalam setiap harinya minimal kita melakukan dua rakaat shalat sunnah, seperti shalat sebelum subuh dan berkata: wahai Tuhan! jika Engkau ingin memasukkanku ke dalam neraka, akan tetapi karena aku mencintaiMu dan Engkau senang dengan shalat, maka aku pun melakukan dua rakaat ini.
Jika semua perbuatan, amal serta niat kita bukan untuk mendapat keridhoan Tuhan, usahakanlah untuk beberapa saat kita gunakan untuk keridhoanNya dan melakukan dua rakaat shalat hanya untuk Tuhan bukan untuk mengharap balasan dan pahala. Walau hanya sekedar dua rakaat, saya piker hanya dengan dzikir “Allahu Akbar” atau “Laa ilaaha Illallahu” dengan niat seperti ini, akan lebih baik dari semua ibadah kita yang lain; sebab nilai ibadah tidak dilihat dari kuwantitas, akan tetapi dari niat.
Seharusnya dalam hati kita ada makrifat dan kecintaan sehingga kita bisa berniat dengan niat yang tinggi. Walaupun siang dan malam kita beribadah hanya supaya terhindar dari siksaan neraka dan meraih kenikmatan surga, sangat jauh dibanding dengan kita berdzikir hanya karena Tuhan. jika seseorang dengan keyakinan kepada siksaan neraka dan balasan surga, hanya dengan satu ucapan “ya Allah” dan hanya untuk Dia, bukan karena balasan surga atau takut neraka, akan lebih baik dari seluruh umur kita yang dipakai untuk beribadah tapi hanya karena mengharapkan surga dan takut neraka, dan ini bukan omong kosong.


[1]Bihar Al-Anwar, jilid 41, hal. 14.
[2]Bihar Al-Anwar, jilid 70, hal. 236.
[3]Bihar Al-Anwar, jilid 70, hal. 198.
[4]Al-Insan: ayat 10.
[5]Doa Kumail, Imam Ali as.
[6]Al-Waaqi’ah: ayat 19.
[7]Al-Hijr: ayat 48.
[8]Ali Imran : ayat 92.
[9]Al-Taubah: ayat 103.
[10]Shaaf: ayat 10-11.
Enhanced by Zemanta
Post a Comment