Thursday, October 18, 2012

KITAB AL RISALATUL LIDUNIYYAH (1)

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
 TEORI ILMU TASAWWUF (IMAM AL GHAZALI)Ilmu Terus Dari Allah
(IMAM AL GHAZALI)


 Pembicaraan tentang teori ilmu, konsep ilmu dan posisi ilmu tasauf serta pendekatan studi yang telah diutarakan oleh Hujjatul Islam Imam Ghazali. Tulisan ini hanya cuma menulis kembali uraian dari
Kitab "Al-RISAALATULIDUNIYAH" yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu (tulisan jawi) oleh Abdullah bin Muhammad (Naqula) dan diberikan judulnya sebagai "ILMU TERUS DARI ALLAH".Pengertian Ilmu yang digunakan oleh Hujjatul Islam Imam Ghazali dalam sebuah kitabnya yang bernama Al-Risalatul-liduniyyah adalah seperti berikut:
AL-ULUM AL-MAKTASABAH yang berarti ilmu-ilmu yang diperoleh dengan mencurahkan usaha seperti belajar dan meneliti. Dengan kata lainnya adalah ilmu-ilmu yang diperoleh dengan senang (Al-Ulum Al-Dhoruriyah) maksudnya ilmu-ilmu yang diperoleh dengan mudah hanya melalui salah satu dari anggota-anggota indera seperti rasa manis melalui lidah, mendengar suara melalui telinga dan lain-lainnya .
Ilmu GHAIBI laduni atau lebih singkatnya disebut sebagai ilmu laduni yang berarti secara hurfinya 'ILMU KESISIAN' yaitu ilmu disisi tuhan. Sama dengan ILMU ALLAH atau ILMU TUHAN.
Beberapa ahli ilmuan Islam memberikan atau menggunakan berbagai istilah lain yang sama artinya dengan ilmu laduni ini dalam usaha mereka untuk mengajukan pendekatan ilmu masing-masing. Antaranya adalah sebagai berikut:

    
Ilmu Batin
    
Ilmu Qalbi
    
Ilmu Mukasafah
    
Ilmu Asyror
    
Ilmu Maknun
    
Ilmu Hakikat
    
Ilmu Makrifat
    
Ilmu Tasauf
Telah banyak ulama-ulama atau ilmuwan zohir terkelincir karena mereka membantah dan meniadakan ilmu laduni ini. Kita lihat bagaimana satu catatan hal tersebut yang dikemukakan oleh Imam Ghazali yang mengatakan:
"Seorang dari teman-kawanku telah menceritakan kepadaku tentang seorang alim yang mengingkari ILMU GHAIBI laduni yang menjadi pegangan para pemimpin tasauf dan fokus anggota thorikat yang berpendapat bahwa ilmu laduni adalah lebih kuat dan lebih tepat dari ilmu-ilmu yang diperoleh dengan usaha yang tersedia dengan belajar. Kawanku juga mengatakan bahwa orang alim itu berkata bahwa aku pikir tidak ada seorang pun dalam dunia ini yang bisa menyebutkan ilmu yang sebenarnya dengan pikiran semata tanpa belajar dan tanpa usaha-usaha untuk mendapatkannya. Aku (Ghazali) berkata seolah -olah orang itu tidak tahu tentang cara-cara untuk mendapatkan ilmu dan tidak tahu pula kerja 'JIWA INSANI', KEMURNIAANNYA DAN CARA-CARA PENERIMAAN DARI ALAM GHAIB DAN ILMU alam malakut. "
Mengatakan kelima .....

Sesungguhnya mereka yang hanya menganggap ilmu kalam seperti fikih, tafsir dan sebagainya sebagai satu-satunya ilmu yang bisa diperoleh oleh manusia adalah merupakan mereka yang telah menyimpang dari metode hakikat karena Al-Salmi (Abdul Rahman Muhammad bin Al-Husain bin Musa Al-Azdi Al -Salmi seorang ahli tasawuf, ahli sejarah, ahli hadis dan hadis tafsir yang telah menulis sebuah kitab tafsir yang bernama 'Aqa'ik Al-Tafsir / Wafat tahun 1021 = 412 Hijrah) telah mengumpulkan sesuatu dalam tafsirnya yang diambil dari kata-kata orang- orang muhaqiqin, sedangkan kata-kata itu tidak tersebut dalam semua kitab tafsir yang ada. Kata Ghazali lagi.


 
Ahli tafsir tepi jalan ini seolah-olah tidak tahu:

    
Bagian-bagian ilmu
    
Rincian-rinciannya
    
Tingkat-tingkatnya
    
Pernyataan-pernyataan dan
    
Batin-batin.
Memang sudah menjadi adat bahwa orang-orang yang jahil dalam sesuatu akan mengingkari sesuatu itu dan orang yang tersebut itu tidak pernah merasakan MINUMAN HAKIKAT dan tidak mengetahui mengetahui tentang tentang Ilmu Laduni.
Definisi Ilmu Dan Kegunaannya
Ketahuilah bahwa ILMU (Pengetahuan) adalah konsep (tasawwur) jiwa berakal yang tenang (Al-Nafsunathokhotul Muthomainnah) terhadap hakikat-hakikat sesuatu (hakho-ikul-asyaai) dan ternyata (suuraha) yang bersih dari benda-benda dengan 'ainnya ( a'yaanaha), kualitas-kualitinnya (kaifayaataha), kuantitas-kuantitasnya (kamayaataha), jauhar-jauharnya (jawaaharoha), dan zat-zatnya (zawaataha), kalau ia adalah tunggal (mufrad).A'LIM adalah orang yang mengetahui adalah orang yang meliputi, mencapai, lagi memiliki konsep; sedangkan "ma'lum" (apa yang diketahui) adalah zat sesuatu yang terukir ilmunya pada jiwa.Kemuliaan ilmu itu menurut ukuran kemuliaan informasi dan derajat seseorang alim itu adalah menurut derajat ilmunya. Tidak ragu-ragu lagu bahwa di antara informasi yang paling utama, paling tinggi, paling mulia dan paling besar adalah Allah Pencipta, Al-Haq yang tunggal, ilmu yang berhubungan dengannya, ilmu tauhid adalah ilmu yang paling utama, paling besar dan paling sempurna. Ilmu ini adalah sesuatu kepastian. WAJIB mengetahuinya pada sekalian yang berakal sebagaimana sabda rasulullah SAW. yang berarti:"Menuntut ilmu adalah fardhu atau setiap orang Islam".Dan beliau rasulullah menyuruh menemukan ilmu ini dengan sabdanya yang artinya"Carilah ilmu meskipun negeri China".Orang-orang yang memiliki ilmu tauhid ini adalah yang paling utama di antara ulama-ulama lain. Sebab inilah Allah Taala menyebut mereka ini secara khusus pada tingkat yang tertinggi sebagaimana firmannya yang artinya:"Allah telah terangkan bahwa tidak ada tuhan selain Dia yang berdiri dengan keadilan dan disaksikan oleh malaikat dan anggota ilmu." (Surah Al-Imran, ayat 18).Karena itu ulama-ulama ilmu tauhid umumnya adalah Nabi-nabi, setelah mereka barulah ulama-ulamayang menjadi ahli waris Nabi-nabi. Ilmu Tauhid ini meskipun mulia dan sempurna pada dirinya, ia tidak menolak lain-lain ilmu, malah ia tidak akan ada tanpa bahan-bahan yang banyak dan bahan-bahan ini tidak kan teratur jika tidak dari bantuan berbagai ilmu seperti ilmu-ilmu langit dan falak-falak (astronomi dan kosmologi) dan ilmu seluruh ciptaan. Dari Ilmu Tauhid lahir pula ilmu-ilmu lain seperti yang akan kami (kelima) akan sebutkan bagian-bagiannya pada tempat-tempatnya.Ketahuilah bahwa ilmu itu sendiri adalah mulia tanpa memandang aspek ma'lum, sampai ilmu sihir adalah mulia pada dirinya meskipun palsu. Ini adalah karena ilmu lawanya kebodohan dan kejahilan adalah dari kelaziman-kelaziman kegelapan dan kegelapan termasuk dalam lingkungan diam dan diam itu hampir dengan tidak ada. Kepalsuan dan kesesatan termasuk dalam bagian ini. Jadi kejahilan itu hukumnya adalah hukum tidak ada, sedangkan ilmu hukumnya adalah hukum ada dan ada itu lebih baik daripada tidak ada. Hidayah kebenaran dan cahaya semuanya termasuk dalam lingkungan ada. Bila ada lebih tinggi dari tidak ada maka tentulah ilmu lebih tinggi dari kebodohan, karena kebodohan serupa dengan kebutaan dan kegelapan, sedangkan ilmu serupa dengan penglihatan dan cahaya. Tidaklah sama orang buta dengan orang yang MELIHAT, juga tidaklah sama gelap dengan cahaya. Allah Taala telah menjelaskan tentang ini dengan firmannya yang berarti;"Katakankanlah (hai Muhammad) apakah sama mereka yang tahu dan mereka yang tidak tahu?". (Surat Az-Zumar ayat 9).Berdasarkan perbandingan di atas dapatlah pula dikatakan bahwa KEJAHILAN adalah dari kelaziman-kelaziman massa, sedangkan ILMU adalah dari sifat-sifat JIWA. Jadi JIWA LEBIH MULIA DARI massa.Ilmu terbagi menjadi beberapa bagian yang banyak. kita akan mengatakan satu persatu dalam pasal yang lain, sedangkan seorang alim memiliki berbagai cara untuk mendapatkan ilmu itu juga kami akan sebutkan dalam pasal yang lain. Yang perlu untuk Anda sekarang setelah mengetahui keutamaan ilmu adalah mengetahui bahwa JIWA YANG MERUPAKAN LUH SEGALA ILMU DAN TEMPATNYA. Massa bukanlah sesuai untuk tempat ilmu karena massa adalah terbatas dan tidak dapat dimuati oleh banyak ilmu, malah ia hanya dapat menanggung ukiran-ukiran dan gurisan-gurisan saja, sedangkan JIWA MENERIMA ILMU TANPA SEMPIT, SESAK, JEMU DAN HILANG. Sekarang kita akan membicarakan tentang jiwa secara ringkas.

Enhanced by Zemanta
Post a Comment