Tuesday, October 23, 2012

AL IHSAN AL ILLAHIYYAH

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

( Al- Insan Al Illahiyyah) Dalam pandangan sufisme, Tuhan merupakan esensi. Syekh Siti Jenar dan seluruh kaum sufi pada umumnya memiliki rumusan yang demikian. Hal itu memungkinkan “masuknya” Tuhan pada diri manusia: manunggal, hulul, fana’ atau apapun namanya. Karena nama atau sebutan sebenarnya bukan mengacu pada pengalaman yang diperoleh, tetapi lebih mengacu pada proses yang ditempuh. Sama halnya antara kunci dengan gemboknya. Bisa saja dikatakan gembok dimasuki kunci, atau kunci masuk ke gembok. Karena memang kadang kunci dulu yang dipegang baru gemboknya. Dan kadang juga gembok dulu dipegang baru meraih dan memasukkan kunci. Didasarkan pada berbagai prinsip ajaran Syekh Siti Jenar (sebagai corak sufisme filosofis), maka logikanya adalah bahwa segala sesuatu yang ada dalam jagat raya memiliki unsur esensi Illahi. Sehingga manusia sangat dimungkinkan melakukan “pertemuan esensi dirinya dengan EsensiTuhan” menuju Diri Sesungguhnya. Memang akhirnya faktor inilah yang memunculkan konflik dengan kelompok ulama fiqhi. Karena konflik yang berkepanjangan inilah, al-Jili sampai mengatakan hati-hati,”Meskipun agama menegaskan bahwa terdapat perbedaan Khaliq dengan makhluknya –karena makhluk ‘dipinjami’ sifat-sifat Illahi- kami sebagai kaum mistik mengetahui bahwa kedua-duanya adalah sama. Dengan keadaan yang demikian, maka Syekh Siti Jenar dan sebagian kaum sufi menjadikan gagasan tentang Tuhan sebagai esensi dan manusia yang “dipinjami” sifat-sifat Illahi sebagai doktrin kuat. Yang sangat memungkinkan manusia bisa sampai kepada tahapan spiritual ketika Tuhan “berpindah” ke jasad manusia. Sehingga ungkapan- ungkapan mistik seperti “Aku adalah tuhan”, “Aku adalah Yang Hak”, dan sebagainya, bukan sufi yang bersangkutan , tetapi melalui jasad sufi tersebut Tuhan mengatakannya. Hanya saja, sekali lagi perlu ditegaskan bahwa itu adalah Tuhan yang telah manunggal ke dalam diri manusia sempurna. Dalam hal ini, kita tidak perlu sibuk mengurusi istilah- istilah monoisme, panteisme dan sebagainya. Yang jelas, doktrin tauhid “tidak ada Tuhan selain Allah” adalah final/ syekh Siti Jenar memberikan makna terhadap doktrin itu,”Bahwa tidak ada yang benar-benar ada kecuali esensi Illahi dengan makhluk-makhluk yang mempunyai mode yang secara ciptaan bersifat kreatif” Ranggawarsito, salah seorang penerus ajaran Syekh Siti Jenar mengemukakan: mungguh urip kita iku, tetelane Manawa dadi tajalining Dzat Kang Amaha Suci Sejati, dene kayekten kang dadi tandhane kadunungan angen-angen ambabarake budidaya, ing kono ora beda karo Kang Kawasa amedharake kudrat karo iradat. (Serat Wirid Maklumat Jati, hlm 5) Adapun hidup kita itu sesungguhnya menjadi tajali dari Dzat Yang Maha Suci Sejati. Adapun kebenaran yang menjadi tandanya adalah manusia memiliki angan- angan membeberkan budidaya. Disitu tidak berbeda dengan Yang Kuasa membeberkan kodrat dan iradat-Nya. Melihat berbagai penjelasan tersebut, maka bagi Syekh Siti Jenar sebenarnya hijab pada manusia dalam kerangka hubungannya dengan Allah sebenarnya tidak ada. Yang terjadi adalah terpahatnya hati oleh bayangan benda-benda yang melekatinya, sehingga menutup sedikit demi sedikit cahaya Illahi dalam hati. Oleh karenanya penggunaan hak fundamental menjadi manusia Illahi harus menghilangkan apa yang kemudian disebut hijab tersebut dengan laku spiritual. Semakin lekat dan tebal bayangan benda duniawi dalam hati, dan semakin hal itu menggantungi kesadarannya, maka harus semakin keras disiplin ia menempuh laku spiritual. Apa yang menjadi anggapan Syekh Siti Jenar ini mendapatkan pembenaran dari al- Sukandari (al-Hikam): “Al-Haqq (Allah) tidak pernah ter-hijab darimu, malahan engkaulah yang ter-hijab dari melihat-Nya. Bila sekiranya ada sesuatu yang meng-hijab Allah, berarti sesuatu itu dapat menutup Allah, dan sekiranya ada tutup bagi Allah, berarti Wujud Allah terbatasi dan sesuatu yang membatasi itu dapat menguasai terhadap yang dibatasi, padahal Allah adalah yang berkuasa atas semua hamba-Nya”. Oleh karenanya Dzat Yang Haqq itu tidak dapat etrhijab oleh segala apa pun. Orang – orang yang ter-hijab dan terjerumus dalam noda hati memiliki keyakinan bahwa “sesuatu” dapat menjadi hijab. Hal ini sebenarnya adalah ilusi manusia yang kurang mau membuka diri atas kelalaian dan kelemahan dirinya. “Tidak ada sesuatu dari benda di sisi Allah yang meng-hijab dirimu dari-Nya, karena segala sesuatu selain Allah itu tidaklah ada. Sudah tentu, bayangan (ilusi) suatu beda disisi Allah adalah apa yang meng-hijab-mu dari-Nya” (al-Sukandari dalam al- Hikam”. Pemaknaan Tuhan sebagai Yang Esensi ini terjadi karena justru Tuhan menghendaki agar rahasia ke-Illahian-Nya bisa tersingkap oleh adanya alam raya, dan alam raya sungguh-sungguh merupakan sifat-Nya. Alam merupakan perwujudan rahasia Illahiah yang harus ditembus oleh manusia yangmerupakan bagian dari alam raya ini. Hal ini sejalan dengan pernyataan Ibn ‘Atha’illah, bahwa “Apa yang tersembunyi dalam alam ghaib (ghaib al- asa’ir) pasti akan termanifestasikan (tampak) dalam alam nyata (syahadah al- zhawahir)” (al-Hikam). Oleh karena itu, pada tataran kemanusiaan berikutnya, individualitas manusia sendiri bukan sesuatu yang mutlak dan bukan suatu nilai pada dirinya sendiri. Karena sebenarnya semua suksma hanyalah merupakan ungkapan Suksma Illahi yang satu. Bagaikan air dalam pipa-pipa yang saling bergandengan, dari satu sumber dan semua pipa terpendam dalam tanah. Sehingga realitas manusia itu adalah satu. Bentuk luar berbeda, namun sisi kedalaman sama, satu. Individualitas manusia di dunia ini hanyalah sementara. Karena dalam batin terbuka dasar Illahi sebagai realitas manusia yang sebenarnya. Pada tahapan awal setelah pengajaran Syekh Siti Jenar, memang konsep manunggaling Kawula Gusti baru berada dalam tataran pengertian yang diperoleh dengan kesadaran. Namun pengertian (kawruh) adalah lebih dari sekedar pengetahuan. Pengertian adalah suatu kejadian yang mengubah manusia itu sendiri. Yang memberikan dimensi dan kedalaman baru bagi eksistensinya, serta menjadi realitas baru manusia itu sendiri. Sehingga pengertian yang sebelumnya seakan tertutup dan belum operasional tersebut, kemudian diaktualisasikan. Disinilah maka nilai kawruh itu akan sanggup mengantarkan kepada keadaan manunggal antara “keakuan” menjadi “Aku Illahi”.
Enhanced by Zemanta
Post a Comment