Thursday, October 18, 2012

RISALAH AL SYEIKH WAN AHMAD BIN ZAIN MUSTAFA AL Fathoni

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

 RISALAH TUAN GURU AL SYEIKH WAN AHMAD BIN ZAIN MUSTAFA AL Fathoni (GURU KEPADA WALI ALLAH tersohor TOK KENALI, KELANTAN)RISALAH TUAN GURU AL SYEIKH WAN AHMAZ ZAIN AL Fathoni
Apakah sebenarnya tasauf?
Kata "Tasauf" timbulnya dari banyak pengertian, akan tetapi dipersingkatkan dari dua istilah saja yaitu "Pengertian pada lughah" dan "Pengertian istilah ahli hakikat".1. Makna pada lughoh adalah;Memakai shauf artinya bulu (bulu baju). Bahwa adalah sebagian besar pengikutnya pada zaman dahulu memakai baju yang dibuat dari bulu-bulu. Perilaku mereka dengan pakaian demikian itu menyalahi adat kebanyakan manusia yang selalu dengan pakaian yang serba indah. Pengikut tasauf tidak suka dengan pakaian yang indah-indah.
2. Makna pada istilah ahli hakikat adalah;Berakhlak dengan segala perilaku "At-Thoifah Al-Sufiyah" bertawasul dengan segala sifat mereka, bertalian dengan rantai yang terhubung ke mereka.
Berkata Imam Sufi Al-Sheikh Junaid Al-Bagdadi;"Dimatikan (fana) kamu oleh Al-Haq dari engkau dan diaktifkan kamu dengan Dia"Tasauf juga diartikan; "Berhenti dengan sekelian adab yang dibangsakan ke Syarak yang zhohir dan yang batin".Berarti juga; "Kesempurnaan manusia dengan Islam, Iman dan Ihsan".Berarti juga; "Menyerahkan diri semata-mata kepada Allah atas sekelian kehendak dan cita-cita".Sebagian orang berpendapat;"Berpegang dengan kefakiran dan Iftikor (membutuhkan Allah). Tahqiq dengan pemberian dan Aisar (pengutamaan akan orang lain), memberikan tantangan qada dan qadar dan ikhtiar".Demikianlah pengertiaan Tasauf yang dibuat oleh Guru Tok Kenali.Basyir Al-Haris salah seorang Anggota sufi dalam memberi arti Tasauf, ia berkata; "Orang sufi adalah yang telah bersih hatinya semata-mata untuk Allah".Abu Muhammad Al-Jurairi berkata, Tasauf adalah masuk ke dalam budi menurut contoh yang ditinggalkan oleh Nabi dan keluar dari budi yang rendah ".Syeikhul Islam Zakaria Al-Anshari berkata; "Tasauf adalah ilmu yang menjelaskan hal-hal tentang cara mensuci-bersihkan jiwa, tentang cara memperbaiki akhlak dan tentang cara pembinaan kesejahteraan lahir dan batin untuk mencapai kebahgiaan yang abadi".Kata guru Tok Kenali (Sheikh Ahmad Al-Fathoni), semua defenisi yang berbagai corak itu ragam yang lebih tepat di sisi penghulu kita Al-Sufiah dapat dipahami dari dua bait puisi ini;"Bersalah-salahan manusia pada tempat pecahan sufi dan telah berlain-lainan pendapat mereka itu kepadanya; menyangka berasal dari kata Saufa; Tiadalah aku memberi nama ini yaitu sufi itu akan yang lain dari seorang pemuda yang bersih dan berpakaian Sauf sehingga dia disebut seorang sufi .Asal kata sufi itu diambil dari kata "Sofa" yang dapat diartikan dengan bersih, jernih, dinamakan "SALIK" yaitu yang berjalan pada Allah dengan cara-cara Sufi itu karena bersih hatinya, suci batinnya dan bersih juga zhohirnya dari lain dari Allah. Butuh juga dijelaskan nama-nama lain untuk Ilmu Tasauf ini. Berlain-lainan nama yang diberikan karena berdasarkan perbedaannya pada hantarannya dan pendekatan yang digunakan, namun maksud dan arah tujuannya tetap satu jua. Diantaranya1. Ilmu Batin2. Ilmu Qalbi - Ilmu Hati3. Ilmu Laduni - Ilmu di sisi Allah4. Ilmu mukasyafah - Ilmu Pembukaan5. Ilmu Asror - Ilmu Seluruh Rahasia6. Ilmu Maknun - Ilmu yang disembunyikan7. Ilmu Hakikat8. Ilmu Tahqiq9. Ilmu Makrifat10. Ilmu Diri11. dan lain-lain lagi.Tersebut dalam kitab "Jawahirul Feqah" bahwa Ilmu Qalbi itu adalah zauqi artinya dibangsakan pada perasaan semata. Ini adalah dari Wujdan; artinya dibangsakan kepada pendapat yang tidak dapat digigit, tak dapat dikomentrikan segala lidah kelam tak dapat ditulis oleh mata panah, tak dapat meliputi oleh daftar dan waham. Status pada pengetahuan yang zhohir itu seperti buah dengan pohon. Kemulian tetap untuk pohon karena dia mendapat nama - tetapi pohon tidak akan jika tidak berbuah. Saya (Sheikh Ahmad Al-Fathoni) berpendapat;"Buah tidak diperdapat jika pohon hidup tidak subur".Kenyataan ini tidak berlawanan dengan temuan kritis kelima dalam menyebutkan posisi Ilmu Tasauf ini jika dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang lain yaitu;"Ketahuilah bahwa Ilmu Aqli adalah tunggal dengan zatnya [sendirian yaitu didasarkan pada akal semata-mata], darinya lahir ilmu yang tersusun yang didalamnya terdapat seluruh Urusan dua ilmu yang tunggal. Ilmu yang tersusun itu adalah ilmu anggota Tasauf dan jalan ihwal mereka . Mereka memiliki ilmu yang khas dengan jalan yang terang yang terhimpun dari dua ilmu ". Ilmu mereka terdiri dari

    
Hal,
    
Waktu,
    
Samaa ',
    
Wujdan,
    
Sheikh,
    
Sakr,
    
Sohwu,
    
Isbat,
    
Mahwu,
    
Fakir,
    
Fana,
    
Wilayah,
    
Irodah,
    
Murid

dan apa yang berhubungan dengan Urusan mereka dan tambah tambahannya, sifat-sifat dan makam-makam.Yang dimaksud dengan terhimpun dari dua ilmu adalah gabungan antara "Ilmu Tentang Cara-cara Beramal" (Ilmu Syariat) dengan Ilmu Yang Hasil dari Praktek. Dalam kitab-kitab tua kebanyakan penulis lebih suka menggunakan istilah Wirid untuk menunjukkan praktek praktik Ilmu Syariat ini dan istilah Warid untuk menunjukkan Ilmu Yang Hasil dari Praktek Syariat.Kita lihat pula satu catatan yang sangat berarti dari kelima di kitabnya Al-Munqidz-Minadhdholal (pembebasan dari kesesatan) yang bisa menjernihkan makna dan pengertian Tasauf ini sebagaimana berikut;"Perhatianku berbasis pada jalan Sufiah. Nyata sekali jalan ini takkan dapat ditempuh kecuali dengan Ilmu dan 'Amal. Pokoknya harus menempuh tanjakan-tanjakan batin dan membersihkan diri. Hal ini perlu untuk mengosongkan bathin dan kemudian mengisinya dengan zikir kepada Allah Taala. Bagiku ilmu lebih mudah dari 'amal. Maka segeralah aku memulai dengan mempelajari ilmu mereka, membaca kitab-kitab mereka, di antaranya Kitab Qutul Qulub karangan abu Thalib Al-Makki dan kitab-kitab karangan Al Harsi Al Muhasibi serta ucapan-ucapan Al-Junaid, Asy- Syibli, Abu Yazid al-Bustomin dan lain-lain. Dengan itu dapatlah aku mengerti tujuan mereka. Penjelasan lebih jauh aku dengar sendiri dari mulut mereka. Yang lebih dalam lagi hanya dicapai dengan Dzauk (rasa pengalaman bathin), pengalaman dan perkembangan bathin. Jauh nian perbedaan antara mengetahui arti sehat atau kenyang dengan mengalami sendiri rasa sehat dan kenyang itu. Mengalami mabuk lebih jelas dari hanya mendengar keterangan tentang artinya, padahal yang mengalami mungkin belum mendengar keterangan tentang demikian itu. Tabib yang sedang sakit, tahu banyak tentang sehat, tetapi ia sendiri sedang tidak sehat. Tahu arti dan persyaratan zuhud tidaklah sama dengan bersifat zuhud. Yang penting bagi mereka adalah pengalaman bukan kata. Apa yang dapat dicapai dengan ilmu telah kucapai. Selanjutnya harus dengan Dzauk dan "suluk" (menempuh perjalanan batin ).Rumusan dan pemahaman yang bisa dibuat dari definisi dan maksud-maksud di atas, Ilmu Tasauf adalah sesuatu Ilmu yang didasarkan pada mengamalkan dengan Ilmu yang diketahui. Bukan semata-mata tahu teori dan berbicara dan menggunakan istilah-istilahnya, tetapi dengan beramal dan itu mencakup dalam setiap hal-ahwal menurut kesucian jiwa dan ketinggian pribadi dan berperangai dengan sifat-sifat yang mulia sebagaimana sinyal berikut;Seorang Arifbillah berkata; At-Tasauf, yaitu berhenti dan adab syariat yang zhohir dan batin. Maka ia melihat akan hukumnya dari zhohirnya di dalam batinnya. Yang batinnya pada zhohirnya. Maka shahih dari dua hukum itu, sempurna dengan tidak sempurna kemudian darinya. Atau dikata "Jernih zhohir" dari dosa dan "jernih batin" dari agyar ".Sekali-kali tidak berpisah dari hukum takhlif yang lima malah ia adalah pokok utama kepada Ilmu Tasauf. Bagaimana hukum takhlif (syariat) ini bisa diremeh-remehkan oleh seorang Sufi sebenarnya?.

Apakah tujuan belajar tasawuf?Tujuan pokok Ilmu Tasauf adalah untuk sampai kepada Allah, untuk mencapai makrifat dengan SAMARA, terbuka hijab antara hamba dengan Dia (Allah).Telah mengatakan anggota-anggota sufi: "Permulaan tasawuf adalah ilmu pengetahuan, pertengahan adalah Istiqamah dengan amal ibadah, akhirnya adalah Mahabbah adalah penghargaan atau pemberian Allah".

    
Maka ilmu pengetahuan itu membukakan kehendak
    
Amal ibadah itu menolong apa yang dimaksudkan
    
Pemberian itu menyampaikan apa yang dicita-cita.
Di samping itu banyak sekali tujuan-tujuan yang hendak diperoleh antara lain yaitu:1. Dengan menerapkan Tasauf berarti mengadakan latihan jiwa (Riadhah) dan berjuangmelawan hawa nafsu (Mujahadah), membersihkan diri dari sifat-sifat tercela dan diisi dengansifat-sifat terpuji dengan melalui perbaikan budi pekerti dalam berbagai seginya.sepertimana pakaian budi-pekerti Ambiya, Mursalin, Aulia Allah dan Sholihin.2. Selalu dapat mewujudkan rasa ingat kepada Allah Dzat Yang Maha Besar dan Maha Kuasa atassegalanya dengan melalui jalan mengamalkan wirid dan zikir disertai tafakkur yang secara terusmenerus dikerjakan.3. Dari sini timbul perasaan takut kepada Allah sehingga timbul pula dalam diri seseorang itu suatuusaha untuk menghindarkan diri dari segala macam pengaruh duniawi yang dapat menyebabkan lupakepada Allah.4. Jika hal itu semua dapat dilakukan dengan penuh ikhlas dan ketaatan kepada Allah, maka tidakmustahil akan dapat dicapai suatu tingkat alam Ma'rifat, sehingga dapat pula diketahui rahasia dibalik tabir cahaya Allah dan Rasul-Nya secara terang-benderang.5. Akhirnya dapat diperoleh apa yang sebenarnya menjadi tujuan hidup ini.Demikian antara lain beberapa tujuan yang akan diperoleh untuk setiap orang yang mengamalkanTasauf. Untuk Ilmu dan Menyempurnakan Amal Ibadah. Jelasnya ia akan dapat mengerjakan syariat Allah dan Rasul-Nya dengan melalui jalan atau sistem yang mengirimkan tercapainya tujuan hakikat yang sebenarnya sesuai dengan yang diinginkan oleh syariat itu sendiri.Tegasnya jika Anda dapat menanggapinya akan benar-benar maksud dan tujuan Tasauf ini saudara akan menyadari bahwa seorang yang merasa dirinya belajar Ilmu Tasauf perlu memiliki petunjuk-petunjuk seperti di atas sebagai konfirmasi bahwa mereka belajar dan mengamalkan tasawuf. Suka saya sebutkan ringkasan hal-hal yang bisa dijadikan petunjuk agar saudara-saudara tidak mencampuradukkan.

    
1. Seorang ahli tasawuf yang murni adalah seorang yang mengetahui dan memiliki Ilmu Fekah dan Ilmu Tauhid yang mantap sehingga disebut "Fakeh Yang Sufiah" bukan "Sufiah Yang Fakeh"
    
2. Selalu menjunjung dan memuliakan hukum Allah
    
3. Praktek mereka selalu meningkat dari waktu ke waktu bahkan melebihi kebanyakan orang sesuai dengan peningkatan maqamnya ..
    
4. Memiliki ketinggian dan kehalusan budi-pekerti yang mulia mewarisi pribadi Rasul, Nabi, Aulia Allah dan Sholihin.
    
5. Mendasari buku al-Qur'an dan jalan Rasulullah, para sahabat, Aulia Allah dan orang-orang Sholihin.
    
6. Ikhlas dalam membuat hubungan Allah dan dengan sesama makhluk
    
7. Bersifat zuhud dengan dunia.
    
8. Sedikit bicara tapi amal banyak.

Jika demikian bagaimana bisa terjadi "Banyak yang saya jumpa mereka-mereka yang belajar tasawuf itu meringan-ringankan syariaat".Macamana mereka belajar ni? Metode mana yang dipakai? sehingga bisa meringan-ringan syariat sedangkan Tasauf adalah gabungan praktek ilmu tentang cara-cara beramal (ilmu syariat) dengan Ilmu yang hasil dari praktek (Warid). Tanpa amal maka tidak syariat. Bila tidak syariat maka tidak ada tasawuf, demikian juga semakin lemah atau tidak wirid, maka semakin berkuranglah derajat kekuatan Ilmu Tasauf.Dinisbahkan kaitannya dengan syariat, belajar ilmu tasauf ini adalah semata-mata untukmenghidupkan ruh syariat di samping memperhiasinya dengan perhiasan dan pakaian jiwa aulia allah dan para Rasul dan Nabi. Tapi jika diringan-ringankan syariat, tidak ada syariat, atau dibuang syariat atau ditinggalkan syariat;

    
maka apakah yang hendak diaktifkan?
    
apakah benda yang hendak dihiaskan?
    
dan apakah benda yang hendak dipakaikan?.
    
mana praktek yang hendak dihakikatkan
Tentang ini, seringkali saya ingatkan dalam tulisan-tulisan saya dengan sinyal-sinyal seorang Aulia Allah akan kepentingan syariat ini seperti berikut;"Hakikat tidak akan muncul tepat jika Syariat dan Thoriqat belum benar lagi posisinya. Huruf-huruf tidak akan tertulis dengan benar jika pena tidak benar adanya."Ini sangat perlu diingat-ingatkan selalu!!! Jika seandainya ini terjadi di kalangan mereka yang mengaku belajar tasawuf tetapi dalam pada itu meringan-ringan syariat atau meninggalkan terus syariat, yakinilah bahwa sebenarnya mereka hanya mengklaim semata-mata, bahkan mereka adalah kaum bidaah yang amat bahaya dan bisa merusak kesucian Ilmu Tasauf ini.Berkata Abu Qasim Al-Qusyari r.a;"Setiap syariat yang tidak dikuatkan dengan hakikat adalah dia tidak diterima. Setiap hakikat yang tak diikatkan dengan syariat tidaklah berhasil. Maka syariat itu mendirikan dengan barang yang disuruh, sedangkan hakikat karena pada barang yang diqada dan qadar apakah yang tersembunyi dan yang nyata ".Mengatakan kelima;"Barangsiapa menyangka bahwa dia beserta Allah, sehingga menggugurkan daripadaanya kewajiban shalat, atau halal arak, maka wajiblah dibunuhnya. Membunuh orang seperti itu lebih baik daripada membunuh seratus kafir karena adalah dhorurah dariapadanya itu lebih banyak".Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa ia setuju dengan pandangan Al-Fudhil bin 'Iyadh tentang satu ayat al-Quran: "Agar Dia menguji siapakah di antara kamu sekalian yang lebih amalnya." (Hud: 7)Kemudian dia melanjutkan; ... dengan ikhlas dan benar: Murid-muridnya bertanya; "mengapa harus ikhlas dan benar?" Al-Fudhil menjawab;"Karena Allah tidak akan menerima perbuatan benar tanpa didasari ikhlas Lillahi Ta'ala, pun sebaliknya Dia tidak meridhai amal yang kamu dasari hati ikhlas sedang itu adalah perbuatan salah, maka amalmu harus didampingi keduanya, ikhlas dan benar".Terkait dengan ini Asy-Syubli berpendapat tentang cinta kepada Allah:"Kamu durhaka kepada Allah, padahal kamu berharap cintanya. Hal itu jelas tidak logis, bila cintamu itu tulus, pastilah kamu mentaatinya. Sesungguhnya orang yang bercinta itu patuh kepada yang dicintainya."Tersebut dalam Kitab Ilmu Tahqiq, Manhalus Shofi; Seorang Wali Allah yang tersohor, Abu Yazid Al-Bustomin, ketika mendengar munculnya seorang Wali di ujung desa yang heboh diperbincangkan oleh masyarakat. Ia pun berhasrat untuk menemukannya lantas ke tempat tinggal Wali itu. Tapi setelah ia melihat (saat hampir sampai) orang yang dikatakan Wali itu meludahkan air liurnya ke arah Kiblat, Abu Yazid terus berpaling dan pergi dari tempat itu sambil berkata, "Pria yang tidak percaya pada sunnah syariat maka bagaimana pula percaya pada Rahasia Wilayahnya".Jika dengan hal makruh (meludah ke arah kiblat) pun diperhitungkan dalam menilaikan kesempurnaan atau benar salahnya, maka lebih-lebih lagilah jika ada yang mengerjakan hal yang haram atau meninggalkan yang sunat. Semata-mata dusta dan jahil dalam agama. Karena itulah sebagian dari definisi / maksud tasauf adalah "menghilangkan klaim". Mengklaim diri seorang sufi atau beramal tasauf tetapi syariat-tunggang langgang. Berikut manusia pembohong, pengkianat dan ahli bid'ah yang mencemarkan kesucian ilmu orang-orang sholihin. Aulia Allah, para ambiya dan Mursalin. Dengan karena adanya segelintir mereka inilah, berbagai fitnah dan tuduhan dilontarkan kepada Tasauf bahkan termasuk kepada Aulia-aulia Allah. Karena nila setitik rusak susu sebelanga.Junaid Al-Baghdadi, pada waktu menjelaskan tujuan Shufi, mengatakan, "Kami tidak mengambil Tasawwuf ini difikiran dan pendapat orang, tetapi kami ambil dari dari menahan lapar dan kecintaan kepada dunia, meninggalkan kebiasaan kami sehari-hari mengikuti segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang. "Sebagai mentahqiqkan lagi pemahaman kita bahwa di dalam Ilmu Tasauf tidak ada apa kompromi dengan mereka yang mengklaim bahwa apabila sudah tinggi atau sampai ke puncaknya, maka tidak perlu bersusah dan berpenat-penat dengan amal yang banyak, ikuti sambungan bicara ini pada judul Tasauf Rasulullah, Para Sahabat dan Aulia-aulia Allah. Insya Allah akan terbukti bahwa mereka yang meringan-ringankan Syariat adalah kaum bid'ah yang sesat, merusak kemurniaan Tasuaf, dan semata-mata "ditindih perasaan" atau mengklaim mereka ahli tasauf sedangkan mereka sebenarnya "Anggota Dakwa"Jika bertemu dengan mereka, berilah Peringatan kepada golongan ini dengan kata-kata yang dipesan oleh Wali Allah Abu Hassan al-Khorkhoni;"Menganggap diri sendiri sebagai seorang Sufi itu adalah satu anggapan besar, setidaknya dia bukanlah sufi".

Enhanced by Zemanta
Post a Comment