Monday, October 29, 2012

kubur

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Makna kubur

Akal ini melambung dalam serpihan-serpihan nalar lalu membingkainya menjadi sebuah makna akan sebuah keadaan “mencekam, gelap dan menakutkan”.

Adalah makna dari sebuah keadaan kubur, yang oleh sebagian orang adalah gerbang cinta menuju kemerdekaan jiwa ketika dia mencapai sebuah kefanaan dalam hakikat Kebenaran.

Dan ada sebagian lagi menganggap kubur sebagai batas kesudahan (tamat) dari segala ambisi dan mimpi-mimpi kehidupan, olehnya wajar jika banyak yang tidak mau bicara tentang kubur, biarlah ia datang dengan caranya sendiri sementara mereka juga mempunyai cara untuk semaksimal mungkin menciptakan jarak dengan kubur walau itu hanyalah sebuah kesia-siaan dalam lakon hidup mereka.

Kita mengenal kubur adalah sebatas proses kematian jasad yang seterusnya dikreasi untuk dikembalikan ke alam asalnya dengan berbagai cara, namun kubur dalam dimensi ini adalah tingkatan terbawah dari sederet tingkatan kubur selanjutnya. dalam pandangan kami kubur meliputi ;

Kubur alam (kubur pada unumnya / kubur syariat),

kubur jasad yakni jasad adalah kubur dari jiwa (kubur tarikat )

kubur jiwa yakni kesadaran bahwasannya jiwa adalah kubur bagi diri yang sebenarnya (ruh).

Kubur Alam 

Kubur alam adalah gerbang bagi jiwa untuk memahami kalau diri bukanlah jasad adanya, sehingga ketika jiwa masih berjasad, jiwa harus belajar agar tidak dominan dalam merespon segala sesuatu yang bersifat materi (sumber asal dasar dari jasad).

Bila jiwa memahami keadaan ini, maka jiwa memasuki gerbang pemahaman yang ebih tinggi., pemahaman jika jasad sesungguhnya merupakan sebuah perangkap jiwa yang harus dilepas seiring dengan segala ikatan yang selama ini terjalin dalam penyatuan jasad dan jiwa.

Alam kubur adalah gerbang pemahaman pada tingkatan ini dan pertanyaan utama pada dimensi kubur alam ini adalah ” Siapa Tuhanmu..? makna dari pertanyaan ini adalah pertanyaan nalar yang berorientasi materi, dimana seringnya manusia menggambarkan sosok Tuhan dalam bentuk fisik atau sebuah obyek sehingga membutuhkan kesadaran logika bahwa Tuhan bukanlah sosok yang tercipta dari kreasi alam pikir manusia dalam sebuah “bentuk” karena Tuhan lebih dari itu dan tiada terbatas (Maha Besar).

Konsekwensi pada dimensi kubur ini adalah ; jika diri berbuat baik, maka masuk surgalah imbalannya. Dan jika diri berbuat jahat maka Nerakalah tempatnya.

Kubur Jasad 

Ketika jiwa memasuki gerbang kesadaran dan mengerti akan esensinya maka jasad adalah sebuah kubur bagi jiwa, proses selanjutnya memaknai jasad sebagai kubur akan merefleksikan bagaimana jiwa selama ini menjadikan jasad sebagai kerangka dalam dimensi ruang dan waktu untuk mewujudkan segala untaian keinginan dalam terminologi tertentu yang umumnya didominan oleh ego.

Kesadaran jiwa akan jasad sebagai perangkap adalah langkah awal dari perjalanan jiwa dalam menggapai kebenaran dan memahami akan kebodohan jiwa itu sendiri (yang terbelenggu oleh keterpikatan duniawi), akan tetapi jasad juga merupakan media yang sempurna dari sebuah penciptaan untuk mengantar jiwa pada gerbang kesadaran akan Kebenaran.

Terbukanya kesadaran jiwa akan jasad sebagai perangkap adalah seiring kesadaran jiwa itu sendiri kalau dirinya (jiwa) adalah juga perangkap atas ruh dari jiwa itu.

Selanjutnya melahirkan perjuangan untuk menyibak berbagai sekat-sekat jiwa akan resonansi Cahaya Ruh agar jiwa terlebur dengnan Cahaya Ilahi dan menciptakan keseimbangan jiwa dalam menyikapi vibrasi kehendak yang bersifat materi (jasad) melalui inderawi.

Pada dimensi kubur jasad ini, pertanyaannya adalah ; ” Kenal-kah kamu dengan Tuhan-Mu.?” Makna pertanyaan ini merupakan esensi pemahaman ke-Tuhan-an melalui alam bathin, dengan indera bathin, dan lebih khusus lagi dengan mata bathin yang dimulai dengan Cahaya Ruh sedangkan prosesnya dinamakan perjalanan Ruhani.

Kenalkah kamu dengan Tuhan-mu ? adalah sebuah proses peralihan dari vibrasi dan resonansi jasad beserta struktur landasan akan makna pembentukan jiwa secara komperhensif menuju vibrasi Ilahi yang terpancar dari resonansi Cahaya Ruh, sehingga jiwa mengalami loncatan quantum menuju gerbang peleburan.

Jiwa akan selalu bercahaya dan mengenal segala sesuatu melalui cahaya karena segala sesuatu sumbernya adalah Cahaya, meskipun vibrasi itu datang dari alam jasad yang merupakan refleksi inderawi.

namun semua adalah Dia adanya….. Konsekwensi pada dimensi kubur ini berupa kedamaian dan ketenangan dalam kebahagiaan hidup yang dualitasnya adalah kepedihan, penderitaan dan keterpurukan dalam hidup karena jiwa yang gelap dan menjadi belenggu nafsu serta ego.

Kedamaian dan ketenangan yang hakiki sebagaimana yang digambarkan Rasulullah Saw; kubur orang-orang mu’min adalah laksana taman-taman di syurga.

Bukankah makna dari taman adalah kedamaian, kebahagiaan dan ketentraman ? demikianlah jika jasad seorang manusia telah terkonvert menjadi taman surga yang merupakan cerminan dari jiwa yang tercahayakan, jiwa yang kebahagiaanya tidak tergantung pada apapun karena cukuplah Tuhan menjadi sumber kebahagiannnya, lihatlah Sulaiman sang raja yang kaya, arief dan bijaksana, namun Sulaiman tidak menyandarkan kebesaran dan kebahagiannya pada vibrasi inderawi.

Renungkan juga akan ketampanan yusuf dan segala kemilau singgasananya, kemudian pikirkan sejenak bagaimana ketabahan Luth maka tersingkaplah apa yang seharusnya termaknai dalam setiap langkah hidup ini.

Kubur Jiwa 

Ini adalah kubur yang tertinggi dan terberat namun dengan Rahim-Nya serta mujahada, maka Insyaallah kita dapat memahaminya. Makna kesadaran jiwa sebagai kubur akan mengantar jiwa pada dimensi kefanaan lantaran kemutlakan Cinta itu sendiri.

Pada dimensi ini jika tergapai dengan sempurna melalui kekuatan dari-Nya, maka tidak akan ada lagi pertanyaan sebagaimana pertanyaan pada dimensi-dimensi kubur dibawahnya, dan yang ada hanya ucapan selamat datang bagi jiwa-jiwa yang tersucikan ;

“Wahai jiwa yang tenang ! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridho dan di ridhoi-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hama-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al Fajr : 27 -30)”.

Ketika malaikat Izrail mengabarkan kematian pada nabi Ibrahim maka Ibrahim berkata

“Izrail, sampaikan pada Tuhanku, adakah kekasih yang mematikan kekasih-Nya.?”

Izrail pun menghadap Tuhan dengan membawa pesan dari Ibrahim.

Tuhan berfirman “Izrail kalau begitu sampaikan pesanku ini pada kekasih-Ku Ibrahim”

Izrail kembali menjumpai Ibrahim dan menyampaikan pesan tersebut ;

“Ibrahim, Tuhan berfirman ; adakah seorang kekasih yang menolak panggilan kekasih-Nya.?”

Ibrahim pun melebur dalam panggilan itu dengan Cinta.

Lebih sederhana lagi, adalah hal yang mustahil ketika seorang Istri mendatangi rumah suaminya (yang telah menjadi rumahnya) lalu ia ditanya oleh penjaga rumah dengan berbagai pertanyaan sebelum ia diperbolehkan masuk dan bertemu dengan suaminya.

Namun demikian satu hal yang menjadi renungan dasar akan berbagai perjalanan dalam dimensi kubur ini, kita tetap melewati kubur alam, walaupun kita di istimewakan untuk tidak dihadapkan dengan berbagai pertanyaan dan konsekwensinya. Dan itu ada pada penyingkapan jiwa dalam gerbang penyatuan menuju kefanaan…

 


Enhanced by Zemanta
Post a Comment