Sunday, October 21, 2012

BERTAUHID 1

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

NURUN ALA NURIN (Cahaya diatas Cahaya) 


[36]
Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong[1] dan angkuh[2], sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri[3]. Dan datanglah kepada Allah sebagai orang-orang yang berserah diri[4].
[1] QS. Al Israa’:37.
[2] QS. Luqman: 18.
[3] QS. An Nisaa’: 36, juga disebutkan di QS. An Nahl: 23, Al Hadiid: 23.
[4] QS. An Naml 31.

[37]

Tanda kemantapan ketauhid seorang terhadap Allah, dilihat dari ketepatan ia menjawab empat pertanyaan tentang keimanannya; Apakah Allah itu? Dimanakah Allah berada? Sedang apa Allah sekarang? Apakah sekarang bisa bertemu Allah?

[38]

Kalau di kepalamu masih terdapat akal, maka pekerjakanlah ia, peraslah ia, benturkan ia, sehingga akalmu mengerti bahwa engkau tidak sanggup menciptakan dirimu sendiri, bahwa engkau tidak sanggup menghidupkan jantungmu sendiri, bahwa engkau tidak sanggup meramu barang setetes dari darahmu sendiri, bahkan engkau tidak sanggup menumbuhkan walupun itu sehelai rambutmu sendiri[1].
[1] Ehma Ainun Nadjib.

[39]

Butanya aku terhadap-Mu ya Allah, tulinya aku terhadap-Mu ya Allah, bodohnya aku terhadap-Mu ya Allah. “Laa ilaha ila anta. Subhanaka inni kuntum minadhalimin[1]”.
[1] QS. Al Ambyaa: 87.

[40]

Dan keterangan-keterangan ini menjelaskan kepada engkau makna-makna yang dalam-sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.

[41]
Allah berkata:

“Wahai hamba-Ku! Aku sakit, kenapa engkau tidak menjenguk Ku”.

“Wahai hamba-Ku! Aku lapar, kenapa engkau tak memberi Ku makan”.

“Wahai hamba-Ku! Aku haus, Aku haus, kenapa tak engkau beri Aku minuman”.

Daud bertanya:

“Wahai yang Maha Pengasuh. Betapa aku akan menjenguk Engkau, betapa mungkin Engkau sakit, padahal Engkaulah Tuhan seluruh alam”.
“Wahai Tuhanku. Betapa mungkin aku member-Mu makan, padahal Engkaulah Maha Kaya seru sekalian alam”.

“Wahai Tuhan Pengasuh. Betapa mungkin aku memberi-Mu minuman, sedangkan Engkaulah penumpah rakhmat semesta alam”.

Allah menjawab:
“Wahai anak Adam! Kalau engkau menjenguk hamba-Ku yang sakit niscaya engkau bertemu dengan Ku disisinya”.

“Wahai anak Adam! kalau engkau memberi makan kepada hamba-Ku yang kelaparan, niscaya engkau berjumpa dengan Ku disisi Nya”.

“Wahai anak Adam! Sekiranya engkau memberikan seteguk minuman kepada hamba-Ku yang kehausan, pastilah engkau temukan Aku disisinya”.
Butanya aku, tulinya aku, bebalnya aku, ya Allah. “La ila ha illa anta subhanaka inni kuntu minadhalimin”.

[42]
Allah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy[1].

Penciptaan langit dan bumi dimulai dari wujud Allah yang awal, yaitu Ahadiah (tidak bernama, tidak bersifat, dan tidak dapat diindra). Kemudian membutuhkan enam masa (tahap) berikutnya, yaitu “Wahdah”, “Wahidiyah”, “Nur Muhammad”, “Alam Misal”, “Alam Jisim” dan “Alam Insan”[2].


Ketahuilah bahwa ‘Arsy bukan ditimur atau di barat, bukan di atas bumi atau dibawah bumi, tetapi dimana-mana adalah ‘Arsy,  dan Allah berada diatasnya, yaitu kekuasaan tertinggi atas segala sesuatu.
Ingatlah, Allah lah yang menciptakan dan menggerakkan segala sesuatu, termasuk manusia. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
[1] QS. Al A’raaf: 54, QS. Al Hadiid: 4.
[2] Martabat Tujuh.

[43]

Kursi kekuasaan dan ilmu Allah meliputi langit dan bumi, dan Allah tidak merasa berat memihara keduanya. Tidak ada yang menggerakkan elektron terhadap proton kecuali Allah, Tidak ada yang memerintah akal dan hati manusia kecuali Allah, dan tidak pula ada yang berkuasa terhadap Malaikat dan Iblis keciali Dia. Tidak ada yang dapat memberi syafa’at walau seorang malaikat atau rasul kecuali atas kehendakNya sendiri. Allah mengetahui apa yang ada di hari depan dan di hari  belakang, dan Allah Maha Tinggi dan Maha Besar.

[44]

Tahukah engkau orang yang menyembah hawa nafsunya, ialah mereka yang bercita-cita dimasa muda suka ria, di masa tua kaya, dan matinya masuk surga. Karena mereka selama hidupnya tidak ada keinginan untuk bertemu dengan Tuhannya.

[45]

Apabila 20 Sifat Waib yang begitu sempurna itu milik Allah sebagai Khalik, maka kemustahilan Sifat Wajib tersebut adalah milik Allah juga[1]. Sesungguhnya Sifat Allah tidak terbatas.
[1] Apabila Allah memiliki sifat “Wujud” (ada) maka sifat “Adam” (tiada) adalah milik Allah juga. Apabila Allah memilik sifat “Baqa” (kekal) maka sifat “Fana” (binasa) adalah milik Allah juga.

[46]

Perjalanan menuju Tuhannya membutuhkan waktu yang sangat lama, lebih-lebih bagi hati yang kurang bersih, dan tergantung kadar serta usaha seseorang dalam penyucian hatinya. Hal tersebut dikarenakan kondisi hati manusia beragam adanya.


Hati dapat digambarkan seperti bumi. Ada kalanya bumi digali sedikit saja, sudah bisa keluar mata airnya. Ini adalah gambaran bagi hati seorang yang bersih. Tapi ada bumi yang digali sampai dalam, tapi tetap saja tidak keluar mata airnya, karena kondisi tanahnya yang tandus, gersang dan berbatu. Hal ini adalah gambaran hati yang keras, bahkan sudah mengerjakan semua perintah agama, akan tetapi belum juga keluar mata air (Hikmah) nya.


Kalau bumi sudah digali tapi tidak keluar airnya, solusinya bagaimana? Hantamkan saja Al-Qur’an pada bumi tersebut, karena telah dikatakan bahwa “Dan sekiranya ada suatu bacaan yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, tentulah Al-Qur’an itulah dia[1]”.
[1] QS. Ar Ra’d: 31.

[47]

Apabila dengan kakimu engkau tidak sampai mendaki langit, gunakanlah akalmu. Apabila akalmu hanya berhenti dilangit yang ketujuh, lanjutkan dengan hatimu. Dan apabila hatimu mengalami pasang surut dalam menatap wajah Nya, ketahuilah bahwasanya tanpa kau perintahpun-ruhmu tidak sekejapun lengah dalam bersimpuh dihadapan Allah.

[48]

Saat sekarang tidak ada manusia yang menyembah api atau iblis, yang ada seorang mengagungkan hawa nafsunya. Padahal semuanya sama. Saat sekarang tidak ada manusia mengaku Tuhan sedemikian Firaun, yang ada pengakuan terhadap kekuatan diri. Padahal mereka sama saja.

[49]

Mendung tidak setetespun menurunkan hujan, matahari tidak sederajatpun menaikan panas, usaha tidak selangkahpun merubah arah nasib, akal tidak seatompun membuahkan ilmu, ruh tidak sedetikpun membuat hidup, Al-Qur’an tidak sehurufpun membuka hati, kecuali semua atas kehendak Allah sendiri.

[50]

Kalau engkau paham hakikatnya Tursina, engkau akan malu ber-khalwat  dipuncak gunung. Kalau engkau paham hakikatnya gua, engkau akan enggan ber-mufarid di dalam bumi. Kalau engkau paham hakikatnya hutan, engkau akan menolak ber-zuhud di rimba belantara. Kalau engkau paham hakikatnya Sidratul Muntaha, engkau tidak akan terbang untuk ber-uzlah ke langit. Kalau engkau paham hakikatnya Baitullah, you are not everywhere.

[51]

Orang kafir bukan hanya orang yang di luar Islam, mereka yang iman tetapi hatinya tertutup dihadapan Allah atau tidak mengenal Allah, mereka tergolong orang kafir.


Walaupun sekiranya Allah turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Allah kumpulkan pula segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak juga akan tidak mau mengenal Allah, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

[52]
Iblis adalah makhluk pengkhianat Tuhan yang dari mulutnya terucap pengakuan bahwa sesungguhnya mereka takut kepadaNya.

Manusia adalah khalifah Tuhan yang bersujud kepada Nya, tetapi dari penglihatan terhadap apa yang ummat manusia hasilkan dalam peradaban mereka, yang tampak menonjol adalah perilaku-perilaku yang bukan hanya tidak takut kepada Tuhan, melainkan juga merendahkan kesucian Nya.

[53]
Aku mengenal Allah bukan karena Al-Qur’an, bukan karena Muhammad, bukan karena Wali, tapi aku mengenal Allah karena Allah sendiri (titik).

[54]
Sifat Allah jangan dibatasi dengan 20 sifat, Asma Allah jangan di patok 99 nama, Dzat Allah jangan batasi dhohir bathin, kehendak Allah jangan dibatasi pada apa takdir. Silahkan konstruk sendiri ketauhidan mu seluas-luasnya, karena Ia adalah Maha Besar dari segala angan dan pikiran yang dapat engkau lakukan.

[55]

Langit dan bumi ini adalah mati, tidak bersifat dan tidak berkehendak apapun. Sesungguhnya yang hidup, yang bersifat dan yang berkehendak adalah Allah semata. Janganlah ragu tentang pertemuanmu kepada Allah, karena Allah meliputi segala sesuatu.

Walillaahi maa fii alssamaawaati wamaa fii al-ardhi wakaana allaahu bikulli syay-in muhiithaan”, Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu[1]. Yaitu yang meliputi adalah perbuatanNya[2],  kekuasaanNya[3], pengetahuanNya[4], rahmatnya[5], dan juga Dzat Nya[6].

Sulit sekali mengajak orang yang beriman untuk tidak mengharapkan upah dari amal kebajikannya, sehingga benar-benar meraka bertujuan kembali ke pada Tuhannya.
Kebanyakan pola pikir dari mereka sama halnya seperti yang dilakukan orang Yahudi membunuh rasul-rasul yang menyeruh agar menyembah kepada Tuhannya tanpa meminta balasan.
Sebagaian ada dari mereka yang bersikap seperti penduduk yang menolak uang Ashabul Kahfi keluar dari gua untuk berbelanja.
Padahal uangnya Ashabul Kahfi itu adalah perumpamaan ilmu yang paling tinggi diantara ilmu-ilmu yang lain, yaitu ilmu untuk kembali kepadaNya, ilmu untuk bertauhid kepada Tuhannya.

Malah kebanyakan dari orang-orang beriman memohon pada Tuhan untuk menerima amal ibadahnya, memaksa Tuhan untuk berdagang dengannya, bahkan menganggap Tuhan sebagai asisten pribadinya untuk mengabulkan doa-doa mereka.
[1] QS. An Nisaa’: 126.
[2] QS. Huud: 92, QS. Al Anfaal: 47.
[3] QS. Albaqarah: 255.
[4] QS. Thaahaa: 98, QS. Al An’aam: 80, QS. Al ‘Araaf: 89, QS. Ath Thalaaq: 12.
[5] QS. Al ‘Araaf: 156, QS. Al Mu’min: 7.
[6] QS. An Nisaa’: 126,  QS. Fushshilat: 54.

[56]

Awal engkau sendiri yang mencari jalan menuju Tuhan, berikutnya Allah sendiri yang memberitahu bahwa sebenarnya Dia sudah mendampingi mu sejak awal sebelum engkau mencari Nya. Hingga semakin teranglah kedudukan Allah didalam diri mu, dan  Dia lah sebenarnya yang hadir didalam diri mu, bukan engkau yang hadir di dalam diriNya.

[57]
Setinggi apapun ilmu yang engkau miliki-apabila engkau mengenal Allah dengan sebenarnya, maka ilmu itu akan leleh, ilmu itu akan lenyap, akan musnah-dikarenakan ketundukanmu kepada Allah.

[58]
Dalam upayamu mendekatkan diri kepada Allah akan kau temui berlapis-lapis hijap (penutup). Ketahuilah bahwa menembus hijab Allah bukan berati membuang hijab tersebut, cukuplah engkau melihat bahwa hijab-hijab itu adalah Allah sendiri.

[59]
Berserah diri janganlah engkau salah artikan sebagai tidak adanya usaha untuk melakukan sesuatu perubahan, semua terserah pada Allah. Bukan itu yang dimaksud, karena apabila demikian akan bertentangan dengan ayat, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri[1]”.


Berserah diri adalah engkau dengan kesadaran yang mendalam bahwa segala daya upaya yang engkau lakukan adalah mutlak daya dan upaya Allah sendiri. Semua kehendak hati-semua proses berpikir-semua perbuatanmu, mutlak hanyalah adalah kehendak-berpikir-dan perbuatan Allah sendiri.

Berserah diri (muslimuun) bukan hanya segala daya dan upaya manusia berasal dari Allah, tetapi segala daya dan upaya itu adalah Allah sendiri yang melakukan.  “Wallahu kholakum wa ma ta'malun”. Artinya, “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu[2]”.

Pengertian tersebut tidak serta merta diterima oleh orang yang beriman, kebanyakan dari mereka memahami sebatas Allah memberikan daya dan upaya kepada manusia, bukan daya dan upaya Allah sendiri.

Dengan berserah diri secara total, maka eksistensi (ego) dirimu akan hilang, yang ada hanyalah eksistensi Allah.

Ketahuilah bahwa tingkat berserah diri secara total banyak dicontohkan oleh Nabi dan Rasul. Nabi Ibrahim dan Ismail adalah contoh pencapaian tingkatan berserah diri secara total. “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya[3]”.

Ibrahin dan Ismail berani melakukan hal demikian karena didasari oleh pemahaman yang mendalam terhadap keberserahdirian mereka. Ibrahim berani mengorbankan anaknya, dan Ismail rela di korbankan oleh Bapaknya, karena mereka berkeyakinan ini semua adalah daya dan upaya Allah sendiri.

Demikian juga seruan Nabi Musa kepada kaumnya agar mereka berserah diri, ”Berkata Musa; Hai kaum-ku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri[4]".

Bagi mereka telah berserah diri dan bahkan melebur dalam Diri Allah, baik secara lahiriah maupun maupun batiniah, maka segala kehendak dan perbuatan luluh dalam kehendak dan perbuatan Allah semata. Dalam hadist Qudsi dikatakan bahwa orang yang demikian “Melihat dengan penglihatan Allah, mendengar dengan pendengaran Allah, dan seluruh langkah perbuatannya dilambari oleh ilmu–ilmu Allah”.

Berserah diri demikianlah yang dikatan sebagai kematian dalam kehidupan, sesuai dengan hadist mengatakan, “Mutuu qobla anta mutu”, artinya “Matikan dirimu sebelum dimatikan”.

Kematian inilah kematian yang sebenarnya, bukan kematian pada saat ruh lepas dari jasad. Ruh lepas dari jasad itu adalah proses kembalinya manusia, bukan proses kematian manusia. “Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada Nya lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allah lah mereka dikembalikan[5]”.

Sekarang engkau sudah mati, dan berikutnya kembali kepada Allah.
[1] QS. Ar Raad: 11.
[2] QS. Ash Shaaffaat: 96.
[3] QS. Ash Shaaffaat: 103.
[4] QS. Yusuf: 84.
[5] QS. Ali Imran: 83. Kepada Allah semua akan kembali, hal itu juga dijelaskan pada surat yang lain: QS. Al Jaatsiyah: 15, QS. Az Zukhruf: 85, QS. Fushshilat: 21, QS. Yunus: 55.

[60]

Sesungguhnya siang dan malam, kebaikan dan kejahatan semua berasal dari Allah. Dialah yang menciptakan penuh segala sesuatu berpasang-pasangan supaya manusia mengingat  kebesaranNya.  “Wamin kulli syai in kholakna zaujaini la allakum tadzzakarun [1]”.
[1] QS. Adz Dzaariyaat: 49.

[61]

Tidak wajar bagi seseorang yang telah Allah berikan kepadanya petunjuk Al-Qur’an, ilmu dan hikmah, lalu dia berkata kepada manusia, "Hendaklah kamu menjadikan aku pelindung dan penghubungmu kepada Allah." Dan tidak wajar pula baginya berkata, “Arwah para Nabi dan Auliya sesunguhnya bisa memberikan syafaat dan pertolongan kepada mu”.

Apakah patut menyuruh manusia berbuat kekafiran, diwaktu mereka sudah beriman?

[62]

Kalimat Syahadat “Lailahaillah” pengertian Syariatnya adalah "Tiada Tuhan melainkan Allah", pengertian  ini masih bersifat lisan sebagai Syahadatnya akal. Perlu diperdalam kalimat Syahadat itu dengan pengertian yang lebih memantabkan ketauhidtan, yaitu butuh pengertian secara Thoriqat untuk Syahadatnya hati, pengertian secara Hakikat untuk Syahadatnya  ruh, dan pengertian secara Ma'rifat untuk Syahadatnya di rasa.


Lailahailallah”, Pengertian Thoriqatnya: "Tiada Yang Nyata melainkan Allah, pengertian Hakikatnya: "Tiada Yang Berhak ada melainkan Allah", dan secara Ma'rifat pengertiannya: "Tiada Yang Berwujud kecuali Allah".

[63]

Dari Allah lah manusia diciptakan dari tidak ada[1] menjadi ada (hidup), maka Allah lah yang mematikan manusia untuk dikembalikannya menuju tidak ada (kembali kepada Allah)[2].

Huwa yuhyii wayumiitu wa-ilayhi turja'uuna[3]”.
[1] Dari tidak ada maksudnya yang ada hanya Allah, sehingga semua makluk (manusia) awalnya dari Yang Maha Ada, yaitu Allah.
[2] Menuju tidak ada maksudnya kembali keawal Yang Maha Ada, yaitu Allah.
[3] QS. Yunus 56; “Dia lah yang menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Nya lah kamu dikembalikan”.

[64]

Kalau di kepalamu masih terdapat akal, maka pekerjakanlah ia, peraslah ia, benturkan ia, sehingga akalmu mengerti; bahwa engkau tidak sanggup menciptakan dirimu sendiri; bahwa engkau tidak sanggup menghidupkan jantungmu sendiri; bahwa engkau tidak sanggup meramu barang setetes dari darahmu sendiri; bahkan engkau tidak sanggup menumbuhkan, walupun itu sehelai rambutmu sendiri.


Sebelum tiba sesuatu yang melumpuhkan kakimu. Sebelum tiba sesuatu yang menyesakkan dadamu. Sebelum tiba waqi’ah yang menggelapkan hidupmu.

Bersegeralah mengucap pengakuan bahwa “La haula wala kuwata ila billah”.

[65]

Langit dan bumi dan segala apa yang ada diantara keduanya diciptakan Allah dalam enam tahapan[1],  lalu Allah bersemayam diatas Arsy’.


Awalnya Allah bermartabat Achadiyyah, ke-’Ada’-an Dzat Yang Esa. Dzat yang belum bersifat, belum bernama (belum memiliki asma’), belum melakukan perbuatan (belum ber-af’aal), tidak mempunyai hubungan dengan apapun sehinga tidak dapat dipikirkan, dirasa, dicapai oleh siapapun, Muhammad pun tidak bisa mencapai tingkat ini. Kenyataan Yang Belum Nyata, disebut “La ta’ayyun”[2]-[3].


Tahapan pertama ialah Martabat Wachdah, ke-’Ada’-an Dzat yang sudah memiliki Sifat Ke-Esaan. Dzat Allah bernampak (tajjali) dalam sifat-sifat kenyataan yang tetap, yaitu sifat Ilmu, Wujud, Syuhud dan Nur. Martabat ini adalah Nur Muhammad yang merupakan penyebab bagi terjadinya bumi dan langit dan segala isinya. Disebut Martabat Kenyataan Terpendam[4]. Disebut Kenyataan Pertama atau “Ta’ayyun Awwal”.

Tahapan ke-dua ialah Martabat Wachidiyyah, ke-‘Ada’-an Dzat yang sudah memiliki Asma’ Ke-Esaan. Segala sesuatu yang terpendam tapi dapat dibedakan dengan tegas walaupun belum kenyataan masih terpendam. Disebut Kenyataan Kedua atau “Ta’ayyun Tsani”.

Tahapan ke-tiga ialah Martabat ‘Alamul Arwah (Alam Ruh). Dengan “Kun fa Yakun” maka yang awalnya kenyataan terpendam menjadi alam Ruh, yaitu hakikat dari ruh yang satu, baik itu ruh manusia, ruh hewan, ruh tumbuh-tumbuhan. Disebut kenyataan yang ada diluar  atau “Ayan Kharijiyyah”. Atau Kenyataan Yang Ketiga,  “Ta’ayyun Tsalit”.

Tahapan ke-empat ialah Martabat ‘Alamul Mitsal (Alam Ide). Wujud nyata yang tersusun secara halus, tidak bisa dipisah-pisah. Disebut Kenyataan Yang Keepat, “Ta’ayyun Rabi’ ”.

Tahapan ke-lima ialah Martabat ‘Alamul Ajsam (Alam Benda). Wujud nyata yang tersusun secara materi, dapat dipisah-pisah sehingga terukur. Disebut Kenyataan Yang Kelima “Ta’ayyun Khamis ”.

Tahapan ke-enam ialah Martabat ‘Alamul Insan(Alam Manusia), Wujud nyata berupa alam semesta (bumi dan langit seisinya) yang sempurna[5].

Inilah yang dikatakan enam tahapan terbentuknya alam semesta sesuai dengan ayat; “Allah lah yang menciptakan[6] langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa[7]”.

“Lalu Allah bersemayam diatas Arsy[8]”, yaitu kekuasaan tertinggi atas langit dan bumi serta segala apa yang ada diantara keduanya. Allah Maha Yudikatif, Maha Eksekutif, Maha Legislatif, Maha Aktor. Tidak ada segala sesuatu kecuali dia sendiri.
[1] Enam masa, atau enam hari, enam tahapan, enam kenyataan, enam martabat.
[2] Biasanya disebut “Huwa”. Ada orang yang berdzikir menyebut nama Allah dengan sebutan “Huwa”.
[3] Tahapan tertinggi ini disebut Ma’rifat Tanzih, yaitu mengenal Allah pada tingkat yang tidak terindrawi.
[4] Diibaratkan seperti pohon, cabang, ranting, daun yang masih didalam biji. Dimana yang ada hanya sifatnya yang masih tersimpan.
[5] Pencapaian tahapan pertama sampai ke-enam disebut Ma’rifat Tasybih, yaitu mengenal Allah pada tingkat yang terindrawi.
[6]  Atau dengan kata lain bahwa langit bumi dan apa yang ada diantara keduanya di-“Tajjali”-kan, dinampakkan, diemanasi, dipancarkan dari Dzat Allah.
[7] QS. As Sajdah: 4, QS. Al A'raaf: 54, QS. Yunus: 3, QS. Huud: 7, QS. Al Furqaan: 59, QS. Qaaf: 38, QS. Al Hadiid: 4.
[8] QS. As Sajdah: 4, QS. Al A'raaf: 54, QS. Yunus: 3, QS. Al Furqaan: 59, QS. Al Hadiid: 4.

[66]

Arifin Billah berkata; “Andai kata terlintas di dalam hati-ku suatu kehendak akan yang lain selain Allah karena jiwa-ku melupakan Nya, maka hukumkan diriku sebagai seorang yang murtad dihadapan Nya”.

[67]
Kalimat Tauhid  “Lailahailallah” terdiri dari 12 huruf: Lam-Alif-Alif-Lam-Ha-Alif-Lam-Alif-Alif-Lam-Lam-Ha.

Kalimat Tauhid diringkas menjadi lafal Jalala, yaitu ‘Allah’.  Dan lafal ‘Allah’ ini terdiri dari 4 huruf ; ‘Alif’ mengandung  sifat  Kamal (sempurna), ‘Lam  Awal’  mengandung sifat  Jamal (bagus),  ‘Lam Sani’ mengandung  sifat Jalal (luhur), ‘Ha’ mengandung sifat Kahar (memaksa). 

Dari lafal ‘Jalala’ mengeluarkan 4 ilmu; ‘Alif’ mengeluarkan ilmu Syariat. ‘Lam Awal’ mengeluarkan ilmu Tarekat, ‘Lam Sani’ mengeluarkan ilmu  Hakikat, dan ‘Ha mengeluarkan ilmu ‘Ma’rifat’.

Ilmu Syariat tempatnya di anggota  tubuh, pribadi orangnya harus niat, wudlunya menggunakan air, sholatnya berdiri-ruku’-duduk-sujud.


Ilmu Tarekat tempatnya di hati, pribadi manusianya harus menjalankan perintah, wudlunya tidak boleh iri dan dengki,  sholatnya adalah berbelas  kasihan.
Ilmu Hakikat tempatnya di ruh,  pribadinya meninggalkan  keakuan, wudhunya meninggalkan takabur, sholatnya adalah sabar.
Ilmu Ma’rifat tempatnya di rasa, pribadinya harus mengenal Allah, wudhunya harus tenang, sholatnya adalah yakin[1]-[2].
[1] Yakin melihat sungguh-sungguh terhadap keagungan sifat dan dzat Allah pada alam semesta.
[2] Hidayatul Ummah, Hasan Husein.

[68]

Apakah engkau tidak memperhatikan betapa banyak dari mereka yang telah beriman dan diberi petunjuk Al-Qur’an, tetapi sebenarnya mereka penyembah Thaghut[1]. Padahal Allah telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat untuk menyeru, “"Sembahlah Allah saja, dan jauhilah thaguht[2]”. 

Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dari pada jalan yang sesat.
[1] Thaghut adalah segala sesuatu selain Allah yang dianggap bisa memberi kebaikan sehingga disembah-sembah; termasil wali, Rasul, Al-Quran, Malaikat-semua apabila dianggap bisa memberi pertolongan maka orang yang meminta tersebut adalah penyembah Thaghut.
[2] QS. An Nahl: 36.

[69]

Ketahuilah bahwa kunci penyibak hijab adalah syuhud, yaitu “Syuhuudul katsrah filwahdah, syuhuudul wahdah filkatsrah – Pandangan yang banyak pada yang satu dan pandangan yang satu pada yang banyak[1]”. Maka katakalah “Tidak aku melihat sesuatu, melainkan aku melihat Allah  padanya, tidak aku melihat sesuatu melainkan aku melihat  Allah  sertanya, tidak aku melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah  sebelumnya, tidak aku melihat sesuatu melainkan aku melihat Allah  sesudahnya”.
[1] Kitab Addurun Nafis, Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari.

[70]

Siapakah mereka yang dikatakan Islam? Yaitu "Man aslama wajhahu lillaahi wahuwa muhsinun[1]" Siapa saja yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, merekalah[2] orang Islam.


Sehingga apabila Allah mengatakan; "Inna alddiina 'inda allaahi al-islaamu" , yaitu sesungguhnya agama disisi Allah ialah agama berserah diri, maka bisa jadi orang lain lebih berserah diri (lebih Islam) dari pada orang yang mengaku beragama Islam.
[1] QS. Al Baqarah: 112.
[2] Mereka adalah siapa saja, bisa jadi orang Yahudi dan Nasrani (ahli kitab).

Enhanced by Zemanta
Post a Comment