Tuesday, October 16, 2012

nahwu lisan dan nahwu hati

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


ilmu nahwu bukan saja memelihara lisan dalam mengucapkan bahasa arab, tetapi ilmu nahwu juga di bekali dengan ilmu memelihara hati dan tingkahlaku.
secara dohiriah ilmu nahwu memang membahas seputar i’rob. tetapi kalau di teliti lebih dalam, ada ma’na yang tesembunyi di balik ilmu nahwu itu sendiri, seperti yang telah di paparkan dalam kitab syarah jurumiah almaimun, yang mana ilmu nahwu di terangkan dengan ilmu tauhid dan ilmu tasawwuf, yang akan menghantarkan bagi pembacanya kepada kebersihan hati dengan qoidah-qoidah ilmu nahwu….
di sini akan saya paparkan beberapa keterangan dari ulama dalam kitab maniyyah al-faqir al-munjarid wa sairah al-murid al-mutafarid di antaranya :
Pengarang dalam kitab berkata : “selanjutnya, wajib bagi setiap orang yang berakal sehat, setelah memperbaiki lisanya, mulai bertindak memperbaiki hatinya. Dengan membersihkanya dari bermacam kehina’an dan menghiasinya dengan bermacam keutamaan. Agar hatinya terbiasa memancarkan cahaya-cahaya hakikat tauhid dan rahasia-rahasia tafrid.
Memperbaiki lisan tanpa di barengi memperbaiki hati merupakan tindakan tercela dan menyesatkan. Memperbaaiki hati tanpa memperbaiki lisan merupakan kesempurnaan yang kehilangan kesempurnaan. Memperbaiki keduanya secara bersamaan merupakan kesempurnaan di atas kesempurnaan
.
Betapa mulianya imam sibawaih r.a. saat mengatakan :
Inilah lisan fsih
Menjaga i’rab dalam ucapanya
Semogalah ia selamat
Tiada penyesalan akibat pengungkapan
I’rab, benar tidak memberikan mamfaat
Tanpa ketakwaan di ikut sertakan
Tidak berbahaya orng takwa
Meski lisan berbicara tak karuan.
Syaikh shalih al-Faqih al-maimuni r.a. berkata : “merupakan yang terburuk dari hal yang buruk, bila seseorang mempelajari atau mengajarkan cara memperindah ucapan lisan, tanpa mempelajari atau mengajarkan cara memperbaiki hati, yang menjadi tempat perhatian ilahi.
Ilmu nahwu (gramatika bahasa arab) terbagi menjadi dua bagian, yaitu nahwu lisan dan nahwu hati. Mengetahui nahwu hati lebih baku dan lebih bermanfaat daripada nahwu lisan, menurut mereka yang jernih pikiranya.
Rasullullah Saw bersabda, “ilmu itu ada dua nacam, yaitu ilmu lisan. Ini adalah argumentasi Allah pada keturunan Adam. Dan ilmu hati. Inilah ilmu yang bisa memberikan manfaat.” ilmu hati adalah keyakinan yang mantap, mengenal Allah dari sifat realitas-realitas lapangan. Inilah nahwu yang berkaitan dengan hati. Inilah nahwu yang hukumnya fardu ain bagi setiap muslim. Ilmu ini untuk mengobati hati dari berbagaai penyakit, seperti hubbu dunya (cinta dunia) yang merupakan pokok berbagai kesalahan, mengkhawatirkan rizki yang telah di jamin oleh Allaah, takut kepada mahluk, riya, ujub, takabbur, keragu raguan dalah aqidah dan penyakit-penyakit lain yang memperlambat proses pengenalaan dan penyaksian kepada Al-Haqq (Al-lah Swt) inilah nahwu hati yang oleh kalangan sufi dinamakaan mahwu (penghilangan) dengan huruf mim (mahwu). Karenaa ilmu ini melenyapkan segalaa isi hati selain Allah.

Ilmu haqiqat merupakan terminal perjalanan mereka. Serta arena perputaran pengembaraan pikiran mereka. Dengan ilmu ini, mereka mencukupkan diri dari segala macam ilmu selain ilmu yang wajib. Semoga Allah meridhoi mereka.
Pernah di tanyakaan kepada seorang wali agung, sayyidi Ahmad bin musa, “apakah anda pernah mempelajari sebagian dari ilmu nahwu?”
dia menjawab, “Aku pernah mempelajari dua bait Al-fiah ibnu malik yaitu :
famaa lana illattibaa’u ahmada (tidak ada yang pantas bagi kami selain mengikuti Nabi Ahmad/muhammad)
dan “famaa ubiihaf’Al wa da’ maa lam yabih’ ( maka lakukanlah apa yang di perbolehkan, dan tinggalkan apa yang tidak di perbolehkan).”
Al-arobi r.a. Berkata : Aku tidak mengerti ilmu nahwu, selain i’rab dari firman Allah Ta’ala : In yakunu Fuqara’ yughnihimullahu min fadhlih ( apabila mereka adalah orang-orang yang faqir maka Allah akan memberi mereka kecukupan, dari keutamaanya. QS. An-Nur[24]:32) in adalah hurup Sayarat dan yughnihim adalah jawab dari syarat. Yang di maksud dengan berkecukupan di sini adaalah kecukupan terbesar. Firman Allah ini merupakan pembicaraan yang di tunjukaan kepada orang-orang yang menghadapkan diri, pada jalur tarekat para pemegang isyaraat.
Enhanced by Zemanta
Post a Comment