Thursday, October 18, 2012

KITAB ILMU tahqiq MANHALU Shofi FI BAYAANI

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

 KITAB ILMU tahqiq MANHALU Shofi FI BAYAANI AHLI shufi
TASAUF RASULULLAH SAW, PARA SAHABAT DAN AULIA ALLAH
 
Perumpamaan untuk mereka yang meremehkan Syariat
Tercatat dalam Kitab Ilmu Tahqiq Manhalus Shofi Fi Bayaani Anggota-Ssufi peringatan yang sangat penting bagi mereka yang ingin memasuki dunia Tasauf sebagaimana berikut;Setengah dari yang tidak dapat tidak (yakni WAJIB) untuk orang yang murid yang hendak berjalan ke Allah Subhanahuwa Taala, jalan Ahlullah, yaitu bahwa harus melazimkan diri dengan "Adab Syariat" Nabi kita Muhammad SAW. Yakni dengan memelihara segala apa yang diperintahkan dan yang bertentangan. Kemudian masuk ia pada "Thoriqat Nabi kita SAW" yakni sesuai akan jalan yang dikerjakan oleh Nabi yang terdiri dari amal pada sekuasa-kekuasaannya. Tidak maqam yang terlebih (afdhal) dari mengikuti Nabi SAW pada perbuatannya, tegahnya, kelakuannya dan perangainya. Tidak dapat sampai kepada Allah melainkan dengan mengikuti Nabi kita SAW karena dialah Ariffin yang mengetahui dengan sesuatu yang mendekatkan dirinya kepada Allah dan kepada redhoNya. Sesungguhnya telah berjalan Ia (Rasulullah SAW) dengan Dia untuk dirinya dengan demikian jalan.Barangsiapa yang sesuai akan dia (Rasulullah SAW) padanya, maka tidak maqam yang terlebih afdhal dari maqamnya. Setengah darinya dapat kasih Allah Taala seperti firman Allah Taala;"Katakanlah olehmu ya Muhammad! Jika ada kamu kasih akan Allah, maka ikut oleh kamu sekalian akan daku niscaya dikasih akan kamu oleh Allah Taala"Wali Qutub Sheikh Abi Madyan ra ada membuat peringatan ini dalam Kitab Hikamnya;"Diharamkan mereka itu sampai kepada Allah karena meninggalkan menurut" Thoriqat Muhammadiyah "(yakni Sunnah Rasulullah SAW) dan berjalan mereka itu dengan keinginan mereka".Demikianlah dasar yang menjadi tujuan cadangan para pendukung Ilmu Sufiah, tidak sama sekali berenggang jauh dengan tips dan praktek yang telah dilalui oleh Rasulullah SAW. Sejarah telah membuktikan akan keluhuran dan ketinggian pribadi Rasulullah SAW, para sahabat-sahabat yang keistimewaan dan kekuatan jiwa dan ruh Islam yang hakiki mengalahkan peradaban-peradaban yang sebelum itu, saat itu dan setelah itu dan "isme-isme" yang ada sekarang ini."Dan apa-apa yang telah mendatang ia akan kamu oleh Rasulullah itu maka ambil oleh kamu dan apa-apa yang mencegah ia akan kamu, maka berhentilah oleh kamu jangan dikerjakan". (Al-Hasyr: 09)Tulisan ini adalah sebagai lanjutan dari bicara tentang Tasuaf dan maksud bertasauf. Di samping itu juga ia adalah merupakan usaha untuk mengheningkan kebingungan kaum yang mengklaim diri mereka praktisi tasauf sedangkan mereka telah tertipu dan terpedaya oleh setan laknatullah karena meremeh-remehkan syariat bahkan ada yang sampai ke tingkat membuang terus kemuliaan syariat ini semata-mata beralasan bila sudah berada dipuncak, segala hukum dan tuntutan syariat tidak bisa dipakai. Mereka bukan saja tergelincir dari "jalan yang benar" malah bisa menyebabkan orang sipil (kebanyakan orang) akan menjadi keliru dan turut terjebak dalam golongan yang suka saya gelarkan "Tasauf Pinggiranr".Marilah sama-sama kita perhatikan bagaimana Tasauf membayangi kehidupan Rasulullah.Mulai hidupnya dengan mempelajari rahasia dan hikmah alam dengan bersunyikan diri diri Gua Hira 'sehingga menjadi Rasul. Rasulullah sangat kuat bertahajud, beristigfar, berzikir, shalat sampai bengkak kakinya karena lama berdiri Qiyam. Rasulullah menangis karena takut TuhanNya. Rasulullah menunjukkan kepada Abu Hurairah rupa dunia yang kotor ini dengan contoh satu lopak yang bertumpuk-tumpuk bangkai manusia dan binatang dan barang buruk buangan. Semua ini terang dalam hadits yang shohih.Rasululah mengibaratkan dunia ini tidak pun bernilai ukuran seberat sayap nyamuk.Dalam satu hadis Qudsi Allah berfirman; "Aku di sisi orang-orang yang pecah remuk redam hatinya"Rasulullah tidur di atas tikar yang kasar. Badannya berlarik bekas tikar itu di kedua lambungnya sampai menangis Sayyidina Umar Al-Khattab dengan kondisi Nabi itu.Dasar pembinaan pribadi yang luhur dengan ketaatan yang tinggi terhadap Allah Taala ini telah diwariskan oleh sahabat-sahabatnya. Setiap seorang muslim pada zaman Rasulullah jadi Abid dengan hidup cara tasauf dalam kebugaran tabie alami.Sahabat-sahabat Nabi itu memandang dunia sebagai Rasulullah memandang dunia dengan rendahnya dan siap menghadap akhirat semata-mata karena Allah. Karena ringan dan murahnya nilai dunia ini, maka mudah saja dijijak dan diperbudak sampai mereka menguasai dunia ini dan dengan dunia yang diperbudak itu mereka membeli dan berhasil memenangkan akhirat. Maka menguasai dunia untuk dijadikan tunggangan ke akhirat. Sekali-kali tidak ada kesempatan diberikan kepada dunia itu menaklukkan mereka atau mengatasi mereka. Karena itu mereka berhasil di dunia dan di akhirat yaitu terus menang dlam jihad mereka.Abu Bakar, saat beribadah karena takut kepada Allah sampai bernyawa seperti jantung terbakar. Ia membaca Al-Qur'an sepanjang malam; termakan makanan syubhat termuntah-muntah. Dalam satu peperangan Abu Bakar menyerahkan semua harta kekayaannya kepada Rasulullah karena memenuhi seruan jihad. Inilah jiwa tasauf yang terpancar pada Abu Bakar Al-Shiddiq.Omar putra Khathab yang menghancurkan Kekaisaran Rum dan Persia, menguasai timur dan barat yang beradab zaman itu penuh dengan kekayaan harta dan perbendaharaan; ia sering makan tidak berlauk, bajunya bertampal 12 tampal, lambat satu hari ke masjid sampai tertunggu-tunggu jamaah yang hendak beriman akan dia. Bertanya sahabatnya; "Mengapa lambat ya Amirul Mukminin?" Sahutnya; "Aku membasuh kain (dan tunggu sampai kering) tak ada kain lain". Inilah ruh Tasauf yang menjelma melalui Omar putra Khathab.Sayyidina Ali bin Abi Thalib lebih lagi dari Sayyidina Oma waraknya. Suatu hari dengan penatnya dia keluar mencari upah tetapi tidak berhasil. Kapan balik didapatinya tersedia tiga biji kurma. Oleh kerabna sudah sehari suntuk tidak makan, tetapi bila ia ingin menyuap kurma yang ada di rumah itu teringat ia tidak tahu kurma siapa? sampai istrinya Fatimah menjelaskan itu memang disimpankan untuknya. Baru ia hendak menyuap, tiba-tiba terdengar oorang memberi salam dan berkata; "Saya orang miskin kelaparan. Karena Allah .. Ya Ali!!! Berilah saya makanan". Tidak jadi ia menyuap makanan itu lalu diberikan kepada si miskin itu.Kapan akan menyuap yang kedua terdengar lagi satu salam dan menyerukan; "Ya Ali .... saya anak yatim. Karena Allah berilah saya makan karena sangat lapar". Tidak jadi dimakannya kurma yang kedua itu lalu diberikan kurma itu.Baru hendak menyuap yang ketiga, datang pula seorang pria. "Ya Ali ... saya seorang yang merana. Karena Allah berilah saya makan". Tamar yang akhir itu terus diberianya, tinggallah ia dengan kelaparan demi karena Allah.Pada hari wafatnya puluhan janda meraung menangis sampai gempar dan heran orang melihatnya. Bila ditanya kepada janda-janda itu?, Jawab mereka:"Tumbanglah harapan kami, putuslah ketergantungan kami, karena selama ini Ali lah yang menanggung dan menghidupi kehidupan kami" Tegasnya dalam sulit, tidak dengan tahu siapa Ali menolong janda-janda itu, Ali miskin karena kesenangan orang lain. Inilah kemurniaan Tasauf yang bergemilapan pada pribadi Imam Ali bin Abi Thalib.Abu Ubaidah bin Jarah, pahlawan Islam, pembuka dunia baru mengembangkan Islam, jadi Raja (Amir) di Syam negeri yang mewah makmur dengan kekayaan. Sementara Umar mengunjungi Syam dan bila masuk ke istana tidak terlihat apa-apa benda kecuali sebuah pinggang dan sehelai tikar. Umar pun menangis karena kasihan dan sedihkan nasib Abu Ubaidah yang menderita dalam negeri yang mewah. Mengingat hal itu, Abu Ubaidah berkata;"Ya Amirul Mukminin, apakah tuan menangiskan nasib saya sedangkan saya telah menjaulkan dunia saya untuk membeli akhirat".Generasi berikutnya terus mewarisi pesaka keluhuran budi dan ketinggian ubudiyah ini denganMelazimi dan mengekali wirid harian untuk mendapatkan Warid,Imam Ali bin Hussin ra shalat sunat sebanyak 1.000 rekaat sehari semalam.Aulia Allah Daud Al-Thoni tidak mengunyah makanannya tetapii direndamnya dalam air dan menelannya. Ketika ditanya kenapa ia berbuat begitu, ia menjawab, untuk menghemat waktu karena waktu itu saya gunakan membaca al-Qur'an.Sheikh Junaid Al-Bagdadi menegaskan: "Apa yang aku dapat dalam bidang kerohanian adalah melalui tiga hal: Pertama - menjauhkan dunia; Kedua - puasa; Ketiga - berjaga sepanjang malam.Beliau berkata lagi kesufian itu adalah lari dari dunia menuju Allah dan berada selalu dalam ibadah, carilah kesufian itu dalam diri sendiriSejarah Wali Allah Abu Hassan al-Khorkhoni mencatat selama 30 tahun dia tidak tidur malam.Mansur bin 'Amar mengatakan; Kebersihan hati dicapai dengan empat latihan: bercampur dengan Aulia Allah, mengaji al-Qur'an, shalat di malam hari, mengeluarkan air mata pada waktu shalat.Imamiyah Tasauf Sheikh Junaid Al-Baghdadi, pada waktu menjelaskan tujuan Shufi, mengatakan, "Kami tidak mengambil Tasawwuf ini difikiran dan pendapat orang, tetapi kami ambil dari dari menahan lapar dan menahan kecintaan kepada dunia, meninggalkan kebiasaan kami sehari-hari mengikuti segala yang diperintahkan dan meninggalkan segala yang dilarang. "Jelasnya dan nyata sekali kini, bahwa Ilmu Tasauf ini bukanlah semata-mata ilmu yang hanya bermain-main dengan kata-kata hakikat atau makrifat yang menjadi topik pembicaraan di kedai-kedai kopi dengan meremeh-remeh dan pelecehan terhadap syariat. Ini adalah sesuatu yang "besar" atas jangkaun pikiran. Hayatilah catatan pengalaman Hujjatul Islam Imam Ghazali ini yang tercatat dalam Kitabnya Minhajul 'Abidin sebagai satu rumusan tentang Tasauf iniKetahuilah ..... Hal ibadah telah cukup kami pikirkan, telah pula kami teliti jalannya dari awal sampai tujuan akhirnya yang diidam-idamkan oleh para penempuhnya (abid / salik / ilmuwan). Ternyata suatu jalan yang sangat sulit, banyak tanjakan-tanjakannya (pendakiannya), sangat payah dan jauh perjalanannya, besar bahayanya dan tidak sedikit pula hambatannya dan rintangannya, samar di mana tempat celaka dan akan binasa, banyak lawan dan penyamunnya, sedikit teman dan penolongnya.Bayangan salah satu tempat celaka dan binasa ini bisa diambil iktibar dari kisah Sultanul Aulia Sheikh Abdul Qadir Jailani yang pada satu waktu di dalam hutan tanpa makanan dan minuman beberapa lama. Tiba-tiba datang awan, lalu turun hujan. Dapatlah Sheikh itu menghilangkan dahaganya. Dengan tdak semena-mena datang satu lembaga yang bersinar tidak jauh dari situ dan lembaga itu berkata, "Aku ini Tuhanmu. Sekarang ini aku halalkan segala yang haram untuk kamu". Mendengar itu Sheikh Abdul Qadir pun membaca; "A 'uzubillahi minassyathonir rajim". Lembaga itu berubah jadi publik lalu berkata, "Dengan ilmumu dan rahmat Allah kamu telah selamat dari tipu helahku" Kemudian setan itu bertanya kepada beliau bagaimana dia bisa mengenal setan itu dengan segera. Jawab Sheikh Abdul Qadir, bahwa ketika setan itu mengatakan ia menghalalkan yang haram, maka dengan segera ia tahu bahwa bukan datang dari Allah Taala karena Allah tidak menghalalkan segala yang haram.

Enhanced by Zemanta
Post a Comment