Sunday, October 21, 2012

BERTAUHID

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

BERTAUHID


 [1]
“Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat Allah bagi kaum yang memikirkan[1]”.


Allah menciptakan makluk dimuka bumi dengan beraneka ragam, masing-masing makluk diciptakan dengan berpasang-pasangan. Tidaklah ada kekuatan apapun yang bisa merubahnya.


Apabila Allah berkuasa menciptakan buah-buahan yang berpasang-pasangan, maka Allah jualah yang berkuasa menciptakan manusia itu mukmin atau manusia itu kafir, manusia itu baik atau manusia itu buruk. Dan Allah berkuasa atas perubahan yang ada di hati manusia untuk menjadikannya terang (mukmin) setelah gelap (kafir), dan menjadikannya gelap setelah terang. Tidak ada sedikitpun yang luput atas kehendak Nya.
 [1] QS. Ar Ra’d: 3.

[2]

Wahai anaku (Nurun Ala Nurin), tirulah Nabi Ibrahim! "Inna ibraahiima lahaliimun awwaahun muniibun - sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba dan suka kembali kepada Allah[1].


Kembali kepada Allah dengan jalan memahami bahwa tidak ada segala sesuatu; baik Af’al-Asma-Sifat-Dzat dari langit, bumi dan segala makluk yang ada diantara keduanya kecuali Af’al-Asma-Sifat-Dzat Allah.
[1] QS. Huud: 75.

[3]

Ketika Nabi Ibrahim dilempar ke dalam api oleh Namrud. Datanglah Jibril menawarkan pertolongannya pada Ibrahim. Ibrahim menolaknya, dan berkata “Hasbunallaahu wa ni'mal wakiil[1], ni'mal maula wani'mannasir[2]”.


Kata Ibrahim, “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong”.


Tidak ada penolong seorang dalam kesulitan kecuali Allah dengan berbagai macam perantara, maka janganlah engkau sekali-kali beranggapan bahwa perantara tersebut yang memberi pertolongan. Walaupun perantara itu adalah Jibril sekalipun.
[1] QS. Al ‘Imraan: 173.
[2] QS. Al Anfaal: 40.

[4]

Kalimat Syahadat “Lailahailallah”, pengertian Syariatnya "Tiada Tuhan melainkan Allah", Tharekatnya "Tiada Yang Nyata melainkan Allah, Hakikatnya "Tiada Yang Berhak ada melainkan Allah", Ma'rifat pengertiannya "Tiada Yang Berwujud kecuali Allah".


Dan Syahadat Syariat tempatnya di akal, Syahadat   Tharekat tempatnya di hati, Syahadat Hakikat tempatnya di ruh, Syahadat Ma’rifat tempatnya di rasa.

[5]

Seorang penyair[1] berdoa untuk menjadikan Allah sebagai pemimpin dalam hidupnya, “Tuhan-ku, jikapun tanganMu terlalu suci sehingga jijik untuk berurusan dengan segala yang kotor dalam kehidupan hambaMu, mohon Engkau berkorban sekali ini saja, sentuhlah kepala-ku, pegang ia dan cabut dari ku, ku usulkan langsung saja Kau buang kepala-ku, lalu dirikanlah kerajaanMu dan dan Engkau sajalah yang mulai sekarang bertindak sebagai kepala-ku. Amin”.
[1] Emha Ainun Nadjib.

[6]

Apakah manusia tidak berpikir bahwasannya Tuhan Maha Tunggal. Untuk menunjukkan benar ketunggalanNya, maka Ia menciptakan makluk yang plural[1]. Jadilah manusia berbangsa-bangsa, bersuku-suku[2], berlainan bahasa dan wana kulit[3], berbagai budaya, termasuk diantaranya   berbagai agama (berbagai jalan)[4].


Sesungguhnya Allah hendak menguji mereka terhadap pemberianNya, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah lah kembali mereka semuanya, lalu diberitahukan Nya kepada mereka apa yang telah mereka perselisihkan.
[1] Sekiranya Allah menghendaki, niscaya mereka dijadikanNya satu umat saja.
[2] QS. Al Hujuraat: 13.
[3] QS. Ar Ruum: 22.
[4] QS.Al Maa’idah: 48.

[7]

Hubbuka lisy-syai yuuma va yusim[1]”. Artinya, “Kecintaanmu pada sesuatu selain Allah akan membutakanmu dan menulikanmu dari pada Nya”.
[1] Al Hadist.

[8]

Setinggi apapun keimanan seorang, kalau ia belum mau berserah diri, maka orang tersebut belum dapat dikatakan Islam. Demikian juga sedalam apapun keberserahdirian seorang, kalau ia tidak tau Tuhannya, maka orang tersebut belum dapat dikatakan Ihsan.

[9]

Setiap hari  adalah hari Ju'mat. Setiap malam adalah malam Bulan Purnama. Setiap malam adalah malam Lailatul Qadar. Setiap malam adalah malam Isra’ Mi’raj.


Setiap saat adalah waktu kebangkitan. Yaitu hari ketika mereka keluar dari kubur, tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. Lalu Allah berfirman, “Kepunyaan siapakah kerajaan padahari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan[1]”.


Apabila manusia merasa hatinya menyatu dengan Allah, maka kapanpun dan dimanapun ia berada, sesunguhnya ia di hari Jumat, yaitu hari bersatu.


Apabila manusia merasa hatinya melihat Allah dengan tidak ada keraguan sedikitpun, maka ia laksana melihat bulan purnama sehingga malam menjadi terang benderang karenanya.


Apabila manusia mampu membersihkan hatinya hingga benar-benar senyap dari segala macam keramaian, maka bersiaplah Allah akan menurunkan cahayaNya (petunjuk Al-Qur’an) dengan diiringi para malaikat. Karena sesungguhnya hati yang diberi petunjuk oleh Nya akan lebih baik dari pada seribu hati, bahkan lebih baik dari pada sejuta hatipun yang tanpa petunjukNya.


Apabila dalam kesunyian hatinya manusia selalu menghadap kepada Tuhan Nya, maka sesebarnya ia mi’raj diatas langit ke-tujuh, dan telah bertemu langsung dengan RabNya.


Apabila hati manusia dibangkitkan, maka sesungguhnya ia ditanya, "Limani almulku alyawma lillaahi alwaahidi alqahhaari - Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan"[1].
[1] QS. Al Mu'min: 16.

[10]

Seekor anjing apabila dilempar seketul batu, lantas anjing menyalak-nyalak menyalahkan batu yang menyakiti tubuhnya, bukan kepada si pelontar batu. Itulah yang dinamakan mentalitas anjing[1], tidak jauh bedanya dengan seorang apabila merasa dirinya disakiti, lantas marah dan menyalahkan orang yang menyakitinya. Padahal Allah mengatakan bahwa Ia yang menciptakan manusia dan apa-apa yang dikerjakannya[2].
[1] Keterangan Imam Ghozali.
[2] QS Ash Shaaffaat: 96.

[11]

Terdapat lima kedekatan Allah terhadap manusia yang dijelaskan Al-Quran. Yaitu; “Mukhit” (meliputi), “Ma’a” (bersama),  “Qarib” (dekat), “Indallah” (disisi Allah), dan “Muslimuun” (berserah diri).


Pertama. Kedakatan Allah berlaku untuk semua (“Mukhit”-meliputi), Allah yang tunggal meliputi segala sesuatu, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langait, baik yang terdhohir maupun yang bathin, baik yang di dunia maupun di akhirat, baik orang mukmin atau orang kafir, baik di surga maupun di neraka. Semuanya alam semesta beserta isinya diliputi oleh Allah tanpa kecuali. 


”Kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan apa yang di bumi, dan adalah Allah Maha Meliputi segala sesuatu[1]”.


Bahkan Allah juga meliputi orang-orang kafir. ”Atau seperti orang-orang yang ditimpa hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat, mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena mendengar suara petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir[2]”.


Kedua. Kedekatan dengan kata ”Ma’a” (bersama) bersifat lebih khusus dibandingkan dengan ”Mukhit”. Misalnya ”Innaallah ma’ash shabirin” (sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar). Dalam ayat tersebut seolah Allah ingin menegaskan bahwa Dia memberikan perhatian atau pembelaan yang khusus bagi orang yang sabar.


”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar[3]”.


Ketiga. Kedekatan yang lebih tinggi lagi adalah “Qarib” (bersama). Kata ini lebih menekankan pada kedekatan secara emosional agar manusia berusaha lebih dekat lagi kepada Allah.


” Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah, bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran[4]”.

Allah menggunakan kata ”Qarib” secara khusus kepada  Isa AS sebagai hambanya yang dekat di dunia dan akherat[5].


Keempat. Tingkat yang lebih tinggi dari ”Qarib” yang digambarkan Al-Qur’an terhadap kedekatan dengan Allah adalah ”Indallah” (disisinya). Tingkat kedekatan ini diberikan bagi mereka yang mati syahid di jalan Allah.


”Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rejeki[6]”.


Kelima. Kedekatan yang paling dekat kepada Allah, atau tingkat yang paling tinggi kedekatan seseorang terhadap Allah adalah ”Muslimuun” (berserah diri). Kedekatan inilah yang seharusnya dicapai oleh orang-orang yang Bertakwa.

”Dan kamu sekali-kali tidak dapat memalingkan orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan seorangpun mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri[7]”.
[1] An Nisa’: 126.
[2] Al Baqarah: 19.
[3] QS. Al Baqarah: 153. Kata ”Ma’a” juga terdapat di QS. Al Hadiid: 4, QS. Al Anfaal: 46,  QS. An Nahl: 128, QS. At Taubah: 40, QS. A Taubah: 36.
[4] QS. Al Baqarah: 186, Kata “Qarib” juga terdapat di QS. Qaaf: 16, QS. Huud: 61, QS. Al Muthaffifiin: 28.
[5] QS. Ali ’Imran: 45.
[6] QS. Ali ’Imran, 169, QS. Ashaad: 40, QS. Al Anfaal: 4.
[7] QS. An Naml: 81, kata ”Muslimuun” juga terdapat di QS. Az Zumar: 12, QS. An Nahl: 89, QS. Az Zumar: 38.

[12]

Jangan bersedih apabila mereka menolak walaupun telah diingatkan kepada mereka dengan tanda-tanda yang nyata[1] agar beriman dan bertauhid kepada Allah. Karena tidaklah mereka akan beriman dan bertauhid kecuali Allah sendiri yang meghendaki.
[1] Walaupun sekiranya Allah turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Allah kumpulkan pula segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak juga akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui [QS. Al An’aam: 111].

[13]

Janganlah engkau mempunyai pemikiran yang hiperbolik dan penyalagunaan kewenangan Tuhan, seperti yang diungkapkan seorang penyair[1]:



Tuhan sudah sangat populer, namanya dihapal di luar kepala, sehingga amat jarang orang yang sungguh-sungguh mengingatNya.



Tuhan sudah sangat populer, seperti matahari yang tak pernah tak bercahaya, sehingga kadang-kadang saja orang menyadari keberadaan dan peranNya.



Tuhan sudah sangat popular, terkadang orang berfikir Tuhan adalah pegawai. Disuruh mengabulkan doa-doa pamrih pribadi, yang diucapkan dengan mulut si penagih janji.



Tuhan sangat populer, sehingga Tuhan diberhalakan, digambarkan dengan gagasan-gagasan. Kalau orang lain membuat gagasan Tuhan yang berlainan, mereka bertengkar dan saling mengkafirkan.



Tuhan sudah sangat populer, sudah dijadikan komuditas yang amat sekuler, diiklankan dengan indahnya, disebut dan dimanfaatkan dimana-mana.


Tuhan sudah sangat populer, Tuhan dijadikan suku cadang untuk membuat senjata, dibubuhkan namaNya di surat-surat keputusan.
[1] Ehma Ainun Nadjib.

[14]

Malamkan hati, sucikan hati, sepikan hingga benar-benar senyap. Didalam hati yang suci, didalam hati yang senyap cahaya Allah dan para malaikat akan turun. Hati menjadi khusuk dibawah lindungan cahaya kebesaranNya.



Ketenangan hati adalah surga yang dijanjikan. Kesucian hati adalah kerajaan Allah.



Malamkan hati, ganjilkan hati, hingga Allah sajalah yang menggenapi. Gembalakanlah hatimu menuju cahaya Allah.



Seluruh penghuni surga menyambut dan mengucap salam.



Ayat-ayat suci akan diwahyukan. Ayat-ayat Nya adalah cahaya kebangkitan.



Malamkan hati, ganjilkan hati, hingga cahaya Allah yang melengkapi. Petunjuk kebenaran membimbing pada cahaya sejati. Memancar dari hati yang bersih.

[15]

Lailaha” itu cukup urusan mulut sampai ujung lidah, tapi “ilallah” membutuhkan kebersihan hati sampai ke pangkal ruh.

[16]

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya setengah dari pada ilmu itu sangat rahasia seperti keadaan sesuatu yang tersembunyi, tidak dapat diketahui ilmu yang sangat rahasia itu kecuali oleh Ulama Billah. Maka apabila mereka Ulama Billah menyebutkan ilmu rahasia itu, tidak akan mengingkarkannya kecuali oleh orang yang bukan ahli ilmu Billah”. Aku bertanya “Ilmu apakah itu ya Rasulullah?” Yaitu ilmu berma’rifat kepada Allah.


Abu Hurairah r.a berkata, “Aku peroleh dari Nabi Muhamaad saw dua macam dari pada ilmu. Maka, satu dari pada dua ilmu itu aku harus ceritakan. Adapun ilmu lain tiada aku harus ceritakan, jikalau aku ceritakan akan ilmu yang kedua niscaya dipotong leher-ku”. Aku bertanya “Ilmu apakah yang kedua itu, ya Abu Hurairah?”  Yaitu ilmu berma’rifat kepada Allah.


Ali Karramallahu Wajhah berkata, “Ya Tuhan-ku, mutiara sesuatu ilmu itu jikalau aku nyatakan dengan berterus terang niscaya akan dikatakan orang kepada aku;  Hai Ali, engkau adalah orang yang menyembah berhala. Dan sesungguhnya ada orang-orang Islam yang menghalalkan darah-ku. Mereka itu melihat bahwa perbuatan yang paling jahat yang mereka lakukan itu sebagai suatu perbuatan baik”. Aku bertanya, “Mutiara ilmu apakah itu, ya Ali?” yaitu ilmu berma’rifat kepada Allah.

[17]

Umat Yahudi menganaktuhankan Uzair, Umat Nasrani menuhankan Isa, maka engkau jangan mengulang perbuatan mereka dengan mengkultuskan Muhammad seolah ia sebagai Tuhan yang memiliki kekuatan. Pelajarilah tauhid agar engkau benar-benar berserah diri hanya kepada Allah[1].
[1] QS. At Taubah: 30. Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putera Allah" dan orang-orang Nasrani berkata: "Al Masih itu putera Allah". Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?

[18]

Tahukah engkau ada barang di dunia yang lebih baik dari tali tasbih? yaitu tali yang menghubungkan manusia dengan TuhanNya.



[19]

Jangan dikira khamar itu hanya arak, tapi semua yang memabukkan (memalingkan) hati dari pada adalah Allah khamar.



Harta-pangkat adalah khamar, anak-istri adalah khamar, langit-bumi adalah khamar, dunia-akhirat adalah khamar, dan sesungguhnya khamar yang paling berbahaya bagi bagi seorang muslim adalah surga dan neraka.

[20]

Sesungguhnya Tuhan engkau ialah Allah yang menciptakan langit bumi beserta isinya dalam enam masa (tahapan)[1].



Awalnya Ia adalah “Achadiyyah”, kemudian untuk mewujutan langit bumi beserta isinya melalui enam tahapan berikutnya, yaitu; “Wachdah”, “Wachidiyyah”, “‘Alamul Arwah”, “Alamul Mitsal ”, “‘Alamul Ajsam” dan “‘Alamul Insan”.

Kesemua tahapan ini disebut Martabat Tujuh[2].
[1] Al-Quran surat Al Furqaan: 59. Hal yang serupa juga disebut di QS. Al A’raaf: 54, QS. Yunus: 3, QS. Huud: 7, QS. As Sajdah: 4, QS. Qaaf: 38, QS. Al Hadiid: 4.
[2] Martabat Tujuh pertama kali diperkenalkan oleh Ahli Tasawuf dari Gujarat, Muhammad Ibn Fadhulla dalam kitab berjudul “At-Tuchfatul-Mursalah ila ruchin-nabi shallal-Lahu ‘alaihi wa salam” yang berarti “Untaian hadiah yang terkirim kepada jiwa Nabi Muhammad SAW”.

[21]

Tuhanku mengapa Engkau menciptakan alam semesta? Begini jawabMu “Kuntu kanzan makhfiyyan wa aradtu an `uraf fa khalaqta al-khalq fa bihi `arafuunii - Akulah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku ingin supaya dikenali, maka Aku jadikan alam semesta ini, agar mereka mengenal kepada Ku”.


Tuhan-ku siapakah sebenarnya aku dan siapakah sebanarnya Engkau? Begini jawab-Mu “Al insannu sirri wa anna sirruhu - Manusia itu rahsia-Ku dan Akulah yang menjadi rahasianya.”.



Lalu bagaimana aku mengenal engkau? Begini jawabMu “Man arafa nafsahu fakat arafa rabbahu - Barang siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya”.



Lantas apa lagi kalau aku sudah mengenal Engkau? “Diamlah!” kataMu.

[22]

Allah menciptakan langit-bumi seisinya serta semuanya atas kewenangannya sendiri. Tidaklah mungkin  Allah menciptakan langit-bumi seisinya serta semuanya karena suatu kewajiban.



Allah menciptakan langit-bumi seisinya serta semuanya, Allah tidak membutuhkan manfaat dari ciptaan tersebut[1]. Tidaklah mungkin Allah menciptakan langit-bumi seisinya serta semuanya, Allah membutuhkan manfaat dari ciptaan tersebut.



Allah menciptakan langit-bumi seisinya serta semuanya, dimana langit-bumi seisinya serta semuanya  tidak mempunyai daya sifat. Tidaklah mungkin  Allah menciptakan langit-bumi seisinya serta semuanya, dimana langit-bumi seisinya serta semuanya mempunyai daya sifat.



Allah menciptakan langit-bumi seisinya serta semuanya, dimana langit-bumi seisinya serta semuanya tidak mempunyai daya kuat. Tidaklah mungkin  Allah menciptakan langit-bumi seisinya serta semuanya, dimana langit-bumi seisinya serta semuanya mempunyai daya kuat.
[1] Al 'Ankabuut: 6, Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

[23]

Bagaimana engkau menganggap bahwa Dia tidak nyata adanya, bagaimana engkau bisa menyembunyikan sesuatu dari Dia, kalau Dia “wal awalu wal akhiru wa zahiru wal batinu, wa huwa bikul li saiin alim[1]”, Dia yang Awal dan Yang Akhir , Dia Yang Dhohir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
 [1] QS. Al Baqarah: 115.

[24]

Wallahu kholakum wa ma ta'malun[1]”. Ketahuilah Anak-ku bahwasannya Allah lah yang menciptakan engkau dan apa yang engkau perbuat.
 [1] QS. Ash Shaaffaat, 96.

[25]

Hijrah terbesar tidak lain adalah perpindahan keyakinan hati dari Ilman Yaqin, ‘Ainul Yaqin, Haqqul Yaqin dan Akmalul Yaqin untuk mengetahui bahwa tidak ada perbuatan yang bertebaran di alam ini, kecuali perbuatan Allah, tidak ada nama yang melekat pada suatu apapun, melainkan nama Allah, tidak ada sifat yang mewarnai diri, kecuali sifat Allah, tidak ada zat yang meliputi makluk, kecuali Zat Allah.

[26]

Ya Tuhan, apabila surga menghalangiku untuk bertemu dengan-Mu. Coretlah namaku dari daftar calon penghuninya, tutup rapat-rapat pintunya atas diriku, agar aku tidak sekali-kali bisa masuk kedalamnya. Kalaupun itu belum cukup untuk bermukasyafah denganMu, sebelum neraka harus ku diami. Panaskan suhu nerakaMu, asalkan semakin terang musyahadah ku atas Mu.

[27]

Wahai Tuhan tambatkan hati kami, agar kami tidak menempuh dunia, agar kami tidak berburu akhirat. Apa yang kami inginkan hanyalah menatap ridhaMu sampai kami tiba dilarut hari kami. “Illahi anta maksudi waridhaka matlubi”, Diri-Mu lah yang kami tuju, ridhoMu lah yang kami minta.

[28]

Katakanlah “Laa tak budu rabbana lam yarah”, artinya “Aku tidak akan menyembah Allah bila aku tidak melihatnya terlebih dahulu”.



Katakanlah “Layasul shalat illa bin ma’rifat, artinya “Tidak sah shalat tanpa mengenal Allah”.



Ketahuilah bahwa “Barang siapa mengenal dirinya dia akan mengenal Tuhannya”,   dikatakan; “Man arafa nafsahu fakat arafa rabbahu”.

Allah mengatakan “Manusia itu rahasia-ku dan akulah rahasianya”,  “Al insannu sirri wa anna sirruhu”.

Allah juga mengatakan; “Wafi amfusikum afala tubsiruun”, artinya “Aku ada didalam jiwamu mengapa engkau tidak melihat”.



Allah mengatakan “Kuntu kanzan makhfiyyan wa aradtu an `uraf fa khalaqta al-khalq fa bihi `arafuunii “, artinya “Akulah harta tersembunyi dan Aku ingin dikenal sehingga Aku menciptakan makhluk agar mengenal Ku”.

Ketahuilah bahwa “Awaludin ma’rifatullah”, artinya  “Awal agama adalah mengenal Allah”.

[29]

Bagaimana engkau bisa ragu-ragu tentang Dzat Allah? Padahal  Dialah yang Awal dan Yang Akhir, “Wal awalu wal akhiru”. Dialah Yang Dhahir dan Yang Bathin, “Wa zahiru wal batinu”. “Wa huwa bikul li saiin alim”,



Bagaimana engkau bisa membatasi bahwa Allah hanya mengetahui bumi diwaktu siang? Padahal Dialah yang Maha Mengetahui segala sesuatu[1].



Bagaimana engkau bisa membatasi bahwa Allah hanya menguasai perihal kebajikan[2]? Padahal Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu[3].
[1] QS. Al Hadiid: 3.
[2] Semua kebjikan dan kejelekan, semua petunjuk dan kesesatan, Allah lah yang berkuasa atasnya. Kalaupun dikatakan bahwa kejelekan atau kesesatan datangnya dari manusia atau jin, hal itu adalah tahapan untuk menuju pada pemahaman bahwa semua dari Allah.
[3] Al Hadiid: 2.

[30]

Sesungguhnya tidak dihidupkan segala sesuatu kecuali segala sesuatu berasal dari yang yang hidup pula. Tanah, gunung, bumi, laut, udara, api itu hidup[1], sehingga dari padanya ditumbuhkanlah berbagai kehidupan.
[1] Hidup karena diberi kehidupan oleh Allah.

[31]

Engkau  pasti bertanya, dari bahan apakah alam semesta ini diciptakan? Maka ketahuilah bahwa alam semesta ini dicitakan dari Dzat Allah.


Engkau juga bertanya, sejak kapan adanya alam semesta? Maka ketahuilah bahwa alam semesta tanpa permulaan dan tanpa akhir.


Apabila ciptaan dianggap materi (diwujudkan), maka semua wujud (ciptaan) tidak bisa dibuat dan tidak bisa dimusnakan[1], yang bisa adalah berubah bentuk dari materi ke materi, materi ke energi, energi ke materi, energi ke energi. Kalau ciptaan aja demikian apalagi Dia yang menciptakan.


“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Dhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu[2]”.
[1] Dalam fisika disebut Hukum Lomonosov Lavoisier-Hukum Kekekalan Masa. Hal ini senada dengan pandangan kaum Wujudiyah yang beranggapan bahwa keberadaan alam semesta ini berasal dari sesuatu yang ada, disebut Pre-Exist. Berlawanan  dengan pandangan yang lain bahwa keberadaan alam semesta ini dari tidak ada, disebut Creatio ex Nihilo.
[2] QS. Al Hadiid: 3.

[32]

Banyak orang yang muak kepada berhala sambil mendekap berhala[1] yang lebih berhala. Dan tidak sedikit orang berjuang melawan berhala sambil menawarkan dirinya untuk diberhalakan.



Dalam ketakutan akan berhala, bertumbulah berhala-berhala. Karena pengetahuan tentang berhalapun bisa menjadi berhala.



Hati-hati lah dengan berhala yang bukan berhala, karena tak berjarak dengan kesadaran manusia, menyatu dengan siang-malam, menafasi bagai udara.
[1] Semua selain Allah apabila dianggap mempumyai kekuatan dan menjadi sandaran, tak terkecuali Diri pribadi, Rasulullah Muhammad,  Malaikat Jibril, wali dan auliya’, Al-Quran, surga, seluruh alam adalah berhala.

[33]

Allah tidak menyuruh menyembelih anak Ibrahim[1], Allah tidak pernah memerintahkan mengkurbankan sosok Ismail, karena Allah bukan Tuhan sadisme, bukan tuhan kekerasan. Sosok berhala di hati Ibrahim-lah yang harus disembelih agar cintanya pada Allah tidak tersaingi oleh bentuk apapun, termasuk tersaingi oleh cintanya pada Ismail.
[1] QS. Ash Shaaffaat: 102.

[34]

Kalau Tuhan menumbuhkan dari air hujan berjenis-jenis tanaman dan buah-buahan beraneka rasa di bumi, apalagi menciptakan manusia di bumi yang sama. Pastilah berlainan budaya, bahasa, warna kulit, agama dan keimanan.



[35]

Jangankan manusia lain, Rasulullah Muhammad sendiripun pada waktu awal menyampaikan agama (tauhid) banyak yang mencomoh dan mengatakan bahwa Rasulullah  itu gila, stress, kesurupan. Barulah setelah ia mengajarkan hukum (syariat), sehingga Islam banyak pemeluknya sampai sekarang ini.
Enhanced by Zemanta
Post a Comment