Saturday, October 6, 2012

Waktu waktu “mengerjakan” shalat.

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Menjawab perbedaan yang ada bagi kaum yang melandaskan keimanannya pada Al-Qur’an.

Secara nyata, memang ada beberapa dari orang yang hanya melandaskan keimanannya pada apa apa yang Allah turunkan-Al-Qur’an, menemukan waktu Shalat yang berbeda-beda,  ada yang shalat dua waktu, tiga waktu dan ada yang shalat lima waktu, yang menjadi akar  pertanyaannya manakah yang paling benar diantara ini? Setelah cukup lama mencari jawaban tentang hal ini akhirnya saya menyadari akan kemuliaan  Al-Qur’an itu sendiri, bahwa esensi dari kata kerja yang mengikuti kata “serah diri”  itu mutlak untuk setiap insan  untuk menjalankannya menurut apa yang didapatkan dari pikirannya. Selayaknya setiap insan akan mempertanggungjawabkan perbuatannya nanti di hari penghisaban. Apapun yang diterima oleh akal dan pikiran manusia selama didasari dgn kitab yang menerangi( baca:Al-Qur’an), insya Allah tidak akan salah. Jawaban ini pun mengkikis habis  pemahaman bahwa Al-Qur’an tanpa hadist adalah sebuah kitab yang membingungkan dan kadang menyesatkan. Penerapan dua waktu, tiga waktu, atau lima waktu  yang berkaitan dgn proses ibadah ini adalah mutlak apa yang diterima dan didapatkan dari memahami Kitabullah. Jadi kebenaran dalam hal ini memang sudah sepantasnya ditaruh pada tempat yang seharusnya yaitu relatif jika dalam kapasitas manusia untuk menetapkannya.

ini penting untuk diingat jadi tidak ada manusia yang berhak mengkafirkan seseorang. ini salah satu essensi ajaran Al-Qur'an. kecuali orang orang yang tidak memegang teguh kitab Allah dan tidak mengimani apa apa yang Allah turunkan maka orang tersebut telah dicap kafir oleh Allah.


Waktu untuk “mengerjakan” sembahyang pun sebanyak 5 waktu jelas diperinci di dalam Al-Qur’an.

Shalat Fajr:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum balig diantara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari) yaitu: sebelum shalat Fajr, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)mu di tengah hari dan sesudah sesudah shalat Isya'.(Itulah) tiga 'aurat bagi kamu.Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu.Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain).Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu.Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. 24 An-Nuur:58)

Diayat ini secara jelas  teridentifikasi penyebutan waktu “sholat” yang diikuti dgn kata Fajr-dalam kata kata “sebelum shalat Fajr”.
Beberapa hal menarik yang tersirat sekaligus pendukung bahwa adanya sholat Fajr ini bisa ditemukan di ayat ayat lain, contoh ayat dibawah adalah pengidentifikasian Shalat dalam bentuk kata kerja yang lain, yang saya akan bahas kebih lanjut di waktu sholat Zuhr. Yang ingin saya tekankan adalah  jika seseorang  yang mengimani 2 waktu sholat bisa melihat ayat ini sebagai dalil untuk shalat Fajr , maka kita harus membuka pandangan tentang waktu shalat lainnya, dgn proses identifikasi yang sama, selama menyadari bahwa yang satu merupakan bagian dari satu keutuhan yang sempurna.

Dan bertasbihlah padaNya pada beberapa saat di malam hari dan diwaktu terbenam bintang bintang (di waktu Fajr).(QS.52’Ath-Thuur:49)

Shalat siang Zuhr dan Asr

Untuk sesama pemegang teguh kitab Allah, tolong dimengerti dulu reasoning saya yang ada pada article shalat saya di web A-S..:) silahkan refer ke sana dulu

Sebelum melangkah lebih jauh, perlu diingat, mengingat makna kata shalat yang sangat luas, yang tidak hanya terbatas pada proses ritual fisik dan waktu, maka bukan berarti  hanya karena tidak disebutkan secara tegas- yang mengikuti kata shalat maka kita bisa ambil kesimpulan bahwa shalat Zuhr dan Asr ini tidak ada. Kuncinya adalah memaknai arti kata shalat itu sendiri.

Dalil satu:

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan  subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (QS 17’Al Isra’:78)
Lihat baik baik ayat diatas diperintahkan untuk menjalani shalat dari ssat matahari mencapai titik puncak, yang kemudian sampai gelap malam, apakah menandakan waktu yang tidak berhenti sejak saat Zuhr samapi Isya? Lihat baik baik Allah lebih menspesifikasikan bahwa setalah waktu matahari tergelincir, kerjakanlah shalat pada kedua tepi siang (Zuhr dan Asr), untuk masalah kata sampai gelap malam pun dibagi lagi dalam ayat dibawah, Allah lebih mendetailkan lagi yaitu sampai pada waktu permulaan malam (magrib),

Dalil Dua:

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang  dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.
(Qs 11’Hud :114)



Dalil tiga :

Pendalilan waktu shalat Zuhr dan Asr kali ini  dgn ayat lain adalah cukup menarik, karena berkaitan dgn makna kata shalat itu sendiri – yang sangat luas. Sedikit kata ini mengandung  pembahasan sangat dalam yang akan menjelaskan apa arti kata “sholat”,”muslim” dan “islam” dalam skala yang menurut saya jauh lebih benar  dari pada pengertian mengerjakan salah satu ibadah  yang sedang dibahas disini. 

Tanpa maksud untuk memperpanjang artikle ini saya hanya punya satu pertanyaan yang jawabannya terpulang  pada individu dalam memahami arti kata shalat yang sebenarnya. Sebuah pertanyaan yang terlihat ringkas dan mudah

“Apakah waktu kita sholat dan menyeru Alla Hu Kaber atau Allah Hu Akbar atau ketika sedang membaca Alhamdulilah atau sedang membaca ayat ayat Qur’an dalam sholat bisa diidentifikasikan sebagai perbuatan “memuji” “bertasbih” dan “Zikr”? Apakah pada waktu “memuji” ini kita “muslim” dan “islam”? Apakah pada waktu ” bertasbih” kita mengingat Allah? Apakah pada waktu “Zikr” kita tunduk akan kebesaran Allah? diatas itu semua  apakah pada waktu zikr, bertasbih, memuji tidak bisa dikategorikan sebagai bentuk kontak dgn Allah?”

Yang patut diingat dari jawaban apapun yang anda yakini bahwa “memuji” adalah bagian dari “shalat” tapi “shalat” itu bukan hanya “memuji” begitupun dgn “bertasbih dan “zikr”.Semua itu dalam kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, inilah makna mendirikan shalat dilihat dari satu sisi.

Mari kita lihat poros tengah dari permasalahan yang ada dgn menyimak firman Allah

dan bagi-Nyalah segala puji di langit dan di bumi dan di waktu kamu berada pada petang hari dan di waktu kamu berada di waktu zuhur. (QS. 30:18).

Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, (QS. 24:36)

Mengenai Albaqarah ayat 238

Kata Kata yang ditemui dalam ayat 238 dalam surah Al-Baqarah, “Al-Wustha” pun bisa dijadikan dalil, tentunya ini sangat tergantung dari mana anda melihatnya. Hanya saja kata kata “Al-Wutsa” ini sendiri mengandung universal pemahaman (mencakup segala aspek dari ibadah) jadi saya lebih condong untuk mendalilkan shalat Asr dgn ayat sebelum ini seperti yang sudah saya berikan diatas.

Sedikit pemahaman pribadi saya tentang wutsa dalam Albaqarah ayat 238

Peliharalah salawat , dan shalat wusta , dan berdirilah kamu patuh kepada Allah.
( QS 2’Al-Baqarah :238).

Sejauh saya memahami disini terlihat kata jamak ”As-Salawaati” dikuti dgn bentuk tunggal ”As-salat”. Jadi rangkaian Shalat ( jamak ) yaitu Fajr, Zuhr, Magrib, Isya  dan  As Salaat ( bentuk tunggal ) Wusthaa atau Asr ( middle, ballance )

Kerap kali perdebatan yang ada secara terurat diantara sinomyn yang ditemukan antara “tengah” dan “keseimbangan” ( middle and balance ). Sementara saya memahami dua kata tersebut tidak ada pertentangan antara yang satu dan keduanya. Saya memahami “tengah” yang kemudian menjadi “menyeimbangkan”. Dan keadaan ini sangat mungkin terjadi ketika “tengah” bisa jadi “menyeimbangkan” dua sisi.

Shalat Malam Magrib dan Isya

Akhirnya, sampai juga ke bagian favorit (dimana saya tidak perlu banyak menjelaskan tentang pendalilan shalat Magrib dan Isya’) Seperti juga telah dibahas diatas beberapa dalil diatas, bisa digunakan.
Shalat Magrib terlihat jelas pembagian waktunya dalam Hud:114,  sementara penyebutan waktu shalat Isya terlihat juga di Al-Isra:78 dan Ath-Thuur:49.


Sejauh ini Al-Qur’an dengan segala kemuliaannya telah menjelaskan tata cara shalat secara terperinci, waktu mengerjakan sembahyang, jumlah rakaat shalat, apa lagi yang akan kalian ingkarkan setelah keterangan ini wahai para kaki tangan iblis pengingkar kitabullah? Akankah kalian akan menanyakan selayaknya golongan yahudi bertanya? Akankah kalian meragukan firman Allah tentang shalat dan segala aspeknya? Silahkan anda memesan tempat di neraka jahim jika setelah ini anda masih menayakan kemuliaan dan kebesaran Kalam Kalam Allah!

Menyimpang dari akar permasalahan, segenap kaum yang mengelarkan dirinya sebagai ahlul ini dan ahlul itu - ketika menyebarkan kebohongan  bahwa waktu dan cara mendirikan dan mengerjakan shalat tidak disebutkan jelas di dalam Al-Qur’an selayaknya lebih pantas disebut bahlul. Banyak sekali terdengar pendapat yang sering menyedihkan hati mengenai  shalat ini yang digunakan sebagi senjata di kitab lain itu. Pendapat pendapat tersebut kerap diikuti dengan kata kata yang seharusnya tidak keluar dari orang yang mendapatkan petunjuk. Dan pendapat tersebut tidak lain hanya didasari dengan persangkaan dan  keterbatasan ilmu akan arti kata shalat itu sendiri.

Sekarang setelah melakukan semua itu apakah bisa dikatakan kita telah mendirikan shalat? Tunggu dulu wahai kawan, mungkin anda sudah bisa mengerjakan shalat berdasarkan Al-Qur’an, tapi soal mendirikan adalah hal yang lebih luas daripada mengerjakan. Terus terang saya tidak berani untuk membahas makna mendirikan shalat, ini secara detail karena menyangkut segala aspek kehidupan dalam setiap waktu yang dibatasi oleh asma Allah. Awal dan Akhir. Secara  garis besar, saya hanya akan memberikan gambaran saja, untuk pemahamannya bisa berbeda beda tergantung dari cara berpikiran masing masing dalam hal pendirian shalat ini, dan bukan hak saya untuk mengkotakan pemikiran anda kepada apa apa yang saya alami dan pikirkan tentang apa yang telah terjadi di  kehidupan saya, karena setiap kejadian akan mempunyai beberapa makna dan arti, ini disebakan karena setiap manusia mengintrepetasikan pengalaman terhadap apa yang terjadi ini secara berlainan – tergantung kompleksitas pikiran dan lingkungan.  Kalau anda bertanya pada saya bagaimana saya mendirikan shalat, maka saya akan jawab Insya Allah shalat saya tidak terbatas waktu dan tempat, dan yang terpenting juga tidak terbatas gerakan fisik semata. Inilah essensi dari mendirikan shalat! yaitu setiap saat sadar akan kebesaran dan kemuliaan Allah sebagai Rab semesta Alam. Hanya dengan cara inilah makna shalat – dimana untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar bisa terwujud.

Saya tidak memerlukan masjid, sarung,  untuk mendirikan shalat karena masjid yang hakiki berada di dalam diri saya, masjid inilah yang senantiasa insya Allah diterangi oleh cahaya Al-Qur’an, masjid inilah tempat jiwa saya tunduk.
Untuk mendirikan shalat saya tidak perlu bersuci secara fisik, saya tidak perlu menunggu waktu waktu untuk mengerjakan shalat (5 waktu),  saya tidak perlu menghadap ke kiblat. Bahkan mungkin terkadang saya melakukan suatu kebaikan bagi orang banyak, bekerja untuk kebaikan keluarga, menganjurkan untuk keselamatan bersama, ketika saya mendirikan shalat.

Sekali lagi saya tekankan, bahwa

“bahwa  essensi dari mendirikan shalat itu secara garis besar adalah menjalani dan mengimani seluruh isi Al-Qur’an dalam setiap waktu dan aspek kehidupan yang dimulai dengan menyebut asma Allah dan diakhiri dengan SegalaPuji bagi Allah Rab semesta Alam”.


Setelah semua kenyataan ini, apakah anda masih bisa membantah tentang ke agungan Al-Qur’an yang menjelaskan sega sesuatu secara terperinci? Saya menganjurkan untuk kembali ke ajaran Allah dalam Al-Qur’an. Para nabi pun termasuk Nabi Muhammad hanya berpegang teguh pada apa apa yang Allah turunkan, lalu kenapa segenap dari kalian menambahkan tanda “+” di landasan keimanan anda?

Bagi para penginjil hadist iblis(kitab lain setelah Al-Qur’an) sudah sepantasnya kalian bertobat, dan meyakini ayat ayat Allah bahwa Al-Qur’an itu benar benar diturunkan dari Allah lewat perantara nya kepada Nabi Muhammad sebagai kitab yang menjelaskan segala sesuatu dan menjelaskan secara terperinci mengenai landasan keimanan. Tingalkanlah kitab kitab lain itu, janganlah seperti golongan yang diperumpakan sebagai keledai(bukan berarti keledai itu buruk!) yang membawa kitab kitab tebal. Taat kepada Rasul adalah Taat kepada apa yang disampaikannya, bukan taat kepada kitab kitab lain yang bahkan baru muncul 200 tahun setelah peninggalan nabi Muhammad. Ingat apa yang terjadi pada  umat yang terdahulu, ketika mereka lebih mengimani, bahkan mengkitab sucikan, perkataan perkataan dusta yang disandarkan pada para Nabi Allah. Tidakah kalian mengambil pelajaran atas apa yang telah terjadi?
Setelah keterangan ini apabila kalian masih mempertanyakannya tentang terperincinya Al-Qur’an dan membandingkan Al-Qur’an dengan kitab lain maka demi Allah azab akan datang dalam waktu yang dekat wahai para kafirun.


Bagi kaum yang memegang teguh ajaran para Nabi, taat kepada para Rasul dengan mendasarkan keimanannya hanya pada apa - apa yang diturunkan Allah, marilah kita menuju kemenangan, mudah mudahan Allah akan selalu memberikan kita kekuatan untuk mencoba memberikan keselamatan pada sesama umat manusia
Semoga Allah merahmati perjuangan kita dalam membela kebenaran

Alif Laam Raa'. Inilah ayat-ayat al-Qur'an yang mengandung hikmah. (QS. 10:1)

Dan inilah jalan Rabbmu; (jalan) yang lurus. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang mengambil pelajaran. (QS. 6:126)

Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan kemungkinan telah dekatnya kebinasaan mereka. Maka kepada berita manakah lagi mereka akan beriman selain kepada al-Qur'an itu. (QS. 7:185)

Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyirikin. Kemudian jika kamu (kaum musyirikin) bertaubat, maka bertaubat itu lebih baik bagimu; dan jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak dapat melemahkan Allah. Dan beritakan kepada orang-orang kafir (bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih. (QS. 9:3)

Insya Allah, saya telah meminta Allah untuk membuka pintu taubat selebar lebarnya setelah anda membaca mengenai  penjelasan shalat yang dijelaskan secara terperinci dalam Al-Qur’an, bagi yang menyegerakan taubatnya maka itu yang lebih baik bagi dirinya, bagi yang buta setelah ini, maka di akhirat nanti akan lebih buta.

Dengan hadist mana lagi setelah Al-Qur’an ini kalian akan beriman?

Salamun alaykum 
Post a Comment