Wednesday, October 10, 2012

Seorang Pemimpin dan Maksiat Rakyatnya

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

 Dari Syabib Abu Rauh dari salah seorang sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau sholat Shubuh lalu membaca Surat ar-Rum, maka hafalan beliau terkacaukan. Ketika telah selesai sholat, beliau bersabda, “Mengapa ada beberapa kaum yang mereka sholat bersama kami namun tidak bersuci dengan baik, karena sesungguhnya yang mcnyebabkan al-Qur’an terkacau bagi kami adalah mereka.[1]
Pemimpin adalah panutan bagi orang-orang yang dipimpinannya. Ia menjadi suri teladan dan contoh bagi kaumnya karena ia adalah orang yang dianggap paling baik di antara mereka. Ia adalah orang yang menjadi pilihan terbaik dan diharapkan bisa membawa kebaikan dan perbaikan bagi kaum yang dipimpinnya, baik keluarga maupun masyarakatnya. Demikianlah yang menjadi dambaan dan harapan setiap insan.
Namun demikian, pemimpin adalah manusia biasa sebagaimana orang-orang yang dipimpinannya. Setiap manusia bisa terjerumus ke dalam kesalahan-kesalahan, alpa dan kelalaian, keburukan dan kezholiman, dosa dan kemaksiatan, di sengaja dan disadari ataupun tidak.
     ”Setiap Bani Adam bersalah, dan sebaik-baik orang-orang yang bersalah adalah yang bertaubat.[2]
Yang memunculkan tanda tanya adalah, me­ngapa bisa terjadi kezholiman, keburukan para pe­mimpin, dan apa sebabnya? Apakah ada hubungan sebab akibat antara kezholiman dan keburukan pemimpin dengan perbuatan rakyatnya? Maka ha­dits di atas memberikan gambaran kepada kita tentang hal itu.
Ibnu Katsir  rahimahullah di dalam tafsirnya, di akhir tafsir surat ar-Rum mengatakan tentang hadits di atas, “Ini adalah sanad yang hasan dan juga matan yang hasan. Di dalamnya terdapat rahasia yang menakjubkan dan berita yang aneh, yaitu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terpengaruh dengan kekurangan wudhu orang yang bermakmum kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu menunjukkan bahwa sholat makmum terkait den­gan sholat imam.”[3]
Sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar untuk mengabarkan kepada para sahabat tentang Lailatul Qodar, ternyata ada dua orang dari kaum muslimin yang sedang bertengkar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Aku keluar untuk mengabarkan kepada kalian tentang Lailatul Qodar namun fulan dan fulan bertengkar sehingga diangkat. Semoga hal itu lebih baik bagi kalian. Carilah Lailatul Qodar itu pada malain kesembilan, ketujuh atau kelima.” [4]
Dalam hadits ini Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilupakan oleh Alloh SWT dari sebuah ilmu yang telah diajarkan kepada beliau sebelumnya, yaitu pengetahuan ten­tang waktu malam Lailatul Qodar yang lebih baik daripada seribu bulan. Apa sebabnya? Sebabnya ialah maksiat yang kelihatannya sepele dari sebagian umatnya, yang mereka adalah para sahabat beliau.
Hal ini menunjukkan bahwa perbuatan maksiat meskipun terlihat ’kecil’ dan ‘sepele’ namun berpengaruh bukan hanya kepada yang melakukan­nya namun juga kepada orang lain hingga para pemimpin. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang telah dibahas dalam pembahasan terdahulu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”… dan tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan melainkan akan ditimpakan paceklik kepada mereka, kesulitan hidup dan kezholiman penguasa atas mereka …[5]
Dalam hadits ini kemaksiatan yang dilakukan oleh orang yang berjual beli dalam hal takaran dan timbangan mendatangkan berbagai musibah dan bencana berupa paceklik, sulitnya kehidupan bahkan kezholiman dan kejahatan penguasa. Sebuah hubungan yang terlihat seakan tidak ada korelasi dan kesesuaiannya. Namun, Allah Ta’ala Mahatahu dan Mahaadil ketika menjadikan hal itu sebagai hubungan sebab akibat yang demikian tegasnya, dan menjadikan hal tersebut setimpal dengan perbuatannya, sebagaimana kaidah                               ”balasan itu sesuai dengan jenis amal,” maksudnya : musibah dan bencana yang menimpa mereka adalah sejenis dengan amal perbuatan yang mereka lakukan. Itu merupakan hukuman setimpal sekaligus peringatan bagi sang hamba agar menginterogasi amal perbuatan mereka.
Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Perhatikanlah hikmah Allah Ta’ala ketika menjadikan para raja di antara para hamba, para Umaro’ dan penguasa mereka sesuai dengan jenis amal mereka, bahkan seakan amal mereka nampak dalam bentuk penguasa dari para raja mereka.
Apabila mereka istiqamah maka para raja me­reka akan istiqamah. Apabila mereka berbuat adil maka para penguasa akan adil terhadap mereka. Apabila mereka berbuat zholim maka demikianlah para raja mereka juga akan berbuat zholim. Apa­bila nampak perbuatan makar dan tipu daya pada rakyat maka demikian pula para penguasa me­reka. Apabila mereka menghalangi hak-hak Allah Ta’ala atas mereka dan mereka berbuat bakhil dengan­nya maka para raja dan penguasa mereka akan menghalangi apa yang menjadi hak mereka dan berbuat bakhil kepada mereka. Apabila mereka mengambil apa yang bukan menjadi hak dalam muamalah mereka dari orang-orang lemah di an­tara mereka maka para raja akan mengambil dari mereka apa yang bukan menjadi haknya dan men­erapkan berbagai bea cukai dan pajak. Dan setiap yang mereka ambil dari orang-orang lemah di an­tara mereka maka para raja akan mengambil dari mereka dengan paksa.
Sehingga para penguasa mereka nampak sebagai gambaran dari amal mereka. Dan bukanlah termasuk hikmah ilahiyyah apa­bila penguasa itu diangkat atas orang-orang yang buruk dan jahat melainkan dari yang sejenis dengan mereka.
Ketika generasi awal umat ini adalah generasi pilihan dan terbaik maka demikianlah penguasa mereka. Lalu ketika mereka sudah campur aduk dan berbuat tipu daya maka demikian juga penguasa mereka.
Sehingga hikmah Allah Ta’alamenolak diangkatnya penguasa atas kita pada zaman seperti sekarang ini[6] seperti Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah apalagi seperti Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu. Bahkan para penguasa kita adalah sesuai dengan kita, dan penguasa orang-orang sebelum kita adalah sesuai dengan mereka, dan keduanya adalah konsekwensi dan keharusan dari hikmah.
Asy-Syaikh Abdul Malik Ramadhani hafidhahullah mengata­kan, “Karena itulah di antara kesalahan yang nyata mengobati kezholiman penguasa muslim dengan memberontak dan mengkudetanya, bah­kan di antara hikmah syari’ah yang dalam adalah dengan taat kepadanya selama tidak memerintahkan untuk bermaksiat. Namun apabila meme­rintahkan berbuat maksiat maka tidak disyari’at­kan untuk taat kepadanya dengan hal itu, seba­gaimana tidak disyari’atkan untuk keluar darinya meskipun dirinya termasuk orang-orang yang fajir. Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Hudza­ifah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ”Akan ada setelahku para imam (penguasa) yang tidak mengambil petunjukku dan tidak mengam­bil sunnahku. Dan akan berdiri pada mereka orang-orang yang hati-hati mereka adalah hati setan dalam tubuh manusia”
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Saya berkata, Apa yang harus saya lakukan wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila akau menemui hal itu ? Beliau menjawab : Engkau mendengar dan menaati sang Amir (pemimpin), meskipun punggungmu dipukul dan hartamu diambil. Dengar dan taatilah.[7]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintahkan ataupun mengizinkan umatnya untuk melawan   penguasa dengan celaan, apalagi kekerasan. Abu Amr ad-­Dani meriwayatkan dalam as-Sunan al-Waridah fil Fitan 2/403 no. 144 dan Ibnu Zanjawaih dalam al-Amwal 1/77 no. 33 dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu ia mengatakan, “Sesungguhnya Amir termasuk urus­an Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang mencela Amir maka sebenarnya ia telah mencela urusan Allah Ta’ala.
Dalam riwayat Ibnu Zanjawaih terdapat tambahan bahwa Khalid bin Ma’dan (salah seorang perowi hadits ini) mengatakan, “Maka bagaimana menurutmu wahai anak ibuku, apabila engkau mencela urusan Allah Ta’ala. ?!
Demikianlah para salaf dalam menghadapi pemimpin dan penguasa mereka, dan demikianlah yang scharusnya kita lakukan terhadap pemimpin dan penguasa kita, yaitu dengan bertaubat, istigh­far, menyandarkan sepenuhnya kepada Allah Ta’ala karena kekuasaan ada di Tangan-Nya. Kita ha­dapi dengan bersabar dan menjalankan ketaatan kepada-Nya serta menjauhi maksiat kepada-Nya, bukan dengan celaan, cacian, hujatan di atas mim­bar dan podium, mengumbar aib, cacat dan keburukan penguasa, demonstrasi dan konspirasi, kudeta dan pemberontakan terhadap mereka. Semua itu bukanlah solusi dan tidak akan men­datangkan kebaikan bahkan justru semakin me­nambah bencana dan malapetaka. Hanya orang-orang yang berakal dan menggunakan akal sehatnya-lah yang mengambil pelajaran dari yang telah lampau untuk yang akan datang, wallahul musta’an.

------------------ 

[1]     HR. an-Nasa’I 1/151, ‘Abdurrozzaq di dalam al-Mushonnaf 2/116 dan Ahmad di dalam al-Musnad 5/363 dan 368 dan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Sanadnya jayyid, dan inilah yang menjadi ketetapan pendapat saya terakhir. Berbeda dengan apa yang pernah saya sebutkan di dalam kitab Tamamul Minnah hlm. 180 dan selainnya, dan hendaknya hal ini diketahui”, Ashlu Shifatis Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 2/440.
[2]     Diriwayatkan Ahmad, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, ad-Darimi dan al-Baihaqi dalam asy-Syu’abul Iman dan dihasankan al-Albani dalam Shohih al-Jami’ush Shoghir 4515 dan Shohih Ibnu Majah 2/418 no. 3428.
[3]     Tafsir Ibnu Katsir
[4]     Muttafaqun ‘alaih
[5]     Dikeluarkan Ibnu Majah no. 4019, al-Hakim 4/582 no. 8623 dan dishohihkan al-Albani rahimahullah dalam as-Silsilah ash-Shohihah 1/167 no. 106
[6]     Yakni pada zaman Ibnul Qoyyim rahimahullah, lalu bagaimana halnya dengan zaman kita sekarang ini ? Apakah lebih baik ataukah justru sebaliknya.
[7]      HR. Muslim kitab al-Imaroh bab al-Amr biluzumil jamaa’ah 6/20.
Post a Comment