Tuesday, October 9, 2012

Jejak Ma'rifat 2

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Ammar al-Qurasy ra mengatakan, “Suatu hari aku di pesolok desa, aku ingin memanggil karena suatu kebutuhan mendesak. Kuambil sapu tangan dari guruku, lalu kusobek dua belah. Aku pakai separo, dan aku basahi satu lagi. Yang terjadi malah muncul konflik dalam diriku soal kebutuhanku. Tiba-tiba seluruh desa itu menjadi perak semua. Aku pun berlalu sembari munajat, “Ilahi, aku mohon perlindungan darimu atas kehendak selain padaMu…”

Nabi Isa as, berkata:
“Betapa eloknya bagi seseorang yang mengingat Allah, dan tidak ingat selain Allah swt. Betapa bagusnya seseorang yang takut kepada Allah dan tidak takut selain Allah. Baguslah seseorang yang memohon pada Allah dan tidak meminta kecuali kepada Allah swt.”

Imam Zainul Abidin Ali bin al-Hasan ra, mengatakan, “Ketika aku berada di tempat Abu Abdullah al-Husain as, kubaca sebagian kitab. Di tangannya ada sebilah gelati. Kulihat ada hurup yang salah, lalu kukatakan, “Coba pisaumu, akan kugunakan membenarkan huruf ini.”
Aku dapatkan pisau itu, dan ketika sudah selsai tugasku, kukembalikan.
“Wahai Ali, jangan ulangi lagi seperti ini, anda akan terjatuh pada hinanya permintaan dan rendahnya cita-cita.!”

Diriwayatkan bahwa Nabi saw, bersabda kepada Tsauban ra, “Wahai Tsauban jangan minta tolong kepada orang.” Maka Tsauban, jika cambuknya jatuh dari tangannya, ia tak pernah meminta tolong pada seseorang, dengan mengatakan “Ambilkan cambuk itu…” hingga ia sendiri turun dan mengambilnya.

Suatu hari seseorang sedang meminta mata uang Kisrah pada Sufyan ra, lalu orang itu diberi Dinar. Ia pun menanyakan kenapa diberi Dinar? Sufyan menjawab, “Jika dia tidak mengenal kadar dirinya, maka aku tidak meminta kehormatan diriku. Namun jika ini semua meninggalkan cita yang luhur, maka aku tidak meminta kemurahan.”

Cita-cita kaum ‘Arifin
Cita-cita kaum arifin bersambung dengan cintanya kepada Ar-Rahman, sedangkan hatinya memandang pada tempat-tempat kemuliaan dari Sang Maha Mulia. Tak ada istirahatnya di dunia, tanpa keluar dari dunia.

Hubaib al-Ajamy ra banyak muncul terlihat pada hari Tarwiyah di Bashrah, sedngkan di hari Arafah ia berada di Arafah. Lantas ditanyakan padanya, “Itu hanya sedikit sekali dari terbangnya Ahli Cita Luhur Ilahi…” jawabnya.

Ali Karromallahu Wajhah masuk masjid Rasulullah saw. Lalu melihat orang pelosok di masjid sedang bermunajat, “Ilahi, aku hanya ingin sedikit saja kesenangan dariMu.”
Beliau juga melihat Abu Bakr ash-Shiddiq ra, sedang bermunajat, “Ilahi, aku hanya ingin padaMu…”

Maka jauhlah berbedaan cita-cita jiwa mereka. Masing-masing membubung dengan citarasanya. Jika telah sampai pembubungan cita itu sampai pangkalnya, ia berhenti dan tidak lagi terbang melewati.

Allah swt berfirman:
“Katakan, masing-masing beramal menurut format kemampuannya…” (Maksudnya menurut niat dan cita luhurnya.)
Abu Yazid al-Bisthamy ditanya, “Aku dengar anda berjalan di atas air dan terbang di atas udara.”
“Orang beriman lebih memuliakan Allah Azza wa-Jalla ketimbang langit sap tujuh. Apa yang perlu dikagumi dari sekadar berjalan di air dan terbang di udara, seperti posisi burung dan ikan hiu?”

Suatu ayat, “Mereka itulah yang bergegas dalam kebaikan.” Dibacakan di hadapan Ibnul Mubarok, lantas beliau berkata, “Bukan dimaksudkan adalah bergegasnya fisik, atau bergegas meraih amal. Tetapi dimaksud adalah cita-cita yang mendahului cita-cita dalam segala kebajikan dan kehendak.”

Sebagian ‘arifin mengatakan, “Kasihan sekali mereka yang beralparia. Mereka sibuk dengan memperbanyak amal, mereka memperbesar dan berbangga dengan amal. Bagi orang arifin,  melakukan amaliyah sebanyak amal seluruh penghuni langit dan bumi dari zaman Azali sampai kekal abadi nanti, maka amaliyah itu masih terasa kecil dan lebih rendah di mata mereka disbanding kecilnya atom di langit dan di bumi.”

Nabi saw, bersabda: “Janganlah kalian merasa banyak taat, dan janganlah kalian merasa sedikit dosamu.”

Suatu saat Nabi Musa as melewati pantai sepanjang laut. Lalu ia bermunajat, “Tuhanku, lelah sekali kedua dengkulku, dan berat sekali punggungku. Oh Kekasihku, apa yang hendak kau berlakukan padaku ini?”

Allah pun mengutus binatang Trenggiling untuk menjawabnya.

“Wahai anak Imran, apakah kau berharap pada Tuhanmu, dengan ibadahmu padanya? Bukankah Allah telah memilihmu dan berbicara padamu, dan membuatmu dekat dan bermunajat padaNya? Demi Yang menciptakanku dan Melihatku, sesungguhnya aku berada di padang sahara ini sejak 360 tahun, selama itu aku bertasbih siang malam, sedikit pun aku tidak berpaling dariNya. Dan sejak tiga hari lalu aku tidak makan. Bahkan setiap saat gemeterlah tulang-tulangku karena Maha BesarNya.”

Abu Said  Abul Khair ra menegaskan, “Suatu hari aku menuju pelosok desa, rasa lapar benar-benar mencekam. Nafsuku meronta agar memohon kepada Allah Ta’ala, lalu kukatakan, “Itu bukan perilaku orang yang tawakkal.” Lalu nafsuku menuntutku agar bersabar. Namun ketika aku berhasrat untuk kedua kalinya, ada bisikan lembut:

Adakah ia bodoh bahwa Kami lebih dekat?
Kami tak pernah menelantarkan siapa yang dating kepada Kami
Abu Said ingin memohon sabar
Seakan Kami tak melihatnya dan tidak tahu


Enhanced by Zemanta
Post a Comment