Thursday, October 4, 2012

Mendamaikan diantara Manusia

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Mendamaikan diantara Manusia
قال اللَّه تعالى: {لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ} .
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. (An Nisa: 114)
وقال تعالى: { والصلح خير } .
Dan berdamai itu adalah yang terbaik.”
وقال تعالى: {فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ } .
Bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu. [al-Anfaal : 1]
وقال تعالى: { إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم } .
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu. [al-Hujurat : 10]
248- وعن أَبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « كُلُّ سُلامى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ : تَعْدِلُ بيْن الاثْنَيْنِ صَدقَةٌ ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعهُ صَدقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيبةُ صدقَةٌ ، وبكُلِّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاةِ صَدقَةٌ ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ » متفق عليه .
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, bersabda : “Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh pemiliknya) setiap hari, (sebagai pernyataan syukur kepada Allah atas keselamtan tulang-tulangnya. Dan macam sedekah itu banyak sekali), di antaranya berlaku adil di antara dua orang yang bersengketa, membantu teman ketika menaiki tunggangannya atau menaikkan barang temannya ke punggung tunggangannya, ucapan yang baik, setiap langkah yang kamu ayunkan untuk melakukan salat adalah sedekah dan menyingkirkan sesuatu yang merugikan di jalan, juga sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
249- وعن أُمِّ كُلْثُومٍ بنتِ عُقْبَةَ بن أَبي مُعَيْطٍ رضي اللَّه عنها قالت : سمِعْتُ رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يَقُولُ : « لَيْسَ الْكَذَّابُ الذي يُصْلحُ بَيْنَ النَّاسِ فَيَنْمي خَيْراً ، أَوْ يَقُولُ خَيْراً » متفق عليه .
Dari Ummu Kultsum binti ‘Uqbah bin Abu Mu’aith ra., ia berkata: Saya mendengar Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bukan pendusta orang yang mendamaikan orang yang sedang bersengketa, karena ia bermaksud baik atau berkata baik.” (HR. Bukhari dan Muslim)
وفي رواية مسلمٍ زيادة ، قالت : وَلَمْ أَسْمَعْهُ يُرَخِّصُ في شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُهُ النَّاسُ إِلاَّ في ثَلاثٍ، تَعْنِي : الحَرْبَ ، وَالإِصْلاَحَ بَيْنَ النَّاسِ ، وَحَدِيثَ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ ، وَحَديثَ المَرْأَةِ زَوْجَهَ .
Dalam hadis riwayat Muslim ada tambahannya, yaitu : Ummu Kultsum berkata : “Saya tidak pernah mendengar beliau membolehkan orang berkata dusta kecuali dalam tiga hal, yaitu: Di dalam peperangan, dalam mendamaikan orang yang sedang bersengketa dan seseorang yang menceritakan keadaan istri atau suaminya (untuk menjaga hubungan baik keduanya).
250- وعن عائشة رضي اللَّه عنها قالت : سمِع رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم صَوْتَ خُصُومٍ بالْبَابِ عَالِيةٍ أَصْواتُهُمَا ، وَإِذَا أَحَدُهُمَا يَسْتَوْضِعُ الآخَرَ وَيَسْتَرْفِقُهُ فِي شيءٍ ، وَهُوَ يَقُولُ : واللَّهِ لا أَفعَلُ ، فَخَرَجَ عَلَيْهِمَا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم فقال : « أَيْنَ الْمُتَأَلِّي عَلَى اللَّه لا يَفْعَلُ المَعْرُوفَ ؟ » فقال : أَنَا يَا رسولَ اللَّهِ ، فَلهُ أَيُّ ذلِكَ أَحَبَّ . متفقٌ عليه .
Dari ‘Aisyah ra., ia berkata : “Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam mendengar suara orang yang bertengkar amat keras di depan pintu. Salah satunya ada yang meminta keringanan (hutang) dan meminta bantuan kepada yang lain, tetapi yang mengutangi menjawab : “Demi Allah, saya tidak akan memenuhi permintaanmu.” Kemudian Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam keluar dan mendekati keduanya dan bertanya : “Mana yang bersumpah dengan nama Allah untuk tidak akan berbuat kebaikan?” Ia menjawab : “Saya wahai Rasulullah.” Maka bagi orang itu apa saja yang disukainnya.” [i] (HR. Bukhari dan Muslim)
251- وعن أَبي العباس سهلِ بنِ سعدٍ السَّاعِدِيِّ رضي اللَّهُ عنه ، أَن رسولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم بلَغهُ أَنَّ بَني عَمْرِو بن عوْفٍ كان بيْنهُمْ شَرٌّ ، فَخَرَجَ رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم يُصْلِحُ بَيْنَهمْ فِي أُنَاسٍ مَعَه ، فَحُبِسَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم وَحَانَتِ الصَّلاَةُ ، فَجَاءَ بِلالٌ إِلَى أَبي بَكْرٍ رضي اللَّه عنهما فقال : يَا أَبَا بَكْرٍ إِنَّ رسولَ اللَّهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قَدْ حُبِسَ ، وَحَانَتِ الصَّلاةُ ، فَهَلْ لكَ أَنْ تَؤُمَّ النَّاس؟ قال : نَعَمْ إِنْ شِئْتَ ، فَأَقَامَ بِلالٌ الصَّلاةَ ، وَتقَدَّمَ أَبُو بَكْرٍ فَكَبَّرَ وكبَّرَ النَّاسُ، وَجَاءَ رسول اللَّه يمْشِي في الصُّفوفِ حتَّى قامَ في الصَّفِّ ، فَأَخَذَ النَّاسُ فِي التَّصْفِيقِ ، وكَانَ أَبُو بَكْر رضي اللَّه عنه لا يَلْتَفِتُ فِي صلاتِهِ، فَلَمَّا أَكَثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ الْتَفَتَ ، فَإِذَا رسولُ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَأَشَار إِلَيْهِ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَرَفَعَ أَبْو بَكْر رضي اللَّه عنه يدَهُ فَحمِد اللَّه ، وَرَجَعَ القهقرى وَراءَهُ حَتَّى قَامَ فِي الصَّفِّ ، فَتَقدَّمَ رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم ، فَصَلَّى للنَّاسِ ، فَلَمَّا فرغَ أَقْبلَ عَلَى النَّاسِ فقال : « أَيُّهَا النَّاسُ مالَكُمْ حِين نَابَكُمْ شَيْءٌ في الصَّلاَةِ أَخذْتمْ فِي التَّصْفِيقِ ؟، إِنَّما التَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ . منْ نَابُهُ شيءٌ فِي صلاتِهِ فَلْيَقلْ: سُبْحَانَ اللَّهِ ؟ فَإِنَّهُ لا يَسْمعُهُ أَحدٌ حِينَ يَقُولُ : سُبْحانَ اللَّهِ ، إِلاَّ الْتَفَتَ . يَا أَبَا بَكْرٍ : ما منعَك أَنْ تُصَلِّيَ بِالنَّاسِ حِينَ أَشرْتُ إِلَيْكَ ؟ » فقال أَبُو بكْر : مَا كَانَ ينبَغِي لابْنِ أَبي قُحافَةَ أَنْ يُصلِّيَ بِالنَّاسِ بَيْنَ يَدَيْ رسولِ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم . متفقٌ عليه .
Dari Abu Abbas Sahl bin Sa`idiy ra. , ia berkata :” Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam Mendengan berita, bahwa di kalangan Bani `Amr bin `Auf terjadi persengketaan, maka Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, bersama beberapa sahabat pergi ke sana untuk mendamaikan mereka. Setelah selesai mendamaikan beliau dijamu padahal waktu salat telah tiba, maka Bilal datang kepada Abu Bakar ra., dan berkata : ” Wahai Abu Bakar, sesungguhnya Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam, sedang ditahan untuk dijamu oleh Bani`Amr, bagaimana jika kamu menjadi imam bagi orang-orang yang akan mengerjakan salat?” Abu Bakar menjawab: “Baiklah, jika kamu menghendaki demikian.” Kemudian Bilal mengumandangkan ikamah, lalu Abu Bakarpun maju dan bertakbir, dan orang-orangpun ikut bertakbir. Tiba-tiba Rasulullah datang berjalan di tengah-tengah shaf dan berdiri pada shaf pertama. Orang-orang bertepuk tangan memberikan isyarat, tetapi Abu Bakar tidak menoleh di dalam salatnya. Ketika orang-orang ramai bertepuk memberi isyarat iapun menoleh dan melihat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam Beliaupun memberi isyarat kepadanya agar ia meneruskan salatnya, tetapi Abu Bakar ra. mengangkat tangannya seraya memuji Allah dan melangkah mundur sehingga ia berdiri pada shaf pertama. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasallam lalu maju dan meneruskan salatnya menjadi imam. Setelah salat usai, beliau menoleh kepada para sahabat dan bersabda : “Wahai sekalian manusia, mengapa ketika terjadi sesuatu di dalam salat kalian bertepuk tangan? Padahal tepuk tangan itu untuk perempuan yang memberi isyarat. Siapa saja yang mengalami sesuatu di dalam salat hendaklah ia membaca: “SUBHANALLAH” (Maha Suci Allah). Dan bagi imam jika mendengar bacaan “SUBHANALLAH” hendaklah ia menoleh. Hai Abu Bakar, mengapa engkau tidak meneruskan menjadi imam ketika aku memberikan isyarat kepadamu?” Abu Bakar menjawab: “Tidaklah selayaknya bagi anak Abu Quhafah untuk menjadi imam di hadapan Rasulullah SAW (HR. Bukhari dan Muslim).

[i] Meminta untuk dikurangi hutangnya dengan cara yang baik. Sesungguhnya Allah melarang mempergunakan nama Allah untuk menghalangi berbuat kebaikan. Sebagaimana firman- Nya yang artinya : “Janganlah kamu menjadikan nama Allah, sebagai penghalang dalam sumpahmu tidak akan berbuat kebaikan, dan takwa atau mendamaikan di antara manusia.”

Enhanced by Zemanta
Post a Comment