Saturday, October 13, 2012

Al,muntahi (bag. 7 )

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

13. Hai Pelajar mengetahui "siapa mengenal diri mengenal Tuhannya." Bukan mengenal jantung atau paru-paru, bukan mengenal kaki dan tangan. Makna "siapa mengenal diri ..." adanya dengan ada Tuhannya esajua. Seperti kata Syeikh Junaid: "Warna air itu warna bejananya"
'
Seperti kata syair: Sesungguhnya telah tersembunyilah engkau maka tidak dapat dilihat oleh semua mata; Maka betapa dilihat oleh segala mata Karena ini terdinding oleh adanya.
'
Kata Syeikh Muhyildin Arabi: Jika pergilah aku menuntut Dia, tiadalah berkesudahan tuntutku, jika datang aku ke hadiratNya, Ia liar dariku; Tidak aku melihat Dia, Ia tidak jauh dari penglihatanku, Mulai: Ia ada dalamku dan tidak aku bertemu pada seumurku.
'
Maka ini lagi kata Syeikh Junaid: adamu ini dosa, tidak dosa sebagainya. 14. Barangkala engkau pun satu wujud, Hak SWT pun satu wujud, sharika lahu (engkau mensyirikanNya) datang karena Hak SWT: wahdahu la shararika lahu: (artinya: tidak sekutu bagiNya), tidak ada lain hanyawujud Hak SWT. Seperti laut dan ombak.
'
Seperti Firman Allah: Barang kemana mukamu kau hadapkan, maka di sana ada DzatAllah.
'
Kata Maulana Abdul Rahman Jami: Sekampung sekedudukan, sekelian itu Ia jua; Pada telekung segala minta makan dan pada atlas segla raja-raja itu pun Ia jua; Pada segala perhimpunan dan perceraian dan rumah yang tersembunyi dan yang berhimpun itu pun Ia jua; Demi Allah sekeliannya ia jua. Maka demi Allah sekeliannya Ia jua.


 "Al-Azzaliyyah pada hakikatnya hanyalah al-Abadiyyah (Keabadian), di mana antara keduanya tidak adapembatas apa pun. SebagaimanaAwwaliyyah (awal) adalah juga Akhiriyyah (akhir) dan akhir adalah juga awal. Demikian pula lahir dan batin, hanya saja suatu saat Dia menghilangkan Anda dan suatu saat menghadirkan Anda dengan tujuan untuk memperbarui kelezatan dan melihat penghambaan ('Ubudiyyah). Sebab orang yang mengetahui-Nya melalui penciptaan makhluk-Nya, ia tidak akan mengetahui-Nya secara langsung. Sebab penciptaan makhluk-Nya berada dalam makna firman-Nya, 'Kun' (wujudlah). Sementara mengetahui secara langsung adalah menampakkan kehormatan, dan sama sekali tidak ada kerendahan. "Saya (Syekh Abu Nashr as Sarrai) katakan: Makna dan ucapan an-Nuri," mengetahui-Nya secaralangsung, "adalah langsung dengan yakin dan kesaksian hatinurani akan hakikat-hakikat keimanan tentang hal-hal yang gaib.
'
Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - melanjutkan penjelasannya: Makna dari apa yang diisyaratkan tersebut - hanya Allah Yang Mahatahu - bahwa menentukan dengan waktu dan perubahan itu tidak layak bagi Allah. Maka Dia terhadap apa yang telah terjadi sama seperti pada apa yang bakal terjadi. Pada apa yang telah Dia firmankan sama sepertipada apa yang bakal Dia firmankan. Sesuatu yang dekat menurut Dia sama seperti yang jauh, begitu sebaliknya, sesuatu yang jauh sama seperti yang dekat. Sedangkan perbedaan hanya akan terjadi untuk makhlukdari sudut penciptaan dan corak dalam masalah dekat dan jauh, benci dan senang (ridha), yang semua itu adalah sifat makhluk, dan bukan salah satu dari Sifat-sifat al-Haq SWT. - Dan hanya Allah Yang Mahatahu-.

Enhanced by Zemanta
Post a Comment