Tuesday, October 2, 2012

Makna Wahyu

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Mencari tahu makna wahyu

Wahyu adalah pilar dan pondasi kenabian serta termasuk salah satu dari rukun agama–agama samawi. Wahyu merupakan jalur khusus dan rahasia yang menghubungkan antara Tuhan dan manusia-manusia pilihan (baca: nabi dan rasul). Tuhan "berhubungan" dengan nabi dan rasul, baik secara langsung maupun tak langsung, dengan perantaraan wahyu. Dan Tuhan menurunkan wahyu yang mengandung, pengetahuan, hukum-hukum, dan undang-undang ke dalam hati nabi dan memerintahkan kepadanya untuk menyampaikannya kepada seluruh umat manusia. Para nabi mendapatkan hakikat-hakikat dari alam gaib dengan perantaraan hubungan malakuti dan transenden yang tercipta melalui hati bukan dengan menggunakan indra-indra lahiriah, akal, pemikiran, dan silogisme logikal. Berdasarkan hubungan malakuti inilah para nabi mengenal Tuhan dan menerima tanggungjawab suci yang dibebankan kepadanya sebagai utusan Tuhan dan nabi  untuk mengarahkan umat manusia mencapai tujuan hakiki penciptaannya, yakni kebahagiaan abadi dan kesempurnaan hakiki pasca kehidupan di dunia ini.
Wahyu adalah sebuah eksistensi transendental yang berada di luar ranah dan wilayah akal pikiran manusia, karena itu manusia mustahil mengetahui esensi dan hakikat wahyu dengan perantaraan akal. Wahyu bukanlah sebuah eksistensi yang bersifat material atau berhubungan dengan alam natural sehingga manusia bisa mengetahuinya dengan menggunakan perangkat-perangkat indrawi dan alat-alat ilmu empirik.
Hakikat wahyu tidaklah bisa dideskripsikan oleh akal dan tidak bisa didefenisikan dengan apapun. Para nabi memahami hakikat wahyu dan menyaksikannya dengan keluasan dan kesucian batinnya.
Hakikat wahyu yang disaksikan langsung oleh para nabi bukan dalam bentuk huruf-huruf dan tidak bisa disampaikan kepada yang orang lain, akan tetapi kandungan wahyu yang kaya dan sarat dengan informasi dari Tuhanlah yang bisa ditransfer kepada orang lain. Ketika para nabi menyampaikan wahyu tidaklah berarti bahwa para nabi menyampaikan pengalaman batinnya di alam metafisika yang merupakan sebuah eksistensi di luar alam materi dan alam tabiat. Para pengikut dan sahabat hanyalah menyaksikan tanda-tanda bahwa nabi menerima wahyu dan mereka tidak mengalami apa yang terjadi pad nabi pada saat menerima hakikat wahyu.
Oleh karena itu, kami dengan jelas mengatakan bawa kita tidak bisa menjelaskan dan memahami hakikat wahyu dan tidak dapat  memberikan definisi yang komprehensif terhadap sebuah eksistensi transendental yang diluar jangkauan akal manusia. Dan para pembaca yang budiman sebaiknya tidak berharap demikian, akan tetapi tujuan kami adalah menjelaskan apa-apa yang akan membantu kita dalam memahami wahyu secara lahiriah dan mendekatkan pikiran kita tentang hubungan rahasia dan luar biasa ini. Inilah tujuan kami ketika mengutip dan menyandarkan perkataan kami kepada para filosof dan para urafa. Dan dengan menalaah perkataan para ilmuwan tersebut akan memberikan perspektif yang benar tentang wahyu pada kita.
Bukan berarti bahwa dengan ketidakmampuan mengetahui esensi wahyu menyebabkan pengingkaran pada wahyu, kenabian, rasul, dan pembawa wahyu itu sendiri, karena kenabian adalah masalah yang telah dibahas dan diteliti secara cermat dalam  buku-buku teologi dan filsafat serta sudah dibuktikan keberadaannya dengan mengemukakan argumentasi logikal dan rasional. Pembuktian kebenaran kenabian tidak bergantung pada pengetahuan kita tentang hakikat dan esensi wahyu.
Disamping itu, pengutusan para nabi adalah sebuah kenyataan sejarah yang tak dapat dipungkiri. Dan di sepanjang sejarah kehidupan manusia, manusia-manusia pilihan bangkit dan hadir untuk membimbing dan memberi petunjuk kepada manusia  dan memproklamirkan bahwa mereka miliki hubungan khusus dengan Tuhan. Dan mereka memiliki program dan rencana untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dan menunjukkan jalan keselamatan dan kebahagian di dunia dan akhirat. Dengan kesaksian sejarah pula, para nabi merupakan manusia-manusia pilihan yang tidak memiliki cacat dan celah dalam kehidupannya, mereka terkenal sebagai orang yang amanah, orang shaleh, jujur, ikhlas, berakhlak baik, dan berbudi pekerti yang luhur. Di samping itu, mereka juga menunjukkan mukjizat untuk membuktikan kenabian mereka, memaparkan perintah-perintah Tuhan dengan pasti dan bijaksana, menampakkan keimanan yang kuat dan perkataan yang benar, dan mengajak manusia untuk beriman kepada Tuhan dan alam gaib. Mereka terkenal sebagai orang jujur dan amanah serta bisa dipercaya, karena itu manusia mempercayainya dan menerima ajakannya, setia, berjihad, dan bersungguh-sungguh untuk mengamalkan perintah-perintahnya.
Revolusi, evolusi, dan reformasi suci yang terjadi pada sejarah kehidupan manusia berkat bimbingan para nabi yang memiliki otentik sejarah dimana meninggalkan pengaruh yang sangat mendalam pada diri manusia. Dan tak diragukan lagi, jika gerakan para nabi di sepanjang sejarah tidak tercapai maka kondisi dunia sudah pasti tidak seperti sekarang ini, para pembaharu kemanusiaan yang mengaku sebagai nabi itu dan dengan usahanya yang tak kenal lelah tidak bisa dikatakan sebagai para penipu dan pembohong.
Nabi Muhammad saw merupakan salah satu dari wajah-wajah suci dalam sejarah kenabian, dia adalah nabi terakhir dan nabi yang paling dekat dengan kita. Sejarah mencatat bahwa sebelum beliau diutus sebagai nabi,  beliau terkenal sebagai orang  yang amanah, jujur, adil, memiliki integritas, shaleh, dan baik. Dan memiliki kesehatan jasmani dan jiwa stabil serta kehidupan sederhana, tidak pernah belajar resmi pada seorang guru atau lembaga pendidikan apapun sehingga dinamakan sebagai "ummi".
Hingga beliau berumur 40 tahun, kondisi batinnya menjadi berubah, beliau dengan tegas mengatakan bahwa saya menyaksikan malakiat jibril As dan mendengar suaranya, dia datang atas perintah Tuhan dan membawa kabar berita, saya diangkat sebagai nabi dan diperintahkan untuk menyampaikan perintah Tuhan kepada umat manusia. Ketika kembali ke kondisi semula sebagai manusia biasa, beliau menyampaikan hukum, undang-undang, aturan-aturan yang bijak, dan ilmu pengetahuan yang tinggi dengan ibarat yang indah dan fasih sambil mengatakan bahwa kalimat dan ibarat yang disampaikannya itu adalah sebagaimana yang diwahyukan kepadanya dan diperintahkan untuk membacakannya dihadapan manusia.
Kitab al-Quran adalah mukjizatnya dan tak seorangpun yang bisa menandinginya dan mendatangkan sepertinya. Dan manusia ditantang bahwa jika kalian merasa ragu maka datangkanlah seperti al-Quran ini. "Dan jika kamu (tetap) meragukan Al-Qur'an yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah (paling tidak) satu surah saja yang semisal dengan Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah (untuk melakukan hal itu), jika kamu orang-orang yang benar .Dan dalam ayat lain,"Tidaklah mungkin Al-Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al-Qur’an itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam. Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah, “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surah seumpamanya dan panggillah siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar" .Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”
Al-Quran dengan tegas memperkenalkan dirinya sebagai mukjizat nabi yang bersumber langsung dari Tuhan dan menantang para pengingkar al-Quran untuk menghadirkan seperti kita suci itu.
Nabi Muhammad saw mengumumkan kepada umat manusia bahwa al-Quran bukanlah perkataan beliau dan beliau pun tidak bisa menciptakan ayat al-Quran sesuai dengan keinginannya ataukah mengganti ayat dengan ayat yang lain, hal sebagaimana diungkapkan, "Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata, “Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah Al-Qur’an ini.” Katakanlah, “Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut kepada siksa hari yang besar (kiamat) jika aku mendurhakai Tuhanku.” Katakanlah, “Seandainya Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya (dan aku belum pernah membawakan sebuah ayat pun). Maka apakah kamu tidak memikirkannya?" "Dan apabila (ayat Al-Qur’an terlambat turun dan) kamu tidak membawa suatu ayat Al-Qur’an pun kepada mereka, mereka berkata, “Mengapa tidak kamu buat sendiri ayat itu?” Katakanlah, “Sesungguhnya aku hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al-Qur’an ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk, dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
Pada tempat lain, al-Quran dinamakan sebagai perkataan dari malaikat jibril yang diturunkan dari Tuhan, kemudian orang yang mendustakan bahwa al-Quran bersumber dari-Nya akan disiksa dengan azab yang pedih. "Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah benar-benar ucapan seorang rasul yang mulia, dan Al-Qur’an itu bukanlah ucapan seorang penyair; sedikit sekali kamu beriman kepadanya, dan bukan pula perkataan tukang tenung; sedikit sekali kamu sadar (dan mengambil pelajaran darinya). Al-Qur’an itu adalah wahyu yang diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian ucapan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan kuat, kemudian benar-benar Kami potong urat jantungnya."
Al-Quran ialah kitab incomparable dan tak ada tandingannya yang telah diturunkan kepada Rasulullah saw secara berangsur-angsur selama 23 tahun. Kandungan kitab ini berupa pengetahuan transendental yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia dan menjelaskan masalah-masalah eskatologi, kehidupan setelah mati (alam akhirat) dengan sedetail-detailnya, dan memaparkan hukum-hukum yang mencakup segala dimensi kehidupan manusia.
Kitab suci ini menjelaskan secara gamblang kehidupan para nabi  dan umat-umat sebelumnya, memberikan sebagian berita gaib, mengajak umat manusia untuk berakhlak mulia dan menjauhkan diri dari akhlak buruk, dan mengemukakan masalah ekonomi, sosial dan politik.
Al-Quran kaya dengan kandungan dan sarat dengan pengetahuan transendental yang terungkap dalam kefasihan kata, kesempurnaan kalimat, dan keindahan ibarat yang khas. Al-Quran bukan kitab syair dan prosa. Karena mempunyai makna yang terdalam, trandsenden, dan keindahan ibarat membuat para sastrawan Arab di zaman nabi terpesona dan takjub sehingga mereka merobek syair-syair kebanggaan mereka yang ditempelkan di dinding kabah.
Yang sangat mengherankan ialah bahwa ayat-ayat indah,  mempesona, dan lembut dari al-Quran terpancar dari sosok yang tidak pernah belajar membaca dan menulis. Akan tetapi, hadis-hadis dan khutbah Rasulullah saw tidak memiliki keistimewaan seperti al-Quran. Dan perkataan-perkataan beliau tidaklah berbeda jauh dengan manusia biasa.
Oleh karena itu, kita bisa katakan dengan tegas bahwa  al-Quran bukanlah perkataan Nabi Muhammad saw, melainkan "perkataan" dan kalam Tuhan yang diilhamkan ke dalam hati suci beliau lalu hadir dalam bentuk huruf dan kalimat yang kemudian dia sampaikan kepada umat manusia. Al-Quran ialah mukjizat Nabi terakhir yang abadi dan merupakan argumen terbaik bagi kenabian beliau, dengan menelaah al-Quran akan mengantarkan kita kepada Sumber Wahyu, Tuhan.

Etimologi Wahyu

Secara leksikal, wahyu memiliki makna yang beragam. Yang paling komprehensif dan sempurna dari seluruh makna tersebut adalah perpindahan pengetahuan kepada pikiran orang yang dituju secara cepat dan rahasia sedemikian sehingga tersembunyi dan tidak nampak bagi semua orang.
Ar-Raghib menuliskan, "Wahyu adalah sebuah petunjuk yang sangat cepat. Wahyu terkadang dengan perkataan simbolik, terkadang dalam bentuk suara tanpa susunan, terkadang dengan isyarah sebagian anggota badan, dan terkadang dengan tulisan."
Menurut Ibnu Atsir, "Kata wahyu dalam hadis sering dimaknakan sebagai tulisan, isyarat, risalah, ilham dan bisikan."

Dari kedua pemaknaan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa wahyu memiliki enam makna sebagai berikut:

1.  Bisikan;
2.  Suara yang tak terdengar;
3.  Isyarat;
4.  Tulisan;
5.  Risalah dan utusan;
6.  Ilham.
Setiap makna di atas mengandung dua unsur: kecepatan dalam pemahaman dan rahasia.
Syekh Mufid menyatakan, "Makna utama wahyu ialah bisikan, lalu secara mutlak diartikan sebagai sesuatu yang digunakan untuk menjelaskan dan memahamankan sebuah obyek kepada lawan bicara dengan cepat dan tersembunyi."
Allamah Thaba-thabai berkata, "Wahyu ialah suatu isyarat dan petunjuk yang cepat."Dan penulis tafsir Ruhul al-Bayan mengatakan, "Makna inti wahyu ialah isyarat yang cepat, sesuatu dikatakan sebagai wahyu karena terlaksana dengan cepat, wahyu adalah pemahaman itu sendiri, memahamkan itu sendiri, dan yang dipahami itu sendiri."
Dalam makna leksikal wahyu tidak ditekankan secara khusus subjek pemberi wahyu, baik itu Tuhan, malaikat, manusa, jin, dan setan. Demikian pula, subjek penerima wahyu tidak ditegaskan secara khusus, siapa yang menerimanya dan apa yang diwahyukan.

Wahyu dalam Al-Quran

Kata Wahyu dan derivasinya disebutkan 78 kali dalam al-Quran dan seluruhnya memiliki makna yang berbeda-beda, sebagai berikut:

1. Insting dan fitrah

Allah berfirman, "Dan Allahmu mewahyukan kepada lebah buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon dan tempa-tempat yang dibuat manusia."
Syekh Mufid menuliskan, "Yang dimaksud dengan wahyu adalah ilham tersembunyi. Lebah memahami tanggung jawabnya tanpa perantaraan kata-kata."
Lebah melakukan pekerjaan-pekerjaan yang menakjubkan seperti membuat rumah heksagonal yang bersegi enam, menjaga rumah, melakukan perjalanan jauh untuk mencari bunga, mengisap saripati bunga, merubah saripati tersebut menjadi madu, kembali ke sarangnya sendiri, tinggal di  sarang mereka, menjaga ratu, dan puluhan pekerjaan yang menakjubkan. Semua itu muncul dari insting yang ada pada diri mereka. Berdasarkan insting dan fitrah serta ilham dari Tuhan lebah melakukan pekerjaan yang menakjubkan tersebut.

2. Sunnatullah dan Hukum Alam

Allah berfirman, "Kemudian Dia menuju pada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: " datanglah kamu keduanya menurut perintahKu dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "kami datang dengan suka hati." Maka dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui".
Di dalam ayat lain disebutkan, "Apabila digoncangkan dengan goncangan yang dahsyat dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya dan manusia bertanya: mengapa bumi jadi begini? Pada hari itu bumi menceritakan beritanya karena sesungguhnya Allahmu telah memahyukan (yang sedemikian itu) kepadanya."
Tuhan menciptakan bumi, langit, dan alam materi sesuai dengan  "sunnah" dan hukum sebab-akibat (kausalitas). Dan alam semesta tersebut berjalan sesusai dengan "sunnah". Alam semesta memiliki hukum dan "sunnah" tersendiri dan diatur sesuai dengan "sunnah" tersebut. "Sunnah" tersebut berasal dari Tuhan dan berjalan sesuai dengan perintah-Nya. Jadi yang dimaksud dengan wahyu Ilahi dalam ayat tersebut yaitu sunnatullah dan hukum alam.
Sebagian penafsir menjelaskan bahwa wahyu yang dimaksud pada ayat itu adalah wahyu kepada ahli langit yakni para malaikat.
Dari kedua ayat ini ada dua hal penting yang bisa kita tarik kesimpulan pertama wahyu turun tidak melalui perantaraan kata-kata dan yang kedua  penerima wahyu tidak mesti harus yang berakal.

3. Ilham, bisikan, dan  inspirasi ke dalam hati

Al-Quran dalam masalah ibu Nabi Musa As mengatakan, "Yaitu ketika kami mengilhamkan kepada ibumu suatu yang diilhamkan yaitu letakkanlah ia (Musa) di dalam peti kemudian lemparkanlah ia kesungai Nil maka pasti sungai itu membawanya ke tepi supaya di ambil oleh musuh-Ku."
Dalam ayat lain dikatakan, "dan kami ilhamkan kepada ibu Musa " susukanlah dia apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke dalam sungai Nil dan janganlah kamu khawatir dan jangan pula bersedih hati karena sesungguhnya kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari para rasul."
Penerima wahyu pada kedua ayat tersebut adalah ibu nabi Musa as, dan sudah tak bisa dipungkir bahwa wahyu tersebut bukanlah wahyu yang diterima para nabi as tetapi satu bentuk pemberian pemahaman secara sembunyi, ilham, inspirasi dan bisikan ke dalam hati baik dalam tidur maupun ketika terjaga.
Syekh Mufid berkata, "kaum muslimin sepakat bahwa ibu nabi Musa diberikan wahyu apakah ketika terjaga ataukah ketika tidur."

4. Isyarah

Allah Swt berfirman dalam surah Maryam ayat 10-11, "Zakaria berkata: ya Allahku berilah aku suatu tanda Allah berfirman  tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapaat bercakap-ccakap dengan manusia selama tiga malam padahal kamu sehat. maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya lalu ia memberi isyaraat kepadamereka hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang."
Pada ayat lain dinukilkan kisah Nabi Zakaria As pada surah Ali Imran ayat 41, "Berkata Zakaria berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung) Allah berfirman : tandanya bagimu kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari."
Dalam kedua ayat tersebut yang memberikan wahyu adalah Nabi Zakaria As  dan penerima wahyu adalah kaumnya, wahyu adalah memberikan pemahaman dalam bentuk isyarat dimana hanya orang yang diajak bicara saja yang bisa memahaminya.

5. Wahyu kepada hawariyyun (pengikut khusus Nabi Isa As)

Allah Swt berfirman dalam surah al-Maidah ayat 111, "Dan ingatlah ketika Aku ilhamkan kepada pengikut nabi isa as yang setia: " berimanlah kamu kepadaKU dan kepada rrrasulKu". Mereka menjawab : " kami telah beriman dan saksikanlah wahai rasul bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang patuh (kepada seruanmu)."
Pemberi wahyu dalam ayat ini adalah Allah swt dan penerima wahyu adalah Hawariyyun dan sahabat nabi Isa as. Sebagain penafsir memberikan kemungkinan yang dimaksud hawariyyun adalah nabi juga. Oleh karena itu, wahyu mereka terima termasuk dalam wahyu istilah. Akan tetapi karena kenabian mereka belum bisa dibuktikan maka wahyu dalam ayat tersebut bermakna bisikan yang diinspirasikan dan diilhamkan ke dalam hati.

6. Wahyu kepada Malaikat

Allah Swt berfirman dalam surah al-Anfal ayat 12, "Ingatlah ketika Allahmu mewahyukan kepada para malaikat: "sesungguhnya aku bersama kamu, maka teguhkanlah pendirian orang-orang yang telah beriman".  kelak akan jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir maka penggallah kepala mereka dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka."
Dalam ayat di atas disebutkan bahwa pemberi wahyu adalah Allah swt dan penerima wahyu adalah para malaikat, akan tetapi bukan wahyu kenabian dan bukan juga dengan perantaraan suara dan percakapan, karena para malaikat bukan makhluk jasmani.

7. Wahyu dari Setan

Allah Swt berfirman dalam surah al-An'am ayat 121, "Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang musyrik."
Dalam surah al An'am ayat 112 disebutkan, "Dan demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari jenis manusia dan dari jenis jin sebagian dari mereka membisikkan atas sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu, jikalau Allahmu menghendaki niscaya mereka tidak megerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan."
Pemberi wahyu dalam ayat di atas adalah setan dari jin dan manusia yang membisikkan sesuatu yang menyesatkan. Oleh karena itu, wahyu bermakna pembicaraan rahasia dan rasa was was yang dibisikkan ke teliga yang lain. Karena setan dari jin dan manusia adalah pemberi wahyu yang menghembuskan rasa was-was ke dalam hati manusia dan menyesatkannya.

8. Wahyu kepada Para Nabi

Sekalipun dalam al-Quran kata wahyu digunakan untuk selain para nabi sebagaimana telah kami sebutkan, akan tetapi mayoritas kata wahyu tersebut digunakan untuk para nabi. Sebagai contoh, Allah Swt berfirman dalam surah an-Nisa  ayat 163, "Sesungguhnya kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami telah berikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi kemudiannya, dan kami telah berikan wahyu pula kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'qub dan anak-anak cucunya. Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan sulaiman. Dan kami berikan Zabur kepada Daud."
Dan dalam surah Yusuf ayat 3, "Dan kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan al quran kepadamu dan sesungguhnya kamu sebelum (kami mewahyukannya) adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui."
Begitu pula dalam surah al-An'am ayat 19 disebutkan, "Katakanlah siapakah yang lebih kuat persaksiannya? Katakanlah: Allah" dia menjadi saksi antara aku dan kamu dan al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya Dia dengan aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Quran kepadanya."
Puluhan ayat akan kami paparkan dalam pembahasan yang akan datang. Dalam hal ini, pemberi wahyu adalah Allah Swt dan penerima wahyu adalah para nabi. Wahyu adalah pengetahuan dan berita yang diturunkan oleh Allah Swt untuk manusia. Sekalipun dari segi bahasa wahyu adalah bisikan dan inspirasi yang diberikan kepada orang yang diajak bicara secara sembunyi dan cepat serta memiliki makna yang sangat luas, namun wahyu yang diberikan kepada para nabi memiliki perbedaan yang esensial dimana akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya.

Istilah Wahyu

Sepanjang sejarah, Para nabi mengaku bahwa mereka memiliki hubungan langsung dan khusus dengan Tuhan, mereka menerima hakikat di mana manusia biasa tidak akan mampu menampungnya. Para nabi melihat dan mendengar suara Malaikat sang pembawa wahyu dengan indra-indra batin. Dan para nabi bertugas untuk menyampaikan berita dan perintah Tuhan kepada umat manusia, membimbing dan memberi petunjuk kepada hamba-hamba-Nya. Hubungan khusus yang bersifat rahasia itu, dalam istilah, disebut sebagai wahyu.
Syekh Mufid menyatakan, "Ketika wahyu dinisbahkan kepada Tuhan, dalam istilah Islam, maka wahyu itu hanyalah dikhususkan kepada para nabi As."
Hamu menuliskan, "Terkadang Tuhan mengispirasikan sesuatu kepada sebagian manusia dalam keadaan tidur dan kemudian hal tersebut benar-benar terjadi, maka inspirasi ini dalam terminologi Islam tidak disebut wahyu. Dengan demikian, tidak dikatakan bahwa fulan telah mendapatkan wahyu. Kami meyakini bahwa para imam suci menerima ilmu akan tetapi tidak disebut sebagai wahyu, hal ini karena kaum muslimin sepakat bahwa pasca Nabi Muhammad saw tidak turun lagi wahyu kepada seorangpun."
Telah banyak defenisi wahyu yang telah dikemukakan, akan tetapi bukanlah defenisi yang bersifat hakiki. Pada dasarnya, kita mustahil mendefenisikan wahyu dari segi hakikatnya, karena wahyu bukanlah sejenis hubungan biasa sehingga kita bisa memahaminya kemudian mendefenisikannya.
Allamah Thabathabai mengungkapkan, "Wahyu ialah sejenis makrifat dan pengetahuan khusus di dalam batin para nabi dimana tak seorangpun bisa mengetahuinya kecuali dengan bantuan dan inayah Tuhan."
Lebih lanjut dia katakan, "Wahyu ialah perkara yang sangat ajaib, sejenis persepsi-persepsi batin, dan pengetahuan yang sangat simbolik dimana tidak terjangkau oleh indra-indra lahiriah."
Dan Muhammad Farid berkata, "Wahyu adalah pengajaran Tuhan kepada para nabi  dengan perantaraan malaikat mengenai perkara-perkara agama.
Muhammad Rasyid Ridha berkata, "Mereka mendefenisikan wahyu sebagai pengajaran Tuhan tentang hukum agama kepada salah seorang nabi, akan tetapi saya mendefenisikan wahyu sebagai sebuah bentuk pengetahuan dimana seseorang mendapatkannya dalam dirinya sendiri dan meyakini bahwa hal tersebut dari Tuhan baik dengan perantara ataupun tanpa perantara."
Zarqani menulis, "Wahyu dalam defenisi agama adalah bahwa Tuhan menginformasikan apa-apa yang hendak diajarkan kepada hamba-hamba pilihan-Nya namun dengan cara rahasia dan tersembunyi."
Dalam agama Kristen, John Hick mendefiniskan wahyu sebagai berikut, "Wahyu adalah kumpulan hakikat-hakikat yang termanifestasikan dalam bentuk hukum-hukum dan proposisi-proposisi. Dengan perantaraan wahyu, perkara-perkara hakiki dan pengetahuan Ilahi berpindah kepada manusia."
Dalam Eksiklopedia Katolik disebutkan, "Wahyu didefenisikan sebagai perpindahan sebagian hakikat-hakikat dari Tuhan kepada makhluk yang berakal melalui suatu perantaraan yang dalam bentuk suatu proses alami.
Sementara dalam Kitab Muqaddas tertera, "Pada umumnya, yang dimaksud dengan wahyu adalah ilham."
Sebagaimana anda perhatikan bahwa semua defenisi yang kami telah kemukakan itu tidaklah menjelaskan hakikat wahyu, akan tetapi hanyalah penjelasan yang bersifat semantik.
Poin penting yang harus disampaikan adalah kata "wahyu" telah digunakan di tiga tempat :
1.  Bermakna mengirim wahyu dimana merupakan sifat dari pemberi wahyu;
2.  Bermakna pengetahuan dan pemahaman atas sesuatu, yakni sebagai sifat dari penerima wahyu;
3.  Bermakna diwahyukan yakni hasil dari perbuatan Tuhan dan para nabi dimana merupakan sifat dari ilmu-ilmu, pengetahuan-pengetahuan, dan hukum-hukum agama. Maka dalam hal ini, al-Quran digolongkan sebagai wahyu.

.Qs. Al-Baqarah: 23
.Qs. yunus: 37-38
.Qs. Isra: 88
.Qs. Yunus: 15-16
.Qs. A'raf: 203
.Qs. Haqqah: 40-46
.Al-Mufradat, kata Wahyu.
.An-Nihayah, jilid 5, hal. 143.
.Tashhihul 'Itiqad, hal. 120.
.Al-Mizan, jilid 18, 76.
.Ruhul Bayan, jilid 8, hal. 344.
.Qs. An-Nahl: 68.
.Tashhihul 'Itiqad, hal. 121.
.Qs. Fushshilat: 11-12.
.Qs. Zalzalah: 1-5.
.Qs. Thaha: 38.
.Qs. Qashash: 7
.Tashihihul 'Itiqad, hal. 121.
.Tashhihul 'Itiqad, hal. 120.
.Ibid, hal. 121.
.Al-Mizan, jilid 2, hal. 159.
.Ibid, hal. 160.
.Dairatul Ma'arif al-Qarn al-'Isyrina, jilid 1, hal. 707.
.Al-Wahy al-Muhammady, hal. 44.
. Manahilul 'Irfan fi Ulumul Quran, hal. 56.
.Falsafe-ya Din, hal. 119
Enhanced by Zemanta
Post a Comment