Tuesday, October 2, 2012

Kalam terdalam 5 s/d 8

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Kalam terdalam (5)


Tak ada “pesta pora” dan kenikmatan di dalam surga setelah kemunculan-Ku di sana, dan tak ada kesendirian, kesengsaraan dan kebakaran di dalam neraka setelah sapaan-Ku kepada para penghuninya.
(Maksudnya : keinginan dan kenikmatan terbesar manusia di alam akhirat itu hanyalah perjumpaan dengan Allah swt. maka kenikmatan di dalam surga dan kesengsaraan di dalam neraka tidak akan

terasa jika dihadapkan pada kenikmatan perjumpaan dengan Allah swt, meski itu hanya dalam bentuk sapaan belaka) Jangan peduli pada surga dan apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara. Dan jangan peduli pada neraka serta apa yang ada di sana, maka engkau akan melihat Aku tanpa perantara.
Para penghuni surga disibukkan oleh surga, sebagian penghuni surga berlindung dari kenikmatan didalamnya, dan para penghuni neraka disibukkan oleh-Ku, sebagian penghuni neraka berlindung dari jilatan api.
(Maksudnya : Penghuni surga yang berlindung dari kenikmatan, mereka terlena sehingga lupa akan kenikmatan yang paling besar, yakni perjumpaan dengan Allah swt)

Sesungguhnya Aku memiliki hamba-hamba “Khusus” yang Derajat mereka tidak diketahui oleh siapapun dari penghuni dunia maupun penghuni akhirat, dari penghuni surga ataupun neraka, tidak juga malaikat malik ataupun ridwan, karena Aku tidak menjadikan mereka untuk surga maupun untuk neraka, tidak untuk pahala ataupun siksa, tidak untuk bidadari, istana maupun pelayan-pelayan mudanya. Maka beruntunglah orang yang mempercayai mereka…
Di antara tanda-tanda mereka di dunia adalah :
Tubuh-tubuh mereka terbakar karena sedikitnya makan dan minum,

Nafsu mereka telah hangus dari syahwat,

Hati mereka telah hangus dari pikiran dan perasaan buruk,

Ruh-ruh mereka juga telah hangus dari pandangan yang melalaikan.

Mereka adalah pemilik ke-Abadi-an yang terbakar oleh Cahaya perjumpaan.



Kalam terdalam (6)
  Tak seorang pun dari ahli maksiat yang jauh dari-Ku, dan tak seorangpun dari ahli ketaatan yang dekat dari-Ku.”
(Maksudnya, walaupun seseorang termasuk ahli maksiat, Allah swt, tetap dekat dengannya sehingga jika ia mau bertobat, Allah swt pasti menerimanya. Dan janganlah seorang yang taat menyombongkan diri atas ketaatannya, karena dengan begitu ia justru akan semakin jauh dar

i Allah swt, memiliki perasaan kekurangan dan penyesalan itulah yang menyebabkan seseorang dekat kepada Allah swt) Kalangan maksiat, yang merasa memiliki kekurangan dan rasa penyesalan maka ia dekat dengan-KU
Merasa memiliki kekurangan merupakan sumber cahaya, dan mengagumi cahaya diri sendiri merupakan sumber kegelapan.

Ahli ketaatan selalu mengingat kenikmatan, dan ahli maksiat selalu mengingat Yang Maha Pengasih
Aku Dekat dengan pelaku maksiat setelah ia berhenti dari kemaksiatannya, dan Aku Jauh dari orang yang taat setelah ia berhenti dari ketaatannya

Ahli maksiat akan tertutupi oleh kemaksiatannya, dan ahli taat akan tertutupi oleh ketaatannya.

Dan Aku memiliki hamba-hamba selain mereka, yang tidak ditimpa kesedihan maksiat dan keresahan ketaatan.

Sampaikan kabar gembira ini kepada para pendosa tentang adanya keutamaan, kemurahan dan ampunan dan sampaikan berita kepada para pengagum diri sendiri tentang adanya keadilan dan pembalasan.


Kalam terdalam (7)

“Katakan kepada para sahabatmu, siapa di antara mereka yang ingin sampai kepada-Ku, maka ia harus keluar dari segala sesuatu selain Aku”
“Keluarlah dari batas dunia, maka engkau akan sampai ke akhirat, dan keluarlah dari batas khirat, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”

“Keluarlah engkau dari raga dan jiwamu, lalu keluarlah dari hati dan ruhmu, lalu keluarlah dari hukum dan pe

rintah, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”
……………………………………….
“Wahai Tuhanku, shalat seperti apa yang paling dekat dengan-Mu ?.”
“Shalat yang di dalamnya tiada apapun kecuali Aku, dan orang yang melakukannya “lenyap” dari shalatnya dan tenggelam karenanya.”

(Maksudnya : niat dan perhatian si pelaku shalat hanya tertuju kepada Allah swt, fokusnya bukan lagi penampilan fisik maupun gerakan-gerakan, melainkan kepada makna batiniah shalat itu)

“Wahai Tuhanku, puasa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Puasa yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, dan orang yang melakukannya “lenyap” darinya”

“Wahai Tuhanku, amal apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Amal yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, baik itu (harapan) surga ataupun (ketakutan) neraka, dan pelakunya “lenyap” darinya.”

“Bila engkau ingin memandang-Ku di setiap tempat, maka engkau harus “lenyap” (kosongkan hati dari selain Aku)”
“Wahai Tuhanku, tangisan seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Tangisan orang-orang yang tertawa.”

“Wahai Tuhanku, tertawa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?”
“Tertawanya orang-orang yang menangis karena bertobat.”

“Wahai Tuhanku, tobat seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Tobatnya orang-orang yang suci.”

“Wahai Tuhanku, kesucian seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Kesucian orang-orang yang bertobat.”

“Wahai Tuhanku, apa ilmunya ilmu itu ?.”
“Ilmunya ilmu adalah ketidaktahuan akan ilmu.”

Pencari ilmu di mata-Ku tidak mempunyai jalan kecuali setelah ia mengakui kebodohannya, karena jika ia tidak melepaskan ilmu yang ada padanya, ia akan menjadi “setan”
(Maksudnya : Ilmu yang sesungguhnya adalah yang ada di sisi Allah swt, sementara ilmu yang kita miliki hanyalah semu dan palsu… Selama manusia tidak melepas kepalsuan itu, ia tidak akan menemukan ilmu sejati… Ilmu sejati tidak akan berlawanan dengan perbuatan… “Setan” adalah contoh pemilik ilmu yang perbuatannya berlawanan dengan ilmu yang dimilikinya) 

 

Kalam terdalam (8)

“Wahai Tuhanku, apa makna kerinduan ?”
Engkau mesti merindukan-Ku dan mengosongkan hatimu dari selain Aku. jika engkau mengerti bentuk kerinduan maka engkau harus lenyap dari kerinduan, karena ia merupakan penghalang antara si perindu dan yang dirindukan.
Bila engkau berniat melakukan tobat, maka pertama kali engkau harus bertobat dari nafsu, lalu mengeluarkan pikiran dan pe
rasaan buruk dari hati dengan mengusir kegelisahan dosa, maka engkau akan sampai kepada-Ku. Dan hendaknya engkau bersabar, karena bila tidak bersabar berarti engkau hanya bermain-main belaka. Perjuangan spiritual (mujahadah) adalah salah satu lautan di samudera penyaksian (musyahadah) dan telah dipilih oleh orang-orang yang sadar.
“Barangsiapa hendak masuk ke samudera musyahadah, maka ia harus memilih mujahadah, karena mujahadah merupakan benih dari musyahadah dan musyahadah tanpa mujahadah adalah mustahil”.
“Barangsiapa telah memilih mujahadah, maka ia akan mengalami musyahadah, dikehendaki atau tidak dikehendaki.”
(Maksudnya : Mujahadah adalah perjuangan spiritual dengan cara menekan keinginan-keinginan jasmani, nafsu, dan jiwa, agar tunduk di bawah kendali ruh kita. Musyahadah adalah penyaksian akan kebesaran dan keagungan Allah swt, melalui tanda-tanda keagungan-Nya di alam ini)

Para pencari jalan spiritual tidak dapat berjalan tanpa mujahadah, sebagaimana mereka tak dapat melakukannya tanpa Aku.
Berbahagialah seorang hamba yang hatinya condong kepada mujahadah, dan celakalah bagi hamba yang hatinya condong kepada syahwat.



Enhanced by Zemanta
Post a Comment