Friday, September 14, 2012

Tiga Derajat Ilmu

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Ilmu itu bermacam-macam. Dilihat dari berbagai segi, ilmu itu dapat dikelompokkan mencadi berbagai macam kelompok. Dari keseluruhan ilmu itu dapat dikelompokkan menjadi tiga derajat, yaitu sebagai berikut.
1. Ilmu Jaly (Ilmu yang Nyata)

Yaitu, ilmu yang tampak oleh mata, bisa didengar, dan disebar secara benar, serta juga benar berdsarkan eksperimen. Ilmu yang nyata artinya tidak tersembunyi, yang terdiri dari tiga jenis, yaitu:
  • yang bisa diterima penglihatan mata;
  • yang disandarkan kepada pendengaran, yang juga disebut ilmu penyebaran; dan
  • yang disandarkan kepada akal, yang juga disebut ilmu eksperimen.

    Tiga jalan ini (penglihatan, pendengaran, dan akal) merupakan jalan ilmu dan pintu-pintunya. Tetapi, sebenarnya jalan ilmu tidak terbatas pada tiga hal ini. Sebab, setiap indra bisa mendatangkan ilmu dan menjadi jalannya.

    Perbedaan ilmu dengan makrifat, bahwa makrifat mrupakan inti ilmu. Penisbatan ilmu dengan makrifat seperti penisbatan iman dengan ihsan. Makrifat merupakan ilmu khusus, kaitan makrifat lebih tersembunyi daripada kaitan ilmu. Pengungkapan makrifat lebih sempurna daripada pengungkapan ilmu.

2. Ilmu Khafy (Ilmu yang Tersembunyi)

Yaitu, yang tumbuh di dalam rahasia-rahasia yang suci dari badan yang suci pula, karena disirami air latihan yang murni, tampak dalam napas-napas yang benar, dimiliki orang-orang yang mempunyai hasrat yang tinggi, pada saat-saat yang senggang. Ini merupakan ilmu yang menampakkan hal yang gaib, meniadakan yang ada danmengisyaratkan perpaduan.

Ini merupakan ilmu yang tersembunyi bagi orang-orang yang ada pada derajat pertama, yang disebut makrifat.

Makna rahasia di sini bisa berarti roh, bisa berarti Allah, dan bisa berarti apa yang tersembunyi antara hamba dan Allah. Dikatakan rahasia-rahasia yang suci karena ia suci dari kekotoran dunia dankesibukannya yang bisa menghambat roh dari tempatnya yang menyenangkan. Makna badan yang suci ialah yang suci karena ketaatan kepada Allah, dan yang tumbuh karena makanan yang halal. Selagi badan terbebas dari hal-hal yang haram dankotor, yang dilarang agama, akal dansifat kesatria, tentu hati akan menjadi suci, sehingga ia bisa ditaburi benih ilmu dan makrifat. Jika kemudian disirami dengan air latihan dan penempaan yang sesuai dengan syariat, orangnya bisa memetik hasil dan manfaat yang banyak.

Hal tersebut di atas akan tampak dalam napas-napas, maksud napas di sini ialah napas zikir dan makrifat atau napas cinta dan kehendak. Adapun napas yang benar ialah kebebasannya dari noda dan kotoran keduniaan. Maksud orang-orang yang memiliki hasrat yang tinggi ialah yang tidak bergantung kepada selain Allah, tidak menuju selain Allah dalam perjalanannya. Dalam hal ini seseorang tidak menggantungkan hidupnya, kecuali hanya kepada Allah. Adapun hasrat yang paling tinggi ialah yang berkaitan dengan Allah Yang Maha Tinggi. Adapun hasrat yang paling luas ialah yang berkaitan dengan kemaslahatan hamba. Ini merupakan hasrat para rasul dan pewaris mereka. Adapun maksud saat-saat senggang adalah saat-saat yang suci bersama Allah, waktu-waktu bermunajat kepada Allah. Adapun menampakkan yang gaib artinya mengungkap sesuatu yang gaib sehingga dapat mengetahui. Meniadakan yang ada artinya meniadakan kesaksian terhadap hal-hal selain Allah.

3. Ilmu Ladunny

Jalan ilmu ini adalah keberadaannya; pengetahuannya adalah kesaksiannya; sifatnya adalah hukumnya. Antara ilmu ini dan antara yang gaib tidak ada hijab.

Ilmu laduni diisyaratkan kepada ilmu yang diperoleh hamba tanpa menggunakan sarana tetapi berdsarkan ilham dari Allah, yang diperkenalkan oleh Allah kepada hamba-Nya, seperti ilmu Khidhir yang diperoleh tanpa sarana, seperti halnya Musa.

Allah SWT berfirman yang artinya,
"Telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65).

Ada perbedaan antara rahmat dan ilmu. Keduanya dijadikan berasal dari samping Allah dan dari sisi Allah, karena memang keduanya tidak diperoleh begitu saja oleh hamba. Kata
min ladunhu lebih khusus dan menunjukkan jarak yang lebih dekat daripada kata min indihi, yang keduanya sama-sama berarti dari sisi-Nya. Maka dari itu, Allah SWT berfirman, "Dan, katakanlah, 'Ya Robi, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong'." (Al-Isra': 80).

Min ladunhu berupa kekuasaan yang menolong, sedangkan min indihi berupa pertolongan yang diberikan kepada orang-orang mukmin.

Ilmu laduni merupakan buah ubudiah, kepatuhan, kebersamaan dengan Allah, ikhlas karena-Nya, dan berusaha mencari ilmu dari misykat Rasul-Nya, serta ketundukan kepada beliau. Dengan begitu, seorang hamba akan dibukakan kepadanya pemahaman Alquran dan sunah, yang biasanya dikhususkan pada perkara tertentu.

Ali bin Abu Thalib r.a. pernah ditanya seseorang,
"Apakah Rasulullah saw. memberikan kekhususan tertentu tentang suatu perkara kepada kalian, yang tidak diberikan kepada selain kalian?" Maka, dia menjawab, "Tidak! Demi yang membelah biji-bijian dan menghembuskan angina, selain dari pemahaman Alquran yang diberikan Allah kepada hamba-Nya."

Itulah yang disebut ilmu laduni yang hakiki, yaitu ilmu yang datang dari sisi Allah, ilmu tentang pemahaman kitab-Nya. Adapun ilmu yang menyimpang dari Alquran dan sunah tidak diikat dengan keduanya, maka itu datang dari hawa nafsu dan setan beserta seluruh jajarannya. Memang bisa saja disebut ilmu laduni tetapi dari sisi siapa? Suatu ilmu bisa diketahui sebagai ilmu laduni jika ia sesuai dengan apa yang dibawa Rasulullah saw., yang berasal dari Allah. Jadi ilmu laduni ada dua macam: dari sisi Allah dan dari sisi setan. Materinya disebut wahyu. Sementara, tidak ada wahyu setelah Rasulullah saw.

Tentang kisah Musa denan Khidhir bisa dijelaskan sebagai berikut. Musa tidak diutus sebagai rasul kepada Khidhir dan Khidhir tidak diperintahkan untuk menjadi pengikut Musa. Andaikan Khidhir diperintahkan menjadi pengikut Musa, tentunya Khidhir diperintahkan untuk mendatangi Musa dan hidup bersama beliau. Karena itu, Khidhir bertanya kepada Musa,
"Kamukah Musa, nabi Bani Israel?" Musa menjawab, "Ya."

Adapun Muhammad saw. diutus untuk semua manusia sejak ia diutus. Risalah beliau diperuntukkan bagi jin dan manusia di setiap zaman. Andaikan Musa dan Isa masih di dunia ini, tentu keduanya menjadi pengikut beliau. Andaikan Isa bin Maryam turun ke bumi, tentu Isa akanmenerapkan syariat Muhammad saw. Oleh karena itu, siapa yang berangapan bahwa Isa dengan Muhammad sama seperti Musa dengan Khidhir, atau memperbolehkan anggapan seperti ini, maka hendaklah dia memperbarui Islamnya dan mengucapkan syahadat sekali lagi secara benar. Karena, dengan anggapan seperti itu, dia telah keluar dari Islam secara total, dan sama sekali tidak bisa disebut wali Allah tetapi wali setan.

Maksud perkataan "pengetahuannya adalah kesaksiannya" adalah bahwa ilmu ini tidak bisa diambil dengan pemikiran dan kesimpulan tetapi dengan melihat dan menyaksikannya.

Maksud perkataan "sifatnya adalah hukumnya" adalah bahwa sifat-sifatnya tidak bisa diketahui kecuali dengan hukum-hukumnya, sifatnya terbatas pada hukumnya, saksinya adalah hukumnya. Hukum ini merupakan dalil, sehingga antaranya dan hal-hal yang tidak tampak tidak ada hijab, berbeda dengan ilmu-ilmu lain.

Inilah yang diisyaratkan orang-orang bahwa ilmu ini merupakan cahaya dari sisi Allah, yang mampu menghapus kekuatan indra dan hukum-hukumnya. Inilah makna yang diisyaratkan dalam firman Allah dalam hadis Qudsi,
"Jika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat …." Ilmu laduni yang datang dari Allah merupakan buah cinta tersebut, yang muncul karena menggiatkan mengerjakan yang sunah-sunah setelah yang fardu (wajib).

Adapun ilmu laduni yang datang dari setan merupakan buah berpaling dari wahyu, mementingkan hawa nafsu dan memberi kekuasaan kepada setan. Ilmu yang diperolehnya itu dengan cara yang tidak sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Sumber: Diadaptasi dari Madaarijus Saalikiin baina Manaazili Iyyaaka Na'budu wa Iyyaaka Nasta'iin, Syekh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
Post a Comment