Thursday, September 20, 2012

Cinta Sejati Manusia kepada Tuhan-Nya

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Kalimat cinta yang penuh keyakinan terucap sebagai upaya pembuktian cinta seseorang kepada pasangannya bahkan menjadi senjata andalan untuk meluluhlantakkan hati sang kekasih. Tentunya sebuah fenomena yang lumrah, sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an surat Ali Imron ayat 14, yang artinya : ”Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
Cinta akan kehidupan dunia ini merupakan fitrah manusia sebagai makhluk berakal yang mempunyai nafsu dan perasaan. Keinginan untuk memiliki, rasa sosial yang tinggi, sympathetic and empathy, congeniality serta berbagai emotion kepribadian lainnya merupakan faktor seseorang untuk mengagungkan cinta. Dan Abu hamzah, anas bin malik ra. menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "tidak sempurna iman seseorang diantara kalian sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”(HR bukhari dan muslim). Sudah barang tentu jika cinta menjadi hangat diperbincangkan dan begitu indah bila dinikmati sehingga membuat manusia lebih sempurna dari makhluk-makhluk Allah lainnya. Namun harus diketahui cinta yang ada di muka bumi ini hanyalah sesaat dan bukanlah Cinta Sejati. Cinta setiap manusia di dunia dapat hancur karena perubahan waktu, dapat pupus oleh hembusan globalisasi, dapat redup oleh himpitan ekonomi dan bahkan sering terombang-ambing oleh tuntutan nafsu. Telah banyak manusia yang terjebak dalam kubangan cinta semu dan teramat mendewakannya, sehingga mereka tidak mendapatkan kedamaian buah cinta itu sendiri karena melupakan hakikat cinta yang telah dibawanya sejak lahir ke dunia fana ini. Senada dengan Kalammullah pada Al Qur’an surat An Nahl ayat 107, yang berarti : “Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka (manusia) mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.”
Apakah Cinta Sejati itu? Salah satu definisi dikemukakan oleh M Scott Peck dalam The Road Less Travelled, mendefinisikan cinta sebagai “kemauan untuk mengembangkan diri sendiri dengan maksud memelihara pertumbuhan spiritual diri sendiri atau perkembangan spiritual orang lain,” dengan demikian cinta sangat erat berhubungan dengan nilai-nilai spiritual yang benar. Cinta Sejati hanya milik dzat yang senantiasa menjaga cinta-Nya selama 24 jam, selalu mendampingi cinta-Nya kemanapun pergi, melindungi cinta-Nya siang-malam tanpa sedikitpun tidur, mengetahui apapun yang terjadi pada cinta-Nya, serta kasih sayang yang tidak terhinggakan kepada kehidupan ini. Cinta Sejati abadi keberadaannya, selalu memberikan jalan terang bagi kehidupan, senantiasa menciptakan kedamaian bagi penerimanya, takkan punah oleh perkembangan zaman dan tidak akan hancur bersama kiamat. Cinta Sejati menjanjikan kepastian tanpa sedikit keraguan dalam misinya, dan orang-orang beriman terdahulu telah berseru demi keagungan Cinta Sejati sebagaimana yang tertuang dalam Al Qur’an surat Ali Imron ayat 31, artinya : “Katakanlah : "Jika kamu  mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Senada yang disampaikan Rasulullah dalam hadistnya, yang artinya: sesungguhnya Allah ta'ala berfirman pada hari kiamat : Mana orang yang saling mencintai karena kebesaran Ku, hari ini Aku akan menaungi mereka pada saat tidak ada naungan selain naungan-Ku (HR muslim). Cinta Sejati adalah cinta Allah kepada ciptaan-Nya yang tidak terbandingkan oleh apapun di jagat raya ini dan menjanjikan keselamatan dunia-akhirat bagi kehidupan seluruh makhluk hidup ciptaan-Nya. Dan janji Allah adalah benar layaknya cinta-Nya yang begitu indah kepada umat manusia sejak manusia pertama, nabi Adam as hingga manusia yang paling akhir kelak yang akan lahir di bumi Allah ini.
Cinta Sejati hanya milik Allahusshomad, tempat makhluk hidup berharap dan berserah. Allah yang telah menciptakan dan menjaga kehidupan ini siang dan malam, memberikan limpahan nikmat tak terhitung berupa napas dan lainnya, mengampuni kekhilafan manusia yang selalu khufur pada kasih sayang-Nya, melimpahkan rizki tak terhingga bagi setiap hamba-Nya dan masih teramat besar anugerah yang tidak sanggup ditulis oleh siapapun makhluk ciptaan-Nya. Allah tidak pernah lelah mengatur kehidupan ini, Allah tidak menghitung apa yang telah diberikan kepada umat manusia, Allah tidak pernah sedikitpun merugi atas ulah hamba-hamba yang lalai, Allah tidak takut ditinggalkan siapapun karena Allah dapat melakukan apapun yang dikehendaki-Nya. Dalam Al Qur’an surat Al Maa’idah ayat 54, Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agama-Nya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya  kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas, lagi Maha Mengetahui.”
            Cinta Sejati tidak akan dimiliki manusia, namun dapat dirasakan oleh siapapun hamba-Nya yang senantiasa mendekatkan diri ke haribaan-Nya. Hadist Rasulullah yang artinya “Siapa yang ingin merasakan lezatnya iman maka cintailah seseorang hanya karena Alloh” (HR Muslim). Cinta Sejati Allah akan mengantarkan manusia pada tempat yang mulia dan berhak menempati jannah-Nya, hal ini tertuang dalam sabda nabi Muhammad SAW, yang artinya : “Layak mendapatkan cinta-Ku bagi orang yang saling mencintai karena-Ku. Orang yang saling mencintai karena-Ku(di hari kiamat) akan ditempatkan di menara dari cahaya, tempat yang diingini oleh para nabi, orang-orang yang benar dan para syuhada” (Shahih jami). Sungguh besar Cinta Sejati Allah, namun kesombongan manusia selalu saja menghiasi perputaran zaman. Dengan mengatasnamakan Cinta Sejati, manusia berupaya menghalalkan beragam bentuk percintaan demi pencapaian kepuasaan pribadi. Manusia terlalu jauh dari layak jika mengatakan mampu memberikan Cinta Sejati, karena cinta manusia hanyalah cinta materi yang akan lenyap seiring berputarnya jagat. Allah telah memperingatkan manusia dalam ayat-ayat suci-Nya, diantaranya dalam QS.  Al Qiyaamah : 20, QS. Al Fajr : 20, QS. Al ‘Aadiyat : 8, intinya cinta manusia di dunia semata-mata karena kebendaan bukan karena Allah subhanahu wa ta’ala. Dan Rasulullah telah memperingatkan setiap manusia akan godaan cinta dunia yang tertuang dalam hadistnya yang berarti : “Dunia ini cantik dan hijau. sesungguhnya Alloh menjadikan kamu kholifah dan Alloh mengamati apa yang kamu lakukan, karena itu jauhilah godaan wanita dan dunia, Sesungguhnya fitnah pertama yang menimpa bani israil adalah godaan kaum wanita. (HR.Ahmad)           
Sungguh manusia sangat bergantung akan cinta Allah, semestinya mereka memerankan cinta titipan-Nya dengan aturan yang telah tertera dalam Al Qur’an dan telah dicontohkan tuntunan-Nya itu oleh tauladan Rasulullah saw sebagai kekasih Allah. Dan setiap manusia berhak menjadi kekasih-kekasih Allah selanjutnya, bila mampu menghidupkan sunnah dan meneladani budi pekerti Muhammad saw sebagai manusia paling mulia sepanjang zaman. Dengan keterbatasan manusia sebagai makhluk yang penuh kelemahan dan tak luput dari kekhilafan, setiap manusia masih merasakan agungnya Cinta Sejati Allah dengan limpahan rahmat yang diantaranya adalah kesempatan hidup di bumi ini. Dari Abu Hurairah ra. ia berkata ; Rasulullah saw bersabda: “tatkala Alloh menciptakan makhluk, ia menulis pada suatu  kitab, kitab itu berada di sisi-Nya di atas "Arasy, bertuliskan ; Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku” (Hr Bukhari dan muslim). Subhanallah!!! Dan Dari Umar bin Khathab ra  ia berkata ; beberapa orang  tawanan dihadapkan kepada Rasulullah saw, tiba-tiba ada seorang wanita dalam tawanan itu bingung mencari anaknya, setiap ia melihat anak kecil dalam rombongan tawanan itu diangkatkan dan disusuinya. Kemudian Rasulullah saw bertanya; “Apakah kamu berpendapat bahwa perempuan  ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab; “Demi Alloh tidak, Beliau bersabda; “Alloh lebih sayang kepada hamba-Nya melebihi sayangnya perempuan itu kepada anaknya.” (Hr Bukhari dan muslim).
Kesimpulannya wahai saudaraku!!! Janganlah kita selalu terbelenggu oleh cinta sesaat alam fana ini dan jangan pula kita tebarkan cinta yang bukan karena Allah swt. Bolehlah kita menaruh cinta akan keagungan ciptaan-Nya di sekitar hidup kita, namun semua itu tetap kita bulatkan niat demi mendapat ridho, untuk merasakan Cinta Sejati sebagaimana yang dirasakan umat-umat pilihan Allah sebelum kita. Mari bersama kita tebarkan virus-virus cinta akan kedamaian, cinta akan kehidupan bermartabat, cinta akan lautan kasih sayang dan ayat-ayat cinta Allah lainnya yang telah dititipkan kepada Rasulullah saw, sehingga rahmat Allah menyertai kehidupan kita dalam masyarakat berbangsa dan beragama..  WALLAHU A’LAM BI SHOWAB.
Post a Comment