Tuesday, September 18, 2012

Amalan Thariqat Tijaniyah

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Amalan wirid dalam thariqat tijaniyah terdapat tiga unsur pokok, yaitu istighfar, shalawat dan dzikir {tahlil}.
Ketiga unsur inti dzikr dalam Thariqat Tijaniyah —istighfar, shalawat dan tahlil— adalah substansi dalam kerangka teori tasawuf yang menjadi kerangka yang saling berkesinambungan dalam proses-proses pencapaiannya. Istighfar pada intinya menjadi proses upaya menghilangkan noda-noda rohaniah dan menggantinya dengan nilai-nilai suci. Sebagi tahap pemula dan sarana untuk memudahkan sasaran pendekatan diri kepada Allah. Shalawat, sebagai unsur kedua, menjadi materi pengisian setelah penyucian jiwa yang mengantarkan manusia yang bermunajat mendekatkan diri kepada Allah dan menjadi media perantara antara manusia —sebagai salik— dengan Allah —sebagai zat yang dituju—. Sedangkan materi (substansi) yang sangat efektif untuk mengantarkan manusia menghadap dan menyatukan diri dengan Allah adalah kalimat dzikir yang mempunyai makna dan fungsi tertinggi di sisi Allah, yaitu Tahlil (makna lain dari inti tauhid) : Lailaha Illa Allah.
Ketiga unsur ini menunjukan struktur tahapan upaya berada di sisi Tuhan. KH. Badruzzaman mengatakan bahwa tiga unsur wirid Thariqat Tijaniyah yang dimaksud yakni istighfar, shalawat dan dzikir merupakan satu rangkaian tahap persiapan yang bersambungan. Tahap pertama : istighfar, berfungsi sebagai tahap pembersihan jiwa dari noda-noda maksiat dan perilaku yang bertentangan dengan perintah Allah swt. Pembersihan ini, sebagai tahap persiapan menuju tahap pengisian jiwa dengan rahasia-rahasia shalawat. Tahap kedua : shalawat, berfungsi sebagai cahaya penerang hati, pembersih sisa-sisa kotoran , dan pelebur kegelapan hati. Fungsi demikian sangat penting karena menjadi tahap persiapan menuju rahasia tauhid. Tahap ketiga : Tauhid (makna lain dari inti tahlil), sebagai tahap menuju berada disisi Tuhan sedekat mungkin. Oleh karena itu menurut Habib J’afar Baharun, tiga unsur wirid dalam thariqat tijaniyah ini merupakan akar yang harus dipelihara untuk bisa menumbuhkan kedekatan kepada Allah Swt.
Menurut Muhammad al-Syinqiti, dua unsur yang pertama, Istighfar dan shalawat, biasanya menjadi unsur pokok yang harus ditempuh oleh setiap murid yang menempuh jalur suluk dari thariqat mana saja di dalam setiap maqam tasawuf. Istighfar menjadi element khusus untuk menempati maqam taubat, sedangkan shalawat menjadi element khusus untuk menempati maqam istiqamah. Keduanya mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap maqam khusus lainnya yang ditempuh oleh salik (penempuh suluk) dalam suluk-nya.
Bentuk amalan wirid Thariqat Tijaniyah terdiri dari dua jenis : (1) wirid Lazimah (kewajiban), yakni wirid-wirid yang wajib diamalkan oleh setiap murid tijaniyah, tidak boleh tidak, dan yang memiliki ketentuan pengamalan dan waktu serta menjadi ukuran sah tidaknya menjadi murid tijaniyah. (2) Wirid ikhtiariyah, yakni wirid yang tidak mempunyai ketentuan kewajiban untuk diamalkan dan tidak menjadi ukuran sah atau tidaknya menjadi murid tijaniyah.
Tiga unsur amalan wirid sebagaimana disebutkan di atas, yakni istighfar, shalawat dan dzikir tersistimatisir dalam tiga jenis wirid : wirid lazimah, wadzhifah dan hailallah.



Wirid Hailallah

 Wirid hailallah, dilaksanakan satu kali dalam seminggu, yakni pada setiap hari Jum’at setelah shalat ashar dengan cara membaca dzikr لاَإِلهَ إِلاَّالله “(tidak ada Tuhan selain Allah)” atau Ism al-Dzat (الله) yang dilaksanakan secara berjama’ah sampai datangnya waktu Maghrib. Pengalokasian waktu hailallah pada hari jum’at setelah shalat ashar, berkaitan dengan waktu mustajab (saat ijabah). Dalam hadis dikatakan bahwa di akhir waktu ashar pada hari Jum’at terdapat waktu mustajab.
Apabila wirid hailallah dilakukan munfarid (sendirian) karena ada halangan, misalnya, maka harus dilaksanakan dengan ketentuan membaca dzikir sebanyak 1600 kali atau minimal 1000 kali, dan tidak di haruskan sampai datangnya waktu Maghrib.
Praktek Wirid hailallah sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid hailallah.
b. Membaca dzikir mulai selesai shalat ashar sampai waktu maghrib. Apabila dilaksanakan munfarid membaca dzikir minimal 1000x, maksimal 1600x..
Apabila dalam wirid lazimah, ditekankan untuk membersihkan diri dari segala bentuk kotoran maksiat dengan dasar amalan istighfar, kemudian membina komitmen dengan Rasul dengan jalan mengamalkan segenap sunnahnya bahkan sampai pada tingkat bisa “berhubungan” dengan Rasul secara langsung melalui amalan dasar shalawat sebagaimana terdapat dalam wirid Wadzifah, maka dalam wirid hailallah, penekanannya ditujukan terhadap amalan dzikir.
Amalan dzikir dalam hailallah dibaca oleh murid setelah bersih dan suci melalui bacaan istighfar dan setelah mendekatkan diri kepada pembimbing utama yakni Nabi Muhammad saw., selanjutnya ia menuju benteng Allah swt., dengan dzikir, tentang hal ini dalam hadis dikatakan :
اَفْضَلُ مَا قُلْتُ اَنَاوَالنَّبِيُوْنَ مِنْ قَبْلِيْ لاَاِلهَ اِلاَالله
“Seutama-seutama apa yang diucapkan olehku dan nabi-nabi sebelum aku ialah : La ilaha Illallah.”
Dalam hadis lain dikatakan :
لاَاِلهَ اِلاَالله حِصْنِيْ وَمَنْ دَخَلَ حِصْنِيْ اُمِنَ مِنْ عَذَابِيْ.
“La ilaha Illallah adalah benteng-Ku dan barangsiapa yang masuk benteng-Ku, maka dia selamat dari siksa-Ku.”
Dalam wirid hailallah, amalan dzikir mempunyai fungsi menggerakan ruh untuk membangun tauhid zauqi.
Amalan dzikir dalam hailallah mendidik murid senantiasa komitmen dengan Allah secara lahir dan batin, sehingga yang digoreskan dalam hati dan yang diucapkan oleh lisan yakni zikir, berjalan terus menerus. Hal ini dimaksudkan untuk menolak setiap goresan jelek dalam pikiran. Sehingga akhirnya, menghasilkan pikiran yang jernih (bersih) dari goresan-goresan selain Allah, akhirnya sampai pada maqam kewalian. Selanjutnya dikatakan, amalan zikir, pada dasarnya merupakan dasar-dasar amalan yang harus di kembangkan oleh para murid untuk mencapai kewalian. Hal ini, berarti bahwa inti ajaran zikir dalam thariqat tijaniyah, adalah mengarahkan murid untuk sampai pada tingkat atau derajat kewalian dan ini hanya akan dapat ditempuh setelah ia menata maqam persiapan yakni maqam Taubat yang ditekankan dalam wirid lazimah dan maqam istiqamah yang ditekankan dalam wirid Wadzifah.

 

Wirid Lazimah

Wirid Lazimah, harus dikerjakan dua kali setiap hari (pagi dan sore) dan dilaksanakan secara munfarid (perseorangan), bacaanya tidak boleh dikeraskan. Untuk waktu pagi, pelaksanaannya adalah setelah shalat subuh sampai datangnya waktu dhuha; dan untuk waktu sore, pelaksanaannya setelah shalat ashar sampai datangnya waktu shalat ‘isya. Jika ada uzur, waktu wirid Lazimah Pagi bisa dimajukan sampai datangnya waktu Magrib; sedangkan wirid lazimah sore hari bisa dimajukan sampai datangnya waktu Subuh. Amalan wirid lazimah meliputi tiga unsur bacaan : istighfar, shalawat, dan dzikr {tahlil} . dengan ketentuan wirid sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid lazimah (pagi hari dan sore hari).
b. Membaca istighfar sebagai berikut : استغفر الله 100x.
c. Membaca shalawat 100x dengan sighat apa saja. Bacaan shalawat yang ringkas sebagai berikut “اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍوَّعَلَى آلِهِ”, namun lebih utama membaca shalawat fatih sebagai berikut :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
d. Membaca Tahlil : “لاَإِلهَ إلاَّالله ُ “ 99x, dilanjutkan dengan bacaan “لاَإِلهَ إلاَّالله ُمُحَمَّدٌرَّسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ سَلاَمُ للهِ “ (dipanjangkan bacaannya).
Telah dikatakan bahwa amalan wirid lazimah meliputi tiga unsur : Istighfar, shalawat dan dzikir. Unsur-unsur wirid tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh, dalam artian masing-masing melengkapi satu sama lain :
(1) Bacaan Istighfar
Unsur bacaan ini, dimaksudkan atau berfungsi membersihkan diri dari kotoran maksiat. Sebab pada dasarnya tujuan masuk Thariqat ialah Taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Swt. Oleh karena itu, terlebih dahulu murid harus beristighfar (minta ampunan) sebagai pembersih dan pensuci dosa. Pada intinya istighfar menjadi proses upaya menghilangkan noda-noda rohaniah dan menggantinya dengan nilai-nilai suci. Untuk itu dirujuk ayat al-Qur’an surat an-Nisa ayat 110 :
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوْءً اَوْيَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِالله َيَجِدِالله َ غَفُوْرًارَحِيْمَا
Artinya : “Barang siapa berbuat kejelekan atau menganiaya dirinya kemudian dia beristighfar (minta ampunan) pada Allah, maka Allah akan mengampuni”
Dalam sebuah hadis katakan
عن انس رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : قال الله تعالى ياابن آدم انك مادعوتنبى ورجوتنيى غفرت لك على ماكان ولا ابالي, ياابن آدم لوبلغت دنوبك عنان السماء ثم استغفرت غفرت لك ياابن آدم لواتيتني بقراب الارض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئا لاتيتك بقرابها مغفرة. رواه الترميدى
Dari S. Anas ra., ia berkata “Saya mendengar Rasulullah saw., bersabda : “Allah swt., berfirman : Hai anak Adam, selama kamu mendo’a kepada-Ku dan mengharap Aku, maka aku ampuni kamu atas apa saja yang yang ada padamu dan Aku tidak peduli. Hai anak Adam, andaikata dosa-dosa kamu menyundul langit kemudian kamu beristighfar, maka Kuampuni kamu. Ahai Anak Adam, andaikata kamu datang kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi kemudian kamu menjumpai Aku dengan tidak mensekutukan Aku sama sekali, maka pastilah Aku datang kepadamu dengan membawa sebesar bumi pengampunan. Hadits riwayat Attirmidzy.
Ayat Qur’an dan hadis Qudsi di atas menegaskan bahwa sebesar apapun kesalahan dan dosa anak Adam, apabila beristighfar dan atau bertobat, maka Allah menjanjikan, menyediakan ampunannya.
(2) Bacaan Shalawat
Unsur bacaan shalawat, dalam wirid ini, kurang mendapat penekanan. Membaca shalawat dalam wirid ini berfungsi sebagai Li at-Tabarruk (untuk mendapatkan berkah) dan washilah (perantara) supaya bacaan istighfar dan segala ketentuannya diterima oleh Allah swt. Lebih tegas at-Tijani mengatakan bahwa washilah (perantara) yang utama untuk bisa wushul (sampai) terhadap Allah adalah Nabi Muhammad saw., dan untuk bisa dekat dengan Nabi Muhammad saw., adalah melalui bacaan shalawat. Keyakinan ini didasarkan atas asar (perkataan sahabat) Ummar Ibn Khatab :
اِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوْفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَاْلاَرْضِ حَتَّى تُصَلِّى عَلى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Artinya : “Do’a seorang hamba ditangguhkan antara langit dan bumi, sampai dibacakan shalawat kepada Nabi Muhammad saw.”.
Dalam sebuah hadis dikatakan :
صَلُّوْاعَلَىَّ فَإِنَّ الصَّلاَةَ عَلَىَّ زَكَاةٌ لَكُمْ وَاسْاَلُوْا الله َلِى اَلْوَسِيْلَةَ
Artinya : “Hendaklah kalian membaca shalawat padaku, karena membaca shalawat kepadaku menjadi zakat (pembersih dan pengampun dosa kalian), dan mohonlah kepada Allah melalui wasilahku”.
Nabi Muhammad saw., banyak mengungkapkan betapa pentingnya dan keuatamaannya membaca shalawat, yang sasaran intinya adalah memohon rahmat Allah swt. Telah dikatakan, bahwa : “Apabila seseorang membaca shalawat (berdo’a) kepada Nabi Muhammad saw., satu kali, maka Allah akan memberi rahmat sepuluh kali lipat”. Hal ini menunjukan posisi Nabi Muhammad saw., dihadapan Allah berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Dengan kata lain beliau adalah makhluk yang diistimewakan oleh Allah.
(3) Bacaan Dzikr
Sebagaimana halnya bacaan shalawat, dalam wirid lazimah, bacaan dzikir juga kurang mendapat tekanan. Dalam wirid ini, dzikr dimaksudkan untuk menyatakan taubat yang sungguh-sungguh, sehingga dengan ucapan لاَإِلهَ إِلاَّالله (tidak ada tuhan selain Allah), murid seolah-olah mengatakan : “لاَيَغْفِرٌالذُّنُوْبَ إِلاَّالله ُ” “(tidak ada yang menghapus dosa kecuali Allah)”. Selain itu, dengan mengamalkan dzikr dalam wirid lazimah, diharapkan murid akan merasa sakit batinnya apabila tidak mempunyai kesempatan untuk berbuat baik, dan selanjutnya akan melakukan (instropeksi) اَلْمُحاَسَبَة dengan harapan bisa memperbaiki keadaan dan sekaligus memelihara taubatnya dengan segala amal syari’at.
Dengan demikian, terdapat tiga unsur amal dalam wirid lazimah, yakni : Istighfar, shalawat kepada Nabi Muhammad saw., dan dzikr, yang pada dasarnya ditujukan bagi murid yang memantapkan maqam (peringkat) taubat. Jadi taubat adalah maqam pertama yang harus diusahakan oleh murid.
Adapun yang dimaksud dengan taubat menurut at-Tijani adalah mengembalikan diri dari kekufuran terhadap nikmat Allah, memperlihatkan sikap syukur terhadap Allah dengan jalan melaksanakan segala perintah-Nya. Taubat dilaksanakan sebagai upaya membersihkan diri dari sikap menyepelekan kewajiban syara; dan dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh syara; dengan kata lain, taubat adalah kembali kepada Allah dengan jalan melaksanakan syari’at Islam. Sebab pada dasarnya perjalanan yang harus ditempuh seorang murid menuju Allah sejak langkah awal sampai akhir harus menjalalankan syari’at. Tidak mungkin seseorang sampai (wushul) kepada Allah tanpa dasar syari’at. Seseorang yang menuju Allah tanpa dasar syri’at, tidak akan sampai (wushul) pada Allah, akan tetapi ia akan putus dengan-Nya.
Bahwa untuk tercapainya pelaksanaan taubat murid harus melaksanakan hal-hal berikut ini : Melepaskan diri dari dari segala perbuatan dosa, merasa sedih tehadap perbuatan dosa yang telah dilakukannya, mempunyai maksud yang kuat untuk tidak kembali kepada perbuatan maksiat, mempunyai tekad yang kuat untuk senantiasa beribadah kepada Allah dan merasa takut untuk tidak mensyukuri nikmatnya (kufur terhadap nikmatnya). Selanjutnya dikatakan, untuk terwujudnya sarat taubat tadi, ada beberapa adab (ketentuan) yang harus dilaksanakan yaitu : menghindar dari orang-orang yang senantiasa melaksanakan perbuatan maksiat dan orang yang mempunyai tabi’at yang jelek, bahkan murid harus senantiasa bergaul dengan orang-orang yang taat melaksanakan kebaikan, menjauhi tempat-tempat keramaian, yang tidak berguna dan tempat-tempat yang mengundang maksiat, dan tidak boleh banyak mengungkapkan kenikmatan nafsu syahwat.
Dengan demikian, bacaan istighfar dengan segala ketentuannya harus mendapat tekanan yang lebih besar, sehingga menghasilkan perasaan takut (khauf) terhadap siksa Allah apabila melanggar perintah-Nya
Uraian di atas menunjukan bahwa wirid lazimah pada dasarnya diarahkan untuk membina murid agar senantiasa membersihkan diri dari segala bentuk maksiat yang dianggap menyimpang dari aturan syari’at dan dari segala kelalaian-kelalaian dalam mengamalkan syari’at, sikap semacam inilah yang dimaksud dengan taubat. Banyak sekali perintah al-Qur’an agar orang beriman senantiasa melaksanakan taubat.

Wirid Wadzifah

Wirid ini dilaksanakan satu kali dalam sehari semalam, waktu wiridnya bisa dilakukan kapan saja; meliputi bacaan istighfar Wadzifah 30 X, shalawat fatih 50 X, dzikir 100 X dan shalawat jauharat al-Kamal 12 X. Praktek wirid Wadzifah adalah sebagai berikut :
a. Membaca niat untuk mengamalkan wirid wadzifah.
b. Membaca istighfar wadzifah sebagai berikut “اَسْتَغْفِرُالله َالعَظِيْمَ الَّذِيْ لاَاِلهَ إلاَّهُوَالْحَيَّ الْقَيُّوْمُ.” 30x.
c. Membaca Shalawat al-Fatih sebagai berikut “اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.” 50x.
d. Membaca Tahlil : “لاَإِلهَ إلاَّالله “99x, dilanjutkan dengan bacaan “لاَإِلهَ إلاَّالله ُمُحَمَّدٌرَّسُوْلُ اللهِ عَلَيْهِ سَلاَمُ للهِ . “ (dipanjangkan bacaannya).
e. Membaca shalawat Jauharat al-Kamal sebagai berikut :
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِالْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْرِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِى اْلبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِا الْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ “12 x .
Apabila dalam wirid lazimah aspek bacaan istighfar dengan segala ketentuannya menjadi prioritas utama, maka dalam wirid Wadzifah penekanan lebih ditujukan pada unsur bacaan shalawat.
Selanjutnya bacaan shalawat dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada makhluk yang dicintai Allah swt., yaitu Nabi Muhammad saw., beliau adalah makhluk yang mendapat gelar Habib Allah (kekasih Allah). Allah swt., memerintahkan kepada ummat yang beriman agar mengerjakan shalat, memerintah kita mengeluarkan zakat, memerintah kita berpuasa, memerintahkan kita haji, dan perintah-perintah itu tidak disertai firman : “Allah mengerjakan shalat, Allah mengeluarkan zakat, Allah berpuasa, Allah menunaikan haji”. Akan tetapi Allah swt., memerintahkan bershalawat atas Nabi Muhammad saw., dengan disertai bahkan didahului pernyataan, bahwa Allah swt., dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi Muhammad saw., dalam firmannya surat al-Ahzab ayat 56 :
إِنَّ الله َ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمَا
Artinya : ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya sama-sama bershalawat atas Nabi Muhammad saw., wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah atas Nabi Muhammad dan sampaikan salam kepadanya”.
Ayat di atas menunjukan bahwa posisi Nabi Muhammad saw., adalah makhluk yang diistimewakan oleh Allah swt. At-Tijani menyebutnya sebagai makhluk yang paling ma’rifah (mengenal Allah) dan paling dekat pada Allah swt. Karena itu untuk menghadap dan menuju Allah swt., terlebih dulu murid harus mendekatkan diri kepada beliau dengan cara membaca shalawat. Selain itu, membaca shalawat merupakan sarana untuk meraih rahmat Allah swt. Dalam sebuah hadis dikatakan :
“Nabi Muhammad saw., adalah makhluk yang paling tahu, yang paling ma’rifat serta yang terdekat pada Allah swt. Karena itu, maka kita dalam menghadap dan menuju wushul kepada Allah swt., mendekat kepada beliau agar kita tidak bingung dan supaya kita dalam menghadap dan menuju wushul kepada Allah swt., mendekat kepada beliau agar kita tidak bingung dan supaya kita tidak salah alamat dari apa yang kita tuju dengan dengan memperbanyak membaca shalawat. Dengan memperbanyak membaca shalawat kita menjadi dekat dengannya”.
Dalam hadis lain dikatakan :
ان صلاة امتي تعرض على في كل يوم جمعة فمن كان اكثرهم على صلاة كان اقربهم مني منـزلة. (رواه البيهقي باسنادحسن)
Sesungguhnya shalawat umatku diperlihatkan kepada tiap-tiap hari Jum’at. Maka barang siapa terbanyak di antara mereka membaca shalawat atasku, merekalah yang terdekat tempatnya kepadaku. {Hadits riwayat Baihaqy dengan isnad yang hasan}.
Disamping itu pahala membaca shalawat sangat besar sekali yang sebagian seperti hadits di bawah ini :
من صلى على مرة صلى الله عليه عشرا ومن صلى على عشراصلى الله عليه مائة ومن صلى على مائة كتب الله تعالى بين عينيه براءة من النفاق وبراءة من النار واسكنه الله يوم القيامة مع الشهداء. رواه الطبرانى مرفوعا.
Artinya : ”Barang siapa bershalawat atasku satu kali, maka Allah bershalawat atas dia sepuluh kali, barang siapa bershalawat atasku sepuluh kali, maka Allah bershalawat atas dia seratus kali, maka Allah menulis di antara kedua matanya : bebas dari kemunafiqan, bebas dari neraka, dan di hari kiamat, oleh Allah dia ditempatkan bersama para Syuhada. Hadits Marfu’ Riwayat Thabrany”.

Dalam wirid Wadzifah terdapat dua jenis bacaan shalawat, yakni shalawat Fatih dan shalawat Jauharat al-Kamal.
Dalam kaitannya dengan bacaan shalawat, dalam wirid Wadzifah terdapat dua asfek penekanan yaitu aspek syukur yang didasarkan pada posisi Nabi Muhammad sebagai al-Fatih Lima Ughliq dan aspek mahabbah.
Dengan demikian selain aspek syukur yang telah dikemukakan di atas, juga membaca shalawat bagi murid mempunyai dasar mahabbah terhadap Nabi Muhammad saw. Mahabbah terhadap Nabi Muhammad saw., dibuktikan dalam amalan shalawat, sebab pada dasarnya mahabbah itu sendiri mempunyai arti yang dangat besar dalam mebina hubungan yang berkesinambungan dengan Nabi Muhammad saw. selanjutnya dalam Jawhir al-Ma’ani dikutip sebuah hadis :
يحشرالمرء مع من احبّ
“Kelak akan dikumpulkan seseorang bersama orang yang dicintainya”.
Selanjutnya dalam Jawahir al-Ma’ani dikatakan, bahwa mahabbah itu sendiri harud diikuti dengan mengamalkan sunnahnya, petunjuknya, dan mengikuti seluruh perjalanan hidupnya. Untuk lebih memantapkan mahabbah ar-Rasul, dalam Jawahir al-Ma’ani ditegaskan :
“Hendaknya murid menyesuaikan diri dengan al-Mahbub (nabi muhammad saw.) dalam segala keadaan., kemudian menghancurkan sifat-sifatnya atau memfana’kan diri untuk tenggelam dalam sifat-sifat al-Mahbub, dengan jalan menghibahkan seluruh jiwa dan raga bagi al-Mahbub, selanjutnya, menghapus segala sesuatu selain al-mahbub dari lubuk hatinya, dan akhirnya menganggap bahwa dirinya (murid) kecil dihadapan al-Mahbub”.
Dari ungkapan-ungkapan di atas, jelas sekali bahwa membaca shalawat kepada Nabi, pada dasarnya mengandung makna cinta, mengagungkan, dan diikuti dengan melaksanakan sunnah secara total.dalam kaitannya dengan ungkapan tadi, pengarang Jawahir al-Ma’ani, mengutip ayat al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 21 :
قل ان كنتم تحبّون الله فاتبعونى.
Artinya : “katakanlah wahai Muhammad, apabila kamu sekalian mencitai Allah, maka ikutilah aku.”
Ayat ini menegaskan bahwa mengikuti Rasul merupakan tanda mahabbah seseorang terhadap Tuhannya. Selanjutnya dalam jawahir al-Ma’ani dikatakan :
“Mahabbah terhadap Allah harus dibuktikan dengan mengikuti kekasih-Nya (Nabi Muhammad saw.) secara lahir dan batin, membenarkan seluruh beritanya, taat teradap seluruh perintahnya, memenuhi segala segala panggilannya, memfana’kan mahabah terhadap yang lain dengan mahabbah terhadapnya, dan memfana’kan taat kepada yang lain dengan taat kepadanya. Kalau tidak demikian, tidaklah dikatakan mahabbah, sehingga Rasul dijadikan sebagai obat hati sanubari, istirahat jiwa, dan merupakan kenikmatan ruh.”
Dengan demikian apabila murid telah merasakan keadaan-keadaan seperti disebutkan di atas, maka barulah ia bisa dikatakan sudah berada dalam maqam Mahabbah ar-Rasul. Tanda-tanda bahwa murid yang bersangkutan berada dalam Mahabbah ar-Rasul adalah :
“Ia selalu rindu untuk bertemu dengan al-Mahbub, dan terus menerus mempalajari sunnahnya”.
Konsep sukur dan mahabbah sebagaimana digambarkan di atas, pada intinya harus dibuktikan dengan kecintaan terhadap segala sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad saw., melalui pengamalan terhadap segala sunnahnya.
Dengan demikian pengamalan terhadap sunnah merupakan kunci keberhasilan murid yang bersangkutan dalam menjalani maqamnya, yakni maqam istiqamah.
Sebagaimana dikatakan dalam Jawahir al-Ma’ani : “Nabi Muhammad merupakan pintu untuk bisa wushul terhadap Allah. Seseorang jangan mengharap bisa wushul kepada-Nya tanpa melalui pintu Nabi”. Yang dimaksud dengan pintu disini, yaitu mengikuti syari’atnya, dan berahlak sebagaimana ahlaknya. Lebih tegas lagi dikatakan : “Pada dasarnya kebaikan itu hanyalah dalam mengikuti sunnah Nabi, sedangkan kejelekan berada dalam kebalikannya”.
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, aspek yang ditekankan dalam wirid Wadzifah adalah bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad saw., yang ditekankan dalam wirid Wadzifah itu, dasarnya, mempunyai maksud peningkatan maqam, yakni dari maqam taubat yang ditekankan dalam wirid lazimah menuju maqam istiqamah. Yang dimaskud dengan maqam istiqamah adalah: “Teguh dalam melaksanakan sunnah, dengan harapan tertanamnya nilai-nilai ittiba’ pada Rasul dalam diri murid sebab kalau tidak demikian, ia jangan mengharap bisa naik kepada maqam selanjutnya”.
Untuk memantapkan maqam istiqamah, murid yang bersangkutan perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
“Ia (Murid) senantiasa harus berhubungan dengan orang-orang yang mengamalkan sunnah dan menjauhi orang-orang yang senantiasa melakukan bid’ah Agar setiap gerak dan diamnya senantiasa berada dalam posisi taqarrub dengan Allah. Kemudian mempelajari ilmu-ilmu yang berkaitan dengan syari’ah disertai dengan penyerahan pemikiran terhadap ketentuan syara’.
Selain hal di atas, bacaan shalawat dalam wirid Wadzifah mempunyai fungsi membina dan mengarahkan murid untuk sampai pada tingkat bisa “berhubungan” dengan Nabi Muhammad saw., dalam Jawahir al-Ma’ani dijelaskan apabila murid membaca shalawat Jauharat al-Kamal, maka ia ditekankan untuk lebih mengkonsentrasikan diri sampai pada tingkat bisa “menghadirkan” Rasul. Oleh karena itu dalam kaifiyat membaca shalawat Jauharat al-Kamal, ada ketentuan apabila telah sampai pada bilangan tujuh kali, maka murid harus menundukan kepala disertai perasaan khudu’ dan khusyu. Dengan demikian wirid Wadzifah diarahkan untuk membina “hubungan langsung” dengan Rasul.

 


DIALOG TAREKAT TIJANIYAH DAPAT DILIHAT>>> DISINI 
Post a Comment