Friday, September 28, 2012

informasi tentang Ruh dari para Ulama

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


Artinya: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Israa: 85)
Jika kita pernah menonton film “Gost” ada adegan menarik di akhir cerita. Bagaimana Demi More kehilangan sang pacar yang meninggal karena dibunuh oleh penjahat di jalanan. Mungkin gambaran cinta sehidup semati, divisualkan oleh film itu dengan adegan arwarh yang terus mengikuti kemana Demi More berada dan bisa berinteraksi atas bantuan seorang dukun perantara (mungkin semacam jelangkung). Di sisi lain, roh pacarnya ini berusaha membalas dendam dan mengejar para penjahat untuk membunuhnya. Setelah urusan dendam berhasil, dengan ditandai matinya semua penjahat. Akhirnya, roh “baik” ini (pacar Demi Moore) diangkat ke udara, sedangkan roh para penjahat disedot ke bumi. Seolah-olah masuk di kedalaman bumi yang paling dalam disertai adegan yang mengerikan. Itulah akhir filmnya.
Gambaran film itu bisa jadi diadopsi oleh ajaran kristen yang bersumber dari kitab-kitab mereka. Sebenarnya, membicara¬kan ruh bukan berarti mema¬hami hake¬kat ruh itu sendiri. Sebab sebagaimana ayat di atas, manu¬sia diberi ilmu sangat sedikit, apalagi tentang ruh. Karena ia meru¬pa¬kan urusan Allah. Namun demiki¬an tidak berarti tak ada informasi meski sedikit tentang ruh. Kitapun bisa mema¬hami sepeng¬gal kecil infor¬masi itu dari tulisan-tulisan para ulama dalam buku-bukunya (kitab). Perta¬nyaan¬nya, apasaja iformasi tentang ruh itu?
Meski kita tidak memahami hakekat ruh, tetapi kita hampir sepa¬kat bahwa disamping ada jasmani adapula rohani yang menyatu dalam individu manusia. Saat roh dicabut, maka jasadpun sudah tidak bisa diha¬rapkan lagi untuk hidup. Jadi roh adalah tenaga hidup itu sendiri. Saat roh ditiupkan ke dalam jasad (Al A’rof: 172), ia pun menjadi saksi Allah sebagai penciptanya. Namun pada perkembangan berikutnya mereka menjadi nashroniyun dan yahudiyun karena pola didik orang tuanya (HR. Buchari-Muslim dari Abu Hurairah). Itulah sepeng¬gal pengetauan umum tentang ruh.
Ruh versi Ulama
Namun Dalam bahasan Ulama, banyak menyinggung masalah ruh. Salah satunya dalam bab tentang jenazah pada kitab Bujairimi. Pengarang kitab ini menjelaskan bahwa ruh adalah unsur manusia yang akan menghadap Allah swt. Begitupula dalam sebuah syarah (penjelasan) kitab “Iqna” menjelaskan bahwa ruh yang keluar dari jasad akan menuju tempatnya masing-masing, sesuai dengan derajat (golongan) kemanusiaanya. Ada 5 golongan manusia dan ruhnya pun berbeda tempatnya.

1. Ruh Para Rasul
Ruh Para Rasul dan Nabi langsung menu¬ju ke syurga. Dengan demikian ma¬ka syur¬ga itu sudah ada yang mendiami. Ti¬dak lain penghuninya itu adalah khusus para Nabi dan Rasul.

2. Ruh para suhada
Ruh para suhada itu sebagaimana digam¬barkan oleh Nabi saw berada di syurga. Mereka laksana burung berter¬bangan di atas danau. Apa yang diingin¬kan oleh para mujahidin dan syuhada Allah swt memberikan.

3. Ruh para mukminin dan Muslimin yang taat
Ruh para mukminin dan Muslimin yang taat, berada di dalam syurga tapi tidak ikut serta menikmati makanan syurga. Mereka bisa menikmati makanan rohani jika ada kiriman dari dunia. Kiriman itu berupa do’a, bacaan Alquran dan lain-lain.

4. Ruh orang muslim & mukmin yang tidak taat
Adapun ruh orang muslim dan mukmin yang tidak taat. Misalnya yang shalatnya dua kali saja, atau ketika sahur jam 8 pagi dan buka puasanya pada jam 4 sore. Dijelaskan di dalam kitab tersebut, ruh mereka tidak bersambung dengan orang-orang muttaqin. Karenanya mereka itu berada dalam kesendirian sambil menunggu hari kiamat tiba. Kematian mereka sifatnya “dzaaiqotul maut” atau sekedar mencicipi. Artinya belum mati dalam arti sebenarnya. Sebab yang namanya mati sebenarnya adalah nanti pada saat hari kiamat (hari kebangkitan).

Karena itu, perjalanan ruh mereka berada dalam kondisi menunggu. Saat itu, langit tidak mau menerima ruh mereka; Bumipun sama saja. Bahkan Bumi bertutur: “Buat apa saya menerima. Saya sudah bosan diinjak-injak oleh mereka. Saya tidak mau menerima.” Demikianlah akhirnya merekapun melayang-layang sendirian; tidak bercampur dengan orang-orang kafir; demikian pula dengan orang mukmin memisahkan diri.
Bekal Menuju Mati
Melihat keberadaan ruh orang muslim dan mukimn yang tidak taat ini, maka sejatinya kita mesti berhati-hati. Tentunya berbagahagialah bagi mereka yang tetap waspada dan memper¬siapkan diri menuju ajal. Karena itu Allah mengingatkan pada kita dengan sebuah bekal menuju mati:

وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التـــَّقْوَى
“Berbekallah dan sebaik-baik bekal adalah taqwa”. (Albaqarah: 197)
Menurut Imam Al Qurthubi, para ahli isyarah menyatakan bahwa taqwa adalah sebaik-baik bekal untuk menuju akherat.
5. Ruh Orang yang Inkar
Sementara ruh orang kafir berada di dasar bumi. Tersiksa oleh panasnya situasi seperti neraka. Mereka tidak di neraka namun masih berada dalam dunia. Merekapun masih tetap menunggu kiamat. Namun dalam keseharianya mereka terus-menerus berada dalam kondisi lingkungan dasar bumi yang teramat panasnya. Masih ingatkah akan adanya lumpur di Porong, Sidoarjo? Lumpur itu berasal dari kedalam bumi yang panas. Inti bumi itu ternyata berhawa panas luar biasa. Kitapun bisa melihat tatkala lahar yang memuncrat dari gunung berapi saat meletus.

Bukti dalam Sains
Baru-baru ini, seperti yang dirilis oleh kantor salah satu kantor berita internasional bahwa ilmuan sovyet menemukan suara yang mengerikan. Suara itu diklaim berasal dari teriakan ribuan manusia di dalam tanah. Mereka yang mendengar adalah para ilmuan geologi yang tengah menggali sebuah proyek bawah tanah (pertambangan). Seketika itu mereka mendengar melalui suara yang direkam oleh microphone super high sensitive. Terekam dengan jelas suara-suara teriakan itu. Seolah-olah mereka tengah didera oleh kesakitan yang luar biasa. Bahkan dalam suara itu ada terdengar ungkapan: “Allahu Akbar!” entah hingga kini belum ada penjelasan secara resmi. Konon, para ilmuan yang mendengar suara-suara itu dilarang untuk diserbarluaskan bahkan mereka sendiri dihilangkan ingatannya (semacam cuci otak). Maksudnya agar tidak mengingat apapun kejadian tersebut. Namun rekaman tentang suara ini sudah tersebar luas di internet dan terekam dalam kepingan CD dan di jual bebas.
Berkumpul di Daarul Baydho
Sebagaimana penjelasan dalam kitab Tadzkiratul Qurthubi, Imam Abdul Wahab As Sya’roni, menjelaskan, bahwa ruh orang mukmin yang taat, setelah dicabut oleh Malaikat Izroiol, akan langsung menuju ke suatu tempat bernama “Daarul Baydho”. Tempat ini sebagai ajang bertemunya para ahli ibadah. Jika para ruh orang-orang ahli ibadah ini berkumpul di sana, mereka saling bertegur sapa. Mirip sekali dengan pertemuan saat masih berada di dunia.
Mereka pun bisa saling menyapa: “Bagai¬mana kabar si anu, bagaimana kerjaan¬nya, shalatnya bagaimana.” “Si Anu mana?”, “Si Anu sudah meninggal 5 tahun yang lalu tapi, loh kok, belum sampai kemari, ada apa gerangan ya?”. Jangan-jangan salah jalan? Atau ungkapan bertanya: “Si anu sudah berkeluarga belum ya?” “Duuh sayang sekali belum berkeluarga.” Hal-hal itu boleh jadi ditanyakan juga di Darul Baydho. Atau ada obrolan penyesalan misalnya: “Si Anu mana kok belum sampai kemari padahal katanya sudah meninggal? jangan-jangan dia sholatnya setahun 2 kali”.
Karena itulah, beruntunglah orang-orang yang berada di belakang Nabi Muhammad saw. Maksudnya mengikuti syariat nabi dan menjalankannya. Dengan begitu maka ada kemungkinan bisa mendapat curahan rakhmat dan mahgfiroh dan syafa’at. Wallahu a’lam.

Enhanced by Zemanta
Post a Comment