Sunday, September 16, 2012

Istilah Dan tahapan Akhirat dalam Al-Quran

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Akhirat adalah alam terakhir yang dilalui umat manusia setelah alam dunia. Secara etimologis berarti "yang terakhir/yang kemudian.

Secara luas, akhirat diartikan sebagai suatu masa, tempat atau perihal kehidupan seseorang setelah selesai menjalani kehidupan di dunia. Dalam arti sempit, akhirat adalah suatu masa setelah manusia dibangkitkan dari kematiannya dan dikumpulkan di hadapan Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya, "Katakanlah, Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya." (QS. 45: 26).

Alquran menyebut beberapa istilah untuk menggambarkan arti alam akhirat sebagai berikut:

1. Al-Qari'ah (mala petaka yang menggentarkan), seperti pada ayat, "Hari kiamat (al-qari'ah). Apakah hari kiamat itu? Tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran." (QS. 101: 1-4).

2. Al-Haqqah (yang pasti terjadi), seperti pada ayat, "Hari kiamat (al-Haqqah). Apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu?” (QS. 69: 1-3).

3. Al-Waqi‘ah (peristiwa besar), seperti pada ayat, "Apabila terjadi hari kiamat (Al-Waqi'ah), terjadinya hari kiamat itu tidak dapat didustakan (disangkal).” (QS. 56: 1-2).

4. As-Sa'ah (saat kehancuran), seperti pada ayat, “Manusia bertanya kepadamu tentang hari berbangkit (as-Sa'ah). Katakanlah, ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang hari berbangkit itu hanya di sisi Allah’.” (QS. 33: 63).

5. Yaum Al-Ba‘s (hari berbangkit), seperti pada ayat, “Sesungguhnya kamu telah berdiam (dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit (yaum al-Ba's), maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu selalu tidak meyakini(nya).” (QS. 30: 56).

6. Yaum al-Qiyamah (hari kiamat), seperti pada ayat, “Dan pada hari kiamat (yaum al-qiyamah) mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat...” (QS. 2: 85).

7. Yaum al-Jam‘u (hari berkumpul), seperti pada ayat, "Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Makkah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan tentang hari berkumpul (yaum al-jam’u)." (QS. 42: 7).

8. Yaum at-Taghabun (hari tersingkapnya seluruh aib), seperti pada ayat, “(Ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan kamu pada hari pengumpulan (untuk dihisab, yaum at-taghabun), itulah hari (waktu itu) ditampakkan kesalahan-kesalahan.” (QS. 64: 9).

9. Yaum al-Hisab (hari perhitungan/berhisab), seperti dalam ayat, "Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab (yaum al-hisab).” (QS. 38: 16).

10. Yaum al-Fasl (hari keputusan), seperti pada ayat, ”Inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.” (QS. 37: 21).

11. Yaum ad-Din (hari pembalasan), yang antara lain disebut pada ayat, ”Yang menguasai hari pembalasan (yaum ad-din).” (QS. 1: 4).

12. Al-Akhirah (saat terakhir), seperti pada ayat, “… serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.” (QS. 2: 4).

13. Al-Ghasyiyah (pembalasan), yang antara lain disebut pada ayat, “Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan (al-ghasyiyah)?” (QS. 88: 1).

Tahapan fase-fase Akhirat  

informasi yang diperoleh dari Alquran dan hadis Rasulullah SAW, akhirat meliputi fase-fase berikut:

Fase pertama adalah fase kehancuran alam semesta yang ditandai dengan bergugurannya bintang-bintang di langit, terjadinya goncangan dan ledakan dahsyat yang mengakibatkan bumi dan seisinya hancur, air laut mendidih dan meluap sementara manusia terombang-ambing di dalamnya, dan berbagai peristiwa mengerikan lainnya.

Keadaan itu digambarkan Allah SWT dalam berbagai ayat-Nya, antara lain, "Apabila langit terbelah dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya langit itu patuh, dan apabila bumi diratakan dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.” (QS. Al-Insyiqaq: 1-4).

Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan dan apabila lautan dijadikan meluap.” (QS. Al-Infithar: 2-3).

Dan apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (QS. Al-Zalzalah: 1-2).

Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qariah: 4-5), dan ayat-ayat lainnya yang menceritakan hal tersebut.

Fase kedua ialah fase kebangkitan. Saat setiap manusia yang pernah dilahirkan di dunia ini, mulai dari manusia pertama (Adam AS) sampai manusia terakhir, dibangkitkan dan dihidupkan kembali.

Semuanya berhimpun di salah satu tempat yang disebut Padang Mahsyar. Gambaran ini diperoleh antara lain dari ayat-ayat, “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 33).

Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,” (QS. Al-Infithar: 4).

Pada hari itu manusia keluar dari kuburannya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.” (QS. Al-Zalzalah: 6).
Fase ketiga adalah fase penghitungan (hisab) dan penimbangan amal kebaikan dan kejahatan yang dilakukan setiap manusia semasa hidup di dunia.

Semua amal perbuatan diperhitungkan, walau sekecil apa pun, tidak ada yang disia-siakan dan diabaikan.

Amal yang baik dibalas dengan yang baik dan yang jahat dibalas dengan kejahatan, sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam ayat, "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya ia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya ia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8).

Di hadapan Allah SWT semua rahasia umat manusia terbongkar. Saat itu, lidah, tangan, dan kaki ikut memberi kesaksian atas apa yang diperbuatnya di dunia. Sebagaimana ayat, "Pada hari (ketika) lidah, tangan. Dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nuur: 24).

Selain kesaksian yang diberikan oleh anggota tubuh, ditampilkan pula catatan amal perbuatan mereka di dunia yang pencatatannya dilakukan oleh para malaikat atas perintah Allah SWT.

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat, “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infithar: 10-12).

Catatan itu dibuka dan pemiliknya diperintahkan Allah SWT untuk membacakannya di hadapan Allah SWT. Seperti tergambar dalam firman Allah SWT, “Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. ’Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu’.” (QS. Al-Isra’: 13-14).
Fase keempat ialah saat Allah SWT menetapkan pembalasan atau mengambil keputusan tentang kelanjutan hidup manusia di akhirat. Berdasarkan penghitungan amal, Allah SWT menetapkan siapa yang berhak masuk ke surga dan siapa yang harus ke neraka.

Orang yang lebih banyak kebajikannya dimasukkan ke surga dan siapa yang kejahatannya lebih banyak akan dibuang ke neraka.

Hal itu dinyatakan Allah SWT dalam ayat-Nya, “Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qariah: 6-9).

Allah juga berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari pembalasan. Dan mereka sekali-kali tidak dapat keluar dari neraka itu.” (QS. Al-Infithar: 13-16).

Dari ayat-ayat Alquran diketahui bahwa di dalam surga penuh kenikmatan dan kelezatan serta setiap orang yang masuk ke dalamnya dapat merasakan kenikmatan dan kelezatan itu.

Seperti digambarkan pada ayat, "Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar mumi yang dilak (tempatnya)." (QS. Al-Muthafifin: 22-25).

Orang-orang yang beriman akan masuk surga dan kekal di dalamnya, seperti digambarkan dalam ayat, “Allah telah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 89).

Neraka merupakan tempat yang paling buruk dan hina sebagaimana digambarkan dalam ayat, "Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 151).

Selain tempat itu sebagai yang terburuk, kehidupan di dalamnya digambarkan pula sebagai kehidupan yang menyedihkan dan mengerikan, seperti yang antara lain diungkapkan dalam ayat, “Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan? Banyak muka pada hari itu tunduk terhina, bekerja keras lagi kepayahan, memasuki api yang sangat panas (neraka), diberi minum (dengan air) dari sumber yang sangat panas. Mereka tiada memperoleh makanan selain dari pohon yang berduri, yang tidak menggemukkan dan tidak pula menghilangkan lapar.” (QS. Al-Ghashiyah: 1-7).
 

 
Post a Comment