Saturday, September 29, 2012

Empat Tingkatan Murshid

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

APA ITU MURSHID NAQSHBANDI ?

Empat Tingkatan Murshid

Jika engkau sungguh mencintai Allah, ta’ati (patuhi) aku dan Allah akan mencintaimu. (Qur’an) Para shaykh Naqshbandi adalah pembimbing kepada Sayedena Muhammad s.a.w. dan Allah S.W.T.. Apapun yang diberikan Nabi ambillah, dan apapun yang dilarangnya tinggalkanlah (hentikanlah). Mereka memelihara disiplin shari‘ah, untuk membangun (meningkatkan) kamu dengan kewajiban harian dan kepada tingkatan iman dan berlanjut kepada tingkatan ihsan.
Murshid Sejati dalam dunia tarekat sufi ada empat tingkatan :


1) Murshid Tabarruk : Penunjuk jalan terutama untuk menerima barakah dan biasanya mernyelesaikan tugasnya dengan memberimu sebuah awrad (wirid) dan praktek harian.

2) Murshid Tazkiyya : Penunjuk jalan yang mengangkat mu ke atas dengan mengambil amal buruk dan keinginan buruk kamu.

3) Murshid Tasfiyya : Penunjuk jalan yang mengenyahkan semua keinginanmu terhadap dunya.

4) Murshid Tarbiyya : Level tertinggi yang akan membangun mu ke atas dengan disiplin dan membawamu kepada tempat (maqam) kamu di Hadhirat Ilahi.



1) MURSHID AT-TABARRUK
Dia berada pada tingkat pertama dan diperkenankan untuk mengajarimu dan menaruh talqin dzikir pada lidahmu. Dia mengajarimu untuk mengingat dan menyeru Allah, dan bagaimana untuk mengikuti perintah Allah. Dia memberimu langkah pertama pada jalan tariqat. Seperti anak kecil yang kata pertamanya adalah “baba,” engkau menyeru (memanggil) pada siapa yang pertama kali engkau cintai. Jadi dia mengajarimu bagaimana mengatakan “Allah” dan untuk membangun hubungan itu antara jantungmu dan Surga. Dengan pembacaan doa, engkau akan melihat (mengenali) tanda-tanda Allah. Jika engkau tidak melihat mereka, engkau belum mencapai tahap yang murshid itu mencoba menunjukkan kepadamu. Dia harus menaruh pada lidahmu sultan dzikir yang digambarkan di dalam al Qur‘an: Kami mengungkapkan al Qur‘an dan Kami melindunginya. Dia akan menaruh pembacaan al Qur’an dan asma Allah dan arah kepada Nabi (yaitu, bagaimana membaca salawat) sesuai dengan kebutuhan pribadimu, untuk mencapai hadhirat Sayedena Muhammad s.a.w. Pembacaan salawat berbeda-beda dari seorang kepada orang lainnya. Mereka memberi tahu kamu mana asma Allah yang dibaca dan bagaimana membaca salawat sesuai dengan kemampuan dan kebutuhanmu.
1. Murshid at-Tabarruk harus memiliki pengetahuan dan kuasa dari semua pepujian Allah baik yang terucap ataupun yang dibatin.
2. Dia harus tahu dzikir setiap makhluq yang ada, baik yang hidup maupun yang tidak hidup.
3. Dia juga tahu apa yang dibutuhkan tubuhmu untuk membaca tasbih, karena setiap sel dalam tubuhmu memiliki tasbih tertentu.
4. Murshid ini mengetahui bahasa apa dan tasbih jenis apa yang dibuat setiap makhluq, mendengarkannya secara serentak, namun mereka tidak menjadi tertumpang-tindih atau membingungkan.
5. Dia tahu semua tasbih untuk Muslim dan non-Muslim, karena tubuh mereka membuat tasbih tanpa memandang apakah tubuh dan pikirannya menerima Islam.
6. Dia menerima dari Nabi s.a.w. ilmu tentang informasi yang tepat (presisi) tentang apa yang diperbuat oleh setiap makhluq yang hidup dan non-hidup, baik yang di dunya dan di barzakh.
7. Dia juga tahu benar tentang jinn dan kelebihan yang diberikan kepada mereka dari Allah dan/atau hukumannya.
8. Dia tahu secara tepat bagaimana setiap insan dan jinn dapat memperoleh ridho Allah, termasuk amal apa yang membuka pintu untuk mencapai barakah hadhirat Sayedena Muhammad s.a.w..
9. Dia akan tahu tasbih apa yang diperlukan murid untuk tubuhnya dan untuk jiwanya, secara terpisah.
10. Murshid at-Tabarruk tahu nama semua manusia sepanjang penciptaan, sebagaimana diajarkan kepada Adam a.s., dan dicontohkan dalam ayat-ayat al Qur’an, dimana Allah bertanya kepada Malaikat apakah mereka tahu semua nama ciptaan, namun mereka tidak mengetahuinya. Ketika Dia bertanya kepada Adam a.s., dia membaca semua nama ciptaan satu per satu. Ketika dilakukan (pembacaan) itu, setiap bentuk spiritual mereka muncul di depan Adam a.s.. Murshid ini tentu telah mewarisi kuasa itu dari Adam a.s.
11. Dia harus tahu para malaikat dari setiap makhluq ciptaan, termasuk mereka yang mencatat amal baik dan burukmu, demikian juga mereka yang memonitor jumlah makanan yang engkau lahap.
12. Dia harus tahu semua malaikat yang melayani manusia.
13. Dia harus tahu berbagai giliran malaikat yang turun – mereka yang turun sepuluh menit sebelum Fajr, sebelum Maghrib, dan antara Maghrib dan Isya.
(Catatan : diwaktu dulu, giliran ganti para malaikat pada saat Zuhr, namun dalam masa Ghawth al-Alam as-syaikh Abdullah, waktu itu diganti menjadi antara Asyar dan Maghrib). Para malaikat ini yang datang pada gilirannya mengharapkan murid untuk melaksanakan awrad (wirid) yang diwajibkan dari Murshid nya ini. Mereka mengharap melihat murid terlibat dalam praktek ini ketika mereka turun (ke dunia), agar supaya dapat meneruskan cahaya dan hubungan surgawi yang mereka miliki. Jika murid itu tidak sedang melaksanakan kewajiban wiridnya itu dalam masa (waktu) khusus ini, malaikat tidak dapat mencerahkan (menyalakan) jantungnya. Pada dasarnya, murid yang tidak melakukan wiridnya adalah seperti keledai. Sebagai balasan dari memelihara kewajiban hariannya, murid dapat mengandalkan perlindungan Murshid nya dan mendapat jaminan sambungannya kepada Sayedena Muhammad s.a.w. Pertalian/kontak ini harus ada agar supaya Murshid menyerahkan murid itu kepada tahap kedua, kepada Murshid at-Tazkiyya.
14. Tahap pertama ini dimulai dengan membaca sehari-hari
15. Membaca 5,000 kali “Allah, Allah”
16. Membaca 500 kali salawat dalam cara /model yang telah dirumuskan (bagi murid).
17. Tahap berikutnya adalah membaca sehari-hari 24,000 kali “Allah, Allah” dan 5,000 kali salawat. Ini baru tahap pertama dari tujuh belas tahap yang berbeda dari Murshid Tabarruk.
Grandshaykh berhenti sampai di tahap satu ini karena dia berkata bahwa pikiran (pemikiran) orang-orang tidak dapat membawa lebih dari pada itu. Setelah semua tujuh belas tahap berikut nya adalah tahap Murshid at-Tazkiyya. Dalam mata rantai Thariqat Naqshbandi selain Mata Rantai Emas kita, mungkin terdapat pribadi yang berbeda untuk mengisi masing-masing setiap posisi dari empat tahapan ini. Dalam banyak kasus, seorang shaykh dapat memanggul dua sampai tiga tahapan sebelum shaykh lainnya mengambil alih secara fisik. Namun dalam Matarantai Emas, Shaykh zaman ini memiliki otoritas dan kuasa untuk mengatur kesemua empat tahapan untuk setiap murid. Itulah sebabnya sekali seseorang mengambil bay’ at‘ dalam sanad rantai Emas thariqat Naqshabandi Haqqani yang otoritasnya sekarang dipegang oleh Syaikh Nazim sebagai mursyid terakhir pada maqom sanad ke 40, mursyid akhir zaman sebelum diserahkan kepada Imam Mahdi Al-Muntazar, para murid tidak perlu lagi membutuhkan Murshid lainnya. Dimasa ini Shaykh kita hanya ingin kita menyadari bahwa kita tidak memiliki kemampuan melakukan sesuatu yang berguna. Makin buruk kita pikir (anggap) diri kita, makin bahagia mereka dengan kita. Dia ingin kita mengetahui bahwa amal kita tak akan pernah membawa kita kemana-mana, dan bahwa satu-satunya kesempatan yang kita miliki adalah keterlibatan Shaykh kita. Maka, kita harus terus-menerus minta ampunan dan kasihnya. Grandshaykh Abdullah (semoga Allah mensucikan ruhnya) sering mengingatkan kita hal berikut ini :“Engkau harus selalu terus menerus menancapkan tiga kukumu ke dahimu (yaitu ingat tiga hukum ini setiap saat jika engkau ingin berhasil dalam tariqat). Apakah itu ?, :
§ “Jika saya (Syaikh Abdullah Fa’iz Dhagestani) memberimu sebuah sekop patah dan memerintahkan kamu untuk menggali sampai ke dalaman tengah bumi untuk mendapatkan berlianmu, kamu menggali. Kamu jangan pernah bertanya mengapa atau mengeluh, kamu hanya terus menggali dan menggali.
§ “Jika saya memberi mu sebuah ember dan berkata ‘kuras samudera itu’, jangan menanyakan bahwa air tidak akan pernah berkurang, atau mendebat bahwa tidaklah mungkin menguras samudera dengan sebuah ember : hanya mulai lah menguras ! Sesaat pikiran itu muncul pada dirimu bahwa tugas itu adalah tidak mungkin, tidak praktis, atau tiada gunanya, kamu gagal dalam ujian itu dan akan harus memulai dari awal lagi.
§ “Jika saya mengatakan (pada) semut makanannya ada di Barat dan dia berada di Timur, dia akan langsung mulai berjalan. Murid harus seperti semut itu : jangan menggunakan pikiranmu untuk mengetahui bagaimana kamu akan mendapat makananmu, hanya berjalanlah ! Jika kamu meninggal dalam upaya pencapaian itu, engkau meninggal, engkau berserah diri.”
Instruksi paling penting adalah, jika seseorang melaksanakan (menyelesaikan) tiga amalan ini secara tekun, Allah akan mengirim malaikat yang bernama Reeha Sibah, yang akan membawa murid itu ke Hadhirat Ilahi! Dia akan melakukan ini untuk kita karena kita mematuhi Allah dengan mematuhi Shaykh kita, dan Rahmat Nya adalah tak terbatas dan Dia melakukan yang Dia kehendaki. Kita akan mencapai Tahap Ilahiah bukan karena amal, ibadah, atau pengorbanan kita yang manapun, namun karena tahap kepasrahan kita. Pernah suatu ketika seorang murid mendengar nasehat ini, ia lalu bertanya, “Jadi mengapa bersungguh-sungguh dalam ibadah?” jawabnya adalah seorang Shaykh Naqshabandy akan membawa setiap pengikutnya ke Hadhirat Ilahi sampai pada satu titik, tetapi hanya mereka yang bersungguh-sungguh di Jalan Allah yang sesungguhnya akan melihat dan mendengar dalam Samudera itu. Untuk seseorang khusus yang memenuhi kewajiban mereka, penampakan dan suara akan terbuka bagi mereka. Kamu jangan pernah mencoba bangga karena menyelesaikan kewajiban kamu, jangan. Menyadari itu tidak berharga seperserpun, namun lakukanlah (persembahan) itu dengan ta’at dan rendah hati, dengan menyadari bahwa tanpa Shaykh mu engkau adalah seorang pecundang.
2) MURSHID AT-TAZKIYYAH
Sebagaimana telah dikatakan, terdapat empat kategori Murshid. Pertama adalah Murshid at-Tabarruk. Murshid ini membimbingmu untuk melaksanakan beberapa bentuk ibadah seperti dzikir dan pembacaan al Qur’an, untuk mendapat hadiah dari Allah . Kategori kedua adalah Murshid at-Tazkiyya. Dia membimbingmu dalam proses pencucian yang disebut tazkiyat an-nafs. Bagaimana seseorang mencuci / mensucikan diri sendiri ? Perjuangan jenis apa yang harus dilewati seseorang agar supaya mencapai kendali atas nafsu/keinginan nya ? Nabi menggambarkan perjuangan ini, al-jihad an-nafs, sebagai jihad al-akbar dalam hadith ini :"Kami kembali dari jihad al-asghar kepada jihad al-akbar.” Para shahabatnya menanyakannya, “Apakah jihad al-akbar?” artinya, “Apa yang lebih hebat dari memerangi orang kafir, di jalan Allah dan berharap mati syahid setiap sa’at?” Dia menjawab, “Jihad al-nafs.”Adalah sangat sukar untuk melawan diri sendiri. Adalah mudah untuk memerangi musuh seseorang, karena engkau tahu dia musuhmu, namun dirimu tak akan pernah mengatakan padamu dia adalah musuhmu. Nabi s.a.w. mengatakan : Barang siapa menjamin (mengekang) apapun di antara kedua rahangnya dan kedua kakinya, saya menjamin baginya surga. Nafsu/keinginan adalah apapun yang datang dan pergi dari mulut dan apapun yang berproses dari nafsu sexual, shahwat al-haraam. Jihad an-nafs memberikan kendali terhadap keinginan seperti itu.
- Dirimu sendiri tak akan membiarkan kamu mengendalikan itu. Itu akan selalu dalam sebuah perlawanan/perkelahian denganmu.
- Lidah akan selalu menginginkan makanan paling enak/baik. Dalam berjuang melawan diri sendiri, pertama tama adalah keinginan akan makanan.
- Engkau menginginkan jenis makanan terbaik, selalu mencari berbagai jenis makanan.
Jika engkau telah memiliki sepuluh, engkau menginginkan duabelas. Mata selalu lapar !
Nabi s.a.w. bersama para sahabat, sering sekali makan sisa kuah daging, tanpa daging sedikitpun. Mereka mencelupkan roti ke dalam saus/kuah, menganggapnya satu makanan lezat, dan mereka berbahagia, alhamdulillah. Hari ini, oh! Kita menginginkan begitu banyak makanan, dikapalkan dari negeri lain, untuk membuat berbagai macam makan exotic ! Jadi, pada tataran ini, melarang lidahmu makan barang haram dan bahkan kekenyangan, adalah sangat penting. Bergosip, bohong, menyebarkan kekacauan dan merencanakan pemberontakan – semua ini melewati lidah dan harus dihindarkan karena itu berasal dari shaytan. Seseorang yang menggemari praktek tersebut menjadi seperti seekor burung merak sombong. Fir’aun menjadi begitu sombong, berkata, “Akulah Pangeran (Rabb) mu Yang Maha Tinggi.” Dia tidak (mau) melihat siapapun lebih tinggi darinya. Murshid at-Tazkiyya menghancurkan keinginan seperti ini. Bagaimana ? Dengan menunjukkan dan bagaimana mengikuti jejak Nabi s.a.w. melawan diri sendiri atas empat musuh: nafs, dunya, hawa, dan Shaytan. Setiap orang memiliki empat musuh ini melekat pada dirinya, tanpa kecuali. Murshid ini mengajarimu untuk berjuang terhadap musuh ini dengan mengikuti sunnah Nabi Muhammad s.a.w. Sebagai tambahan, Murshid at-Tazkiyya memiliki pengetahuan lengkap tentang empat mazhab pikiran dalam Islam. Dia harus tahu riwayat hidup dan semua hukum fiqh, pendapat jumhur ulama dan ajaran agama dari Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Shafi‘i, dan Imam Ahmad. Agar supaya membimbing murid, Murshid tahap ini (harus) memiliki akses spiritual lengkap yang dibawa ke-empat imam legendaris ini, dan dia dapat mengikuti mereka tanpa salah sedikitpun, atau kalau tidak begitu dia tidak akan dapat membimbingmu.
Semua qualitas seorang Murshid at-Tabarruk harus dipegang oleh seorang Murshid at-Tazkiyya dan di atas itu dia harus memiliki ilmu dari empat mazhab, dan dia harus memiliki ijazahnya. Lembaga masa kini mengabaikan tradisi ini dengan memberikan PhD. Dari awal Islam sampai dengan tiga puluh sampai empat puluh tahun lalu, tidak terdapat PhD, hanya ada ijazah-izin. Shaykh mengakui muridnya telah menyelesaikan pelajaran mereka dibawah bimbingannya, dan memberi wewenang mereka untuk mengajar. Shaykh harus menerima ijazahnya dari shaykh sebelumnya, mengikuti jejak matarantai ke belakang yang berujung pada salah satu dari empat imam. Sistem ini telah dimusnahkan habis dalam jangka waktu lima puluh tahun terakhir ini. Kini Islam dipelajari dalam sistem universitas yang tiada hubungannya dengan bagaimana Islam diajarkan selama empat belas abad. Itulah sebabnya ulama Islam masa kini tidak memiliki cahaya, tetapi hanya perhatian kepada kekayaan dan titel dimana ulama masa lalu sama sekali tidak memiliki perhatian. Ulama masa lalu duduk di sudut-sudut masjid, mengajari murid mereka cinta, toleransi, dan barakah Islam. Ulama masa kini mengajari bagaimana puasa, bagaimana untuk menimbulkan kekacauan, menukil dan menempelkan dari al Qur’an dan Hadith, mengajari murid mereka untuk menyebarkan kebingungan. Mengapa Muslim tidak berhasil ? Karena mereka sangat jauh dari agama mereka. Orang seperti kita, kami bukan pemimpin, dan kami bukan presiden. Kami tak dapat membuat perubahan. Mereka yang dapat melakukan perubahan jauh dari Islam; mereka adalah Muslim dalam nama saja.
Murshid at-Tazkiyya memulai dengan La ilaha ill-Allah. Apa yang pertama kali dibawa Nabi s.a.w. : La ilaha ill-Allah. Ketika kalimat itu terbentuk dalam diri, bagaimana empat musuh itu dapat menyerangmu ? Bila kamu percaya akan itu, dan memegang teguh percaya akan akhira, kamu tidak dapat terlibat kesalahan apapun. Kami katakan (kalimat) itu hanya dengan lidah, namun tidak dengan perbuatan. Jika kita katakan itu dalam kebenaran dengan lidah dan perbuatan, Allah dan Nabi Nya akan mendukung (menolong) kita. Jangan mengira kita tidak akan menghadapi kesukaran. Apakah Nabi s.a.w. menderita oleh ummatnya ? Dia berkata : "Tiada seorang Nabipun dilukai/diciderai ummatnya sebagaimana saya dilukai/diciderai oleh ummat saya. Dia adalah Utusan (Rasul) paling baik, namun Allah mengiriminya dengan kesukaran untuk melihat pondasinya dan ta’at azasnya. Maka la ilaha ill-Allah hanya terbentuk dalam diri Nabi s.a.w., karena dia adalah pembawa kalimat tersebut yang paling sempurna. Jika seorang dari ulama masa kini mengangkat satu kakinya dari bumi dan terbang, dia akan begitu sombong, dan ummat akan mulai menyembahnya. Nabi s.a.w. pergi Isra dan Mi’raj. Dalam sebuah tubuh fisik yang dibuat sesuai dengan hukum alam (dunia) ini, dia bergerak (dalam ruang) melawan hukum alam ini, ke Surga dan kembali, dan dia tidak pernah sombong. Dia adalah sosok pribadi paling sederhana. Dia tidak pernah mengangkat kepalanya. Kini jika seseorang terangkat bahkan bukan terangkat dari bumi, namun hanya terangkat ke sebuah kursi, dia menjadi begitu sombong sehingga dia bahkan tidak mau menerima tamu yang mengetuk pintunya. Janganlah menolak untuk membuka pintumu !
Murshid at-Tazkiyya adalah seseorang yang berlari mengejar Allah. Allah mengiriminya abdi yang jujur (bersungguh), berlari menyertainya. Hal pertama yang diajarkan kepadanya adalah la ilaha ill-Allah, untuk membentuk tauwhid sempurna dalam pengikutnya. Ketika itu sudah terbentuk, maka mereka dapat mengucapkan “Allah, Allah”. Pada saat itu mereka melihat tanda-tanda Allah dimana-mana. Kemudian mereka dapat bersaksi: ash-hadu alla ilaha ill-Allah wa ash-hadu anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluh. Pada saat itulah mereka melakukan shahada yang benar. Tugasnya adalah menaruh asma al-jalala, “Allah, Allah” pada lidahmu paling sedikit 24,000 kali. Orang mungkin mengatakan bahwa itu akan mengambil waktu seharian. Cobalah itu esok, dan katakan padaku berapa lama itu mengambil waktu. Itu tidak akan lebih lama dari satu jam, tetapi lebih dekat kepada setengah jam. Dan setelah itu membaca 5000 salawat Nabi s.a.w.. Itu akan memakan waktu setengah jam. Jadi jumlah keduanya adalah satu jam ! Pada tahun 1996 shaykh saya, Shaykh Nazim Adil al-Haqqani (semoga Allah mensucikan ruhnya) memerintahkan saya ber-khalwat untuk empat puluh hari dalam sebuah masjid di Turki. Dia berkata, “Setiap hari katakan paling sedikit 48,000 “Allah, Allah” dan 24,000 salawat dan sepuluh juz al Qur’an. Jika kamu menyelesaikan itu, kamu dapat melanjutkan sampai kepada 124,000 kali “Allah, Allah” dan 48,000 salawat dan dua puluh juz. Jika kamu menyelesaikan itu, baca seluruh al Qur’an dan 700,000 “Allah, Allah” dan 240,000 salawat.”Itu sangat melelahkan. Meskipun saya tidak pernah memenuhi bacaan harian tiga puluh juz al Qur’an, saya mencapai 700,000 “Allah, Allah”, 48,000 salawat dan lima belas juz. Ini adalah tambahan dari semua awrad lainnya. Itu adalah Murshid at-Tazkiyya. Ketika mereka mengatakan, “Lakukan itu”, mereka mengirimkan dukungan. Bila engkau berjalan pada Jalan Nya, Dia mendekati mu. Itu adalah sebuah hadith Qudsi, “Jika engkau datang kepada Allah sejarak satu hasta, Dia datang kepadamu sejarak sepuluh hasta, dan jika kamu datang kepada Nya berjalan, Dia datangi kepadamu berlari.” Itu artinya Allah mengirim bantuan Nya, Kuasa Nya, selama engkau memperlihatkan kemajuan. Jika kita memperlihatkan kemajuan, Allah akan mengirim bantuan Nya. Semoga Allah mengirimi kita bantuan Nya. Seorang Murshid at-Tazkiyya telah memiliki semua karakteristik dari seorang Murshid at-Tabarruk. Dia memiliki methodeanya, jalannya, dan telah mewarisi rahasia dari Nabi s.a.w. untuk melakukan proses pensucian kepada pengikutnya melalui perjuangan murid di dalam diri mereka.
Murshid at-Tazkiyya harus menjadi seorang yang selalu melakukan sunnah dan shari’ah Nabi s.a.w. dalam tingkatan yang tertinggi, memelihara al-‘adheema. Dia sadar terhadap pemikiran apapun yang mendatangi pikirannya yang tidak sejalan dengan empat madzhab, dan dia menolaknya, karena dia telah dinaikkan pada tataran (tahap) dimana seluruh jantung dan pikirannya diarahkan oleh empat madzhab, mengikuti sunnah Nabi s.a.w. Dia telah mendapat izin untuk memberi instruksi dan membimbing pengikutnya untuk memanggil Rabb mereka dalam tahlil dua puluh empat ribu kali dan dengan mengatakan dua puluh empat ribu “Allah, Allah” dan mengatakan salawat lima ribu kali. Ketika mereka mengatakan “Allah”, jantung dan lidah bekerja bersama, seperti kombinasi raga dan ruh, kombinasi ruh dan pikiran, menggunakan bentuk fisik dan bentuk ruhaniah, menggabungkan dua elemen ini untuk membuat mereka menjadi pencari (pejalan) pada jalan ilahiah. Setiap kali seoranmg murid berkata “Allah” jantungnya berirama dan lidahnya berirama secara bersamaan, terbang kepada Hadhirat Ilahiah. Hingga kini, murid tariqat Naqshbandi berada pada tahap awal, jadi mereka masih pada tataran pertama. Pada tataran itu mereka tidak dapat melihat pencerahan jenis itu yang terkuak di hadapan mereka. Hanya di bawah asuhan Murshid at-Tazkiyya, seorang mubtadi‘ bergerak ke tataran musta‘i, dimana Shaykh akan menaruh pada lidahnya dzikir yang akan mengangkatnya ke Hadhirat Ilahiah. Murshid at-Tazkiyya dapat memanggil Shaykh Naqshbandi dimanapun, hidup atau mati.
Ketika dia memanggil mereka itu, shaykh itu akan segera datang melalui kekuatan spiritual Murshid at-Tazkiyya. Berapa banyak shaykhs telah mencapai tahap wali melalui tariqat Naqshbandi? Murshid at-Tazkiyya manapun yang memanggil, hidup maupun tidak, mereka harus datang dan memenuhi kebutuhannya. Dari kuasa yang diberikan Allah kepada Nabi s.a.w. , dia selanjutnya memberikan kepada Murshid at-Tazkiyya, untuk Murshid itu mengetahui semua awliya-ullah di setiap abad, dengan namanya maupun ruhaniahnya. Lagi pula, dia memiliki hubungan dengan mereka, karena dia memerlukan mereka dan mereka memerlukan dia. Dia harus tahu keluasan ilmu mereka, dan dari pancuran (mata air) ilmu yang mana mereka melepaskan dahaga mereka. Pada setiap waktu khusus, dia harus tahu ilmu apa yang sedang diterima wali itu, dan untuk hikmat dan tujuan apa mereka menerima (ilmu) itu. Sebagai tambahan, dia harus tahu setiap wali diantara mereka, dan dari Nabi yang mana dia memperoleh (mewarisi) ilmu rahasia itu, karena setiap wali berada dalam tapak tilas satu di antara seratus dua puluh empat ribu anbiya, menurut hadith al-‘ulama warith at-al anbiya.

Kekhususan Murshid at-Tazkiyya lainnya adalah bahwa dia selalu sadar akan serangan dari empat musuh kepada setiap muridnya. Allah mengkaruniakan kepada mereka sebuah kekuatan untuk bersama setiap muridnya, untuk menjamin/memastikan empat musuh yang mana yang sedang menyerang dan memperdaya mereka. Pada saat demikian itu, dia akan menangkap musuh itu dan menghindarkan mereka dari menyerang muridnya. Dalam kawalannya, muridnya akan mencapai tahap zahid dalam hidup ini. Mereka menjadi seseorang yang mempersembahkan seluruh perhatiannya semata-mata untuk membangun masyarakat yang sempurna dan ideal, kelompok dalam masyarakat dan bangsa, dimana tidak seorang pun membeda-bedakan terhadap ciptaan Allah. Bilamana seorang dari muridnya merasakan kemalasan, kelelahan, penyesalan, depresi atau perasaaan negatif lainnya, (hanya) dengan satu kata Murshid at-Tazkiyya dapat mengusir perasaan negatif itu dan membuat murid itu merasa lega, santai. Itulah sebabnya jika duduk bersama Mawlana Shaykh Nazim, itu membuang semua beban karena daya tarik itu yang datang dari matanya. Murshid at-Tazkiyya harus membentuk muridnya untuk berpegang teguh pada tahap tertinggi dari shari’ah dan sunnah Nabi s.a.w. Itu berarti disamping semua kewajiban (fardhu), Shaykh akan mendorong murid nya untuk mengangkat (menjalani) banyak ibadah sunnah. Sebuah contoh adalah tentang sebuah rukhsa – engkau punya wudu dan mempertahankan itu sampai shalat berikutnya. Engkau tidak memperbaharui wudu itu pada saat itu. Namun tahap kedua dari adheema adalah membuat wudu pada setiap waktu shalat; tahap tertinggi adalah untuk membuat ghusl(?) pada setiap waktu shalat.
Murshid at-Tazkiyya harus memegang kuasa (kekuatan) untuk memberi mimpi benar kepada murid. Dalam pengalaman saya, banyak orang datang dan mengatakan, “Saya melihat seorang Shaykh dalam mimpi saya.” Dia tampak seperti ini (menggambarkan mimpinya) dan memberikan saya sebuah barang (cindera mata) dari Sayedena Muhammad .” Kemudian, mereka mengecek kepada Shaykh secara berhadapan , atau mereka melihat fotonya di Internet, atau mereka melihat seorang murid Shaykh itu dalam sebuah mimpi padahal dia tidak mengenalnya. Kemudian mereka bertemu dengan Shaykh itu, dan menyadari mereka melihatnya sebelum ini dalam sebuah mimpi . Murshid dapat mencapai (menghubungi) siapapun di dunia ini melalui mimpi dan penampakan. Orang dapat menjadi pengikut melalui mimpi dan penampakan, membaktikan diri untuk mengikuti jalan ahl as-sunnah wal-jama‘at pada tahap (level) tertinggi, bahkan menerima perintah dari Shaykh melalui mimpi dan penampakan. Begitulah kekuatan (kuasa) seorang Murshid at-Tazkiyya. Pada waktu itu, Murshid at-Tazkiyya akan memberikan muridnya yaqaza, dan memelihara napasnya, kedua nya – apakah meniup atau menghirup – harus dilakukan dengan pengamatan bahwa pada setiap saat, Allah dapat menghentikan murid itu dari meniup atau menghirup. Itu artinya bahwa pada setiap detik, dengan barakah Murshid, yang diambilnya dari Nabi s.a.w., murid akan mengingat Rabb nya dengan setiap napasnya. Kini untuk banyak di antara kita, bernapas adalah sesuatu yang dilakukan tubuh secara otomatis tanpa kesadaran kita. Kita bercakap dan kita bernapas, tanpa sadar. Kita tidak mengingatnya. Ketika kita menyelam dalam laut, barulah kita menyadari, untuk pergi ke permukaan dan mengambil sehirup udara.
Murshid at-Tazkiyya akan membuat murid nya menyadari bahwa pada setiap saat dia diselamkan dalam sebuah samudera, bahwa energy yang mereka serap atau keluarkan, adalah melalui Bahrul Qudra-nya Allah. Maka mereka akan ingat pada setiap napas untuk mengatakan “Allah, Allah” ketika meniup dan menghirup, dan mengingat Allah melalui sifat Nya, “Hu, Hu, Hu” atau melalui asma Nya yang lain, tergantung pada waktu hari dan kondisi. Setiap hirupan dan setiap tiupan adalah dengan satu asma Allah. Dengan setiap hirupan terdapat sepuluh malaikat menyertai napas itu, dan sepuluh lagi dengan setiap tiupan. Setiap malaikat diciptakan dengan cahaya yang berbeda dari Nur Allah. Grandshaykh mengatakan bahwa sembilan per sepuluh dari cahaya itu adalah dari Sayedena Muhammad s.a.w. dan sepersepuluhnya adalah dari Nur Ciptaan. Kita tidak dapat berasal dari Nur Allah; itu tidak mungkin. Kita adalah abdi Allah dan tidak dapat berbagi Nur Nya. Setiap hirupan dan tiupan adalah dengan sembilan per sepuluh Nur Muhammad dan sepersepuluhnya dari bahr al-qudra. Awliya mengatakan bahwa manusia memiliki 24,000 napas dalam 24 jam. Setiap hirupan dan tiupan harus dengan dzikir-ullah. Hanya Murshid at-Tazkiyya yang dapat meletakkan itu pada lidahmu. Setiap napas adalah dengan dzikir-ullah, namun kamu lalai (cuek) akan hal itu. Jika kamu mencapai tahap lebih tinggi, kamu akan memiliki kesadaran untuk setiap napas. Sekali kamu mencapai keasadaran tentang 24,000 napas, Murshid akan menambah kesadaran itu menjad 700,000 kali per hari. Itu disebut sebagai kekuatan ta’i al-lisan. Mereka memekarkan waktu untuk membuatmu memanggil Rabb mu 700,000 kali, dengan memperpanjang waktu, tanpa membuat waktu itu lebih besar, tetapi dengan menambah nya dengan kekuatan lidah, sebagaimana Allah dapat membuat seluruh dunia melalui lubang jarum tanpa membuat dunia lebih kecil atau lubang jarum lebih besar. Itu adalah dari haqiqat at-ta’i – salah satu dari tujuh kenyataan (haqq) dalam diri manusia. Kenyataan (hakikat) mengkerutkan jarak adalah dalam jantung manusia. Bagi seseorang yang telah mencapai tahap ini, mereka hanya memerlukan berkata “bismillah ir-rahman ir-raheem” dan dapat berada di sebarang lokasi di bumi dalam sesaat. Bagaimana mereka melakukan hal itu ? Kini kamu bergerak dengan raga fisik kamu. Raga dibatasi oleh hukum fisika dunia, gaya berat, dsb. Ketika kamu bergerak, kamu bergerak dengan kemampuan itu. Kamu menggunakan sebuah kendaraan, seperti sebuah mobil, yang memiliki kekuatan fisik untuk membawamu. Untuk bergerak dengan lebih cepat kamu menggunakan sebuah pesawat terbang. Itu memiliki mesin yang lebih kuat yang akan membawamu. Jadi mengapa kita terheran-heran, ketika kita dapat menerbangi sebuah jarak yang, sebagai contoh, satu abad yang lalu akan memakan waktu tiga tahun untuk mencapainya, katakan dari China ke Mecca? Jika pada waktu itu kamu mengatakan, “Sesuatu akan membawamu lewat udara satu hari nanti,” orang akan mentertawakan kamu. Jadi awliya-ullah menemukan energy yang lebih kuat yang dapat membawamu : energy ruhaniah. Mobil dan pesawat menggunakan bahan bakar yang berasal dari kedalaman bumi. Itu (sesuatu) dipisahkan (di-isolasi - retret) dari sekeliling dengan dirinya sendiri dan itu menjadi energy, sedang sebelumnya itu adalah sesuatu yang lain, dan Allah tahu apa itu. Ruh terkait dengan surgawi. Jadi Allah tahu energy apa yang ada di dalamnya. Jika seorang awliya mau bergerak, mereka membawa raga dan menaruhnya di dalam ruh dan kemudian bergerak dengan kecepatan ruh. Kemudian ketika mereka sampai di tujuan, mereka mengeluarkan raga dari ruh dan ruh memasuki kembali raga itu. Mengapa kita dapat menerima kenyataan dengan sebuah pesawat, tetapi tidak menerimanya pada kasus raga dan ruh ? Itu memerlukan pondasan/landasan iman kepada hal yang gaib (tak nampak). Awliya menggunakan kekuatan yang sama untuk mengkerutkan jarak. Energy dapat membawa apapun. Untuk mengangkat sebuah blok besi dua – ton , engkau membawa sebuah crane, dan dengan sebuah mesin kecil, itu dapat mengangkatnya. Mengapa kita memandang bahwa kekuatan ruh sebagai tidak berfungsi ? Kamu dapat memanfa’atkannya, dengan menggunakan kekuatan yang dikembang kan oleh para wali. Ta’i al-lisan adalah mirip dengan ta’i al-makan. Jika kamu mau membuat dzikir 24,000 kali, kamu dapat dengan mengulang-ulang “Allah, Allah” dengan setiap hirup dan tiup. Jika kamu mau membuat dzikir dengan biji tasbih, kamu dapat mencapai, sebagai contoh, 200,000 dengan lidah normal. Tapi untuk mencapai 700,000 kali kamu memerlukan ta’i al-lisan. Dengan kekuataan Murshid at-Tazkiyya, yang mendapatkannya dari Nabi s.a.w. dia dapat membuatmu mengatakan “Allah, Allah” 700,000 kali dalam satu jam; bagi beberapa murid dalam setengah jam; untuk beberapa lainnya dalam 15 menit, dan untuk beberapa lagi dalam satu menit . Bagaimana itu mungkin? Bagaimana dapat lidah mencapai itu ? Di bawah lidah, Allah menciptakan urat darah (artery) yang langsung menyambung kepada jantung. Jika kegelapan dihapuskan dari lidah dan jantung, dengan jalan murid berlanjut dalam mengikuti perintah murshid, kamu menjadi nurani, dan pada saat itu kamu bukan lagi raga, atau lidah, namun kamu menggunakan Cahaya, yang terkait dengan Surgawi. Segala sesuatu yang menyangkut surgawi dapat melakukan apapun; tiada sesuatu yang tak-mungkin, tiada lagi batasan. Pikiran manusia terkait dengan bumi keduniawian. Tetapi ketika orang menjadi nuriyaaniyoon, itu adalah makna dari hadith Qudsi :
Tidak surga tidak pula bumi dapat menampung Aku, kecuali jantung abdi Ku yang beriman. Jantung dalam situasi seperti itu dapat melaksanakan keajaiban (mu’jizat). Jantung (seperti) itu dapat mencapai 7 juta kali “Allah, Allah”, bahkan 70 juta kali. Itu semua diperkenankan bagi setiap manusia, jika dia mau mengikuti awliya-ullah. Allah bersabda : Awliya Ku berada di bawah cungkup (dome) Ku; tiada seorangpun tahu tentang mereka kecuali Aku”.
3) MURSHID AT-TASFIYYA
Murshid at-Tasfiyya adalah murshid tahap ketiga, di atas tahap Murshid at-Tazkiyyat dan Murshid at-Tabarruk. Murshid at-Tabarruk adalah keaulia-an tahap pertama dalam Thariqat Naqshbandi. Tahap kedua adalah, Murshid at-Tazkiyyat, harus mencakup semua aspects Murshid at-Tabarruk dan begitu pula Murshid at-Tasfiyya membawa semua yang dibawa Murshid at-Tazkiyyat dan Murshid at-Tabarruk. Semua karakteristik tahap sebelumnya terpantul pada Murshid at-Tasfiyya ini. Murshid at-Tabarruk dan Murshid at-Tasfiyya tidak memiliki perhatian kepada dunya ini: Mereka itu zahid. Cukup bagi mereka makan sedikit, minum sedikit, dan hidupnya terdiri dari ibadah dan membimbing orang. Murshid at-Tasfiyya adalah zahid fid-dunya maupun zahid fil-akhira. Itu artinya surga bagi mereka bukanlah tujuannya. Banyak orang memohon surga abadi, jannat al-khuld. Namun surga bukanlah tujuan seorang awliya-ullah; mereka harus sederhana (ascetic). Sasaran mereka hanyalah Al Khaliqu. Apapun selain Allah tiada artinya buat mereka - maa siwallah. Semua yang diciptakan Allah adalah maa siwahu. Allah adalah Sang Pencipta dan semua lainnya adalah ciptaan Nya. Awliya-ullah pada tahap itu tidak tertarik untuk mendapatkan apapun yang diciptakan Allah. Kecintaan mereka hanya kepada Nya, dan bagi mereka akhira tidak berbeda dari dunya. Untuk kita, akhira adalah harapan kita dan sasaran kita. Untuk mereka Allah adalah harapan mereka dan sasaran mereka. Nabi berkata saw : "Setelah orang-orang diadili dan dikirimkan ke surga dan neraka, Allah akan muncul bagi beberapa orang di surga [Dia akan menampakkan Diri, turun]. Harapan awliya ini hanyalah Allah – tiada lainnya. Seluruh perhatian (focus) melalui jantungnya tidak dapat kepada selain Allah S.W.T.. Jika sesaatpun Cahaya mereka tertuju kepada selain Allah, mereka akan disingkirkan sepenuhnya dari Hadhirat Ilahi. Dan jika Allah S.W.T. mengungkapkan kepada wali itu apapun dari gaib tahap tinggi, derajat, keadaan dan pengetahuan, dia tidak boleh melihatnya. Dia harus tetap mempertahankan konsentrasinya untuk mencapai pintu Rabb nya. Salah seorang dari murshids demikian itu, Bayazid al-Bistami, yang lebih tinggi dari tahap itu, selalu melihat ke depan tidak pernah melihat ke belakang, ke kanan atau ke kiri. Dia mencapai tahap di mana dia mendengar suara dari arah Hadhirat Ilahi. Dia berkata, “Ya Rabbi, bukalah untukku pintu Mu. Ini adalah harapan ku, ‘ishq – ku . Bukalah untukku pintu Mu.” Dan dia mendengar sebuah suara : “Ya Bayazid. Pintu Ku tidak dapat dibuka sampai kamu menjadi abdi dari abdi Ku, mazballatan lil‘ibad untuk ciptaan lainnya – sebuah tong untuk sampah mereka. Barulah Aku akan membuka untukmu pintu Ku.” Grandshaykh tidak diminta untuk menjadi tong sampah bagi dirinya, namun menjadi tong sampah orang yang paling hina yang ditemuinya. Engkau dapat menjadi tong sampah bagi ayahmu, ibumu, isterimu, saudaramu atau temanmu, tetapi untuk seorang asing yang tak kamu kenal ? Dan saya yakin bahwa tidak seorangpun menerima menjadi tong sampah bagi ayah atau ibunya. Dia bahkan tidak setuju bahwa dia adalah sampah. Dia berpikir dia memiliki pikiran paling cemerlang dan semua lainnya adalah dungu, idiot. Bahkan anak-anak sekarang ini sibuk kesana kesini berpikir bahwa mereka lebih tinggi pikiran (intelligence) mereka dari orang dewasa. Mereka ingin mendidik kita ! Kita tidak akan masuk ke dalam cerita begitu, tetapi apa artinya “memikul beban abdi Ku”. Mengapa Sayyidina Muhammad datang sebagai seorang “rahmat bagi ummat manusia”? Karena dia memikul beban ummatnya. Wa innaka la‘ala khuluqin ‘adheem. “Engkau adalah (seorang) dengan karakter lebih tinggi.” Itu adalah karakter (akhlaq) terbaik. Ketika Nabi Muhammad s.a.w.dilukai dia tidak membalas, padahal dia memiliki kekuatan untuk membalas dan dia tidak lakukan dan bahkan dia mema’afkan, wa innaka la‘ala khuluqin ‘adheema, dia adalah seorang yang paling rendah hati (most humble). Dia adalah tertinggi, tetapi dia memperlihatkan dirinya sebagai yang paling rendah.
Sekarang orang zaman ini secara salah mengatakan, ana basharan mithlukum, bahwa Nabi s.a.w. hanyalah raga, daging dan ruh. Faktanya adalah, Allah membuatnya paling tinggi, namun Nabi membuat dirinya pada tahap yang sama dengan semua orang. Ketika menjadi manusia terhebat, dia menundukkan kepalanya, dan dia tidak menengadahkannya. Apakah kamu saling memikul beban? Tidak. Jadi mengikuti jalan awliya-ullah, ketika dia melewati semua beban itu, Shaykh Bayazid al-Bistami meminta kepada Allah S.W.T., “Jadikanlah tubuhku sebesar neraka, sehingga tidak seorangpun yang masuk neraka kecuali aku.” Dan dia sangat tulus dalam du’a-nya itu. Dia seratus persen jujur dalam permohonannya itu. Sasaran Murshid at-Tasfiyya hanyalah Allah : ilahi anta maqsoodi wa rida’ ka matlubi. Ketika pintu itu terbuka bagi Murshid at-Tasfiyya, pada saat itu Allah akan mengungkapkan kepadanya segala sesuatu yang tertulis di lawh al-mahfoudh. Ketika al Qur’an diungkapkan kepada Nabi s.a.w., itu dipindahkan dari lawh al-mahfoudh ke bayt al‘izza. Ketika seorang murshid mencapai tahap itu, dia akan dapat mengetahui rahasia al Qur’an yang diungkapkan kepada Nabi. “Tasfiyya” berarti meninggalkan segala sesuatunya. Sebuah contoh, jika sebuah toko melelang barangnya karena mau tutup usaha, dan semua butir barang dalam toko itu diuangkan. Ketika seorang abdi sejati Allah mencapai tahap itu, Allah S.W.T. akan membuka segala sesuatunya kepadanya. Dia memberikan abdi begitu itu kuasa untuk menarik para pengikutnya tanpa mengatakan sepatah katapun – hanya melalui jazbat, daya tarik melalui mata. Terdapat banyak awliya masa kini dan banyak yang telah meninggal dunia. Orang mengunjungi kuburan mereka dan merasakan jazbat mereka . Hal sama dapat terjadi kepada awliya yang masih hidup, yang dapat menarik mu kepada mereka tanpa melakukan apapun, karena kuasa itu dikaruniakan Allah melalui Nabi s.a.w., dan berada dalam jantung mereka. Allah S.W.T. memberikan murshid itu sebuah kekhususan untuk melihat kepada pengikutnya. Setiap abdi telah dibentuk (molded), ketika dia dilahirkan ke dunia ini dan orang tua nya membesarkannya. Mereka dibentuk dengan 800,000 kebiasaan (adab) buruk yang berbeda-beda, yang tak dapat dihitung! Kamu tak dapat menghitung 800,000 adab buruk kan? Tentu saja tidak dapat.
Terdapat 800,000 titik spiritual diletakkan pada selebar tubuh fisik, masing-masingnya memiliki karakteristik buruknya sendiri, nafsu buruk dari ego. Masa kini, praktisi pengobatan tradisional dan alternative mengenali bahwa raga fiisik memiliki tiga ratus enam puluh titik penyembuhan. Tetapi dalam realitas, terdapat 800,000 titik tekan spiritual melalui mana awliya-ullah membersihkan karakteristik buruk kita.
Tanpa membersihkan dulu 800,000 titik ini, tidak dapat seseorang dihadapkan kepada dan mengalami spiritualitas Sayyidina Muhammad s.a.w. atau berkomunikasi dengan Rasulullah dengan atau melalui jantungnya, bahkan tasbih al-malaikat pun tidak dapat kita dengar. Murshid at-Tasfiyya dikaruniai kuasa untuk membersihkan 800,000 karakter buruk itu. Tujuh ratus amal terlarang akan membawa kamu kepada 800,000 karakter buruk, dan awliya-ullah dapat menarik / menolong mereka dari keburukan itu.

Dengan lidah kamu tidak dapat membuat klasifikasi karakter buruk ini (vokabulari tidak cukup). Murshid at-Tasfiyya mencabuti karakter buruk itu seperti sebuah saringan, mengayak biji-bijian sampai tinggal karakter baik saja. Lagipula, Allah membuat Murshid at-Tasfiyya untuk selalu hadir dengan para wali yang telah meninggalkan dunia fisik ini, begitu juga mereka yang masih tinggal di dunia ini. Semua wali terhubung dengannya setiap saat, memberinya masukan apa yang mereka miliki dan apa yang mereka kerjakan, karena dia adalah seorang yang tertinggi. Dia dapat memantau muridnya 12,000 kali sehari. Setiap kali dia memandang murid nya dia mengiriminya kebijaksanaan, nasihat untuk mengerjakan kebaikan. Jangan mengira itu terlalu banyak ! Mereka itu langka, seperti sebuah berlian. Beberapa Muslim, khususnya yang dibesarkan di U.S., tidak mengetahui apapun tentang awliya-ullah atau tentang karamat. Sungguh disayangkan, sebagian besar Muslim di seluruh dunia telah dicuci otak dari warisan Islam sejati dan ajaran tradisi dan praktek Islam oleh doktrin Wahhabi. Semoga Allah melindungi kita dari ideologi atau mentalitas yang demikian itu !

Begitulah kuasa dan jangkauan ilmu Murshid at-Tasfiyya, bahwa dari setiap kata dalam al Qur’an, sedikitnya dia dapat memungut sembilan belas makna. Sa-usleehi saqar. La-wahatan lilbashr. ‘Alayha tis‘at ‘ashr. “Segera kami akan melemparkan dia ke neraka. Diatasnya adalah sembilan belas. Dan kami tidak menempatkan kecuali malaikat yang menjaga neraka.” Sembilan belas ini adalah malaikat khusus, penjaga neraka. Mereka (malaikat) itu besar sekali dan sangatlah kuat. Murshid at-Tasfiyya juga memegang kunci bagi mujizat (miracle) pribadi ujntuk setiap murid. Untuk setiap murid terdapat sebuah rahasia dalam al Qur’an, disebutkan sebagai : as wa laa yaabis wa laa ratbin illa fee kitabin mubeen. Murshid tahu mana dari kalimat al Qur’an yang didisain untuk menghentikan kamu dari jatuh kedalam kegelapan dan dilemparkan ke dalam neraka, yang dijaga oleh sembilan belas malaikat. Dia akan memberimu awrad (wirid) itu untuk dibaca setiap hari.
Murshid at-Tasfiyya mengetahui awrad yang dibuat khas untuk dirimu; untuk alasan inilah kamu memerlukan seorang wali. Jika seseorang merangkai sebuah kalimat dibuat dari kode yang salah, itu tidak akan efektif (memberi hasil).
Murshid at-Tasfiyya dapat merangkai dari al Qur’ an dan hadith an-nabi bacaan untuk membersihkan kamu dari karakter buruk pribadimu yang akan membawamu ke neraka, jika mereka tidak dibuang. Terdapat lima ratus ma‘muraat dan delapan ratus perbuatan terlarang.
Murshid at-Tasfiyya akan membimbingmu kepada lima ratus perintah itu dan membimbingmu untuk mencegah kamu jatuh kepada delapan ratus perbuatan terlarang, kesemuanya dengan satu kata tunggal yang ditugaskan bagimu untuk membacanya dari al Qur’an; untuk setiap pribadi sebuah kata yang berbeda.

Karakter lain yang diberikan Allah kepada Murshid at-Tasfiyya : dengan pengamatannya kepada alam semesta dia akan menarik / mencabut dari setiap planet tiga puluh lima tanda yang berbeda-beda tentang Hu Ahad Allah S.W.T. Dari setiap sebarang planet dia memandang dengan pandangan spiritualnya, dia akan menurunkan / menyadap tigapuluh lima tanda spiritual dari Hu Ahad Allah. Lebih jauh, dia dapat menanam tanda-tanda yang berbeda-beda ini ke dalam lima tingkatan jantung - qalb, sirr, sirr-as-sirr, khafa, dan akhfa. Ketika kamu mengatakan la ilaha ill-Allah – bacaan itu akan mengambilmu lewat lidah dan jantung, qawlan wa fi‘lan, dimana kamu akan dibuat mengamati HU Ahad Allah S.W.T. Allah memberikan Murshid at-Tasfiyya kuasa mujizat penampakan spiritual ini yang lebih kuat dari penampakan mata fisiknya. Qutb zaman itu akan berada di bawah authoritas nya.
Allah memberikan Murshid at-Tasfiyya kuasa untuk membaca pada setiap tiupan napas dan setiap hirupan napas 700,000 kali “Allah, Allah”. Dia memiliki ‘ilm al-yaqeen, ‘ayn al-yaqeen, haqq al-yaqeen, dan la rayba feeh. Kesemua yang telah kita gambarkan tentang Murshid at-Tasfiyya tadi hanyalah sekedar pandangan selintas saja dari maqam dan kuasanya.
4) MURSHID AT-TARBIYYAH
Tahap tertinggi dari irshad bagi ulama dalam membimbing ummah adalah Murshid at-Tarbiyya, “al-‘ulama warithat al-anbiya.” Semua ilmu awliya hanyalah setetes saja dari Samudera Ilmu Nabi s.a.w., yang dibukanya untuk semua awliya. Dari awal hingga akhir itu hanyalah setetes dari Samudera, jadi bayangkan saja apa yang diberikan Allah S.W.T. kepada Nabi s.a.w. Tulisan ini adalah tentang awliya Thariqat Naqshbandi. Mereka yang mendapat kesempatan untuk berjama’ah dengan mereka memiliki kesempatan untuk mendapat manfa’at dari mereka. Mereka yang tidak memiliki kesempatan itu atau belum mengambil bay’at‘ dengan salah satu mursid demikian itu telah kehilangan kesempatannya.
Suatu kali Grandshaykh Sharafuddin Ad-Dhagestani membahas apa yang dikirimkan awliya. Pada majelis itu terdapat ribuan, kadang-kadang ratusan ribu murids dalam jema’ahnya. Satu malam mereka duduk dan seorang asing datang. Shaykh Sharafuddin memandang kepada jantungnya dan mengamati bahwa orang itu tidak memiliki kesempatan untuk memperoleh manfa’at ajaran luhur yang umumnya datang dalam majelis yang demikian itu. Untuk mencegah majelis itu jangan sampai turun tahap (maqam)nya dan agar supaya mempertahankan maqom pengajian itu pada tahap yang tinggi, dia berkata, “Wahai anakku. Aku sedang memikirkan kamu.” Dia tidak mau menyia-nyiakan waktu murid dengan berbicara pada tahap (maqam) rendah atau dengan mendapat pertanyaan (dari orang yang baru datang itu), dst. Yang akan mengganggu aliran informasi. Shaykh Sharafuddin memiliki sebuah jubba sebagai hadiah kepadanya dari Sultan Abdul Hamid. Jubbah itu didekorasi dengan tujuh ratus ribu keping emas, penuh dengan rajutan benang, dsb. Dia ingin menunjukkan kepada murid nya bahwa dia tidak memiliki ikatan kepada jubah itu dibanding dengan nilai dari majelis itu, dan dia berikan jubba itu kepada orang asing itu. Orang asing itu sangat bergembira, dan pada saat yang sama khawatir bahwa shaykh itu akan mengambil (jubba) itu kembali, maka dia pamit secepatnya. Itulah sebabnya suhbat seperti itu hanyalah bagi pengikut ahl as-sunnah wal-jama‘at yang berpegang teguh pada setiap sunnah dan pemahaman hakikat spiritual. Kita menjelaskan sebelum ini tiga macam murshid : tabarruk, tazkiyya, dan tasfiyya. Tiga tahap yang berbeda ini dapat saja terjadi di tariqat manapun. Murshid tariqat manapun dapat mencapai tiga tahap ini.
Namun tahap Murshid at-Tarbiyya hanya terdapat di tariqat Naqshbandi, tidak di tarekat lain.
  1. Allah telah menganugerahkan (tahap) itu kepada tariqat Naqshbandi. Tahap apapun yang dicapai para mashaykh tariqats lainnya itu, mereka hanya mencapai tahap Murshid at-Tasfiyya. Namun mereka yang Naqshbandi dan telah mencapai tahap tarbiyya telah melewati tiga tahap yang digambarkan sebelumnya itu.
  2. Murshid at-Tarbiyya, pembimbing yang menaikkan murid, agar supaya mencapai tahap itu dia harus mencapai tahap ijtihad, al-ijtihad al-mutlaq (absolute).
    Bukan hanya dalam shari’ah, tetapi juga dalam haqiqat. Dalam bahasa Arab hal itu adalah sama dengan, tawkeel al-shamila, kuasa mewakili (the power of attorney).
    Terdapat power of attorney umum (general) dengan kuasa khusus, dan kuasa yang lebih luas, terdapat pula power of attorney lengkap (complete). Dan di atas itu, dalam tradisi Arab kita, terdapat wakalat shamila kamilat mutlaqa: power of attorney umum, lengkap dan tak-berakhir.
  3. Dalam Islam, Hukum Ilahiah yang kita ikuti, shari‘ah, ditujukan kepada situasi kehidupan secara luas, pikiran terbuka. Kita dapat berpisah dan kemudian bercerai tanpa kembali kepada pasangan kita, tanpa berbicara kepadanya. Kita dapat mengawini seseorang yang tidak hadir (in absentia), dan berkumpul dengan pasangan itu pada waktu kemudian.
Jadi Murshid at-Tarbiyya ini diberikan kuasa umum, lengkap dan tak-berakhir dalam membuat putusan juristik shari‘ah, maupun putusan dalam hal hakikat. Ini adalah murshids yang dimaksud Allah dalam sabda Nya, rijaalun sadaqu ma ‘ahadallahu ‘alayh; mereka mendapat kepercayaan penuh Allah. Grandshaykh Abdullah Fa’iz Dhagestani, semoga Allah mensucikan ruhnya, berkata terdapat sembilan awliya yang doa-nya akan diterima Allah dan ia dapat merubah apapun yang mereka minta dari (yang tercantum dalam) lawh al-mahfoudh. Mujtahid mutlaq in shari‘ah and haqiqat.
Ketika Grandshaykh Abdullah Fa’iz Ad-Dhagestani ditanya oleh Grandshaykh-nya yaitu Shaykh Sharafuddin, untuk menerima tahap irshad, dia berkata, “Jika engkau bertanya wahai syaikhku, maka saya menjawab tidak.” Kemudian Shaykh Sharafuddin berkata, “Ini adalah perintah langsung dari Nabi s.a.w..” Grandshaykh Abdullah kemudian berkata, “Jika itu adalah perintah, ala raasee wal-ayn. Tetapi kalau itu hadiah (pemberian), maka saya tidak menerima tanggung jawab seperti itu. Saya tidak menerima, kecuali dengan satu syarat….saya minta satu syarat kepada Nabi” Malam itu dalam pertemuan awliya dalam majlis nabi-nabi, Grandshaykh Sharafuddin mendiskusikan situasi itu dengan Nabi Muhammad s.a.w.. “Ya Rasulullah, Dia muridku Abdullah Fa’iz Dhagestani tidak menerima irsyad, kecuali dengan satu syarat.” Nabi berkata, “Tanyakan apa syaratnya.” Hari berikutnya Syaikh Sharafudin mendatangi murid-nya syaikh Abdullah untuk mengikuti perintah Nabi s.a.w., Shaykh Sharafuddin bertanya kepada Shaykh Abdullah apa syaratnya anakku, karena Nabi memerintahkan aku untuk menanyakan syarat yang kau ajukan…!. Shaykh Abdullah menjawab, “wahai syaikhku, saya berfikir,….dalam masa kini terdapat begitu banyak kegelapan, kebodohan (ketidak-pedulian), kebohongan, penghianatan, racun, dan penipuan. Dalam kegelapan seperti itu yang hadir pada masa kini, tidaklah cukup setahun atau limabelas tahun atau seratus tahun untuk mencapai keberhasilan spiritual tahap manapun. Mereka bahagia dalam majlis saya ketika saya memberikan siraman ruhani. Tetapi begitu mereka berjalan keluar pintu majelis, nafsu buruk akan menyeret mereka ke bawah lagi. Jadi mengapa membuang waktu saya, jika lebih baik membaca awrad saya sendirian.” Shaykh Sharafuddin berkata, “Jadi apa yang kamu kehendaki ?” Shaykh Abdullah berkata, “Saya menginginkan sebuah hadiah dari Nabi s.a.w., hadiah itu adalah bahwa barang siapa duduk dalam majlis saya, mendengarkan pembicaraan saya, tanpa melakukan apapun atas prakarsanya sendiri, saya mohon izin untuk mengangkat dia kepada tahap saya. Namun tidak hanya itu, jika saya berbicara tentang wali yang manapun dalam majlis saya, wali manapun yang saya sebutkan namanya, saya menghendaki murid-murid saya diberi perkenan mendapatkan tahap spiritual wali itu. Jika tidak dikabulkan, saya tidak memerlukan (jabatan – tahap) itu.”
Kamu lihat tahap Murshid at-Tarbiyya? Dia tahu bahwa kita tidak akan mendapatkan apapun dengan upaya kita sendiri, upaya murid sendiri. Seorang mursyid Tarbiyya itu umpama seorang ayah dengan anaknya, dia menanggung seluruh tanggung-jawab. Bahkan ketika mereka telah dewasa dan hilir mudik di jalanan, orang tua akan berbuat terbaik untuk anak mereka. Grandshaykh Sharafuddin berkata, “baik, akan Saya sampaikan nanti kepada Rasulullah.” Dalam diwan al-awliya Shaykh Sharafuddin berkata, “Ya Rasulullah, Abdullah Effendi muridku menyampaikan bahwa ia berfikir,….dalam masa kini terdapat begitu banyak kegelapan, kebodohan (ketidak-pedulian), kebohongan, penghianatan, racun, dan penipuan. Dalam kegelapan seperti itu yang hadir pada masa kini, tidaklah cukup setahun atau limabelas tahun atau seratus tahun untuk mencapai keberhasilan spiritual tahap manapun. Ketika mereka bahagia dalam majlis Abdullah ketika ia memberikan siraman ruhani. Tetapi begitu mereka berjalan keluar pintu majelis, nafsu buruk akan menyeret mereka ke bawah lagi. Jadi Abdullah bertanya kepada saya mengapa membuang waktu saja, jika lebih baik membaca awrad sendirian. Kemudian ia menginginkan bahwa menginginkan sebuah hadiah dari Mu Ya Rasulullah. Hadiah itu adalah bahwa barang siapa duduk dalam majlisnya, mendengarkan pembicaraannya, tanpa melakukan apapun atas prakarsanya sendiri, Abdullah Effendi mohon izin untuk mengangkat dia kepada tahap spiritual yang ia miliki. Namun tidak hanya itu, ia menginginkan juga bahwa ketika ia berbicara tentang wali yang manapun dalam majlisnya, wali manapun yang ia sebutkan namanya, ia menghendaki murid-muridnya kelak diberi perkenan mendapatkan tahap spiritual wali itu. Jika tidak dikabulkan, ia tidak memerlukan (jabatan – tahap) itu.”
Lalu apa jawab Rasulullah, “ ana raadi, anaa raadi, ana raadi - “Saya terima! Saya terima! Saya terima!” dengan tangannya diletakkan di dada (jantung)nya. Dan dia menambahkan perkataannya kepada Syaikh Sharafuddin demikian, “ Ketahuilah,..tak seorang walipun sebelum ini yang memohon kepada saya seperti itu untuk murid-murid nya.”. Itu berarti Nabi s.a.w.tidak menunggu kita untuk maju (progress) dalam tariqat, karena dia tahu kita tak dapat berbuat apa-apa pada waktu ini, pada abad akhir zaman ini. Kita adalah mujtahidin mutlaq, yang berarti tidak seorangpun dapat membuat sebuah deduksi (kesimpulan khusus) ketetapan juristic dari shari‘ah atau haqiqat kecuali Murshid at-Tarbiyya; dia adalah yang tertinggi dalam maqom spiritual. Di atas kuasa itu, dia harus jauh mendalami dan mendapatkan hakikat dan kepastian (certainties), dan mendapatkan pengakuan kebenaran (authenticated) bagi semua ilmunya dan mendapatkan konfirmasi/pembuktian dari semua ilmunya yang berada dalam kawasan ‘ilm al-yaqiin, ‘ayn al-yaqiin and haqq al-yaqiin. Tahap murshid ini mirip dengan saluran digital yang kini kita miliki (dalam bidang komunikasi), multiplexed dari satu satellite, signals yang dapat dilihat dan didengar serentak, dan bukan maya namun sangat nyata, dengan kepastian lengkap.
Murshid at-Tarbiyya itu tidak sedang mengalami imaginasi atau illusi, namun sesungguhnya hidup dalam waktu atau tempat itu, dengan memiliki kapasitas pendengaran dan penglihatan mutlak (paling tinggi yang dapat dimiliki manusia).
Murshid itu hadir di semua kenyataan sebagaimana dia hidup d masa lalu, masa kini dan bahkan masa datang, sampai saat Hari Pengadilan. Allah S.W.T. mengkaruniakan kepadanya lima elemen yang berbeda dari Irshad:
  1. Asuhan Allah (inayatullah)
  2. Asuhan Nabi, penampakan dan dukungan (inayat an-nabi)
  3. Asuhan para pembimbing terdahulu dan penampakan (vision) (inayatan min al-murshideen al-‘idham)
  4. Asuhan grandshaykh nya (inayat al-murshid)
  5. Asuhan dan penampakan dari dua malaikat di pundak/bahu kanan dan kiri (inayat Kiraman Katabeen)
Murshid ini diperkenankan mengetahui semua rincian dari Hari Perjanjian, ketika ruh ditanya, “Bukankah Aku Rabb-mu?” Mereka berkata, “Ya.” Allah bertanya kepada ruh “Siapa Aku dan siapa kamu?” Ruh menjawab, “Engkau adalah Rabb kami dan kami adalah abdi Mu.” Pada saat itu Allah merencanakan semua hal yang semua orang harus lakukan dalam hidupnya sebagai tanggung jawabnya. Itu adalah ‘alam al-meethaq – Dunia Perjanjian. Pada saat itu, Murshid at-Tarbiyya berada di sana dan mengetahui nya secara rinci dan ketika dia datang ke dunia dia masih ingat saat itu dan rinciannya.

Berapa orang Murshid at-Tarbiyya datang sejak masa Nabi s.a.w. hingga sekarang?
Allah memberinya ilmu dari semua awliya-ullah, dari sejak saat Sayyidina Adam sampai kepada Hari Pengadilan, dengan nama dan ilmu mereka. Ini adalah kunci khusus seorang Murshid at-Tarbiyya. Para shaykh adalah pewaris para Nabi. Bukan ulama masa kini – mereka itu juhala – ignoramuses (cuek – dungu). ‘Ulama adalah salih dan bersungguh, memiliki kedua-dua ilmu : ‘ilm ash-shari‘ah (hukum) dan ‘ilm al-haqiqat (spiritualitas). Karakteristik lain yang diberikan kepada Murshid at-Tarbiyya oleh Allah adalah perubahan apapun yang terjadi pada Preserved Tablet (lawh al-mahfoudh), dia tahu tentang itu. Sedang untuk 24,000 napas setiap murid, murshid itu akan tahu status muridnya dan tahap (maqam) dari setiap napas ini. Metabolism, pernapasan, tahap kimiawi, reaksi syaraf, dan buluh capillaries terkecil, dia menyadari setiap dan masing-masing perubahan di dalamnya. Jika kamu menaruh capillaries (yang lebih kecil dari sehelai rambut) dalam satu garis, mereka mencapai jarak dari bumi ke bulan. Terdapat tiga trilliun sell dalam tubuh. Murshid at-Tarbiyya itu menyadari kesemuanya. Semua keterangan ini, kemampuan dan kuasa datang dari setetes Samudera Nabi s.a.w.
Orang masa kini bermain-main di dunya ini. Itulah sebabnya ketika mereka mulai menyadari hakikat ini mereka meninggalkan perhatian mereka terhadap dunya ini. Hanya satu kali menyelam kedalam Samudera Hakikat ini telah mendatangkan kebahagiaan cukup bagi mereka, dalam hidup ini dan di Kehidupan Abadi.

Murshid at-Tarbiyya harus tahu sumber kehidupan murid-nya, ilmu murid-nya di dunya, dan kondisi tubuh murid itu dari sejak diciptakan hingga pada Hari Pengadilan.
Dia harus mengetahui setiap huruf Arab, yang berada di lawh al-mahfoudh, karena itu adalah lughat ahl al-jannat. Apapun yang tertulis di sana, dia harus tahu berapa huruf dituliskan dari awal hingga akhir. Bukan (hanya) dua puluh tujuh huruf dari alphabet, namun setiap huruf sebagaimana muncul di lawh al-mahfoudh, satu demi satu, dianggap sebagai sebuah huruf tunggal (individual).
Bihurmat al habeeb wa bi hurmat al-Fatiha.
Sultanul Aulia Syaikh Muhammad Nazim Adil haqqani Al-Hasani

Perjalanan Spiritual Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani


BismillahirRahmanirRahim

Dari buku : The Naqshbandi Sufi Way, History

Oleh : Syaikh Muhammad Hisham Kabbani, 1995

Beliau dilahirkan di Larnaca, Siprus, pada hari Minggu, tanggal 23 April 1922 – atau 26 Shaban 1340 H. Dari sisi ayah, beliau adalah keturunan Quthubul Gawth Sultanul Aulia Syaikh Abdul Qadir Jailani, pendiri thariqat Qadiriah. Dari sisi ibunya, beliau adalah keturunan Syaikh Maulana Jalaluddin ar-Rumi, pendiri thariqat Mawlawiyyah, yang juga merupakan keturunan Hassan-Hussein (as ) cucu Nabi Muhammad saw. Selama masa kanak-kanak di Siprus, beliau selalu duduk bersama kakeknya, salah seorang syaikh thariqat Qadiriah untuk belajar spiritualitas dan disiplin. Tanda-tanda luar biasa telah nampak pada syaikh Nazim kecil, tingkah lakunya sempurna. Tidak pernah berselisih dengan siapapun, beliau selalu tersenyum dan sabar. Kedua kakek dari pihak ayah dan ibunya melatih beliau pada jalan spiritual tarekat sufi
Ketika remaja, Shaykh Nazim sangat diperhitungkan karena tingkat spiritualnya yang tinggi. Setiap orang di Larnaca mengenal beliau, karena dengan umur yang masih amat muda mampu menasihati orang-orang, meramal masa depan dan dengan spontan membukanya. Sejak umur 5 tahun sering ibundanya mencarinya, dan didapati beliau sedang berada didalam masjid atau di makam Umm Hiram, salah satu sahabat Nabi Muhammad (saw) yang berada di sebelah masjid. Banyak sekali turis mendatangi makam tersebut karena tertarik akan pemandangan sebuah batu yang tergantung diatas makam itu.
Ketika sang ibu mengajaknya pulang, beliau mengatakan : ” Biarkan aku disini dengan Umm Hiram, beliau adalah leluhur kita juga.” Biasanya terlihat syaikh Nazim sedang berbicara, mendengarkan dan menjawab seperti berdialog dengan ahli kubur yang berada di makam itu. Bila ada yang mengusiknya, beliau katakan : “ Biarkan aku berdialog dengan nenekku yang ada di makam ini.”
Ayahnya mengirim beliau ke sekolah umum pada siang hari dan sorenya belajar ilmu-ilmu agama. Beliau seorang yang jenius diantara teman-temannya. Setelah tamat sekolah ( setara SMU ) syaikh Nazim menghabiskan malam harinya untuk mempelajari thariqat Mawlawiyyah dan Qadiriah. Beliau mempelajari ilmu Shariah, Fiqih, ilmu tradisi, ilmu logika dan Tafsir Qur’an. Beliau mampu memberikan penjelasan hukum tentang masalah-masalah Islam secara luas. Beliau juga mampu berbicara bagi orang-orang dari segala tingkatan spiritual. Beliau di beri kemampuan untuk menjelaskan masalah-masalah yang sulit dalam bahasa yang jelas dan mudah.
Setelah tamat SMA di Siprus, syaikh Nazim pindah ke Istambul pada tahun 1359 H / 1940, dimana kedua saudara laki-laki dan seorang saudara perempuannya tinggal. Beliau belajar tehnik kimia di Universitas Istambul, di daerah Bayazid. Pada saat yang sama beliau memperdalam hukum Islam dan bahasa Arab pada guru beliau, syaikh Jamaluddin al-Lasuni, yang meninggal pada th 1375 H / 1955 M. Shaykh Nazim meraih gelar sarjana pada tehnik kimia dengan hasil memuaskan dibanding teman-temannya. Ketika Professor di universitasnya memberi saran agar melakukan penelitian, beliau katakan,” Saya tidak tertarik dengan ilmu modern. Hati saya selalu tertarik pada ilmu-ilmu spiritual.”
Selama tahun pertama di Istambul, beliau bertemu dengan guru spiritual pertamanya, Shaykh Sulayman Arzurumi, seorang syaikh dari thariqat Naqsybandi yang meninggal pada th. 1368 H / 1948 M. Sambil kuliah syaikh Nazim belajar pada beliau sebagai tambahan dari ilmu thariqat yang telah dimilikinya yaitu Mawlawiyyah dan Qadiriah. Biasanya beliau akan terlihat di masjid Sultan Ahmad, bertafakur sepanjang malam. Syaikh Nazim menuturkan : “Disana aku menerima barakah dan kedamaian hati yang luar biasa. Aku shalat subuh bersama kedua guruku, Shaykh Sulayman Arzurumi dan shaykh Jamaluddin al-Lasuni. Mereka mengajariku dan meletakkan ilmu spiritual dalam hatiku. Aku mendapat banyak penglihatan spiritual agar pergi menuju Damaskus, tapi hal itu belum diizinkan. Sering aku melihat Nabi Muhammad memanggilku menuju ke hadapannya. Ada hasrat yang mendalam agar aku meninggalkan segalanya dan untuk pindah menuju kota suci Nabi. Suatu hari ketika hasrat hati ini semakin kuat, aku diberi “penglihatan” itu. Guruku , Shaykh Sulayman Arzurumi datang dan menepuk pundakku sambil mengatakan,’Sekarang sudah turun izin. Rahasia-rahasia, amanat, dan ajaran spiritualmu bukan ada padaku. Aku menahanmu karena amanat sampai engkau siap bertemu dengan guru sejatimu yang juga guruku sendiri yaitu Sultanul Aulia Quthubul Qawth Syaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani. Beliau pemegang kunci-kuncimu. Temui beliau di Damaskus. Izin ini datang dariku dan berasal dari Nabi.’ ( Shaykh Sulayman Arzurumi adalah salah satu dari 313 awliya thariqat Naqsybandi yang mewakili 313 utusan. )
Bayangan itupun berakhir. Aku mencari guruku untuk menceritakan pengalaman itu. Dua jam kemudian aku melihat syaikh menuju masjid, aku berlari menghampirinya. Beliau membuka kedua tangannya dan berkata,” Anakku, bahagiakah engkau dengan penglihatan itu ?” Aku sadar bahwa beliau juga telah mengetahui segalanya. “Jangan tunggu lagi, segera berangkat ke Damaskus.” Beliau bahkan tidak memberiku alamat atau informasi lain, kecuali sebuah nama : Syaikh Abdullah ad-Daghestani di Damaskus. Dari Istambul ke Aleppo aku naik kereta. Selama perjalanan aku masuk dari satu masjid ke masjid lain, shalat, duduk dengan para ulama dan menghabiskan waktu untuk ibadah dan tafakur. Kemudian aku menuju Hama, kota kuno mirip Aleppo. Aku berusaha untuk langsung menuju Damaskus, namun mustahil. Perancis yang saat itu menduduki Damaskus sedang mempersiapkan diri akan serangan pihak Inggris. Jadi aku pergi ke Homs dimana ada makam Khalid bin walid, sahabat Nabi. Ketika aku memasuki masjid untuk shalat, seorang pelayan mendatangiku dan mengatakan : ‘ Aku bermimpi tadi malam, Nabi mendatangiku. Beliau mengatakan : “Salah satu cucuku akan datang esok hari. Jagalah dia demi aku.” Beliau memberi petunjuk bagaimana ciri-ciri cucu beliau yang sekarang aku lihat semuanya ada pada dirimu. Dia memberiku sebuah kamar didalam masjid itu dimana aku menetap selama setahun. Aku tidak pernah keluar kecuali untuk shalat dan duduk ditemani 2 ulama Homs yang mumpuni, mereka mengajar bacaan Al-Qur’an, tafsir, fiqih dan tradisi-tradisi Islam. Mereka adalah Shaykh Muhammad Ali Uyun as-Sud dan shaykh Abdul Aziz Uyun as-Sud. Disana, aku juga mengikuti pelajaran-pelajaran dari dua syaikh Naqsybandi, Shaykh Abdul Jalil Murad dan Shaykh Said as-Suba’i. Hatiku semakin menggebu untuk segera tiba di Damaskus, namun karena perang masih berkecamuk maka kuputuskan untuk menuju Tripoli di Lebanon, dari sana menuju Beirut lalu ke Damaskus lewat jalur yang lebih aman. Pada tahun 1364 AH / 1944 M, Syaikh Nazim pergi ke Tripoli dengan bis. Bis ini membawa beliau sampai ke pelabuhan yang masih asing, dan tidak seorangpun dikenalnya. Ketika berjalan mengelilingi pelabuhan, beliau melihat seseorang dari arah berlawanan. Orang itu adalah Mufti Tripoli yang bernama Shaykh Munir al-Malek. Beliau juga merupakan shaykh atas semua thariqat sufi di kota itu. “ Apakah kamu shaykh Nazim ? aku bermimpi dimana Nabi mengatakan, ‘Salah satu cucuku tiba di Tripoli.’ Beliau tunjukkan gambaran sosokmu dan menyuruhku mencarimu di kawasan ini. Nabi menyuruhku agar menjagamu. “ Syaikh Nazim memaparkan hal ini : Aku tinggal dengan syaikh Munir al-Malek selama sebulan. Beliau mengatur perjalananku menuju Homs untuk kemudian dilanjutkan ke Damaskus. Aku tiba di Damaskus pada hari Jum’at th. 1365 H / 1945 awal tahun Hijriah. Aku tahu bahwa Syaikh Abdullah ad-Daghestani tinggal di wilayah Hayy al-Maidan, dekat dengan makam Bilal al-Habashi dan banyak keturunan dari keluarga Nabi. Sebuah daerah kuno yang penuh dengan monumen-monumen bersejarah.. Akupun tidak tahu yang mana rumah syaikh Abdullah. Sebuah penglihatan datang ketika aku berdiri di pinggir jalan; syaikh keluar dari rumahnya dan memanggilku untuk masuk. Penglihatan itu segera lenyap, dan tetap tak kulihat siapapun di jalanan. Keadaan tampak senyap akibat invasi orang-orang Perancis dan Inggris. Penduduk ketakutan dan bersembunyi didalam rumah masing-masing. Aku sendirian dan mulai berkontemplasi didalam hati untuk mengetahui yang mana rumah syaikh Abdullah. Sekilas gambaran itu muncul, sebuah rumah dengan sebuah pintu yang spesifik. Aku berusaha mencari sampai akhirnya ketemu. Ketika akan kuketuk, syaikh membuka pintu rumah menyambutku, ” Selamat datang anakku, Nazim Effendi.”
Penampilannya yang tidak biasa segera menarik hatiku. Tidak pernah aku bertemu dengan syaikh yang seperti itu sebelumnya. Cahaya terpancar dari wajah dan keningnya. Kehangatan yang berasal dari dalam hatinya dan dari senyuman di wajahnya. Beliau mengajakku ke lantai atas dengan menaiki tangga didalam kamar beliau , “ Kami sudah menunggumu.” Didalam hati, aku sangat bahagia bersamanya, namun masih ada hasrat untuk mengunjungi kota Nabi. Aku bertanya pada beliau,” Apa yang harus kulakukan ?” Beliau menjawab,” Besok akan aku beri jawaban, sekarang waktumu untuk istirahat !” Beliau menawari makan malam lalu kami shalat Isya berjamaah, kemudian tidur. Pagi-pagi sekali beliau membangunkan aku untuk melakukan shalat. Tidak pernah aku merasakan kekuatan luar biasa seperti cara beliau beribadah. Aku merasa sedang berada dihadapan Ilahi dan hatiku semakin tertarik akan beliau. Kembali sebuah ‘penglihatan’ terlintas. Aku melihat diriku sendiri menaiki sebuah tangga dari tempat kami shalat menuju ke Bayt al-Ma’mur, Ka’bah surgawi, setingkat demi setingkat. Setiap tingkat yang kulalui adalah maqam yang diberikan syaikh kepadaku. Di setiap maqam aku menerima pengetahuan didalam hatiku yang sebelumnya tidak pernah aku dengar ataupun aku pelajari. Kata-kata, frase, kalimat diletakkan sekaligus dalam cara yang indah, di alirkan menuju ke dalam hatiku, dari maqam ke maqam sampai terangkat menuju Bayt al-Makmur. Disana aku melihat 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) Nabi-nabi berbaris melakukan shalat, dan Nabi Muhammad sebagai imamnya.
Aku melihat 124.000 ( seratus dua puluh empat ribu ) sahabat Nabi yang berbaris dibelakang beliau. Aku melihat 7007 ( tujuh ribu tujuh ) awliya thariqat Naqsybandi berdiri dibelakang mereka sedang shalat. Aku juga melihat 124.000 ( seratus dua puluh empat ribu ) awliya thariqat lain berbaris melaksanakan shalat. Sebuah tempat sengaja disisakan untuk dua orang tepat disebelah Abu Bakr as-Siddiq. Grandsyaikh mengajakku menuju tempat itu dan kamipun shalat subuh. Suatu pengalaman beribadah yang sangat indah. Ketika Nabi memimpin shalat itu, bacaan yang dikumandangkan beliau sungguh syahdu. Tidak ada kata-kata yang mampu melukiskan pengalaman itu, sesuatu yang Ilahiah. Begitu shalat selesai, penglihatan itupun berakhir, tepat ketika syaikh menyuruhku untuk melakukan adzan subuh. Beliau shalat didepan dan aku dibelakangnya. Dari arah luar aku mendengar suara peperangan antar 2 pihak pasukan tentara. Grandsyaikh segera mem-baiat-ku didalam thariqat Naqsybandi, kata beliau : ‘Anakku, kami punya kekuatan untuk bisa membuat seorang murid mencapai maqamnya dalam waktu sedetik saja.’ Sambil melihat ke arah hatiku, kedua mata beliau berubah dari kuning menjadi merah, lalu berubah putih, kemudian hijau dan akhirnya hitam. Perubahan warna itu berhubungan dengan ilmu-ilmu yang di pancarkan pada hatiku. Pertama adalah warna kuning yang menunjukkan maqam ‘qalbu’. Beliau alirkan segala jenis pengetahuan eksternal yang diperlukan untuk melaksanakan kehidupan manusia sehari-hari. Yang kedua adalah maqam ‘rahasia/Sirr’, pengetahuan dari seluruh 40 thariqat yang berasal dari Ali bin Abi Talib. Aku rasakan diriku menjadi pakar dalam seluruh thariqat-thariqat ini. Mata beliau berubah warna menjadi merah saat hal ini terjadi. Tahap yang ketiga adalah tingkatan ‘Sirr as Sirr’ yang hanya diizinkan bagi para syaikh Naqsybandi dengan imamnya Abu Bakr. Saat itu mata grandsyaikh Abdullah telah berubah menjadi putih. Maqam keempat yaitu ‘pengetahuan spiritual tersembunyi / khafa’ dimana saat itu mata beliau berubah warna menjadi hijau. Terakhir adalah tahap akhfa, maqam yang paling rahasia dimana tak ada apapun yang nampak disana. Mata beliau berubah menjadi hitam, dan disinilah beliau mengantarku menuju Hadirat Allah. Kemudian grandsyaikh mengembalikan aku lagi pada eksistensiku semula. Rasa cintaku pada grandsyaikh begitu meluap, sehingga tidak terbayangkan bila harus berjauhan dengannya. Aku tak menginginkan apapun kecuali agar bisa berdekatan dan melayani beliau selamanya. Namun perasaan damai itu terasa disambar oleh petir, badai dan tornado. Ujian yang sungguh luar biasa dan membuatku putus asa ketika kemudian beliau mengatakan : ‘Anakku, orang-orangmu membutuhkanmu. Aku telah cukup memberimu untuk saat ini. Pergilah ke Siprus hari ini juga.’
Aku jalani satu setengah tahun agar bisa bertemu dengan beliau Sultanul Aulia Syaikh Abdullah Fa’iz Dhagestani, namun cuma satu malam aku lewatkan dan lalui kehidupan spiritualku bersama beliau . Kini beliau memintaku untuk kembali ke Siprus, sebuah tempat yang telah kutinggalkan selama 5 tahun. Perintah yang amat mengerikan bagiku, namun dalam thariqat sufi, seorang murid harus menyerah pada kehendak syaikh-nya. Setelah mencium tangan dan kaki beliau sambil meminta izin, aku mencoba menemukan jalan menuju Siprus. Perang Dunia II akan segera berakhir dan sama sekali tidak ada sarana transportasi. Ketika aku sedang memikirkan jalan keluarnya, seseorang menghampiriku, ‘Syaikh, anda butuh tumpangan ?’‘Ya ! kemana tujuan anda ?’ aku balik bertanya. ‘Ke Tripoli.’ jawabnya. Kemudian dengan truknya, setelah 2 hari perjalanan, kamipun sampai di Tripoli. ‘Antarkan aku sampai pelabuhan.’ Kataku. ‘Buat apa ?’ ‘Agar bisa naik kapal ke Siprus.’ ‘Bagaimana bisa ? tak ada yang bepergian lewat laut saat perang seperti ini.’ ‘Tidak apa-apa. Antarkan aku kesana.’Ketika dia menurunkanku di pelabuhan, aku kembali terkejut ketika syaikh Munir al-Malek menghampiriku. Kata beliau : ‘ Cinta macam apakah yang dimiliki kakekmu Rasulullah Muhammad SAW padamu Naziim Effendi ? Nabi datang lagi lewat mimpiku tadi malam dan mengatakan – ‘ Cucuku, si Nazim akan segera tiba, jagalah dia.’ Aku tinggal bersama syaikh Munir selama 3 hari. Aku memintanya untuk mengatur perjalananku sampai ke Siprus. Beliau telah berusaha, namun karena keadaan perang dan minimnya bahan bakar maka hal itu sangat mustahil. Akhirnya hanya ada sebuah perahu. ‘Kamu bisa pergi, tapi amat berbahaya !’ kata syaikh Munir. ‘Tapi aku harus pergi, ini adalah perintah syaikh-ku.’ Syaikh Munir membayar sejumlah besar uang pada pemilik perahu untuk membawaku. Kami berlayar selama 7 hari agar sampai ke Siprus, yang normalnya hanya memakan waktu 2 hari saja dengan perahu motor. Segera setelah sampai di daratan Siprus, penglihatan spiritual terlintas dalam hatiku. Aku merasa Grandsyaikh Abdullah ad-Daghestani mengatakan padaku,‘Oh anakku, tidak seorangpun mampu menahanmu membawa amanatku. Engkau telah banyak mendengar dan menerima. Mulai detik ini aku akan selalu dapat terlihat olehmu. Setiap engkau arahkan hatimu padaku, aku akan selalu berada disana. Segala pertanyaan yang engkau ajukan akan dijawab langsung, berasal dari hadirat Ilahi. Segala tingkatan spiritual yang ingin engkau capai, akan dianugerahkan kepadamu karena penyerahan totalmu. Semua awliya puas denganmu, Nabipun bahagia akan dirimu.’
Ketika hal itu terjadi, aku merasakan syaikh ada disisiku dan sejak saat itu beliau tidak pernah meninggalkanku. Beliau selalu berada di sampingku.
Syaikh Nazim mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan mengajar agama Islam di Siprus. Banyak murid-murid yang mendatangi beliau dan menerima thariqat Naqsybandi. Namun sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang Turki di Siprus, agamapun juga dilarang disana. Bahkan mengumandangkan adzanpun tidak diperbolehkan. Langkah beliau yang pertama adalah menuju masjid di tempat kelahirannya dan mengumandangkan adzan disana, segera beliau dimasukkan penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, syaikh Nazim pergi menuju masjid besar di Nicosia dan melakukan adhan di menaranya. Hal itu membuat para pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran hukum. Sambil menunggu sidang, syaikh Nazim terus mengumandangkan adhan di menara-menara masjid seluruh Nicosia. Sehingga tuntutan pun terus bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau. Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan adhan, namun syaikh Nazim mengatakan : “ Tidak, aku tidak bisa. Orang-orang harus mendengar panggilan untuk shalat.” Hari persidangan tiba. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Pada hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki. Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan untuk berkuasa. Langkah pertama dia ketika terpilih menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid dan mengijinkan adzan dalam bahasa Arab. Itulah keajaiban syaikh kita. Allah selalu bersama walinya, dimanapun ia berada, kemenangan pasti bersama-Nya. Selama bertahun-tahun disana, beliau mengadakan perjalanan ke seluruh penjuru Siprus. Beliau juga mengunjungi Lebanon, Mesir, Saudi Arabia dan tempat-tempat lain untuk mengajar thariqat Sufi. Syaikh Nazim kembali ke Damaskus pada th. 1952 ketika beliau menikahi salah satu murid grandsyaikh Abdullah yaitu Hajjah Amina Adil. Sejak saat itu beliau tinggal di Damaskus dan mengunjungi Siprus setiap tahunnya, yaitu selama 3 bulan pada bulan Rajab, Shaban, dan Ramadhan. Syaikh Nazim dan keluarganya tinggal di Damaskus, dan keluarganya selalu menyertai bila syaikh Nazim pergi ke Siprus. Syaikh Nazim mempunyai dua anak perempuan dan dua anak laki-laki.
Perjalanan DAKWAH Syaikh Nazim
Syaikh Nazim pergi haji setiap tahunnya untuk memimpin kelompok orang-orang Siprus. Beliau melaksanakan ibadah haji sebanyak 27 kali. Beliau menjaga murid-muridnya dan sebagai pengikut grandsyaikh Abdullah. Suatu saat grandsyaikh mengatakan padanya agar pergi ke Aleppo dari Damaskus dengan berjalan kaki, dan berhenti di setiap desa untuk menyebarkan thariqat Naqsybandi, ajaran sufisme dan ajaran Islam. Jarak antara Damaskus menuju Aleppo sekitar 400 kilometer. Butuh waktu lebih dari satu tahun untuk perjalanan pergi dan kembali. Syaikh Nazim berjalan kaki selama satu atau dua hari. Ketika sampai di sebuah desa, beliau tinggal disana selama seminggu untuk menyebarkan thariqat Naqsybandi, memimpin dzikir, melatih penduduk dan melanjutkan perjalanan beliau sampai ke desa selanjutnya. Nama beliaupun mulai terdengar di setiap lidah orang-orang, mulai dari perbatasan Yordania sampai perbatasan Turki dekat Aleppo. Hal yang sama diperintahkan dan dijalankan oleh syaikh Nazim agar berjalan kaki ke Siprus. Dari desa satu menuju desa lainnya, menyeru orang agar kembali pada Tuhannya dan meninggalkan segala materialisme, sekularisme dan atheisme. Beliau amat dicintai diseluruh Siprus, dan masyur dengan sebutan ‘Syaikh Nazim berturban hijau / Syaikh Nazim Yesilbas’ karena turban dan jubahnya yang berwarna hijau.
Beliau sering mengunjungi Lebanon, dimana kami mengenal beliau. Pada th. 1955, aku berada di kantor pamanku, yang menjabat sebagai sekjen urusan agama di Lebanon, sebuah jabatan yang tinggi dalam Pemerintahan. Ketika itu tiba waktunya shalat Ashar dan pamanku, Syaikh Mukhtar Alayli sering shalat di masjid al-Umari al-Kabir di Beirut. Disana ada juga gereja pada masa Umar bin al-Khattab, yang telah berubah menjadi masjid pada masa beliau. Di bawah tanah masjid masih terdapat fondasi gereja. Pamanku menjadi imam dan aku beserta dua saudaraku shalat dibelakang beliau. Seorang syaikh datang dan shalat disebelah kami. Kemudian orang itu melihat kedua kakakku dan menyebut nama-nama mereka, selanjutnya menoleh ke arahku dan menyebutkan namaku. Kami amat terkejut, karena kami tidak saling mengenal sebelumnya. Pamanku juga tertarik pada beliau. Itulah pertama kali kami bertemu Wali Quthub Sultan Aulia Syaikh Muhammad Nazim Adil Al-Haqqani An Naqshabandi. Kakak tertuaku berkeras untuk mengajak syaikh Nazim dan paman untuk menginap di rumah kami. Syaikh Nazim mengatakan : “ Saya dikirim oleh syaikh Abdullah. Beliau yang mengatakan ‘Setelah shalat ashar nanti, yang ada disebelah kananmu bernama ini dan yang lain bernama ini. Ajaklah mereka masuk thariqat Naqsybandi. Mereka akan menjadi pengikut kita.’ “ Kami masih amat muda dan kagum akan cara beliau mengetahui nama-nama kami. Sejak saat itu beliau mengunjungi Beirut secara rutin. Kami pergi ke Damaskus setiap Minggunya, dengan cara memohon pada ayah kami agar diizinkan mengunjungi grandsyaikh. Aku dan kakakku menerima banyak pengetahuan spiritual dan menyaksikan kekuatan-kekuatan ajaib yang dialirkan pada hati kami, para pencari. Rumah Syaikh Nazim tidak pernah sepi dari pengunjung. Sedikitnya seratus orang silih berganti mengunjungi rumah beliau setiap harinya dan dilayani dengan baik. Rumah beliau dekat dengan rumah grandsyaikh di Jabal Qasiyun, sebuah pegunungan yang tampak dari kotanya, disebelah tenggara Damaskus. Rumah semen beliau yang sederhana dengan segala perabot dibuat dari tangan dengan bahan kayu atau bahan-bahan alami lain. Mulai tahun 1974, beliau mengunjungi Eropa. Dari Siprus menuju London dengan pesawat dan kembalinya mengendarai mobil lewat jalan darat. Beliau melanjutkan pertemuan dengan setiap kalangan masyarakat dari berbagai daerah, bahasa, adat sampai keyakinan yang berbeda-beda. Orang-orang mulai mengucap kalimat Tauhid dan bergabung dengan thariqat sufi dan belajar tentang rahasia-rahasia spiritual dari beliau. Senyum dan wajahnya yang bersinar amat dikenal di seluruh benua Eropa dan disayangi karena membawa cita rasa spiritualitas yang sebenarnya dalam kehidupan masyarakat. Tahun-tahun selanjutnya, beliau melakukan perjalanan kaki di wilayah negara Turki. Sejak tahun 1978, beliau habiskan tiga sampai empat bulan disetiap daerah di Turki. Dalam setahun beliau bepergian di daerah Istambul, Yalova, Bursa, Eskisehir dan Ankara. Di lain kesempatan beliau mengunjungi Konya, Isparta dan Kirsehir. Tahun berikutnya mengunjungi pesisir selatan dari Adana menuju Mersin, Alanya, Izmir dan Antalya. Kemudian ditahun berikutnya beliau bepergian ke sisi timur, Diyarbakir, Erzurm sampai perbatasan Irak. Kemudian kunjungan selanjutnya adalah di laut hitam, bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dari kota menuju kota lain, dari masjid ke masjid men-syiarkan firman-firman Allah dan spiritualitas dimanapun beliau berada. Dimanapun syaikh Nazim pergi, beliau disambut oleh kerumunan massa dari yang sederhana sampai pejabat pemerintahan. Beliau masyur dengan sebutan ‘Al-Qubrusi’ di seluruh Turki. Syaikh Nazim merupakan syaikh guru dari Presiden Turki terakhir, Turgut Ozal yang amat menghormati beliau. Akhir-akhir ini syaikh Nazim terkenal karena pemberitaan yang luas dari media dan pers. Beliau di wawancarai hampir tiap minggu oleh berbagai stasiun TV dan reporter yang menanyakan tentang berbagai kejadian serta masa depan Turki. Beliau mampu menjembatani antara pemerintahan yang sekuler dan kelompok Islam fundamental, seperti yang diajarkan oleh Nabi ( saw ) sehingga tercipta kedamaian disetiap hati dan pikiran dari kedua belah pihak, baik kalangan awam maupun yang cerdas sekalipun. Tahun 1986, beliau terpanggil untuk mengadakan perjalanan menuju Timur jauh; Brunei, Malaysia, Singapore, India, Pakistan, Sri Lanka. Beliau di terima baik oleh para Sultan, Presiden, anggota parlemen, pejabat pemerintah dan tentu saja rakyat pada umumnya. Beliau di sebut sebagai orang suci zaman ini di Brunei. Beliau disambut dengan kemurahan rakyat dan khususnya oleh Sultan Hajji Hasan al-Bolkiah. Beliau digolongkan sebagai salah satu syaikh terbesar thariqat Naqsybandi di Malaysia. Di Pakistan, beliau dikenal sebagai penyegar akan thariqat sufi dan beliau mempunyai ribuan murid. Di Srilanka, di antara pemerintahan dan rakyat biasa, beliau mempunyai lebih dari 20.000 ( dua puluh ribu ) murid. Di antara muslim Singapore, beliau juga amat dihormati.
Pada tahun 1991, untuk pertama kalinya beliau mengunjungi Amerika. Lebih dari 15 negara bagian beliau kunjungi. Beliau bertemu dengan banyak kalangan masyarakat dari berbagai aliran dan agama-agama : Muslim, Kristen, Yahudi, Sikh, Buddha, Hindu, New age, dan lain-lain. Hal ini membuahkan berdirinya lebih dari 13 pusat-pusat thariqat Naqsybandi di Amerika Utara. Kunjungan kedua th. 1993, beliau mendatangi berbagai daerah dan kota-kota, masjid-masjid, gereja, sinagog, dan candi-candi. Melalui beliau, lebih dari 10.000 ( sepuluh ribu ) rakyat Amerika Utara telah masuk Islam dan ber-baiat dalam thariqat Naqsybandi.Pada bulan Oktober 1993, beliau menghadiri peresmian kembali masjid dan sekolah Imam Bukhari di Bukhara, Uzbekistan. Beliau adalah orang pertama diantara banyak generasi Imam Bukhari yang mampu mengembalikan daerah pusat para awliya di Asia tengah yang sangat kuat mengabadikan nama dan ajarannya dalam thariqat ini. Sebagaimana Shah Naqsyband sebagai pelopor di daerah Bukhara dan Asia Tengah, juga Ahmad as-Sirhindi al-Mujaddidi pelopor di milenium ke 2, dan Khalid al-Baghdadi pelopor kebangkitan Islam, shariah, dan thariqat di Timur Tengah; maka Syaikh Nazim Adil al-Haqqani adalah pelopor , pembaharu dan penyeru umat agar kembali pada Tuhan-nya di abad ini, abad perkembangan tekhnologi dan materialisme.
Khalwat Syaikh Nazim
Khalwat pertama beliau atas perintah Syaikh Abdullah ad-Daghestani di tahun 1955 di Sueileh, Yordania. Beliau berkhalwat selama 6 bulan. Kekuatan dan kemurnian dalam setiap kehadiran beliau mampu menarik ribuan murid di Sueileh dan desa-desa sekitarnya, Ramta dan Amman menjadi penuh oleh murid-muridnya. Ulama, pejabat resmi dan banyak kalangan tertarik akan pencerahan dan kepribadian beliau. Ketika baru mempunyai 2 orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki, syaikh Nazim dipanggil oleh grandsyaikh Abdullah. “ Aku menerima perintah dari Nabi untukmu agar melakukan khalwat di masjid Abdul Qadir Jailani di Baghdad. Pergilah kesana dan lakukan khalwat selama 6 bulan.” Syaikh Nazim bercerita mengenai peristiwa ini : Aku tidak bertanya apapun pada grandsyaikh. Aku bahkan tidak pulang ke rumah. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju Marja, di dalam kotanya. Tidak pernah terlintas dalam benakku ‘aku butuh pakaian, uang atau makanan’ . Ketika beliau berkata Pergilah!’ maka aku segera pergi. Aku memang ingin melakukan khalwat bersama syaikh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdadi. Ketika sampai di kota , aku melihat seorang laki-laki yang sedang menatapku. Dia mengenalku. “Syaikh Nazim, anda mau kemana ? “ “Ke Baghdad.” jawabku. Ternyata dia murid grandsyaikh. “ Saya juga mau kesana.” Kamipun berangkat dengan naik truk yang penuh dengan muatan barang untuk dikirim ke Baghdad. Ketika memasuki masjid Syaikh Abdul Qadir Jailani, ada seorang laki-laki tinggi besar yang berdiri di pintu. Dia memanggilku,” Syaikh Nazim !” “Ya,” jawabku. “ Saya ditunjuk untuk melayani anda selama tinggal disini. Mari ikut saya.” Sebenarnya aku terkejut akan hal ini, namun dalam thariqat segala hal telah diatur dalam Kehendak Ilahi. Aku mengikutinya sampai ke makam sang Ghawth. Aku mengucapkan salam pada kakek buyutku, Syaikh Abdul Qadir Jailani Al-Baghdadi. Sambil menunjukkan kamarku, orang itu mengatakan, ‘‘Setiap hari aku akan memberimu semangkuk sup dan sepotong roti.’’ Aku keluar dari kamar hanya untuk menunaikan shalat 5 waktu saja. Aku mencapai sebuah maqam dimana aku mampu khatam Al Qur’an dalam waktu 9 jam. Setiap harinya aku membaca Laa ilaha ill-Allah 124.000 kali dan shalawat 124.000 kali ditambah membaca seluruh Dalail al-khayrat, dan membaca 313.000 kali Allah, Allah, dan seluruh ibadah yang dibebankan padaku. ‘Penglihatan-penglihatan spiritual’ mulai bermunculan mengantarku dari satu maqam ke maqam lain sampai akhirnya aku menjadi fana’ dalam hadirat Allah. Suatu hari aku mendapat penglihatan bahwa syaikh Abdul Qadir Jailani memanggilku menuju makamnya. Kata beliau, ‘ Oh, cucuku, aku sedang menunggumu di makamku, datanglah !” Aku bergegas mandi, shalat 2 rekaat dan berjalan menuju makam beliau yang hanya beberapa langkah dari kamarku. Sesampai disana, aku mulai bermuraqabah. “ as-salam alayka ya jaddi’ ( semoga kedamaian tercurah padamu, kakekku ) “Segera aku melihat beliau keluar dari makam dan berdiri disampingku. Dibelakang beliau ada sebuah singgasana indah yang dihiasi batu-batu mulia. Kata beliau “ Mendekat dan duduklah bersamaku di singgasana itu.” Kami duduk layaknya seorang kakek dan cucunya. Beliau tersenyum dan mengatakan :“Aku bahagia denganmu, Nazim Effendi. Maqam syaikh kamu, Maulana Syaikh Abdullah al-Faiz ad-Daghestani amat tinggi dalam thariqat Naqsybandi. Aku ini kakekmu. Sekarang aku turunkan padamu, langsung dariku, kekuatan yang dipegang oleh seorang Ghawth seperti aku. Aku bay’at kamu juga dalam thariqat Qadiriah sekarang.” Kemudian grandsyaikh nampak dihadapanku, Nabi (saw ) pun hadir, juga Shah Naqsyband. Syaikh Abdul Qadir Jailani berdiri memberi hormat pada Nabi beserta para syaikh yang hadir, akupun melakukannya. Kata beliau : ‘ Ya Nabi, Ya Rasulullah, aku kakek dari cucuku ini. Aku bahagia dengan kemajuannya dalam thariqat Naqsybandi dan aku ingin menambahkan thariqat Naqsybandi pada maqamku. ‘Nabi tersenyum dan melihat pada Shah Naqsyband, selanjutnya Shah Naqsyband melihat pada Grandsyaikh Abdullah. Inilah adab pimpinan yang baik, karena Syaikh Abdullah yang masih hidup pada saat itu. Grandsyaikh menerima rahasia thariqat Naqsybandi yang diterima beliau dari Shah Naqsyband melalui silsilah Nabi, dari Abu Bakr as-Siddiq, agar ditambahkan pada maqam syaikh Abdul Qadir Jailani. Ketika syaikh Nazim merampungkan khalwatnya, dan akan segera meninggalkan makam kakeknya dan mengucapkan salam perpisahan. Syaikh Abdul Qadir Jailani muncul dan memperbarui bay’at syaikh Nazim dalam thariqat Qadiriah. Kata Kakeknya, “ Cucuku, aku akan memberimu kenang-kenangan karena telah berkunjung ke sini.” Beliau memeluk syaikh Nazim dan memberinya 10 buah koin yang merupakan mata uang di jaman beliau dulu hidup. Koin itu masih disimpan syaikh Nazim sampai hari ini. Sebelum pergi, syaikh Nazim memberi tanda kenangan jubah pada syaikh yang telah melayani beliau selama khalwat disana. “ Aku memakai jubah ini selama masa khalwat, sebagai alas tidurku, bahkan juga saat shalat dan dzikir. Simpanlah, Allah beserta Nabi akan memberkahimu.” Syaikh itu mengambil jubah, menciumnya dan memakainya. Syaikh Nazim meninggalkan Baghdad dan kembali ke Damaskus, Syria. Pada th. 1992, ketika syaikh Nazim mengunjungi Lahore, Pakistan, beliau berziarah ke makam syaikh Ali Hujwiri. Salah seorang syaikh dari thariqat Qadiriah mengundang beliau ke rumahnya. Syaikh Nazim menginap disana. Setelah shalat subuh, tuan rumah itu mengatakan ‘Ya syaikh, aku memintamu menginap malam ini untuk menunjukkan padamu sebuah jubah berharga yang kami warisi selama 27 tahun yang lalu. Diwariskan dari seorang syaikh hebat dari thariqat Qadiriah dari Baqhdad sampai akhirnya berada di tangan kami. Semua syaikh kami menyimpan dan menjaganya karena dulunya ini jubah pribadi dari ‘Ghawth’ pada masa itu. Seorang syaikh Turki dari thariqat Naqsybandi berkhalwat di masjid-makam syaikh Abdul Qadir Jailani. Setelah selesai, beliau berikan jubah ini sebagai hadiah karena sudah melayaninya selama khalwat. Syaikh Qadiriah pemegang jubah ini mengatakan pada penerusnya ketika akan meninggal agar menjaganya, karena siapapun yang mengenakan jubah itu, segala penyakitnya akan sembuh. Setiap murid yang mengenakan jubah ini dalam perjalanannya menuju hadirat Ilahi akan mudah terangkat dalam tingkat kashf.’Beliau membuka almari dan memperlihatkan sebuah jubah yang disimpan di kotak kaca. Dia keluarkan jubah itu. Syaikh Nazim tersenyum melihatnya. Syaikh Qadiriah itu bertanya pada syaikh Nazim,” Apakah sebenarnya ini, syaikh ? “ Syaikh Nazim menjawab : “ Hal ini membuat aku bahagia. Jubah ini aku berikan pada Syaikh thariqat Qadiriah saat aku selesai khalwat.” Ketika mendengar hal ini syaikh tersebut mencium tangan syaikh Nazim dan meminta bay’at di dalam thariqat Naqsybandi.

Khalwat ke – 2 SULTANUL AULIA MAULANA Syekh Nazim di Madinah
Sering kali syaikh Nazim diperintahkan melakukan khalwat dengan kurun waktu antara 40 hari sampai setahun. Tingkatan khalwatnya juga berbeda, mulai diisolasi dari kontak dunia luar, shalat, atau hanya diperkenankan adanya kontak saat melaksanakan dzikir atau pertemuan karena memberi kajian. Beliau sering melaksanakan khalwat di kota Nabi. Kata beliau : Tidak seorangpun diberi kehormatan melakukan khalwat bersama syaikh mereka. Aku mendapatkan kesempatan ini berada dalam satu ruangan dengan mursyidku Sultanul Aulia syaikh Abdullah Fa’iz Dhagestani di Madinah. Sebuah ruangan kuno dekat masjid suci Nabi Muhammad saw. Disana terdapat satu pintu dan satu buah jendela. Segera setelah kami memasuki ruangan itu, syaikh menutup jendela rapat-rapat dan beliau mengijinkan aku keluar hanya pada saat menunaikan shalat 5 waktu di Masjid Nabi. Beliau mengingatkan aku agar ‘mengawasi langkah / nazar bar qadam ’ ketika dalam perjalanan menuju tempat shalat. Dengan disiplin dan mengontrol penglihatan kita berarti memutuskan diri dari segala hal kecuali pada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Besar beserta Nabi-Nya. Syaikh Abdullah tidak pernah tidur selama khalwat berlangsung. Selama satu tahun aku tidak pernah melihat beliau tidur dan menyentuh makanan. Hanya semangkuk sup dan sepotong roti disediakan untuk kami setiap harinya. Beliau selalu memberikan bagiannya kepadaku. Beliau hanya minum air dan tidak pernah meninggalkan ruangan itu. Malam demi malam, hari demi hari, grandsyaikh duduk membaca Qur’an hanya dengan penerangan lilin, berdzikir dan mengangkat tangannya dalam do’a. Kadang aku tidak mengerti apa yang beliau ucapkan karena beliau menggunakan bahasa-bahasa surgawi. Aku hanya mampu memahaminya lewat ilham dan penglihatan yang datang pada hatiku. Aku tidak tahu kapan saatnya malam ataupun siang kecuali saat shalat. Grandsyaikh tidak pernah melihat sinar matahari selama setahun penuh, kecuali cahaya dari lilin. Dan aku melihat cahaya matahari hanya ketika pergi untuk shalat. Melalui khalwat tersebut, spiritualitasku meningkat ke tingkatan yang berbeda-beda. Suatu hari aku mendengar beliau mengatakan : ‘Ya Allah, beri aku kekuatan “Ghawth” / perantara / penolong, dari kekuatan yang Engkau berikan pada Nabi-Mu. untuk meminta ampunanMu bagi seluruh umat manusia saat kiamat nanti dan mengangkat mereka menuju Hadirat-Mu.’ Ketika beliau mengatakan hal ini, aku mengalami ‘penglihatan’ keadaan disaat hari kiamat. Allah swt turun dari Arsy-Nya dan mengadili umat manusia.. Nabi berada di samping kanan-Nya. Grandsyaikh berada di sebelah kanan Nabi, dan aku berada di sebelah kanan grandsyaikh. Setelah Allah mengadili umat manusia, Dia memberi wewenang Nabi untuk menjadi perantara ampunan-Nya. Ketika Nabi selesai melakukannya, beliau meminta grandsyaikh untuk memberi barakahnya dan mengangkat mereka dengan kekuatan spiritual yang telah diberikan. Penglihatan itu berakhir dan aku mendengar grandsyaikh mengatakan, ‘ al-hamdulillah, al-hamdulillah, Nazim effendi, aku sudah mendapat jawabannya.’Suatu hari selesai shalat subuh grandsyaikh mengatakan, ‘ Nazim Effendi, lihat !’ Kemana harus kulihat, atas, bawah, kanan atau kiri ? Ternyata ada di bagian hati beliau. Sebuah penglihatan muncul. Aku melihat syaikh Abdul Khaliq al Ghujdawani muncul dengan tubuh fisiknya dan mengatakan padaku,’ Oh anakku, syaikh-mu Abdullah Fa’iz Dhagestani memang unik. Tidak ada Wali yang seperti dia sebelum-sebelumnya. ‘ Kemudian kami diajak beliau di tempat lain di bumi ini. ‘ Allah swt memintaku untuk pergi ke batu itu dan memukulnya’ sambil menunjuk sebuah batu. Ketika beliau memukulnya, sebuah semburan air memancar deras keluar dari batu itu. Kata beliau, ‘ Air itu akan terus memancar seperti ini sampai kiamat nanti, dan Allah swt mengatakan padaku bahwa pada setiap tetes air ini Dia ciptakan satu malaikat bercahaya yang akan selalu memuji-Nya sampai kiamat nanti.’ Kata Allah : ‘ Oh hamba-Ku Abdul Khaliq al-Ghujdawani, tugasmu adalah memberi nama para malaikat ini dengan nama yang berbeda dan tidak boleh ada pengulangan. Hitung pula berapa kali pujian-pujian mereka, kemudian “bagikan pada seluruh pengikut thariqat Naqsybandi”. Itulah tanggung jawabmu.” Aku takjub akan beliau beserta tugas luar biasa yang diembannya.
Penglihatan itu terus berlanjut serasa menghujaniku. Pada hari terakhir khalwat kami setelah shalat subuh aku mendengar suara-suara dari arah luar ruangan kami. Suara orang dewasa dan suara anak-anak menangis. Tangisan itu semakin menjadi-jadi dan berlangsung berjam-jam. Aku tidak tahu siapa yang menangis karena tidak diizinkan untuk melihatnya. Grandsyaikh bertanya, “ Nazim Effendi, tahukah kamu siapa yang sedang menangis ?” Walaupun aku tahu bahwa itu bukan tangisan manusia, namun aku menjawab,” Oh syaikh, engkaulah yang lebih mengetahuinya.” “Setan mengumumkan pada komunitasnya bahwa sekarang hanya ada 2 manusia di bumi ini telah lolos dari kendalinya. Orang itu adalah Syaikh Abdullah dan Syaikh Nazim". Kemudian aku melihat setan dan bala tentaranya telah dirantai dengan rantai surgawi untuk mencegah mereka mendekati Grandsyaikh Abdullah dan aku. Penglihatan itu berakhir. Grandsyaikh meletakkan tangannya di dadaku sambil mengata.kan, ” Alhamdulillah, Nabi bahagia akan aku dan kamu.” Lalu aku melihat Nabi Muhammad beserta 124.000 nabi-nabi lain, 124.000 sahabat-sahabatnya, 7007 awliya-awliya Naqsybandi, 313 awliya agung, 5 Qutb dan Ghawth. Semuanya memberi selamat kepadaku. Mereka mengalirkan dalam hatiku ilmu spiritual mereka. Aku mewarisi dari mereka rahasia-rahasia thariqat Naqsybandi dan 40 thariqat-thariqat lainnya.

KARAMAH SYAIKH NAZIM
Diceritakan oleh Syaikh Hisyam Al-Kabbani.
Pada th 1971, syaikh Nazim seperti biasa berada di Siprus selama 3 bulan; rajab, shaban, dan ramadhan. Suatu hari di bulan shaban, kami mendapat telpon dari bandara di Beirut. Ternyata dari syaikh Nazim yang meminta kami untuk menjemputnya. Kami terkejut karena tidak mengira beliau akan datang. “ Muridku Hisyam, Aku diminta Nabi untuk menemuimu hari ini karena ayahmu akan wafat. Aku yang akan memandikan jenazahnya, mengkafani dan menguburkannya lalu kembali ke Siprus. “ “ Oh, syaikh. Ayah kami dalam keadaan sehat. Tidak ada sesuatu terjadi pada beliau.”“Itulah yang dikatakan padaku.” Jawab beliau dengan amat yakin. Kamipun menyerah saja karena apapun yang dikatakan syaikh kami harus menerimanya. Beliau meminta kami mengumpulkan seluruh keluarga untuk melihat ayah kami terakhir kalinya. Kami mempercayainya dan melaksanakannya walaupun ada yang terkejut dan ada yang tidak mempercayainya saat kami memanggilnya. Ada yang hadir dan ada yang tidak. Ayahku tidak mengetahui masalah ini, hanya melihat kunjungan keluarga sebagai hal yang biasa. Jam tujuh kurang seperempat. Kata syaikh Nazim,” Aku harus naik ke apartemen ayahmu untuk membaca surat Ya Sin tepat ketika beliau wafat.” Lalu beliau naik dari flat kami dibawah. Ayahku memberi salam pada syaikh Nazim lalu mengatakan,” Oh syaikh Nazim, sudah lama kami tak mendengar anda membaca qur’an. Maukah anda melakukannya untuk kami ?” Syaikh Nazimpun mulai membaca surat Ya Sin. Ketika beliau selesai membacanya, jarum jam menunjukkan tepat pukul tujuh. Persis ketika ayahku berteriak,” Jantungku, jantungku..!!” Kami merebahkan beliau, kedua saudaraku yang sama-sama dokter memeriksa ayah. Jantungnya berdebar keras tak terkontrol dan dalam hitungan menit, beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Semua orang melihat pada syaikh Nazim dengan takjub dan keheranan. “ Bagaimana beliau mengetahuinya ? wali macam apakah beliau ? bagaimana bisa dari Siprus, beliau datang hanya untuk hal ini ? rahasia seperti apakah yang ada di hatinya ? “Rahasia yang di simpan beliau adalah berkat sayang Allah swt pada beliau. Allah memberi wewenang akan kekuatan dan ramalan karena beliau memelihara keikhlasan, ketaatan, dan kesetiaan pada agama Allah. Beliau menjaga kewajiban dan ibadahnya. Beliau menghormati Al-Quran. Beliau sama dengan seluruh awliya naqsybandi sebelumnya, seperti halnya seluruh awliya thariqat lain dan para leluhurnya, syaikh Abdul Qadir Jailani dan Jalaluddin Rumi dan Muhyiddin Ibn Arabi yang menaati tradisi-tradisi Islam selama 1400 tahun. Dengan cinta Ilahi itu beliau akan dianugerahi pengetahuan Ilahiah, kebijaksanaan, spiritualitas dan segala hal. Beliau akan menjadi orang yang mengetahui akan masa lalu, saat ini dan masa depan. Kami merasa terperangkap diantara dua emosi. Satu, karena tangis kesedihan kami akan wafatnya ayah dan yang kedua kebahagiaan atas apa yang diperbuat oleh guru kami pada almarhum ayah. Kedatangan beliau demi ayah kami pada akhir hayatnya tidak akan pernah kami lupakan. Beliau memandikan jasad dengan tangan beliau yang suci. Setelah semua tugas dijalankan, beliau kembali lagi ke Siprus tanpa diundur. Suatu ketika syaikh Nazim mengunjungi Lebanon selama 2 bulan pada musim haji. Gubernur kota Tripoli, Lebanon yang bernama Ashar ad-Danya merupakan pemimpin resmi suatu kelompok haji. Beliau menawari syaikh Nazim untuk pergi bersama menunaikan ibadah haji. Kata syaikh,” Saya tidak bisa pergi dengan anda, tapi insya Allah, kita akan bertemu disana.” Gubernur tetap memaksa. “ Jika anda pergi, pergilah dengan saya. Jangan dengan orang lain.” Syaikh Nazim menjawab,” Saya tidak tahu apakah saya akan pergi atau tidak.”Ketika musim haji telah usai dan gubernur telah kembali, beliau segera menuju ke rumah syaikh Nazim. Dihadapan sekitar 100 orang, kami mendengar beliau mengatakan,” Oh syaikh Nazim, mengapa anda pergi dengan orang lain dan tidak bersama kami?” Kamipun menjawab,” Syaikh tidak pergi haji. Beliau bersama kami disini selama 2 bulan berkeliling Lebanon.”Gubernur berkata,” Tidak ! beliau pergi haji, kami punya saksi-saksi. Waktu itu saya sedang thawaf dan syaikh Nazim mendatangiku lalu mengatakan’ Oh Ashur, anda di sini?’ saya mengiyakan dan kami melakukan thawaf bersama-sama. Beliau menginap di hotel kami di Makkah. Dan menghabiskan siang hari bersama di tenda kami di Arafat. Beliau juga menginap bersama saya di Mina selama 3 hari. Lalu beliau mengatakan ‘Aku harus ke Madinah mengunjungi Nabi saw.’kemudian kami menatap syaikh Nazim yang menampakkan senyum khasnya dan seakan-akan mengatakan : “ Itulah kekuatan yang dianugerahkan Allah pada para awliya-Nya. Bila mereka berada di jalan-Nya, meraih cinta-Nya dan hadirat-Nya, Allah akan menganugerahi segala hal.’“ Oh syaikh-ku, karamah apa yang engkau tunjukkan pada kami adalah sangat luar biasa. Tidak pernah aku melihatnya selama hidupku. Aku ini seorang politikus. Aku percaya pada akal dan logika. Kini aku harus mengakui bahwa anda bukanlah orang biasa. Anda mempunyai kekuatan supranatural. Sesuatu yang Allah sendiri anugerahkan pada anda!” Gubernur itu mencium tangan syaikh Nazim dan meminta bay’at di dalam Thariqat Naqsybandi. Kapanpun syaikh Nazim mengunjungi Lebanon, gubernur dan perdana mentri Lebanon akan duduk dalam komunitas syaikh Nazim. Sampai saat ini, keluarga-keluarga beliau dan masyarakat Lebanon menjadi pengikut Syaikh Nazim.

 

Post a Comment