Thursday, September 13, 2012

PUSARAN ALAM SEMESTA 7 LANGIT

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Tidak ada benda diam di alam semesta ini. Semua sedang bergerak. Dan uniknya, semua bergerak mengikuti sebuah pusaran dengan pola tertentu. Dari kecil semakin membesar. Dan akirnya menuju sebuah pusaran raksasa sebesar alam semesta.
            Memang tidak semua bergerak searah. Tetapi dalam sekala yang lebih besar selalu berbentuk keseimbangan dari gerakan yang berbeda arah itu. Sebagian kawan ada yang menduga bahwa gerakan semua benda di alam semesta mengikuti gerakan bertawaf, yaitu berlawanan dengan arah jarum jam. Tetapi itu tidak memperoleh pijakan dalam realtas. Karena mulai dari partikel terkecil, di dalam inti atom maupun electron-elektron diluarnya ada yg berputar searah jarum jam atau sebaliknya. Demikian pula dialam macro, benda-benda langit ada yang berputar searah jarum jam atau berlawanan dengannya, yang disebut sebagai putaran retrograde.
            Termasuk mahluk hidup, tidak semuanya bergerak searah. Bahkan banyak yang berlawanan arah. Jadi, kita tidak boleh mengambil penyederhanaan bahwa seluruh pergerakan semesta adalah searah dengan gerakan towaf. Akan tetapi yang menarik, memang dalam sekala yang lebih besar semua benda bergerak membentuk sebuah system keseimbangan dalam pusaran yang lebih besar. Dan semakin besar, semakin besar, sampai entah sebesar apa …………….
            Dalam bagian ini saya hanya ingin memberikan gambaran bahwa seluruh alam semesta sedang bergerak dalam sebuah tatanan tunggal yang berpusat di satu “Titik” di pusat alam semesta. Tidak ada benda yang diam. Semuanya bergerak berpusar-pusar tunduk kepada “Hukum” yang “Satu” (Sunnatullah).
            Pusaran itu tidak hanya berhenti pada langit pertama saja. Kita tahu, bahwa alam semesta ini sebenarnya terdiri dari 7 ruangan langit yang tersusun secara dimensional. Ruang berdimensi 3 sampai ruang berdimensi 9.
            Selama ini kita mempersepsikan pergerakan itu hanya berlaku pada benda-benda pengisi langit. Seperti planet, matahari, gugusan bintang alias galaksi, superkluster dan seterusnya. Namun agaknya kita harus memandangnya dalam skala yang lebih besar lagi. Bahwa alam semesta ini tersusun dari Ruang, Waktu, Materi, Energi dan Informasi. Ke 5 parameter itulah penyusun alam semesta.
            Jika materi bergerak, pasti energinya juga bergerak, kalau gerakannya berpusar, energinya juga berpusar. Dalam waktu yang bersamaan, materi dan energi itu berada dalam ruang dan waktu. Padahal dimensi waktu “mengikat” materi dan energi, sehingga materi dan energi mengalami perubahan menjadi bertambah tua, seiring dengan berjalannya waktu.
            Maka secara sederhana, kita pun bisa mengambil kesimpulan bahwa “waktu” yang mengikat materi dan energi itu ikut bergerak berpusar-pusar. Namun karena waktu adalah dimensi yang mengikat materi dan energi maka pusaran waktu bergerak dalam pusaran yang lebih besar dari pusaran materi dan energi. “waktu” melingkar dan linier sekaligus, seiring dengan perkembangan alam semesta yang sedang mekar. Dalam sudut pandang lebih kecil – langit pertama -, waktu seperti bergerak mengikuti garis lurus kearah depan. Tapi dari sudut pandang yang lebih besar – langit kedua – waktu bergerak melingkar dan berpusar.
            Seluruh benda dan energi pengisi langit pertama bergerak berpusar dengan berpusat di tengah-tengah langit pertama, yang sampai sekarang belum ketahuan tempatnya. Akan tetapi, dalam waktu yang bersamaan, langit pertama ini berpusat mengitari pusat langit kedua. Termasuk ruang dan waktu, bergerak mengitari pusat langit kedua. Ini dimungkinkan, karena langit – langit itu berjenjang secara dimensional.
            Untuk mudahnya, cobalah bayangkan sebuah bola yang berputar. Bola adalah sebuah benda yang berdimensi 3. punya 3 ukuran, yaitu garis bujur, garis lintang dan diameteral kedalam bola. Atau kalau pada benda kotak, ada panjang, lebar dan tebal. Karena ia benda 3 dimensi, maka ia memuat benda-benda 2 dimensi dalam bentuk luas sisi kotak atau luas permukaan bola. Dan benda 1 dimensi berupa garis – garis yang membujur dan melintang, ataupun yang mengarah masuk pusat bola secara diameteral.
            Nah bayangkan, seluruh garis-garis yang berdimensi 1 itu sedang berputar-putar di permukaan bola. Masing-masing membentuk lingkaran kecil-kecil. Lingkaran kecil-kecil itu kemudian mengitari lingkaran yang lebih besar. Jadi lingkaran besar dibentuk oleh sejumlah lingkaran yang lebih kecil. Seperti : bulan mengelilingi bumu, bumi dan bulan mengelilingi matahari. Bulan, bumi dan matahari mengelilingi pusat galaksi. Galaksi-galaksi mengelilingi superkluster. Dan seterusnya. Begitulah. Bayangkan, yang semakin besar seperti system alam semesta tersebut. Maka kalau bola itu kita putar, lingkaran-lingkaran yang ada dipermukaan itu pun akan ikut berputar mengitari pusat bola, seiring dengan berputarnya bola. 
            Jadi dalam waktu bersamaan, lingkaran-lingkaran kecil itu melakukan gerak berputar dengan berpusat pada dua titik yang berbeda. Yang pertama : Mengelilingi titik pusat lingkarannya. Yang kedua : mengelilingi titik pusat bola. Begitulah porgerakan alam semesta. Dalam waktu bersamaan mengelilingi pusat-pusat lingkaran di langit pertama, tapi dalam waktu bersamaan seluruh isi langit pertama : ruang, waktu, materi, energi dan informasi, mengelilingi pusat langit kedua.
            Matedan energi ber pusar mengelilingi puat langit pertama. Ruang, waktu, dan informasi, mengembang seiring dengan “Mekarnya” alam semesta. Tetapi secara keseluruhan, semuanya sedang bergerak melingkar mengitari pusat langit kedua. Dan yang menarik, sebagaimana kita ketahui langit-langit it uterus bersusun-susun secara dimensional. Langit pertama dan kedua itu pun sedang bergerak berpusar mengitari pusat alam yang lebih tinggi, yaitu dilangit ke 3. langit ke 1,2,3. bergerak mengitari langit ke 4 dan seterusnya sampai langit ke 7.
            Lalu kemanakah semua langit yang bersaf 7 itu berputar? Ternyata semuanya sedang mengitari “ARSY”. Inilah pusat pergerakan seluruh alam semesta. Sehingga berulang-ulang Allah menginformasikan kepada kita tentang Arsy. (QS. Ar Ra’d (13):02 “Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaiman) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayang di atas Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (mahkluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.
            Ayat diatas memberikan gambaran kepada kita bahwa Allah sedang terus meninggikan langit ke segala arah. Bukankah langit adalah seluruh ruang di “atas” bumi. Karena bumi berbentuk bulat, maka diatasnya bumi itu berbentuk meruang, ke segala penjuru. Artinya Allah sedang menginformasikan kepada kita bahwa alam semesta sedang mengembang ke segala penjuru – expanding universe.
Berkembang kemana? Bukankah langit adalah seluruh ruang itu sendiri? Selama di situ ada ruang, maka itu disebut langit. Jadi kemana langit kita ini mengembang? Jawabnya : ke langit ke 2 yang berdimensi lebih tinggi. Dan sekarang ini juga sedang mengembang. Seperti sebuah “garis” yang memanjang kea rah melengkung permukaan bola. Garis berdimensi 1, dan permukaan bola berdimensi 2. permukaan bola itu sendiri sedang mengembang kea rah ruang sekitarnya yang berdimensi 3. itulah yang sedang terjadi dengan langit kita, yang bersaf 7.
            Selain menginformasikan bahwa langit langit ini sedang mengembang, Allah juga menginfor-masikan bahwa seluruhnya sedang beredar alias berputar seiring dengan pergerakan waktu.
Kemana arah putaran itu berpusar? Ke arah Arsy. Dari pusat itulah Allah mengendalikan seluruh putaran. Menundukkan pergerakan matahari dan bulan. Jika kita tahu, bahwa jumlah matahari di alam semesta ini bertrilyun-trilyun, maka kita akan bisa merasakan bahwa ayat itu sebenarnya bukan hanya menggambarkan tata surya kita, melainkan sedang menggambarkan langit pertama secara keseluruhan.
            Bahkan diayat berikut ini, Allah menggambarkan bahwa Arsy itu bukan hanya menjadi pusat benda-benda langit, tetapi sekaligus menjadi pusat dari seluruh langit yang bersaf 7. (QS. AL Mukminun (23) : 86), “Katakanlah : ‘Siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar’?”. (QS. Al A’raaf (7) : 54), “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalau Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang, tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.
            Allah menegaskan bahwa seluruhnya itu tunduk kepada perintahNya. Pemerintahan dan kerajaan-Nya berpusat di Arsy. Dan kemudian Dia tegaskan, bahwa Dia adalah Tuhan Semesta Alam. Yang mengendalikan seluruh dimensi langit yang 7. (QS. Ali Imran (3): 189), “Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS. Al Baqarah (2):107), “Tidakkah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong”.
            Beberapa kawan menafsirkan Arsy itu sebagai singgahsana. Sehingga kita sering kali membayangkan sebuah kursi singgahsana milik raja. Kita membayangkan Allah duduk diatas kursi itu. Kemudian kita terjebak kepada merendahkan sifat-sifatNya. Bagaimana tidak? Kalau kita membayangkan Allah duduk diatas singgahsana, berarti kan singgahsana itu lebih besar daripada Allah. DzatNya bisa ‘diwadahi’ oleh Arsy? Sungguh salah besar. Atau, jangan-jangan kita membayangkan bahwa Arsy itu adalah bagian dari unsur ketuhanan. (QS. Al Anbiyaa (21):22). “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”.
            Sama sekali bukan seperti bayangan kita itu. Allah adalah pemilik Arsy. Bahkan penciptanya. Sehingga di dalam ayat yang lain Allah mengatakan, Allah adalah tuhannya Arsy. Berarti Arsy itu tunduk kepadaNya. Mengikuti perintahNya. Maha Suci Allah dari yang kita sifatkan. (QS. Al Mukminuun (23):116). “Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan Arsy yang mulia”.
            Maka saya mempersepsikan Arsy secara lebih proporsional. Ia bukan singgahsana seperti yang kita bayangkan, melainkan pusat kendali seluruh alam semesta. Langit yang tujuh. Pusat kendali itu berada ‘diatas’ dimensi tertinggi yang dimiliki oleh langit ke tujuh. Malaikat pun tidak bisa masuk ke dalamnya. Hanya bisa keliling disekitarnya.
            Itulah yang bakal disaksikan pada saat hari kiamat nanti. Manusia akan bisa mempersepsi langit ke tujuh yang dimensinya Sembilan. Para malaikat bekeliling di seputar Arsy. Tidak bisa masuk ke wilayah inti pusaran tersebut. Segala mahluk tidak akan mampu masuk kedalam karena bakal hancur tak berbentuk. Inilah Pusaran energi tertinggi di alam semesta, yang tidak bisa diukur lagi. Ia menjadi pusat dari seluruh pusaran maha raksasa yang melibatkan bertrilyun-trilyun materi, energi, ruang, waktu, dan informasi.
(QS. Az Zumar (39):75). “Dan kamu akan melihat malaikat-malaikat berlingkar disekeliling Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan diantara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan : ‘Segala puji bagin Allah, Tuhan semesta alam’”.
            Dalam konteks ilmu kosmologi, wilayah seperti ini dikenal sebagai black hole alias lubang hitam. Tidak ada seorang ilmuwan pun yang tahu, ada apa di dalam lubang hitam itu. Apa lagi dibalik keberadaan lubang hitam itu. Gravitasinya luar biasa dahsyat. Segala yang ada disekitarnya ditarik menuju pusat gravitasinya. Termasuk cahaya pun tidak bisa keluar dari lubang hitam itu. Cahaya hanya bisa bergerak dan berpusar di jarak tertentu, di bagian luar medan gravitasinya. Para ilmuwan mengarah kepada kepahaman ini, karena pusat alam semesta memang harus memiliki gravitasi luar biasa besarnya agar bisa mengendalikan gerak alam semesta yang berpusar dalam jarak bermilyar-milyar tahuncahaya. Dan jumlahnya materi, energi yang demikian raksasa.
Tidak ada benda apa pun di alam semesta yang gravitasinya bisa menandingi black hole. Karena itu bisa dipahami, kalau pendapat para ahli kosmologi mengarah kepada black hole sebagai pusat alam semesta.
Yang menarik, di pusat black hole itulah diperkirakan seluruh hukum alam semesta ini runtuh. Hitungan matematis dan pendekatan fisika tidak bisa digunakan lagi untuk memprediksi segala kondisinya. Karena semua kondisi menjadi kosong mutlak.
            Jadi seluruh realitas di alam semesta ini ternyata sedang bergerak melingkari sebuah pusat yang kosong. “yang kosong” mengendalikan “yang berisi”. Keber-ADA-an berputar – putar di sekitar ke-TIDAK ADA-an. Inilah pasangan abadi dan serasi yang diciptakan oleh Allah dalam keseimbangan sempurna.
Alam semesta diciptakan dari “Ketiadaan” menjadi “Ada”, dan berkembang sampai kini. Suatu ketika nanti, segala yang “Ada” itu akan berhenti bergerak dan kemudian membalik kearah pusatnya kekosongan. Akhirnya, lenyap dalam “Ketiadaan” sempurna.
Dibalik kekosongan itulah pusat “kerajaan” alam semesta. Semua “realitas” yang ada di alam semesta hanyalah proyeksi dari sebuah REALITAS TUNGGAL dari “SESUATU” yang berada dibaliknya.
            Realitas init ak lebih dari sebuah permainan cahaya yang berasal dari balik “kekosongan mutlak” itu. Seperti saat kita menonton film di sebuah bioskop. Gambar “hidup” yang bergerak di layer hanyalah proyeksi dari film yang disorot lampu dari sebuah proyektor, dibelakang penonton.
Di zaman sekarang kita dapat menonton permainan cahaya yang lebih canggih yang disebut hologram. Jika bioskup adalah proyeksi di layer dua dimensi, maka hologram bisa diproyeksikan ke “layar” tiga dimensi di dalam ruangan.
Maka sejumlah sinar laser bisa digunakan untuk membentuk bayangan manusia. Binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Baying itu bisa bergerak di dalam ruangan persis seperti benda asli yang diproyeksikan dari suatu ruangan proyektor yang ada dibelakang penonton. Begitulah Allah menggambarkan dalam
(QS. An Nuur (24):35). “Allah mencahayai langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara. Yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur dan tidak pula di disebelah barat, yang minyaknya hamper-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
            Ayat diatas menggambarkan suatu perumpamaan yang mirip dengan rang proyektor. Ada sebuah ruang gelap tak tembus, dimana di dalamnya ada sumber cahaya yang sangat terang. Cahaya itu bersinar dari sebuah “PELITA” yang menyala dengan sendirinya.
Cahayanya memancar lewat sebuah lubang menuju ruang yang terhampar di seluruh langit dan bumi. Cahaya yang dipancarkan itu berlapis-lapis dengan segala macam warna dan tingkatan frekwensinya. Dan kemudian membentuk seluruh realitas yang ada. Cahaya hanyalah pancaran dari SANG PELITA. Dan seluruh realitas yang dihamparkan di “Layar” langit dan bumi ini hanyalah sekedar proyeksi dari permainan cahaya-cahaya tersebut. Sangat mirip dengan sebuah permainan hologram. Bedanya hologram diproyeksikan kedalam ruang 3 dimensi. Sedangkan seluruh realitas ini diproyeksikan ke ruang 9 dimensi; 7 petala langit.
Maka, black hole yang menjadi pusat pergerakan langit pertama dengan segala isinya itu ikut berputar mengelilingi langit ke 2. disana ada black hole yang menjadi pusat proyeksi langit ke 2. dimana, langit 1 ini menjadi bagian kecil dari realitas langit ke 2. seluruh realitas kehidupan dilangit ke 2 itu adalah proyeksi hologram juga. Begitulah seterusnya, sampai langit ke 7 yang dimensinya 9 itu adalah proyeksi dari REALITAS TUNGGA yang berada dibalik Arsy.
(QS. Al Mukmin (40):07). “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka berima kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan) : “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala.
(QS. Al Haqqah (69):17). “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arsy Tuhanmu di atas mereka”.
            Allah menggambarkan bahwa cahaya-cahaya kemalaikatan itu mencapai seluruh penjuru langit. Tapi, disekitar Arsy itu sendiri berkeliling para malaikat yang terus bertasbih. Diantaranya ada delapan malaikat yang menjadi petugas utama dari proyeksi “hologram” alam semesta.
Malaikat adalah mahluk-mahluk cahaya yang diutus oleh Allah menjembatani proyeksi tersebut. Bahkan, sebenarnya maikatpun menjadi bagian dari proyeksi hologram itu. Ada “8 berkas cahaya” yang menopang Arsy. Ke 8 berkas yang keluar dari Arsy itu berpusat di sekeliling Arsy dan memancar ke segala penjuru alam semesta. Mereka melesat dengan kecepatan berbeda beda sesuai dengan derajat dan tugasnya.
(QS. Ash Shaaffaat (37): 164-165). “Tiada seorangpun diantara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu”. “dan sesungguhnya Kami benar-benar bershaf-shaf (bertingkat-tingkat).
(QS. Faathir (35):01). “Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai “sayap”, masing-masing dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Semoga bisa menjadikan bingkai persepsi dan iman teman-teman menjadi lebih baik tentang Kebesaran Allah, universalitas Alqur’an (bahwa Alqur’an adalah realitas) bukan angan-angan / cerita belaka, sehingga pandanglah Alqur’an adalah benar-benar realitas kehidupan semesta ini.
Post a Comment