Wednesday, September 12, 2012

SYAIR BAHR AN-NISA HAMZAH FANSURI MENEMBUS MAKRIFAT

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

SYAIR BAHR AN-NISA HAMZAH FANSURI MENEMBUS MAKRIFAT
            Sastra sufi telah memainkan peranan penting dalam sejarah, agama dan budaya di Nusantara sejak akhir abad ke-14 terutama abad ke-16 dan 17. Bentuk sufilah yang paling sesuai dengan mentalitas masyarakat Nusantara sehingga Islam masuk ke semua strata masyarakatnya. Islam diterima secara damai tanpa peperangan agama. Sejalan dengan itu, Nusantara telah melahirkan tokoh-tokoh sufi tasawuf yang agung—namun sampai sekarang sastra sufi Melayu terutama dalam bentuk puisi belum dikaji dalam volume yang cukup besar, bandingkan dengan tasawuf puitik Parsi telah diselidiki secara ilmiah dalam bentuk makalah dan buku yang tidak terhitung jumlahnya. Salah satu tokoh sufi tasawuf Melayu adalah Hamzah Fansuri. Menurut saya, karya Hamzah tidak kalah dengan penyair seperti Ibnu Arabi, Al Hallaj, Al Bistani, Maghribi, Syah Nikmatullah, Abdullah Jalil, Jalaluddin Rumi, Abdulkadir Jailani, dan lain-lain. Karya tasawuf Hamzah menggambarkan jiwa Islam, mengingatkan manusia terhadap rahasia yang hidup dan kekal serta memberikan jalan untuk menghayati keakraban mistik terhadap Tuhan. Sebagai penyair Melayu karya Hamzah mempunyai ciri khas dalam bentuk alegori  beralur, dan berupa hikayat tentang percintaan dan petulangan yang bersifat alegoris—suatu ciri yang tidak dimiliki penyair-penyair dunia di atas.
            Salah satu karya puisi tasawuf Hamzah yang fenomenal adalah Syair Bahr an-Nisa (Laut Perempuan) dikarang masa pemerintahan Sultan Alauddin Sayid al-Mukammal di Aceh (1588-1604). Syair ini mengisahkan perjalanan sufi sampai tahap makrifat yakni pengenalan pada Hikikat Tertinggi. Citra dan lambang merupakan inti pati yang dapat merombak pribadi menuju perpaduan hakiki antara dirinya sendiri dengan Al-Haqq. Laut Perempuan adalah lambang dari Laut Jiwa. Prinsip keperempuanan di dalam diri manusia adalah jiwa yang berbeda dari Ruh (prinsip kelelakian). Jiwa merupakan perpaduan nafs[1] dan qalb[2] sedangkan lubuk kalbu menyembunyikan Ruh dan lubuk Ruh pun menyimpan Hakikat Ilahi di dalam diri manusia (sirr; rahasia). Dalam  konteks ini Ruh sebagai penjelmaan prinsip kelelakian bersatu padu dengan prinsip keperempuanan dalam Hakikat Ilahi sehingga tidak boleh dibicarakan secara terpisah.
            Dalam syair ini, untuk mencapai makrifat harus melalui jalan empat tahap, yakni; (1) syariat (menghayati hukum dan cara hidup Islam), (2) tarikat (menindas dan membunuh nafsu duniawi), (3) hakikat (menemui ”diri” yang sejati dan kekal di dalamnya), (4) makrifat (sepenuhnya tenggelam di dalam pengenalan Hakikat Tertinggi). Selanjutnya syair ini melukiskan tahapan sufi yang sampai kepada makrifat. Tahapan ini merupakan penghapusan ”diri” secara mutlak (bersama dengan pengenalan) dan penyatuannya (wasl) dengan Al-Haqq yang dicapai dalam tiga derajat. Pada bait 1 kisah mikraj Nabi Muhammad dijadikan perbandingan yang bagus. Dimana sebelum Nabi mikraj terlebih dahulu malaikat Mikail dan Jibril membelah tubuhnya, mencuci perut dan hatinya dengan air Zamzam yang suci, sambil membersihkannya dari segala yang bersangkut paut dengan nafsu duniawi. Dalam syair ini Laut Perempuan sebagai air Zamzam. Dengan melayarinya seolah-olah penyair menjalani pembersihan seperti halnya Nabi, apalagi air Laut itu dikatakan; Airnya Zamzam yang amat lezat/memenuhi cita hati dan fuad. Inti dari kisah mikraj ini adalah ketika Nabi berada pada lapis langit ketujuh, maka malaikat Jibril meninggalkannya seorang diri. Di sini Nabi menghampiri Arsy Allah ”pada jarak dua panah atau lebih dekat lagi” (qaba qausin au adna), dan Nabi pun dikaruniai melihat Hakikat Allah.
Tidak kalah menarik objek dalam syair ini adalah angka tujuh, dalam kebudayaan sufi angka tujuh erat hubungannya dengan kepercayaan tentang tujuh lapis petala langit dan tujuh lapis petala bumi. Selain itu, angka tujuh di sini juga menyimbolkan seekor naga bercula tujuh tinggal di dalam Lautan (bait 5) yang merupakan lambang nafsu-nafsu manusiawi; keangkuhan, kehendak buruk, syahwat, iri hati, kejahatan, loba dan kebencian—juga melambangkan lima indera rasa, daya syahwat, dan daya amarah dari jiwa manusia. Selain itu, Hamzah juga membedakan antara laut bergelora dengan laut yang teduh dan tenang. Zat Ilahi ialah laut teduh yang tiada bergerak. Titik awal penciptaan dan kesadaran Ilahi dilambangkan dengan ombak-ombak latif, kecil dan indah. Kata pencipta ”Kun” dilambangkan sebagai taufan ribut yang membangkitkan gelora-gelora yang tinggi, dan menjadikan laut seperti makhluk; Ombak latif elok jalan/pada ombak kahar jangan tertawan.... Sedangkan Mata Air dalam syair ini melambangkan mata air Surga Kautsar dan pohonnya adalah Sirat al-Muntaha. Hal ini dapat merujuk pada Hamzah yang menggelari Nabi Muhammad dengan Yang Empunya Kolam Air Minum dan Makam Termulia. Letak kolam ini lebih rendah dari makam termulia itu. Karena jenjang Nabi Muhammad berada setingkat dengan Arsy, maka mata air yang terletak pada satu tingkat di bawahnya memang melambangkan Kautsar.
Perlambangan tahapan menuju penyatuan dilambangkan dengan istri-istri Nabi Muhammad. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini kita rujuk pendapat (Braginsky,102-104:1993). Nama Maimunah berawal dengan huruf ”mim” merupakan lambang sifat makhluk nafs al-ammarah[3]. Menurut hadis qudsi yang terkenal dikalangan sufi, hanya huruf itu saja yang memisahkan Muhammad dari Allah. Setelah huruf itu meninggalkannya, Muhammad (bentuk namanya yang lain Ahmad) menjadi tunggal, yaitu mencapai penyatuan diri dengan Tuhan (”Aku, Ahmad tanpa mim yaitu Al-Ahad atau Yang Tunggal). Makna lain dari nama ini ialah ”kanan” merujuk pada orang-orang sebelah kanan, ashab al-yamini  (Alquran 56:27) para salihin yang mematuhi syariat. Maimunah mencerminkan tahap syariat yaitu manusia yang dikuasai jiwa hewani memilih jalan kanan. Dalam syair ini penyair berkali-kali menegaskan tentang perlunya menindas sifat-sifat hewani tersebut. Tahap tarikat Salamah berawal dengan huruf ”sin” huruf pertama kata salik yaitu pengembara. Di dalam tradisi sufi ”sin” melambangkan perjalanan dan nafs al-lawammah[4]. Sesuai dengan konteks nama ini mempunyai pengertian kesejahteraan, keselamatan, kebebasan dari aib. Tahap hakikat Khadijah diawali ”kha” huruf pertama Parsi khudi yaitu ”diri”. Selain itu Khadijah juga mempunyai arti ”keguguran”. Pada tahap hakikat segala nafsu sudah dikikis, ”diri” manusia dibersihkan, tetapi keadaan diri itu sendiri masih kekal. Maka dari itu menyebabkan manusia yang mencapai tahap hakikat dan nafs al-mulhimah[5] belum sempurna. Tahap makrifat Aisyah diawali ”ain” melambangkan mata air. Ia juga mempunyai arti  ”hidup”. Adapun makrifat ialah pengenalan yang memberi kehidupan abadi kepada nafs al-mutmainah[6] yang telah mencapai pengenalan dan kembali kepada Tuhan. Tahapan kelima Safiyah, melambangkan jiwa yang sudah disucikan dari segala sifat makhluk, termasuk juga dirinya sendiri dan sudah mencapai penyatuan dengan Tuhan (wasl).  



[1] Badan halus
[2] kalbu
[3] Jiwa amarah, tumpahan segala sifat buruk
[4] Jiwa taubat
[5] Jiwa berilham
[6] Jiwa yang menjadi tenang atau aman
Post a Comment