Tuesday, July 10, 2012

KAJIAN kitab Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Hati Bermaksiat Anggota Tubuh Taat

Berikut penjelasan dari kitab "Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" oleh Habib Muhammad bin Abdullah Al Aidarus"

Hati kadang kala bermaksiat ketika anggota tubuh taat. Kadang kala seorang manusia pandai lisannya, tapi bodoh hatinya. Karena memuat salah satu landasan amal, maka bab ini sangat bermanfaat bagi mereka yang mau merenungkannya. Banyak perkara penting dalam ber-suluk dibangun di atas landasan ini.

Maksiat yang dikerjakan oleh anggota tubuh lebih ringan, daripada maksiat yang dikerjakan oleh hati. Sekarang akan kusebutkan amal yang paling penting dan utama. Ketahuilah mendekatkan diri kepada Allah SWT dapat terlaksana dengan melaksanakan ketaatan. Bagi kaum arifin menjauhi maksiat lebih penting dibandingkan dengan memperbanyak ketaatan namun masih bertoleransi pada perbuatan dosa.

Ibnu Abbas radhianyallahu’anhu pernah ditanya, "Bagaimana pendapatmu tentang dua orang berikut: Pertama, orang yang kebaikannya banyak dan keburukannya juga banyak. Kedua, orang yang kebaikannya sedikit dan keburukannya juga . sedikit?" Beliau menjawab, "Aku tidak akan membandingkan keselamatan dengan apa pun."
Permisalan dari "Ibadah memiliki dua bagian: melaksanakan perintah dan menjauhi larangan" adalah seperti keadaan orang yang menderita penyakit. Pengobatan untuk orang sakit dapat dilakukan dengan dua cara: memberi obat dari menyuruh berpantang. Jika keduanya dilaksanakan, pasien akan sehat kembali. Namun, jika hanya salah satu yang bisa dilaksanakan, maka berpantang lebih utama. Sebab, obat tidak akan bermanfaat jika si pasien tidak menaati larangan dokter. Bahkan, kadang kala hanya dengan berpantang, tanpa meminum obat, si pasien bisa sembuh.
Rasulullah saw bersabda:
Pokok semua obat adalah berpantang" (HR Ibnu Abi Dunya)

Allah Ta'ala berfirman:
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan bnngunan-nya (mesjidnya) di atas dasar takwa kepada Allah dan keridhaan-Nya itu orang-orang yang mendirikan bangunanya di tepi jurang yang runtuh?" (At-Taubah, 9:109)

Seorang arif berkata, "Orang yang melakukan ketaatan tidak menjadi dekat kepada Allah Ta'ala, tapi orang yang menjauhi larangan-Nya bisa menjadi dekat kepada-Nya.”
Sebab, kebajikan dapat dikerjakan setiap orang: baik maupun jahat Namun, yang mampu menjauhi dosa hanyalah orang yang shidq dan muqarrab (dekat dengan Allah).

Manusia seringkali melakukan banyak amal kebajikan tetapi jiwanya tetap kotor, hal ini disebabkan karena ia tidak melandasi amalnya dengan takwa, dan dengan seenaknya melakukan perbuatan haram sehingga tanpa disadari hatinya menjadi rusak. Ka'bul Ahbar berkata, "Akan kamu temukan seseorang yang banyak mengerjakan kebajikan, tapi di sisi Allah nilainya tak lebih dari bangkai seekor keledai karena ilmunya sedikit; hati dan bashirah-nya buta. Dan akan kamu temukan seseorang yang tidak menggunakan waktu malamnya untuk beribadah dan siang harinya untuk berpuasa (sunah), tapi di sisi Allah ia termasuk dalam deretan kaum muqarrobin, karena keunggulan akalnya."

Amal memiliki berbagai rahasia yang tersembunyi dan kaidah-kaidah yang mulia. Tidak setiap orang yang beramal dapat merasakan pengaruhnya, sebab setiap amal membutuhkan adab-adab yang baik dan asas-asas penting yang tersembunyi dalam batin. Jika seseorang yang berhati suka beramal, dan ia mengetahui rahasia amalannya, maka tanda-tanda pengabulan akan tampak dan cahaya wushul akan menyinarinya. Namun jika yang beramal seseorang yang batinnya gelap dan jiwanya buruk, maka ia akan semakin buta dan tersesat. 'Ali radhiyallahu 'anhu berkata, "Orang yang beribadah tanpa ilmu seperti keledai yang menggiling tepung, ia berjalan mengitari penggilingan dan tidak beranjak dari tempatnya."
Amal orang yang bodoh hanya akan menjadi bencana baginya, dan ilmu yang ia miliki hanya akan menyesatkannya.

Seseorang yang ingin hatinya bersinar. Hendaknya ia meneliti dirinya, tidak bertoleransi pada perbuatan yang syubhat dan haram, dan berusaha menjauhi segala dosa dengan segenap kekuatannva. Sikap ini telah terbukti dapat memberikan banyak manfaat, melapangkan dada dan menenangkan jiwa.
Allah Ta'ala berfirman:
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (An Nahl 97)

Namun jika seorang hamba meremehkan takwa dan menganggap ringan perbuatan dosa dan haram, maka jiwanya akan menjadi buruk, perilakunya akan menjadi tercela, dan urusannya akan menjadi kacau. Hal ini dapat dibuktikan, dan orang yang gemar beramal pasti mengetahuinya. Oleh karena itu, wahai saudaraku, perhatikanlah baik-baik masalah ini, karena engkau akan dibalas sesuai dengan perbuatanmu,
Allah Ta'ala berfirman:
"Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta."(Thaha, :124)

Dalam menafsirkan ayat ini para ulama mengatakan bahwa Allah akan memberinya rezeki haram yang dapat menyebabkan kehidupannya menjadi sempit. Sebab, makanan haram akan membuat dada menjadi sempit dan perilaku menjadi buruk.

Shidq


Wahai Saudaraku, jadikanlah shidq sebagai pusat dan awal semua urusanmu. Dikatakan bahwa shidq adalah pedang Allah di bumi. Apa pun yang disentuhnya pasti terpotong. Ketahuilah, shidq memiliki dua arti: shidqul lisan dan shidaul qolb. Shidqul qolb adalah sumber shidqul lisan, dan selalu menjadi pegangan dan tujuan kaum sholihin. Shidqul lisan adalah perbuatan yang baik, tapi shidqul qolb merupakan sumber dan asal dari shidqul lisan. Shidqul lisan dikatakan baik karena ia menunjukkan kemakmuran batin ('imaratul bathin) dan kesucian jiwa. Kebohongan lisan sangat jelek dan buruk, tapi kebohongan hati lebih buruk dan berbahaya karena menunjukkan kerusakan batin dan kehinaan jiwa. Kebohongan hati dapat melahirkan berbagai perbuatan yang lebih buruk daripada kebohongan lisan. Orang yang mudah berbohong dan tidak mempedulikan kehinaan dan kekurangan jiwanya, adalah orang yang rendah. Keadaan ini akan membuatnya jauh dari Allah SWT. Seorang manusia yang sempurna tidak rela melihat dirinya penuh kekurangan, meski tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Orang yang suka berbohong akan meremehkan aib dan kekurangannya sendiri, meskipun ia mengetahui aib dan kekurangan tersebut. Sebagaimana dikatakan bahwa seorang pendusta tidaklah berdusta kecuali karena ia memandang remeh dirinya.

Oleh karena itu, ketahuilah, bahwa shidqul bathin tidak akan membelokkan hati dari jalan kebenaran, bahkan kejujuran akan menjadi syiarnya. Jika seseorang telah membiasakan batinnya dengan kebenaran dan shidq, maka lisannya akan sulit untuk diajak berdusta, karena: Lisan adalah penerjemah hati.

Lisan hanya akan mengutarakan apa yang terdapat dalam hati. Jika hati shidq, mustahil lisan akan berdusta. Kini jelaslah bagimu, bahwa jika batin telah dibiasakan dengan kebenaran, maka kebenaran akan menjadi sifat dan karakteristik batin. Sehingga andaikan ia ingin berbohong, ia tidak mampu melakukannya, sebab yang demikian itu bukan sifat batinnya. Semua ucapan dan perbuatan buruk seseorang ditimbulkan oleh keburukan batin. Hal ini terjadi karena akal yang lemah, atau hawa yang menguasai dirinya dan menodai nuraninya (sir). Orang yang dikuasai oleh hawa, setelah sadar akan menyesali semua kelalaiannya. Sedangkan orang yang berakal lemah, tidak akan pernah sadar, tidak akan pernah mengetahui cacat batinnya, dan tidak akan pernah bisa diharapkan kesembuhan batinnya. Pahamilah hal ini dan berusahalah (untuk bersikap shidq), semoga dengan pertolongan dan kehendak Allah kamu akan memperoleh kebenaran.


Langkah Awal Mendekatkan Diri Kepada Allah


Orang yang cerdas dan berpikiran sehat adalah mereka yang mengelola amal-amalnya sehingga semua kegiatan mereka menjadi sempurna.

Langkah awal yang harus diperhatikan oleh seorang hamba dalam ber-suluk adalah menyucikan dan mendidik nafs serta menyempurnakan akhlak. Bagi seorang sâlik usaha penyucian nafs lebih utama dari pada memperbanyak ibadah sunah, seperti salat sunah, puasa sunah dan sejenisnya. Karena, seorang hamba tidak layak menghadap Allah SWT dengan hati dan nafs yang kotor. Ia hanya akan melelahkan dirinya, sebab amal yang ia kerjakan mungkin justru membawanya ke arah kemunduran.

Jika seseorang tidak menangani urusannya secara arif, maka dikhawatirkan ia akan tersesat dan mengalami kemunduran. Karena itu seseorang hendaknya selalu memelihara sir-nya (nurani) dan memanfaatkan waktu yang ia miliki. Jangan sekali-kali ia membiarkan hatinya kosong dari fikr (pemikiran) yang dapat melahirkan ilmu. Dan jangan sampai ia mengerjakan suatu perbuatan tanpa niat yang benar, karena niat adalah ruh amal.

Jika hati seseorang tidak mampu mewadahi fikr (pemikiran) yang dapat melahirkan ilmu dan niat-niat saleh, maka ia seperti hewan liar. Dalam keadaan demikian manusia akan terbiasa menghabiskan waktunya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia dan bergaul dengan orang-orang bodoh. Ia akan melakukan berbagai perbuatan buruk dan tercela. Seorang yang berakal hendaknya sadar dan memelihara hatinya.

Ketahuilah, keadaan hati yang paling mulia adalah ketika ia selalu berhubungan dengan Allah SWT. Inilah landasan amal dan sumber perbuatan-perbuatan yang baik. Cara memakmurkan batin adalah dengan selalu menghubungkan sir (nurani) dengan Allah SWT, sedangkan cara merusaknya adalah dengan selalu melalaikan-Nya. Jika hati seseorang telah memiliki hubungan yang kuat dengan Allah SWT, ia dengan mudah dapat melakukan berbagai amal dan ketaatan yang bisa mendekatkannya kepada Allah.

Ketahuilah, bahwa hati itu bagaikan cermin, memantulkan bayangan dari semua yang ada di hadapannya. Karena itu manusia harus menjaga hatinya, sebagaimana ia menjaga kedua bola matanya.

Orang yang mengkhususkan diri untuk beribadah kepada Allah hendaknya tidak bergaul dengan orang-orang yang jahat, bodoh dan suka berbuat tercela, sebab perilaku mereka akan mempengaruhi hati dan memadamkan cahaya bashiroh-nya.

Seorang pencari kebenaran hendaknya memperhatikan segala sesuatu yang dapat memperbaiki hatinya. Untuk memperbaiki hati diperlukan beberapa
metode, di antaranya adalah dengan selalu mengolah fikr (pemikiran) untuk membuahkan hikmah dan asror, banyak berdzikir dengan hati dan lisan, dan juga dengan menjaga penampilan lahiriah: pakaian, makanan, ucapan, serta semua perilaku lahiriah yang memberikan pengaruh nyata bagi hati. Seorang
pencari kebenaran tidak sepantasnya mengabaikan hal ikhwal hatinya.



Niat


Berikut penjelasan dari kitab "Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" (Habib Muhammad bin Abdullah Al Aidarus)

Ucapan tersusun berdasarkan niat. Ketahuilah, salah satu asas yang dapat menyampaikan seseorang kepada Allah adalah usaha untuk melandasi amal
dengan niat yang sempurna dan hati yang ikhlas, serta melaksanakan ketaatan tanpa melibatkan hal-hal yang dapat merusak amal. Sumber ucapan ini adalah sabda Nabi saw, “Amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya untuk setiap orang (akan dibalas) sesuai niatnya.”

Amalan hati adalah niat. Amalan hati ini kemudian melahirkan amalan lahiriah. Amal-amal hati merupakan pokok (ushûl) sedangkan amal-amal lahiriah merupakan cabangnya (furû’). Jika pokoknya sempurna maka cabangnya pun akan kokoh, dan jika niat yang berfungsi sebagai landasan amal diabaikan, maka amal-amal lahiriah (sebagai cabang) akan goyah. Kaidah ini berlaku umum untuk semua amal ukhrawi maupun duniawi. Jika ingin selamat dan lurus urusanmu – remeh maupun penting – maka sempurnakanlah semua tujuanmu (maksudnya). Caranya, pertama-tama pikirkanlah tujuan itu,
kemudian berilah semangat (himmah) sebanding dengan tujuan tersebut.

Setelah itu pasrahkanlah urusanmu kepada Allah SWT. Mohonlah agar Dia berkenan menyempurnakan dan mengaruniakan kesuksesan. Dengan cara demikan amal menjadi suci dan tujuan menjadi benar.

Wahai pembaca, pembahasan ini sangat pelik, karena itu pahamilah dengan baik. Aku harus menjelaskannya kepada saudara-saudara kita para sâlik agar mereka memperoleh petunjuk. Namun, hanya Allah yang dapat memberikan taufik dan pertolongan.

Ketahuilah, niat mempunyai dampak yang sangat menakjubkan terhadap amal. Jika niatnya baik, hasilnya pun baik. Tetapi jika niatnya buruk, akan buruk pula hasilnya. Niat yang baik adalah sumber seluruh kebajikan. Sebab semangat (himmah) yang dicurahkan pada suatu kegiatan, dengan kekuasaan Allah akan menghasilkan pengaruh yang luas. Dan tercapai tidaknya suatu tujuan tergantung pada kuat lemahnya azm (tekad). Oleh karena itu, manusia hendaknya mengerjakan semua kegiatannya dengan semangat tinggi dan penuh perhatian, bukan karena kebiasaan semata. Hendaknya ia mencurahkan pikirannya, memperkuat semangatnya dan bersungguh-sungguh dalam setiap urusannya.

Ada sebuah kalimat hikmah kuno yang cukup indah mengatakan bahwa “Hazm (ketetapan hati/tekad) adalah bersegera dalam memanfaatkan kesempatan yang ada, bersegera dalam melaksanakan niat, dan tidak berlambat-lambat dalam mengejar sesuatu yang dikhawatirkan dapat terlewatkan. Merenungkan sesuatu yang belum tentu terjadi, merupakan sumber kelemahan dan penyebab kekalahan.” Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT berikut, “Hai Yahya, ambillah kitab (taurat) itu dengan kekuatan.
(QS Maryam, 19:12) yakni dengan kekuatan tekad.

Rasulullah saw bersabda, “Niat seorang mukmin lebih baik dari pada amalnya.” Sebab amal hati tidak terbatas. Seseorang seringkali merasa berat hati ketika meniatkan suatu kebajikan. Namun, jika berniat melakukan kejahatan, ia dengan mudah dapat mewujudkan niatnya. Salah satu keajaiban rahasia niat adalah keberkahannya yang dapat mempengaruhi berbagai hal yang tidak pernah terlintas dalam pikiran kita. Diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz ra menjabat sebagai kholifah para penggembala domba berkata, “Siapakah hamba yang saleh yang berkuasa saat ini?”

“Bagaimana kalian tahu bahwa penguasa kita adalah seorang yang saleh?” tanya seseorang.

“Jika seorang kholifah yang adil berkuasa, serigala tidak akan memangsa domba.”

Lihatlah, betapa niat yang penuh berkah ini berpengaruh terhadap hewan buas. Demikian pula niat buruk. Niat buruk dapat memberikan pengaruh yang
lebih parah. Jika seseorang menyimpan niat jahat, maka niat itu akan menggerakkannya untuk melakukan kejahatan yang kadang kala akibatnya lebih buruk dari yang diniatkannya.

Berbagai perkara yang pelik ini harus diperhatikan dan dipikirkan, karena tujuan penulisan bab ini adalah agar seseorang dapat mencegah hatinya dari kejahatan. Jangan sampai ia melakukan ketaatan dengan hati lalai: baik dalam bersalat, bertasbih, membaca Quran, bersedekah, menengok orang sakit, melayat jenazah, maupun ibadah lainnya. Seorang bijak rhm berkata, “Barang siapa berdzikir kepada Allah dengan hati yang lalai, Allah akan berpaling darinya.” Ucapan ini berlaku umum.

Kaum khowwâsh selalu menetapkan niat baik dalam semua hal, sampai pada perkara-perkara yang mubah. Sebab, niat baik dapat merubah perbuatan mubah menjadi amalan yang berpahala. Misalnya ketika berpakaian, jika niatnya untuk mematuhi perintah Allah dalam firman-Nya: Pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) mesjid. (QS Al-A’rof, 7:31) Dan mengamalkan sabda Rasulullah saw berikut, “Sesungguhnya Allah itu Maha Cantik, Ia menyukai kecantikan.” Serta untuk mensyukuri dan memuji Allah atas rezeki yang Ia anugerahkan. Maka perbuatan mubah itu menjadi ibadah.

Hubungan Maksiat dengan Bencana

Berikut penjelasan dari kitab "Idharu Asrari Ulumil Muqarrabin" - Habib Muhammad bin Abdullah Al Aidarus

Wahai saudaraku, sadarlah, perbaikilah amalmu dengan sekuat tenaga. Amatilah setiap zaman dengan cermat. Sebab, ada zaman yang keburukannya banyak dan kebahagiaannya sedikit, kesedihannya tersebar rata, kesusahannya banyak dan keberkahannya sedikit. Oleh karena itu seorang yang berakal hendaknya sadar dan berhati-hati, berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan segenap kemampuannya agar terhindar dari bencana.

Sesungguhnya yang menjerumuskan manusia ke dalam berbagai bencana ini tiada lain adalah kelalaian, pengabaian, berpalingnya mereka dari Allah Yang Maha Tinggi, dan keinginan kuat untuk dekat kepada Allah tanpa diiringi amal yang memadai. Karena itulah Allah Ta’âlâ murka dan tidak memberikan berkah pada bumi. Sehingga alam porak poranda dan keadaan makhluk pun terpuruk.
Demikianlah zaman yang penuh kelalaian, di dalamnya para pelaku maksiat bermaksiat secara terang- terangan, zaman yang serba sulit, zaman yang
pengaruhnya sangat mengkhawatirkan. Keadaan ini menunjukkan bahwa Allah Ta’âlâ telah berpaling dari makhluk-Nya. Sebab, jika Allah meridhoi hamba-Nya, maka Ia akan memandang mereka dengan penuh kasih, alam pun bercahaya, jiwa senang, hati hidup, kebahagiaan tampak, keadaan manusia menjadi baik, berkah melimpah ruah dan kebaikan semakin meningkat.

Dikatakan dalam sebuah syair:

Kau lihat kampung ini ceria saat Nu’ma ada,
Dan menjadi suram ketika ia tiada

Atau:

Demi hidupku,
jika hati ini bahagia saat berdekatan denganmu,
ia pasti menderita ketika jauh darimu
kau pergi atau tinggal,
cintaku padamu tetap membara,
tempatmu di hatiku selalu terjaga
betapa sepi dunia tanpa dirimu
dan alangkah indahnya dunia bila bersamamu

Atau:

Kehadiranmu membuatku senang dan bahagia
tanpamu dunia ini bagiku adalah penjara
kujalani hidup ini
dan kehidupan pun terasa nikmat bersamamu
berderai air mataku karenamu
dan kampung ini terasa nyaman berkatmu
Jika tidak berlomba ‘tuk memperoleh cintamu
dan tidak cemburu kepadamu,
lalu dengan siapa lagi aku mesti berlomba?

Kau telah membuatku mencintai Najd dan Hajir,
Padahal keduanya bukan negeriku
Kau dahulu pernah tinggal di situ
Maka keduanya menjadi tempat nyaman bagiku

Para ulama berkata, “Jika Allah Ta’âlâ berpaling dari makhluk, Ia jadikan alam ini gelap gulita, maka lenyaplah kesenangannya, padamlah cahayanya, hancurlah hati manusia, menjadi buruk keadaan mereka, tersebar merata kesedihan, menjadi sedikit kebaikan, lenyaplah amanah, hilanglah rasa cinta, membumbung tinggi harga-harga, orang jahat berkuasa, berkuranglah keuntungan para pedagang, orang berakal menjadi bingung menyaksikan peristiwa- peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan bumi rusak dan tak ramah kepada penghuninya.

Dalam syair dikatakan:

Jika aku berkunjung ke suatu kota
dan tak kulihat engkau di sana
kota berubah muram wajahnya
dan semua menjadi gelap gulita

Bencana ini terjadi karena dosa-dosa manusia; karena mereka melanggar larangan-Nya dan mengabaikan perintah-Nya. Sebab Allah dapat menyegerakan
atau menunda siksa. Siksa yang disegerakan adalah seperti yang telah kusebutkan: kerusakan alam dan lain-lain. Adapun siksa yang ditunda adalah siksa yang dijanjikan di akhirat.

Oleh karena itu, orang yang cerdas seharusnya bangkit dari tidurnya dan mencurahkan semua tenaga untuk beribadah kepada Tuhannya. Sehingga, ketika manusia ditimpa siksa dan bencana, maka Allah dengan rahmat-Nya akan menyelamatkan mereka yang sungguh-sungguh berkhidmat kepada-Nya.

Sebab, bencana yang diturunkan akan menimpa semua manusia: yang taat apalagi yang durhaka. Hanya saja bencana yang menimpa orang yang baik, sedikit dan sangat ringan. Meskipun bencana dan musibah duniawi menyakitkan dan membahayakan, namun demi mencari pahala, maka kaum sholihin bersabar atas pahitnya qodho dan pedihnya bala`, mereka berkata:

baik atau pun buruk perlakuannya
aku pasti ridho kepadanya
dan hatiku pun rela dengan ketentuannya

meski tak pernah kuhirup aroma keridhoanmu
meski tak kunjung henti hari-hari amarahmu

Lain halnya dengan orang yang lalai dan suka bermaksiat, mereka akan mendapat bencana dan malapetaka yang dahsyat. Demikian buruknya perbuatan mereka, sehingga bencana itu juga menimpa orang-orang yang baik di antara mereka. Allah SWT berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, “Dan peliharalah dirimu daripada siksa yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim di antaramu saja.” (QS Al-Anfal, 8:25)

Juga disebutkan bahwa Allah SWT berfirman dalam salah satu kitab yang Ia turunkan, “Karena dosa seorang munafik, sebuah kota terbakar. Lantaran dosa
seorang munafik, dunia terbakar.”

Perbuatan yang paling sering menyebabkan manusia tertimpa berbagai bencana adalah amalan yang muncul dari hati yang penuh kedengkian dan riya,
terutama jika amalan itu dikerjakan oleh seorang ahli zuhud atau ahli ilmu.

Sebab, Allah SWT telah berfirman kepada bani Israil, “Kalian menuntut ilmu untuk selain Allah. Kalian belajar bukan untuk diamalkan. Kalian bersihkan minuman kalian dari kotoran, tapi makanan haram sebesar gunung kalian telan. Kalian memakai pakaian dari bulu domba, tapi menyembunyikan nafsu serigala. Karena itu demi Keagungan-Ku, Aku bersumpah akan menimpakan kepada kalian fitnah yang dapat menyesatkan pemikiran para ahli pikir dan hikmah.”

Untungnya, setiap terjadi bencana Allah Ta’âlâ selalu menyayangi dan melindungi hamba-hamba-Nya:

Demikianlah menjadi kewajiban Kami untuk
menyelamatkan orang-orang yang beriman.
(QS Yunus, 10:103)

Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang beriman. (QS Al-Haj, 22:38)

Diriwayatkan bahwa seorang utusan Allah Azza wa Jalla menemui seorang lelaki saleh Bani Israil yang ditimpa berbagai bencana, “Jangan takut, sesungguhnya Allah bersamamu, Allah berfirman untukmu, ‘Sesungguhnya seorang kekasih tidak akan menelantarkan kecintaannya. Orang yang bertawakal
kepada-Ku tidak akan hina. Dan orang yang meminta kekuatan dari-Ku, tidak akan lemah.”
(Memahami Hawa Nafsu, Îdhôhu Asrôri ‘Ulûmil Muqorrobîn)
Post a Comment