Wednesday, July 25, 2012

MANUSIA ILAHI

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

RASULULLAH SAW : MANUSIA ILAHI

Oleh : Syaikh Jawadi Amuli
Manusia wajib mencintai Rasul SAW lebih dari yang lain, bahkan dari egonya sendiri. Allah SWT menyebutkan sifat-sifat baik dari manusia yang dicintainya, Sesungguhnya Allah SWT mencintai orang-orang yang bertobat, dan mencintai orang-orang yang membersihkan diri (QS. Al-Baqarah : 222). Allah juga mencintai ahli takwa, Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertakwa (QS. At-Taubah : 4). Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berjuang di jalan-Nya yang berbaris seperti bangunan yang kokoh (QS. Ash-Shaff : 4). Tetapi yang paling dicintai sekali oleh Allah adalah Muhammad SAW karena ia adalah penjelmaan Dirinya (mazhar) yang sempurna (untuk semesta alam). Al-Quran memberi isyarat, Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad)(QS. Ali-Imran : 31).
Para pecinta kekasih Allah akan menjadi kekasih Allah. Mereka yang mencintai  Rasul SAW akan berusaha menyamainya (begitu pula dengan Rasulullah SAW yang mencintai Allah sehingga ia menjadi manusia Ilahi). Ia sangat menghamba-Nya sedemikian rupa sehingga ia manusia Ilahi.
Anas bin Malik mengatakan, “Pernah datang seorang Arab pegunungan menemui Rasulullah SAW dan bertanya, ‘Kapan kiamat terjadi?’ Pertanyaan itu diajukan ketika waktu shalat tiba. Rasulullah SAW menjawab, ‘Tanyakan pertanyaan itu ketika selesai shalat.’ Usai shalat, Nabi SAW bertanya, ‘Memangnya apa yang telah engkau persiapkan?’ Orang Arab itu menjawab, ‘Aku bersumpah kepada Allah aku tidak mempersiapkan dengan shalat dan puasa yang banyak namun aku hanya punya kecintaan kepada Rasul.’ Kemudian Rasulullah SAW mengatakan, ‘Orang itu akan bersama orang yang dicintainya.’ Anas mengatakan, Aku belum pernah merasakan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang Muslim dengan kata-kata ini.”
Imam Baqir mengatakan, “Suatu hari Rasulullah SAW mengatakan di tengah-tengah umatnya, Cintailah Allah karena Dia  telah menyediakan jamuan jasmani dan ruhani kalian. Cintailah aku karena Allah karena aku adalah wadah pancaran cahaya karunia-Nya, dan cintailah Ahlul Baitku karena mereka adalah perantara antara aku dan kalian.”
Dalam sebuah hadis yang mata rantainya disebut dengan Silsilah adz-Dzahab (silsilah emas) dari Amirul Mukminin Ali Kw mengatakan, “Seorang laki-laki Anshar datang menemui Rasulullah SAW sambil mengatakan, ‘Aku tidak bisa berpisah dengan Anda. Ketika aku mau memasuki rumah dan tempat kerja, aku teringat dengan Anda. Karena itu aku berangkat untuk menemui Anda sebab aku mencintai Anda. Aku membayangkan kelak di hari kiamat Anda pasti masuk ke surga, ke tempat  yang termulia, sementara aku bagaimana?” Saat itu turunlah ayat, “Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pecinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An-Nisa : 69). Kemudian Rasulullah SAW meminta orang itu mendekatinya dan beliau membacakan ayat itu sebagai kabar gembira untuknya.
Rasulullah SAW mengatakan, “Seorang hamba belum sempurna imannya kecuali kalau ia lebih mencintai diriku dibanding dirinya sendiri dan keluargaku lebih dicintai daripada keluarganya sendiri dan Ahlul Baitku lebih dicintai daripada Ahlul Baitnya sendiri dan diriku lebih dicintai dari dirinya.”
Rasulullah SAW adalah Akal Semua Manusia
Eksistensi Rasulullah SAW adalah akal munfashil seluruh manusia. Allah SWT mengatakan, “Dialah yang telah mengutus seorang rasul ke tengah-tengah masyarakat yang ummi.” (QS. Al-Jumuah : 2) dan ….juga ke tengah-tengah masyarakat Mukmin (QS. Ali Imran : 164). Allah telah menganugerahkan kepada orang Mukmin dengan mengutus dari kalangan mereka seorang rasul. Bahkan juga untuk para malaikat karena para malaikat adalah murid-murid manusia sempurna. Manusia sempurna adalah tajalli Allah SWT. Manusia yang akil (rasional) selalu berusaha menundukkan  quwwah tahriki (fakultas sensasi) dengan quwwah idrak (fakultas perseptif) dan quwwah idrak yang lebih rendahnya akan menyerah pada quwwah ‘aliyah-nya (fakultas yang lebih tinggi).
Imam Ali Kw mengatakan, “Jika terjadi bencana, jadikan hartamu sebagai pembela jiwamu dan jika terjadi sesuatu yang membahayakan agamamu maka serahkan jiwamu demi agamamu.”
Seorang manusia semestinya lebih mendahulukan akal munfashil-nya yaitu Rasulullah SAW sebelum akal muttashil menyatu dengannya. Seperti halnya ketika terjadi hal-hal yang membahayakan sehingga quwwah tahriki (fakultas stimulasi) dan idraki (persepsi)nya menjadi korban fakultas kognitif (intelektual). Dan, semua manusia seharusnya mau mengorbankan dirinya demi Rasulullah SAW, walaupun di tengah-tengah mereka masih hidup orang-orang bijak dan pintar, karena manusia-manusia bijak itu bagi Rasulullah SAW tidak lebih dari anggota tubuhnya. Nabi SAW adalah akal universal manusia. Manusia mana pun tidak memiliki hak untuk memilih fakultas lain selain akalnya.
Ibaratnya ketika manusia menemui kekeliruan panca indra maka akallah yang harus menjadi hakimnya, demikian juga sahabat-sahabat Rasulullah SAW harus menyerahkan segala keputusan kepada Rasulullah SAW. Jadi suara semua fakultas manusia adalah, “Kalau tidak ada akal maka celakalah kami” atau dengan bahasa hidupnya, “Kalau tidak ada Al-Quran dan Rasul, maka celakalah kami.”
Al-Quran memberi isyarat tentang keharusan mempertaruhkan jiwa demi membela Rasulullah SAW, “Tidak pantas bagi penduduk Madinah  dan orang-orang Arab Badui yang berdiam  di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak pantas (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada (mencintai) diri Rasul.” (QS. At-Taubah : 20). Seorang manusia tidak boleh mementingkan dirinya sehingga menjauh dari Rasulullah SAW karena Rasulullah  adalah nyawanya dan siapa pun harus menyadari bahwa jiwa Rasul SAW lebih penting dari jiwanya. Ia tidak boleh membiarkan Rasulullah SAW dalam situasi bahaya. Nabi itu lebih utama dari diri kaum mukmin. Annabiyyu awla bilmu’minina min anfusihim. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang Mukmin dari diri mereka sendiri (QS. Al-Ahzab : 6).
Ketika seseorang mempertaruhkan nyawanya untuk Rasul SAW, ia tidak menyerahkan untuk sesuatu yang bukan bagian dari dirinya (outward). Sejatinya, ia sedang menyerahkan pada yang akan menyempurnakan dirinya (inward).
Lanjutan dari surah At-Taubah ayat 20 itu berbunyi, “Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu amal kebaikan. Sungguh Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
Artinya, manusia yang rela mengorbankan jiwa dan hartanya untuk Rasulullah SAW akan memperoleh sesuatu yang lebih berharga karena kemahakerdilannya dileburkan dengan kemahasempurnaan-Nya. Posisi yang mulia itu harus dicintai oleh yang memiliki posisi mutawassith atau nazil (lebih rendah). Karena itulah ayat mengatakan, laqad ja’akum rasulun min anfusikum, Sungguh telah datang Rasul dari diri kalian sendiri. Jadi, Rasul itu sesungguhnya bagian dari diri kalian.
Walhasil, kalau sang manusia mengorbankan dirinya untuk Rasul SAW, maka ia akan bertemu dengannya dan menjadi manusia sempurna. Ia juga bisa mencapai syuhud (menyaksikan) Rasulullah SAW dan risalahnya. Syuhud adalah kedudukan tertinggi bagi manusia.
Rasulullah adalah Spirit Manusia
Rasulullah SAW diturunkan di tengah-tengah era jahiliah sebagai akal munfashil untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan dan ketidaksadaran. Karena itu, ketika Allah SWT berfirman, “Mahasuci Allah sebaik-baik pencipta.” Ia berbicara  ketika Rasulullah SAW telah diciptakan dalam suatu tatanan masyarakat manusia, sehingga Allah memuji dirinya yang telah mencipta Rasulullah SAW.
Allah SWT menjelaskan tentang tahapan-tahapan penciptaan manusia yaitu mula-mula dari tanah, kemudian sperma, alaqah, mudghah (segumpal daging), tulang dan daging dan kemudian ditiupkan ruh, “Dan sungguh, Kami telah menciptakan  manusia dari saripati tanah, kemudian Kami menempatkan air mani itu dalam tempat yang kokoh (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. mahasuci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mukminun : 14).
Mahasuci Allah yang telah menyaring manusia dari makhluk nabati dan hewani. Allah yang sebaik-baik pencipta (ahsanul khaliqin) juga sebaik-baik yang menegakkan (ahsanu taqwim), maka manusia akan menjadi ahsanul makhluqin. Rasulullah SAW diutus di tengah-tengah masyarakat jahiliah agar kehidupan maknawi bisa bersemi, menyelamatkan manusia dari kehidupan kebodohan menuju kehidupan yang sempurna dan membahagiakan. Semua manusia adalah ahsanul makhluqin dibanding makhluk-makhluk lain tetapi tidak ada manusia yang menyamai Rasulullah SAW, sebab ia adalah mazhar jamaliyah wa jalaliyah (manifestasi keindahan dan keagungan) Allah SWT.
Karena itu ketika diucapkan nama Nabi Muhammad SAW, semua imam menampakkan sikap kerendahhatian dan kecintaan. Dalam sebuah riwayat, ada seorang lelaki bernama Abu Harun menemui Imam Shadiq. Imam bertanya, “Selang beberapa hari ini kami tidak melihat Anda. Apakah Anda bepergian?” Ia menjawab, “Aku dikarunia seorang putra sehingga aku sangat sibuk  menjamu tamu sekaligus  merawat ibuku.” Imam Shadiq berkata, “Semoga Allah SWT memberkati kelahirannya. Siapa nama anak itu?” Abu Harun menjawab, “Kuberi nama Muhammad.” Begitu mendengar nama Muhammad, wajah Imam tertunduk ke bawah tanah seperti hendak sujud. Kemudian tiga kali mengucapkan, “Muhammad, Muhammad, Muhammad! Engkau beri nama anakmu  Muhammad!” (ungkapan kebahagiaan). Kemudian Imam mengatakan, “Aku dan anakku, ayah dan ibuku, dan semua orang, siap untuk dijadikan tebusan bagi Muhammad! Janganlah sampai kalian memusuhinya atau memukulnya atau bersikap tidak sopan terhadapnya! Ketahuilah, tidak ada satu pun rumah di atas muka bumi yang disebut nama Muhammad dari dalam rumah itu kecuali rumah dan tanah itu pasti mengucapkan tasbih setiap harinya.”
Imam Shadiq telah menunjukkan penghormatan yang spontan dan luar biasa kepada Nabi Muhammad karena kesadarannya bahwa masyarakat akan mati tanpa kehadirannya. Seandainya Nabi Muhammad SAW tidak diutus, maka semua orang akan menjadi kafir dan tidak beragama, menyembah berhala. Masyarakat yang tidak menerima risalah Nabi SAW baik lantaran jahil qushuri (kelemahan dari diri mereka) atau karena jahil taqshiri (kelemahan dari luar diri mereka), maka mereka akan masih hidup di era jahiliah, sekalipun mereka sudah menjadi masyarakat yang berperadaban. Pasalnya, mereka tidak melacak jalan hakikat, mereka dapat tersesat dalam ajaran-ajaran ateis (zindik), dan sebagainya. Dalam Ziarah Jami’ah (ziarah untuk semua Imam), kita sering mengucapkan doa “Bikum akhrajnallahu minadzdzulli” (Karena berkat kalianlah Allah telah mengeluarkan kami dari kehinaan).
Aura dan Misi Risalah Rasulullah
Aura Risalah
Ada dua risalah. Yang pertama keberkatan primer dan kedua keberkatan sekunder. Tujuan utama risalah adalah mencerahkan masyarakat, memaksimalkan potensi kesucian dan potensi untuk melakukan syuhud (menyaksikan) al-Haq dan haqa’iq ghaybi wa ‘ayni (rahasia-rahasia gaib dan riil) di alam penciptaan.
Risalah Nabi SAW ditegakkan di atas asas, “Maka berbahagialah yang telah menyucikan dirinya,”(QS. Al-A’la : 14) untuk menyelamatkan peradaban dan mengajarkan makrifat eksistensi, “Dan sungguh beruntung orang yang menang pada hari itu,”(QS. Thaha : 64). Untuk mengganti ketakaburan, kebanggaan atas harta dan kebanggaan kesukuan.
Misi Risalah
  1. Menegakkan keadilan, “Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan).” (QS. Al-Hadid : 25)
  2. Mengikat persatuan di tengah-tengah umat Islam, “Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.”(QS. Al-Hujurat : 10)
  3. Melindungi territorial wilayah Islam, “Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir  yang ada di sekitar kamu dan hendaklah mereka merasakan sikap tegas darimu dan ketahuilah bahwa Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”(QS. At-Taubah : 123)
Misi ini akan tercapai jika masyarakat Muhammad telah mengalami pencerahan. Al-Quran menyatakan, “Alif Lam Ra. (Ini adalah) kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang benderang.”(QS. Ibrahim : 1)
Allah selalu mengingatkan tentang sikap musuh-musuh Islam yang ingin mengubah kalian seperti mereka, Mereka menginginkan kalau kalian kafir seperti mereka sehingga kalian dan mereka menjadi setara (QS. An-Nisa : 89), Mereka akan terus memerangimu sehingga kalian meninggalkan agama kalian jika mereka mampu (QS. Al-Baqarah : 217).
Mereka yang memusuhi Islam berusaha memisahkan Islam dengan umatnya. Mereka ingin menguasai pikiran umat Islam dan pada akhirnya, mereka ingin merampok keyakinan suci, kehormatan dan aset-aset umat Islam.
Tambahan kata “jika mereka mampu” mengindikasikan bahwa itu tidak bisa dilakukan oleh mereka karena Allah SWT tidak akan membiarkan itu terjadi. Pasalnya, Dia selalu menempatkan orang-orang saleh di dunia ini. Jadi, dunia ini tidak pernah sepi dari kaum yang saleh.
Allah juga memberi lampu merah kepada sebagian mukmin, “Barangsiapa murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati  dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya. Dan barangsiapa yang murtad dari agamanya maka Allah akan mendatangkan satu kaum yang saling menyayangi sesama mereka. Mereka itu lembut terhadap orang-orang Mukmin dan keras terhadap orang-orang kafir.”(QS. Al-Maidah : 54).
Post a Comment