Wednesday, July 25, 2012

Dimensi Mistis KEBANGKITAN ASYURA 1

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Dimensi Mistis KEBANGKITAN ASYURA


Ayatullah Jawadi Amuli
Jika kita memandang Imam Husain sebagai Insan Kamil dan Khalifah Allah di bumi.
Maka tidak ada lagi batas-batas yang menentukan pengaruh misi beliau.
Sebab, di manapun nilai-nilai kemanusiaan itu tersisa,
di sana tentu akan hidup misi Asyura sebagai kekuatan
yang terkadang tidak lagi dapat diukur oleh hamparan bumi dan lintasan zaman.
Kebangkitan Imam Husain atau Asyura bukanlah pengalaman pribadi, akan tetapi sebuah peristiwa sejarah yang menjadi bagian dari sunnatullah (tata cipta Tuhan), sebagaimana yang dijalani oleh segenap para kekasih Tuhan lainnya. Tentu, ada misi yang terkandung di dalamnya, karena semua sunnatullah berlaku secara mutlak atas setiap individu, masyarakat dan zaman. Oleh karena itu, misi kebangkitan Imam Husain tidak dibatasi oleh waktu, tempat, ataupun individu tertentu.
Sebagai sunatullah, segala kejadian yang berlangsung sebelum, seketika, dan setelah peristiwa Asyura senantiasa menjadi fokus analisis pihak pendukung maupun penentangnya. Mereka meneliti dan mencermati setiap pernyataan maupun perilaku para penguasa Bani Umayyah yang terkait dengan pra-Asyura, keputusan-keputusan mereka di hari Asyura, ataupun kebijakan-kebijakan praktis mereka pasca-Asyura. Pencermatan itu mampu menunjukkan seberapa besar ambisi musuh-musuh Islam mengubur habis peristiwa besar tersebut.
Kekuatan Misi Imam Husain
Kekuatan sebuah misi ditentukan oleh kualitas eksistensial dan kepribadian empunya. Artinya, seiring dengan rendahnya kualitas kepribadian seseorang, pengaruh misi yang dibawakannya pun dangkal dan terbatas. Juga sebaliknya, semakin kepribadian seseorang itu besar dan luhur, sekadar itu pula radius misinya turut melebar luas.
Dari sini, terbetik beberapa pertanyaan di benak kita; apakah misi Imam Husain dalam peristiwa Asyura hanya menjadi penting bagi Mulim Syiah saja, ataukah juga bagi Muslim Sunni? Lalu, apakah misi tersebut berpengaruh hanya pada umat Islam, atau malah menyentuh semua penganut agama samawi dan bahkan kaum monoteis dunia? lebih dari itu, apakah misi al-Husain, selain memiliki muatan ketuhanan, juga menampung nilai-nilai kemanusiaan, yang dengan begitu berarti misi itu pun relevan untuk selain kaum monoteis?
Jawaban atas setiap pertanyaan di atas ini segera akan kita temukan tatkala kita mengenal dengan baik siapa Imam Husain. Kadar pengenalan tentang beliau dalam kapasitasnya sebagai Imam orang Syiah hanya cukup mengantarkan kita pada lingkaran misi beliau untuk kaum Muslimin saja, maka wilayah pengaruh misi beliau pun tidak akan melampaui batas-batas dunia mereka. Begitu pula, sekiranya kita mengenal al-Husain sebagai teladan kaum monoteis, niscaya pancaran misi tersebut akan mengisi relung jiwa-jiwa monoteis saja.
Hal ini sungguh berbeda manakala kita memandang Imam Husain sebagai Insan Kamil dan Khalifah Allah di bumi. Pada cara pandang ini, tidak ada lagi batas-batas yang menentukan pengaruh misi beliau. Sebab, di manapun nilai-nilai kemanusiaan itu tersisa, di sana tentu akan hidup misi Asyura sebagai kekuatan yang terkadang tidak lagi dapat diukur oleh hamparan bumi dan lintasan zaman.
Sepanjang sejarah, dimanapun manusia berada, di sana pasti ada wadah yang siap menampung misi Imam Husain. Dalam hal ini, setiap kelompok yang merasa perlu belajar dari nilai pemikiran dan norma sosial yang terkandung dalam peristiwa Asyura, mereka akan menemukan dirinya bahwa hanya kelompok mereka yang menjadi audiens utama misi Asyura. Jelas bahwa usaha pembelajaran diri setiap kelompok dan apapun hasil yang didapatkannya itu tidak berarti pembatasan atas wilayah misi Karbala.
Yang perlu ditegaskan di sini, bahwasanya gelombang misi perjuangan Imam Husain di Karbala tidak terbendung oleh batasan apapun karena sasaran utama misi tersebut adalah manusia (sebagai manusia, peny.). inilah isyarat yang terungkap dalam sabda Rasulullah SAW: “Husain dariku dan aku dari Husain” (Majlisi, Biharul Anwar, Jilid 1:261).
Imam Husain memang cucu Rasulullah. Meski begitu, kita tahu bahwa selain al-Husain, ada cucu-cucu lain beliau. Hanya saja, Rasulullah tidak pernah bersabda layaknya ungkapan di atas mengenai hal ihwal cucu-cucu selain al-Husain. Sejatinya, ada makna yang bisa ditangkap dari sabda di atas bahwa kelangsungan agama, kenabian dan risalah Rasulullah akan selalu hidup berkat kebangkitan al-Husain. Makna inilah yang memahamkan kita bahwasanya misi kebangkitan al-Husain menyusupkan pengaruh besar pada kelangsungan cahaya risalah dan kenabian Muhammad SAW.
Tidak ada alat yang bisa dengan cermat mengukur cakupan misi Rasulullah SAW, kecuali Al-Quran. Di dalamnya disebutkan bahwa kehadiran beliau di bumi ini adalah untuk segenap manusia. Al-Quran juga mengangkat beliau sebagai rahmat bagi alam semesta; “Dan tidak Kami utus engkau (wahai Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. Al-Anbiya 21:107). Di ayat lain Al-Quran menegaskan: “Dan tidak Kami utus engkau (wahai Muhammad) kecuali untuk segenap manusia” (QS. Saba 34:27).
Dengan demikian, jika Allah SWT mengutus Rasulullah SAW sebagai karunia untuk alam semesta, sementara Rasulullah sendiri bersabda bahwa dirinya dari Husain dan Husain darinya, maka dari ayat dan hadis ini kita dapat merangkai sebuah deduksi logis yang begitu tegas menghasilkan misi Karbala sebagai konklusinya.
Mengenai ihwal Rasulullah SAW, Allah SWT berfirman bahwa berkah wujud Rasul adalah universal. Di sisi lain, beliau sendiri melalui lisan rahmatnya bersabda bahwa kelangsungannya (Rasulullah) berada pada kebangkitan Imam Husain di Karbala (ana min Husain). Kesimpulan dari dua premis ini ialah bahwa misi kebangkitan Imam Husain pun universal. Arti keuniversalan dari sebuah kesimpulan logis yaitu pengukuhan dua prinsip mutlak; Pertama, keberlakuannya secara mutlak atas semua manusia, dan kedua, keberlakuannya secara mutlak berlaku atas segala zaman.
Oleh karena itu, misi di dalam peristiwa Asyura bagi kaum Syiah sangatlah penting, karena mereka adalah umat Imam Husain, sama pentingnya bagi segenap umat Islam, Karena semua muslim berada di bawah kepemimpinan beliau, walaupun sebagian orang tidak mengakui hal ini. Bahkan, misi Asyura itu merupakan karunia bagi segenap monoteis dan para penganut agama samawi di seluruh dunia, karena al-Husain membawa misi yang berketuhanan yang di dalamnya setiap monoteis menemukan nilai-nilai ketuhanan beliau.
Pada giliran akhirnya, karunia misi Imam Husain itu benar-benar relevan dan menyentuh segenap manusia di dunia ini, karena perlawanan di Karbala merupakan gerakan kemanusiaan. Maka itu, tidak seorangpun akan merasa tidak mendapatkan keuntungan dari kebangkitan Karbala. Tampak jelas, bagaimana cahaya tragedi Karbala selalu memancar dan hidup pada jiwa setiap manusia.
Manusia dan Pentingnya Misi
Sebagaimana di atas tadi bahwa adiensi misi Asyura adalah umum; penting untuk segenap manusia. Ini jika dicermati sisi kuantitas mereka. Hasilnya jelas berbeda jika ditilik dari sisi kualitas. Pada asumsi terakhir ini, misi Asyura hanya menyapa sekelompok manusia, suatu komunitas atau masyarakat tertentu. Misi Asyura penting bagi para ulama, filsuf, teolog dan arif saja. Hanya mereka itulah yang menangkap frekuensi misi itu dengan baik, misi yang senantiasa memancar sampai Hari Kiamat.
Menjelang Hari Kiamat nanti, Imam Mahdi muncul menuntaskan berbagai misi yang telah disampaikan oleh Imam Husain. Pada saat itu, keteraturan menjadi kekacauan yang menyeluruh untuk kemudian diubah jadi bentuk lain; langit akan diganti dengan langit yang lain, dan bumi pun akan ditata kembali oleh hukum-hukum khas yang sesuai dengan perubahannya.
Oleh karena itu, tidak seorang Muslim (Sunni maupun Syiah), Kristen, Zoroaster atau kafir sekalipun akan mengatakan bahwa tidaklah penting semua kegiatan yang dilakukan untuk memperingati peristiwa al-Husain. Sebab, segala macam ucapan, perilaku maupun tulisan al-Husain telah diperlihatkan pada berbagai tingkat intelektualitas. Pada saat itu, dikatakan kepada sebagian orang: “Jika engkau bukan Muslim, maka merdekalah engkau dalam berpikir”. dan salah satu tanda kemerdekaan berpikir adalah kebebasan berkehendak. Sementara, kebebasan berkehendak sendiri berarti tidak dikuasai dan tidak menguasai; “Jika kamu tidak beragama, tidak pula ada rasa takut akan akhirat pada dirimu, maka jadilah kamu orang yang bebas dalam kehidupan duniamu.” (Kalimaat al-Imam al-Husain, 504)
Ajaran kebebasan ini menjelaskan kepada kita betapa sisi kemanusiaan dalam peristiwa Karbala sangat dihormati dan dijunjung tinggi, sehingga bagi orang yang tidak percaya Tuhan ataupun Hari Pembalasan, sementara hatinya masih menyimpan keyakinan akan kebebasan, ia akan bisa merasakan pentingnya peristiwa itu. Maka itu, tidak berlebihan jika tragedi Karbala diangkat sebagai penuntun sejati menuju kemerdekaan dan kebebasan umat manusia.
Tidak seorangpun yang merasa tidak perlu mengenang peristiwa Karbala, tidak seorang intelektual pun yang merasa tidak lagi butuh ajaran Asyura. Sementara itu, para ahli ibadah dan zahid yang masih terus meniti perjalanannya, para filsuf dan teolog yang sudah mendekati tujuan mereka, ataupun arif yang telah melihat melalui musyahadah (penyingkapan hati) tatkala puncak titian, telah ia capai, semua adalah para pendengar sejati misi dan pesan Imam Husain, karena Karbala merupakan satu peristiwa yang mampu mengantarkan para pelaku jihad asghar (jihad kecil; berperang melawan musuh dari luar) sampai titik kemenangan, memberikan tuntutan kepada para pelaku jihad awsath (jihad menengah; melawan hawa nafsu, pent.) dan ulama Akhlak, serta mampu mengantarkan kaum arif sampai pada jenjang fana’ dan berakhir pada fana’ fillah (melebur dalam Tuhan). Ketika itu, mereka menerima titah “mahwu qabla as-shahwi wa shahwu ba’dal mahwi” (melebur sebelum terjaga, dan terjaga setelah melebur).
Dalam menjelaskan jihad akbar -jihad yang lebih berat dibanding jihad awsath -kaum arif menggambarkannya sebagai peperangan antara rasio dan cinta, yang harus diakhiri dengan cinta sebagai pemenangnya. Di medan peperangan dahsyat antara pemikiran dan syuhud (penyaksian batin) tadi, syuhud-lah yang mesti didahulukan di atas pemikiran. Begitu pula, dalam pergolakan antara Irfan dengan Hikmah (filsafat), yang pertamalah sejatinya diunggulkan dari yang terakhir.
Di atas tadi bukan sekadar himbauan. Lewat sebuah bait Jalaluddin Rumi, (Mastnawi Ma’nawi, daftar; pertama, bait.2128) kita diingatkan:
Kaki filosof ibarat kayu
Khaki dari kayu betapa rapuh
Maka, sepatutnya kita mengatakan sebagaimana Jalaluddin Rumi (Lub-e Lubab Matsnawi, Intisyarat Asathir, hal. 208):
Pena ingin segera melukiskan
karena keagungan cinta
Pena tak lagi sanggup menuliskan
bak keledai jatuh dalam lumpur
akal tak lagi mampu uraikan cinta
hanya cinta yang mampu jelaskan sendiri
bak mentari terbit buktikan ujud mentari
argumenmu harus lalui cahayanya.
Yakni, ada kalanya dikiaskan bahwa argumentasi para filosof ibarat tiang kayu yang sesungguhnya sangat mudah diguncang. Kiasan ini bukan berarti tiang kayu tidak punya ketahanan sama sekali. Ia kuat. Hanya pada saat-saat tertentu, kekuatannya diluluhkan oleh gigi gergaji syuhud ataupun mata kapak Irfan, seperti kejadian yang dialami Khalilullah (Kekasih Allah) Nabi Ibrahim as tatakala beliau mengangkat kapak itu dan mengoyak-ngoyak tiang tersebut.
Jika tubuhmu pendek sambungkan kayu
Supaya anak-anak memandangmu tinggi
Dari sekian permainan anak-anak, seringkali kita lihat bagaimana anak yang pendek perawakannya berusaha tidak kalah tinggi dengan anak yang jangkung. Ia pun gunakan kaki kayu tampil sepantar dengan yang lain. Sementara orang dewasa selalu mengingatkan mereka, “kaki kayu ini tidak akan pernah membuat orang dianggap besar, manusia harus berusaha untuk selalu berjalan di atas kaki sendiri, bertumpuhlah di atas kakimu biar kamu cepat jadi orang besar.” Untuk anak-anak, kaki kayu berfungsi hanya sebagai alat untuk menipu.
Sekaitan dengan kaum filosof dan mutakallim (ahli Kalam), sikap para arif terhadap mereka layaknya sitiran orang dewasa kepada si anak itu, kendati mereka pun mampu mengenalkan Tuhan kepada sejumlah kalangan dengan cara mereka sendiri, misalnya melalui fenomena-fenomena malam seperti yang dialami Kalimullah Nabi Musa as.
Adapun Imam Husain, dari puncak ketinggian syuhud-nya, seakan ia menyapa kaum filosof, “Tanggalkan kaki kayu kalian, karena kegiatan intelektual ataupun pertimbangan matematis dalam banyak hal malah menjadi kendala dan hijab.”
Peristiwa Karbala, di mata para syahid yang gugur di sana, bukan sekedar jihad kecil (jihad asghar) yang didalamnya peperangan fisik dijalani hanya demi sepetak tanah atau seteguk air. Pun peristiwa Karbala bukan ukuran jihad pertengahan (jihad awsath) yang diperjuangkan untuk sekedar penyucian jiwa. Para pahlawan di sana telah berhasil melalui dua tahapan jihad itu, karena tahapan yang mereka tempuh ialah jihad besar (jihad akbar) yang memiliki banyak derajat. Mereka berhasil mencapai derajat tinggi dari jihad ini, pencapaian unggul jauh di atas pendekatan nalar seorang filosof. Untuk inilah Imam Husain lantas mengajak sahabat-sahabat setia beliau mencapai titik puncak jihad akbar.
Tentunya, pada asumsi bahwa seorang pesuluk sudah sampai pada tahapan penyaksian (mukasyafah), ia bisa disebut sebagai imam para ahli sujud. Sebab oleh Al-Quran manusia diajak -setelah mencapai derajat makrifat -untuk hijrah dan menempuh derajat yang lebih tinggi, yaitu imamah.
Terdapat empat tahapan yang digariskan dalam Al-Quran, yaitu: makrifat (pengetahuan), hijrat (perpindahan), sur’at (kecepatan), sabqat (mendahului). Empat tahapan ini menjelaskan bahwa dalam upaya mencapai makrifat, pertama-tama manusia harus tahu jalan mana dan arah mana yang harus ditempuh, tahu apa dan bagaimana lingkungan yang baik itu, serta punya penuntun jalan.
Segera setelah berhasil melewati jenjang makrifat, ia harus memulai tahapan selanjutnya, yaitu hijrat. Tahapan ini menyediakan beberapa tuntutan seperti: bergegas-gegas, “Saari’uu” (QS. Ali Imran 3:33). Manakala ia telah mempercepat perjalanannya, ia diperingatkan, “Janganlah kamu hanya konsentrasi pada kecepatan lajumu, tetapi juga berpikirlah supaya kamu bisa mendahului yang lain dan melesat dengan cepat,” “Saabiquu” (QS. 57:21).
Ada beberapa tempat dimana kecepatan (sur’at) dan rasa ingin mendahului (sabqat) itu dilarang oleh Islam. Tempat itu biasa disebut dengan takatsur (bermegah-megahan), bukan kautsar (telaga surgawi). Mengenai yang pertama itu dikatakan bahwa “Janganlah sekali-kali terlintas dalam benakmu bahwa rumah ataupun permadanimu lebih indah dibandingkan milik orang lain”, “Sedangkan mereka itu lebih mewah perlengkapan rumah tangganya dan leibh sedap dipandang mata” (QS. Maryam 19:74).
Zahir takatsur adalah kekayaan, padahal batinnya hanya menyimpan racun. Adapun kautsar, semakin ia ruah, malah menjadi semakin indah. Kalau tentang takatsur dikatakan : “Janganlah engkau menyibukkan diri”, tentang kautsar dilukiskan:
Dihadapan fatamorgana terangi
pikiranmu tuk temukan teman sejati
walau mesti berjalan menyungsang
apalagi bila harus dengan kaki telanjang
Tatkala manusia bisa menuntaskan empat tahapan di atas, mampu mendahului yang lainnya dalam kompetisi sampai keluar sebagai pemenang, ketika itulah dikatakan kepadanya bahwa anda harus mengemban kepemimpinan umat. Sebagaimana Allah SWT dalam Al-Quran menerangkan bahwa para musafir (pencari Tuhan) yang telah sampai pada tujuannya, mereka, menerima titah Allah supaya mereka memohon kepadaNya, “Jadikanlah diri kami sebagai pemimpin orang-orang yang bertakwa.”
Titah Allah menerangkan bahwa para musafir itu imam dan orang-orang yang bertakwa adalah makmum mereka. Masyarakat yang bertakwa sebagai umat sedang engkau sebagai pemimpin masyarakat yang bertakwa: “Dan jadikanlah kami bagi orang-orang yang bertakwa sebagai imam” (Bihar al-anwar, jil 6, hal 154)
Upaya pencapaian imamah merupakan seruan umum. Tahapan ini tidak hanya diakses oleh pribadi tertentu. Meski begitu, upaya ini tidaklah mudah. Sama halnya usaha seseorang menjadi imam, yakni selaku penyelenggara hukum, pemimpin politik atau penanggung jawab urusan budaya sebuah negara, yang terbuka lebar untuk segenap putra bangsa.
Ini berbeda dengan imamah para maksum, sebuah kewenangan yang ditegaskan Al-Quran bahwa, “Allah lebih mengetahui di mana Dia akan memberikan risalah-Nya” (QS. Al-An’am:124). Kewenangan Ilahi (pascakerasulan Nabi SAW) ini dipercayakan tidak lebih kepada dua belas imam saja. Ia begitu istimewa, tidak ada manusia selain mereka yang laik menerimanya. Bagaimanapun, imamah ini tidak ada kaitannya dengan maksud kita di sini.
Walhasil, pengorbanan Imam Husain telah membuka luas semua jalan yang ada, walau untuk tokoh-tokoh Irfan. Hafidz mengatakan:
Jika kau lihat dirimu mulia dan cerdik
takkan mungkin dapatkan irfan kutunjukkan satu titik, janganlah lihat dirimu
niscaya kau kan sampai
Manakala seseorang sudah tidak lagi melihat pada dirinya, segala yang bergantung pada dirimu pun tiada lagi terlihat olehmu. Kalau dirimu sudah tidak lagi kau lihat, keunggulan ilmu dan popularitasmu tidak lagi berarti bagi dirimu. Kalau dulu kamu pernah lihat dirimu tiga lalu menjadi dua, sekarang dirimu menjadi tunggal. Kalau dulu kamu masih melihat keberadaan dirimu lantas mengatakan: “Aku yang sedang beribadah ini, hanya kepada-Mu aku menyembah (QS Al-Fatihah 1:5),” maka sesungguhnya dirimu, ibadahmu dan Allah yang kau ajak bicara, semuanya masih kau lihat ada tiga lalu kau jadikan dua.
Karena itu, jangan lagi kau lihat dirimu, lihatlah penghambaanmu pada Allah, jangan sampai mata rantai ini hilang dan menjadi awal kebinasaanmu. Sesungguhnya dualisme itu pun masih dalam lingkaran syirik. Maka, usahakan dalam penghambaanmu itu hanya Tuhan yang kau lihat. Bahkan, penglihatan inipun tidak kau lihat. Dalam Munajat Sya’baniah diperdengarkan: “Ya Ilahi, anugerahkan kepadaku mutlak pencurahan kepada-Mu”.
Mutlaknya pencurahan diri kepada Allah bukan berarti memutuskan ketergantungan, bahkan juga bukan terputusnya ketergantungan. Mutlak pencurahan diri yaitu kesempurnaan keterputusan diri dari selain Allah. Inilah tujuan paling luhur. Terkadang manusia berkata: terputus lantas diam, tidak ada lagi pembicaraan tentang pemutusan ataupun terputusnya sesuatu, ini yang dimaksud dengan kesempurnaan keterputusan (kamal inqitha’).
Setiap arif niscaya telah menyatu dengan Imam Husain ‘penghulu para syuhada’, karena misi beliaulah yang mendidik seseorang menjadi arif sejati.
“Peristiwa Karbala, di mata para syahid yang gugur di sana, bukan sekedar jihad kecil (jihad asghar) yang didalamnya peperangan fisik dijalani hanya demi sepetak tanah atau seteguk air. Pun peristiwa Karbala bukan ukuran jihad pertengahan (jihad awsath) yang diperjuangkan untuk sekedar penyucian jiwa. Para pahlawan di sana telah berhasil melalui dua tahapan jihad itu, karena tahapan yang mereka tempuh ialah jihad besar (jihad akbar) yang memiliki banyak derajat.”
Post a Comment