Wednesday, July 25, 2012

Menguak Rahasia Puasa Orang-orang Arif

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Menguak Rahasia Puasa Orang-orang Arif

Pentingnya Nilai Bulan Ramadhan
Satu perkara yang penting bagi pe-salik (kepada Allah SWT) adalah mengetahui hak dan nilai bulan Ramadhan, karena bulan puasa ini merupakan bulan undangan Allah SWT bagi mereka yang menitih jalan kepada-Nya. Bulan Ramadhan, merupakan tempat bertamu kepada Allah SWT, begitu juga makna yang tepat untuk orang berpuasa adalah tamu Allah SWT (dhiyafatullah), sekaligus sebagai bentuk usaha untuk mendapatkan keikhlasan dalam gerak dan diam, dengan dasar ridha kepada pemilik rumah, Allah SWT.
Nilai dan Faedah Lapar
(Wahai pencari maqam qarb-posisi dekat-) lapar bagi pesalik, keutamaannya  adalah penyempurnaan jiwa (nafs) dan makrifah Allah SWT. Juga fadhailnya disebut dalam hadis begitu agung dan besar. Oleh karena itu kita mencari sebab, hikmat dan falsafahnya.
Diriwayatkan dari Rasulullah SAW, dimana beliau bersabda: ”Bukalah jiwa kamu menuju mujahidah dengan perantara lapar dan haus, karena tindakan ini sama dengan melaksanakan jihad dijalan Allah SWT, sebagaimana tidak ada amal yang lebih dicintai Allah SWT selain dari lapar dan haus.” Begitu juga dalam hadis lain bahwa: ”Dihari kiamat, posisi yang lebih dekat pada Allah SWT di antara kamu pada Allah SWT adalah mereka yang lebih banyak (menahan) lapar dan mereka yang banyak berpikir tantang Allah SWT.” Disabdakan pada Usamah: ”Kalau bisa, ketika malaikat maut hendak mengambil nyawamu, (adalah)ketika perutmu lapar dan  tenggorokanmu haus, lakukanlah hal ini, karena perbuatan ini adalah posisi yang paling mulia. Kedudukan  kamu yang dapat dibayangkan, adalah dekatnya posisi kamu dengan Rasul, para malaikat bersuka ria ketika ruh mu tiba serta Allah SWT mengucapkan salam dan salawat kepadamu.” Disabdakan juga: ”Laparkan perutmu dan keringkan badanmu, semoga Allah SWT  akan melihat hatimu.” Dalam hadis mi’raj, Allah SWT berfirman kepada Rasulullah SAW : “Wahai Ahmad, apakah engkau mengetahui faedah dan hasil dari puasa?” Saya berkata: “Tidak wahai Ilahi.” Allah SWT berfirman: “Hasil dan faedah dari puasa adalah mengurangi makan dan bicara.” Kemudian Allah SWT menjelaskan hasil dari pada diam para pemikir dengan berfirman: “Diam mewariskan hikmat, dan hikmat mewariskan ma’rifat, dan ma’rifat mewariskan yakin, karena hamba sampai pada tingkatan yakin, tidak ada sisa lagi, untuknya tidak ada beda apakah kehidupannya susah atau mudah?! Ini adalah posisi shahib ridha. Bagi siapa yang beramal mencapai ridha Saya, maka tiga hasil yang akan pasti didapatkannya. Akan diajarkan kepadanya rasa syukur, sehingga tidak bercampur antara kejahilan dan kebodohan, zikir dan ingat tanpa ada kelupaan, kasih dan sayang akan diberikan kepadanya sehingga tidak akan didahulukan kasihnya kepada makhluk melebihi cintanya kepada Allah SWT karena Saya pemilik cinta, dan Saya akan mencintainya. Ciptaan Saya akan menuju pada kasihnya, mata dan hatinya selalu terpaku pada keagungan dan kemuliaan Diri-Ku, padanya ilmu sehingga kesumat hamba tidak tersembunyi.
Pada kegelapan malam dan terangnya siang Kami akan bermunajat sehingga  hilang dan terputuslah bahaya makhluk yang ada bersamanya. Firman-Ku dan ucapan para malaikat akan sampai pada telinganya. Kebenaran dan rahasia-Ku yang tertutup atau tersembunyi dari semua makhluk akan jelas dan terang baginya.”
Kemudian difirmankan: “Akal dan idrak-nya akan tenggelam dalam pengetahuan marifat-Ku, dan Saya akan duduk di akalnya, kemudian kematian, tekanan, panas dan ketakutan akan menjadi ringan dan mudah, sehingga (dengan cepat dan selamat)akan masuk ke dalam surga.” Ketika malaikat maut turun kepadanya dan mengatakan: “Selamat padamu, berbahagialah!. Tuhanpun rindu padamu!” Sampai disitu disabdakan dan kemudian Allah SWT berfirman: “Ini adalah surga-Ku, tinggallah di situ, ini adalah lingkungan-Ku, tenanglah (dan tetaplah)! Maka  ruh menjawab: “Wahai Sembahanku?! Engkau telah mengetahui aku, maka saya dengan-Mu tidak memerlukan  semua makhluk. Demi Keagungan dan Kemuliaan-Mu aku bersumpah, kalau Engkau hendak memotong-motongku, dan hidup di antara hamba-MU dengan keadaan yang paling sengsara, dan tujuh puluh kali terbunuh, maka kesenangan dan ridha Engkau akan lebih aku cintai.” Hingga disini difirmankan, kemudian Allah SWT berfirman:  “Demi Kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku bersumpah, di antara Aku dan engkau tidak ada batasan masapun yang akan menjadi hijab atau penutup, ketika engkau menghendaki dan menginginkan datanglah kepada-Ku, inilah apa yang Aku perbuat pada kekasih-Ku.”
Pada riwayat ini telah ditunjukkan dengan jelas hikmat dan falsafah lapar dan keutamaannya. Kalau kita ingin mengetahui lebih jauh dan jelas tentang keutamaan dan faedah dari pada lapar dalam puasa ini, maka lihatlah pada ulama akhlak yang akan membawakan  riwayat yang ada. Karena mereka akan menjelaskan tentang keutamaan besar dari lapar, diantaranya adalah penyembuh hati, karena kenyang akan memperbanyak uap di otak, jiwa akan lambat beraktivitas dalam berpikir dan menentukan, terjadinya rasa berat sehingga akan membutakan hati. Dan rasa lapar adalah lawannya, lapar akan mengobati hati dan kecepatannya, hati akan terus beraktivitas berpikir yang berkelanjutan dengan makrifat, kemudian  selalu siap untuk menerima cahaya (Ilahi), sebagaimana diriwayatkan oleh Rasulullah SAW : “Siapa yang membiarkan perutnya lapar, maka pikiran dan pemahamannya akan membesar.” Begitu banyak lagi faedah dari lapar.
Rahasia Perjamuan Pesalik dengan Lapar
Rahasia Allah SWT menentukan untuk menerima tamu-Nya adalah dengan lapar. Karena itu adalah untuk nikmat yang lebih baik dan tinggi dari nikmat makrifat, qurb- dekat- dan liqa’. Dan rasa lapar adalah paling dekatnya sebab untuk itu.Puasa adalah jamuan Allah SWT untuk hamba-Nya.
Bagi seorang pesalik dijalan Allah SWT, lapar dan puasa bukan sekedar taklif, tapi adalah jamuan yang wajib disyukuri dan dilakukannya. Keinginan Allah SWT inilah yang perlu diketahui kedudukannya serta mendalami nilai yang terdapat dari ayat panggilan Ilahi dari ayat suci-Nya. Karena itu adalah panggilan dan undangan kepada kalian untuk sampai pada tempat pertemuan. Dari nikmatnya kebaikan dan kefahaman dari hikmah dan falsafah tasyri’i puasa tersebut adalah mengurangi makan dan dan melemahkan kekuatan badan, sehingga dari sisi ini, puasa yang dilakukan di siang hari dapat dilakukan pula di malam hari. Puasa bukan hanya sekedar untuk tidak makan dan minum, tapi harus bersama puasa telinga, mata, mulut, dan sebagian kabar mengatakan bahwa kulit dan rambutpun harus berpuasa.
Niat dan Tujuan Pesalik dalam Puasa
Wahai para pesalik, untuk amal (puasa) ini tidak layak hanya dengan berniat untuk menghilangkan/mencegah  murka Ilahi, sebagaimana tidak layak hanya dengan tujuan untuk mendapatkan pahala dan masuk kedalam nikmat surga sekalipun dengannya semua itu bisa didapat. Tapi haruslah berniat bahwa dengan puasa akan mendekatkan diri kepada Allah SWT, mendekatkan diri pada ridha Allah SWT. Dengan ini, maka akan dijauhkan dari syifat syaithani dan mendekat pada sifat malaikatiyah.
Ketika ini sudah diketahui, dengan pemahaman pengetahuan agar menjauhi semua tindakan dan perkataan yang menjauhkan diri saat hadir dihadapan Allah SWT.  Karena tindakan yang menjauhkan diri dari Allah SWT itu bertentangan dengan keinginan-Nya dalam perjamuan di perhelatan ini maka, janganlah bergembira di saat  engkau datang, kedekatan dan kehadiran pada dar-al-dhiyafah (tempat perjamuan) yang sebagai istana Mun’im (Allah SWT) karena semua rahasia dan apa yang ada di hati hamba-hamba-Nya telah diketahui oleh-Nya. Jangan melupakan Allah SWT karena Dia memperhatikan kamu, jangan sekali-kali kita melakukan protes, sementara Dia ada dihadapan kamu. Demi jiwaku aku besumpah, bahwa ini dalam hukum akal merupakan perbuatan qabaih ‘adhimah (keburukan/cela yang agung), dimana akal tidak akan ridha jika dengan sahabatnya berlaku demikian, (apakah lagi dengan Tuhannya).
Tapi karena kita berada di tempat yang sempurna dan Fadhl Ilahi, maka semua kealpaan ini tidak menjadikan kita terusir, karena Dia telah mengampuni hamba-Nya sehingga tidak keluar dari lingkungan taklif. Tapi juga hamba haruslah memahami kadar Tuan dan Sayyidnya untuk tidak bertindak hanya sebanding halal dan haram, tapi haruslah sebanding Ketuanan dan KeSayyidan-Nya, bertindak dengan ubudiyah pada-Nya atau lebih rendah dari ini, yaitu tindakan orang yang hina dan dina.
Dengan kata lain, hamba haruslah berlaku sebagaimana yang dipesankan oleh Imam Shadiq  Beliau berkata: “Ketika engkau berpuasa hendaknya, memandang bahwa dirimu diundang dan dekat dengan akhirat [kematian]. Keadaanmu dalam keadaan tunduk, khusyu’,rendah dan hina dalam keadaan ketakutan dihadapan Tuhannya, bersihkan hatimu dari cela dan jauhkan batinmu dari makar dan tipu muslihat serta semua bentuk perbuatan yang keluar dari Ilahi.”
Tetapkanlah dalam puasa untuk meletakkan kekuasaan hanya pada Allah SWT dengan ikhlas (mengetahui hanya Allah SWT yang pantas disembah). Berharaplah sepenuhnya pada Allah SWT, hati dan badan hanya untuk Allah SWT. Pada hari-hari puasamu, jadikan hati untuk  cinta dan zikir, badan beramal untuk ridha-Nya, hilangkan semua dari apa yang tidak diperlukan dalam undangan (perjamuan) itu. Imam  menasehatkan juga (dimana kita harus bersedia untuk melakukannya) bahwa kita harus menjaga agar semua anggota badan jauh dari bahaya, penentangan dan larangan Allah SWT, terutama “lidah”, sehingga debat dan sumpahpun perlu dihindari.
Kemudian diakhir riwayatnya beliau bersabda: “Apabila kalian mengamalkan pesanku tentang semua hal yang pantas bagi orang orang yang puasa, maka (puasanya) telah benar, kalau tidak demikian, maka fadhilah dan pahalanyapun akan kurang.”
Maka pikirkanlah apa yang telah dipesankan tentang kewajiban orang puasa, kemudian berharaplah dengan nilainya, maka ketahuilah bahwa diri diundang dan dekat dengan akhirat, hati akan keluar dari lingkungan duniawi dan tidak keluar dari kesiapan untuk lingkungan akhirat. Bagitu juga kalau hatinya hudhu’dan besih dari semua hal yang bukan Ilahi. Kalau saja hati dan badannya merendah hanya untuk Allah SWT dan menghindar dari semua hal yang bukan Ilahi, maka ruh,hati dan badan serta semua wujudnya ada pada zikir Allah SWT, mahabbah Allah SWT, tenggelam dalam ibadah Allah SWT maka puasanya menjadi puasa orang-orang “muqarribin” (orang orang yang dekat dengan Allah SWT).
Begitulah Allah SWT berfirman atas hak orang orang yang dekat dengann-Nya, untuk berpuasa yang demikian, sekalipun hanya satu hari dalam umurnya.
Tingkatan Puasa
Ada tiga macam tingkatan puasa yang dilakukan oleh umat manusia.
1. Puasa Awam: yaitu puasa yang hanya sekedar meninggalkan makan, minum dan wanita. Sebagaimana apa yang dikatakan para fuqaha tentang kewajiban dan muharamat yang ditentukan untuk puasa.
2. Puasa Khawash [Panca Indera]: yaitu selain dari pada apa yang harus ditinggalkan tersebut, seorang yang berpuasa harus menjaga semua anggota badannya dari pekerjaan yang dilarang Allah SWT.
3. Puasa Khawash Al Khawash [Jiwa]: yaitu meninggalkan semua perkara yang menghalangi manusia kembali kepada Allah SWT dan beramal hanya untuk Allah SWT, baik halal maupun haram.
Pada tingkatan dua dan tiga ada banyak peringkat/bagiannya [gradasinya] juga, terutama pada peringkat kedua, sebanyak tingkatan ashabul yamin dari mukminin, di mana setiap personal memiliki batasan sendiri dan tidak sama dengan sahabatnya. Setiap orang yang sampai pada(tingkatan) tersebut maka mereka adalah orang yang amalnya dekat dengan orang yang ada diatasnya.
Tingkatan Orang Berpuasa Berdasarkan Motivasi
Orang yang berpuasa terbagi menjadi beberapa bagian dilihat dari motivasi dan niatnya berpuasa. Sebagian orang berpuasa dengan tujuan benar yaitu  tidak hendak melakukan hal yang membatalkan puasanya,tapi bukan karena Allah SWT, seperti takut kepada masyarakat atau berusaha untuk mendapatkan keuntungan dirinya sendiri,atau karena adat kebiasaan muslimin.
Sebagian yang lain berpuasa karena takut pada azab neraka dan mengharapkan pahala Allah SWT.
Sangat sedikit yang hanya berharap pada pahala saja, karena kebanyakan dari mereka motivasinya adalah untuk mencegah dari azab dan mengharapkan pahala.
Sebagian lain, selain dari berniat untuk meninggalkan azab dan meraih pahala, juga berkeinginan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mendapatkan ridha daripada-Nya.
Dan sebagian lain, dengan ikhlas hanya untuk mendekatkan diri dan ridha Allah SWT.
Mereka yang mengharapkan peringkat ruhaniah mukhlisin, selalu  berusaha untuk  Mahbub-nya, dia akan berusaha sepenuhnya untuk menambah setiap usaha (riyadhah) bagi dirinya. Kalau saja ada dua perbuatan yang sama fadhilahnya, maka dia akan memilih salah satu yang lebih berat untuk jiwanya. Inilah hak dari semua yang menjadi muqarab, berbahagialah mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh Amiril Mukminin as.
Hal yang penting dan harus dijaga sebelum memulai berbuka puasa atau sahur setelah membaca Basmalah (Bismillahir Rahman ir Rahim) adalah membaca surat Al Qadr.
Tingkatan Puasa Para Pesalik dan Puasa Benar [makbul]
Perhatikanlah wahai orang yang berpuasa!. Apa yang dapat dipetik dari akhbar; ghibah, bohong, memandang hal-hal yang diharamkan seperti memandang bukan muhrim, didasari dengan kebencian dan kezaliman –sedikit ataupun banyak- akan membatalkan puasa, karena puasa bukan hanya tidak makan dan minum saja. Karena orang yang (sebenarnya) berpuasa harus juga berpuasa telinga, mata, lidah, faraj dan perutnya. Kaki dan tangannya pun harus terjaga. Banyaklah diam,kecuali kata kata untuk kebaikan.  Bersahabatlah dan berbuat baiklah dengan pembantu dan pelayanmu, karena puasa harus menjaga telinga dan mata dari semua hal yang haram dan yang membawa keburukan.
Hindarilah memarahi dan menghardik pembantu dan pelayan, jauhilah. Dapatkan  nilai dari puasa.  Karena  hari itu adalah hari puasamu jangan jadikan hari puasamu sama dengan hari ketika kamu tidak berpuasa. Rasul SAW bersabda: “Apa yang paling mudah dijalankan oleh orang yang berpuasa dan Allah SWT menjadikan-Nya mudah bagi orang yang puasa adalah tidak minum dan tidak makan.”
Puasa hakikatnya adalah memutuskan anggota badan dari perbuatan dosa, tidak sekali-kali melihat pada hal-hal yang dilarang Allah SWT. Kalau berpuasa dengan dasar tersebut, maka hati akan terjaga untuk selalu mengingat Allah SWT, hanya berpuasa untuk Allah SWT sajalah puasa itu akan sempurna. Kalau seseorang mengetahui hakikat puasa, maka derajat dan hikmat tasyri’ puasapun akan diketahuinya. Dengan sendirinya dia akan menjauhi dan menghindari dari perbuatan haram sehingga puasanya dapat diterima, kalau tidak, maka puasanya patut dipertanyakan. Makna dari pada sudah terlaksananya kewajiban berpuasa, tidaklah berarti bahwa nanti di hari kiamat dia sudah akan berbahagia dan puasanya telah diterima.
Ukuran yang paling jelas untuk menimbang puasa diterima atau tidaknya puasa di bulan puasa adalah sabda Rasulullah SAW. Bagi orang yang berada di bulan (puasa-Ramadhan) tapi dosanya tidak berkurang, sebagaimana sabda Nabi: “Barang siapa telah meniggalkan bulan puasa (Ramadhan) tapi dosanya tidak berkurang, Allah SWT tidak akan mengampuninya.” Dengan dasar ini pula beliau diutus Allah SWT sebagai rahmat untuk seluruh alam.
Petunjuk jelas untuk memperluas dan melipatgandakan rahmat, pengampunan-Nya yang  mencakup semuanya serta  kasih-Nya di bulan ini. Bukankah tidak ada kenikmatan lain lagi selain ini?!. Dia adalah Rahmatan lil alamin. Muslimin tidak akan terkutuk betapapun besar dosanya.[ Sumber : Islam Muhammadi Online]
Maqam Yakin
Oleh: Ayatullah Anshari Syirazi Hf
“Salah satu maqam akhlaq adalah maqam Yaqin. Yaitu manusia untuk mencapai kesempurnaan diharuskan untuk mencapai peringkat dimana dia tidak ada lagi keraguan, wahm (angan-angan) dan khayal dalam meyakini hukum-hukum dan akidah-akidah Islam. Yaqin mempunyai tiga tingkatan yaitu; pertama Ilmul yaqin, Kemudian ‘Ainul yaqin, dan terakhir adalah Haqqul yaqin. Al-Quran menyatakan: “Lau ta’lamuna ilmal yaqîn”, Kalau kamu menemukan keyakinan terhadap Mabda dan Ma’ad, surga dan neraka melalui ilmul yaqin, kamu akan menyaksikan neraka dan penduduknya itu dengan penglihatan batin. Kalau seorang manusia memandang kepada alam penciptaan ini dengan pandangan mata batin dan  pandangan Ibrahim as “Wakadzalika nurî Ibrahima malakutassamâwâti wal ardhi” (Al-An’am : 75), sekarang ini dia akan menyaksikan orang-orang yang berada di neraka jahannam; yaitu kalau anda memperoleh derajat awal keyakinan itu, maka akan muncul dalam hati anda pengetahuan-pengetahuan dan ilmu-ilmu (makrifat Ilahi). Sekarang, jika seseorang naik dan memperoleh tingkat keyakinan selanjutnya yaitu ‘Ainul yaqin dan Haqqul yaqin, maka ilmu dan pengetahuan yang lebih dahsyat lagi akan muncul dan terbit dalam jiwa dan hatinya.
Orang-orang, khususnya kaum penganut mazhab Islam pecinta keluarga Rasul diharuskan dalam memperoleh tingkatan-tingkatan keyakinan itu menggunakan metode yang benar yaitu menggunakan dalil-dalil burhan (argumen), Al-Quran dan sunnah. Salah seorang tokoh menukilkan perkataan dari anak almarhum Sayyid Ali Aghai Qadhi bahwasanya ayahnya berkata: meskipun keraguan dan kebimbangan  dalam agama ada sampai ajal tiba di tenggorokan dan kalau tidak, setelah kematian, segala sesuatunya  nanti akan nampak dan keyakinan yang sebenarnya pun akan tercapai. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Quran: “Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (QS. Al-Qaf : 22).
Jika setiap manusia betul-betul menjaga hukum-hukum Allah, yaitu melaksanakan yang wajib dan menjauhi segala yang dilarangnya serta keyakinannya terhadap Mabda’ dan Ma’ad dan sebagainya mencapai pada maqam Yaqin, maka dia akan memperoleh sebuah kondisi dan pengalaman spiritual yang  hal-hal itu tidak akan bisa diungkapkan dengan kata-kata dan dialog. Dan ini dinyatakan dalam Al-Quran : “Niscaya kamu melihat neraka jahim” atau dalam ayat 12 surat al-Hujurat dinyatakan : “Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat : 12).
Kalam wahyu itu bukanlah sesuatu yang majazi. Kenapa kalam wahyu itu kita predikasikan kepada sebuah ungkapan majazi?! Tariklah diri kita ini ke arah yang lebih tinggi mendekati maqam ishmat, sehingga semua hakikat itu tersingkap bagi kita. Dan selama kita masih terkurung dan berada di sangkar badan dan materi ini, kita tidak akan mampu dan mau  menerima rahasia-rahasia Al-Quran itu dan bahkan kita akan selalu mempredikasikannya (Al-Quran) itu ke dalam bentuk yang majazi.
Ada sekelompok manusia yang terbebas dari kurungan badannya dan memperoleh karunia penglihatan Ibrahim as, manusia-manusia langitan ini, menyaksikan dengan jelas bahwa berghibah itu seperti memakan daging saudara sendiri dan begitupun, mereka mampu melihat dan mendengar dengan mata batinnya kondisi penghuni kubur.
Ada sebuah riwayat dari Rasulullah SAW : bahwa beliau masuk mesjid pada  waktu subuh, di dalam mesjid beliau menyaksikan seorang pemuda kurus namun penuh cahaya di wajahnya, duduk di salah satu sudut mesjid. Rasulullah bertanya: Bagaimana kondisi anda pada subuh ini? Pemuda itu menjawab: Saya pada subuh ini dalam kondisi yakin kepada Allah SWT.
Bertanya  Rasulullah tentang kondisi Zaid
Bagaimana pagi subuh ini kau lalui wahai sahabat sejati
Berkata Aku hamba yang yakin
Bertanya mana bukti keyakinan yang menakjubkan itu??
Berkata aku menyaksikan makhluk-makhluk penghuni langit
Dan aku melihat dan menyaksikan Arasy dan para penghuninya.
Imam Ali as dalam khutbahnya (193), menta’birkan kelompok manusia seperti ini dengan ungkapannya yaitu: “Mereka ada di alam dunia ini, menyaksikan Surga seakan-akan mereka juga sedang ikut  menikmati keindahannya.”
Manusia langitan seperti ini hanya dengan Allah SWT mengadakan transaksi : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS. At-Taubah : 111).
Kalau seseorang telah menemukan keyakinan maka tak akan pernah dia menampakkan ketakwaannya, karena segala sesuatu itu tidak semuanya bisa diungkapkan di dunia ini.
“Setiap orang yang mendapatkan karunia dan tarbiyah, rahasia-rahasia Ilahi  akan dicamkannya dan mulutnya terjahit”
Ayat-ayat ini adalah sebuah peringatan dan ancaman bagi  semuanya, khususnya ahli ilmu dan keutamaan. Mereka berkewajiban untuk memperkenalkan akan dunia gaib itu kepada masyarakat, segala sesuatu yang ada di alam malak, malakuti, mempunyai lahir dan batin. Tabarakallazi biyadihilmulku wa huwa ‘ala kulli syain qadîr (Al-Mulk : 1), Fasubhanallazi biyadihi malakutu kulli syain (Yasin : 83) kedua ayat ini adalah dalil akan adanya alam malakut dan batin.
Di alam ini terdapat berita-berita yang tidak pernah berhenti siang malam, yang mana kita tak bisa mendengar dan menyaksikannya karena kita buta. Mereka yang bisa melihat dan mendengar, siang malam tak pernah tidur mendengarkan ucapan-ucapan tasbihnya seluruh makhluk yang ada di alam ini.
Makan dan minum telah menjauh dari tingkat cinta
Saat itulah kau akan sampai pada sahabat yang mana tak ada tidur dan makan lagi
Manusia dalam kondisi ini, merasakan nikmatnya berwudhu, atau pada bulan ramadhan dikarenakan sedikit makan maka dia merasakan nikmatnya saat-saat mendekati waktu berbuka di mana hal itu bukanlah perumpamaan kenikmatan dunia. Allah SWT mengaruniakan nikmat ini kepada orang-orang mukmin supaya mereka semakin yakin kepada-Nya seperti seorang ibu yang meletakkan tangannya  yang berisi manisan di mulut bayi.[Diterjemahkan oleh Sultan Nur dari pelajaran Akhlaq dar Hauzeh karya Ayatullah Ansari Shirazi Hf,)

No comments: