Wednesday, July 25, 2012

Pokok Pokok Ilmu Laduni

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Pokok Pokok Ilmu Laduni

“Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal” (Q.S. Ali Imron : 7).

Selama ini masih ada sebagian kaum muslim yang meragukan adanya penganugerahan ilmu dari Allah secara langsung kepada seseorang yang dikehendaki-Nya dengan argumentasi bahwa Allah Swt sudah menurunkan Al-Qur’anul Karim sebagai rujukan dari berbagai pengetahuan (ilmu) yang dipelajari oleh manusia. Ilmu adalah suatu pengetahuan yang dapat memberikan manfaat kepada yang mempelajarinya. Andaikan ada seorang mukmin belajar tentang ilmu tauhid, misalnya, maka ia akan mendapatkan pengetahuan dari ilmu tersebut (tauhid). Tetapi, tidak semua orang yang belajar ilmu tauhid memperoleh pengetahuan yang mendalam dari ilmu yang dipelajarinya karena hal-hal tertentu, terkait dengan tidak dapat masuk ilmu tersebut (tauhid) ke dalam jiwanya.

Andaikan ilmu yang dipelajari seseorang (mukmin) dapat meresap ke dalam jiwanya, maka itu berarti ilmu tersebut telah menjadi pengetahuan baginya. Lebih dari sebatas itu, dia telah ditanamkan oleh Allah kemampuan mengetahui ilmu tersebut. Inilah anugerah yang dikehendaki oleh Allah Swt.

Dalam pemahaman tentang ilmu laduni (laddunniyah robbaniyah), ilmu yang disebut terdahulu (tauhid) tidak dipelajari secara literal, selain diperoleh secara langsung di dalam dirinya. Dadanya penuh ilmu yang telah ditanamkan oleh Allah Swt disebabkan karena Allah telah berkehendak sebagaimana yang ditetapkannya tanpa campur tangan dari makhluk-Nya. Ilmu yang seperti ini di dalam Al-Qur’an dikenal dengan Al-Hikmah.

“Allah menganugrahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Qur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugrahi al hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)” (Q.S. Al-Baqarah : 269).

Maka, yang disebut ilmu laduni adalah ilmu yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang yang senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya. Kehendak Allah ditujukan agar setiap kaum mukmin yang menggunakan akalnya dapat mengambil pelajaran dari ayat-Nya ini. Allah Swt berkehendak demikian untuk mengajak kepada kaum mukmin agar berkhidmat kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya!

Jadi, tidaklah mustahil ada sebahagian kaum mukmin mendapatkan ilmu laduni atau Al-Hikmah. Derajat semacam ini disebabkan Dia (Allah) telah mencintainya (kaum mukmin) tadi. Adakah seorang mukmin dapat dicintai oleh Allah dengan kehendak-Nya? Ada, itu pasti! Allah adalah Tuhan Yang Maha Penyayang kepada kaum mukmin yang senantiasa tunduk dan patuh kepada-Nya.

Anugerah Al-Hikmah kepada manusia, selain Nabi dan Rasul-Nya, sudah ada dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Contohnya adalah Ibunda Maryam yang diajarkan Al-Hikmah oleh Allah Swt. Allah berfirman mengenai pengajaran-Nya tersebut sebagai berikut:

“Dan Allah akan mengajarkan kepadanya (Maryam) Al Kitab, Hikmah, Taurat dan Injil” (Q.S. Ali Imron : 48).

Para wali Allah, sebagaimana dapat dibaca dari kitab-kitabnya, misalnya, adalah termasuk contoh lainnya. Mereka, semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka, dapat menulis banyak kitab tanpa menyandarkan kepada kitab-kitab yang ada sebelumnya yang ditulis oleh ahlinya, selain Al-Qur’an dan Hadits. Pengetahuannya didapatkan secara langsung dari dalam hatinya. Tulisan-tulisannya merujuk kepada ilmu-Nya yang diperoleh dari ‘Kitab Yang Hidup’ yang tersimpan di dalam cahaya-Nya! Dalam kalimat sederhana, pengetahuan para wali Allah diperoleh tidak secara literal, melainkan dia mendapati pengetahuan tersebut berdasarkan ilham (pengetahuan mendalam) yang memancar dari dalam jiwanya (hatinya).

Namun demikian, pengetahuan yang diajarkan kepada wali sama sekali berbeda dengan wahyu yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya. Wahyu merupakan firman yang disampaikan oleh Allah melalui perantaraan Jibril a.s. dan dijadikan Pedoman (Kitab Pegangan) bagi seluruh umat manusia. Sedangkan ilham atau Al-Hikmah atau laddunniyah robbaniyah merupakan pengetahuan yang tidak dapat dijadikan sebagai petunjuk untuk semua umat manusia, selain Al-Hikmah tersebut sangat membantu wali-Nya mudah mengetahui seluruh perkara yang tidak dapat dijangkau oleh akal (pemikiran logis intelektual)!

Apabila ada yang meyakini akan kebenarannya (Al-Hikmah) tersebut, tentu saja, sangat membantu memudahkan bagi siapa pun kaum mukmin dalam menempuh perjalanan menuju kepada-Nya (thariqah). Dengan perantaraan Al-Hikmah itulah, seorang wali Allah akan menguraikan setiap hal berdasarkan pemahaman yang diajarkan oleh Allah (Al-Hikmah atau ilham atau laddunniyah robbaniyah) sehingga tampak dia dapat menguasainya tanpa menemukan kesulitan.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata” (Q.S. Az-Zumar : 22).

Al-Hikmah yang diajarkan kepada wali Allah berbeda dengan Al-Hikmah yang diajarkan kepada Nabi dan Rasul-Nya. Dengan Al-Hikmah itu pulalah seorang wali diajarkan langsung, selain oleh Allah (dengan cahaya-Nya, karena cahaya-Nya adalah ilmu-Nya), juga oleh Nabi dan Rasul Saaw. Berdasarkan hal itu, maka seorang wali dengan seizin Allah senantiasa dapat berhubungan langsung dengan beliau di dalam kekuasaan-Nya.

Dengan Al-Hikmah, seorang Nabi juga dapat mengajarkan kepada Nabi yang lain. Allah Swt berfirman:

“Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" (Q.S. Al-Kahfi : 66).

Demikian juga, seorang wali dapat memperoleh pengetahuan yang diajarkan oleh beliau (Khidhr a.s.). Seterusnya orang mengenalnya dengan sebutan ilmu laduni! Pokok-pokok ilmu laduni, dengan demikian, dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama, Allah Swt dengan kebijaksanaan-Nya mengajarkan Al-Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki: seorang Nabi atau Rasul, seorang wali Allah atau kaum muttaqin. Dalam pengajaran tentang ayat-ayat-Nya, Allah menurunkan malaikat Jibril a.s. untuk menyampaikan kepada Rasul-Nya. Pesan-pesan yang disampaikan-Nya itu disebut wahyu. Adapun pengajaran yang disampaikan selain kepada Nabi dan Rasul-Nya, maka dalam hal itu, Allah menurunkan ilmu-Nya dengan banyak cara:
  1. Mengajarkan ilmu laduni atau Al-Hikmah (dalam hal ini disebut ilham atau pemahaman yang mendalam dalam memaknai ayat-ayat Allah dan berbagai hal lainnya yang sulit dijangkau oleh kecerdasan akal semata-mata) kepada seorang wali Allah (aulia Allah). Pemahaman yang mendalam ini merupakan karunia khusus yang diberikan kepada wali-Nya;
  2. Mengajarkan ilmu laduni atau Al-Hikmah (pengetahuan robbaniyah atau keilahian), yang karena itu dia dapat mengenal Tuhannya, kepada orang-orang bertakwa (ma’rifat) atau sering disebut ‘arif billah atau ‘irfanillah. Seorang yang sudah diperkenankan memandang wajah-Nya dikaruniai oleh Allah mengetahui rahasia Allah yang tidak diketahui oleh kebanyakan kaum beriman yang belum berkhidmat (bersungguh-sungguh melalui sebuah perjuangan tanpa mengenal lelah dan beristiqamah dalam menjalaninya) untuk mendekati Dia (Allah) Yang Maha Mulia lagi Maha Bijaksana;
  3. Mengajarkan Al-Hikmah (pengetahuan goibisasi), sekalipun bukan ilmu laduni, sebagaimana diajarkan kepada wali Allah atau sudah mencapai derajat ma’rifat, kepada kaum mukmin yang sedang bergeliat rasa keberimanannya;
  4. Mengajarkan Al-Hikmah (pengenalan akan kemahabesaran Allah) sampai Allah berkenan menganugerahkan pengetahuan tentang rahasia Allah kepada orang-orang beriman yang sedang menempuh perjalanan menuju kepada-Nya (thariqah);
  5. Mengajarkan Al-Hikmah (pengetahuan syari’ah atau hukum-hukum pengaturan tatacara peribadatan atau ‘ubudiyyah, sebagaimana yang dipelajari oleh para pemikir Islam: para fuqaha, para muhaddits dan lain-lain keahlian tentang ilmu-ilmu keislaman), yang dengan itu, seseorang diberi kemudahan atas pengetahuan yang dipelajarinya secara mendalam;
  6. Mengajarkan Al-Hikmah (pengenalan akan ketinggian kedudukan-Nya) kepada orang-orang beriman yang ahli ibadah.

Kedua, ilmu laduni diajarkan oleh Allah Swt, selanjutnya diteruskan oleh Nabi dan Rasul-Nya kepada para wali-Nya. Dengan kebijaksanaan-Nya, Rasul Saaw dapat mengajarkan Al-Hikmah kepada seorang wali Allah secara langsung tanpa perantaraan. Nabi Ibrahim berdo’a kepada Allah ketika meninggikan dasar-dasar Baitullah:

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur'an) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (Q.S. Al-Baqarah : 129).

Demikian juga, seorang Nabi (selain Rasul Saaw) dapat meneruskan kebijaksanaan Allah (Al-Hikmah) kepada Nabi lainnya (seperti Khidhr kepada Musa a.s.), seorang wali Allah, kaum muttaqin (‘arif billah atau ‘irfanillah), kaum mukmin yang menempuh perjalanan (thariqah) mendekati puncak kesufiannya, kaum mukmin yang mempelajari ilmu kalam (diperoleh melalui pemberian kemudahan memahami tanpa disadari oleh kecerdasan intelejensinya sendiri)!

Al-Hikmah juga dapat diajarkan, dengan kebijaksanaan Allah, dari seorang wali Allah kepada murid-muridnya. Allah Swt sangat menyayangi hamba-hamba-Nya yang senantiasa mengingat-Nya. Dengan kedudukannya di sisi Allah, seorang wali Allah (aulia Allah) di dalam hatinya memancar cahaya-Nya sehingga sangat terang benderang bertaburkan ilmu Allah! Dengan cahaya-Nya itulah dia dapat mengajarkan Al-Hikmah kepada murid-muridnya.

Maqam orang mukmin yang dianugerahi ilmu laduni atau Al-Hikmah, dengan demikian, bukanlah maqam sekedar diperuntukkan hanya pada orang-orang tertentu, melainkan harus diperjuangkan dengan sepenuh jiwa untuk mencintai-Nya! Mencintai-Nya menyebabkan Dia (Allah) berkenan menurunkan kebijaksanaan-Nya (Hikmah)! Dengan cara seperti itu, maka siapa pun kaum mukmin dapat meraihnya!

Pelajaran ilmu-lmu keislaman akan mudah dipahami sekiranya telah dianugerahi ilmu laduni! Pertama, Allah Swt akan senantiasa menunjuki apa, bagaimana dan mengapa adanya Islam sebagai agama yang diridoi Allah! Kedua, pokok-pokok ajaran Islam yang harus dipelajari, dipahami dan diamalkan akan lebih mudah dikuasai! Ketiga, agama sebagai penuntun bagi pemeluknya tidak hanya sebatas pengakuan, melainkan betul-betul sebagai pedoman hidup yang dapat mengantarkan dirinya (umat Islam) kepada keridoan Allah Azza wa Jalla!

Dengan ilmu laduni, seorang yang telah mendapatkannya seolah tak pernah kebingungan menjalani kehidupan di dunia karena Allah Swt senantiasa memberinya ilmu yang mendalam! Dalam hal memahami ayat-ayat Allah, melalui ilmu laduni yang dianugerahkan Allah Swt, seorang akan dengan mudah memaknainya tanpa menemukan kesulitan! Dengan demikian, ilmu laduni menjadi pedoman hidup diri seseorang untuk memahami apa yang dikehendaki Allah bagi hamba-hamba-Nya agar selamat di dunia dan di akhirat!


Rendah Hati (Tawadhu)


Seorang yang sangat mengharap Al-Hikmah atau ilmu laduni akan cepat mendapatkannya apabila dapat merendahkan dirinya di hadapan Allah Azza wa Jalla; dengan kata lain, dia harus rendah hati dalam tutur kata, sikap dan perbuatannya. Kesombongan diri akan mempersulit untuk meraihnya.

Kesombongan sangat dibenci oleh Allah Azza wa Jalla. Sedangkan, Al-Hikmah atau ilmu laduni merupakan anugerah atau pemberian Allah kepada seorang yang dengan sepenuh jiwa mencintai-Nya. Maka, mustahil orang yang menyombongkan dirinya akan meraih Al-Hikmah atau ilmu laduni! Ini adalah syarat yang tak dapat terbantahkan.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S. An-Nisa : 36).

Tampak jelas bagaimana Allah sangat membenci orang-orang yang sombong. Pertama, mereka (segenap umat manusia) yang tidak mau menyembah Allah sebagai Tuhan Yang Mahaesa! Keesaan-Nya sudah sangat jelas karena tidak ada Tuhan kecuali Allah! Maka, kaum muslim yang tidak solat (Allah menyebutnya fasik) termasuk orang-orang yang sombong kepada Allah! Kedua, kaum muslim yang ahli ibadah tetapi masih cenderung bersekutu dengan iblis dalam ‘ubudiyah. Mereka menyekutukan Allah dengan terang-terangan maupun tersembunyi. Secara terang-terangan, persekutuan dilakukan dengan memuja berhala (yang dituhankan dapat menolong dirinya, meminta pertolongan kepada iblis dengan melakukan persembahan di tempat-tempat angker agar dapat mendatangkan pesugihan dan sebagainya!). Sedangkan secara tersembunyi, dan termasuk dalam jumlah yang banyak, dilakukan oleh ahli ibadah yang selalu mengikuti bisikan iblis! Asumsinya: setan adalah musuh yang nyata (‘aduwwum mubin) yang harus diperangi oleh kaum mukmin! Apabila mengikuti ajakan iblis, maka berarti bersekutu (bermitra atau menjadikannya sebagai penolong dalam kejahatan!). Seharusnya yang dijadikan penolong adalah Allah sebagai satu-satunya Pemilik atau Pencipta seluruh makhluk-Nya. Maka, apabila menjadikan setan sebagai penolong secara tersembunyi karena tidak ada perjuangan untuk melawan kejahatannya, berarti telah menduakan Tuhan (syirik)!

Syirik yang dijelaskan pada bagian kedua tersebut sangat sulit bagi kaum mukmin untuk menghindarinya! Allah Swt, karena itu, sangat menghendaki untuk segera bertobat dengan sebenar-benar bertobat sekiranya sangat berharap akan menyucikan jiwanya. Allah Swt menganggap orang yang bertobat dengan diiringi beramal soleh disebut sebagai bertobat dengan sebenar-benarnya bertobat.

“Dan orang yang bertobat dan mengerjakan amal shaleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya” (Q.S. Al-Furqan : 71).

Peringatan Allah sering ditimpakan kepada kaum mukmin yang belum juga mau bertobat. Sebagian ada yang menyadarinya dan sebagian lagi kembali kepada kejahatan sesudah diturunkan pertolongan Allah! Bagi yang menyadarinya, maka yang harus dilakukan adalah mengikuti perintah dan larangan Allah (beramal soleh). Orang beriman lagi beramal soleh disebut juga sebagai orang bertakwa! Allah Swt pasti akan mengangkatnya dari ‘dalam kerugian’. Surat Al-Ashr dapat dijadikan sebagai pegangan bagi kaum mukmin yang sangat berharap tidak berada di ‘dalam kerugian’!

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran“ (Q.S. Al-‘Ashr : 1-3).

Beriman dan beramal soleh adalah suatu ketentuan yang tidak dapat dihindari agar memperoleh keberuntungan. Beramal soleh adalah perbuatan yang secara syar’i diamalkam bukan sekedarnya saja, tetapi sungguh-sungguh (hakiki), yakni tidak sebatas menjalankan perintah tetapi juga meninggalkan larangan-Nya. Tidak sekedar melaksanakan solat, tetapi juga mendirikannya. Artinya, tidak karena telah melakukan perintah wajib solat, maka boleh berbuat mungkar dan keji. Allah Swt tidak akan menjadikan solatnya sebagai solat yang ditunaikan dengan sungguh-sungguh (hakiki) apabila pelaku solat masih melawan kedua orang tuanya, menjauhkan karib-kerabat, menghardik anak-anak yatim, membenci orang-orang miskin, bertengkar dengan tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, bermusuhan dengan teman sejawat, tidak menolong secara finansial ibnu sabil dan tidak memperhatikan dengan patut hamba sahaya (para peminta-minta, termasuk juga para pembantu, khususnya di rumah).

Demikian juga dengan peribadatan lainnya, seperti mengeluarkan zakat (juga infak dan sodakoh). Allah sangat membenci orang yang mengeluarkan zakat tetapi hanya untuk kebanggaan diri (dipuji oleh orang lain sebagai seorang muzakki yang patuh)! Mengeluarkan zakat dimaksudkan agar menyisihkan sebagian rezeki yang diperolehnya dari Allah dan, karena itu, ada hak orang lain yang berhak memperolehnya, bukan semata-mata harta miliknya sendiri. Mengeluarkan zakat ditujukan sesungguhnya agar diri menjadi bersih dari kekotoran, bukan mengotori dengan riya dan bangga diri! Ini hakikatnya zakat.

Allah juga menilai puasa kaum mukmin bukan sebatas mencegah untuk tidak makan dan minum di siang hari berpuasa, akan tetapi puasa sesungguhnya (hakikatnya) adalah dapat mengendalikan nafsu (nafsu syahwat, nafsu imajinasi dan nafsu amarah atau angkara murka)! Begitu juga dalam menunaikan ibadah haji di Baitullah, seorang mukmin mengamalkannya untuk lebih mendudukkan dirinya rendah di hadapan Allah. Tidak ada perbedaan karena kedudukan di dunia, di hadapan Allah Swt sama-sama sebagai hamba-Nya! Karena itu, pak haji dan bu haji tidak patut kembali menjadi seorang mukmin yang angkuh dan menyombongkan diri dengan sesamanya.

Dengan kata lain, yang disebut beramal soleh adalah berbuat dengan sungguh-sungguh karena Allah, bukan sebatas sekedarnya saja! Secara syar’i dibenarkan dan juga mengetahui hakikatnya untuk tidak diabaikan!

Saya dapat menyimpulkan dalam hal ini sebagai berikut:
  1. Al-Hikmah atau ilmu laduni adalah ilmu Allah Swt yang dianugerahkan kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Allah sesudah dengan sungguh-sungguh dia berjuang (jihad) dan berhijrah dari kegelapan menuju cahaya! Makna jihad berarti memerangi kebatilan di dalam dada manusia yang dihembuskan iblis agar tidak tunduk dan patuh kepada Allah. Tobatan nasuha merupakan awal seseorang yang beriman kepada Allah untuk berhijrah menghindar dari musuh yang nyata (‘aduwum mubin) yang berupaya menguasainya. Perjuangan semacam ini akan ditolong oleh Allah dengan rahmat-Nya (kasih saying-Nya). Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q.S. Al-Baqarah : 218).
  2. Sekiranya kaum mukmin sangat berharap mendapatkan Al-Hikmah atau ilmu laduni, maka dia sepatutnya menyadari bahwa karunia Allah diberikan dalam rangka menundukkan keangkuhan diri di hadapan kemahabesaran Allah Azza wa Jalla. Dia sangat membenci orang yang sombong dan membangga-banggakan diri;
  3. Derajat manusia sangat ditentukan oleh ketakwaannya, bukan disebabkan oleh keturunan atau kedudukan (jabatan/pangkat/gelar/tahta)! Siapa pun memiliki hak yang sama di sisi Allah Swt apabila dia telah menjadi hamba-Nya yang tunduk dan patuh kepada-Nya.

Allah Swt sangat menghendaki agar kaum mukmin segera berubah, minadhdhulumati ila nuur (dari kegelapan menuju cahaya terang benderang. Berhijrah dan berjuanglah. Carilah wasilah (perantara) untuk mendekati-Nya! Allah Swt pasti menolongnya dengan kemahabesaran-Nya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah perantara (jalan) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (Q.S. Al-Maa’idah : 35).
Post a Comment