Saturday, July 28, 2012

TALI ALLAH

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
“Berpeganglah kamu semua dengan tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”
 (QS. Ali Imran: 103)

Salah Satu Rahasia yang menjadi pegangan para Ahli Tasawuf (Tarekat) semuanya saja adalah mereka mempunyai sebuah Sistem Untuk terhubung dengan Allah swt. Yang mana sistem komunikasi ini mirip dengan sistem komunikasi pada sistem komunikasi Modern. Yaitu ada Statiun Pemancar Pusat dan ada stasiun Relay di setiap Daerah/Wilayah/Dimensi...

Disinilah Fungsi penting dari Rasulullah SAW, Para ahli silsilah, Para Guru Mursyid, serta Para Khalifah yang berperan penting sebagai stasiun-stasiun pemancar Nur Ilahi....


Salah satu aplikasi praktis dari sistem ini adalah adanya tradisi Bertawasul/berwasilah pada Para Guru dan ulama hingga Ke Rasulullah SAW.....


Dan pengetahuan ini akan dibantah habis-habisan oleh mereka yg bukan dari kalangan Tarekat Muktabaroh. Itu Pasti....


Makanya, mudah saja bagi kita untuk menilai seseorang spiritualis itu dari kalangan tarekat atau bukan.... Tanyakan sistem itu padanya....


Maaf, menurut kami.

Para spiritualis yg lepas dari Tali Allah (Sistem Komunikasi) ini, akan sangat rentan sekali terhadap Ujian untuk menuhankan Nafsunya. Hal ini sdh diperingatkan Allah swt dalam firmanNya :

"Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?."
(QS. Al Jatsiyah 23).

Nafsu tdk hanya terkait dengan masalah memperturutkan syahwat semata. Nafsul muthmainnah adalah juga termasuk dari jenis nafsu yg memberikan manusia Kesadaran spiritual.....


Berpeganglah kamu semua dengan tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran: 103)

Hmm...

Dari firman di atas disebutkan bahwa Kebalikan dari berpengangan pd Tali Allah adalah bercerai berai, atau berkomunikasi dg Allah secara Individu tanpa menggunakan sistem yg sdh diberikan.....

Ruh-ruh itu adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, yang telah saling mengenal maka ia (bertemu dan) menyatu, sedang yang tidak maka akan saling berselisih (dan saling mengingkari)”. (HR. Muslim)

Inilah karakter ruh dan jiwa manusia, ia adalah tentara-tentara yang selalu siap siaga, kesatuaannya adalah kunci kekuatan, sedang perselisihannya adalah sumber bencana dan kelemahan. Jiwa adalah tentara Allah yang sangat setia, ia hanya akan dapat diikat dengan kemuliaan Yang Menciptakanya.


Allah berfirman yang artinya:

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelajakan semua (kekayaan) yang berada dibumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(QS. 8:63)

Dan tiada satupun ikatan yang paling kokoh untuk mempertemukannya selain ikatan akidah dan keimanan. Imam Syahid Hasan Al Banna berkata:
“Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah (Menegakkan Kalimah Tauhid, Laa Ilaaha Illallah Muhammadrosulullah). Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran”. (Risalah Ta’lim, 193)

Sebab itu, hanya dengan kasih mengasihi karena Allah, hati akan bertemu, hanya dengan membangun jalan ketaatan hati akan menyatu, hanya dengan meniti di jalan dakwah ia akan berpadu dan hanya dengan berjanji menegakkan kalimat Allah dalam panji-panji jihad fi sabilillah ia akan saling erat bersatu.


Jihad, bagi Guruku, berarti Koshish dalam bahasa Urdu, To Strive, To Struggle, bukan To Fight, “Jihad berarti ‘Berupaya dengan Sungguh-Sungguh’. Jihad bukan berantam, bukan berkelahi,bukan mencaci-maki, apalagi membunuh.”


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَابْتَغُواْ إِلَيهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُواْ فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
ya ayyuhal ladzina amanut taqullaha wabtaghu ilaihil washilata wa jahidu fi sabilihi la'allakum tuflihun

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."
(QS 5 Al Ma-idah ayat 035)

Mujahadah berarti bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh berkarya amal shaleh, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT yang sekaligus menjadi amanat serta tujuan diciptakannya manusia.


Dengan beribadah, manusia menjadikan dirinya ‘abdun (hamba) yang dituntut berbakti dan mengabdi kepada Ma’bud (Allah Maha Menjadikan) sebagai konsekuensi manusia sebagai hamba wajib berbakti (beribadah).


Mujahadah adalah sarana menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada Allah, sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Di antara perintah Allah SWT kepada manusia adalah untuk selalu berdedikasi dan berkarya secara optimal.


Orang-orang yang selalu bermujahadah merealisasikan keimanannya dengan beribadah dan beramal shaleh dijanjikan akan mendapatkan petunjuk jalan kebenaran untuk menuju (ridha) Allah SWT hidayah dan rusyda yang dijanjikan Allah diberikan kepada yang terus bermujahadah dengan istiqamah.


Kecerdasan dan kearifan akan memandu dengan selalu ingat kepada Allah SWT, tidak terpukau oleh bujuk rayu hawa nafsu dan syetan yang terus menggoda.


Situasi batin dari orang-orang yang terus musyahadah (menyaksikan) keagungan Ilahi amat tenang. Sehingga tak ada kewajiban yang diperintah dilalaikan dan tidak ada larangan Allah yang dilanggar.


Jiwa yang memiliki rusyda terus hadir dengan khusyu’. Inilah sebenarnya yang disebut mujahidin ‘ala nafsini wa jawarihihi, yaitu orang yang selalu bersungguh dengan nuraninya dan gerakannya.


Syeikh Abu Ali Ad Daqqaq mengatakan:
“Barangsiapa menghias lahiriahnya dengan mujahadah, Allah akan memperindah rahasia batinnya melalui musyahadah.”

Mujahadah adalah suatu keniscayaan yang mesti diperbuat oleh siapa saja yang ingin kebersihan jiwa serta kematangan iman dan taqwa.


Sahabat..

Betapa indah pribadi yang penuh pancaran manfaat, ia bagai cahaya matahari yang menyinari kegelapan, menjadikannya tumbuh benih-benih, bermekarannya tunas-tunas, merekahnya bunga-bunga di taman, hingga menggerakkan berputarnya roda kehidupan.

Demikianlah, cahaya pribadi kita hendaknya mampu menyemangati siapapun, bukan hanya diri kita, tetapi juga orang lain dalam berbuat kebaikan dengan full limpahan energi karunia ALLAH Azza wa Jalla, Zat yang Maha Melimpah energi-Nya, subhanallah.


Ingatlah, hidup hanya sekali dan sebentar saja, sudah sepantasnya kita senantiasa memaksimalkan nilai manfaat diri ini, yakni menjadi seperti yang disabdakan Nabi SAW, sebagai khairunnas. Sebaik-baik manusia! Insya ALLAH.


"Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain" (H.R. Bukhari).


Wallahu a'lam...
Post a Comment