Friday, July 27, 2012

PUASA, LAPAR & CINTA

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
 Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, “Ada pun alasan Allah mewajibkan puasa adalah untuk menyamakan si kaya dengan si fakir. Karena sesungguhnya si kaya tidak (pernah) merasakan nestapa lapar (sebagaimana yang dirasakan oleh si fakir), yang karenanya si kaya dapat mengasihi si fakir. Karena setiap si kaya menginginkan sesuatu, maka dia dapat memenuhi keinginannya itu. Maka dengan puasa Allah ‘Azza wa Jalla hendak menempatkan makhluk-makhluk-Nya pada suatu pijakan yang sama dengan jalan membuat si kaya turut merasakan nestapanya lapar dan kepedihan, yang karenanya (diharapkan) ia menaruh belas kasih kepada orang yang lemah dan mengasihi orang yang lapar.” [1]

HIKMAH RASA LAPAR PUASA
Salah satu sasaran awal dari puasa adalah lapar. Lapar merupakan salah satu keadaan umum yang dimiliki oleh kaum dhuafa dan orang-orang fakir. Kefakiran atau kemiskinan materi telah mengakibatkan mereka tak mampu membeli sesuatu yang dapat menghilangkan rasa lapar mereka.

Pada bulan Ramadhan yang suci ini, Allah Swt berkehendak menjadikan si kaya ikut merasakan derita lapar sebagaimana yang dialami saudaranya yang fakir. Dari rasa lapar itulah si kaya juga turut merasakan penderitaan dan kepedihannya. Secara bertahap diharapkan si kaya mampu berempati kepada orang-orang miskin yang sudah sedemikian akrab dengan rasa lapar, sampai akhirnya tumbuh rasa welas asih di dalam hati si kaya. Inilah yang hendak dicapai dari puasa.

Jika lapar adalah sasaran awal puasa, maka welas asih merupakan sasaran akhirnya. Dengan welas asih inilah si kaya akan terdorong untuk melakukan aksi menolong orang-orang yang lemah dan papa.

Pada saat Rasulullah Saw melakukan Mi’raj, beliau bertanya kepada Allah Swt, “Wahai Tuhan, apakah yang diwariskan dari puasa?”
Allah SWT menjawab, “Puasa itu mewariskan hikmah, dan hikmah mewariskan ma’rifat’ lalu ma’rifat itu mewariskan keyakinan. Maka apabila seorang hamba telah memiliki keyakinan niscaya ia tidak lagi peduli apakah ia bangun di pagi hari dalam keadaan susah maupun dalam keadaan senang!” [2]

Rasa lapar yang disebabkan dari puasa dapat membangunkan hati yang tertidur dan membangkitkan jiwa yang lalai. Rasa lapar bisa mengguncang kesadran ruhani seseorang. Mata batin orang yang lapar karena puasa akan terbuka lebar, hatinya pun terjaga, pandangan ruhaninya menjadi tajam sehingga mampu mencerna rahasia-rahasia kehidupan serta tanda-tanda zaman. Ia menjadi tercerdaskan dan mampu mencerna ibrah (pelajaran hidup), dan akhirnya ia sanggup mencerap hikmah-hikmah dari Tuhannya.

“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh.” [3] Begitulah Nabi Ibrahim berdoa kepada Kekasihnya, Rabbul ‘Alamin.

Lapar juga mengakibatkan tubuh menjadi ringan dalam melakukan ibadah-ibadah ritualnya seperti berzikir, iktikaf dan membaca al-Quran, serta gesit membantu orang-orang yang miskin dan fakir. Dan buah dari semua aktifitasnya itu adalah CINTA TUHAN. Mereka inilah kekasih-kekasih Tuhan, sebagaimana di dalam hadis Mi’raj disebutkan sifat-sifat wali-wali Allah, “Perut mereka tipis dari makanan halal.” [4]

Para kekasih Tuhan adalah orang-orang yang sengaja berlapar diri dan hati mereka dipenuhi cinta kepada sesamanya. Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah pun tiada mengasihinya!” [5]

Dalam riwayat lainnya, beliau Saw besabda, “Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, tidaklah masuk surga kecuali orang yang memiliki rasa kasih sayang.” Para sahabat menyahut, “Kami semua memiliki rasa kasih sayang.”

Maka Nabi Saw berujar, “Bukan begitu (maksudku), kalian bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki rasa kasih sayang jika kasih sayang kalian juga dilimpahkan kepada seluruh umat manusia dan semesta alam.” [6]

Ini dkarenakan ajaran-ajaran Islam berlandaskan rahmat (kasih sayang) seperti hadis lainnya Nabi Saw bersabda, “Allah Yang Maha Rahman mengasihi dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang, karena itu sayangilah mereka yang ada di bumi, niscaya mereka yang di langit juga akan menyayangimu!” 7]

Inilah tujuan hakiki dari puasa, CINTA TUHAN, dan Anda takkan dapat meraih cinta-Nya sebelum Anda sanggup MENCINTAI sesama manusia. 8]
Jadi, puasa mesti membuahkan kepekaan jiwa, kehalusan rasa sosial dan cinta universal!

Ketahuilah!
Cinta yang sesungguhnya adalah
gambaran hidup yang pahit
berujung manis
karena semua dasar cinta tak lain
adalah kebaikan moral!
~ Rumi 9]

Catatan Kaki :
[1] Ayatullah Ray Syahri, Mizan al-Hikmah 5:465;
- Allamah Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar 96:371;
Post a Comment