Friday, July 27, 2012

Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as kepada Imam Hasan as.

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Wasiat Imam Ali bin Abi Thalib as kepada Imam Hasan as.
(Bagian I)

Bismillahirrahmannirrahim.

Surat Wasiat Imam Ali as kepada putranya, Imam Al-Hasan as :

“Dari ayah yang telah tua, yang mengakui pengalaman masa yang mengunduri umur, yang menyerah kepada keadaan, yang meremehkan dunia, yang tinggal ditempat orang-orang yang telah mati, dan kelak ia pun akan meninggalkan tempat itu.

Kepada anak yang masih mengharap sesuatu yang tidak mudah dicapai, yang sedang melalui jalan yang telah di tempuh oleh orang-orang yang telah binasa, sasaran dari segala penyakit, tanggungan hari-hari, sasaran bala’ hamba dunia, pedagang tipuan, langganan bencana, tawanan maut, sekutu kerisauan, teman duka-cita, incaran bencana, selalu dikalahkan syahwat, dan sebagai khalifah dari orang-orang yang telah mati.

Amma ba’du (Adapun setelah kata pendahuluan itu). Sesungguhnya dari pengalamanku dari apa yang nyata bagiku tentang mundurnya dunia dari padaku, dan ketegangan masa atas diriku.

Dan menghadapnya alam akhirat kepadaku, sesuatu yang meng-enggankanku (membuatku enggan) untuk memperingatkan orang lain dan memerhatikan apa yang berada di belakangku.

Hanya saja setelah aku menyendiri memperhatikan kepentinganku, maka timbullah pendapatku yang benar dan dipalingkan aku dari hawa nafsuku, dan jelas bagiku urusanku yang asli, sehingga mendorong diriku kepada kesungguhan yang bukan main-main, dan kebenaran yang bukan dusta, dan aku menganggapmu sebagian dari diriku, bahkan dapat pula dianggap sebagai keseluruhan diriku.

Sehingga umpama ada sesuatu mengenai dirimu, berarti hal itu langsung mengenai diriku, dan seolah-olah umpama maut itu datang kepadamu berarti ia juga datang kepadaku.

Maka terasa urusanku sendiri, maka karena itulah aku menulis surat wasiat ini kepadamu, untuk melahirkan kepentingan itu, baik aku masih lanjut hidup atau segera mati .

Sesungguhnya aku berwasiat kepadamu supaya tetap bertaqwa kepada Allah, dan tetap mengerjakan perintah-Nya, dan memakmurkan hatimu dengan zikrullah, serta berpegang dengan Al-Qur’an, dan pegangan mana lagi yang lebih kuat  daripada pegangan (tali) yang menghubungkan antara dirimu dengan Allah jika berpegangan kepadanya.

Hidupkan hatimu dengan suka menerima/memperhatikan nasehat. Dan matikan dengan sifat zuhud (mengabaikan kemewahan), dan kuatkan dengan keyakinan, dan terangilah hatimu dengan hikmah.

Dan lunakkan hatimu dengan selalu mengingati maut dan sadarkanlah dengan adanya kerusakan, dan perlihatkan kepadanya bencana-bencana dunia, dan peringatkan terhadap kejadian-kejadian dimasa, dan kengerian yang terjadi pada tiap siang dan malam.

Hidangkan kepadanya berita-berita orang terdahulu dan peringatkan dengan apa yang menimpa orang-orang sebelumnya.

Dan pergilah ke daerah dan tempat mereka untuk memerhatikan bekas-bekas mereka, kemudian perhatikan apa yang mereka lakukan, dan mengapa mereka berpindah dan dimana kini mereka tinggal dan berada, maka engkau akan mendapatkan tinggal ditempat pengasingan seorang diri.

Dan anggaplah dirimu tidak lama akan menjadi sama dengan seseorang dari mereka, karena itu perbaikilah dirimu (tempat yang akan kau tempati itu), dan jangan menjual akhirat untuk memperoleh dunia. Dan jangan membicarakan apa yang tidak engkau ketahui, dan menjawab apa yang bukan kewajibanmu.

Hentikanlah perjalananmu jika engkau khawatir tersesat, karena berhenti disaat kebingungan itu lebih baik daripada menerjang bahaya.”


Bagian ke – 2

Dan anjurkan kebaikan, supaya engkau tergolong dari ahlinya dan cegahlah kemungkaran dengan tangan dan lidahmu, dan hindarilah (bergaul dengan) orang yang (suka) berbuat munkar sekuat tenagamu, dan berjuanglah untuk menegakkan kalimatullah dengan sesungguhnya, dan jangan menghiraukan celaan orang ketika menegakkan kalimatullah.

Selamilah (tempuhlah) segala jalan perjuangan untuk mempertahankan kebenaran dimana pun (engkau) berada. Dan pelajari benar-benar tuntunan agama. Dan biasakan (latih) lah dirimu (untuk) bersabar menghadapi kesukaran, (karena) sebaik-baik sifat sabar adalah (ketika engkau) mempertahankan kebenaran.

Sandarkan dirimu kepada Tuhanmu dalam segala hal (urusan), maka sesungguhnya engkau telah menyadarkannya kepada Perlindungan Yang Kokoh kuat dan Mulia. Dan ikhlaskan (tuluskan) permintaan itu kepada Tuhan, karena hanya ditangan-Nya (lah) pemberian dan penolakan. Dan perbanyaklah melakukan istikharah (meminta pilihan Tuhan).

Perhatikanlah wasiatku ini, dan jangan mengabaikannya, maka sesungguhnya sebaik-baik kalimat itu yang berguna, dan ketahuilah bahwa tidak baik ilmu yang tidak berguna, dan tidak berguna ilmu yang tidak layak dipelajarinya.

Wahai putraku, sesungguhnya ketika aku telah mencapai usia tua, dan bertambah lemah, maka aku segerakan menyampaikan wasiatku padamu, dan menerangkan beberapa hal sebelum tiba ajal sehingga tidak dapat lagi aku menyampaikan isi hatiku kepadamu, dan sebelum berkurang kekuatan pikiranku, sebagaimana berkurangnya kekuatan jasmaniku.

Dan sebelum kedahuluan pengaruh hawa nafsumu yang kuat, atau pengaruh duniawi padamu, sehingga menjadi bagaikan kuda yang liar, sebab hati pemuda itu bagaikan tanah kosong, mudah menerima apa pun yang ditanam di dalamnya, karena itulah aku segera menyampaikan tuntunan adab kepadamu sebelum keras dan beku hatimu dan sibuk pikiranmu.

Agar kau dapat menyambut dengan ketajaman pikiranmu sesuatu yang telah dialami ahli-ahli pengalaman yang sebelumnya, sehingga tidak sukar lagi bagimu untuk mencari atau mencoba-coba, maka telah sampai kepadamu apa yang dahulu kami telah melakukannya, dan jelas bagimu hal-hal yang mungkin masih gelap bagi kami.

Wahai anakku, meskipun aku tidak berusia sebagaimana orang-orang dahulu, namun aku telah memperhatikan sejarah amal perbuatan mereka, dan mengikuti berita serta bekas-bekas mereka, sehingga seolah-olah aku berada di antara mereka, bahkan seolah-olah (karena sedemikian besar perhatianku terhadap mereka) aku telah bergaul dengan orang yang pertama hingga yang terakhir, maka aku ketahui dan dapat kubedakan yang jernih dari yang keruh, dan yang berguna dari pada yang berbahaya, maka kupilihkan untukmu segala yang murninya dan yang terbaiknya, dan aku halaukan/singkirkan dari padamu kegelapannya.

Dan aku sebagai seorang ayah yang mengasihi, memperhatikan dengan sungguh-sungguh segala kepentinganmu dan ingin mendidikmu selama kau masih dalam usia muda remaja dan (engkau) akan menghadapi segala suasana dengan jiwa dan pikiran yang masih jernih.

Dan pertama yang kuajarkan kepadamu ialah Kitab Allah dengan arti tafsirnya, serta syariat Islam dengan semua hukum-hukumnya, halal dan haramnya, dan tidak melebihi dari itu.

Kemudian aku merasa khawatir engkau bingung menghadapi apa yang diperselisihkan manusia menurut paham dan hawa nafsu mereka, sebagaimana telah membingungkan mereka yang berselisih itu sendiri, maka kumemperkokoh dan memperdalam ajaran itu meskipun tadinya pada mulanya kurang, tetapi nyata lebih aku senangi ketimbang membiarkanmu terjerumus di dalam sesuatu yang tidak aman dari kebinasaan.

Kemudian kuberharap semoga Allah memberi taufiq dan hidayat kepadamu untuk mencapai tujuamnu, karena itulah maka aku sampaikan Surat Wasiat ini:

Bagian ke 3

Ketahuilah, wahai anakku, bahwa yang paling kusuka dari wasiatku agar engkau terima adalah : Bertaqwa kepada Allah, dan melakukan apa yang diwajibkan Allah atas dirimu, dan mengikuti jejak orang-orang yang dahulu dari ayah-ayah (al-awwaluna min abaa-ika) dan orang-orang shalih dari Ahlil Bait-mu, sebab, mereka selalu mawasdiri dan berpikir, seperti halnya engkau berpikir.

Setelah berpikir, barulah mereka memutuskan untuk menerima apa yang mereka ketahui, dan memilih diam bila tak ada perintah bagi mereka.

Jika hatimu tak bisa menerima tradisi mereka karena belum mengerti sebagaimana mereka mengerti, maka engkau harus mempelajarinya dengan mendalam, bukan menjerumuskan diri dalam keraguan dan pertentangan pendapat.

Sebelum engkau mengkaji persoalan, engkau harus minta pertolongan kepada Allah dan memohon taufik dari-Nya. Semoga Allah menjauhkan engkau dari kebingungan, keraguan dan kesesatan.

Apabila engkau sudah yakin dan hati engkau telah bersedia menerima, berarti engkau telah tentram dan akal engkau telah sempurna.

Dalam soal ini, engkau harus berpegang pada satu pendapat. Ingatlah apa yang telah ayah terangkan(kepadamu)! Namun, jika engkau kurang menyepakati apa yang telah diterima oleh hati dan ditetapkan oleh akal (yang sehat), maka sadarilah bahwa engkau telah menjadi orang yang lemah dan tumpul daya pandang. Sulitlah bagimu untuk mendapatkan kebenaran. ‘Ulama itu bukanlah yang pinter keblinger, juga bukan yang ambivalen. Daripada bersikap demikian, berdiam adalah lebih baik. Engkau, resapilah wasiat ayahanda.

Ketahuilah, sesungguhnya Zat yang menguasai maut, Dia pula yang menguasai hidup. Dia-lah yang menciptakan dan mematikan. Dia-lah yang membinasakan dan yang membangkitkan. Dia-lah yang memberikan cobaan dan Dia pula yang memberi ampunan. Kehidupan dunia akan berjalan seperti yang telah ditetapkan Allah. Suka dan duka, nikmat dan cobaan, datang silih-berganti.

Wasiat Imam Ali (bagian ke-4)

Wahai Anakku, resapilah wasiat ayahanda. Ketahuilah, sesungguhnya Zat yang menguasai maut, Dia pula yang menguasai hidup. Dia-lah yang menciptakan dan mematikan. Dia-lah yang membinasakan dan yang membangkitkan.

Dia-lah yang memberikan cobaan dan Dia pula yang memberi maaf. Kehidupan dunia akan berjalan seperti yang telah ditetapkan oleh Allah. Suka dan duka, nikmat dan cobaan, datang silih-berganti.

Dan di hari kiamat nanti akan ada pahala dan, siksa, serta lainnya yang tak kita ketahui. Kalau engkau meragukan apa yang tersebut di atas, maka selidikilah kebodohan diri engkau, karena engkau memang diciptakan dalam keadaan bodoh, kemudian mengerti. Biasanya, yang sering membuat engkau bodoh dan bingung adalah pikiran engkau sendiri. Kadangkala ia malah menyesatkan mata hati engkau.

Setelah itu, engkau baru akan memahami dan mengetahui. Untuk itu, engkau harus selalu mengingat Allah yang menciptakan dan memberi rezki serta memberi bentuk terbaik. Kepada-Nya engkau harus menghadirkan persembahan, mencintai dan tunduk.

Anakku, ketahuilah bahwa tak seorang pun yang dapat memberikan informasi tentang Allah seperti yang telah dilakukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wa alihi) karena itu, ikutilah beliau dan jadikanlah dia tokoh panutan.

Ayahanda tak main-main dalam memberi keterangan ini. Engkau tak akan memperoleh kebenaran seperti yang ayahanda berikan bila engkau berpegang teguh pada pikiran sendiri — meskipun engkau sudah berusaha sekuat tenaga.

Anakku, ketahuilah, seandainya ada tuhan selain Allah maka tuhan itu akan mengirim utusannya. Dan engkau akan melihat kekuasaan dan bukti pekerjaannya. Engkau akan mengetahui perbuatan-perbuatan dan segala sifatnya. Akan tetapi, tiada tuhan selain Allah seperti Dia tegaskan sendiri. Tiada tuhan lain yang menyaingi kekuasaan-Nya. Dan tak ada seorang pun yang dapat menggeser kedudukan-Nya.

Dia sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Dia-lah Yang Maha Awal namun tiada bermula, dan Yang Maha Akhir namun tiada berkesudahan. Dia terlalu Agung untuk dapat diliput pancaindera ataupun kalbu. Jika engkau sudah mengenal demikian, maka lakukanlah apa yang mesti engkau lakukan, sejauh kemampuan engkau.

Engkau harus selalu taat kepada-Nya. Sungguh Allah tiada menyuruhmu kecuali kebaikan (untukmu), dan tak pernah melarang kecuali keburukan (bagimu).

Anakku, ayahanda sudah menceritakan perihal Dunia, keadaannya, kepunahannya, dan proses peralihannya menuju alam yang lebih kekal.

Ayahanda sudah menceritakan pula perihal akhirat dan balasan & ganjaran yang dipersiapkan untuk orang-orang yang mencintainya. Ayahanda telah memberikan gambaran dan seluk-beluk 2 kehidupan itu supaya engkau dapat mengambil pelajaran.

Wasiat Imam Ali as Bagian ke 5

Orang yang mengerti dan mengenal dunia, dapat digambarkan seperti sekelompok orang yang sedang bepergian. Mereka berdiam di tempat yang kering atau gersang. Segera mereka menciptakan tempat tinggal yang subur dan hijau. Mereka bekerja keras, tak mengenal lelah, hidup prihatin, guna mencapai kesejahteraan kehidupan dan tempat tinggal mereka. Mereka tak merasa lelah sedikit pun. Usaha dan modal yang ditanam tak dipandang sia-sia. Maka tak ada yang lebih menyenangkan mereka, selain dekat ke tempat tinggal mereka.Sementara orang yang terbujuk dunia dapat digambarkan sebagai sekelompok orang yang berada di suatu tempat yang subur. Namun mereka beralih ke tempat yang gersang dan tandus. Tapi tak ada yang paling mereka benci, selain meninggalkan tempat itu, sampai mereka menemui ajal.

Anakku, jadikanlah dirimu sendiri sebagai teladan dan tolok-ukur bagi orang lain. Hargailah apa yang mereka sukai seperti engkau sendiri menyukainya. Dan turutlah prihatin bersama temanmu.

Janganlah engkau berbuat zalim, sebagaimana engkau sendiri juga tak suka menjadi sasaran penganiayaan. Berlaku baiklah (kepada orang lain) sebagaimana engkau sendiri suka mendapat perlakuan baik.

Segala sesuatu yang engkau pandang buruk, berarti buruk pula bagi orang lain. Engkau mesti turut rela dengan kerelaan orang lain.

Janganlah engkau mengatakan sesuatu yang tiada engkau mengerti, walau pun engkau mngetahui sedikit tentang itu.

Jangan pula mengatakan sesuatu yang kurang berkenan pada dirimu sendiri.

Ketahuilah, sesungguhnya mengagumi diri sendiri adalah ber­lawanan dengan kebenaran. Sikap demikian akan mematikan cahaya dan ketajaman kalbu. Karena itu, hendaklah engkau berjuang dan jangan terlalu gemar menumpuk kekayaan. Bila keperluan pokok telah terpenuhi, infaqkanlah hartamu di jalan Allah.

Sadarlah bahwa di hadapanmu terbentang perjalanan yang amat jauh dan melelahkan. Engkau tak akan bisa menghindari perjalanan itu. Karenanya, siapkanlah bekal sebanyak mungkin. janganlah engkau memaksakan diri melakukan kerja di luar batas kesanggupanmu. Ini akan membahayakan dirimu sendiri.

Jika engkau membantu orang-orang miskin, maka hartamu akan bertambah sampai ke hari kiamat.

Pada hari itu pahala sedekahmu akan datang pada saat engkau membutuhkannya. Karena itu bersedekahlah. Ulurkan tanganmu untuk membantu mereka. Perbanyaklah sedekah jika engkau mampu melakukannya.

Wasiat Imam Ali as – Bagian 6

Wasiat Imam Ali as kepada Imam Hasan as

Sadarlah bahwa di depanmu terbentang perjalanan yang amat jauh dan melelahkan. Engkau tak akan bisa menghindari perjalanan itu. Karenanya, siapkanlah bekal sebanyak mungkin.

Janganlah engkau memaksakan diri melakukan kerja di luar batas kesanggupan engkau. Ini akan membahayakan diri engkau sendiri. jika engkau membantu orang-orang miskin, maka harta engkau akan bertambah sampai ke hari kiamat.

Pada hari itu pahala sedekahmu akan datang di saat engkau membutuhkannya. Karena itu, kejarlah. Ulurkan tanganmu untuk membantu mereka. Perbanyak sedekah bila engkau mampu untuk itu.

Bisa saja terjadi engkau hendak mengulurkan tangan, namun engkau tak menemukan orang miskin. Jika demikian segeralah bantuanmu itu engkau berikan kepada orang yang membutuhkan, bila engkau mampu (mencarinya). Itu akan menjadi simpanan yang dapat diambil jika engkau sedang kesulitan.

Ketahuilah, di depan engkau terbentang jalan menanjak. Pejalan yang tak membawa muatan berat jauh lebih baik kondisinya ketimbang pejalan yang menggendong muatan berat.

Pejalan yang lamban akan lebih payah dibanding pejalan yang cepat. Dan ujung perjalanan itu tak lepas dari dua kemungkinan: surga atau neraka.

Untuk itu, sebelum sampai ke titik tujuan, perbanyaklah amal kebajikan. Perbaikilah rumah (mu di akhirat) sebelum engkau memasuki atau menempatinva. Sebab di hari akhirat, tak ada perbaikan, ataupun jalan kembali ke dunia.

Ketahuilah olehmu, Allah yang memiliki kekayaan langit dan bumi, telah mengizinkanmu mernanjatkan doa. Dia pun berjanji akan mengabulkannya. Dia menyuruh engkau memohon, dan Dia akan memberikannya.

Mintalah rahmat kepada-Nya, segera rahmat itu akan datang kepadamu. Dia tak menghalangi engkau (berhubungan) dengan-Nya. Tak perlu ada perantara sebagai penghubung antara engkau dengan-Nya.

Bila engkau melakukan kesalahan, Dia tak akan menolak taubat engkau. Dia tak cepat menghukum, juga tak mengejek jika engkau kembali kepada-Nya.

Ia takkan menghinamu, meskipun perlakuan seperti itu memang tepat untukmu. Dia takkan mempersulit penerimaan taubatmu atau menyidangkan dosa-dosamu secara berbelit-belit.

Tak juga Dia akan memutuskan rahmat-Nya. Bahkan Dia mencatat keinsafan engkau (dari dosa) sebagai kebaikan. Dia mencatat keburukan engkau dengan satu nilai, sedangkan kebaikan engkau dicatatnya sepuluh kali lipat.

Dia selalu membuka pintu taubat untukmu. Karena itu, jika engkau menyeru-Nya, Dia akan menyambut seruan itu; dan jika engkau bermunajat kepada-Nya, Dia memahami rintihan kalbumu.
Post a Comment