Sunday, July 29, 2012

MENYINGKAP RAHASIA IMAN

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
“Sesungguhnya orang yang benar-benar beriman hanyalah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, itulah orang-orang yang benar” (QS.Al-Hujurat :15)

Iman bukanlah angan-angan dan hayalan tetapi merupakan wujud konkrit dari kebenaran yang telah tertanam dan meresap didalam hati. Cahayanya akan mewarnai gerak-gerik, menggerakkan lisan dan seluruh anggota tubuh, seluruh sel-sel dan jaringan tubuh akan dialiri oleh aliran positif, arus yang dapat menggetarkan dan mengendalikan hati, menggerakkan seluruh anggota dan panca indera. Iman merupakan inti dari seluruh nilai, manusia akan baik bila imannya baik, sebaliknya terjadi pengkhianatan dan merusak, bila imannya pun buruk.

Kebenaran diturunkan Allah kepada para Nabi yang juga dari jenis manusia, dimaksud adanya kesamaan pendekatan agar manusia dapat lebih menikmati contoh dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana penerapan wahyu yang dikehendaki Allah, mana yang baik yang harus dilakukan dan mana yang buruk yang harus ditinggalkan.

Dibentangkan dua jalan, jalan kebenaran menuju rahmat dan ridho Allah dan jalan kesesatan yang berbahaya, kedua-duanya secara detail dan terperinci dijelaskan oleh para Nabi utusan Allah. Kemudian manusia itu sendiri dilengkapi dengan akal yang sempurna untuk dapat membedakan dan memilih jalan yang benar. Didukung pula oleh sarana dan perlengkapan, tatanan perilaku alam yang dapat dibaca oleh science dan teknologi di abad informasi ini. Semua itu untuk memudahkan manusia beriman kepada Allah.

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian dimuka bumi dan Kami adakan bagimu di bumi itu (sumber) penghidupan, amat sedikitlah kamu (yang) bersyukur“(QS.Al-A’raf : 10 ).

Allah telah membentangkan bumi tempat berpijak, hidup dan kehidupan, kenikmatan hidup diberikan dan ada disana kurnia yang diberikan Allah hanya dapat diresapi oleh orang-orang yang berakal, jernih hatinya, tajam pemikirannya kemudian beriman tetapi jumlahnya amat sedikit.Kebanyakan lupa dan lalai bahkan congkak,walaupun akibatnya amat fatal.

“Kami akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaaan) Kami di sekitar jagad raya dan pada diri mereka. Hingga nyata bagi mereka bahwa Al-Qur’an (Islam) itu adalah benar.Dan apakah Tuhanmu (Allah) tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu” (QS.Fushilat :53)

Bila benar pengamatan dan observasinya tentang kebesaran Allah dengan ayat-ayat kauniyah (alam) yang ditunjukkan di alam jagad dengan segala kejadiannya itu pasti mereka akan beriman. Karena memang tidak ada hujjah yang dapat dijadikan suatu pegangan untuk ingkar kepada kebenaran Islam sebagai agama Allah itu.

Dan pada ayat lain Allah berfirman :

“Maka sudahkah kamu perhatikan apa yang kau tanam, apakah kamu yang menumbuhkannya? Kalau Kami menghendaki, benar-benar Kami jadikan dia kering dan hancur, maka jadilah kamu heran tercengang” (QS.Al-Waqi’ah : 63-65).

Orang sering menjadi mudah lupa terhadap nikmat Allah dan bahkan menyepelekannya karena merasa dirinya serba berkecukupan, terlena hanya karena dasi yang melilit pada lehernya, kursi yang enak diduduki, rumah yang indah dan kendaraan yang mewah.Lupa kepada apa yang sebenarnya dia makan setiap hari, darimana butiran nasi, kentang dan roti itu asalnya, apakah dia yang membuatnya? Apakah yang akan terjadi sekiranya tumbuh-tumbuhan tidak tumbuh lagi, apa artinya kementerengan dan gengsi ini. Lebih ironis lagi bila yang lupa adalah justru dari kalangan orang yang tidak mampu, tidak ada dasi pada lehernya, tidak ada kebesaran, tidak ada kekayaan, bahkan tidak punya apa-apa, kekayaan satu-satunya ialah mengangggap dirinya besar dan mengerasnya hati yang menyebabkan keingkarannya itu.

Apakah yang diperbuat oleh manusia di bumi ini bila semua tanaman berhenti pertumbuhanya, kering dan kemudian hancur? Jawabnya sudah jelas adalah hanya tercengang dan keluh kesah. Ternyata kementerengan dan gengsi yang selalu dipertahankannya tidak bermanfaat sedikitpun.Coba renungkan sekali lagi.

“Sudahkah kamu perhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan atau Kami yang menurunkan. Kalau Kami kehendaki niscaya Kami jadikan dia asin, maka mengapakah tidak bersyukur?” (QS.Al-Waqi’ah :68-70)

“Katakanlah! Terangkanlah kepada-Ku ,jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” (QS.Al-Mulk : 30).

Pertanyaan yang membuat manusia kandas tak dapat berkutik. Apa yang bisa diperbuat manusia tanpa air. Lalu siapakah yang dapat menciptakan air itu?

Megahnya bangunan, canggihnya teknologi pada semua bidang, berlimpahnya minyak dan penemuan-penemuan ilmu, semua akan lumpuh total tanpa air. Apakah pernah dibayangkan bagaimana sekiranya mata air menjadi kering dan awan tidak menurunkan hujan, tidak usah buat selamanya, cukup sepuluh tahun saja apa yang akan terjadi, semua menjadi bangkrut! Apakah kebanggaan kita selama ini akan menolong? Tidak usah air menjadi kering, tapi bila Allah berkehendak cukup semua air menjadi asin, lalu apa yang akan kita perbuat? Tentu kita menjadi susah dan sengsara, tetapi kelapangan selama ini tidak menumbuhkan iman dan syukur kepada-Nya ?

Jelaslah, bahwa nilai manusia itu, baik atau tidak terletak pada beriman atau tidak.

Dengan iman berarti seseorang telah menempatkan pada fungsi dan profesi dirinya sebagai manusia karena hakekat manusia itu tidak hanya terdiri dari sel-sel,otot dan jaringan tubuh yang berbentuk fisik semata tapi pada “jiwa”

Jiwa akan baik bila berisi iman dan sebaliknya buruk bila hatinya pun buruk. Perilaku manusia pada hakekatnya adalah merupakan gambaran dan cerminan jiwa seseorang, bagaimana dia berkata, bagaimana dia berbuat itulah gambaran keadaan jiwanya.

“Ingatlah bahwa didalam jasad itu ada segumpal daging jika ia baik,maka baiklah jasad seluruhnya dan jika ia rusak, rusaklah jasad seluruhnya. Ingatlah segumpal daging itu adalah hati” (HR.Muslim)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada fisik dan rupa (pakaian) mu, tetapi Allah akan melihat pada hati dan amalmu” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

“Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu ia berkata, bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Bukannya kekayaan itu karena banyaknya harta benda,tetapi kekayaan yang sebenarnya ialah kaya hati” (HR.Bukhari dan Muslim).

Memandang manusia hendaknya secara utuh ,yang dilengkapi dengan jiwa, nurani kemanusiaan, hati dan perasaan kasih sayang. Tidak sekedar benda hidup yang bergerak secara naluri bagai robot yang mempunyai aktifitas rutin kehidupan mengikuti alur menuju kepuasan nafsu semata-mata.Pandangan seperti ini jelas akan merugikan dirinya sendiri.

Allah berfirman :

“Sekiranya kebenaran itu harus mengikuti kemauan hawa nafsu mereka saja, tentu akan binasalah langit dan bumi dan mereka yang ada didalamnya.”(QS.Al-Mu’minun :71)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa yang sudah keterlaluan cintanya kepada dunia ada tiga hal yang melekat padanya :

Kecelakaan yang tak kunjung habis akibat buruknya.

Rakus yang tak kunjung sampai kepada kenyataan.

Harapan (angan-angan) yang tak sampai pada ujungnya. (HR.Thabrani,dari Ibnu Mas’ud)

Nah ! Mampukah teknologi dan science yang menjadi lambang kementerengan di abad ini menyingkap rahasia alam. Mampukah membuka rahasia kesadaran iman?

Jika mampu memberikan dorongan kesadaran iman, maka berarti ilmu manusia telah berfungsi dengan tepat dan baik. Jika tidak dapat mencapai kesadaran itu yang akan muncul justru sifat arrogan (kecongkakan) belaka.

Kita sudah bisa menduga apa yang akan terjadi, bila pakar-pakar science dan teknologi ada pada manusia-manusia congkak dan takabur? Kemaksiatan dan kedhaliman akan merajalela. Na’udzubilahi min dzalik.
Post a Comment