Saturday, July 28, 2012

Ramadhan Meraih Fitrah

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
 Ajaran Islam berporos pada nilai tauhid; Laa ilahaillallah.
Seluruh kegiatan hidup seorang muslim baru bernilai ibadah bila dinafasi dengan nilai tauhid ini.Semakin luas arena kehidupan dan banyaknya kesibukan, tentu semakin dibutuhkan pencerahan ruhaniyang memadai. Seorang yang sibuk berdagang dengan lingkungan kerja yang menggoda tentu membutuhkan kekuatan ruhaniyah yang lebih kuat agar tidak terlena.Seorang politikus dengan berbagai problema dan intrikyang menggelayut di pundaknya sudah barang tentu juga memerlukan bekal ruhani yang tinggi supaya tetapistiqamah. Hanya dengan menjadikan tauhid sebagaiporos orientasi, kita akan tetap tercerahkan dalam cahaya iman. Pencerahan ruhani inilah yang disebut kekuatan fithrah.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui´
QS30:30

"..Sesungguhnya Aku (Allah) telah menciptakan hamba-hambaKu dalam kondisi hanif (lurus), lalu para setan mendatangi dan memalingkan mereka dari agamanya.´
HR Imam Muslim

Dalam buku yang berjudul Fitrah, Murtadha Muthahhari menyebut 5 jenis fitrah yang dimiliki oleh setiap manusia. Fitrah adalah kecenderungan yang dengan itu Tuhan menciptakan manusia, dan kelima fitrah tersebut adalah:


  1. Mencari kebenaran/kesempurnaan
  2. Condong kepada kebaikan
  3. Condong kepada keindahan
  4. Berkarya (kreasi)
  5. Cinta (menyembah)
Inilah kecenderungan-kecenderungan, yang oleh Muthahhari, ada pada setiap manusia. Alasannya sangat jelas, bahwa adalah hal yang mustahil jika Tuhan tidak menciptakan manusia dengan kecenderungan-kecenderungan tersebut, maka bagaimana mungkin manusia akan bergerak ke arah kesempurnaan; padahal Tuhan telah menetapkan bahwa manusia adalah sebaik-baiknya penciptaan. Kecenderungan-kecenderungan (fitrah) inilah yang menjadi jalan (pedoman) bagi manusia untuk menjadi lebih baik.

Melalui kecenderungan inilah manusia bergerak meninggalkan aku-nya yang egois menuju AKU yang suci. Dalam perjalanan jiwanya ini, maka manusia akan menuju ke Sang Maha untuk “mendekat” kepada-Nya. Nah, dalam perjalanan inilah manusia akan menaikkan tingkat jiwanya ke arah tingkatan jiwa yang lebih tinggi.  Dari sini pula dapat kita ketahui bahwa di balik materi (dunia) ini terdapat manifestasi yang lebih tinggi (sumber) dari apa yang kita lihat dan rasakan saat ini. Di balik materi (dunia) inilah yang oleh fisikawan kuantum menyebutnya sebagai Quanta, dan di atas Quanta adalah Energi Vibrasi.


Nah, kesempurnaan manusia itu pada dasarnya adalah karena hanya pada manusialah semua manifestasi itu terangkum menjadi satu. Manusia memiliki sifat materi (dunia, dengan adanya tubuh fisik), manusia pun memiliki sifat yang lebih tinggi dan agung (jiwa dan ruh sucinya). Oleh sebab itu, ketika manusia kembali kepada fitrahnya, kembali kepada kecenderungan-kecenderungan Ilahiahnya, sesungguhnya manusia akan bergerak ke arah yang lebih tinggi. Pergerakan jiwanya ke arah yang lebih tinggi ini tentunya akan berkesesuain dengan tingkatan-tingkatan materi yang lebih tinggi; dimana materi itu sesungguhnya berasal. Dengan kata lain, ketika manusia mencapai derajat pencapaian jiwa yang lebih tinggi, maka sesungguhnya manusia tersebut berparalel dengan tingkatan materi yang lebih tinggi. Dengan demikian, ia dapat mempengaruhi materi langsung dari sumbernya, hingga mewujud di alam materi ini. Dan cara paling efektif untuk mempengaruhi Quanta adalah dengan berzikir yang dilakukan pada level ikhlas.


Menggapai Kefitrahan

Target dari puasa Ramadhan adalah menemukan kesejatian diri manusia. Sejak manusia terlahir ke dunia sedikit demi sedikit manusia lupa akan dirinya sendiri karena terlena dan hanyut oleh gemerlap dunia. Selama ini manusia mengira bahwa dirinya adalah badan/raga ini. Padahal tidaklah demikian. Badan hanyalah wadah tempat bersemayamnya diri kita yang sebenarnya. Diri manusia yang sejati telah lumpuh, tertutup dan terbelenggu oleh an-nafs. Lalu siapakah sebenarnya kita? Mari sekilas menengok ke belakang (flash back) asal muasal kejadian pertama kali manusia diciptakan. Agar lebih mudah penjelasannya, maka disini saya menyebutkan diri manusia yang sejati (sebenarnya) dengan kata ”Aku”.

Aku adalah makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna dalam bentuk dan derajat. Dalam menjalani hidup ini manusia mempunyai dua Aku yang mempunyai tugas masing-masing. Aku sang Nafs (diri/nafsu) dan Aku sang Khalifah atau Aku sang Rasa dan Aku sang Sadar. Aku sang Rasa berasal dari setetes air yang terpancar dari sulbi laki-laki, kemudian bertemu dengan indung telur yang berasal dari sulbi wanita. Sejak bertemunya air mani dengan indung telur terbentuk nutfah dan dalam nuftah itu ada yang hidup yaitu Ruh Insani, Ruh Jasmani. Ruh Jasmani ini menghidupi nuftah sampai berbentuk segumpal daging.


Sebagaimana firman Allah SWT:
”Hai sekalian manusia, jika kamu dalam keraguan tentang berbangkit, maka sesungguhnya Kami menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari air mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari sepotong daging, yang sempurna, supaya Kami terangkan kepadamu. Dan Kami tetapkan dalam rahim sekehendak Kami, hingga waktu yang ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu menjadi anak-anak, kemudian dewasa. Diantara kamu ada yang diwafatkan dan sebagian kamu diperpanjangkan umurnya sampai pikun, sehingga ia tidak mengetahui sesuatu, sesudah mengetahunya...” (Al-Hajj 22:5).

Setelah segumpal darah berusia empat bulan lebih maka disempurnakan Allah kejadiannya:
”Kemudian Dia sempurnakan (kejadian-nya) dan Dia tiupkan ruh ke dalamnya dan Dia ada kan untukmu pendengaran, penglihatan & hati. Tetapi sedikit diantara kamu yang berterima kasih.” (As-Sajdah 32:9).

Kemudian Allah SWT meniupkan Ruh Ruhani, yang merupakan bagian dari Nur Allah. Dengan disempurnakan wujud manusia maka Allah mengangkat manusia sebagai Khalifah-Nya di atas bumi.
“...Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di atas bumi (Adam). Maka jawab mereka (malaikat): Adakah patut Engkau jadikan di atas bumi orang yang akan berbuat bencana dan menumpahkan darah, sedang kami tasbih memuji engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa-apa yang tidak kamu ketahui”.(Al-Baqarah 2:30).

Begitulah rata-rata manusia tidak menyadari siapa sebenarnya dirinya yang sejati yaitu ar-ruh (ruh ruhani). Karena selama ini ruh ruhani (sang khalifah) tenggelam di dalam ruh jasmani (an-nafs) . Oleh karena itu untuk menggapai kefitrahan (kesadaran ruhani) maka Allah SWT memfasilitasi melalui puasa Ramadhan yaitu dengan menghentikan sementara kecenderungan tubuh selama sebulan penuh.


Dengan kecenderungan menahan makan dan minum, menahan syahwat di siang hari, menjaga panca indera dan hati dari sesuatu yang sia-sia dan beberapa aktivitas lainnya. Kondisi ini tanpa disadari manusia akan menemukan aktivitas ruhani yang sebenarnya.


Marhaban Ya Ramadhan! Inilah bulan penuh rahmat, berkah dan maghfirah.


Bagi orang yang beriman, inilah bulan yang paling ditunggu-tunggu, bahkan kalau diperbolehkan Allah SWT, mereka berharap dalam satu tahun adalah ramadhan. Mengapa orang beriman berharap demikian? Sebab Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, berkah dan aghfirah.

Namun tidak semua umat islam menyambut gembira datangnya bulan suci ini. Bagi orang yang kadar keimanannya masih rendah, mereka sangat berat dalam menyongsong datangnya bulan ramadhan. Salah satu alasannya adalah dianggap mengganggu produktivitas kerja, karena tidak diperbolehkan makan dan minum di siang hari, sehingga dapat dipastikan kinerja mereka akan turun. Benarkah demikian? Tentunya anggapan ini salah besar, karena mereka belum mengetahui hakikat dari bulan ramadhan itu sendiri.


Rosulullah SAW pernah bersabda:
“Seandainya umatku mengetahui keutamaan bulan Ramadhan maka mereka akan menginginkan bulan Ramadhan itu selama setahun penuh”. Misteri apakah dibalik sabda Rosulullah SAW ini? Benarkah ada rahasia yang begitu menakjubkan yang selama ini tidak diketahui semua umatnya sehingga sebagian merasa bahwa puasa di bulan Ramadhan begitu berat untuk ditunaikan? Mari kita kupas setahap demi setahap, semoga artikel ini dapat mewakili rahasia Ramadhan, sehingga umat islam dengan suka cita menyambut bulan yang penuh rahmat, berkah dan maghfirah ini. Amin.

Pengukuhan Iman

Allah SWT memerintahkan berpuasa di bulan Ramadhan kepada hamba-hamba-Nya tentunya memiliki maksud tertentu. Ibadah puasa bukan untuk kepentingan Allah SWT, tetapi demi kepentingan hamba-hamba-Nya. Mari kita cermati ayat Al-Qur’an berikut ini yang membicarakan mengenai perintah puasa Ramadhan,

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
(QS. Al-Baqarah 2 : 183).

Dari ayat diatas terdapat 3 (tiga) poin penting yaitu orang beriman, puasa dan orang bertakwa. Mari coba kita urai satu persatu hubungan ketiganya.


Iman terletak di dalam hati manusia (hati disini bukan dalam arti fisik / kedokteran). Untuk lebih memperjelas arti hati dapat dianalogkan dengan contoh kasus berikut ini. Apabila sepasang muda mudi sedang kasmaran namun cinta itu bertepuk sebelah tangan. Maka kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah “sakit hatiku karena cintaku ditolak”. Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa bukan hati secara fisik yang sakit, namun ada rasa yang membuat hatinya terluka.


Iman bersemayam dalam hati manusia. Hati adalah kata bahasa Indonesia, dan terjemahan bahasa arabnya bernama Qolbu. Hati atau Qolbu memiliki sifat senantiasa bolak-balik, tidak tetap, kadang bersih, kuat iman, bercahaya, lemah lembut. Tetapi suatu saat menjadi kotor, lemah iman, gelap gulita atau buta, keras membatu terhadap kebenaran. Hal ini karena pengaruh malaikat dan syaitan.


Makanya seringkali manusia mengalami kondisi ini. Kadang tingkat keimanannya tinggi, namun di lain waktu tiba-tiba tingkat keimanannya turun. Allah SWT mengetahui kondisi ini, maka untuk meningkatkan kadar keimanan hamba-Nya maka Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk menjalani beberapa prosesi ibadah, salah satunya melalui puasa Ramadhan. Hal ini semata-mata untuk mengukuhkan kadar keimanan mereka, karena Allah SWT tidak butuh ibadah hamba-Nya, tetapi hamba itu sendiri yang butuh beribadah agar dekat dengan Tuhannya.


Ibarat mengisi gelas yang kosong, agar gelas itu penuh maka perlu di isi air. Itu pun dilakukan setahap demi setahap (istiqomah) sehingga lama kelamaan gelas itu akan penuh. Iman itu ibarat gelas kosong, prosesi ibadah identik dengan air. Setiap air ibadah akan menambah isi gelas keimanan. Apabila gelas itu telah penuh maka hamba itu memasuki maqam berikutnya yaitu hamba yang bertakwa (muttaqin). Dengan berpuasa, yang merupakan salah satu prosesi ibadah, maka diharapkan hamba yang telah beriman akan naik maqamnya menjadi hamba yang bertakwa.


Jadi orang beriman (mukmin) adalah seorang hamba yang baru memasuki proses menjalani Islam melalui prosesi ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah SWT. Coba perhatikan ayat berikut ini.


Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan ke-islam-an mereka. Katakanlah :
”Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan ke-islam-anmu, sebenarnya Allah, Dia-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS. Al-Hujurat 49 : 17).

Sedangkan orang yang bertakwa adalah seorang hamba Allah SWT yang mengalami ber-Islam, dalam Al-Qur’an Allah SWT berfirman
:” dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. (QS. Al-Fath 48 : 26).

Mengendalikan Hawa Nafsu

Ibadah puasa Ramadhan selain untuk meneguhkan kadar keimanan manusia sehingga menjadi manusia yang bertakwa, juga bermanfaat mengendalikan hawa nafsu. Karena dalam ranah kehidupan di dunia, manusia baik selaku makhluk sosial maupun makhluk berketuhanan, seringkali perilakunya masih dibelenggu hawa nafsu (kesadaran rendah) yang ujung-ujung tidak hanya merugikan diri sendiri tetapi juga orang lain. Padahal manusia ditugaskan ke bumi berfungsi sebagai khalifah, yang menyebarkan kasih sayang kepada sesama makhluk Allah SWT. Dengan ibadah puasa Ramadhan diharapkan tingkat kesadaran manusia semakin tinggi sehingga mampu mengendalikan hawa nafsu.

Hakikatnya pada diri manusia terdapat beberapa potensi yaitu berupa badan/raga, akal, pikiran, hati/qolbu, jiwa/ruh dan hawa nafsu. Sedangkan hawa nafsu itu sendiri paling tidak terdiri dari 3 jenis derajat, yaitu :


A. Nafsu Ammarah Bissu’

Nafsu ini identik dengan perilaku binatang. Aktivitas binatang dalam keseharian tidak jauh dari makan minum, syahwat dan tidur. Inilah level terendah dari kesadaran manusia.

Nafsu ini selalu melepaskan diri dari tantangan dan tidak mau menentang, bahkan patuh dan tunduk saja kepada nafsu syahwat dan panggilan syeitan. Tipe nafsu ini identik dengan syaitan. Coba perhatikan firman Allah SWT berikut ini.


”..Nafsu itu selalu menyuruh/mengajak kepada kejahatan (ammarah bissu’) kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Allah SWT..”
(Surat Yusuf 12 : 53).

” Maka pernahkah kamu melihat orang menjadikan nafsunya sebagai tuhannya..”
(Surat Al-Jasiyah 45 : 23).

B. Nafsu Lawammah

Nafsu ini tidak/belum sempurna ketenangannya karena selalu menentang atau melawan kejahatan tetapi suatu saat teledor dan lupa berbakti kepada Allah, sehingga dicela dan disesalkan. Nafsu ini identik dengan manusia, dimana dalam diri manusia ada dua kekuatan beradu antara Syetan dan Malaikat.

”Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)...”
(Surat Al-Qiyamah 75 : 2).

C. Nafsu Muthmainah

Nafsu ini tenang pada suatu hal dan jauh dari keguncangan yang disebabkan oleh bermacam-macam tantangan dan dari bisikan syaitan. Nafsu ini identik dengan malaikat.

”Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kamu dalam surga-Ku”.
(Surat Al-Fajr 89: 27-30).

Dengan gemblengan, salah satunya melalui prosesi ibadah puasa Ramadhan diharapkan tingkat kesadaran nafsu manusia beranjak dari level yang rendah menuju kesadaran yang lebih tinggi, yaitu nafsu mutmainah.


Jalan puasa Ramadhan ini merupakan prosesi spiritual untuk menemukan jati diri yaitu Al-Fitrah Almunazzalah (makhluk suci yang diturunkan ke bumi). Adapun puncaknya setelah manusia menemukan diri yang sejati adalah dengan merayakan kegembiraan ruhani yang telah menemukan asal-usulnya melalui Idhul Fitri.


Fitrah(kesucian)jiwa, pencerahan pikiran dan keseimbangan fisik yang telah dicapai seorang muslim di bulan Ramadhan harus terus menjadi kekuatan pencerahan ruhani dalam kehidupan selanjutnya. Pencerahan ruhani harus dirawat, dikembangkan dan terus dipelihara dengan langkah-langkah strategis yang mampu mengontrol bahkan menguatkannya. Akhirnya 'yaqdhah´(kebangunan) ruhaniah, fikiriah dan sulukiah senatiasa terawat dengan mendekatkan diri pada Allah, melakukan auto kritik dan optimalisasi seluruh potensi kebaikan.
Post a Comment