Saturday, July 21, 2012

MAQAM-MAQAM PARA SALIKIN

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

MAQAM-MAQAM PARA SALIKIN (ZUHUD)

ZUHUD

Nabi Muhammad Saw. bersabda ; “Jika Diantara kamu sekalian melihat orang laki-laki yang selalu zuhud dan berbicara bear, maka dekatilah dia. Sesungguhnya dai adalah orang yang mengajarkan kebijaksanaan”.(hadist disebutkan dalam al-kanz jilid 3 hal. 183 nomor 6069, diriwyatkan oleh Abu Khlad dan Abu Na'im bersma Al-Baihaqi meriwayatkannya juga darinya, sementara As-Suyuthi menganggapnya lemah didalam Al Jami'ush Shaghiir jilid 1 hal.84 nomor 635.

Seorang maha guru berkata, “Ulama berbeda pendapat tentang zuhud.” Diantara mereka ada yang berpendapat, yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan (hal, perbuatan, barang) yang haram karena yang halal diprbolehkan oleh Allah Swt. Apabila Allah Swt. memberikan sebuah kenikmatan kepada seorang hamba lantas dia bersyukur kepada-Nya, maka Allah Swt. akan membalasnya dengan setimpal.

Diantara mereka juga ada yang berpendapat, meninggalkan hal yang haram adalah wajib dan hal yang halal adalah keutamaan. Orang yang meninggalkan harta dan selalu beribadah disebut orang yang sabar terhadap dirinya sendiri, rela yerhadap apa yang telah ditetapkan Allah Swt, menerima apa yang telah diberikan Allah Swt, dan lapang dada terhadap apa yang telah ditentukan Allah Swt. memberikan gambaran tentang zuhud kepada manusia dengan firmannya:

“Katakan Muhammad, kesenangan dunia adalah sebentar dan akhirat lebih baik bagi orang yang bertakwa.”
(QS. An-Nisa’ :77) 

Selain itu terdapat beberapa ayat lain yang mencela kehidupan dunia dan menganjurkan hidup zuhud.

Sebagian yang lain berpendapat, apabila seseorang menafkankan hartanya, selalu sabar, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh syarak, alangkah lebih sempurnanya jika dia zuhud terhadap hal yang halal.

Menurut ulama yang lain, selayaknya bagi seorang hamba jangan memilih meninggalkan hal yang halal karena terpaksa, jangan memilih mensari hal yang tidak ada faedahnya dari sesuatu yang tidak dibutuhkan, dan hendaklah memelihara pembagian rezeki yang telah ada. Apabila Allah Swt. memeberikan rezeki berupa harta yang halal, maka hendaklah bersyukur. Apabila Allah Swt. memberikan rezeki yang hanya sekedar cukup, maka hendaknya jangan memaksa diri mencari harta yang tidak berfaedah. Oleh karena itu, sabar lebih baik bagi orang yang fakir, sedangkan syukur lebih relevan (cocok, sesuai) bagi orang yang mempunyai harta yang halal.

Menurut Sufyan Ats-Tsauri, yang dimaksud zuhud adalah memperkecil cita-cita, bukanmemakan sesuatu yang keras dan bukan pula memakai pakaian mentel yang kusut. Menurut As-Sirri, Allah Swt. menghilangkan kenikmatan dunia, melarangnya, dan mengeluarkannya dari para kekasihnya. Allah Swt. tidak rela jika mereka menikmati dunia.

Menurut komentar lain, kta-kata zuhud dikutip dari firman Allah Swt. yang berbunyi : "Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu". (QS Al-Hadid:23)

Orang yang zuhud tidak akan bangga dengan kenikmatan dunia dan tidak akan mengeluh karena kehilangan dunia. Sedangkan mennurut pedapat Abu Utsman, yang dimaksud zuhud adalah meninggalkan kenikmatan dunia dan tidak mempedulikan orang yang dapat menkmatinya.

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq mengatakan, “ Zuhud merupaka sikap anti kemewahan dunia, tidak berkeinginan membangun pondok (ribath) dan mesjid.” Menurut Yahya bin Mu’adz, zuhud membawa implikasi mendermakan harta benda, sedangkan cinta membawa implikasi mendermakan diri sendiri. Menurut Ibnu Jalla’, yang dimaksud zuhud adalah memandang kehidupan dunia hanya sekedar pergeseran bentuk yang tidak mempunyai arti dalam pandangan. Oleh karenanya, ia akan mudah sirna,. Ibnu Khafif berpendapat, tanda-tanda zuhud adalah merasa senang meninggalkan harta benda, sedangkan yang dimaksud zuhud adalah hati merasa terhibur meninggalkan berbagai bentuk kehidupan dan menghindarkan diri dari harta benda. Sedangkan menurut pendapat yang lain, yang dimaksud zuhud adalah jiwa merasa tenang meninggalkan kehidupan dunia tanpa keterpaksaan.

Nashr Abadzi berkata, “Yang dimaksud orang zuhud adalah orang yang terisolir dalam kehidupan dunia. Sedangkan yang dimaksud orang ma’rifat adalah orang yang terisolir dalam kehidupan akhirat.” Menurut satu pendapat, barangsiapa yang zuhudnya benar, maka dia akan menjadi orang yang rendah hati di dunia ini. Oleh karena itu, dapat dikatakan, seandainya songkok yang jatuh dari langit, maka ia tidak akan jatuh kecuali di atas kepala orang yang menginginkannya. Menurut Junaid, yang dimaksud zuhud adalah hati yang terhindar dari hal-hal negatif.

Ulama salaf berbeda pendapat tentang arti zuhud. Menurut Sufyan Ats-Tsauri, Ahmad bin Hambal, Isa bin Yunus, dan ulama yang lain, arti zuhud ialah memperkecil cita-cita. Dalam pengertian ini terkandung beberapa indikasi zuhud, beberapa sebab yang muncul, dan beberapa arti yang telah ditetapkan. Menurut Abdullah bin Mubarak, arti zuhud ialah percaya kepada Allah Swt. disertai sikap cinta terhadap kefakiran.Syaqiq Al-Balkhi dan Yusuf bin Asbath sependapat dengan pandangan tersebut yang juga mengandung beberapa indikasi zuhud. Oleh karena itu, seorang hamba tidak akan mampu mengerjakan zuhud, kecuali ia percaya kepada Allah Swt.

Menurut Abdul Wahid bin Zaid, arti zuhud ialah ,meninggalkan dinar dari dirham. Sedangkan menurut Abu Sulaiman Ad-Darani, arti zuhud adalah meninggalkan berbagai aktivitas yang mengakibatkan jauh dari Allah Swt.

Imam Junaid ditanya oleh Ruwaim tentang zuhud. Dia menjawab, “Memperkecil kehidupan dunia dan menghilangkan berbagai pengaruh yang ada di dalam hati.” Menurut As-Sriy, kehidupan yang zuhud tidak akan menjadi baik jika yang bersangkutan masih menyibukkan diri. Demikian juga orang yang ma’rifat. Junaid juga pernah ditanya tentang zuhud. Dia menjawab, “ Melepaskan tangan dari harta benda dan melepaskan hati dari kesenangan hawa nafsu. “Syibli pernah ditanya tentang zuhud. Dia menjawab, “Meninggalkan segala bentuk kehidupan dunia untuk beribadah kepada Allah Swt.”

Menurut Yahya bin Mu’adz, orang tidak akan sampai pada hakikat zuhud keculi dengan tiga hal. Pertama, perbuatan tanpa ketergantungan (pamrih). Kedua, ucapan tanpa keinginan hawa nafsu. Ketiga, kemuliaan tanpa kekuasaan. Menurut Abu Hafsh, zuhud tidak akan terealisir kecuali dalam hal yang halal. Demikian juga hal yang halal tidak akan terealisir kecuali dengan zuhud.

Abu Utsman berpendapat, Allah Swt. akan memberikan sesuatu kepada orang zuhud melebihi apa yang dikehendaki, memberikan kepada orang yang cinta Allah Swt. selain apa yang dia kehendaki, dan memberikan kepada orang yang konsisten beribadah sesuai dengan apa yang dia kehendaki.

Menurut Yahya bin Mu’adz, orang yang zuhud akan membuat cuka dan biji sawi sebagai obat, sedangkan orang yang ma’rifat akan membuat minyak misik dan anbar sebagai parfum. Sedangkan menurut Hasan Al- Bashri, arti zuhud ialah benci terhadap orang yang menyukai harta kekayaan dan apa-apa yang dimiliki.

Sebagian ulama telah ditanya, “Apakah zuhud itu?”

“Meninggalkan segala sesuatu yang dimiliki orang lain.”

Seorang laki-laki pernah bertanya kepada Dzun Nun Al-Mishri, “Kapan saya harus zuhud?”

“Ketika engkau sudah mampu mengasingkan dirimu.”

Muhammad bin Fadhl berkata, “Mengutamakan zuhud ketika dalam keadaan kaya (serba cukup) dan mengutamakan fitnah cobaan ketika dalam keadan fakir (sangat butuh).” Allah Swt. berfirman :
"mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan (mereka butuh apa yang mereka berikan)."

Al-Kattani pernah berkata, “Berbagai persoalan yang tidak pernah diperselisihkan oleh ulama Kuffah, Madinah, Irak, dan Syam adalah zuhud, kemurahan jiwa (hati), dan memberikan nasihat kepada orang lain, yakni tidak seorangpun dari ulama yang berpendapat bahwa berbagai persoalan tersebut merupakan perilaku yang tidak terpuji.”

Yahya bin Mu’adz telah ditanya oleh seseorang, “Kapan saya dapat memasuki tempat pesanggrahan tawakal, memakai selendang zuhud dan duduk bersama orang-orang yang zuhud?” Dia menjawab, “Apabila engkau telah mampu melatih jiwamu secara samara-samar dalam batas-batas yang seandainya Allah Swt. tidak memberikan rezeki kepadamu selama tiga hari, jiwamu tidak akan menjadi lemah. Apabila engkau tidak sampai pada kedudukan ini, maka dudukmu di permadani orang-orang yang zuhud adalah sia-sia, sehingga engkau mengalami (mandapatkan) kecacatan.”

Bisyr Al-Mafi berpendapat, zuhud ibarat benda milik yang tidak memperoleh tenpat kecuali di hati yang suci (bersih). Muhammad bin Asy’ats Al-Bikindi berkata, “Barangsiapa yang membahas tentang zuhud dan memberikan peringatan, tetapi dia mencintai harta mereka, maka cintanya terhadap akhirat akan dihilangkan oleh Allah Swt. dari hatinya.”

Menurut suatu pendapat, apabila seorang hamba Allah Swt. meninggalkan kehidupan dunia, maka Allah Swt. mengutus malaikat agar dia diberi hikmah di dalam hatinya. Sebagian ulama pernah ditanya, “Untuk apa zuhud?” Dia menjawab, “Untuk kepentingan diriku.”

Menurut Ahmad bin Hanbal, zuhud terbagi menjadi tiga. Pertama, meninggalkan hal yang haram. Ini zuhud orang yng awam. Kedua, meninggalkan hal yang halal. Ini zuhud orang yang istimewa. Ketiga, meninggalkan segala hal yang meyibukkan sehingga jauh dari Allah Swt. Ini zuhud orang yang ma’rifat.

Ustaz Abu Ali Ad-Daqaq berkata, “Sebagian ulama pernah ditanya, kenapa engkau zuhud?” Dia menjawab, “Karena apabila saya meninggalkan ha-hal yang banyak, maka kecintaanku terhadap hal-hal yang sedikit akan menjadi hilang (jauh).” Yahya bin Muadz berkata, “Dunia bagaikan pengantin perempuan. Barangsiapa yang menginginkannya, bersikaplah lemah lembut terhadap tukang sisir rambutnya. Orang yang zuhud akan menghitamkan muka pengantin, mencukur rambutnya, dan membakar pakaiannya. Sedangkan orang yang ma’rifat akan selalu sibuk mengingat Allah Swt. tanpa menoleh kepadanya.”

Saya telah mendengar As-Sary berkata, “Saya telah membiasakan diri terhadap hal-hal yang berkaitan dengan zuhud. Segala sesuatu yang kuinginkan telah kuperoleh kecuali meninggalkan orang banyak. Oleh karena itu, saya belum sampai dan belum memperolehnya.”

Menurut satu pendapat, orang-orang yang zuhud tidak akan keluar kecuali pada dirinya sendiri, karena mereka tidak menginginkan kenikmatan yang fana’(lenyap, tidak abadi, yaitu dunia), tetapi menginginkan kenikmatan yang abadi (akhirat). Menurut Nashr Abadzi, yang dimaksud zuhud adalah mempertahankan darah orang-orang yang zuhud dan menumpahkan darah orang-orang yang ma’rifat.

Sedangkan menurut Hatim Al-Asham, yang dimaksud orang yang hendak zuhud adalah orang yang mampu menyerbu (menyerang) hawa nafsunya sebelum kecerdikan (akal pikirannya) tibul.

Imam Fudhail bin Iyadh berkata, “Allah Swt. menjadikan segala kejelekan di dalam satu rumah dan menjadikan cinta terhadap kehidupan dunia sebagai kuncinya. Allah Swt. menjadikan segala kebaikan di dalam satu rumah dan menjadikan zuhud sebagai kuncinya.
Post a Comment