Thursday, June 14, 2012

Kajian Islam

Kajian Islam: Keajaiban1.400 tahun dikubur,Jasad Para Syuhadatetap Utuh & tidakhancur

keyword-
images “Kesaksian” Bumi tidak memakan jasad para “Syuhada” Waktu terjadi banjir di madinah, kuburan 70 orang keluarga perang uhud itu kena banjir, mayatnya timbul keluar, masih utuh karena dikubur dipasir. Sampai banjir surut, darahnya masih mengalir harum. Terus dikubur lagi, tapi sudah tidak ditandai nama nama mayat tsb, yang ditandai karena dikenali cuma 2, yaitu Hamzah karena diketahui dadanya bolong dan jantungnya tidak ada karena telah dimakan oleh hindun, badannya tinggi besar. Jasadnya masih berdarah, dan harum, bahkan tangannya masih menutup lukanya dilambung yang terkena tombak, yang masih keluar darah, walaupun sudah beberapa ribu tahun. Dan yang satu lagi adalah Abdullah bin Jaz karena diketahui kuping dan hidungnya terpotong-potong karena diikat benang. Kedua orang inilah yang sekarang nisannya ada di Uhud. Jadi kalau sekarang kita berziarah ke gunung uhud, hanya ada 2 nisan saja. Hadis mengatakan jasad para nabi dan rasul tidak dimakan oleh tanah, dan hal ini dibuktikan Al qur’an sebagaimana yang terdapat dalam kisah nabi Sulaiman AS. Nabi Sulaiman ketika sudah mau wafat, dia berpegangan kepada tongkatnya sambil tersenyum memandang jin yang sedang bekerja membangun istana Sulaiman (haikal Sulaiman), termasuk masjidil aqso. Setelah nabi Sulaiman wafat, jin-jin tersebut tidak mengetahui sehingga mereka bekerja terus siang dan malam karena merasa diperhatikan oleh nabi Sulaiman yang tidak bergerak-gerak sambil tersenyum, sampai akhirnya nabi Sulaiman jatuh tersungkur karena tongkatnya keropos dimakan oleh rayap. Sebagaimana yang telah kita ketahui, tongkat raja pasti kalau disini diserupakan dengan kayu jati, yang keras, atau kayu cendana, tapi kalau disana namanya kayu Kokaa, keistimewaannya karena mampu untuk menahan serangan dari sihir. Allah meletakkan barokah dimana Allah mau, kadang di air, kadang di kayu, dan salah satunya kayu kokaa seperti tongkat nabi Sulaiman dan tongkat nabi Musa, sehingga jin pun tidak berani. Dan hal tersebut membuktikan bahwa jasad nabi Sulaiman tidak busuk, karena kalau busuk, 2 sampai 3 hari sudah bau, tapi ini berpuluh-puluh tahun sampai tongkatnya keropos dimakan rayap dan jatuh tersungkur. Setelah itu para jin baru tahu bahwa nabi sulaiman telah wafat sambil berkata, “Ah, seandainya kami tahu tentang hal hal yang gaib, pasti kami tidak akan meneruskan perintah dari nabi Sulaiman ini, sungguh kami terhina gara gara hal ini (bahwa mereka tidak mengetahui tentang hal yang gaib) sehingga tidak menyadari bahwa Nabi Sulaiman telah wafat”, Inilah yang menyebabkan, satu dalil yang shohih dari pada Al qur an, bahwa keyakinan kita sebagai Ahlus sunnah wal jam’ah akan jasad nabi dan rasul tidak hancur dimakan tanah dan tidak busuk. Dan hal ini bukan tahyul (kurafat), karena ini adalah iman yang shohih berdasarkan penjelasan dari Al qur an dan sunnah rasul, dan ada dalil dalil yang mendukung hal tersebut. Bisakah jasad kita tidak dimakan oleh tanah?, Bisa kalau kita sholeh, hafiz Al quran, mati syahid, atau kita istiqomah dalam agama sampai mati, “Innalladziina qoolu robbunallah tsummas taqoomu tatanazzalu alaihimul malaaikah alla takhoofu wala tahzanu, wa absyiruu bil jannatil latii kuntum tuu ‘aduun.” “sesungguhnya bagi orang orang yang telah mengatakan, Rob kami adalah Allah, kemudian mereka istiqomah didalamnya, maka kami akan menurunkan kepada mereka malaikat malaikat, tidak akan ada ketakutan dan kegelisahan pada diri mereka, dan kabarkanlah kepada mereka akan surga yang telah dijanjikan” (surah haamiim assajadah). Nabi Muhammad adalah manusia pilihan (mustofa), dipilih, mukhtar, dan bukan sembarang manusia, sebab dari sekian miliar manusia yang ada di bumi, beliaulah yang dipilih Allah untuk menjadi nabi penutup, khotamun nabiyyin, sayyidul anbiya’ wal mursaliin, penghulunya para rasul dan nabi, sayyidul ‘anam, sayyidul bani adam, penghulu seluruh manusia dari nabi adam sampai hari kiamat. Jadi Nabi Muhammad saw itu agung, pangkatnya tertinggi, walaupun ia sama dengan nabi dan rasul yang lain, “Laa nu farriqu baina ahadim min rusulih,..” Allah tidak membeda bedakan antara rasul yang satu dengan yang lain, tetapi Allah berhak untuk memberikan kelebihan antara satu rasul dengan rasul rasul yang lain, Sebuah “Kesaksian” 1.400 tahun dikubur, Jasad Para Syuhada tetap Utuh Dr Thariq As-Suwaidan dalam kasetnya yang berharga, “Qisshatun Nihayah”, yang dinukil secara langsung dari Syaikh Mahmud Ash-Shawaf menyebutkan peristiwa besar yang dialami oleh sebagian ulama dalam penguburan ulang sebagian sahabat yang gugur syahid di perang Uhud. Bagaimana mereka menyaksikan para sahabat setelah 1400 tahun berlalu, bagaimana jasad mereka seperti sedia kala tanpa perubahan, tanpa pembusukan. Sebagai bukti nyata atas kebenaran berita gembira dari Nabi Muhammad SAW kepada para syuhada, bahwa bumi tidak memakan jasad mereka. Berikut adalah sebagian dari kaset pembicaraan Dr Thariq As-Suwaidan tentang peristiwa tersebut. “Syaikh Mahmud Ash-Shawaf telah menyampaikan kepada kami bahwa dia adalah salah seorang yang diundang dari kalangan ulama besar untuk pemakaman ulang para sahabat yang gugur syahid di perang Uhud di kompleks kuburan syuhada Uhud, pekuburan yang terkenal. Karena diterjang banjir, maka sebagian jasadnya muncul ke permukaan. Para ulama diundang untuk mengubur ulang para sahabat tersebut. Beliau berkata” Di antara orang yang aku kuburkan adalah Hamzah, badannya besar, kedua telinga dan hidungnya terpotong, perutnya terbelah, dia meletakkan tangannya diatas perutnya. Ketika kami menggerakkannya dan mengangkat tangannya, darahnya mengalir. Aku menguburkannya bersama sahabat-sahabat lainnya yang gugur syahid di Uhud.” Dr Thariq As-suwaidan berkata,” ini adalah perkara yang terbukti secara mutawatir dan dengan mata kepala. Semoga Allah menyampaikan kita semua ke derajat para syuhada. Syaikh Mahmud telah menyampaikan kepada kami tentang aroma harum misk yang berasal darinya ketika darah mengalir dari jasad Hamzah.” Subhanallah, setelah 1400 tahun lebih, betapa agungnya Engkau ya Allah. Alangkah besarnya kekuasaan-Mu, Maha suci Engkau. Betapa utamanya, betapa mulianya, Allah memberikannya kepada para syuhada. Jika seperti itu kemuliaan jasadnya yang terpendam di perut bumi yang tak seorangpun melihatnya, lalu bagaimanakah dengan kemuliannya di surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Selamat bagi yang telah melihat sahabat mulia ini, Hamzah bin Abdul Mutthalib paman Rasulullah SAW. Pertanyaan : Benarkah jasad Rasul tidak hancur ? Jawab: Pernah terjadi pada zaman Sultan Sholahuddin Al Ayyubi, ketika perang Salib, orang Kristen mengirim 2 orang anggotanya yang berwajah seperti orang Arab, datang ke Madinah dan tinggal serta bergaul dengan orang-orang Madinah. Dan pada suatu hari, sang Penguasa Madinah bermimpi bahwa telah datang Rasulullah kepadanya dan meminta kepadanya untuk menyelamatkan jasad beliau dari 2 orang yang ditunjukkan wajahnya. Setelah mimpi tersebut berkali kali dialaminya, akhirnya beliau memanggil seluruh warga Madinah untuk berkumpul dan bersalaman kepadanya satu persatu. Akhirnya setelah diketahui, kedua orang tersebut ternyata telah membuat suatu terowongan yang mengarah ke makam Nabi Muhammad dan berencana untuk mencuri jasad beliau karena mereka berkeyakinan kalau jasad Nabi tidak hancur dan setelah jasad tesebut dicuri oleh mereka, maka pasukan Islam akan menyerah. Setelah diketahui hal tersebut, maka kedua orang Kristen itu akhirnya dihukum pancung, dan Raja Mesir waktu itu menyuruh pemerintah Madinah untuk membuat batasan berupa campuran beton dan perunggu jauh kedalam tanah untuk melindungi jasad Nabi Muhammad dan keempat sahabatnya dari pencurian.
نحمده ونصلى على رسوله الكريم
 
KONSEP NUR MUHAMMAD DI DUNIA MELAYU
DALAM KONTEKS WACANA SUNNI
- SATU PENGAMATAN AWAL
 
OLEH:
 
MUHAMMAD 'UTHMAN EL-MUHAMMADY (UEM)
 


Tulisan ini insha' Allah akan membicarakan konsep "Nur Muhammad" sebagaimana yang ada dalam beberapa teks Islam Dunia Melayu seperti teks Nur al-Din al-Raniri, Syaikh Zain al-'Abidin al-Fatani, antara lainnya, semoga Allah memberi rahmat kepada mereka semuanya. Juga akan diberikan perhatian kepada "Madarij al-Su'ud" dalam Bahasa Arab, karangan Syaikh Nawawi al-Bantani, rahimahu'Llahu Ta'ala. Pengamatan akan diberikan berdasarkan sumber-sumber tafsir dan hadith yang muktabar di kalangan Ahlis-Sunnah wal-jama'ah. Dengan ini diharapkan sangkaan yang tidak enak dan tidak manis terhadap para ulama kita akan dihilangkan, dan kita beradab dengan mereka sebagaimana yang dikehendaki dalam hadith "al-din al-nasihah" dalam hubungan dengan 'a'immatul-Muslimin', antaranya sebagaimana yang dihuraikan oleh al-muhaddithin seperti Imam al-Nawawi rd. Sudah tentu ini adalah satu keperluan dalam menunjukkan kemuliaan Nabi s.a.w. yang bukan hanya "basyar" atau manusia yang terjadi daripada tanah seperti anak-anak Adam yang lain. Ini adalah selain daripada keperluan kita mencari kejernihan dan kebenaran dalam ilmu.
 
Penulis ini yang menyedari dirinya bukan ahli dalam bidang ini bergantung kepada panduan teks-teks ulama Sunni dalam bidang yang berkenaan dan amat memerlukan teguran mereka yang pakar di dalamnya. Mudah–mudahan kita ini mengenali Nabi kita sebenarnya, mencintainya dan dengan itu kita cinta kepada Allah dan mendapat rahmatNya. Amin.
 
 

Kitab Syaikh Nur al-Din al-Raniri rh

 
Syaikh Nur al-Din al-Raniri menulis tentang tajuk ini dalam kitabnya Bad' Khalq al-Samawat wa al-Ard yang tercetak di tepi kitab Taj al-Muluk (tanpa tarikh). (Lihat tulisan penulis ini "Kosmologi para Fuqaha & Ulama Sufiah Dalam pemikiran Melayu", dalam Kosmologi Melayu, penyelenggaraan Yaacob Harun, Akademi Pengajian Melayu, Universiti Malaya, Kuala Lumpur, 2001, hal.10-22). Antara nas-nas yang disebut di dalamnya ialah hadith qudsi yang terkenal yang bermaksud: "Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, maka Aku kasih bahawa Aku dikenali, maka Aku jadikan makhluk, maka dengannya mereka mengenaliKu". (Bad' Khalq al-Samawat wa al-Ard, hal. 10). Juga dinukilnya hadith bermaksud: "Sesungguhnya Allah menjadikan ruh nabi dari zatNya dan Ia menjadikan alam semuanya dari ruh Muhammad s.a.w." (ibid. 10). Maksudnya Ia menjadikan ruh nabi daripada tidak ada kepada ada dari SisiNya, bukannya bermakna bahawa sebahagian daripada Tuhan dijadikan ruh nabi. Dinukilnya juga hadith yang bermaksud: "Aku (Nabi s.a.w.) dari Allah, dan orang mu'min dariku". (ibid. 10). Ertinya sebagaimana yang dihuraikannya sendiri bahawa nabi adalah makhluk yang pertama yang dijadikan Allah dan sekelian orang mu'min itu dijadikan Allah daripada Baginda (iaitu daripada nurnya). (ibid. hal. 10). Dinukilkan beliau juga hadith yang bermaksud: "Aku (Tuhan) menjadikan segala perkara kerana engkau (wahai Muhammad) dan Aku jadikan engkau keranaKu" (ibid. 10). Juga dinukilkannya hadith yang bermaksud "kalaulah tidak kerana engkau Aku tidak jadikan sekelian falak ini." (ibid. 11). Dinukilkan beliau juga hadith yang bermaksud: "Aku telahpun menjadi nabi walhal Adam berada antara air dan tanah" (ibid. 11).
 
Kemudian beliau menukil hadith nur Muhammad. Antaranya ialah yang bermaksud: "Perkara yang paling awal yang diciptakan Allah ialah akal" (ibid. 11); dan yang bermaksud: "Perkara yang paling awal yang diciptakan Allah ialah al-Qalam", (ibid. 11); dan yang bermaksud: "Perkara yang awal sekali yang diciptakan Allah ialah ruh-ruh" (ibid. 11). Beliau menghuraikan bahawa akal, qalam, dan ruh itu ialah kejadian nur Muhammad s.a.w. sebagaimana yang ternyata daripada hadith yang dinukilkan beliau yang bermaksud: "Perkara yang paling awal yang diciptakan Allah ialah nurku" (ibid. 11). Dinukilkannya juga hadith yang bermaksud: "Perkara yang paling awal yang dijadikan Allah ialah ruhku". (ibid. 11).
 
Mengikut Syaikh Nur al-Din, Allah menjadikan Nur Muhammad itu daripada pancaran Nur AhadiahNya, yang beliau nukilkan ialah kenyataan kitab al-Manzum yang bermakna: "Telah berdempeklah sifat Jalal dan Sifat Jamal, maka ghaliblah Jamal itu atas sifat jalal, maka dijadikan Allah daripada dua sifat itu Ruh Muhammad, iaitu daripada 'adam kepada wujud (daripada tidak ada kepada ada - uem) (Bad' Khalq al-Samawat wa al-Ard.12). Kita perlu nyatakan bahawa yang dijadikan itu makhluk juga, bukannya sambungan daripada zat atau Diri Tuhan, sebab kalau demikian ada dua yang kadim, dan itu kesyirikan.
 
Kata beliau bahawa selepas Allah menjadikan Nur Muhammad atau Ruh Muhammad itu Ia tilik kepadanya dengan tilik mahabbah atau kasih, maka ia malu dan berpeluh, dari peluhnya itulah dijadikan ruh-ruh sekelian anbia, aulia dan nyawa sekelian orang mu'min yang salih, dan daripada nyawa sekelian mu'min yang salih itu dijadikan nyawa sekelian mu'min yang fasik, daripada mu'min yang fasik dijadikan nyawa sekelian mu'min yang munafik dan mereka yang kafir. (ibid. 13).
 
Dan dijadikan daripada insan nyawa insan itu nyawa sekelian malaikat, dan daripada malaikat itu nyawa sekelian jin, dan daripada jin itu nyawa sekelian syaitan, dan daripada syaitan itu nyawa sekelian binatang, daripada binatang itu nyawa sekelian tumbuh-tumbuhan, setengahnya mempunyai martabat yang melebihi yang lainnya; jadilah pula segala jenis nafas tumbuh-tumbuhan itu dan segala anasir itu iaitu hawa, api, air dan angin (ibid. 13).
 
Kemudian beliau menyebut bagaimana Allah menilik dengan tilikan haibah pula, hancurlah ia, setengahnya menjadi air, setengahnya menjadi api yang menghanguskan air, keluarlah asap, naik ke angkasa, daripadanya di Allah tujuh petala langit. Setelah itu ada bakinya yang tinggal, daripadanya dijadikan matahari, bulan, dan bintang. (ibid.13). Demikian seterusnya.
 
Beliau menukilkan pula riwayat yang lain, yang masyhur, bahawa Allah menjadikan sepohon kayu dengan empat dahannya, dinamakan Syajaratul-Yaqin. Kemudian dijadikan Nur Muhammad dalam bentuk burung merak, diletakkan atas pohon itu, lalu ia mengucap tasbih kepada Allah, selama tujuh puluh ribu tahun. Bila merak itu terpandang terlalu cantik rupanya, dengan elok bulunya, dan lainnya, sujudlah ia lima kali sujud, jadilah sujud itu kemudiannya sembahyang lima waktu yang wajib atas umat Muhammad s.a.w.
 
Kemudian dikisahkan bahawa Allah menjadikan kandil daripada akik yang merah. (ibid. 15).
 
Kemudian Syaikh Nur al-Din menukil riwayat yang menyebut Nur Muhammad dalam bentuk burung merak
 

Kitab "Kashf al-Ghaibiyyah" oleh Zain al-'Abidin al-Fatani rh:
 
Antara kitab Jawi yang popular sebagai rujukan ialah kitab "Kashf al-Ghaibiyyah"
Dalam kitab "Kashf al-Ghaibiyyah" (berdasarkan karangan asalnya "Daqa'iq al-Akhbar fi Dhikr al-Jannah wa al-Nar" karangan Imam 'Abd al-Rahim bin Ahmad al-Qadhi, dan kitab "Durar al-Hisan" karangan al-Suyuti, dan "Mashariq al-Anwar" oleh Shaikh Hasan al-'Adawi antara lainnya), oleh Syaikh Zain al-'Abidin al-Fatani rh (Maktabah wa Matba'ah dar al-Ma'arif, Pulau Pinang, t.t.) Kitab ini dikarang oleh beliau pada tahun 1301 Hijrah. Pada halaman 3 dst. terdapat bab awal berkenaan dengan penciptaan roh teragung, (al-Ruh al-A'zam), iaitu nur Nabi kita Muhammad 'alaihis-salatu was-salam. Kata beliau:
 
"Sesungguhnya telah datang pada khabar oleh bahawasanya Allah taala telah menjadi ia akan satu pohon kayu baginya empat dahan, maka menamai akan dia Syajarat al-Muttaqin (Pokok Orang-orang yang bertaqwa), dan pada setengah riwayat Shajarah al-yaqin (Pokok Keyakinan), kemudian telah menjadi ia akan Nur Muhammad di dalam hijab daripada permata yang sangat putih seu(m)pama rupa burung merak dan dihantarkan ia akan dia atas demikian pohon kayu itu , maka mengucap tasbihlah oleh Nur itu atas pohon kayu itu kadar tujuh puluh ribu tahun, kemudian menjadi akan cermin kemaluan maka dihantarkan akan dia dengan berhadapannya; maka tatkala menilik oleh merak itu di dalam cermin itu melihat ia akan rupanya terlebih elok dan terlebih perhiasan kelakuan, maka malu ia daripada Allah taala, maka lalu berpeluh ia maka titik daripadanya enam titik, maka menjadi oleh Allah taala daripada titik yang pertama akan ruh Abu Bakar radiya'Llahu 'anhu, dan daripada titik yang kedua itu akan ruh 'Umar radiya'llahu 'anhu dan daripada titik yang ketiga itu akan ruh 'Uthman radiya'Llahu 'anhu, dan daripada titik yang keempat itu akan ruh 'Ali radiya'Llahu 'anhu, dan daripada titik yang kelima itu akan pohon bunga mawar dan daripada titik yang keenam itu akan padi" (hal. 3).
 
Kemudian disebut bagaimana Nur Muhammad itu sujud lima kali, dengan itu, menjadi fardu sujud, lalu difardukan sembahyang yang lima waktu atas Muhammad dan ummatnya. Kemudian disebut Allah menilik kepada nur itu, lalu ia malu, berpeluh kerana malunya. Daripada peluh hidungnya Allah jadikan malaikat, daripada peluh mukanya Allah jadikan 'Arasy, Kursi, Lauh dan Qalam, matahari, bulan, hijab, segala bintang, dan barang-barang yang ada di langit. Daripada peluh dadanya dijadikan anbia, mursalin, ulama, syuhada dan solihin. Daripada peluh belakangnya dijadikan Bait al-ma'mur, Ka'bah, Bait al-Maqdis, dan segala tempat masjid dalam dunia. (hal. 3-4).
 
Disebutkan beberapa kejadian lagi daripada peluhnya itu:
 
bullet
Daripada peluh dua kening: mukminin dan mukminat dari umat Muhammad;
bullet
Daripada peluh dua telinganya: arwah Yahudi dan Nasrani, dan Majusi, golongan mulhid, kafir yang engkar kebenaran, munafikin.
bullet
Daripada peluh dua kaki: segala bumi dari Timur dan Barat dan yang ada di dalamnya (hal. 4)
 
Kemudian Allah memerintah nur itu supaya memandang ke hadapan, di hadapannya ada nur, di kanan dan kirinya juga nur. Mereka itu ialah Abu Bakar, 'Umar, 'Uthman, dan 'Ali. Kemudian Nur itu mengucap tasbih selama tujuh puluh ribu tahun.
 
Kata pengarang: dijadikan nur para anbia daripada Nur Muhammad s.a.w.; ertinya dijadikan arwah para anbia daripada peluh ruh Muhammad s.a.w., dan dijadikan segala ruh umat anbia itu daripada peluh arwah anbia mereka itu.
 
Kemudian diriwayatkan bahawa dijadikan oleh Allah kandil daripada akik yang merah, dilihat orang akan zahirnya itu daripada bahagian dalamnya, kemudian dijadikan rupa Muhammad seperti Baginda di dunia ini, kemudian diletakkan di dalam kandil tersebut, berdiri Baginda di dalamnya seperti berdirinya di dalam sembahyang; kemudian berkeliling roh segala anbia dan lainnya di sekeliling kandil nur Muhammad 'alaihis-salam, mengucap tasbih dan mengucap tahlil mereka itu selama seratus ribu tahun; kemudian Allah menyuruh segala ruh itu menilik kepadanya; yang menilik kepada kepalanya menjadi khalifah dan sultan antara sekelian makhluk; yang menilik kepada dahinya menjadi amir yang adil; yang menilik kepada dua matanya menjadi hafiz kalam Allah; yang melihat dua keningnya menjadi tukang lukis; yang melihat kepada dua telinganya jadilah ia menuntut dengar dan menerima (pengajaran); yang melihat dua pipinya jadilah ia berbuat baik dan berakal; yang melihat dua bibir mulutnya menjadi orang-orang besar raja. Yang melihat hidung menjadi hakim dan tabib dan penjual bau-bauan. Yang melihat mulut menjadi orang puasa. Demikian seterusnya dengan melihat anggota tertentu, jadilah orang itu mempunyai sifat-sifat tertentu di dunia nanti. Misalnya yang melihat dadanya menjadi orang alim, mulia dan mujtahid. (hal. 5). Dan orang yang tidak menilik sesuatu kepadanya jadilah ia mengaku menjadi Tuhan seperti Fir'aun dan yang sepertinya. (hal. 5).
 
Beliau menyebut hadith qudsi (   كنت كنزا مخفيا فأحببت أن أعرف فخلقت الخلق لاعرف  )
 
Adalah Aku perbendaharaan yang tersembunyi maka Aku kehendak akan diperkenal akan daku maka Aku jadikan segala makhluk supaya dikenalnya akan daku. (hal. 6)
 
Kemudian beliau menyebut hadith Nabi s.a.w. أول ما خلق الله تعالى  نورى وفى رواية  روحى
 
Ertinya yang awal-awal barang yang suatu dijadikan Allah taala itu nurku dan pada suatu riwayat ruhku. Kata pengarang ini: Maka adalah sekelian alam ini dijadikan Allah subhanahu taala daripada sebab nur Muhammad s.a.w. seperti yang teleh tersebut. Lalu ia menyebut pula haditrh qudsi:  خلقت الاشياء لاجلك وخلقتك  لاجلى

 

Ertinya: Aku jadikan segala perkara itu kerana engkau ya Muhammad dan Aku jadikan akan dikau itu kerana Aku, yakni dijadikan nur Muhammad itu dengan tiada wasitah suatu jua pun. (hal. 6)

 

Melalui kitab terkenal ini tersebar fahaman tentang konsep Nur Muhammad di kalangan Muslimin sebelah sini.
 

Bab yang berikutnya ialah tentang penciptaan Adam a.s. (hal 6 dst).

 
 
Kitab al-Kaukab al-Durri fi al-Nur al-Muhammadi oleh Syaikh Muhammad bin Isma'il Daud al-Fatani rh
 
Kitab ini (terbitan Khazanah al-Fattaniyyah, Kuala Lumpur, 2001). Kitab ini yang dikarang oleh penulisnya pada tahun 1304 Hijrah, di Makkah, berbicara tentang tajuk yang berkenaan dari halaman 2-7. Isinya berdasarkan riwayat Ka'ab al-Akhbar, sebagaimana yang ada dalam kitab "Kashf al-Ghaibiyyah" karangan Syaikh Zain al-'Abidin al-Fatani. Antaranya maklumatnya ialah: Tuhan menggenggam satu genggam daripada NurNya, diperintah ia menjadi Muhammad, ia menjadi Muhammad, ia menjadi tiang, ia sujud kepada Allah, dibahagi nur itu kepada empat bahagi, pertama menjadi Lauh, kedua Qalam, perintah menulis kepada Qalam, sampai kepada umat nabi-nabi, yang taat dan yang derhaka, dengan akibat-akibat mereka. Sampai disebutkan riwayat tentang sesiapa yang melihat nur itu pada bahagian-bahagian tertentu jadilah ia mempunyai sifat-sifat tertentu. Sekelian makhluk dijadikan daripada nurnya. Ia berakhir dengan menyebut makhluk sembahyang dengan huruf nama Ahmad dan Muhammad, berdiri qiyam seumpama alif, ruku' seumpama ha', sujud seumpama mim, duduk seperti rupa dal. Juga dikatakan makhluk dijadikan atas rupa huruf nama Muhammad, kepala bulat seperti mim, dua tangan seperti rupa ha', perut seperti rupa mim, dua kaki seperti rupa dal.
 
 
Kitab "Daqa'iq al-Akhbar fi Dhikr al-jannah wa al-Nar" terjemahan Melayu oleh Syaikh Ahmad ibn Muhammad Yunus Langka:
 
Kitab ini diterjemahkan oleh beliau pada 1312 Hijrah di Makkah dahulunya diterbitkan oleh dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyyah, Mesir. Kemudian ia diterbitkan oleh Maktabah wa matba'ah al-ma'arif, Pulau Pinang, tanpa tarikh. Isi kitab ini berkenaan dengan nur Muhammad s.a.w., asal kejadiannya, bagaimana semua makhluk dijadikan daripadanya adalah sebagaimana yang telah disebutkan oleh Syaikh Zain al-'Abidin dalam "Kasshf al-Ghaibiyah"nya yang menjadikan kitab ini sebagai satu daripada sumber-sumbernya, sebagaimana yang dinyatakan dalam bahagian permulaan kitabnya. Bab pertamanya sama isinya dengan apa yang ada dalam kitab terjemahan ini.
 

Kitab Madarij al-Su'ud oleh Nawawi al-Bantani rh

 
Kitab "Madarij al-Su'ud ila 'ktisa' al-Burud", dalam Bahasa Arab, syarah bagi kitab "Maulid al-Barzanji". Dalam mensyarahkan kata-kata dalam "al-Barzanji" hal. 2-3 (Surabaya, tanpa tarikh dan Singapura, tanpa tarikh) bermaksud "Segala puji-pujian bagi Allah yang membuka (seluruh) wujud ini dengan Nur Muhammad ('al-Nur al-Muhammadi") yang mengalir dalam tiap-tiap perkara (perkara yang ditakdirkannya oleh Allah taala sebelum daripada Ia menjadikan langit-langit dan bumi selama lima puluh ribu tahun.
 
Kemudian kata Syaikh Nawawi rh lagi menukil Ka'ab al-Akhbar Allah meredhainya: "Bila Allah hendak menjadikan sekelian makhluk dan mengamparkan bumi dan menegakkan langit, Ia mengambil segempal daripada nurNya firmanNya Jadilah kamu Muhammad, maka jadilah ia sebagai tiang daripada nur dan gemilang bercahaya sehingga sampai kepada hijab zulmah kemudian ia sujud, sambil katanya: Al-hamdulillah, kemudian Allah berfirman kerana itu Aku jadikan engkau dan menamakan engkau Muhammad, daripada engkau Aku memulakan penciptaan dan (dengan engkau) Aku mengkhatamkan sekelian rasul; kemudian Allah taala membahagikan nurnya itu kepada empat bahagian, dijadikan daripada yang pertamanya Lauh daripada yang keduanya al-qalam, kemudian Allah berfirman kepada Qalam tulislah, kemudian qalam … selama seribu tahun kepara kehebatan Kalam Allah taala kemudian ia berkata; Apa yang hamba hendak tuliskan, Tuhan berfirman 'Tulislah 'la ilaha illa'Allah Muhammadun Rasulullah' maka Qalam pun menulis yang demikian itu, kemudian ia menjadi terbimbing kepada Ilmu Allah dalam makhlukNya, kemudian ia menulis anak-anak Adam sesiapa yang taatkan Allah dimasukkanNya ke dalam Syurga dan sesiapa yang derhaka kepadaNya dimasukkanNya ke dalam Neraka;
 
Kemudian (ia menulis) tentang umat Nuh, sesiapa yang taatkan Allah dimasukkanNya ke dalam Syurga dan sesiapa yang derhaka kepadaNya dimasukkanNya ke dalam Neraka…
 
Demikian seterusnya dengan menyebut umat nabi Ibrahim, … umat nabi Musa …, umat Nabi 'Isa …, sampai kepada umat nabi Muhammad s.a.w., … kemudian bila Qalam hendak menulis sesiapa yang derhaka dari umat Muhammad akan dimasukkan ke dalam Neraka, terdengar suara dari Tuhan yang Maha Tinggi 'wahai Qalam, beradablah, maka pecahlah Qalam kerana rasa haibah itu, …, kemudian ini diikuti dengan sebutan tentang bahagian ketiga dijadikan 'Arasy, dan bahagian yang keempat dibahagi empat pula daripada yang awalnya dijadikan akal, daripada yang kedua dijadikan ma'rifah, daripada yang ketiga dijadikan cahaya 'Arasy, dan cahaya mata, serta cahaya siang, maka tiap-tiap cahaya ini adalah daripada Nur Muhammad.
 
Kemudian dinyatakan yang bahagian yang keempat itu diletakkan di bawah 'Arasy sehinggalah Allah menjadikan Adam a.s., maka Allah letakkan nur itu pada belakangnya, dan dijadikan para malaikat sujud kepadanya, dimasukkannya ke dalam Syurga, walhal para malaikat bersaf di belakang Adam, melihat kepada nur Muhammad. Bila Adam alaihis-salam bertanya mengapa malaikat berdiri di belakangnya bersaf Allah menjawab mereka itu sedang melihat kepada nur kekasihNya Muhammad yang menjadi khatam sekelian rasul dan anbia. Kemudian Adam meminta nur itu dipindahkan ke hadapan, lalu diletakkan pada dahi Baginda. Maka malaikat mengadap wajahnya pula. Adam meminta pula dipindahkannya lalu diletakkan pada jari telunjuknya supaya ia boleh melihatnya; maka bertambah-tambahlah cantiknya nur itu. Kemudian disebut nur itu dipindah kepada Hawwa', kemudian kepada nabi Shith, dan seterusnya. Demikianlah nur itu berpindah daripada satu rahim yang suci kepada rahim suci yang lain, sampai ia kepada sulbi 'Abdullah bapanya, kemudian keluarlah ia ke dunia melalui rahim ibunya. (hal. 3).
 
 
Perbincangan tentang punca-punca konsep Nur Muhammad:
 
Antara punca-punca konsep Nur Muhammad ini ialah sebutan-sebutan tentangnya dalam Qur'an dan Sunnah.
 
Dalam al-Qur'an terdapat sebutan tentang "nur" dalam ayat yang bermaksud "Sesungguhnya telah datang kepadamu Nur dari Allah dan Kitab yang nyata" (Al Quran 5:15).
 
Tentang ayat di atas "Tafsir al-Jalalain" oleh al-Suyuti menyatakan makna nur itu ialah "rasulullah s.a.w.".
 
"قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّه نُور" هُوَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "وَكِتَاب" قُرْآن "مُبِين" بَيِّن ظَاهِر
 
Dalam "Tafsir al-Qurtubi" dinyatakan begini:
" قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّه نُور " أَيْ ضِيَاء ; قِيلَ : الْإِسْلَام , وَقِيلَ : مُحَمَّد عَلَيْهِ السَّلَام ; عَنْ الزَّجَّاج .
Telah datang kepada kamu Nur dari Allah, iaitu cahaya, dikatakan "Islam", dan dikatakan: Muhammad s.a.w. dari al-Zajjaj. Dan "kitab" itu dikatakan Qur'an.
 
Dalam "Tafsir al-Tabari" "nur": telah datang kepada kamu wahai ahli Taurat dan Injil Nur dari Allah, yakni Nur itu Muhammad salla'Llahu 'alaihi wa sallam yang dengannya dicerahkan kebenaran dizahirkan Islam dan dihapuskan kesyirikan.
 
قَدْ جَاءَكُمْ يَا أَهْل التَّوْرَاة وَالْإِنْجِيل مِنْ اللَّه نُور , يَعْنِي بِالنُّورِ مُحَمَّد صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , الَّذِي أَنَارَ اللَّه بِهِ الْحَقّ , وَأَظْهَرَ بِهِ الْإِسْلَام , وَمَحَقَ بِهِ الشِّرْك
 
Dalam "Tafsir ibn Kathir" tentang ayat ini (Al Quran 5:15) dinyatakan:
 
قَدْ جَاءَكُمْ مِنْ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ " يَقُول تَعَالَى مُخْبِرًا عَنْ نَفْسِهِ الْكَرِيمَةِ أَنَّهُ قَدْ أَرْسَلَ رَسُوله مُحَمَّدًا بِالْهُدَى وَدِين الْحَقّ إِلَى جَمِيع أَهْل الْأَرْض
 
Telah datang kepada kamu Nur dari Allah dan kitab yang nyata, Allah taala memberi khabar berekenaan dengan diriNya sendiri bahawa Ia mengutuskan RasulNya Muhammad dengan Bimbingan Hidayat dan Agama yang hak kepada semua ahli bumi.
 
Berkenaan dengan ayat 119 Surah al-Syu'ara'
 
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ 
 
Dan perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud
 
قَالَ مُجَاهِد وَقَتَادَة : فِي الْمُصَلِّينَ . وَقَالَ اِبْن عَبَّاس : أَيْ فِي أَصْلَاب الْآبَاء , آدَم وَنُوح وَإِبْرَاهِيم حَتَّى أَخْرَجَهُ نَبِيًّا . وَقَالَ عِكْرِمَة : يَرَاك قَائِمًا وَرَاكِعًا وَسَاجِدًا ; وَقَالَهُ اِبْن عَبَّاس أَيْضًا               
 
Kata Mujahid dan Qatadah: (perubahan gerak engkau di kalangan mereka yang sujud) iaitu di kalangan mereka yang sembahyang. Kata Ibn 'Abbas: dalam sulbi-sulbi bapa-bapa kamu (turun temurun) Adam, Nuh, dan Ibrahim, sehingga Allah keluarkan Baginda sebagai nabi (akhir zaman). Kata 'Ikrimah: Melihat engkau berdiri, ruku', sujud; Ibn 'Abbas juga berpendapat demikian.
 
Dalam "Tafsir Ibn Kathir" dalam hubungan dengan ayat yang sama terdapat kenyataan:
 
وَتَقَلُّبَكَ فِي السَّاجِدِينَ
وَقَوْله تَعَالَى " وَت
Post a Comment