Saturday, June 23, 2012

RAHASIA MAKRIFATULLAH KE 7 : KITAB HIKAM AL HADDAD ra

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

RAHASIA MAKRIFATULLAH KE 7 : KITAB HIKAM AL HADDAD ra


[Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
Di antara perkara-perkara yang boleh membahayakan seorang murid ialah mencita-citakan(menginginkan) Mukasyafah (penyingkapan rahasia-rahasia Tuhan) dan berharap keramat serta perkara-perkara diluar kebiasaan adat berlaku atas dirinya. Ingatlah wahai murid, bahwa perkara-perkara serupa ini tidak akan muncul selagi kamu dituntut atau diminta-minta dengan berdasarkan hawa dan nafsu kerana pada kebiasaanya ia tidak akan muncul melainkan pada orang-orang yang membencinya dan tidak menduganya sama sekali.
Keterangan:
“Kebanyakkan murid dan salik bercita-cita untuk memperolehi ‘mukasyafah’ iaitu terbukanya rahasia-rahasia Tuhan dan bila terbukanya rahasia ketuhanan maka beralihlah ia untuk mencapai kedudukkan keramat yang mempunyai perkara-perkara diluar kebiasaan adat resam sebagai manusia biasa kerana tercapainya kedudukkan keramat akan membawanya kepada kedudukkan luar biasa, macam ‘superman’. Ingatlah wahai murid dan salik, perkara ini tidak
akan datang selagi kamu mencarinya atau meminta-minta dengan berlandaskan hawa nafsu.
Kerana pada kebiasaanya keramat ini tidak akan datang melainkan pada orang-orang yang sangat membencinya dan tidak sangka sama sekali bila ia datang. Orang yang benci pada
kedudukkan keramat ini adalah semata-mata tidak mahu diganggu oleh manusia lain kerana tumpuan yang selama ini diberikan untuk Allah akan beralih kepada manusia dengan terpaksa melayani fi’il tabiat manusia yang hanya ingin kesenangan dan menolak kesusuhan kerana kebanyakkan manusia sebegini adalah manusia yang buta mata hatinya”.
Adakalanya perkara-perkara seumpama keramat dan sebagainya itu berlaku juga pada golongan orang yang tertipu dengan cita-cita untuk mencelakakan dirinya dan sebagai suatu 69 Petunjuk Jalan Thariqat pengujian terhadap kamu Mu’minin yang lemah I’tikadnya. Semua itu tidak boleh dikira sebagai keramat yang benar, malah ia merupakan sebagai suatu penghinaan kepada orangorang
yang mendakwa keramat itu. Sebab keramat hanya lahir (ada) pada orang-orang ahli istiqamah, yakni orang-orang yang sudah terkenal lurus dalam perjalanannya.
Keterangan:
“Kadang-kadang perkara seperti keramat berlaku juga pada orang yang tertipu dengan angan-angannya. Ini adalah sebagai hukuman dari Allah untuk mencelakakan dirinya dan sebagai pelajaran bagi kaum mu’minin yang lemah keyakinannya terhadap Allah Taala.
Sekiranya berlaku juga sesuatu diluar dugaan manusia itu adalah ‘ketetapan hukum yang
berlaku pada masa itu’ bukan pada keramat seperti yang didakwa oleh orang yang tertipu dan orang yang ditipu. Keramat hanya akan datang pada orang-orang yang ahli didalam istiqamah sahaja. Lain cara jangan haraplah! Istiqamah didalam menjalankan ketaatan perintah Allah Taala dan RasulNya. Sangatlah mudah untuk mengetahui seseorang itu menerima anugerah keramat ataupun tidak, lihatlah akan ketaatannya pada perintah Allah dan RasulNya. Mudah bukan! Maka dengan itu janganlah lekas terperdaya dengan dakwaan
seseorang itu keramat atau tidak, lihatlah pada istiqamahnya”.
Wahai kamu murid! Sekiranya Allah Taala telah memberikan penghormatan keramat kepada kamu, maka hendaklah kamu mensyukuriNya. Awas, janganlah pula kamu berhenti dari meneruskan amalan kamu lantaran keramat itu telah muncul atas diri kamu. Juga hendaklah kamu tidak bermegah sangat dengan keramat itu, lalu kamu mengantungkan semua harapan ke atasnya. Hendaklah kamu merahsiakan keramat itu dari orang ramai dan jangan membicarakannya dengan mereka.
Keterangan:
“Sekiranya ditakdirkan oleh Allah Taala memberikan penghormatan keramat kepada kamu, maka hendaklah kamu mensyukuriNya atas pemberianNya. Tapi ingat! Selagi kamu tidak tahu mensyukuriNya bagaimana mungkin penghormatan keramat akan diberikan? Dan janganlah pula kamu ‘pencen’ pulak dari meneruskan amalan ketaatan kerana keramat sudah dapat dan
kerana telah sebok melayani manusia . . . Janganlah kamu bertepuk dada lantaran keramat itu
dan mengantungkan semua harapan kamu keatasnya. Kalau perbuatan itu tidak dibuat macam mana orang nak tahu kamu keramat? Rugilah . . . Duit tak masuk . . .
Rahasiakan keramat itu dari orang ramai dan jangan membicarakannya kalau kamu tidak mahu disebokkan oleh mereka . . .”.
Akan tetapi, jika semua itu tidak pernah muncul atau lahir atas diri kamu, meskipun kamu telah banyak beramal dan beribadat, maka janganlah sampai kamu mencita-citakannya dan jangan juga merasa kesal dan dukacita, apabila dengan tiba-tiba ia hilang tidak menjelma lagi.
Keterangan:
“Sekiranya keramat


Risalatul Murid, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra

Dorongan bathin untuk menuju ke jalan Allah, ketahuilah bahwa jalan yang pertama-tama harus ditempuh adalah mengeluarkan dorongan yang kuat dihati untuk berminat dan mengajak untuk menuju Allah Ta'ala dan menuju jalan ke Akherat, serta menomor duakan dunia, dari segala yang biasanya dikejar manusia kebanyakan.
Seperti mengumpulkan menumpuk kekayaan, bersenang-senang menurut hawa nafsunya, serta bermegah-megahan, dalam tindakan dan kemewahannya.
Dorongan ini merupakan rahasia-rahasia Tuhan yang dilimpahkan ke dalam hati hamba-Nya, itulah yang dikatakan inayah Tu han dan tanda-tanda petunjuk-Nya, sering inayah serupa di limpahkan ke dalam hati hambanya dikala dalam ketakutan atau menggembirakan atau timbulnya kerinduan terhadap Zat-Nya, ataupun ingin mengadakan pertemuan dengan para wali Allah, atau sewaktu mendapatkan nasehat atau pandangan dari mereka. Adakalanya dorongan tersebut tanpa ada sesuatu sebab tertentu
Adapun cita-cita untuk-mendapatkan dorongan serupa itu, memang diharuskan dan digalakkan. Akan tetapi bercita-cita saja tanpa berusaha untuk meningkatkan dan mendapatkannya, itu satu keputusan yang bodoh, yang menunjukkan orang yang berharap atau bercita-cita saja tanpa amal, sangat bodoh sekali, bukanlah Rasul pernah bersabda ;

Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan berbagai kelimpahan pada setiap manusia, maka hendaklah kamu menuntutnya.

Siapa yang telah mendapatkan penghargaan dari Allah Rabbul Alamin dengan dorongan yang Mulia ini, hendaklah ia menyediakan dirinya pada tempat yang sesuai. dan hendaklah ia tahu bahwa karunia Allah Ta'ala ini, adalah nilai yang paling tinggi di antara nikmat-nikmat yang lain. Dan tak dapat dinilai derajatnya, dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Kesyukuran atas nikmat-Nya, maka hendaklah melipatgandakan kesyukuran-mu terhadap Allah Ta'ala atas nikmat yang besar yang telah diberikan kepadamu. Dipilih dan diutamakan diantara orang-orang yang setaraf dengan rekan-rekan yang berjuang yang telah mendapatkan nikmat.
Sangat banyak orang-orang Islam yang sadar mencapai usia delapan puluh tahun atau lebih akan tetapi ia masih belum dikaruniakan dorongan serupa dan hatinya tidak pernah terketuk oleh rahasia bathinnya

Setiap murid harus rajin berusaha untuk meperkokoh, memelihara dan menuruti ajakan dorongan bathin tersebut. Cara untuk memperkokohnya ialah dengan memperbanyak mengingat Allah Ta'ala (dzikir), merenung dan memperhatikan segala kekuasaan Allah Ta'ala, dan senantiasa dekat dan berdampingan dengan wali Allah. Cara lain memeliharanya dengan menjauhkan diri dari berkumpul bersama-sama orang-orang yang tidak bermanfaat dalam agama, dan menjauhkan segala was-was dan tipu daya syaitan. Yang terakhir dengan cara menuruti ajakannya ialah berlomba-lomba kembali kejalan Allah, berlaku benar dalam menghadapi segala perintah-Nya, tidak bermalas-malasan dan tidak menunda-nunda serta tidak pula melambat-lambatkannya.

Bahkan apabila sampai pada masanya hendaklah ia menunaikan, dan apabila terbuka pintu kebajikan hendak­lah ia masuk tanpa banyak berpikir, dan apabila diseru untuk berbakti hendaklah bergegas, dan tidak tanggung-tanggung, hendaklah ia berhati-hati atas ucapan besok atau lusa, sebab yang demikian itu adalah hasutan syaitan. Malah hendaklah ia terus-menerus mengerjakan segala amal baik itu dengan segera, tidak ditangguh-tangguhkan atau mencari-cari alasan karena tidak ada waktu, atau belum masa­nya untuk beramal dan sebagainya.

Berkata Abur Robi' Rahimahullah, tujukan dirimu ke jalan Allah dalam keadaan tampan atau cacat diri, jangan sekali-kali menunggu waktu sehat saja, karena menunggu waktu sehat itu adalah merugikan.

Berkata Ibnu Atha' dalam kitabnya Al-Hikam menangguh-nangguhkan sesuatu pekerjaan sehingga ada peluang, menandakan kebodohan jiwa

 al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra
Manusia di dunia ini dapat dibagi atas empat kategori. Kebaikan dan kelurusan dunia bergantung pada kebaikan dan kelurusan sikap mereka pula.

Pertama, seorang ‘abid (ahli ibadah) yang mustaqim1, zahid2, menunjukkan perhatian sepenuhnya kepada Allah, ‘arif billah3 secara sempuma, dan memiliki kesadaran yang tajam dalam keberagamaan.

Kedua, seorang ulama yang memiliki pengetahuan mendalam tentang agama, berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah, menerapkan serta mengamalkan ilmunya, mengajari dan menasihati manusia, meme­rintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar, tidak ber­sifat plin-plan dalam urusan agama, dan tidak peduli pada kecaman siapa pun dalam membela ketetapan-ketetapan Allah Swt.

Ketiga, seorang penguasa yang adil, jujur, baik perilakunya, bersih jiwanya, dan lurus politiknya.

Keempat, seorang hartawan yang saleh, memiliki kekayaan yang besar dan bersih, membelanjakannya dalam amal-amal kebajikan, menggunakannya untuk menyantuni kaum lemah dan fakir miskin, dan memenuhi kebutuhan orang-orang yang dalam keadaan kesulitan. Ia tidak menyimpan dan mengumpulkan hartanya itu kecuali untuk tujuan-tujuan tersebut serta berbagai kebajikan dan santunan yang sejalan dengan itu.

Selain itu, di samping kategori manusia di atas, ada pula orang­-orang yang tampaknya serupa dengan mereka dalam keadaan lahiriahnya, tetapi tidak sesuai dengan hakikat sebenarnya. Maka, di samping si 'abid yang mustaqim, ada orang yang berlagak seperti seorang shufi4 yang mencampuradukkan dan mencurigakan. Di samping ulama yang mengamalkan ilmunya dengan jujur, ada ulama yang durjana dan munafik. Di samping penguasa yang adil dan bijak, ada penguasa tiran yang selalu menyimpang dan ke­benaran dan tak becus memimpin dan memerintah. Di samping hartawan yang saleh, ada hartawan zalim, yang mengumpulkan kekayaan dengan cara yang tidak halal, mengelak dan kewajiban­nya, serta membelanjakannya dalam hal-hal yang tidak sepatutnya.

Orang-orang jahat seperti itu menyebabkan kerusakan dan keguncangan kehidupan dunia, kekacauan ihwal manusia, dan penyimpangan mereka dan arah yang benar. Namun, semuanya kembali kepada Allah SWT jua. Di tangan-Nyalah segala kerajaan. Mahasuci Dia, Yang Maha Esa lagi Berkuasa, Raja Yang Maha Pemberi, Yang mewujudkan segala sebab atas perkenan-Nya. Demi kehendak-Nya, tiada tuhan kecuali Dia, dan kepada-Nyalah segala sesuatu akan kembali.

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

Keterangan:
1. Mustaqim; lurus dan lapang. Orang yang ber-istiqomah, yakni senantiasa bersikap lurus sesuai dalam agama.
2. Zahid; orang yang berzuhud, yang meninggalkan kecenderungan kesenangan duniawi yang bersifat sementara (fana’-semu).
3. ‘arifbillah; orang bijak yang memperoleh makrifat , yakni pengetahuan mendalam tentang Allah SWT dan alam semesta, atas perkenan Allah Swt dan sebagai anugerah khusus dari-Nya.
4. Shufi; ahli tasawuf, yakni ilmu yang mencari kebenaran hakiki dan pendekatan diri kepada Allah Swt dengan berbagai amalan, iabdah, zikir, renungan dsb.

 [Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
Sesungguhnya penyakit-penyakit hati dapat diketahui melalui tanda-tandanya secara lahiriah yang mengisyaratkan tentang kehadirannya. Tanda-tanda tersebut banyak sekali, yang paling nyata di antaranya ialah sikap bermalas-malasan dalam mengerjakan berbagai macam ketaatan, merasa berat berbuat kebajikan, sangat terikat pada syahwat hawa nafsu, sangat cenderung pada kelezatan dunia, sangat ingin memperluas kesejahteraan di dalamnya serta lebih lama berdiam di sana, dan lainnya lagi sebagaimana yang dapat disaksikan dalam kebiasaan orang-orang yang lalai akan akhirat dan berpaling dan Allah Swt.

Bilamana timbul tanda-tanda seperti itu pada agama seseorang, yang menunjukkan adanya penyakit dalam hatinya, wajiblah ia berusaha sungguh-sungguh untuk mengobati dan menanganinya dengan saksama. Cara terbaik dan paling efektif untuk mencapai tujuan tersebut ialah dengan mencari seorang syaikh (guru, pembimbing, mursyid) yang 'Alim dan 'Arif dari kalangan yang bersih dan sadar kalbunya. Jika tidak berhasil memperolehnya, hendaknya ia memilih seorang kawan yang saleh yang dapat dimintai pendapatnya dan diajak bermusyawarah dalam menyelidiki dan mengenali penyakit-penyakit hati serta mengobatinya. Tetapi, kalau orang seperti ini pun tidak dapat dijumpainya seperti lazimnya pada zaman ini yang jarang sekali ditemukan orang yang bersedia menolong dalam kebenaran dan kebaikan, hendaknya ia membaca buku-buku yang ditulis oleh para imam dan tokoh besar dalam bidang ini, yang sengaja mereka susun tentang penyakit-penyakit hati dan cara-cara penanganan dan pengobatannya.

Di antara buku-buku yang paling lengkap dan paling bermanfaat mengenai hal itu ialah Kitab Ihya' Ullumuddin karya Imam Al Ghazali, terutama perempat bagiannya tentang Al-Muhlikat (sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan pembinasa hidup manusia). Sebab, buku itu memang sengaja ditulis untukmengenali penyakit-penyakit hati serta cara-cara pengobatannya, tanda-tanda yang menunjukkan adanya, kuat ataupun lemahnya, dan sebagainya. Namun, buku-buku apa pun tidak mungkin dapat disejajarkan dengan kedudukan seorang syaikh yang 'Arif atau kawan karib yang saleh dalam perjalanan mencapai tujuan. Itu hanyalah sejauh upaya orang yang tidak berhasil menjumpai mereka atau tidak dimungkinkan oleh keadaan.

Sungguh Allah Swt. akan memberikan pertolongan-Nya sesuai dengan kadar himmah, ketulusan, serta kebersihan niat seseorang. Dialah sebaik-baik pelindung dan penolong.


Bahaya Penyakit Hati Dibandingkan Penyakit Tubuh

Penyakit-penyakit hati lebih mengganggu dan lebih berbahaya, lebih parah dan lebih buruk daripada penyakit-penyakit tubuh ditinjau dan berbagai segi dan arah. Yang paling merugikan dan paling besar bahayanya ialah karena penyakit hati mendatangkan mudarat atas seseorang dalam agamanya, yaitu modal kebahagia­ annya di dunia dan di akhirat; dan bermudarat bagi akhiratnya, yaitu tempat kediaman yang baqa, kekal, dan abadi.

Adapun penyakit tubuh tidaklah mendatangkan mudarat atas seseorang kecuali di dunianya yang fana yang segera sima, serta tubuhnya yang menjadi sasaran penyakit akan hancur luluh dalam waktu yang cepat. Apalagi penyakit tubuh itu sebenarnya amat berfaedah bagi seseorang dalam agama dan akhiratnya. Sebab, Allah Swt. menyediakan pahala yang sangat besar bagi si penderita sakit, di samping banyak faedah dan manfaat lainnya yang segera ataupun pada waktu mendatang, sesuai dengan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadis tentang pahala yang disediakan pada penyakit dan bencana yang menimpa tubuh.

Kemudian, karena penyakit hati tidak terjangkau secara indriawi dan tidak menimbulkan rasa sakit, sulitlah ia diketahui dan ditemukan. Perhatian padanya amat sedikit dan daya upaya untuk mengobatinya pun lemah sekali, seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali.rhm, "Penyakit hati itu laksana penyakit sopak (belang) di wajah seseorang yang tak memiliki cermin. Jika ia diberi tahu orang lain pun, mungkin ia tak memercayainya. "

Selain itu, berbagai azab dan hukuman yang diancamkan atas diri seseorang sebagai akibat penyakit-penyakit hati, kelak di akhirat, adalah sesuatu yang sulit diterima oleh kaum yang lalai. Atau, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang masih lama sekali datangnya. Adakalanya mereka bahkan meragukannya. (Semoga Allah Swt. melindungi kita darinya.) Atau, berangan-angan akan diselamatkan darinya dengan berbagai harapan yang menipu, semata-mata karena terlalu "berani" kepada Allah. Sehingga, timbul khayalan kosong dengan mengira pasti akan memperoleh ampunan dan keselamatan meski tanpa berusaha untuk mem­perolehnya.

Disebabkan hal-hal seperti itu, banyak penyakit hati yang terus tersembunyi, bahkan makin kuat mencengkeram, sementara orang-orang yang lalai selalu teledor untuk mengobatinya se­hingga makin lama makin sulit diobati. Bahkan, adakalanya se­seorang dari mereka mengetahui bersemayamnya sesuatu penyakit di hatinya, tetapi ia tak peduli dan tak menghiraukannya.

Padahal, sekiranya ia mengetahui adanya suatu penyakit di tubuhnya ataupun seorang lain memberi tahunya tentang hal itu, pasti besar sekali perhatian yang ditujukan padanya. Ia akan menjadi sangat takut, lalu bersungguh-sungguh berdaya upaya untuk mengobatinya dengan mengerahkan apa Baja yang &pat dilakukannya. Sebab, seperti yang telah kami sebutkan, penyakit hati itu tak terjangkau secara indriawi dan tidak ada rasa sakit yang menyertainya segera. Juga, hukuman-hukuman yang diancamkan terhadap itu tak tampak, dan kalaupun ada, ia baru akan terwujud kelak setelah mati dan berada di akhirat. Sedang­kan, orang yang lalai menganggap maut dan segala yang datang sesudahnya sebagai sesuatu yang amat jauh. Padahal, sekiranya menggunakan akalnya dan keyakinannya, niscaya ia akan mengetahui bahwa maut adalah suatu perkara gaib yang paling cepat datangnya, seperti disabdakan oleh Rasulullah Saw. Dan, sebagaimana juga beliau pemah bersabda, "Surga itu lebih dekat kepada seorang
di antara kalian daripada tali sandalnya." Demikian pula neraka.

Penyakit hati sungguh banyak ragamnya. Yang paling ber­bahaya dan paling mudarat ialah kebimbangan dalam agama. (Semoga Allah Swt. melindungi kita darinya.) Selain itu, lemahnya keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, serta kediaman di akhirat. Juga, sifat riya' (ingin dipuji oleh manusia) dalam per­buatan kebajikan. Angkuh terhadap hamba-hamba Allah, bakhil, iri hati, dengki, curang, cinta akan dunia dan sangat ingin mem­pertahankan nya, panjang angan-angan (yang menyebabkan selalu menunda tobat), lupa akan maut, lalai akan akhirat, mengabaikan persiapan untuknya, serta berbagai macam penyakit hati lainnya.

Mengingat bahwa hati manusia tertutup dari perasaan indriawi, sedangkan penyakit-penyakit hati tidak disertai rasa sakit yang dapat dijangkau dengan alat-alat lahiriah, wajiblah atas manusia berakal, yang prihatin akan agamanya serta keselamatan akhiratnya, untuk sungguh-sungguh berusaha menyelidikinya sehingga ia dapat segera menangani dan mengobatinya sebelum maut datang mendadak dan ia pun menuju Tuhannya, laluberhadapan dengan-Nya dengan hati yang tidak sehat—yang karena itu ia akan merugi, binasa bersama dengan orang-orang yang binasa lainnya.

 [Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
Adakalanya seseorang yang lemah bashirah1-nya memandang kepada alam ini lalu melihat berbagai hal yang saling berlawanan. Seperti adanya cahaya dan kegelapan, kebaikan dan kejahatan, perbaikan dan perusakan, manfaat dan mudarat, dan lain sebagainya. Mungkin ia membisikkan dalam hatinya atau menggambarkan dalam angan-angannya bahwa seandainya dalam alam ini hanya ada cahaya, kebaikan, perbaikan, dan manfaat saja, niscaya akan lebih utama dan lebih baik. Mungkin pula akan timbul protes atau sanggahan dari orang itu terhadap Allah Swt.

karena telah menciptakan sifat-sifat dan keadaan yang berlawanan dengan itu semua. Ia mengira bahwa ke-wujud2-an hal-hal itu semuanya tak ada artinya dan penciptaannya pun tidak ada hikmahnya. Itu hanya menunjukkan kejahilan, kebodohan, dan kelengahan dari orang yang berangan-angan tersebut. Sebab, Allah Swt. (bagi-Nya segala puji) adalah yang paling bijak di antara para bijak bestari. Dialah Tuhan yang memiliki ilmu yang mutlak, tak terbatas, yang melingkungi segala sesuatu dari segenap arahnya. Dialah yang paling kuasa di antara semua yang kuasa, paling pengasih di antara semua pengasih. Dalam suatu atsar3 disebutkan bahwa Allah Swt. berfirman:

Sesungguhnya Akulah Allah, tiada tuhan melainkan Aku. Telah Kuciptakan kebaikan dan kejahatan dan Kuciptakan masing-masing ahlinya bagi keduanya. Berbahagialah ia yang Kuciptakan untuk menjadi ahli kebaikan dan Kumunculkan kebaikan dari sisinya. Celakalah ia yang Kuciptakan untuk menjadi ahli kejahatan dan Kumunculkan kejahatan dari dalam dirinya. Kemudian, celakalah bagi siapa yang berkata, "mengapa, bagaimana". (Atsar ini dikutip dengan maknanya.)

Oleh sebab itu, orang yang mengatakan, "mengapa, bagaimana, dan seandainya", pada saat ia melihat hal-hal yang tidak ia ketahui alasannya dan tidak ia capai makna hikmahnya yang terkandung di dalamnya, dapat dinyatakan sebagai seorang yang menyanggah kebijaksanaan Allah dan melawan-Nya dalam tadbir4-Nya. Ketahuilah bahwa kewujudan alam ini yang disertai dengan adanya berbagai hal di dalamnya, yang saling berlawanan dan berlainan, adalah kewujudan yang paling sempuma dan paling baik.

Tiada sesuatu yang mencerminkan kebijakan dan mendatangkan kebaikan lebih besar daripadanya apabila dikaitkan dengan tujuan penciptaan alam dan sasaran yang hendak dicapai dengannya. Camkanlah hal ini.
Tak dapat dimungkiri bahwa alam ini dalam kewujudannya berada pada salah satu di antara empat keadaan:
1. Tetap seperti keadaannya sekarang, yakni dengan segala keberlawanan atau kontradiksi yang maujud kini.
2. Yang ada di dalamnya hanyalah kebaikan murni dan kemanfaatan semata-mata.
3. Yang ada di dalamnya hanyalah kejahatan dan kemudaratan semata-mata.
4. Tidak terwujudnya alam ini sama sekali.

Hanya empat keadaan ini saja, tidak ada kelimanya yang dapat dibayangkan dalam pikiran. Adapun seandainya alam ini dalam keadaan 'adam (tidak ada sama sekali, non existence), maka tidak akan dapat disebut sebagai sesuatu, tidak ada hakikat pada dirinya, dan oleh sebab itu tidak ada artinya sama sekali. Adapun seandainya yang ada di alam ini hanya kebaikan murni semata-mata, niscaya ia akan lumpuh disebabkan hikmah-hikmah dan maslahat segala sesuatunya akan menjadi batal dengan sendirinya. Alam seperti itu hanya berupa setengah kewujudan, dan dengan demikian takkan tercapai tujuannya yang memang dikehendaki dan diciptakan untuknya.

Adapun seandainya yang ada dalam alam ini hanyalah kejahatan dan kemudaratan semata-mata, niscaya ia tak ada gunanya dan tidak perlu ada.

Dari hasil pembahasan di atas dapat diketahui bahwa kondisi yang dapat disaksikan di alam sekarang adalah yang paling baik, paling sempuma, paling utama, dan paling patut. Dari uraian kami itu pula dapat dipahami makna persoalan yang disebutkan oleh Hujjatul-Islam Imam Al-Ghazali.rhm pada bagian tentang Tauhid dalam kitab Ulum Al-Din yang disimpulkannya dengan ungkapan:

"Tidak mungkin terwujud yang lebih indah (atau lebih sempurna) daripada yang telah terwujud."

Ucapan Imam Al-Ghazali.rhm itu mengandung kebenaran, dapat diterima baik, dan tak ada keberatan padanya. Meskipun demikian, tampaknya beliau (rahimahullah) agak berlebih-lebihan dalam penganalisisan dan penyimpulan masalah tersebut, sedangkan ruang untuk bahasannya terlalu sempit, sehingga susunan kalimatnya kurang mampu menjangkau makna sebenamya yang hendak dituju. Sebagai akibatnya, timbul kemusykilan dan ketidakjelasan. Adapun yang dimaksud oleh Imam Al-Ghazali memang benar, begitu pula maksud yang dikehendakinya amat mulia, meski juga pelik. Seperti itu pula yang dapat dikatakan mengenai masalah-masalah pelik lainnya. Jika seorang 'alim yang 'arif hendak menyampaikan pemahamannya kepada siapa yang bukan ahlinya, masalah tersebut akan bertambah tidak jelas dan musykil, dan jadilah si 'alim sasaran kecaman orang-orang yang tidak termasuk ahli dalam ilmu tersebut atau kurang mantap pijakan keilmuannya.

Ketahuilah pula bahwa dalam kewujudan alam ini, seperti apa adanya, terkandung berbagai petunjuk mengenai nama-nama Allah (al-asma' al-husna) dan sifat-sifat-Nya yang pengetahuan tentang itu semua tidak akan sempuma kecuali dengan keberadaan alam seperti keadaannya kini. Cahaya, sebagai contoh, tidak mungkin dikenali dengan selayaknya kecuali dengan sesuatu yang berlawanan dengannya, yakni kegelapan. Kebaikan, tidak mungkin dikenali kecuali dengan lawannya, yakni kejahatan. Demikian pula tentang perbaikan dan perusakan, manfaat dan mudarat, sehat dan sakit, dan segala sesuatu lainnya yang saling berlawanan dan berlainan.

Perhatikan baik-baik uraian kami dalam pasal ini. Sebab, ia termasuk di antara hikmah yang tinggi dan hakikat nan lembut, yang untuk menjelaskannya secara sempurna membutuhkan ucapan yang banyak dan uraian yang panjang. Sungguh Allah mengetahui yang benar dan menunjuki jalan yang lurus.

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

Keterangan:
1. Bashirah ; akal, mata hati, kesadaran batin .
2. Wujud ; adanya sesuatu, sesuatu yang berupa, eksistensi.
3. 'Atsar ; peninggalan, bekas. Yang dimaksudkan disini, ucapan dari Nabi Saw, para sahabat atau ulama dan hukama pada masa lalu.
4. Tadbir ; pengaturan.
5. Maujud ; benar-bener ada, sesuatu yang nyata.

 [Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
Orang-orang yang angkuh ataupun yang lengah (ghaflah) dipalingkan dari ayat-ayat kekuasaan dan kebesaran Allah, pemahaman rahasia-Nya, serta penyaksian cahaya-cahaya-Nya sebagaimana dalam firman-Nya:

Akan Kupalingkan dari ayat-ayat-Ku (tanda-tanda kekuasaanKu) orang yang menyombongkan diri tanpa alasan haqq (yang dibenarkan) di muka bumi, dan sekalipun mereka melihat semua ayat itu, mereka tiada juga percaya. Dan, sekalipun mereka melihat jalan kebenaran, mereka tiada juga menempuhnya. Tetapi, jika mereka melihat jalan kesesatan, akan mereka tempuh dengan menganggapnya sebagai jalan kebenaran. Sebabnya adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan lalai terhadapnya.” (QS Al-A’raf [7]: 146)

Demikianlah Allah Swt. melukiskan orang-orang yang angkuh dengan berbagai sifat tercela, antara lain kelalaian akan ayat-ayatNya yang membuat mereka dipalingkan dari kebenaran karena keangkuhan dan kelalaian mereka sendiri. Keangkuhan dan kelalaian termasuk di antara penyakit yang mengakibatkan ketidakmampuan memahami ayat-ayat Allah selama si penderita belum bangkit dari kelalaiannya dan sembuh dari penyakitnya. Bagaimana mungkin orang yang selalu takabur dapat memahami ayat-ayat Allah, sedangkan kecongkakannya melangit, tak bersedia merendah bagi kebenaran dan ahlinya, dan karena itu hatinya dikunci mati oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya:
“Demikianlah Allah mengunci mata hati setiap hati orang yang takabur lagi menyalahgunakan kekuasaan.” (QS Al-Mu'min [40]:35)

Demikian pula orang yang lalai. Sebab, kelalaiannya telah memalingkan hatinya dari pemahaman akan ayat-ayat Tuhannya dan menjadikan dirinya membelakangi kebenaran serta berpaling menjauhkan diri dari Allah Swt. Oleh sebab itu, Allah Swt. memerintahkan Nabi-Nya agar menjauhi orang yang berpaling seperti dalam firman-Nya:
“Karena itu, jauhilah orang yang berpaling dari peringatan Kami dan hanya menginginkan kehidupan duniawi.” (QS Al-Najm [53]: 29)

dan juga firman-Nya:
Janganlah turuti orang yang hatinya Kami biarkan lalai mengingat Kami. (QS Al-Kahfi [18]: 28)

Maka, waspadalah dan jauhkanlah dirimu sejauh-jauhnya dari sifat takabur. Sebab, ia adalah penyakit yang menimpa iblis sehingga mencegahnya dari menaati Allah ketika diperintahkan untuk bersujud kepada Adam a.s. Bahkan, ia berani membangkang dan bertakabur. Dan, dengan ketakaburan dan pembangkangannya itu, patutlah ia terhinakan, terkutuk, dan terusir dari rahmat Allah serta terjerumus dalam nestapa abadi. (Semoga Allah mengaruniai kita keselamatan dari segala bala’ dan penyakit.)

Waspadalah pula agar kita tidak berlalai-lalai, lupa akan Allah, sebutan nama-Nya, dan kehidupan akhirat. Sebab, kelalaian termasuk di antara penyebab terbesar kehancuran yang mendatangkan berbagai ragam kejahatan dan penderitaan di dunia dan akhirat.

Sungguh orang yang tiada mengharapkan pertemuan dengan Kami tetapi senang dan puas dengan kehidupan di dunia dan tiada memerhatikan ayat-ayat kami, merekalah yang tempat tinggalnya api neraka disebabkan apa yang mereka lakukan.” (QS Yunus [10]: 7-8)

Mereka mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia dan tentang akhirat mereka dada peduli.” (QS Al-Rum [30]: 7)

Perhatikan, betapa Allah Swt. meniadakan ilmu pengetahuan pada diri mereka. Padahal, sesudah itu Dia menyatakan bahwa mereka "memiliki ilmu tentang kehidupan duniawi". Kemudian, Dia menutup keterangan-Nya itu dengan melukiskan mereka sebagai orang-orang yang melalaikan akhirat.

Ketahuilah ini dan camkanlah baik-baik. Hanya Allah yang memberi taufik, tiada tuhan selain Dia.

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

 [Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]

Penyakit-penyakit hati lebih mengganggu dan lebih berbahaya, lebih parah dan lebih buruk daripada penyakit-penyakit tubuh ditinjau dan berbagai segi dan arah. Yang paling merugikan dan paling besar bahayanya ialah karena penyakit hati mendatangkan mudarat atas seseorang dalam agamanya, yaitu modal kebahagia di dunia dan di akhirat; dan bermudarat bagi akhiratnya, yaitu tempat kediaman yang baqa, kekal, dan abadi.

Adapun penyakit tubuh tidaklah mendatangkan mudarat atas seseorang kecuali di dunianya yang fana yang segera sima, serta tubuhnya yang menjadi sasaran penyakit akan hancur luluh dalam waktu yang cepat. Apalagi penyakit tubuh itu sebenarnya amat berfaedah bagi seseorang dalam agama dan akhiratnya. Sebab, Allah Swt. menyediakan pahala yang sangat besar bagi si penderita sakit, di samping banyak faedah dan manfaat lainnya yang segera ataupun pada waktu mendatang, sesuai dengan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadis tentang pahala yang disediakan pada penyakit dan bencana yang menimpa tubuh.
Kemudian, karena penyakit hati tidak terjangkau secara indriawi dan tidak menimbulkan rasa sakit, sulitlah ia diketahui dan ditemukan. Perhatian padanya amat sedikit dan daya upaya untuk mengobatinya pun lemah sekali, seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali.rhm, "Penyakit hati itu laksana penyakit sopak (belang) di wajah seseorang yang tak memiliki cermin. Jika ia diberi tahu orang lain pun, mungkin ia tak memercayainya. "

Selain itu, berbagai azab dan hukuman yang diancamkan atas diri seseorang sebagai akibat penyakit-penyakit hati, kelak di akhirat, adalah sesuatu yang sulit diterima oleh kaum yang lalai. Atau, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang masih lama sekali datangnya. Adakalanya mereka bahkan meragukannya. (Semoga Allah Swt. melindungi kita darinya.) Atau, berangan-angan akan diselamatkan darinya dengan berbagai harapan yang menipu, semata-mata karena terlalu "berani" kepada Allah. Sehingga, timbul khayalan kosong dengan mengira pasti akan memperoleh ampunan dan keselamatan meski tanpa berusaha untuk mem­perolehnya.

Disebabkan hal-hal seperti itu, banyak penyakit hati yang terus tersembunyi, bahkan makin kuat mencengkeram, sementara orang-orang yang lalai selalu teledor untuk mengobatinya se­hingga makin lama makin sulit diobati. Bahkan, adakalanya se­seorang dari mereka mengetahui bersemayamnya sesuatu penyakit di hatinya, tetapi ia tak peduli dan tak menghiraukannya.

Padahal, sekiranya ia mengetahui adanya suatu penyakit di tubuhnya ataupun seorang lain memberi tahunya tentang hal itu, pasti besar sekali perhatian yang ditujukan padanya. Ia akan menjadi sangat takut, lalu bersungguh-sungguh berdaya upaya untuk mengobatinya dengan mengerahkan apa Baja yang &pat dilakukannya. Sebab, seperti yang telah kami sebutkan, penyakit hati itu tak terjangkau secara indriawi dan tidak ada rasa sakit yang menyertainya segera. Juga, hukuman-hukuman yang diancamkan terhadap itu tak tampak, dan kalaupun ada, ia baru akan terwujud kelak setelah mati dan berada di akhirat. Sedang­kan, orang yang lalai menganggap maut dan segala yang datang sesudahnya sebagai sesuatu yang amat jauh. Padahal, sekiranya menggunakan akalnya dan keyakinannya, niscaya ia akan mengetahui bahwa maut adalah suatu perkara gaib yang paling cepat datangnya, seperti disabdakan oleh Rasulullah Saw. Dan, sebagaimana juga beliau pemah bersabda, "Surga itu lebih dekat kepada seorang
di antara kalian daripada tali sandalnya." Demikian pula neraka.

Penyakit hati sungguh banyak ragamnya. Yang paling ber­bahaya dan paling mudarat ialah kebimbangan dalam agama. (Semoga Allah Swt. melindungi kita darinya.) Selain itu, lemahnya keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, serta kediaman di akhirat. Juga, sifat riya' (ingin dipuji oleh manusia) dalam per­buatan kebajikan. Angkuh terhadap hamba-hamba Allah, bakhil, iri hati, dengki, curang, cinta akan dunia dan sangat ingin mem­pertahankan nya, panjang angan-angan (yang menyebabkan selalu menunda tobat), lupa akan maut, lalai akan akhirat, mengabaikan persiapan untuknya, serta berbagai macam penyakit hati lainnya.

Mengingat bahwa hati manusia tertutup dari perasaan indriawi, sedangkan penyakit-penyakit hati tidak disertai rasa sakit yang dapat dijangkau dengan alat-alat lahiriah, wajiblah atas manusia berakal, yang prihatin akan agamanya serta keselamatan akhiratnya, untuk sungguh-sungguh berusaha menyelidikinya sehingga ia dapat segera menangani dan mengobatinya sebelum maut datang mendadak dan ia pun menuju Tuhannya, laluberhadapan dengan-Nya dengan hati yang tidak sehat—yang karena itu ia akan merugi, binasa bersama dengan orang-orang yang binasa lainnya.

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

 [Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
Sebagian orang yang mencari kebenaran dan ber-suluk1 di jalan Allah adakalanya melihat banyaknya ragam ilmu, amal, dan jalan (thariqah) menuju Allah Swt. la menjadi bingung, mana yang harus dipilih dan jalan mana yang harus ditempuh.

Hal ini mungkin menyebabkannya tetap berhenti di tempatnya karena dilanda kebingungan. Oleh sebab itu, bagi siapa yang mengalami hal atau keadaan seperti itu atau yang serupa dengan itu, hendaknya ia berpikir dengan tenang. Apabila ia berada di bawah pengawasan seorang syaikh2 (guru) yang 'Alim, 'arif3, dan muhaqqiq4, wajiblah ia memilih dan mengandalkan apa yang diisyaratkan atau ditentukan oleh syaikhnya itu, baik dalam hal ilmu, amal, sikap, jalan, kepercayaan, ataupun urusan kehidupan. Demikian itu sudah cukup baginya.

Namun, apabila orang yang bersuluk tidak berada di bawah pengawasan seorang syaikh sama sekali, atau seorang syaikh yang tidak memiliki sifat-sifat seperti yang telah kami sebutkan, hendaknya ia mengetahui, pertama-tama, bahwa di antara berbagai ilmu dan amal, ada yang difardukan atas setiap individu, tidak bagi setiap orang. Yaitu, seperti ilmu tentang keimanan yang dapat membentengi akidah, atau ilmu keislaman, termasuk di dalamnya yang bersangkutan dengan thaharah5, shalat, puasa, dan sebagainya.

Hal-hal ini tidak boleh tidak harus diketahui dan diamalkan, apa pun yang terjadi. Jika telah selesai mencakup (mengetahui dan mengamalkan) itu semua, hendaknya ia memilih amal-amal, ilmu-ilmu, cara-cara, dan aturan-aturan yang dianggapnya lebih sesuai untuk dirinya, lebih berkesan di hatinya, dan lebih dekat pada ridha Tuhannya. Yang demikian ini tidak akan tersembunyi baginya selama ia benar-benar tulus dalam tujuan, keinginan, serta pencariannya akan Tuhannya serta jalan keridhaan-Nya.
Di sini mereka yang bersuluk dan mencari kebenaran akan menjumpai perbedaan yang amat besar. Sebagian dari mereka cocok baginya ilmu yang ini dan sebagian lainnya cocok baginya ilmu yang lain pula. Demikian juga di bidang amalan; ada dari para pencari ini yang cocok dan sesuai baginya bersikap 'uzlah6 (menyendiri) agar dapat mencapai hasil, tetapi bagi yang lain justru tidak cocok baginya kecuali bergaul dengan khalayak. Ada yang tidak sesuai baginya kecuali mencegah diri dari segala usaha memperoleh kebutuhan hidupnya, sedangkan yang lain tidak sesuai baginya kecuali terjun dalam usaha tersebut. Begitu pula dalam persoalan perlunya bepergian jauh dan mengembara untuk memperoleh yang dicari atau tetap berdiam di tempatnya. Demikian itu berlaku seterusnya dalam berbagai ihwal dan persoalan yang berbeda-beda.

Apabila orang yang bersuluk itu telah memilih cara yang menurut pendapatnya paling sesuai, paling cocok, dan paling dekat pada keridhaan Tuhannya serta mendatangkan anugerah dari-Nya, tidak sepatutnya ia mengecam atau memusuhi cara yang berlainan dengan caranya sendiri atau jalan (thariqah8) yang berbeda dengan yang ia tempuh semata-mata karena itu bukan cara dan jalannya sendiri. Padahal, ia termasuk di antara cara dan jalan yang direstui dalam syariat dan dipersaksikan kebenarannya dalam Kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya. Sedangkan, Allah Swt. (bagi-Nya segala puji) telah menetapkan bagi tiap ilmu, orang-orang 'alim tertentu yang mengamalkannya ; bagi tiap jalan, orang-orang yang menempuhnya; dan bagi tiap kedudukan dan cara, orang-orang yang mendudukinya dan menjalaninya. Tidak akan cocok bagi mereka kecuali itu, dan tak akan mendapatkan ridhaNya kecuali dengan cara itu. Dalam hal itu terkandung suatu rahasia, bahkan banyak rahasia, dan banyak pula hikmah yang membutuhkan renungan yang panjang dan amat sulit dicapai kecuali oleh para ahli yang telah tercerahkan nuraninya dan tersucikan batinnya, yaitu orang-orang yang memandang dengan nur Allah Swt., yang mendalam ilmunya, yang di-kasyfkan7 baginya soal-soal ghaib dari hadirat Allah Swt.

Selain itu, seseorang yang bersuluk hendaknya memperhitungkan sekiranya ia setiap kali mempelajari dan mengkaji suatu ilmu, amal, jalan, dan keadaan yang bukan menjadi pegangannya, selalu merasakan kericuhan dalam hatinya serta kekalutan dalam suluknya itu, sebaiknya ia menghentikan pengkajiannya itu dan tak usah ia "menyinggahinya" sama sekali. Tetapi, sekiranya tidak merasakan kericuhan dan kekalutan dalam hal itu, tak apalah ia mengkajinya juga.

Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

Keterangan:
1. Suluk ; metode untuk menempuh jalan Illahiyyah, taqarrub(pendekatan) kepada Sang Khaliq SWT.
2. Syaikh ; menurut bahasa orang yang telah lanjut usianya, kemudian digunakan untuk menyebut seorang guru pembimbing ruhani, mursyid,yang telah mumpuni ilmunya dalam agama.
3. Muhaqqiq ; orang yang telah mencapai dan meyakini kebenaran (al-Haqq) hakiki.
4. 'Arif ; orang bijak yang memperoleh makrifat , yakni pengetahuan mendalam tentang Allah SWT dan alam semesta, atas perkenan Allah Swt dan sebagai anugerah khusus dari-Nya.
5. Thaharah ; Kesucian-kebersihan. Dalam istilah ilmu Fiqih berarti hal bersuci seperti wudhu, mandi janabat dsb.
6. 'Uzlah ; menyendiri, mengasingkan diri. Salah satu cara yang ditempuh dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah Swt.
7. Kasy ; penyingkapan hal-hal ghaib secara spiritual oleh Allah Swt bagi hamba yang dikehendakiNya.
8. Thariqah ; jalan. Kaum para ahli tasawuf memiliki metode cara-cara tersendiri dalam mencari kebenaran dan pendekatan kepada Allah Swt sesuai dengan pedoman Al-Qur'an dan Hadist, cara yang dipilih masing-masing jalan tersebut disebut Thariqah (Tarekat).

 [Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]
Orang yang paling besar ke-rohah-annya di dunia, terlampau gemar akan kesenangan dan kelezatannya, dan paling giat mengejar kemewahannya adalah juga (orang) yang paling besar kepayahannya dan kesulitannya, paling banyak menghadapi ancaman bahaya dan paling sering diliputi kerisauan, kegundahan, dan kesedihan. Sebagai contohnya, para raja dan hartawan.

Adapun seseorang yang paling sedikit merasakan ke-rohahan serta kelezatan duniawi dan paling sedikit kegemaran dalam mencari kemewahan adalah juga yang paling ringan kepayahan dan kesulitan yang dihadapinya, paling sedikit bahaya yang mengancamnya, dan paling sedikit kerisauan dan kegundahan yang dialaminya. Contohnya, kaum fakir miskin (yang sabar).
Hal itu disebabkan kelezatan kesenangannya, serta gejolak syahwatnya pada hakikatnya lebih banyak mengakibatkan kekeruhan hati, kesusahan, dan kegelisahan. Dan, bahwa orang yang bersaing, berebut, dan cemburu untuk mendapatkan kelezatan dunia sungguh amat banyak jumlahnya. Itu pulalah penyebab makin besarya kesulitan, bahaya, serta kegundahan yang dialami dalam upaya memperolehnya, menikmatinya, menjaganya, serta mengembangkannya. Dan, makin berlipat gandalah-bersamaan dengan itu-segala kesulitan, bahaya, kegelisahan, dan kegundahan hati dengan bertambah gencarnya pencarian dan memuncaknya kegemaran padanya.

Sebaliknya, makin lemah keinginan meraih kelezatan dunia dan makin redup kegemaran memperolehnya, makin sedikit pula kepayahan, bahaya, kegelisahan, dan kegundahan yang dialami. Itulah sebabnya Anda melihat para raja dan hartawan adalah orang-orang yang paling lelah hidupnya, paling banyak mengalami kegundahan dan keresahan, serta paling besar ancaman yang dihadapinya. Sehingga, mereka bersedia berjudi dengan nyawanya dan mengorbankan hidupnya demi meraih idaman hatinya dan memenuhi syahwat nafsunya atau demi menjaga miliknya dan mengembangkannya. Keadaan seperti itu dapat disaksikan dengan jelas oleh setiap orang yang menggunakan akalnya.

Adapun kaum fakir miskin, mereka itu adalah manusia yang paling sedikit kegundahan dan kegelisahannya disebabkan oleh sedikitnya tuntutan akan kelezatan dunia dan kemewahan hidup. Hal itu juga disebabkan oleh lemahnya keinginan mereka untuk meraih hal-hal tersebut, baik dengan cara sukarela, seperti keadaan para ahli zuhud, atau karena terpaksa seperti dalam keadaan kaum yang lemah. Yakni, orang-orang yang tidak membiarkan hati mereka membicarakan kehidupan duniawi yang berlebih-lebihan, dan karena itu tidak berkeinginan untuk meraihnya atau bersusah payah mempertahankannya. Sebagai akibatnya, sedikit pula kepayahan dan kegundahan yang mereka alami.

Ketahuilah bahwa orang yang hanya mencari kehidupan untuk hidupnya sehari, lebih sedikit kepayahan dan kegundahannya daripada yang mencari kecukupan untuk hidupnya serninggu. Orang yang mencari kecukupan untuk seminggu lebih sedikit kegundahannya daripada yang mencari kecukupan untuk sebulan. Dan, yang mencari kecukupan sebulan lebih sedikit kegundahannya daripada yang mencari kecukupan untuk setahun. Selanjutnya, orang yang mencari kecukupan untuk dirinya sendiri lebih sedikit kepayahan dan kegundahannya daripada yang mencari kecukupan untuk dirinya sendiri ditambah untuk orang lain. Makin banyak tuntutan hidup, makin besar pula kepayahan dan kesulitan serta kegundahan dan kegelisahan. Dengan demikian, kesenangan dan ke-rohah-an duniawi yang diperoleh seorang manusia, semuanya itu berada di atas sebuah lengan neraca, sedangkan kepayahan, bahaya, serta kegundahan yang dialami dan dideritanya berada di sebuah lengan neraca lainnya. Persis sama banyaknya, kendati ada kemungkinan salah satu dan keduanya sedikit lebih banyak atau lebih ringan. Manusia dalam hal ini memang agak berbeda antara yang satu dan lainnya.

Inilah yang diperoleh oleh kedua kelompok dalam kehidupan dunia. Adapun di akhirat kelak, masing-masing masih akan mengalami balasannya sendiri-sendiri. Para pencari kelezatan duniawi dan pengumbar syahwat hawa nafsu akan mengalami balasan yang berupa perhitungan, hukuman, dan malapetaka. Demikian pula kaum tak berpunya yang ikhlas, yang-di dunia ini-terhalang atau menahan diri dari kelezatan duniawi dan syahwat hawa nafsu. Mereka itu akan menerima balasan berupa kehormatan, kenikmatan, kejayaan, dan kesenangan. Semua itu telah dikenal dan masyhur dalam berbagai berita, dalam AlQuran dan hadis-hadis yang amat panjang sebutannya dan sangat sulit dicakup bilangannya.

Oleh sebab itu, jika Anda benar-benar menginginkan "kerohah-an sejati" dalam kehidupan dunia, Anda dapat memperolehnya dengan meninggalkan ke-rohah-an1 di dalamnya. Kepada seorang bijak bestari pernah diajukan pertanyaan, "Untuk siapakah akhirat itu?"
Jawabnya, "Untuk siapa yang mencarinya."
Ketika ditanyakan pula, "Untuk siapakah dunia itu?"
Jawabnya ialah, "Untuk siapa yang meninggalkannya."

Ibrahim bin Adham2 rahimahullah, pernah berkata kepada seorang miskin yang dilihatnya sedang murung, "Jangan risau dan jangan bersedih hati, kawan. Sekiranya para raja mengetahui ke-rohah-an yang sedang kita alami, niscaya mereka akan memerangi kita dengan pedang untuk merebutnya."
Adapun sebab Ibrahim bin Adham.rhm mengeluarkan dirinya dan kemewahan kehidupannya dan melepaskan kerajaannya yang fana ialah ketika pada suatu siang ia melongok dari istananya, dilihatnya seorang pengemis sedang berteduh di bawah dinding istana itu. Sang pengemis mengeluarkan sekerat roti dan buntelannya, lalu minum air dan selesai itu tidur dengan sangat lelapnya dalam bayang-bayang istana. Ibrahim bin Adham.rhm sangat terkesan dan kagum akan keadaan orang itu dan merasa iri atas ke-rohahannya. Ia memerintahkan seorang pengawal istana agar menghadapkan orang itu apabila ia telah terjaga. Ketika orang itu datang, Ibrahim berkata kepadanya, "Telah Anda makan roti itu dalam keadaan lapar, lalu merasa kenyang dengannya?"
"Ya," jawab orang itu.
"Dan, Anda telah tidur dan puas beristirahat?" "Ya," jawabnya lagi.
Mendengar itu, Ibrahim berkata kepada dirinya sendiri, "Jika nafsu manusia dapat merasakan kepuasan dengan sesuatu seperti ini, apa artinya kemewahan dunia ini bagiku?!"

Pada malam harinya, Ibrahim bin Adham keluar dan istananya, meninggalkan kebiasaan hidupnya sebelum itu, dan mencurahkan semua waktunya menuju Allah Swt. Maka, jadilah ia seorang tokoh sufi yang besar, yang kedudukannya dekat dengan Sang Pencipta SWT.

Dengan uraian di atas, Anda mengetahui bahwa kesenangan-kesenangan duniawi, kelezatan-kelezatannya, serta pengumbaran syahwat nafsu di dalamnya, semua itu mengundang kepayahan, bahaya, kegundahan, kerisauan, dan kesedihan. Makin besar yang "itu" makin besar pula yang "ini", dan makin patut seorang manusia menderita karenanya. Sebaliknya, makin sedikit kelezatan, ke-rohah-an, dan pengumbaran syahwat nafsu di dalamnya, makin sedikit pula kepayahan, bahaya, kegundahan dan kerisauannya, makin damai pula hati manusia karenanya. Di samping itu semua, masih ada lagi risiko dan konsekuensi di akhirat bagi mereka yang berfoya-foya di dunia. Dan, masih ada pula kemuliaan yang disediakan bagi siapa yang meninggalkan tuntutan hawa nafsu duniawi dan yangberpaling darinya, baik secara sukarela maupun karena terpaksa. Demikianlah, semuanya itu terang dan jelas bagi siapa raja yang memerhatikannya dan bersikap tulus terhadap dirinya sendiri.


Wa min Allah at taufiq hidayah wal inayah, wa bi hurmati Habib wa bi hurmati fatihah!!

Keterangan:
1. Ke-rohah-an, disini berarti bersantai bersenang-senang tak memikirkan akhirat. Adapun ke-rohaha-an sejati ialah kepuasaan hidup yang dirasakan oleh kaum 'Arifin..
2. Sayyid Syekh Ibrahim bin 'Adham (Abu Ishaq) dari Balakh, asalnya seorang pangeran lalu keluar meninggalkan istananya demi mencari kepuasaan batin dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Risalatul Murid, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra

Dorongan bathin untuk menuju ke jalan Allah, ketahuilah bahwa jalan yang pertama-tama harus ditempuh adalah mengeluarkan dorongan yang kuat dihati untuk berminat dan mengajak untuk menuju Allah Ta'ala dan menuju jalan ke Akherat, serta menomor duakan dunia, dari segala yang biasanya dikejar manusia kebanyakan.
Seperti mengumpulkan menumpuk kekayaan, bersenang-senang menurut hawa nafsunya, serta bermegah-megahan, dalam tindakan dan kemewahannya.
Dorongan ini merupakan rahasia-rahasia Tuhan yang dilimpahkan ke dalam hati hamba-Nya, itulah yang dikatakan inayah Tu han dan tanda-tanda petunjuk-Nya, sering inayah serupa di limpahkan ke dalam hati hambanya dikala dalam ketakutan atau menggembirakan atau timbulnya kerinduan terhadap Zat-Nya, ataupun ingin mengadakan pertemuan dengan para wali Allah, atau sewaktu mendapatkan nasehat atau pandangan dari mereka. Adakalanya dorongan tersebut tanpa ada sesuatu sebab tertentu
Adapun cita-cita untuk-mendapatkan dorongan serupa itu, memang diharuskan dan digalakkan. Akan tetapi bercita-cita saja tanpa berusaha untuk meningkatkan dan mendapatkannya, itu satu keputusan yang bodoh, yang menunjukkan orang yang berharap atau bercita-cita saja tanpa amal, sangat bodoh sekali, bukanlah Rasul pernah bersabda ;

Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan berbagai kelimpahan pada setiap manusia, maka hendaklah kamu menuntutnya.

Siapa yang telah mendapatkan penghargaan dari Allah Rabbul Alamin dengan dorongan yang Mulia ini, hendaklah ia menyediakan dirinya pada tempat yang sesuai. dan hendaklah ia tahu bahwa karunia Allah Ta'ala ini, adalah nilai yang paling tinggi di antara nikmat-nikmat yang lain. Dan tak dapat dinilai derajatnya, dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Kesyukuran atas nikmat-Nya, maka hendaklah melipatgandakan kesyukuran-mu terhadap Allah Ta'ala atas nikmat yang besar yang telah diberikan kepadamu. Dipilih dan diutamakan diantara orang-orang yang setaraf dengan rekan-rekan yang berjuang yang telah mendapatkan nikmat.
Sangat banyak orang-orang Islam yang sadar mencapai usia delapan puluh tahun atau lebih akan tetapi ia masih belum dikaruniakan dorongan serupa dan hatinya tidak pernah terketuk oleh rahasia bathinnya

Setiap murid harus rajin berusaha untuk meperkokoh, memelihara dan menuruti ajakan dorongan bathin tersebut. Cara untuk memperkokohnya ialah dengan memperbanyak mengingat Allah Ta'ala (dzikir), merenung dan memperhatikan segala kekuasaan Allah Ta'ala, dan senantiasa dekat dan berdampingan dengan wali Allah. Cara lain memeliharanya dengan menjauhkan diri dari berkumpul bersama-sama orang-orang yang tidak bermanfaat dalam agama, dan menjauhkan segala was-was dan tipu daya syaitan. Yang terakhir dengan cara menuruti ajakannya ialah berlomba-lomba kembali kejalan Allah, berlaku benar dalam menghadapi segala perintah-Nya, tidak bermalas-malasan dan tidak menunda-nunda serta tidak pula melambat-lambatkannya.

Bahkan apabila sampai pada masanya hendaklah ia menunaikan, dan apabila terbuka pintu kebajikan hendak­lah ia masuk tanpa banyak berpikir, dan apabila diseru untuk berbakti hendaklah bergegas, dan tidak tanggung-tanggung, hendaklah ia berhati-hati atas ucapan besok atau lusa, sebab yang demikian itu adalah hasutan syaitan. Malah hendaklah ia terus-menerus mengerjakan segala amal baik itu dengan segera, tidak ditangguh-tangguhkan atau mencari-cari alasan karena tidak ada waktu, atau belum masa­nya untuk beramal dan sebagainya.

Berkata Abur Robi' Rahimahullah, tujukan dirimu ke jalan Allah dalam keadaan tampan atau cacat diri, jangan sekali-kali menunggu waktu sehat saja, karena menunggu waktu sehat itu adalah merugikan.

Berkata Ibnu Atha' dalam kitabnya Al-Hikam menangguh-nangguhkan sesuatu pekerjaan sehingga ada peluang, menandakan kebodohan jiwa

 [Al-Fushul al-Ilmiyyah wa al-Ushul al-Hukmiyyah, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra]

Ada sebagian orang yang apabila dikatakan kepada mereka bahwa si fulan-yang termasuk anggota ahlul-bait (keluarga dan keturunan Rasulullah Saw)-melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari agama atau mencampurbaurkan antara yang halal dan haram, mereka lantas berkata, "Biarlah, ia adalah seorang dari ahlul-bait. Rasulullah Saw. pasti akan ber-syafa'at1 untuk anak-cucunya, dan mungkin pula dosa-dosa yang bagai¬manapun tak akan menjadi mudarat atas mereka." Sungguh ini adalah ucapan yang amat buruk, yang menimbulkan mudarat bagi si pembicara sendiri dan bagi orang lain yang tergolong kaum jahil. Betapa seseorang akan berkata seperti itu, sedangkan dalam Al-Quran, Kitab Allah yang mulia, terdapat petunjuk bahwa anggota keluarga Rasulullah Saw. dilipatgandakan bagi mereka pahala amal baiknya, demikian pula hukuman atas perbuatan buruknya, yaitu dalam firman Allah:

Hai istri-istri Nabi, barang siapa di antara kamu melakukan per¬buatan keji yang nyata, dilipatgandakan baginya siksaan dua kali lipat dan itu adalah mudah bagi Allah. Barang siapa di antara kamu tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal saleh, kepadanya Kami beri pahalanya dua kali dan Kami sediakan baginya rezeki yang melimpah. (QS Al-Ahzab [33] 30-31)

Istri-istri Rasulullah Saw. adalah bagian dari keluarga rumah tangga beliau. Oleh sebab itu, siapa saja yang mengatakan atau mengira bahwa meninggalkan perbuatan ketaatan atau mengerja¬kan kemaksiatan tak mendatangkan mudarat bagi seseorang disebabkan kemuliaan nasabnya atau karena kebaikan amal serta pekerti leluhumya, orang itu sesungguhnya telah membuat dusta keji tentang Allah Swt. serta menyalahi ijmaa' (kesepakatan) seluruh kaum Muslim.

Namun, ahlul-bait Rasulullah Saw. memang memiliki kemuliaan khusus, dan beliau pun telah menunjukkan perhatiannya yang amat besar kepada mereka. Pada masa hidupnya, beliau berulang-¬ulang mengimbau agar umatnya mencintai dan menyayangi mereka. Dengan itu pula, Allah Swt. telah memerintahkan dalam firman-Nya:
Katakanlah wahai Muhammad, "Tiada aku minta suatu balasan melainkan kecintaanmu kepada kerabatku." (QS Al-Syura [42]: 23)


Oleh karena itu, sudah sepatutnya seluruh kaum Muslim me¬menuhi hati mereka dengan kecintaan dan kasih sayang kepada ahlul-bait serta menghormati dan memuliakan mereka, demi kekerabatan mereka dengan Rasulullah Saw, tanpa berlebih-¬lebihan dan sikap keterlaluan.

Selain itu, siapa saja dari kalangan ahlul-bait yang perilakunya menyamai atau hampir seperti perilaku salaf (leluhur) mereka yang saleh dan menempuh jalan mereka yang diridhai, maka ia adalah imam yang cahayanya dijadikan pelita penerang dan teladannya diikuti, seperti halnya para leluhur mereka yang berjalan di atas jalan hidayah. Sebab, dan merekalah imam-imam besar pada masa-¬masa lalu, seperti Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan dan Al-Husain (kedua cucu Rasulullah Saw). Juga, seperti Ja`far bin Abi Thalib (Al-Thayyar)2, Hamzah (Sayyid Al-Syuhada)3, demikian pula Abdullah bin 'Abbas dan ayahandanya, Al- Abbas(paman Nabi Saw), Imam Ali Zain Al-Abidin bin Husain4, Imam Muhammad Al-Baqir5 dan putranya, Imam Ja'far Al-Shadiq6 'alaihimus-salam, dan imam-imam lainnya dari ahlul-bait yang disucikan, dari yang terdahulu hingga keturunan mereka yang datang kemudian.

Adapun mereka yang berasal dari keluarga rumah tangga ahlul-bait ini, tetapi tidak menempuh jalan leluhur mereka yang disucikan, lalu mencampuradukkan antara yang baik dan buruk disebabkan kejahilannya, seyogianyalah mereka pun tetap dihormati sewajarnya, semata-mata disebabkan kekerabatan mereka dengan Nabi Saw. Namun, siapa saja yang memiliki ke¬ahlian atau kedudukan untuk memberi nasihat, hendaknya tidak segan-segan menasihati mereka dan mendesak agar mereka kembali menempuh jalan hidup para pendahulu mereka yang baik-baik, yang berilmu, beramal saleh, berakhlak mulia, dan ber¬perilaku luhur. Juga, menegaskan bahwa mereka sebenarnya lebih utama dan lebih patut berbuat seperti itu, dan bahwa ke¬muliaan nasab saja tak akan bermanfaat dan tak akan meninggikan derajat, selama mengabaikan ketakwaan, mencurahkan sepenuh perhatian pada dunia, meninggalkan amalan-amalan ketaatan, serta menistai diri dengan berbagai maksiat. Para ahli syair pun, apalagi para imam dan ulama, sering kali menandaskan makna ini seperti yang diucapkan seorang dari mereka:
Demi Allah, manusia hanyalah "putra" agamanya,
karenanya jangan meninggalkan takwa demi mengandalkan nasab.
Islam memuliakan Salman si orang Parsi,
sementara kemusyrikan menghempas Abu Lahab sang bangsawan.

Al-Mutanabbi berkata:
'Apabila jiwa sang bangsawan menyimpang dari leluhurnya, dada manfaat diperoleh walau tinggi kedudukannya."

Seorang penyair lain mengatakan:
Tiada berguna asal usul dari Hasyim, Bila jiwa dan semangatnya dari Bahilah.7

Pembicaraan tentang putra-putra para shalihin (di luar kalang¬an ahlul-bait) sama seperti pembicaraan tentang ahlui-bait juga. Maksudnya, siapa saja dari mereka yang menempuh jalan leluhur¬nya, maka ia pun seorang saleh seperti mereka, patut dimuliakan dan diharapkan barakah8-nya. Dan, siapa saja dari mereka yang menempuh jalan kejahilan dan kelengahan, hendaknya dinasihati dan dibimbing ke jalan kebenaran, juga dihormati sewajarnya, semata-mata demi mengingat para salafnya yang shalihin. Betapa tidak, sedangkan Allah Swt. telah berfirman tentang kedua orang anak kecil dan kebun peninggalan ayah mereka:
"Adapun tembok itu adalah kepunyaan dua anak muda yatim piatu di dalam kota; di bawah tembok itu ada harta kepunyaan keduanya dan ayah mereka seorang yang saleh. Maka, Tuhanmu ingin supaya mereka mencapai usia dewasa dan mengeluarkan hartanya sebagai rahmat dari Tuhanmu." (QS Al-Kahfi [18]:82)

Menurut sebagian ahli tafsir, ayah yang dimaksud dalam ayat ini ialah ayah mereka ketujuh dari silsilah ibu mereka. Kedua anak tersebut (berkat kesalehan ayah mereka) telah memperoleh penjagaan Allah dalam urusan duniawi mereka, apalagi-tentu¬nya-dalam urusan akhiramya.

Ketahuilah dan pahamilah. Letakkan segala sesuatu di tempatnya yang tepat dan berikan hak setiap orang kepadanya. Mintalah pertolongan Allah selalu, Anda akan beroleh kebaha¬giaan dan bimbingan. Sungguh, segala-galanya adalah milik Allah semata.

Post a Comment