Thursday, June 28, 2012

Kitab Ta'limul Muta'alim PASAL 5

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Tekun, Kontinuitas dan Minat 
(Bagian 1)

Penuntut ilmu harus benar-benar rajin dan tekun penuh semangat, bersungguh-sungguh secara kontinu, dan mempunyai minat atau cita-cita yang kuat. Hal ini telah diisyaratkan di dalam Al Qur'an sebagaimana firman Allah Ta'ala :

Artinya :
"Dan orang-orang yang berjihad uniuk (mencari keridlaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami." (QS. 29 Al Ankabut : 69).

Ayat tersebut mengandung maksud bahwa orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, maka Allah akan menunjukkan jalan memperoleh ilmu kepada mereka. Dalam pengertian ini dikatakan, bahwa siapa yang bersungguh-sungguh dan berusaha mencari sesuatu dengan baik maka pasti berhasil, siapa tekun pasti sukses, dan siapa yang mengetuk pintu terus-menerus tentu dibukakan dan dapat masuk. Demikian pula, dengan kadar susah payahmu maka cita-citamu pasti sukses dan berhasil.
Ada tiga unsur pokok untuk memperoleh kesuksesan dalam menekuni Ilmu dan Fiqih, yaitu :

1. Orang yang belajar.
2. Seorang guru yang mengajar.
3. Seorang ayah, jika ia masih hidup dan mengusahakan dengan sungguhsungguh agar anaknya berhasil memperoleh ilmu.



Artinya :
  • Bersungguh-sungguh itu dapat mendekatkan segala perkara yang jauh dan dapat membukakan segala pintu tertutup.
  • Kenyataan makhluk Allah yang susah payah ; adalah orang yang bercita-cita tinggi. Tetapi ia dicoba dengan kehidupan yang sempit.
  • Di antara bukti atas ketetapan dan ketentuan Allah, yaitu adanya orang pandai yang hidup sengsara dan orang idiot  yang bahagia hidupnya.
  • Tapi orang cerdik terhalang dari kekayaan ; keduanya merupakan perbedaan yang sangat berlawanan.

Kesungguhan dapat membukakan pintu tertutup, maksudnya pintu yang tertutup dan sulit membukanya. Orang idiot yang bahagia hidupnya karena kehendak Allah dan ketetapan-Nya. Sedangkan orang cerdik terhalang dari kekayaan tidak menunjukkan semuanya. Keduanya merupakan bukti yang berlawanan.

Artinya:

"Engkau mengharapkan menjadi seorang Faqih yang trampil bicara tetapi tidak mau bersusah payah, berarti seperti orang gila (sedangkan gila itu) bermacam-macam."

"Engkaupun tak dapat memperoleh harta benda tanpa membanting tulang ; apalagi kalau kamu menghendaki ilmu tak mau kesulitan."

Maksudnya, bahwa anda menginginkan menjadi seorang ahli Fiqih yang trampil berdiskusi membahas permasalahan tetapi tidak mau bersusah payah. Ini berarti termasuk satu macam dari gila, sebab gila itu bermacam-macam. Dan sesunguhnya keadaan ini dikatakan gila.
Semakin tinggi tuntutannya, maka semakin beratlah kepayahannya. Oleh karenanya siapa ingin memperoleh hasilnya tanpa bersusah payah, maka berarti dia seorang gila dan terpedaya.

Demikian pula untuk memperoleh harta tanpa mengalami kesulitan, adalah seperti halnya menginginkan berhasil memperoleh ilmu tanpa bersusah payah, maka tak akan terwujud. Jadi mencari harta tanpa kesulitan tidaklah mungkin, maka bagaimana ilmu dapat dihasilkan tanpa kesulitan ? Sedangkan ilmu merupakan perkara tertinggi dan termulia. Syekh Abu Thayib berkata dalam sebuah syair :



Artinya :

"Aku belum pernah melihat cacat manusia dengan cacat yang sebenarnya ; sebagaimana kekurangan orang-orang yang mampu dalam kesempurnaan, tapi meremehkannya. "

Maksud belum pernah melihat cacat manusia dengan cacat yang sebenarnya sebagaimana kekurangan orang-orang yang mampu dalam kesempurnaan tapi meremehkannya, yaitu belum pernah melihat orang-orang yang mestinya mampu untuk menyempurnakan sesuatu tetapi tidak menyempurnakannya, seperti orang-orang yang mampu menyempurnakan satu ilmu dari berbagai macam ilmu, andaikata mereka mau menyempurnakannya, tetapi mereka tidak menginginkannya. Hal inilah merupakan suatu cacat dari berbagai cacat yang belum pernah saya lihat seperti itu.

Penuntut ilmu harus berani bangun malam, sebagaimana dikatakan oleh seorang penya'ir :


  • BIQADRIL KADD I  TUKTASABUL  MA'AALI, FAMAN THALABAL 'ULAA SAHARAL LAYAALII.
  • TARUUMUL'IZZA TSUMMA TANAAMU LAILAN, YAGHUUSHUL BAHRA MAN THALABAL, LA-AALII
  • 'ULUWWUL KA'BI BIL HIMAMIL'AWAALI, WA 'IZZUL MAR-I FII SAHARIL LAYAALII.
  • TARAKTUN NAUMA RABBII FIL LAYAALII, LIAJLI RIDLAAKA YAA MAULAL MAWAALI.
  • WAMAN RAAMAL 'ULAA MIN GHAIRI KADDIN,
    ADLAA'AL 'UMRA FII THALABIL MUHAALI.
  • FAWAFFIQNII ILAA TAHSHIILI 'LMIN, WABALLIGHNII ILAA AQSHAL MA'AALII.

Artinya:
  • Dengan kadar kelelahan itu keluhuran dapat dicapai, maka siapa yang mencari keluhuran di waktu malam.
  • Engkau menginginkan kemuliaan tapi tidur terus di waktu malam; sedangkan orang mencari  mutiara harus berani tenggelam dalam lautan.
  • Pangkat yang tinggi dapat diraih dengan cita-cita yang tinggi ; ada pun kemuliaan seorang dapat diraih dengan berani bangun malam.
  • Ya Allah, aku tinggalkan tidur di waktu malam ; untuk mencari keridlaan-Mu wahai Tuhan sekalian manusia.
  • Siapa ingin memperoleh ketuhuran tanpa kelelahan ; ia sama halnya menyia-nyiakan umur untuk mencari perkara yang tidak mungkin.
  • Maka  tolonglah aku ya Allah, untuk  mensukseskan ilmu pengetahuan dan sampaikanlah padaku pada puncak ketinggian cita-cita.Tekun, Kontinuitas dan Minat 
    (Bagian 2)


    Maksudnya, bahwa dengan kadar kepenatan, kepayahan dan kesulitanmu itu maka kamu akan mencapai kedudukan yang tinggi. Dan bagi orang yang mencari kedudukan yang tinggi, maka ia harus membiasakan bangun malam. Sebab bangun malam merupakan kesulitan yang harus dipikul oleh penuntut ilmu dalam belajar.

    Engkau menginginkan kemuliaan tapi tidur terus di waktu malam. Maksudnya, engkau mencari kemuliaan, yakni kekuatan memenangkan ilmu dan lainnya lalu kamu tidur terus di waktu malam, maka hal itu menjadi terhalang. Sebab kemuliaan dalam menuntut ilmu dan yang lain dapat berhasil dengan rajin penuh kesungguhan belajar di tengah malam, dan pada waktu-waktu sepi dari keramaian terutama di waktu sahur. Sedangkan orang mencari mutiara harus berani tenggelam dalam lautan. Lafadh "Laaali" jamak dari "Lu-lu-ah" artinya mutiara. Maksudnya, siapa ingin menghasilkan kemuliaan ilmu maka ia harus berani tenggelam dalam lautan yang berat lalu mengeluarkan mutiara-mutira pengetahuan, sebagaimana orang yang mencari mutiara ia mesti tenggelam dalam lautan lalu mengeluarkan mutiara-mutiara.

    Pangkat yang tinggi sebagai ibarat tingginya kedudukan dan kemuliaan. Demikian sebagaimana disebutkan dalam Kamus. Oleh karenanya tingginya kemuliaan dapat sempurna dengan cita-cita yang tinggi, yakni dengan tujuan yang sempurna dan usaha yang bagus. Adapun kemuliaan seorang dapat diraih dengan berani bangun malam. Sebab dengan bangun malam, waktu-waktu sunyi yang biasanya disia-siakan untuk tidur itu dapat ditasarufkan untuk menghasilkan pengetahuan dan melaksanakan keta'atan. Maka berhasillah kemuliaan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

    Ya Allah, aku tinggalkan tidur di waktu malam ; untuk mencari keridlaan-Mu wahai Tuhan sekalian manusia. Maksudnya untuk mencari keridlaan Allah dengan melaksanakan keta'atan dan ibadah sepanjang malam.

    Siapa ingin memperoleh keluhuran tanpa kelelahan, maksudnya orang yang menginginkan mencari kedudukan yang tinggi tanpa bersusah payah; dia soma halnya menyia-nyiakan.umur untuk mencari perkara yang tidak mungkin.

    Maka tolonglah aku untuk menghasilkan ilmu, maksudnya jadikanlah aku dengan pertolongan-Mu ya Allah, untuk menghasilkan ilmu. Dan sampaikanlah padaku pada puncak ketinggian cita-cita. Maksudnya jadikanlah aku orang yang sukses meraih puncak ketinggian cita-cita.

    Dan dikatakan :
    Artinya :
    "Jadikanlah waktu malam itu sebagai kendaraanmu ; agar dapat sukses cita-citamu."


    Maksudnya, jadikanlah waktu malam itu sebagai onta, dan kendaraan agar cita-cita dan tujuanmu dapat tercapai. Sebagaimana onta jika kamu mengendarainya maka dapat menyampaikan tujuanmu. Demikian pula waktu malam, jika kamu mengadakan perjalanan di dalamnya dan kamu arahkan untuk menghasilkan kedudukan yang tinggi, maka kamu akan sampai padanya.
    Penulis kitab sepakat dengan sya'ir itu yang semakna dengan sya'irnya :


    Artinya :

    Siapa ingin mencakup segala rencananya ; maka gunakanlah waktu malamnya untuk mengejar rencananya.

    Sedikitkanlah makananmu agar dapat bangun di waktu malam ; jika engkau ingin mencapai kesempurnaan wahai sahabatku.

    Maksudnya, siapa ingin mengumpulkan segala rencana dan cita-citanya, maka gunakanlah waktu malamnya untuk mengejarnya. Dan untuk dapat bangun malam, maka biasakanlah makan sedikit. Sebab dengan menyedikitkan makan, maka bangun malam dapat terlaksana dan memperoleh bahagian kesempurnaan cita-citanya. Jadi, wahai para sahabat dan kawanku ! Jika anda ingin mencapai kesempurnaan ilmu, maka sedikidlah makanmu.

    Juga dikatakan, siapa yang bangun malam maka hatinya akan merasa senang dan bahagia di siang harinya. Penuntut ilmu harus belajar secara kontinu, terutama di permulaan dan akhir malam. Sebab waktu berkah, maka jangan sampai dilewatkan begitu saja. Penuntut ilmu jangan sampai menyia-nyiakannya, dan manfaatkanlah waktu-waktu itu untuk sibuk mempelajari ilmu. Di dalam sya'ir disebutkan :



    —    YAA THAALIBAL'ILMI BAASYIRIL WARI'A ; WAJANNIBIN NAUMA WAHDZARIS SYIBA'A.
    —    DAAWIM'ALAD DAASI LAA TUFAARIQUHU ; FAL 'ILMU BID DARSI QAAMA WARTAFA'A.

    Artinya :

    -    Wahai penuntut ilmu, lakukanlah wira'i ; jauhilah tidur dan hindarilah kenyang.
    -    Rutinkanlah dalam belajar, engkau jangan memisahkannya ; karena dengan belajar ilmu dapat berhasil dan semakin bertambah.


    Maksudnya, bahwa penuntut ilmu hendaknya memelihara diri dari yang haram dengan membiasakan wira'i, ia juga harus membiasakan tahan lapar dan menjauhi tidur. Sebab kondisi kenyang dan membiasakan tidur merupakan penghalang berhasilnya ilmu. Selain itu penuntut ilmu harus kontinu dalam belajar, karena ilmu dapat dihasilkan dan semakin bertambah dengan dipelajari. Tanga kontinuitas dalam belajar, maka ilmu tidak dapat berhasil. Disebutkan dalam sya'ir :


    Artinya :

    "Wahai penuntut ilmu biasakanlah wira'i ; pisahkanlah tidur dan tinggalkanlah kenyang."

    Wahai penuntut ilmu ! Bersungguh-sungguhlah dan rajinlah anda siang dan malam, karena keberhasilan ilmu itu dengan penuh kesungguhan dan mengulang-ulang. Sebab setiap sesuatu ada penyakitnya, dan penyakit ilmu adalah meninggalkan kesungguhan dan mengulang-ulang.

    Penuntut ilmu hendaknya dapat merebut dan mempergunakan masa mudanya untuk tekun belajar. Adapun masa muda adalah dari dua puluh sampai empat puluh tahun. Dimana permulaan masa muda itu mempunyai indera dan kecerdasan yang kuat untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Hal ini sebagaimana dikatakan dalam sya'ir :





    Artinya :

    Dengan kadar kelelahan kamu akan diberi apa yang kamu cari maka siapa mencari anugerah tentu tidak mau tidur di waktu malam.
    Maka gunakanlah kesempatan masa mudamu ; ingatlah bahwa masa mudamu tidak akan abadi.
    Maksudnya dengan kadar kesulitan itu kamu akan diberi apa yang kamu menuntutnya. Maka siapa yang menuntut anugerah kenikmatan dan cita-cita, ia tentu bangun malam dan sibuk mencarinya. Dan rebutlah kesempatan masa muda jangan menyia-nyiakannya, Sebab masa muda itu tidak akan abadi. Maka ia harus memeliharanya dan merebutkannya sebelum kehabisan kesempatan. Sebab kesempatan itu berjalan sebagai jalannya awan.

    Janganlah penuntut ilmu memperkosa atau memaksakan dirinya, dan jangan pula memperlemah dirinya sehingga tidak mau bertindak dan memutuskan aktifitas. Tetapi berbuatlah dalam menuntut ilmu dengan hati-hati. Karena berhati-hati itu merupakan modal pokok yang besar dalam segala perkara. Ajakan ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah saw. :


    Artinya:

    "Ingatlah, bahwa Agama (Islam) ini adalah kuat. Maka lakukanlah dalam agama dengan berhati-hati. Janganlah engkau menbenci dirimu karena ibadah kepada Allah Ta'ala. Sebab orang yang terputus kekuatannya, tidak dapat memusatkan tindakan di bumi dan tidak ada kendaraan yang dapat kekal."

    Nabi s.a.w. juga bersabda :


    Artinya :
    "Jiwamu adalah kendaraanmu, maka berhati-hatilah dengan kendaraan itu."
Post a Comment