Thursday, June 28, 2012

Kitab Ta'limul Muta'alim PASAL 4

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

PASAL IV
MENGAGUNGKAN ILMU DAN ULAMA
(Bagian 1)


Ketahuilah, bahwa penuntut ilmu hendaknya mengagungkan Ilmu dan Ulama (ahli ilmu) serta memuliakan dan menghormati guru. Tanpa demikian maka tidak akan memperoleh ilmu yang bermanfa'at. Sebagaimana dikatakan, bahwa kesuksesan cita-cita seseorang disebabkan ia sangat mengagungkan ilmu, ulama dan guru serta memuliakan dan menghormatinya. Sebaliknya, kegagalan seseorang dalam belajar itu karena tidak mau mengagungkan, memuliakan dan menghormatinya, bahkan meremehkannya.

Sementara Ulama mengatakan, bahwa menghormat itu lebih baik dari pada taat. Ketahuilah, bahwa manusia tidak akan kufur disebabkan berbuat kemaksiatan. Tetapi manusia dapat menjadi kufur lantaran tidak mau menghormat perintah Allah dan larangan-Nya dengan meremehkan dan menganggap ringan serta sepele.

Termasuk mengagungkan ilmu adalah mengagungkan guru. Pengertian ini dikuatkan dengan kata-kata Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah

Artinya :

"Aku tetap menjadi hamba seorang yang telah mengajarku sekalipun hanya satu huruf. Jika perlu ia menjualku, dan jika ia menginginkan aku menjadi budak dan tawanan akupun mau."


Maksudnya aku mau dijadikan budak dan tawanan untuk berkhidmat kepadanya dan melayaninya. Demikian inilah sebagai kesempurnaan di dalam mengagungkan. Sebagaimana Nabi s.a.w. pernah bersabda

Artinya :


"Siapa mengajar seorang hamba satu ayat dari Kitab Allah maka dia adalah tuannya."

Dalam mengagungkan guru itu saya pernah dibacakan sya'ir Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah :

Artinya :
Menurut pendapatku, bahwa hak seorang guru harus lebih diindahkan
melebihi seluruh hak, dan lebih wajib dijaga bagi setiap muslim.
— Sehingga sangat  layaklah sebagai tanda memuliakan guru ; andaikata ia diberi 1000 dirham karena mengajar satu huruf.

Maksudnya bahwa hak seorang guru merupakan hak yang harus dihormati melebihi seluruh hak, dimana setiap muslim wajib menjaganya, yaitu hak guru itu sangat wajib dijaga oleh setiap muslim. Sebab seorang yang mengajarmu satu huruf yang memang kamu butuhkan dalam soal agama, maka ia adalah ayahmu dalam agama. Dalam hal ini telah diriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. bahwasanya beliau bersabda :
Artinya :
"Sebaik-baik para bapak adalah orang yang telah mengajarmu."
Dalam hal ini pernah ditanyakan kepada Iskandar Zul Qarnain : "Mengapa engkau lebih banyak mengagungkan gurumu daripada ayahmu ?" Jawabnya : "Karena ayahku yang menurunkan aku dari langit ke bumi, sedangkan guruku yang mengangkat aku dari bumi ke langit." Ini mengandung maksud bahwa tergantungnya ruh pada badan dalam rahim para ibu adalah turunnya ruh dari alam malakut ke alam kerusakan bagi anak yang dilahirkan. Sedangkan guru Yang menyebabkan naiknya ruh manusia dari alam fana (rusak) ke alam baka (kekal) lantaran memberikan kesempurnaan berma'rifat kepada Tuhan.

Guruku Syekh AI Imam Sadiduddin As Syirazi berkata, bahwa guru-guru kami pernah memberikan keterangan : "Siapa yang menginginkan anaknya menjadi alim (Kyai atau Ulama), hendaknya mengagungkan, memuliakan dan memberikan sesuatu yang layak diberikan kepada para santri perantau ilmu yang mendalami Fiqih. Kalau anaknya tidak menjadi alim, maka insya Allah cucunya menjadi seorang yang alim." Dalam hal ini sekalipun yang diberikan itu hanya sedikit, karena mengagungkan dan memuliakan Ulama merupakan amal yang diterima dan berfaidah.

Di antara mengagungkan guru yang harus diperhatikan dan dilaksanakan oleh seorang murid atau santri hendaknya

1. Jangan berjalan di muka gurunya.
2. Jangan menduduki tempat duduk gurunya.
3. Jangan mendahului bicara di hadapan gurunya kecuali dengan izinnya.
4. Jangan banyak bicara di hadapan guru.
5. Jangan bertanya sesuatu yang membosankannya.
6. Jika berkunjung pada guru harus menjaga waktu, dan jika guru belum keluar maka jangan mengetuk-ngetuk pintu, tapi bersabarlah hingga guru itu keluar.
7. Selalu memohon keridlaannya.
8. Menjauhi hal-hal yang dapat menimbulkan kemarahan guru.
9. Melaksanakan perintah guru asal bukan perintah maksiat.
10. Menghormati dan memuliakan anak-anak, famili dan kerabat gurunya.

Guru kami Syaikhul Islam Burhanuddin pengarang kitab "Al Hidayah" pernah menceritakan : "Pada suatu hari datang para pemimpin dari Bukhara. Dia duduk di majlis pengajian. Di tengah-tengah majlis itu dia sesekali berdiri. Maka ditanyakan kepadanya, mengapa anda sesekali berdiri ? Jawabnya : "Sebab saya melihat putra guruku sedang bermain-main di jalanan bersama teman-temannya. Jika saya melihatnya lalu saya berdiri, karena saya mengagungkan guruku."

Al Qadli Imam Fahruddin Al Arsabandy seorang tokoh para pemimpin di Marwa. la sangat dihormati dan dimuliakan para raja pada zamannya. Lalu katanya : "Kesuksesan saya sebagai tokoh pemimpin dan mempunyai kedudukan dihormati para raja, adalah lantaran saya selalu mengagungkan dan menghormati guru saya. Sebab saya berkhidmat pada guru saya Syekh Al Qadli Imam Abu Yazid. Saya melayani dan memasakkan makanannya, tetapi saya tidak ikut memakannya. Dan khidmatku itu semata-mata mengagungkannya." Maksudnya bahwa khidmatku dan pekerjaanku memasakkan makanannya bukan karena untuk ikut makan dan ikut memanfa'atkan, Tetapi semata-mata karena mengagungkan dan memuliakan.

Pasal IV : Mengagungkan Ilmu dan Ulama (Bag. 2)

Syekh Imam Syamsul Aimmah Al Khulwany ketika di Bukhara pernah merantau keluar di sementara desa hingga beberapa hari. Selama di perantauan beliau banyak dikunjungi murid-muridnya, hanya Syekh Abu Bakar Az Zarnuji saja yang tidak sempat berkunjung menjenguknya. Setelah berjumpa, Syekh Al Khulwany bertanya kepadanya : "Mengapa engkau tidak menjengukku ?" Jawab Syekh Abu Bakar : "Saya sedang sibuk berkidmat pada ibuku." Kemudian kata beliau : "Kalau demikian engkau dikaruniai umur, tetapi tidak akan dikaruniai kelezatan belajar." Akhirnya kenyataan ini memang benar-benar dirasakannya, sebab ia berada di desa, dimana kelancaran belajar tidak dapat ia peroleh.

Maka siapa yang menyakitkan perasaan gurunya, ia akan terhalang dari keberkahan ilmu dan ilmunya tidak akan bermanfaat kecuali sedikit. Sebagaimana dinyatakan dalam sya'ir


Artinya :

—   Sesungguhnya  guru  dan  dokter itu tidak akan memberikan nasehat jika keduanya tidak dihormati.
—    Maka  sabarlah  merasakan  sakitmu jika engkau mengabaikan pemberi obat, dan terimalah kebodohanmu jika kamu mengabaikan guru.

Maksudnya, bahwa guru dan dokter tidak mau bertindak baik kepada pelajar dan orang sakit jika keduanya tidak dihormati. Sebab jika keduanya tidak dihormati maka keduanya tidak mau mengasihi kepada orang yang sakit dan pelajar, sehingga keduanya tidak mau memberi nasehat. Maka bersabarlah merasakan sakitmu jika engkau mengabaikan dokter dan jangan memaksakannya untuk mengobati. Demikian juga murid yang mengabaikan gurunya, maka harus mau menerima kebodohan karma dalam belajar tidak memberikan manfa'at dan tetap dalam kebodohan.

Diceritakan, bahwa seorang Khalifah Bagdad Harun Ar Rasyid pernah menyerahkan putranya kepada Syekh Ashmu'i seorang Syekh dari para Syekh Arab untuk mengajarkan ilmu dan kesopanan kepadanya. Kemudian pada suatu hari Khalifah melihat Syekh Ashmui berwudlu dan membasuh kaki, dimana putra Khalifah yang menuangkan airnya. Melihat demikian maka Khalifah menegurnya : "Wahai Syekh, anakku saya serahkan kepadamu untuk dididik ilmu dan kesopanan. Kenapa anakku tidak engkau suruh menuangkan air dengan tangan kanannya sedang tangan kirinya untuk menggosok kakimu?"
Termasuk mengagungkan ilmu adalah mengagungkan kitab dengan mentelaah dan membacanya. Maka sebaiknya cara mengagungkan kitab bagi penuntut ilmu hendaknya jangan memegang kitab kecuali dengan bersuci yaitu berwudlu. Hal ini dikuatkan, bahwa Syaikhul Imam Syamsul Aimmah Al Khulwany meriwayatkan : "Kesuksesan saya memperoleh ilmu ini, karena saya selalu mengagungkan ilmu, dan sekali-kali saya tidak memegang bendel kitab melainkan dalam keadaan bersuci."

Bahwasanya Syaikhul Imam Syamsul Aimmah As Sarkhasiy dalam kondisi sakit perut. Maka beliau berwudlu berkali-kali di waktu malam untuk belajar sampai 17 kali. Beliau tidak mengulangi belajar melainkan dalam keadaan bersuci sebagai mengagungkan ilmu. Sebab ilmu dan wudlu adalah cahaya. Maka akan bertambahlah cahaya ilmu lantaran berwudlu.

Termasuk mengagungkan ilmu yang wajib adalah, jangan memanjangkan (menarik) kaki pada kitab, meletakkan kitab tafsir di atas semua kitab, dan jangan menaruh sesuatu benda di atas kitab.

Guru kami Syaikhul Islam Burhanuddin meriwayatkan dari seorang guru dari para gurunya, bahwasanya ada salah seorang cendekia yang meletakkan tempat tinta di atas kitab. Seorang guru tadi melihatnya seraya menegurnya dengan bahasa Persi yang artinya : "Jika demikian tindakanmu, niscaya kamu tidak dapat memperoleh ilmu yang bermanfaat." Karena menganggap remeh dan rendah terhadap kitab. Seorang Guru Besar kami Qadli Fahrul Islam yang terkenal dengan nama Qadli Khan berkata : "Jika menaruh sesuatu di atas kitab itu tidak bermaksud meremehkan, maka tidak jadiapa. Tetapi sebaiknya jangan menaruh sesuatu benda di atas kitab."

Termasuk mengagungkan ilmu adalah memperindah tulisan dalam kitab. Jangan menulis terlalu kecil sehingga tidak jelas. Berilah sisa ruangan tepi halanan untuk catatan-catatan penting, kecuali bila darurat.

Imam Abu Hanifah pernah melihat seorang menulis dengan tulisan yang jelek sulit dibaca, maka beliau menegurnya : "Janganlah kamu memperjelek tulisanmu, sebab jika kamu hidup akan menyesal dan jika mi akan dicerca." Maksudnya jika kamu berumur panjang hingga lewat usia sedangkan penglihatanmu sudah lemah kamu tentu menyesal, karena kamu merasa sakit untuk membacanya.

Diceritakan dari Syekh Al Imam Majduddin As Sharakhiy bahwa ia berkata : "Aku sesali tulisanku yang terlalu kecil dan rucek padahal sudah kuanggap sempuma. Akupun menyesal karena tidak membandingkan kitab dan mencocokkannya dengan yang lain." Selama itu kami menyesal karena membawa dampak membahayakan diri kami, sehingga menjadi kendala setiap kami mentelaah untuk memahami maksudnya.

Sebaiknya kitab itu dibuat bendel kurasan yang terdiri empat lembaran, seperti aturan bendel kitab Abu Hanifah, agar mudah diangkat, diletakkan dan ditelaah. Dan sebaiknya jangan menulisi atau membubuhi sesuatu yang merah dalam kitab. Sebab hal itu merupakan perbuatan para Ahli Filsafat, dan bukan tuntunan para Ulama Salaf. Sebagian guru-guru kami ada yang membenci tulisan yang diselang-seling dengan merah. Barangkali kebencian ini karena berdampak seperti tersebut dan juga karena warnanya.

Termasuk mengagungkan ilmu lagi adalah mengagungkan dan menghormati teman-teman yang menemani dalam menuntut ilmu dan belajar serta siapa saja yang pernah mengajar yaitu guru. Kerinduan hati itu tercela, kecuali apabila hati itu rindu untuk mempelajari ilmu pengetahuan, yang dengan Sebab itu dapat menimbulkan kerinduan terhadap para guru dan kawan-kawannya dalam rangka mencari faidah dari mereka.

Sebaiknya penuntut ilmu hendaknya benar-benar memperhatikan Ilmu dan hikmah dengan mengagungkan dan memuliakan, sekalipun telah mendengar satu masalah dan satu kalimat itu 1000 (seribu) kali. Sebab telah diterangkan bahwa siapa yang tidak mau mengagungkannya setelah seribu kali, seperti mengagungkannya pada waktu pertama kali mendengar, maka ia tidak termasuk ahli ilmu. Sebab ilmu harus diagungkan dan dimuliakan dalam segala keadaan dan waktu tidak terbatas pada suatu waktu tertentu. Maka siapa berhenti dalam mengagungkan ilmu dalam sementara waktu tertentu dan tidak sampai pada puncak mengagungkan, dia tidak termasuk ahli ilmu. Sebab orang yang memperoleh kelezatan ilmu dan mengetahui potensinya serta kedudukannya, maka dia tidak dapat untuk tidak mengagungkannya.
Penuntut ilmu sebaiknya jangan sampai memilih vak-vak atau bidang Ilmu pengetahuan semaunya sendiri tanpa memusyawarahkan pada gurunya. Tetapi arahkanlah dan mintalah pertimbangan kepada guru. Sebab guru itu lebih berpengalaman dan telah sukses, dimana ia akan memilihkan bidang ilmu pada muridnya sesuai bakat dan kemampuannya masing-masing. Sebab bakat dan kemampuan itu berbeda-beda, ada yang cocoknya bidang
Diceritakan dari Syekh Al Imam Majduddin As Sharakhiy bahwa ia berkata : "Aku sesali tulisanku yang terlalu kecil dan rucek padahal sudah kuanggap sempuma. Akupun menyesal karena tidak membandingkan kitab dan mencocokkannya dengan yang lain." Selama itu kami menyesal karena membawa dampak membahayakan diri kami, sehingga menjadi kendala setiap kami mentelaah untuk memahami maksudnya.

Sebaiknya kitab itu dibuat bendel kurasan yang terdiri empat lembaran, seperti aturan bendel kitab Abu Hanifah, agar mudah diangkat, diletakkan dan ditelaah. Dan sebaiknya jangan menulisi atau membubuhi sesuatu yang merah dalam kitab. Sebab hal itu merupakan perbuatan para Ahli Filsafat, dan bukan tuntunan para Ulama Salaf. Sebagian guru-guru kami ada yang membenci tulisan yang diselang-seling dengan merah. Barangkali kebencian ini karena berdampak seperti tersebut dan juga karena warnanya.

Termasuk mengagungkan ilmu lagi adalah mengagungkan dan menghormati teman-teman yang menemani dalam menuntut ilmu dan belajar serta siapa saja yang pernah mengajar yaitu guru. Kerinduan hati itu tercela, kecuali apabila hati itu rindu untuk mempelajari ilmu pengetahuan, yang dengan Sebab itu dapat menimbulkan kerinduan terhadap para guru dan kawan-kawannya dalam rangka mencari faidah dari mereka.

Sebaiknya penuntut ilmu hendaknya benar-benar memperhatikan Ilmu dan hikmah dengan mengagungkan dan memuliakan, sekalipun telah mendengar satu masalah dan satu kalimat itu 1000 (seribu) kali. Sebab telah diterangkan bahwa siapa yang tidak mau mengagungkannya setelah seribu kali, seperti mengagungkannya pada waktu pertama kali mendengar, maka ia tidak termasuk ahli ilmu. Sebab ilmu harus diagungkan dan dimuliakan dalam segala keadaan dan waktu tidak terbatas pada suatu waktu tertentu. Maka siapa berhenti dalam mengagungkan ilmu dalam sementara waktu tertentu dan tidak sampai pada puncak mengagungkan, dia tidak termasuk ahli ilmu. Sebab orang yang memperoleh kelezatan ilmu dan mengetahui potensinya serta kedudukannya, maka dia tidak dapat untuk tidak mengagungkannya.

Penuntut ilmu sebaiknya jangan sampai memilih vak-vak atau bidang Ilmu pengetahuan semaunya sendiri tanpa memusyawarahkan pada gurunya. Tetapi arahkanlah dan mintalah pertimbangan kepada guru. Sebab guru itu lebih berpengalaman dan telah sukses, dimana ia akan memilihkan bidang ilmu pada muridnya sesuai bakat dan kemampuannya masing-masing. Sebab bakat dan kemampuan itu berbeda-beda, ada yang cocoknya bidang

Ilmu Fiqih, ada yang ilmu-ilmu Bahasa Arab dan yang lain. Maka guru pasti mengetahui bakat murid dan mengetahui berbagai macam ilmu yang cocok dengan bakat dan kemampuannya.

Syekh Al Imam Ustadz Syaikhul Islam Burhanuddin mengatakan "Para santri pada zaman dahulu dalam mememilih bidang ilmu sama menyerahkan pada gurunya. Sehingga cita-cita mereka dapat sukses dengan gemilang. Sedangkan pada masa sekarang, mereka memilih bidang-bidang ilmu pengetahuan menurut kehendaknya sendiri tanpa pertimbangan dan sepengertian guru. Maka kebanyakan cita-cita mereka untuk memperoleh ilmu dan Fiqih tidak berhasil. Sebab mereka tidak tahu Ilmu yang lebih bermanfaat bagi mereka dan ilmu mana yang lebih cocok dengan bakatnya. Maka mereka tidak mendapat petunjuk kepada apa yang dituntut.

Diriwayatkan, bahwa Muhammad bin Ismail AI Bukhari rahimahuIlahu Ta'ala pertama kali belajar Fiqih bab shalat kepada Syekh Muhammad bin Al Hasan yang masyhur dengan sebutan Imam Ar Rabbani dari madzhab Hanafi. Lalu Syekh Muhammad bin Al Hasan menyarankan kepada Muhammad bin Ismail seraya berkata : "Sebaiknya anda pindah dari sini dan belajarlah Ilmu Hadits." Hal ini karena beliau mengetahui, bahwa bakat Muhammad bin Ismail Al Bukhari itu Ilmu Hadits. Setelah ia menerima saran dari gurunya, ia segera pindah dan benar-benar menekuni serta mendalami Ilmu Hadits. Akhirnya terbuktilah bahwa ia, menjadi Ulama Besar Ahli Hadits, dan memperoleh peringkat pertama dari sekian ulama ahli hadits yang sangat populer dengan nama Imam Bukhari penyusun kitab Hadits Shahih Bukhari, yang mu'tabar di kalangan para manusia sesudah Kitabullah.

Janganlah duduk terlalu dekat dengan guru di waktu murid itu sedang belajar kecuali terpaksa. Tapi ambillah jarak duduk dengan guru sekira lengkung panah. Hal ini lebih dekat pada ta'dhim (mengagungkan). Penuntut ilmu hendaknya juga menghindari budi pekerti tercela menurut syara'. Sebab budi pekerti tercela itu ibarat anjing. Karena anjing itu dapat menyakiti orang yang menemaninya, demikian pula budi pekerti yang tercela dapat menyakiti dirinya dan orang yang menemaninya. Rasulullah s.a.w. benar-benar pernah bersabda :

Artinya :
"Malaikat tidak mau masuk rumah yang di dalamnya terdapat gambar atau anjing."

Maka siapa yang mempunyai akhlak tercela yang digambarkan seperti anjing secara maknawi, maka para malaikat merasa sakit dan lari dari orang itu serta tidak mau memasuki rumahnya. Padahal manusia dapat sukses memperoleh ilmu dengan perantaraan malaikat. Maksudnya bahwa keadaan manusia dalam belajar hanyalah dengan perantaraan bisikan malaikat. Maka jelaslah bahwa orang yang berbudi pekerti tercela dan hina, ia tidak akan memiliki keelokan ilmu.

Tentang budi pekerti tercela dapat anda ketahui dalam kitab Akhlak, dan kitab kami ini tidak akan memuat penjelasannya. Sebab tujuan pembukuan kitab ini sebagai penjelasan Metode Pengajaran dan Belajar. Sedangkan pembahasan akhlak adalah di luar tujuan ini. Terutama penuntut ilmu hendaknya menjauhi kesombongan, karena sombong termasuk budi pekerti tercela yang berbahaya, dan dengan kesombongan itu maka ilmu tidak dapat dihasilkan. Karma ilmu mengajak kepada tawadlu' (merendahkan diri) dan menolak takabur (sombong). Dalam sya'ir telah dikatakan :


Artinya :

"Ilmu adalah musuh orang yang sombong ; bagaikan banjir yang merusak tempat-tempat yang tinggi."

"Al Harbu" dengan arti "Al Aduwwu" yaitu "Musuh". Pengarang Kamus mengatakan : "Seorang diperangi adalah musuh yang dilawan." Dan yang dimaksud bahwa ilmu menjadi musuh terhadap orang yang sombong lagi angkuh.

Disebutkan pula dalam sya'ir
Artinya :

-    Segala kemuliaan dapat sukses karena karunia Allah bukan karena kesungguhan saja ; Maka apakah keagungan dapat diperoleh tanpa kesungguhan.
-    Banyak hamba yang menduduki kedudukan orang merdeka ; dan tidak sedikit orang merdeka menempati kedudukan hamba
.

"Al Jaddu" yang pertama dengan fathah jim-nya dengan makna "Al Bakhtu" artinya :keuntungan ; kemuliaan. Yang kedua dengan kasrah jimnya "Jiddin" maknanya "Al Jahdu" dan "As Sa'yu" yaitu : kesungguhan dan usaha. Maksudnya bahwa segala kemuliaan, keuntungan dan keagungan itu dengan karunia Allah Ta'ala yang disertai dengan kesungguhan usaha. Banyak para hamba yang menduduki kedudukan orang merdeka dalam martabat dan kemuliaannya dengan karunia Allah Ta'ala yang disertai kesungguhan dan usaha. Dan tidak sedikit orang merdeka yang menempati kedudukan hamba dalam kehinaannya karena tidak disertai usaha dan kesungguhan dari karunia Allah Ta'ala.
Post a Comment