Friday, June 29, 2012

Keagungan-Kekuasaan Allah Ta’ala

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله


‘ARSY (‘Arasy)
‘Arsy (عَرْش) adalah bentuk mashdar dari kata kerja ‘arasya – ya‘risyu – ‘arsyan (عَرَشَ يَعْرِشُ عَرْشًا) yang berarti “bangunan”, “singgasana”, “istana” atau “tahta”. Di dalam al-Quran, kata ‘arsy dan kata yang seasal dengan itu disebut 33 kali. Kata ‘arsy mempunyai banyak makna, tetapi pada umumnya yang dimaksudkan adalah “singgasana” atau “tahta Tuhan”.
Tentang pengertian ‘arsy (عَرْش), ulama memberikan penjelasan yang berbeda-beda. Rasyid Ridha dalam Tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ‘arsy (عَرْش) merupakan ”pusat pengendalian segala persoalan makhluk-Nya di alam semesta”. Penjelasan Rasyid Rida itu antara lain didasarkan pada S. Yunus (10): 3, “Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy (عَرْش = singgasana) untuk mengatur segala urusan.
Jalaluddin as-Suyuthi (pengarang tafsir Ad-Durr al-Mantsur fi Tafsir bi al-Ma’tsur) menjelaskan, berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Wahhab ibnu Munabbih bahwa Allah Swt. menciptakan ‘arsy (عَرْش) dan kursi (kedudukan) dari cahaya-Nya. ‘Arsy (عَرْش) itu melekat pada kursi. Para malaikat berada di tengah-tengah kursi tersebut. ‘Arsy (عَرْش) dikelilingi oleh empat buah sungai, yaitu: 1) sungai yang berisi cahaya yang berkilauan; 2) sungai yang bermuatan salju putih berkilauan; 3) sungai yang penuh dengan air; dan 4) sungai yang berisi api yang menyala kemerahan. Para malaikat berdiri di setiap sungai tersebut sambil bertasbih kepada Allah Swt. Di ‘arsy (عَرْش) juga terdapat lisan (bahasa) sebanyak bahasa makhluk di alam semesta. Setiap lisan bertasbih kepada Allah Swt. berdasarkan bahasa masing-masing.
Berbeda dengan pendapat as-Suyuti di atas, Abu asy-Syaikh berpendapat bahwa ‘arsy (عَرْش) itu diciptakan dari permata zamrud hijau, sedangkan tiang-tiang penopangnya dibuat dari permata yakut merah. Di ‘arsy (عَرْش) terdapat ribuan lisan (bahasa), sementara di bumi Allah menciptakan ribuan umat. Setiap umat bertasbih kepada Allah dengan bahasa ‘arsy (عَرْش). Pendapat ini berdasarkan hadis Rasulullah Saw. yang diterima Abu asy-Syaikh dari Hammad.
Lebih lanjut tentang asal-usul penciptaan ‘arsy (عَرْش), Abu asy-Syaikh juga meriwayatkan hadis dari asy-Sya‘bi yang menerangkan bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “‘Arsy (عَرْش) itu terbikin dari batu permata yakut merah. Kemudian, satu malaikat memandang kepada ‘arsy (عَرْش) dengan segala keagungan yang dimilikinya”. Lalu, Allah Swt. berfirman kepada malaikat tersebut, “Sesungguhnya Aku telah menjadikan engkau memiliki kekuatan yang sebanding dengan kekuatan 7.000 malaikat. Malaikat itu dianugerahi 70.000 sayap. Kemudian, Allah menyuruh malaikat itu terbang. Malaikat itu pun terbang dengan kekuatan dan sayap yang diberikan Allah ke arah mana saja yang dikehendaki Allah. Sesudah itu, malaikat tersebut berhenti dan memandang ke arah ‘arsy (عَرْش). Akan tetapi, ia merasakan seolah-olah ia tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya terbang semula. Hal ini memperlihatkan betapa besar dan luasnya ‘arsy (عَرْش) Allah itu.”
Gambaran fisik ‘arsy (عَرْش) merupakan hal yang gaib, yang tak seorang pun mampu mengetahuinya, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas di dalam riwayat Ibnu Abi Hatim. Ibnu Abbas berkata, “Tidak akan ada yang mampu mengetahui berapa besar ukuran ‘arsy (عَرْش), kecuali penciptanya semata-mata. Langit yang luas ini jika dibandingkan dengan luas ‘arsy (عَرْش) sama dengan perbandingan di antara luas sebuah kubah dan luas padang sahara.”


Keagungan-Kekuasaan Allah Ta’ala* dan Letak ‘Arsy (Tempat Alloh bersemayam / istiwa’)
beberapa dalil dari Al-Qur’an dan hadits yang menjelaskan keagungan dan kekuasaan Alloh Ta’ala, dengan maksud untuk menunjukkan bahwa hanya Alloh saja Tuhan yang berhak dengan segala macam ibadah yang dilakukan manusia dan hanya milik Alloh segala sifat kesempurnaan dan kemuliaan.
Firman Alloh Ta’ala (artinya):
“Dan mereka (orang-orang musyrik) tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat, dan semua langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya. Maha Suci dan Maha Tinggi Alloh dari segala perbuatan syirik mereka.” (Az-Zumar: 67)
‘Ibnu Mas’ud RadhiyAllohu ‘anhu menuturkan: “Salah seorang pendeta Yahudi datang kepada Rasululloh ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam dan berkata:
“Wahai Muhammad! Sesungguhnya kami menjumpai (dalam kitab suci kami) bahwa Alloh akan meletakkan langit di atas satu jari, pohon-pohon di atas satu jari, air di atas satu jari, tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari, maka Alloh berfirman: “Aku-lah Penguasa.” Tatkala mendengarnya, tersenyumlah Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam sehingga tampak gigi-gigi beliau, karena membenarkan ucapan pendeta Yahudi itu; kemudian beliau membacakan firman Alloh:
“Dan mereka tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang sebenar-benarnya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat…” dst.
Disebutkan dalam riwayat lain oleh Muslim:
“…gunung-gunung dan pohon-pohon di atas satu jari, kemudian digoncangkan-Nya dan berfirman: “Aku-lah Penguasa, Aku-lah Alloh“.”
Dan disebutkan dalam riwayat lain oleh Al-Bukhari:
“…meletakkan semua langit di atas satu jari, serta tanah di atas satu jari, dan seluruh makhluk di atas satu jari…” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar bahwa Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Alloh akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari kiamat lalu diambil dengan Tangan Kanan-Nya, dan berfirman: Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?” Kemudian Alloh menggulung ketujuh lapis bumi, lalu diambil dengan Tangan Kiri-Nya dan berfirman: “Aku-lah Penguasa; mana orang-orang yang berlaku lalim, mana orang-orang yang berlaku sombong?”.”
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas RadhiyAllohu ‘anhuma, ia berkata:
“Langit tujuh dan bumi tujuh di Telapak Tangan Alloh Ar-Rahman, tiada lain hanyalah bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di tangan seseorang di antara kamu.”
Ibnu Jarir berkata: “Yunus menuturkan kepadaku, dari Ibnu Wahb, dari Ibnu Zaid, dari bapaknya (Zaid bin Aslam), ia menuturkan: Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Ketujuh langit berada di Kursi, tiada lain hanyalah bagaikan tujuh keping dirham yang diletakkan di atas perisai.”
Ibnu Jarir berkata pula: “Dan Abu Dzar RadhiyAllohu ‘anhu menuturkan: Aku mendengar Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam:
“Kursi itu berada di ‘Arsy, tiada lain hanyalah bagaikan sebuah gelang besi yang dicampakkan di tengah padang pasir.”
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa ia menuturkan:
“Antara langit yang paling bawah dengan langit berikutnya jaraknya 500 tahun, dan diantara setiap langit jaraknya 500 tahun; antara langit yang ketujuh dengan kursi jaraknya 500 tahun; dan antara kursi dan samudra air jaraknya 500 tahun; sedang ‘Arsy berada di atas samudra air itu; dan Alloh berada di atas ‘Arsy tersebut, tidak tersembunyi bagi Alloh sesuatu apapun dari perbuatan kamu sekalian.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Mahdi dari Hamad bin Salamah, dari ‘Ashim, dari Zirr, dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud)
Dan diriwayatkan dengan lafadz seperti ini oleh Al-Mas’udi dari ‘Ashim dari Abu Wa’il dari ‘Abdullah, demikian dinyatakan Adz-Dzahaby Rahimahullah Ta’ala; lalu katanya: “Atsar tersebut diriwayatkan melalui beberapa jalan.”
Al-’Abbas bin ‘Abdul Muthallib RadhiyAllohu ‘anhu menuturkan Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Tahukah kamu sekalian berapa jarak antara langit dengan bumi?” Kami menjawab: “Alloh dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda: “Antara langit dan bumi jaraknya perjalanan 500 tahun, dan antara satu langit ke langit lainnya jaraknya perjalanan 500 tahun, sedang ketebalan masing-masing langit adalah perjalanan 500 tahun. Antara langit yang ketujuh dengan ‘Arsy ada samudra, dan antara dasar samudra itu dengan permukaannya seperti jarak antara langit dengan bumi. Alloh Ta’ala di atas itu semua dan tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu apapun dari perbuatan anak keturunan Adam.” (HR Abu Dawud dan Ahli Hadits lainnya)
Kandungan tulisan ini:
Tafsiran ayat tersebut di atas. Ayat ini menunjukkan keagungan dan kebesaran Alloh Ta’ala dan kecilnya seluruh makhluk dibandingkan dengan-Nya; menunjukkan pula bahwa siapa yang berbuat syirik, berarti tidak mengagungkan Alloh dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.
Pengetahuan-pengetahuan tentang sifat Alloh Ta’ala, sebagaimana terkandung dalam hadits pertama, masih dikenal di kalangan orang-orang Yahudi yang hidup pada zaman Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam. Mereka tidak mengingkarinya dan tidak menafsirkannya dengan tafsiran yang menyimpang dari kebenaran.
Ketika pendeta Yahudi itu menyebutkan pengetahuan tersebut kepada Nabi ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, beliau membenarkannya dan turunlah ayat Al-Qur’an menegaskannya.
Rasululloh Shallallohu ‘alaihi wa Sallam tersenyum tatkala mendengar pengetahuan yang agung ini disebutkan oleh pendeta Yahudi.
Disebutkan dengan tegas dalam hadits adanya dua tangan bagi Alloh, dan bahwa seluruh langit diletakkan di tangan kanan dan seluruh bumi diletakkan di tangan yang lain pada hari Kiamat nanti.
Dinyatakan dalam hadits bahwa tangan yang lain itu disebut tangan kiri.
Disebutkan keadaan orang-orang yang berlaku lalim dan berlaku sombong pada hari Kiamat.
Dijelaskan bahwa seluruh langit dan bumi di telapak tangan Alloh bagaikan sebutir biji sawi yang diletakkan di telapak tangan seseorang.
Besarnya (luasnya) kursi dibanding dengan langit.
Besarnya (luasnya) ‘Arsy dibandingkan dengan kursi.
‘Arsy bukanlah kursi, dan bukanlah samudra.
Jarak antara langit yang satu dengan langit yang lain perjalanan 500 tahun.
Jarak antara langit yang ke tujuh dengan kursi perjalanan 500 tahun.
Dan jarak antara kursi dengan samudra perjalanan 500 tahun.
‘Arsy, sebagaimana dinyatakan dalam hadits, berada di atas samudra tersebut.
Alloh ‘Azza wa Jalla berada di atas ‘Arsy.
Jarak antara langit dan bumi ini perjalanan 500 tahun.
Masing-masing langit tebalnya perjalanan 500 tahun.
Samudra yang berada di atas seluruh langit itu, antara dasar dan permukaannya, jauhnya perjalanan 500 tahun. Dan hanya Alloh Ta’ala yang Maha Mengetahui.
Segala puji hanya milik Alloh Rabb sekalian alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan Alloh kepada junjungan kita Nabi Muhammad ShallAllohu ‘alaihi wa Sallam, kepada keluarga dan para sahabatnya.
Dikutip dari buku: “Kitab Tauhid” karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Penerbit: Kantor Kerjasama Da’wah dan Bimbingan Islam, Riyadh 1418 H.

Allah di Atas Arsy

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu
Alquran, hadits shohih dan naluri serta cara berpikir yang sehat akan mendukung kenyataan bahwa Allah berada di atas Arsy.
Allah berfirman (yang artinya), “Allah yang maha pengasih itu ‘istiwa’ di atas Arsy” (Taha:4). Sebagaimana diterangkan dalam hadits Bukhary, para tabiin menafsirkan istiwa dengan naik dan meninggi.
Allah berfirman (yang artinya), “Apakah kamu merasa aman terhadap Yang di Langit? Dia akan menjugkir-balikkan bumi bersama kamu” (Al Mulk:16). Menurut Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu yang dimaksud dengan ‘Yang di langit’ adalah Allah seperti yang dituturkan dalam kitab tafsir Ibnul Jauzy.
Firman Allah (yang artinya), “Orang-orang takut kepada Tuhannya yang di atas mereka” (An Nahl:150).
Firman Allah tentang Nabi ‘Isa Alaihis Salam (yang artinya),”Tetapi Allah mengangkatnya kepada-Nya“(Annisa 150). Maksudnya Allah menaikkan nabi ‘Isa Alaihis Salam ke langit.
Allah berfirman (yang artinya), “Ialah Allah yang ada di langit-langit” (Al An’am:3). Ibnu Katsir mengomentari ayat ini sebagai berikut, “mufassirin sependapat bahwa kita tidak akan berkata seperti ucapan bahwa kita tidak akan berkata seperti perkataan Jahmiyah (golongan sesat) yang mengatakan bahwa Allah berada di setiap tempat. Mahasuci Allah dari ucapan mereka.”
Adapun firman Allah (yang artinya), “Dan Allah selalu bersamamu dimana kamu berada” (Al-Hadid:4). Yang dimaksud adalah Allah itu selalu bersama kita (pengawasan-Nya) dimana Allah mendengar dan melihat kita, seperti keterangan dalam tafsir Ibnu Katsir dan kitab Jalalain.
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam mi’raj ke langit ke tujuh dan berdialog dengan Allah serta diwajibkan untuk melakukan sholat 5 waktu (riwayat Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Kenapa kamu tidak mempercayaiku? Padahal aku ini dipercaya oleh Allah yang berada di atas langit” (Riwayat Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda (yang artinya), “Sayangilah orang-orang yang ada di bumi maka yang di langit(Allah) akan menyayangimu” (Riwayat Tirmidzi).
Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menanyai seorang budak wanita, “dimanakah Allah?“.Jawabnya,”Di langit !“. Rasulullah bertanya,” Siapa saya?“. Dijawab lagi, “Kamu Rasulullah“. Lalu Rasulullah bersabda, “merdekakanlah ia, karena dia seorang mukminah“.
Sabda Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam (yang artinya), “Arsy berada di atas, dan Allah berada di atas arsy. Allah mengetahui keadaan kamu.
Abu Bakar As Shidiq Radhiyallahu ‘Anhu berkata (yang artinya), “Barang siapa menyembah Allah maka Allah berada di langit,ia hidup dan tidak mati” (riwayat Imam Ad Darimy dalam Al Radd Alal Jahmiyah).

Abdullah bin Mubarak pernah ditanya (yang artinya), “Bagaimanakah kita mengetahui Tuhan kita?”. Maka Beliau Menjawab,”Tuhan kita di atas langit, di atas Arsy, berbeda dengan makhluk-Nya”. Maksudnya Dzat Allah berada di atas arsy, berbeda dan berpisah dengan makhluk-Nya, dan keadaannya di atas arsy tersebut tidak sama dengan makhluk.

Iman Abu Hanifah menulis kitab kecil berjudul “Sesungguhnya Allah itu di atas Arsy”. Beliau Rahimahullah menerangkan hal itu dalam kitabnya Al Ilm wal Muta’allim.
Orang yang sedang sholat selalu mengucapkan, “subhana Robbiyal ‘Ala…“. (maha suci Tuhanku Yang Maha Tinggi). Ketika berdoa ia juga mengangkat tagannya dan menengadahkan ke langit.
Anak kecil ketika ditanya dimana Allah, mereka akan segera menjawab berdasarkan naluri mereka bahwa Allah berada di langit.
Otak yang sehat juga mendukung kenyataan bahwa Allah berada di langit. Seandainya Allah berada di semua tempat (dimana-mana), niscaya Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam pernah menerangkan dan mengajarkan kepada para sahabatnya. Kalau Allah berada di SEGALA TEMPAT, berarti Allah juga berada di tempat-tampat yang najis dan kotor. Maha suci Allah dari semua anggapan itu.
dinukil dari buku “Rasailut Taujihat Al Islamiyah”

Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tiga golongan yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan ’Arsy-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu:
Orang yang tetap menyempurnakan wudhu’nya meskipun keadannya tidak menyenangkan;
Orang yang tetap berangkat ke masjid meskipun cuacanya gelap; dan
Orang yang senang memberi makan orang kelaparan.”
Post a Comment