Wednesday, June 27, 2012

Ismullahil A’zhom nama Allah ke 100

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
 

Ismullahil A’zhom nama Allah ke 100

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda:
“Sesungguhnya Allah s.w.t mempunyai 99 nama, iaitu seratus kurang satu, barangsiapa menghitungnya (menghafal seluruhnya) masuklah ia kedalam syurga” – Riwayat Bukhari

Mengenai apa-apa saja Ismul A’zhom itu para sahabat nabi dan ahli hadis memilki beberapa pendapat, yang mana satu dengan lainnya saling melengkapi.

Dasar-dasar dalil yang dapat dipetik adalah sebagai berikut:
Dari Abu Umamah Ra. yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dikatakan: “Ismullahil A’zhom, yaitu Nama Allah Yang Paling Agung yang apabila dibaca di dalam doa pasti akan dimustajabkan, terdapat dalam tiga tempat pada kitab suci Al Qur’anul Karim yaitu; Surat Al Baqarah, Surat Ali Imran dan Surat Thaha.” (HR. Ibnu Mardawih).
Ibnu Amr Hisyam, Khatib Kota Damaskus, mengatakan bahwa Ismul A’zhom yang ada pada surat Al Baqarah adalah: “Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…..” (QS. Al Baqarah: 255).
Sedangkan Ismul A’zhom yang berada pada surat Ali Imran adalah: “Alif… Lam…. Mim…. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Ali Imran; 1-2)
Adapun Ismul A’zhom yang berada pada surat Thaha adalah: “Dan tunduklah semua wajah kepada Tuhan yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya.” (QS. Thaha: 111).
Asma’ Allah Ya Hayyu Ya Qayyum masyhur dikenal sebagai Ismullahil A’zhom
Dalam tafsir Qurthubi ketika mentafsirkan Ayat Kursi, beliau menjelaskan bahwa Al Hayyu adalah Ismullahil A’zhom. Diriwayatkan bahwa Nabi Isa bin Maryam apabila ingin menghidupkan orang mati, maka beliau berdoa dengan menyebutkan nama ini dalam doanya: “Ya Hayyu Ya Qayyum”
Demikian juga dengan Ashif bin Burkhiya ketika beliau hendak mendatangkan singgasana Ratu Balqis ke hadapan Nabi Sulaiman As. beliau berdoa dengan menyebutkan: “Ya Hayyu Ya Qayyum.”
Juga Nabi Musa As. ketika ditanya oleh bani Israil tentang perkara Ismullahil A’zhom maka beliau berkata kepada mereka: “Aya Hayya Syaraahiya” (lafaz bahasa Ibrani) artinya dalam bahasa Arab adalah “Ya Hayyu Ya Qayyum” (lihat kitab Al Jami’u li Ahkami al Qur’ani, Imam Qurthubi jilid III halaman 259-260)
Dalam hadis yang lain dari Asma binti Yazid Ibnu as Sakan menceritakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda sehubungan dengan dua ayat berikut ini yaitu: “Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluknya…..” (QS. Al Baqarah: 255) dan “Alif… Lam…. Mim…. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.” (QS. Ali Imran; 1-2) Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda: ”Sesungguhnya di dalam kedua ayat di atas terdapat Ismullahil A’zhom, yaitu Asma Allah yang paling Agung” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud melalui jalur Musaddad, Imam Turmidzi melalui Ali Ibnu Kasrom dan Ibnu Majah melalui Abu Bakar Ibnu Abu Shaibah, Hasan Shahih).
Syaikh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengemukakan sebuah hadis yang lain; dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhuma telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam: “Nama Allah Yang Paling Agung, yaitu Ismullahil A’zhom, yang mana bila diucapkan dalam doa, niscaya dimustajabkan, doa itu berada dalam ayat ini bagian dari surat Ali Imran (pada ayat 26), Allah berfirman: “ Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Imam Thabrani, di dalamnya terdapat Jasar bin Farqad al Qishabi, Imam Bukhari menganggapnya tidak ada apa-apanya). Lihat Kitab Tafsir Ibnu Katsir Jilid II halaman 32.
Ternyata ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah di Indonesia telah terbiasa selama ratusan tahun mewiridkan ayat-ayat Ismullahil A’zhom setelah selesai shalat fardhu lima waktu, khususnya sholat Magrib dan shalat Shubuh, sebelum mengumandangkan doa.
Banyak orang yang terburu nafsu menuduh amalan mereka sebagai amalan bid’ah yang terlarang, hanya karena baru membaca satu-dua buku hasil tulisan Orang Timur Tengah yang anti dzikir dan anti doa. Padahal amalan para ulama tersebut justru sesuai dengan hadis-hadis Rasulullah dan dikutip dari kitab-kitab Ulama Besar yang sudah teruji pula kehebatannya.
Sudah semestinyalah kita berhati-hati terhadap orang-orang yang baru belajar agama, tapi sangat berani menghina Ulama-ulama Besar terdahulu. Semoga keterangan ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita umat akhir zaman ini.
 Dikutip dari Al-Qalad.
Post a Comment