Saturday, June 23, 2012

RAHASIA MAKRIFATULLAH KE 12 : KITAB 10 WASIAT IBN ARABI KEPADA PARA SALIK

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

RAHASIA MAKRIFATULLAH KE 12 : KITAB 10 WASIAT IBN ARABI KEPADA PARA SALIK



WASIAT SATU
Beriman kepada Allah Al-A’laa (Sang Maha Tinggi), dan tiada satu makhluk pun baik tampak maupun ghaib yang menyerupainya. Allah Sang Maha Sempurna, tiada kekurangan apa pun; Beriman kepada para utusan-Nya dan melaksanakan pesan-pesan kebenaran yang mereka bawa baik yang memiliki tafsir yang jelas maupun samar; Beriman kepada al-quran, aturan-aturan, dan keadilan Allah. Pernyataan-pernyataan yang dikemukakan oleh para orang suci dan ayat-ayat al-quran merupakan cara seorang pejalan untuk memahami Keindahan atribut (Nama, shifat, af’al) Allah.
Cintailah keluarga Allah, terimalah visi misi kebenaran mereka. Jangan berbicara dengan maksud untuk menyerang mereka. Jangan menghakimi seorangpun dari mereka. Pandanglah mereka dengan pandangan kesyukuran. Tunjukkan penerimaanmu kepada para nabi dan orang suci atas karakter yang membedakan kesempurnaan mereka satu sama lain sebagai seorang manusia, dan tempat-tempat suci mereka. Terima dan imani tingkah laku dan kata-kata para orang suci, bahkan jika kau tidak memahami maksud dari tingkah laku dan kata-kata mereka dan mukjizat-mukjizat yang menjadi atribut mereka.
Pandanglah keseluruhan ciptaan termasuk manusia dengan pandangan yang baik: terima, setujui, maafkan, layani, cintai. Berusahalah untuk menyesuaikan dirimu dengan dunia. Dengarkan kata hatimu. Bersihkan hatimu. Di dalam hati yang bersih, berdoalah selalu untuk saudara-saudara seimanmu. Tolong dan layani, sebanyak dan sesering yang kau mampu orang-orang yang mengalami kesengsaraan dan melarat dengan kemiskinan mereka dan para pejalan. Jangan mengharapkan keuntungan, imbalan sepadan, pemuliaan dan pemujaan atas pelayananmu kepada makhluk. Jika ada yang berterima kasih kepadamu, terimalah dengan penuh kerendahhatian. Adalah kewajibanmu untuk meringankan beban seseorang. Jika seseorang yang engkau tolong membalasmu dengan sesuatu yang menyakitkanmu, maka tunjukkanlah kesabaranmu dan bersabarlah. Ingatlah bahwa Allah beserta orang-orang yang sabar.
Qs. 2 : 153
 “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
Jangan habiskan kehidupanmu dengan sesuatu yang sia-sia tidak berguna dan tiada usaha keras untuk memperbaiki dirimu serta membuang waktumu tanpa melakukan hal apapun/ tidak bekerja/ menganggur. Sungguh, Pantulkan dan ingatlah Allah (dzikrullah), bacalah al-quran sang pembimbing menuju jalan yang terang. Tolonglah orang-orang untuk meninggalkan kejahatan dan serulah mereka untuk berbuat kebajikan. Perbaikilah hubungan silaturahim. Tolonglah orang-orang untuk menolong orang lainnya juga.
Bertemanlah dengan teman-teman yang benar; mereka yang akan memberikan dukungan kepadamu dalam sebuah perjalanan berjama’ah di atas kebenaran berdasarkan iman. Bersama teman-teman yang beriman, maka benih iman akan saling menumbuhkan sebuah pohon yang disirami oleh air dan saling mencahayai satu sama lainnya. Hati-hati berada bersama orang-orang yang tidak mencari kebenaran dan yang tidak mempedulikan pentingnya iman. Mereka adalah musuh dari kebenaran yang egkau yakini.

Carilah seorang guru sempurna/ sejati/ mursyid yang akan membimbingmu di atas Shirothol Mustaqiim. Dalam pencarianmu, jujurlah, karena kejujuran merupakan karakter utama seorang pejalan sejati. Dengan kejujuran dan penuh pencarian kebenaranmu, maka Tuhan akan memanifestasikan atribut (Nama, shifat, af’al)-Nya untuk membimbing perjalananmu dan akan membimbingmu untuk menemukan seorang guru yang sempurna/ sejati/ mursyid. Kejujuran dalam diri seorang pejalan bagaikan sebuah berkah dimana ketika ia ada, maka Allah akan menghancurkan setan-setan, setan dalam diri pejalan dan egonya melalui rasa dan perlakuan pelayanan yang besar kepada-Nya. Kejujuran bagaikan sebuah katalisator (pemercepat proses) yang akan mengganti kejahatan menjadi emas dan memurnikan segala sesuatu yang disentuh olehnya.[]


WASIAT DUA
Pastikan kehalalan dan kethoyyiban serta haqq semua hal kesenangan yang engkau pergunakan di dunia ini, termasuk makanan dan minuman yang masuk ke dalam mulutmu, karena merupakan pondasi dari ad-diin yang sedang engkau bangun.
Untuk menaikkan tingkat spiritualmu, dalam jejak-jejak pengajaran para nabi (assalaamu’alaykum warohmatullaahi wabarokaatuh), engkau harus menjadi cahaya – cahaya dalam pelbagai kebajikan, cahaya dalam perhatianmu terhadap perbaikan dunia. Tanda-tanda-Nya yang mampu engkau baca akan membimbingmu kepada orang-orang yang akan engkau ringankan bebannya, dan akan melindungimu dari menjadi beban bagi orang lain. Jangan pernah menjadi benalu maupun membiarkan orang lain untuk membawa beban-bebanmu. Ingatlah, jangan pernah menerima harta benda dan hadiah baik untuk dirimu sendiri, keluargamu, saudaramu, teman-temanmu, yang berasal dari orang-orang yang hatinya mati, tenggelam dalam tidur panjangnya.
Dalam apapun Yang Allah ijinkan bagimu untuk menjadi ‘makanan’mu, baik dalam sikap, perilaku, dan kata-kata, selalulah berada dalam takut kepada-Nya. Janganlah mencari kenyamanan dan kemewahan, khususnya jika kau tak pernah berusaha keras untuk meraih hal itu. Pencarian akan haqqnya sesuatu bagimu akan ditemukan dengan cara bekerja keras. Harta benda halal yang engkau peroleh harus dikeluarkan dengan haqq: jangan pelit dan boros, tetapi berada di antara keduanya.
Berhati-hatilah jika cinta dunia telah mengambil tempat di hatimu, karena ia akan menyempitkan hatimu, dan menjadi sulit luar biasa untuk mengeluarkan dan membuangnya jauh-jauh. Dunia ini sumber ujian; jangan mencari kenyamanan dan bermegah-megahan dengannya. Hal itu akan menciptakan lebih banyak kamar-kamar dalam hatimu dan akan menurunkan keinginan untuk beribadah.
Bersihkan dan jadikan indah sepanjang harimu sedari pagi hingga malam dengan mengabdi kepada Allah. Tuhan memintamu untuk menghadirkan Diri-Nya saat melaksanakan shalat lima waktu. Dengan shalatmu Dia memanggilmu, lima kali sehari, dan setiap jeda waktu shalat ke shalat berikutnya akan menjadi pengontrol perilakumu. Diharapkan, hanya sikap dan perilaku yang baik, tepat dan benarlah yang menjadi sikap dan perilaku seorang muslim.
Kebanyakan orang banyak mengeluh, mereka bekerja demi mencapai kenyamanan dalam tercukupinya makan – minum dan hasrat dunia mereka, dan pekerjaan mereka jadikan sebagai penjaga dan pelindung bagi keluarga mereka, mengambil banyak waktu, sibuk dengan urusan makan – minum, bukan pengabdian kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan benar adalah pekerjaan yang dilakukan dengan penuh perhatian dan menenggang rasa orang lain, dalam perilaku yang tepat benar, demi kesenangan Allah semata, yang, tentunya tidak lepas dari rasa mengabdi kepada-Nya.
Allah memberkahimu dengan pikiran, pengetahuan, pekerjaan, kekuatan, dan kesehatan. Semua kemuliaan dan kekuatan hanya bagi-Nya. Pergunakanlah optimal semua berkah-Nya bersama-sama untuk peraihan kebutuhan makan – minummu dalam waktu yang minimal. Jika memungkinkan, cukuplah bagimu hanya satu hari (dalam seminggu) untuk mencari penghasilan. Seorang Ahmad al-Sabti, seorang pangeran, anak dari Kalifah Harun al-Rasyid; beliau menggunakan optimal bakat-bakat, kekuatan, usaha keras terus-menerus pada hari Sabtu. Dengan satu hari dalam seminggu itu ia mampu menghidupi dirinya (menerima upah dari manusia) selama satu minggu. Beliau telah mendedikasikan keenam hari lainnya untuk hanya bekerja dan mengabdi kepada Allah, tanpa balasan apa-apa dari manusia.
Setelah shalat subuh, tetaplah duduk berdzikir atau merenung hingga terbit matahari. Setelah shalat ashar, tetaplah berdzikir dan merenungi Kehadiran-Nya hingga terbenam matahari. Dua waktu ini merupakan waktu yang penuh dengan pelimpahan kekuatan spiritual dan pencerahan. Jaga hatimu agar senantiasa terikat kuat kepada Allah dalam kerendahan hati dan sakinah.
Terdapat kebaikan dan nilai yang besar bagi siapa-siapa yang melaksanakan shalat sunnah sebanyak antara waktu siang dan sore, dan antara waktu sore dan malam. Lakukanlah shalat sunnah 2 rakaat sebelum dan 2 rakaat sesudah shalat dzuhur, 2 rakaat sebelum shalat ashar, 2 rakaat setelah shalat maghrib dan 2 rakaat setelah shalat isya. Lakukan 8 rakaat shalat tahajjud dan 3 rakaat shalat witr sebagai penutup malam. Al-Mutahajuddin adalah orang-orang yang berjaga sepanjang malam dengan mendzikiri-Nya. Mereka lah yang akan menemukan al-Haqq. “Malam-malamku penuh percakapan intim dengan Kekasih, sementara siang adalah tugasku ke manusia.”
Jangan tidur hingga engkau sendiri jatuh tertidur tak sanggup membuka mata lagi. Jangan makan hingga engkau merasakan lapar. Berpakaianlah sekedar untuk menutupi tubuhmu dan melindunginya dari dingin dan panas. Biasakanlah dirimu setiap harinya untuk membaca al-Quran. Bacalah dalam keadaan sebenar-benar menghormatinya. Bacalah dengan suara yang engkau sendiri mendengarkan apa yang engkau baca. Baca pelan-pelan, jangan tergesa-gesa, berpikirlah dalam-dalam tentang makna setiap kata yang engkau baca. Berharaplah berkah dan rahmat-Nya dalam setiap ayat yang engkau baca, yang akan membukakan tentang-mu dan Diri-Nya. Berhati-hatilah terhadap ayat-ayat peringatan, bertaubatlah, carilah perlindungan dan keselamatan di dalam Rahmat-Nya. Ketika engkau membaca ayat-ayat yang menggambarkan kualitas orang-orang mulia karena keimanannya yang sempurna benar, bandingkanlah dengan keadaanmu. Berterimakasih dan bersyukurlah kepada-Nya atas iman yang diberikan-Nya kepadamu, dan merasa malulah karena betapa jauh imanmu dari iman yang dimiliki oleh orang-orang mulia tersebut, jadi bentangkanlah harapanmu untuk menemukan karakter iman sempurna benar di dalam dirimu. Dan pada saat engkau membaca ayat-ayat tentang dosa-dosa yang dilakukan oleh orang-orang tak beriman dan para munafik yang menyembunyikan dan menyelewengkan kebenaran, pikirkanlah tentang apakah kau juga termasuk bagian dari diri mereka. Jika iya, berusaha keraslah untuk ke luar dari golongan tersebut, berusaha keras untuk tidak melakukan dosa, dan mengusir karakter mereka jauh-jauh. Jika engkau tidak termasuk ke dalam golongan mereka, carilah perlindungan di Dalam Allah, berterimakasih dan bersyukurlah kepada-Nya.
Apa-apa yang penting bagimu merupakan apa-apa yang harus benar-benar menjadi fokusmu setiap harinya; perhatikan benar-benar apa-apa yang masuk ke dalam pikiran dan hatimu. Berpikir tentang dan analisa pikiran-pikiran dan perasaan-perasaanmu. Berusaha keraslah untuk mengendalikan mereka. Sadarilah sebenar-benar sadar keinginan-keinginan dari egomu, pergunakan pengetahuan-pengetahuanmu untuk mengendalikan egomu.
Milikilah rasa bersalah, malulah di hadapan-Nya. Hal itu akan menjadi motivasimu untuk memperbaiki diri. Lalu engkau akan sebenar memperhatikan rasa, pikiran, perkataan, dan perbuatanmu. Pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang buruk bagimu dalam pandangan Allah tidak boleh tinggal menetap di dalam hatimu. Kemudian hatimu akan selamat dari segala sesuatu yang tidak tepat benar menurut-Nya.
Jadikan waktu-waktumu bernilai tinggi, hiduplah dalam kehari-inian. Jangan hidup dalam imajinasi dan angan-angan yang akan melemparkan waktumu jauh-jauh di luar angkasa. Setiap saatnya, Allah telah menunjukkan dan mengarahkanmu pada sebuah tugas, perbuatan, dan sebuah pengabdian yang sesuai dengan kesejatianmu. Ketahui dan kenalilah ‘apa’ itu dan bergegaslah melaksanakan ‘apa’ mu itu.
  • Pertama: lakukan perbuatan-perbuatan yang menjadi kewajibanmu.
  • Kedua: lakukan apa-apa yang dikatakan misalnya oleh para Nabi, utusan, dan orang suci lainnya.
  • Ketiga: ambil dan lakukanlah apapun yang dimudahkan-Nya bagimu, terimalah dengan baik. Bekerjalah untuk melayani orang-orang yang membutuhkan.
Lakukanlah segala hal di atas agar engkau semakin mendekati Tuhan-Mu, semakin besar pengabdianmu dan semakin khusyuk shalat, doa, dan dzikirmu. Selalu berperilaku seolah-seolah itu merupakan perilaku terakhirmu, selalu shalat seolah-olah merupakan shalat terakhirmu, dimana tiada lagi engkau memiliki kesempatan untuk melakukannya lagi setelahnya.
Jika engkau melakukan hal itu, maka engkau akan khusyuk dalam berperilaku, fokus pada pencarianmu, engkau pun akan menjadi orang yang jujur dan penuh iman. Allah tidak menerima perbuatan baik yang dilakukan tanpa kesadaran dan kejujuran. Lakukanlah perbuatan-perbuatan baik dengan penuh kesadaran dan kejujuran.
Kemurnian/ kebersihan/ kesucian hati merupakan aturan Allah, dan niscaya bagi seorang yang iman. Jagalah selalu kebersihan lahir bathinmu. Setiap selesai wudhu, shalatlah sebanyak 2 rakaat, kecuali pada waktu terbit matahari, matahari sedang tinggi, dan terbenam matahari.[]


WASIAT TIGA
Terpenting, dari apa yang engkau butuhkan adalah akhlak mulia, karakter dan perilaku yang tepat benar; kau harus mengidentifikasi bagian dirimu yang buruk dan menghilangkan keburukan itu. Hubunganmu dengan siapapun harus berdasarkan akhlak mulia – yang disesuaikan dengan situasi, kondisi, dan tipe kebutuhan tiap orang.
Barangsiapa yang menolak satu poin dari akhlak mulia, itu berarti dia masih memiliki karakter buruk. Setiap manusia diciptakan berbeda satu dengan lainnya. Level tiap orang berbeda. Karakter dan perilaku baik juga memiliki level yang berbeda. Perilaku bukanlah sebuah bentuk. Bukan juga dijalankan dalam cara yang sama pada setiap keadaan kepada setiap orang. Berperilakulah sesuai situasi dan kondisi, dan sesuai tipe kebutuhan orang dalam hubunganmu dengan seseorang atau kelompok. Indikator/ aturan perilaku baik itu adalah jika perilaku itu membawa kepada jalan keselamatan, kebenaran, kenyamanan, kedamaian, ketenangan, memberikan perlindungan, tiada menyakitkan lahir bathin dan tiada menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, bagi diri pribadi, dan sebisa mungkin bagi banyak orang, dimana dilakukan semata mengharapkan keridhoan Allah.
Bukankah manusia merupakan pelayan-Nya? Tiada sedikitpun bagian dari kehidupannya yang tidak bertujuankan Allah. Allah Satu-satunya Yang membatasinya. Kehendaknya, kebebasan pilihannya, dan takdirnya tertulis di dahinya, dimana Tangan Sang Kuasa berada di atas segala kehendak dan perilakunya. Allah lah tempat segala sesuatunya bergantung.
Hadits Nabi Muhammad saw.,
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat shaleh maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang zalim. “ (TQS.42:40)
Ayat al-quran di atas menyatakan bahwa ketika kita disakiti, kita boleh membalasnya dengan hal serupa atau membiarkannya saja dengan memberikan maaf, tidak membalas, sehingga kita nanti dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang dicintai, selamat, dan benar sebagai Janji Allah.
Salah satu dari poin akhlak yang baik adalah marah dan memberikan hukuman yang adil benar (‘adil bilhaqq) sesuai hukum agama. Kemarahan dan manifestasinya (hukuman dll) merupakan dosa besar jika dilakukan berdasarkan hawa nafsu pribadi. Pergunakan marah kepada seseorang yang menantang Allah. Merupakan hal terbaik memisahkan diri dari orang-orang yang tidak sekeyakinan denganmu, yang tidak berusaha melaksanakan syariat agama dan tidak berusaha melaksanakan kebenaran, dan yang menjelek-jelekkan iman dan agamamu. Tetapi, engkau tetap tidak boleh membalas mereka dengan menjelek-jelekkan mereka. Tugasmu adalah menghindari mereka, ke luar dari barisan/ perkumpulan mereka dan masukilah sekumpulan orang-orang beriman. Habiskan waktumu dengan berzikir, memuliakan Allah dan mengabdi kepada-Nya alih-alih menghabiskan banyak perdebatan dan kekesalan bersama mereka. Layani, rawat dengan baik orang-orang yang membutuhkanmu: para pekerjamu, anak-anakmu, istri atau suamimu, ibu dan ayahmu, sanak saudaramu, teman-temanmu, dan hewan peliharaanmu, juga tanamanmu. Allah memberikan mereka semua kepada tanganmu hari ini untuk mengujimu. Engkau berada dalam perawatan-Nya. Layani dan rawat mereka sebagaimana Engkau menginginkan Al-Ahad melayani dan merawatmu.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda,
“Segala ciptaan bergantung kepada Allah.”
Dia Allah memberikan amanah tanggungan berupa keluarga dll ke dalam tanganmu. Karena itu mengapa Rasul-Nya saw. berkata,
“Dia yang paling dicintai Allah adalah dia yang memberikan pelayanan dan perawatan terbaik kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya.”
Tunjukkan cinta, kasih sayang, kepekaan/ empati/ simpati, kemurahan hati, dan perlindungan kepada orang-orang yang berada dalam tanggunganmu. Jika engkau sebenar mengharapkan cinta kasih sayang Allah dan perlindungan-Nya, ingatlah bahwa sepenuhnya engkau bergantung kepada-Nya Al-Ahad, Tuhan dan Pemilik jagat raya dan seisinya.
Ajarkan kata-kata Allah yang terdapat dalam kitab suci-Nya dan akhlak mulia kepada anak-anakmu. Buatlah kondisi pengajaran yang menyenangkan agar mereka dapat mempelajarinya dengan baik.
Lakukan itu tanpa mengharapkan balasan apapun dari mereka.
Pertama : ajarkan kehati-hatian/ kewaspadaan, kesabaran, berpikir yang benar.
Kedua : hati-hati jangan sampai menempatkan cinta dunia di dalam hati mereka.
Ketiga: ajari mereka untuk tidak menyukai sesuatu yang dapat menumbuhkan kebanggaan: barang mewah, pakaian bagus, makanan lezat dan minuman enak, obsesi, ambisi; Biarkan anak-anakmu mendapatkan hal pertentangan dari semua itu. Patahkan keinginan-keinginan mereka. Sesungguhnya semua hal itu akan menggiring kepada akhlak yang buruk. Sadarilah sebenar sadari hal ini. Sederhanalah, karena Kesederhanaan akan menjauhkanmu dan anak-anakmu dari akhlak yang buruk dan mendekatkan kepada akhlak mulia. Sederhanalah, lakukan dengan sebenar khusyuk dan mendekatlah kepada Allah dengan jalan-jalan ad-diin (al-iman, al-islam, al-ihsan).
Jangan berdekatan dengan mereka yang tidak mencari Allah, mereka yang menjadi budak dari keinginan-keinginan (hawa-nya nafs) dan syahwat mereka. Hati mereka jauh dari cahaya kebenaran dan mereka dilemparkan masuk ke dalam lubang kegelapan nyata, sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada hati mereka. Jika engkau sedang berada bersama mereka, hadapi mereka dengan baik dan berilah nasihat seperlunya. Jika mereka malah menyakitimu, hal itu dikarenakan mereka tidak mengerti. Jangan membalas mereka kembali. Bagaimanapun bentuk perlakuan mereka kepadamu, sesakit apapun yang mereka berikan, tetaplah engkau berperilaku baik. Hingga kemudian saatnya nanti mereka pun menjadi suka dan menghormatimu, dan barangkali pada suatu saat nanti mereka yang tadinya menyerangmu malah mengikutimu.
Jangan pernah merasa puas dengan tingkat spiritualmu; mikraj-lah terus. Mikrajlah dengan penuh kehati-hatian, tanpa pernah berhenti. Melalui shalat yang sebenar ditujukan bagi Allah, Al-Haqq, akan membawamu kepada suatu keadaan yang akan memperkokoh kedirianmu. Dalam setiap tingkatan, dalam setiap pergerakan/ perjalanan, sedang melakukan sesuatu atau diam, selalulah jujur dan penuh iman. Selalulah bersama Al-Haqq. Jangan pernah sekalipun melupakan-Nya. Rasakanlah Kehadirannya, selalu.[]

.WASIAT EMPAT
Belajarlah untuk memberi, baik ketika engkau sedang lapang maupun sempit, sedang bahagia maupun berduka. Berusahalah untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan. Hal itu akan membuktikan keimananmu kepada Allah. Akan membuktikan bahwa Allah memang telah menetapkan rezeki tiap orang dan penetapan tersebut tidak akan tertukar.
Seorang kikir adalah seorang pengecut. Setan terkutuk berbisik di dalam telinganya bahwa kematianmu masih lama; bahwa dunia ini penuh musuh dimana jika engkau memberi, maka engkau akan menjadi miskin, tidak dihargai dan dihormati orang, dan sendirian; adalah suatu kebodohan memberi banyak kepada orang lain, karena tiada seorangpun tahu apa yang akan terjadi esok hari. Pada seorang berkeadaan sempit, setan mengatakan padanya bahwa ia akan semakin miskin jika memberi kepada orang lain. Tidak ada yang akan menolongnya, dan ia mungkin hanya akan menjadi beban bagi orang lain dan dibenci pula. Kalau begitu ia harus menjaga dirinya sendiri dari kemungkinan menjadi lebih miskin. Jika bisikan-bisikan setan menawan hatinya, maka ia akan digiring ke tepian api neraka. Sebaliknya, seseorang yang membuka telinganya kepada bisikan-bisikan Allah adalah seseorang yang sedang mendengarkan kata-kata yang penuh berkah, yang menjadikan Allah sebagai pelindungnya.
“Atau patutkah mereka mengambil pelindung-pelindung selain Allah? Maka Allah, Dialah pelindung (yang sebenarnya) dan Dia menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia adalah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (TQS.42:9)
“Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini.” (TQS.47:38)
Makna ayat di atas: setelah diajak, diajari, dan dibawa kepada jalan iman, jika engkau mulai atau masih terus menjadi kikir, maka engkau akan kehilangan kedudukanmu, tingkatanmu, dan kasih sayang Allah. Sebaliknya, bagi siapa yang pemurah dan yakin di dalam kepemurahan Allah, akan di bawa kepada kedudukan yang kokoh.
Seseorang yang kikir tidak memahami maksud dari ancaman-ancaman Allah.
“Musa berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami — akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih’.” (QS.10:88)
Ayat di atas merupakan doa Nabi Musa as bagi Fir’aun. Ketika Allah berkehendak menghancurkan Fir’aun dan para pembesar, Nabi Musa as berdoa kepada Allah, Sang Hakim mutlak, kutukan karena kekikiran. Efek dari kutukan itu mengena kepada semua orang Mesir kikir dan pendengki. Mereka mati dalam keadaan miskin dan kelaparan.
Seseorang yang dikutuk karena kekikirannya tidak mendengarkan kata-kata para Rasul Allah saw., yang berkata, “Allah memiliki dua orang malaikat yang berdoa setiap pagi, ‘Wahai, Tuhan kami, perbanyaklah anugerahmu atas orang-orang pemurah, dan ambillah milik orang-orang yang menyimpannya rapat-rapat!”
Pada suatu hari, ketika Abu Bakar ash-Shiddiq ra. akan memberikan semua harta bendanya kepada Rasulullah Muhammad saw., ia pun ditanya Rasulullah saw., “Apa yang telah engkau sisihkan bagi keluargamu, wahai Abu Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku meninggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.” Umar bin Khattab ketika memberikan setengah harta bendanya, ia pun menjawab pertanyaan yang serupa, “Aku meninggalkan setengahnya lagi bagi keluargaku.” Rasulullah Muhammad saw. berkata tentang mereka, “Perbedaan di antara kalian berdua adalah dalam hal merespon pertanyaanku.”
Seseorang yang memberi akan mendapatkan lebih dari Sang pemberi. Si kikir, selain berdosa karena kekikirannya, juga telah menuduh bahwa Allah kikir; ia lebih memilih harta bendanya sebagai pelindung dan pemberi bagi dirinya daripada Allah sang Pemurah. Merupakan dosa besar telah memprasangkai Allah sedemikian dan menyebabkan seseorang tertolak dari rahmat Allah dan kehilangan imannya. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari hal sedemikian. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.
Karena itu, simpanlah sekedarnya apa-apa yang telah Allah berikan kepadamu. Jangan pernah takut miskin. Allah akan memberikanmu apa-apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu. Tidak ada seorang pemurahpun yang akan dihancurkan dalam kemiskinan karena kepemurahannya.[]
Kami haturkan terimakasih kepada mbak Dwi Afriyanti A. Semoga Allah merahmatinya.Amin.


WASIAT LIMA
Jika engkau berharap untuk menemukan al-Haqq, kecintaan Allah, dan Dukungan-Nya, maka tinggalkanlah perilaku negatif, kendalikanlah sifat buruk dan kemarahanmu . Jika engkau tidak mampu untuk tidak marah, setidaknya jangan perlihatkan marahmu; maka Allah akan senang dan betapa setan akan kecewa kepadamu. Engkau pun akan mulai untuk mendidik egomu, menguatkan dan mendekatkanmu kepada Jalanmu. Kemarahan merupakan hasil dan sebuah tanda dari adanya ego yang tidak terkendali, bagaikan seekor hewan buas liar bebas tidak terkurung. Mengeluarkan marah, bagai tali kekang yang engkau buang dari atas kepalamu dan memasukkan banyak keburukan ke dalamnya. Jinakkanlah kepalamu, kau ajarkan bagaimana berpikir dengan benar, untuk taat kepada Allah, sehingga tiada orang lain yang engkau sakiti ataupun dirimu sendiri.
Begitu engkau berhasil mengekang pikiranmu, maka begitu menghadapi orang yang kehilangan kendali dirinya dan marah-marah kepadamu, maka engkau akan menghadapinya dengan tenang. Kau tidak akan bereaksi agresif pada penyerangannya. Kau tidak akan menghukum atau merespon perilaku negatifnya dengan kekasaran juga, melainkan kau abaikan saja. Mengabaikan lebih efektif daripada membalasnya. Barangkali ia akan melihat akibat-akibat dari perbuatannya, akibat dari kemarahannya, menyadari hal benar – salah, dan akhirnya mengakui kesalahannya.
Perhatikanlah saran-saran tentang pengendalian marah ini dan jadikanlah sebagai karakter dirimu; maka tentu engkau akan memperoleh hasil dan ganjaran positif di dunia maupun di akhirat. Timbangan al-haqq mu akan berat. Itulah ganjaran dan kemuliaan terbesar yang akan engkau terima. Mengeluarkan kemarahan hanya akan mengundang murka besar Allah, Dia akan menghukummu. Pemaafanmu akan diganjar dengan ampunan-Nya. Adakah keberuntungan yang lebih baik yang bisa diharapkan oleh seseorang yang disakiti oleh saudara-saudaranya seiman selain ampunan Allah semata?
Allah akan memperlakukanmu sama dengan perlakuanmu terhadap orang lain. Jadi berusahalah untuk memiliki kualitas perilaku yang baik: pendamai, penolong, lemah – lembut, dan penuh cinta. Dengan perilaku tersebut, berjama’ahlah. Engkau akan melihat bagaimana perilaku tersebut akan merahmati sekelilingmu, menciptakan harmoni, cinta – kasih, saling menghargai dan menghormati. Sang Kekasih Allah, Nabi Muhammad saw., memerintahkan kita untuk saling mencintai satu sama lain dan memelihara hubungan silaturahiim. Betapa Rasulullah Muhammad saw. mengulang-ulangi perintah ini dalam banyak cara, dalam banyak pernyataan. Untuk meninggalkan kemarahan, gantilah ia dengan penderitaan menahannya, memaafkan, dan tetap saling menjaga dan memperhatikan orang yang menyakiti. Kesemuanya merupakan, menjadi pilar dari tumbuh dan berkembangnya cinta.
Bukalah hatimu lebar-lebar, luaskanlah agar mampu menerima Rahmat Allah. Sebuah hati yang terahmati menjadi cermin manifestasi Allah. Ketika manifestasi Allah muncul dan datang melaluimu, begitu kau merasakan Kehadiran-Nya, maka kau akan malu ketika berperilaku salah. Hal itu akan menyebabkan antara engkau dan orang lain memiliki keterhubungan hati. Rahmat-Nya pun akan melindungimu dan orang lain dari dosa.
Ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Muhammad saw., “Apakah yang dimaksud dengan Rahmat Allah?” Nabi Muhammad saw. menjawab, “Shalat dan mengabdi kepada Allah seolah-olah engkau berada di Dalam Kehadiran-Nya, seolah-olah engkau melihat-Nya.” Rasa menghormati Allah terefleksi di dalam hati seorang mukmin yang mencapai level demikian.
Lalu Nabi Muhammad saw. melanjutkan, “Bagi engkau yang tak mampu melihat-Nya, yakinilah Dia tentu mampu melihatmu.”
Seorang mukmin yang mencapai level Rahmat Allah akan memiliki hati nurani. Dia akan merasakan bahwa Allah senantiasa mengawasinya sehingga membuatnya malu untuk berbuat dosa. Nabi Muhammad saw. berkata lagi, “Memiliki hati nurani adalah kebaikan sempurna.” Jika seorang mukmin memiliki hati nurani, ia akan menyadari apa yang ia lakukan dan ia tidak boleh melakukan kesalahan. Seseorang dengan hati yang dipenuhi Allah, maka hawa nafsunya tak akan membahayakannya baik ketika ia berada di dunia maupun di akhirat nanti. Tanda-tanda seseorang yang sudah memiliki hati nurani, yaitu: berkurangnya arogansi dan merasa diri penting; keduanya merupakan ego. Orang seperti itu tidak akan pernah mencoba atau berusaha untuk mendominasi atau menguasai seseorang. Semoga kalian semua mencapai level Rahmat Allah dan memiliki hati nurani, dan semoga kalian semua memiliki kekuatan dan pandangan tajam menuju Allah semata. Amiin, ya, Robbal ‘alamiin.
Bangunlah sebelum terbit matahari, berdzikirullaah lah, dan bertobatlah . Dosa yang disertai taubat akan menghapus dosa itu. Dosa akan hilang bagaikan tidak pernah terjadi. Ketika perilaku, shalat, dan ibadah lain disertai oleh taubat, maka hal itu bagaikan cahaya di atas cahaya, keagungan di atas keagungan. Mendzikiri Allah dan memuji-Nya akan menyatukan keterceberaian di dalam hati – seperti ratusan pecahan kepingan cermin – menambalnya, menjadikannya satu kembali, dan mengembalikan hati untuk focus kepada Al-Ahad. Lalu semua kejahatan pun meninggalkan hati, dan hati lalu dipenuhi dengan kesenangan senantiasa mendzikiri-Nya.
Ketika hatimu penuh melimpah dengan mendzikiri-Nya, lalu membaca al-Quran; refleksikanlah maknanya pada dirimu. Pada ayat-ayat yang menunjukkan ke-ahad -an dan kesempurnaan-Nya, pujilah Dia. Pada ayat-ayat yang menunjukkan berkah, anugerah, rahmat, dan cinta atau kemurkaan dan hukuman-Nya, berlindunglah dari-Nya di Dalam Diri-Nya dan mohonlah Rahmat-Nya. Pada ayat tentang kisah para nabi dan pengikutnya, benar-benar perhatikan dan ambillah pelajaran dari apa-apa yang terjadi kepada mereka. Memang Al-Quran sulit dimaknai karena memiliki makna samar hingga tujuh lapis, di dalam setiap katanya. Maknanya berubah sesuai dengan perubahan maqom dan ahwalmu, pengetahuan dan pemahamanmu. Karena itu, tidak mungkin kau akan pernah merasa lelah, lemah, atau bosan dalam membaca al-quran, dengan maknanya.[]


WASIAT ENAM
Berusaha keraslah untuk terus membuka simpul-simpul dosa yang berulang kali engkau lakukan. Bagaimana caramu menyelamatkan dirimu? Yaitu engkau membutuhkan pertolongan orang yang mengikat simpul-simpul tersebut, yaitu dirimu sendiri. Berkatalah kepada para simpul, nasihatilah mereka. Katakan, “Wahai, jasad yang fana, sedikit sekali engkau mendengarkan nasihatku, jadi mohonlah sekarang untuk sebenar mendengarkan. Apakah saat kau menghirup nafas, itu bukan merupakan nafas terakhirmu? Allah memang tahu yang terbaik, tetapi nafas berikutnya mungkin merupakan nafas terakhirmu. Kematian akan mendatangimu melalui tenggorokanmu; padahal sebelumnya setumpuk kesalahan demi kesalahan, dosa demi dosa selalu rutin engkau lakukan. Allah Al-Hakiim telah memperingatkan seseorang yang terus-menerus berada dalam dosa dengan hukuman yang bahkan gunung-gunung batu pun tak mampu menanggungnya. Lalu bagaimana dengan dirimu, lemah bak sehelai jerami, apakah mampu engkau menanggung pembalasan maha dahsyat tersebut?”

Jangan menentang-Ku Sang Penciptamu. Palingkan wajahmu kepada-Ku dan bertaubatlah. Lakukan sekarang juga, tanpa penangguhan waktu, karena kau tak tahu kapan kematian akan membelah dirimu menjadi dua.
Qs. 4 : 17
 “Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Katakan pada dirimu, “Sesungguhnya, setelah aura kematian datang membuatmu terbaring tak berdaya dan kehidupan semakin jauh meninggalkanmu, dan jika engkau bisa mengingat semua perbuatanmu dan bertaubat, maka taubatmu tidak akan diterima Allah. Sabda Nabi Muhammad saw., “Allah menerima taubatmu hingga saat nafasmu terasa mencekik. Pada saat kematian mulai terasa menyakitimu dengan tiada terkira, maka taubat sudah terlambat. Kematian datang tanpa tanda-tanda, tanpa peringatan sebelumnya – pada saat makan, minum, sedang tidur dengan istri, dalam tidur panjang yang tiada bangun. Barangsiapa yang tidak mengganti kesalahan dan dosanya dengan kebenaran, maka ia tidak bertaubat; maka ia tetap berada dalam dosanya, akan jatuh masuk ke dalam lubang dalam kematian.”
Camkan dalam-dalam kata-kata itu kepada dirimu. Berusaha keraslah untuk mendisiplinkan dan mendidik hasrat jasadmu. Sebanyak dan sekuat apa jasadmu melakukan dosa, maka sebanyak dan sekuat itu pula berusahalah untuk menghentikan dosa. Jika kau sebenar menasihati jasadmu dengan teguh, maka dengan pertolongan Allah simpul-simpul dosa yang mengikat hatimu akan terbuka. Hanya itulah jalan untuk diselamatkan Allah.


WASIAT TUJUH
Takutlah kepada Allah dalam setiap perilaku, hati dan pikiran-pikiranmu. Takut kepada Allah, dimaksudkan takut akan hukuman-Nya. Barangsiapa yang sebenar takut akan peringatan dan ancaman hukuman Al-Hakiim, akan berperilaku sesuai dengan Kehendak Sang Pencipta dan senantiasa mencari kebenaran. Pemilik Hari Akhir berfirman dalam Qs. 3 : 27
 “Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).”

Qs. 2 : 235
 “…. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Lembut.”
Takut kepada Allah merupakan sebuah pelindung, sesuatu yang menjagamu dari marabahaya, sesuatu yang menjadikanmu aman. Perlindungan Allah bagai baju besi terkuat, benteng terkokoh; tiada marabahaya yang mampu menembus pertahanan-Nya. Nabi Muhammad saw., yang diutus ke muka bumi sebagai rahmatan lil ‘alamiin, mengambil perlindungan ke Dalam Allah.
Doa saw., “Aku berlindung di Dalam Kehendak-Mu, di dalam Keindahan-Mu, di Dalam Kelembutan-Mu, dari murka dan dari kekuatan-Mu. Aku berlindung di Dalam Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim, dari hukuman-Mu. Aku berlindung di Dalam-Mu dari Diri-Mu.”

Carilah, temukan, pelajari, dan tirukan af’al Sang Pencipta yang manifest di sekitarmu. Lindungi dirimu dari murka Allah dengan perilaku dan perbuatan yang sesuai dengan Kehendak Allah. Hindari dan tinggalkan perilaku, sesuatu, dan jalan apapun yang tidak jelas kebenarannya. Ketahuilah bahwa mengenal Sang Penciptamu dan mentaati-Nya merupakan satu-satunya Jalan yang akan membimbingmu menuju keselamatan dan kebahagiaan. Keegoisanmu pun akan berakhir. Hanya dengan meraih keridhoan-Nya lah engkau dapat menyelamatkan dirimu dari murka-Nya. Hanya dengan memasuki, dan berjalan di atas Shirothol Mustaqim yang bisa menghindarimu masuk ke dalam lubang dalam kematian; hanya dengan perilaku tepat benar yang bisa menjagamu dari api neraka.
Qs. 3 : 130 – 131
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.”
Dengan takut kepada Allah, akan menghindarkanmu jauh-jauh dari api dan memasukkanmu ke dalam kebahagiaan (kalau kata Mursyid, hasanah artinya kebahagiaan. Hasanah = buah taqwa).
Jika engkau terus-menerus melakukan dosa dan keras kepala, tidak mau melihat dosa-dosamu, lalu mengapa engkau begitu yakin bahwa Allah akan menganugerahimu dengan kesabaran, kebaikan, dan kemuliaan? Betapa bodohnya engkau yang telah berhasil ditipu oleh bisikan setan, “Jika bukan karena dosa-dosamu, maka bagaimanakah Allah akan memanifestasikan Nama Al-Ghafur, Ar-rahmaan, dan Kemuliaan-Nya?” Tidakkah pikiranmu bisa membaca dengan logis bahwa betapa mengada-adanya bisikan setan tersebut? Akankah ampunan dan kasih sayang-Nya diberikan kepada orang-orang yang menentang Kehendak dan Kesenangan-Nya?
Lalu setan akan berbisik kembali di dalam telingamu, “Tiada harapan bagimu untuk mencapai tingkat diRahmati Allah, yaitu mereka yang dilahirkan dengan karakter-karakter yang baik dan ketaatan kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang memang sudah ditakdirkan mendekat kepada-Nya dan menunjukkan ketaatan kepada Allah, dengan ampunan dan kepemurahan Allah. Jadi percuma engkau mau berusaha baik sebagaimanapun. Ketahuilah, bahwa ampunan, kemuliaan, dan rahmat Allah hanya akan manifest pada hari Pembalasan nanti, yaitu yang akan diberikan-Nya kepada para manusia pembangkang namun yang mengharapkan rahmat Allah.”
Hanya seseorang yang kehilangan ‘ingatan’ yang mempercayai bisikan setan dan telah tertipu oleh pikiran penuh prasangka semacam itu. Lindungi dirimu dengan membentenginya dari segala bisikan tipu daya bujuk rayu setan. Katakan kepada setan:
“Apa yang engkau katakan bahwasanya Allah begitu penyabar dan Maha Rahmat kepada para pelayan-Nya adalah suatu kebenaran. Sesungguhnya begini, jika tiada ketidakpatuhan, ketidaktaatan, dan dosa, maka kami tidak akan melihat manifestasi dari atribut (Nama, shifat, af’al) Illaahi. Begitu banyak contoh-contoh yang menjelaskan tentang hal itu, baik di dalam al-quran maupun perkataan para Nabi-Nya. Tetapi, engkau, wahai, setan, telah menggunakan kebenaran demi kepentinganmu pribadi, engkau mengajakku untuk berbuat dosa! Kau menggodaku untuk membangkang dengan menggunakan Nama Kesabaran dan Kebaikan Allah.”
“Kau mengajakku untuk membuktikan adanya rahmat dan ampunan-Nya. Bagaimana engkau tahu, wahai yang terkutuk, bahwa aku merupakan salah satu hamba yang akan diberi ampunan oleh-Nya? Sesungguhnya Allah mengampuni siapa-siapa yang Dia Kehendaki dan menghukum dengan keadilan siapa-siapa yang Dia Kehendaki. Bagaimana aku tahu kelompokku? Semua yang ku tahu adalah bahwa aku adalah seorang hamba yang penuh dosa. Dan sekiranya aku meninggalkan dunia ini tanpa bertaubat dan meraih ampunan-Nya, maka Dia mungkin akan menolak untuk memberikan rahmat-Nya kepadaku dan menghukum dengan memasukkan aku ke dalam api neraka. Meskipun kematian seseorang sama seperti kehidupannya, dan aku telah berdosa karena tidak mengimani-Nya , maka semoga aku dijadikan-Nya sebagai orang yang mendapatkan keberuntungan pada nafas terakhirku, yaitu mati sebagai orang yang beriman kepada-Nya, lalu kemudian Dia akan memurnikan aku di dalam api neraka dan membawaku ke luar dari sana dan memberikanku keselamatan di Dalam rahmat-Nya.
“Jika aku menyakini bahwa tiada hari pembalasan dan tiada hukuman atas dosa-dosaku, dan jika aku meyakini bahwa aku akan menerima ampunan-Nya, maka akan banyak dalih pembenaran dalam diriku. Ah, tiada yang lebih baik daripada merasa berdosa; dan jangan pernah merasa aman dengan persangkaan bahwa kesabaran dan pengampunan Allah sungguh besar.
“Di lain sisi, bahkan jika aku meyakini bahwa aku akan menerima hukuman Illaahi, hal yang paling tepat adalah aku harus selalu merasa malu akan setiap perbuatanku karena sungguh aku tak sebenar mengerti perbuatan mana yang haqq bagi diriku, dan bersyukurlah selalu karena Dia ta’ala telah menangguhkan hukumannya kepadaku hingga saat ini; dan lalu aku akan berusaha keras semampuku untuk mematuhi dan mentaati segala perintah Allah kepadaku.”
“Aku tidak pernah mendengar pernyataan dari manapun bahwa segala dosa akan mendapatkan pengampunan-Nya. Setiap orang bebas memilih untuk melakukan kebenaran atau kesalahan, begitupun Al-Hakiim bebas untuk memaafkan, mengampuni atau menghukum. Tetapi dalam kasusmu, wahai, setan yang dipenuhi ego, tiada pilihan bagimu. Kau selamanya berada di dalam hasrat untuk melakukan dosa dan hal-hal terlarang!


WASIAT DELAPAN
Bersucilah; kesucian menjadikanmu penuh kehati-hatian, untuk membebaskanmu dari segala sesuatu yang tidak bersih dan berdosa. Kesucian akan melindungi dirimu dari segala hal meragukan (syubhat) dan kesamaran di dalam dan sekelilingmu. Hadits Rasulullah Muhammad saw., “Tinggalkan segala hal meragukan dan lakukan segala hal yang pasti untukmu.”Beliau saw. menegaskan tentang kebutuhanmu untuk meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkanmu ragu-ragu dan tidak yakin; sesuatu yang menyebabkan ketidakpastian, ketidakjelasan, kesamaran, kegelisahan, dan ketakutan di dalam hatimu – hanya lakukan sesuatu yang membuatmu merasa aman, tenang, dan damai.

Periksalah setiap perilakumu, kata-katamu, ibadahmu, setiap hubunganmu dengan orang lain seperti pertemanan atau pernikahan. Engkau harus menemukan apakah segala sesuatu di dalamnya berkualitas baik atau buruk, bersih atau kotor, benar atau salah, mengikuti syariat atau tidak. Hukum-hukum yang engkau jalankan semuanya harus jelas; jalankanlah kebenaran, tinggalkanlah kesalahan. Jika ada syariat yang tak jelas atau tersamar, maka tinggalkanlah seolah-olah itu adalah sesuatu yang salah dan cari yang sudah jelas/ pasti.
Ikutilah nasihat para Nabi (Assalaamu’alaykum wrohmatullaahi wabarokaatuh): bahkan jika kau berada dalam kebutuhan untuk melaksanakan hal yang masih kau ragukan itu, bahkan jika menyebabkan kau tak mampu untuk melakukan hal lain, tetaplah ikuti dan laksanakan nasihat para Nabi; tinggalkan hal lain demi keridhoan Allah semata. Inilah kesucian. Yakinlah bahwa Allah akan menganugerahi para muthaharuun dengan dengan kebaikan yang banyak sekali hingga melimpah ruah, jauh lebih banyak daripada yang engkau terima jika engkau melakukan hal meragukan/ tidak jelas/ tersamar. Tapi jangan engkau mengharapkan bahwa ganjaran itu akan diberikan dalam waktu ‘saat ini’ atau langsung.
Kesucian merupakan pondasi dari ad-diin dan Jalan Kebenaran. Jika engkau suci, semua perbuatanmu akan murni dan ikhlas; semua yang engkau lakukan akan berakhir dengan baik; kau akan harmoni di Dalam Kehendak Allah. Kau akan menerima Rahmat-Nya; segala kebutuhanmu akan diberikan kepadamu. Kau akan berada di bawah Perlindungan Illaahi. Jika engkau suci dan tidak berprasangka, meninggalkan kesalahan dan hal samar, maka tiada terhalang bagimu untuk menerima Berkah-Nya. Tetapi jika kau berpaling dari kesucian dan keshalehan, maka Al-Hakiim akan menempatkanmu pada sebuah keadaan yang penuh kehinaan: tiada pertolongan dan penuh ketakutan. Dia akan meninggalkanmu sendirian, membiarkan dirimu dikuasai oleh egomu. Lalu kaupun akan menjadi mainan setan; yang memiliki karakter selalu ingin membangkang, dan tidak ada yang akan menghalanginya untuk menggodamu. Tujuan setan adalah memalingkanmu, menjauhkanmu sejauh-jauhnya dari Al-Haqq.
Berusahalah dengan keras, penuhi waktumu untuk tinggal dan menapaki Jalan Keshalehan, maka Allah akan menolongmu.



WASIAT SEMBILAN
Dunia adalah tempat persiapan untuk akhirat; setiap orang diberikan banyak pelajaran dan menerima pelbagai ujian kesenangan dan tidak mengenakkan. Ambillah hanya sedikit kesenangan yang ada di dalamnya. Merasa cukup, dan berpuaslah dengan apa yang ada di tanganmu, bahkan jika lebih sedikit daripada yang dimiliki oleh orang lain. Intinya, selalu memilih dan mengambil dengan sedikit.
Dunia bukanlah sesuatu yang buruk, sebaliknya merupakan sawah ladang tempat kau bercocok tanam yang hasilnya akan engkau panen di akhirat. Dunia harus dipergunakan sebagai jalan untuk memuaskan batin dengan kebahagiaan menerima yang sedikit dan segala kebaikannya; manfaatkan untuk saling berkasih sayang dan mensyukuri-Nya.

Dunia menjadi buruk jika kau buta akan kebenaran sehingga tidak bisa memanfaatkan dunia dengan sebenarnya; yang ada hanyalah kau sibuk memuaskan hasrat rendahmu, pelbagai obsesi, dan ambisi melalui dunia ini. Rasulullah Muhammad saw . ditanya, “Seperti apakah cinta dunia?” Beliau saw. menjawab demikian, “Segala sesuatu yang menyibukkan dirimu yang menyebabkan engkau melupakan Tuhanmu.” Karena itu, segala sesuatu yang ada di dunia, termasuk harta benda bukanlah sesuatu yang membahayakan, kecuali jika mereka menyebabkan kau melupakan, membangkang, dan tidak menyadari Kehadiran Illahi yang dengan kemurahan-Nya memberikan mereka kepadamu. Dunia menjadi buruk dikarenakan engkau merasakan dan berhubungan begitu kuat dengannya, dan engkau menginginkan dunia jauh daripada yang Tuhan sudah berikan kepadamu. Hal itu akan membuatmu kehilangan sensisitivas menyadari Kehadiran Allah dan akan memutuskan hubunganmu dengan Al-Haqq.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa yang memilih dunia daripada akhirat, ia akan mengalami penderitaan dalam 3 hal, yaitu:
1. Merasa mengangkat beban yang tak kunjung usai
2. Merasa miskin yang tak pernah merasa lebih kaya
3. Selalu merasa mengejar sesuatu (ambisi) dan selalu merasa lapar yang sampai kapanpun tak pernah terpuaskan.”
Bagi seorang yang terikat dengan dunia akan merasakan kesakitan dan kesulitan; mencoba menyelesaikan masalah-masalahnya dengan mengandalkan kekuatan pribadi, menggantungkan diri sepenuhnya kepada dunia bagaikan seorang pengemis, dunia dijadikan alat untuk memenuhi kebutuhan jasad dan egonya. Jasad, yang merupakan makanan empuk bagi ego tidak akan pernah merasakan puas, tidak pernah menyudahi ambisi-ambisinya, ia selalu mencari, selalu lapar, dan selalu tidak puas. Akibatnya, ia yang menuhankan dunia akan melupakan Allah, Tuhan semesta alam-alam.
Penjelasan di atas bukan berarti kau harus meninggalkan dunia, tidak melakukan tugas-tugasmu berkenaan dengannya atau berpartisipasi dalam suatu kegiatan, atau pasif diam tidak melakukan apa-apa , tidak berusaha, dan tidak bekerja.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda,
“Allah suka melihat orang-orang beriman yang bekerja dalam keshalehannya.”
“Sesungguhnya Allah menyukai seseorang yang bekerja dengan kedua tangannya.”
“Seseorang yang bekerja keras dengan halal untuk memenuhi kebutuhannya akan dicintai Allah.”
Hadits-hadits tersebut bermakna bahwa rahmat Allah meliputi mereka yang bekerja keras dengan tangannya.” Itu juga yang menjadi alasan bagi para nabi bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Pada suatu hari, Sahabat Umar bin Khattab ra. bertemu dengan sekelompok orang yang duduk bermalas-malasan tanpa melakukan apapun.
Beliau ra. bertanya, “Siapakah kalian?”
Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang berpasrah menantikan Tangan-Nya untuk memenuhi kebutuhan kami, dan kami meyakini-Nya.”
“Sungguh kalian bukan seperti itu!” Beliau menjawab dengan marah,”Kalian orang-orang yang menyia-nyiakan waktu, parasit bagi apa yang diusahakan orang lain! Bagi siapa saja yang sebenar beriman di Dalam Allah, ia akan menanam benih di dalam rongga perut bumi ini, lalu mengharapkan dan menantikan kedatangan Tangan-Nya Sang Pemelihara.”
Setiap orang tiada terlarang untuk melakukan pekerjaan apapun asalkan sesuai dengan Hukum Allah dan berada dalam keadaan beriman kepada Allah. Iman terlihat nyata dalam perilaku dan syariat agama yang dijalankan oleh seseorang, termasuk dalam pekerjaannya.
Qs. 62 : 10
 “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”

Ketika kita bekerja, janganlah semata demi meraih keuntungan dunia. Orang yang mencintai dunia akan mengidentifikasikan dirinya dengan segala perolehan duniawinya dan berbangga atas hal itu. Penuh dengan ambisi, dia mendedikasikan dirinya untuk mengumpulkan benda-benda baik halal, syubhat, ataupaun haram. Akibat terburuknya adalah ia tak lagi mampu untuk melihat sesuatu yang salah, untuk berpikir tentang Jalan Kebenaran. Baginya, dunia merupakan satu-satunya jalan kebenaran.
Begitu cinta dunia memenuhi hatimu, maka tiada tempat untuk mendzikiri Allah. Kau pun akan melupakan akhirat, kau lebih memilih dunia yang bersifat sementara ini. Semua yang kau butuhkan dari dunia adalah segala sesuatu yang mampu memuaskan ‘kelaparanmu’. Dunia menjadi alasan kau melalukan sesuatu. Wahai, sungguh janganlah merasa terpesona dengan tampilan sementara ikatan dunia yang tampak memikat dengan segala perhiasan ataupun dengan menginginkan kekayaan tanpa pertimbangan baik atau benarnya, halal – syubhat – haramnya. Renungkanlah, berapa lama, sih, seorang manusia tinggal di dunia ini?
Seseorang yang memilih dunia fana di atas kebenaran tidak akan pernah mencapai tujuannya. Ambisinya tak pernah terpuaskan. Tidakkah kau sadari bahwa Penentu Taqdir telah menetapkan rezekimu? Kau tidak akan menerima sesuatu lebih sedikit atau lebih banyak daripada yang telah ditetapkan oleh Sang Penentu Taqdir. Kau sadari atau tidak, tiada perubahan dengan Ketentuan Allah. Kita kehendaki atau tidak, kita tetap hanya bisa merefleksikan cermin dari Ketentuan Taqdir kita.
Qs. 43 : 32
 “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Tetapi mereka yang mengambil dunia bagai tuhan yang melaksanakan keinginan-Nya tanpa batas, sementara keinginan-keinginan itu tetap tak pernah mampu mengangkat derajat mereka; mereka bagai orang yang tak pernah menerima apapun. Lama kelamaan mereka mengalami ketidakpuasan dan ketidakbahagiaan dalam setiap sisi kehidupan, sementara di akhirat nanti mereka akan menghadapi murka besar Allah.
Hasrat akan dunia bagai air laut. Semakin banyak kau meminumnya, semakin haus engkau. Rasulullah Muhammad saw. mengajak umatnya untuk menganggap dunia bagai tumpukan sampah yang membuatmu tidak mau berada dekat dengannya. Ambillah jarak dengan dunia, berpuas dirilah dengan kadar yang telah Allah taqdirkan bagimu suka ataupun tidak suka.
Allah telah menasihati dan memperingatkan Nabi Musa as, “Wahai anak Adam, jika engkau puas dengan apa yang telah aku kadarkan bagimu, Aku akan membuat hatimu ridha dan penuh syukur. Tetapi jika engkau tidak puas dengan apa yang telah aku kadarkan bagimu, maka Aku akan membiarkan dunia menguasaimu. Kau akan berlomba di dalamnya bagai seekor hewan liar yang berlomba denga hewan-hewan liar lainnya dalam sebuah gurun pasir. Dan demi Kekuasaan dan Kemuliaan-Ku, kau tidak akan menerima darinya apapun yang tidak aku kadarkan bagimu, dan kau akan berada dalam kesalahan.”
Maksudnya,jika kau menerima bagian dunia sesuai dengan kadar yang telah Allah tentukan,maka engkau akan meraih sakinah dalam hatimu dan digolongkan sebagai hamba yang bersyukur dan dirahmati-Nya . Sebaliknya, Allah akan memberikan dunia yang sangat kau hasrati bagai seorang kawan sekaligus lawan. Dunia menjadi sebuah gurun bagi seekor hewan kelaparan. Kau akan terus berlari dan berlari hingga selalu kelelahan tanpa mampu untuk menemukan apapun di dalamnya. Allah bersumpah bahwa tiada yang akan kau peroleh selain kelelahan, ketidakpuasan, dan kehinaan.
Marilah sebenar meyakini bahwa Allah telah mengkadar segala sesuatunya dengan begitu sempurna; berapa banyak makanan dan minuman yang mampu dimasukkan ke dalam perutmu, pakaian yang menutupi tubuhmu, sebuah tempat untuk hidup? Sederhanalah, itu lebih baik bagimu. Tiada kau akan merasa terbebani, dan hatimu akan berada dalam sakinah dan tanpa kekhawatiran; dan tentunya di akhirat nanti kau tidak akan disusahkan dengan hisab yang sedikit.
Jangan menukar kebahagiaan spiritualmu dengan kebahagiaan semu yang hanya sebentar. Tidak peduli betapa megah dan nyamannya, mereka akan mati ketika engkau mati. Ingatlah bahwa kematian merupakan langkah yang niscaya engkau alami, dan semua angan-anganmu akan menguap terbang.
Seperti ikatan dunia merupakan anak-anak dunia, maka ada juga anak-anak akhirat yang terikat dengan akhirat.
Rasulullah Muhammad saw. bersabda, “Jadilah sebagai anak-anak akhirat yang terikat dengan keabadian, bukan anak-anak bumi yang sebatas usia.”

Qs. 11 : 15 – 16
 “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. “
 “Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.”
Qs. 26 : 20
Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.




WASIAT SEPULUH
Semoga Al-Haqq membangunkanmu dari tidur nyenyak berkepanjangan. Semoga Dia membukakan kesejatian dirimu sebagai tanda benarnya taubatmu. Semoga hanya Dia Tempat Kembalimu.
Semoga Sang Pengamat segala sesuatunya membukakan pandangan batinmu sehingga kau mampu melihat dan mengingat kembali apa yang telah engkau lakukan dan katakan sepanjang hidupmu. Lalu kau akan mengetahui dan selalu ingat serta menghisab semuanya dengan detil. Semua itu akan dipertanggungjawabkan pada hari Pembalasan nanti.
Jangan pernah lupa akan kedatangan hari Perhitungan. Di sanalah segala sesuatunya akan dihisab. Satu-satunya jalan keselamatan adalah menempuh jalan kesucian dan membersihkan dosa-dosamu.
Hadits Nabi Muhammad saw.,
“Hisablah dirimu sendiri sebelum engkau dihisab, timbanglah dosa-dosamu sebelum mereka memberatkanmu.”
Periksalah setiap sisi kehidupanmu; Jangan biarkan dosa-dosa menelan kebaikan-kebaikanmu. Berjuanglah semampumu selagi hayat masih dikandung badan, selama masih ada kesempatan untuk hidup; sebelum kau dikkubur sendirian dalam lubang gelap liang lahat.
Apapun yang engkau terima dalam kehidupan di duniai merupakan pinjaman dari-Nya yang datang melalui Tangan-tangan ghaib-Nya; bukan milikmu. Kau hanya seorang kasir yang mendistribusikan kiriman-Nya, dan kau bertanggung jawab untuk menjaga dan menggunakannnya dengan benar (haqq). Itulah pengembalian pinjaman yang benar.
Jika kau tidak melakukan hal itu, maka yakinlah bahwa pada hari Pembalasan nanti kau akan berteriak dan meminta pertolongan. Tetapi, tiada seorangpun yang akan menolongmu.
Wahai, dengarkanlah suara Illaahiyyah yang datang melalui aturan dan perintah-Nya, Sang Penghukum orang-orang yang berdosa. Ikutilah aturan dan perintah-Nya tanpa dipilih-pilih, ditambah-tambah ataupun dikurang-kurangi.
 “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.”(QS. Al-Isro’[17]:14)
Bukankah Allah telah mengirimimu para utusan-Nya? Bukankah Dia telah menunjukkanmu Jalan Kebenaran? Bukankah Dia telah memerintahkanmu untuk mendzikiri-Nya sepanjang pagi dan malam? Bukankah Dia telah memberikanmu kesempatan untuk mengikuti perintah-perintah-Nya?
Jika kau hanya menunggu dan menungguh hingga waktumu habis, maka penyesalanmu tiada guna. Jika kau selalu menunggu dan menunda penghisaban dirimu sendiri, ketahuilah bahwa semua pintu dan jendela akan ditutupkan bagimu dan kau akan ditinggalkan. Ketahuilah, bahwa tiada pintu dan jendela lain, tiada tempat lain sebagai tempat perlindungan. Tiada tempat untuk pergi – bagimu, siapapun, dan apapun – selain pintu Rahmat Allah. Menujulah ke sana dan berlututlah. Pancarkanlah dengan deras tangis taubatmu dan bermohonlah untuk masuk. Berusaha dan lihat apa yang berada di balik tirai-tirai terselubung.
Ada tiga bahaya bagi engkau yang tidak menghisab dirimu sendiri dan tidak mensyukuri Allah Sang Maha Pemurah, yaitu:
1. Ketidaksadaran, ketertutupan, ketidaktahuan akan Tujuan hakiki
2. Meluapnya rasa dan hasrat yang memancar deras dari egomu (pikiran tidak benar + hawa nafsu), diri rendahmu
3. Menumpuknya kebiasaan-kebiasaan buruk yang menjadikanmu bagai mesin pembuat dosa.
Seseorang yang mampu melindungi dirinya dari tiga bahaya di atas, dengan Rahmat (pertolongan) Allah, akan mendapatkan keselamatan di dunia maupun di akhirat.
Rahmat dan Berkah Allah bagi Nabi kita, Rasulullaah Muhammad saw. dan anak-cucunya serta karib kerabatnya – dalam setiap lidah yang berkata, tempat tinggal dan setiap tingkatan  kerohanian
Post a Comment