Saturday, June 30, 2012

LAILATUL KADAR

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
LAILATUL KADAR (malam qadr/kemuliaan) adalah malam di mana Allah swt untuk kali pertama menurunkan wahyu Alquran, yakni lima ayat pertama dari Surah Al’alaq, kepada Rasulullah Muhammad saw.

Peristiwa itu direkam dalam Surat ”Alqadr” ([97] : 1): ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan.” Pada dasarnya Surat Alqadr bukan surah yang turun beriringan dengan Surat Al’alaq, surat pertama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw.
Mayoritas (jumhur) ulama menyatakan bahwa surat itu urutan ke duapuluh lima. Sebagian ulama lain berpendapat surat pertama yang turun saat Rasulullah hijrah ke Madinah.

Namun dalam urutan penyusunan Alquran surat Alqadr diletakkan berurutan dengan Surah Alíalaq. Alíalaq menempati urutan ke 96, dan Alqadr menempati urutan ke 97. Demikian ini untuk memberi kejelasan bahwa pembahasan dalam Surah Alqadr berkenaan dengan malam mulia di mana Alquran untuk pertama kali diturunkan.

Dalam Alquran Lailatulkadar ini diberi penjelasan dengan sejumlah keistimewaan: pertama dia adalah malam yang lebih baik dari pada seribu bulan QS Alqadr [97]: 0 3;  kedua, dia adalah malam yang diberkati (mubarakah). QS Addukhon [44]: 03; ketiga dia adalah malam diputuskannya segala urusan yang penuh hikmah, yaitu urusan yang besar dari sisi Allah swt. QS Addukhon [44]:04; kelima ia adalah malam di mana para malaikat, dipimpin oleh malaikat Jibril, turun ke bumi atas izin Tuhannya, dengan membawa segala urusan yang besar (pahala-pahala ibadah di malam itu). QS.Alqadr  [97]: 04; keenam ia adalah malam penuh kedamaian hingga terbit fajar. QS. Alqadr  [97]: 05.

Di sini perlu disampaikan bahwa bacaan yang paling pas adalah Lailatulkadar seperti bacaan dalam Surah Alqadr, bukan Lailatul Qadar sebagaimana lazim dalam ucapan kita sehari-hari. ”Qadr”memiliki makna kemuliaan dan kemurahan (syaraf wa fadhl), diambil dari kata fulaan dzuu qadrin adzÓmin, seseorang yang berkedudukan mulia. Sementara ”qadar” adalah putusan, seperti dalam rangkaian kata ”qadh‚`-qadar”. Pemaknaan ini sejalan dengan penjelasan dalam ayat lain dalam Surah Addukhon, QS .[44]: 03: ”sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi”. Namun penggunaan kalimat Lailatul Qadar, yakni malam keputusan, tidak sepenuhnya salah, karena pada malam itu Allah memutuskan segala urusan yang penting di sisi-Nya, sebagaimana dalam QS. Addukh‚n/ [44]: 04.

Dua kalimat ini, qadr dan qadar, mengantarkan kita pada pengertian bahwa ibadah di malam itu sangat penting bukan saja karena kemuliaannya (qadr), namun juga karena malam itu Allah SWT. menitahkan amarnya (qadar) untuk putaran satu tahun ke depan. Dengan beribada di malam itu seseorang berharap mendapatkan rahmat-Nya, agar semua amar keputusan yang ia terima merupakan keputusan yang membawa kemaslahatan bagi dirinya di dunia dan di akhirat. Titah amar yang tampak secara lahir tidak sesuai dengan keinginannya, akan tetapi karena penyikapan yang baik, yakni dihadapi penuh sabar dan tetap berbaik sangka (husnuzan) kepada Allah swt, Insya Allah justru akan membawa berkah tersendiri untuk kebaikan dirinya.

Kapan Lailatulkadar?
Alquran tidak menjelaskan setara pasti kapan Lailatulkadar, hanya ada penjelasan bahwa Alquran diturunkan pada malam tersebut: QS. Alqadr/ ([97] : 1): ”Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alqur’an) pada malam kemuliaan.” Dan pada ayat yang lain dijelaskan bahwa Alquran diturunkan pada bulan Ramadan: ”Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” QS. Albaqarah: [02]: 185.

Dari sini lalu disimpulkan bahwa Lailatulkadar berada di bulan Ramadan, tanpa ada penjelasan definitif di hari ke berapa. Ada sejumlah riwayat mengenai penentuan yang definitif, di antaranya ada yang menyampaikan bahwa Lailatulkadar jatuh pada hari ke tujuh belas, lalu ada yang menentukan hari ke dua puluh tiga, dua puluh lima, dan dua puluh tujuh.

Dari berbagai riwayat ini disimpulkan bahwa Lailatulkadar tidak jatuh pada malam yang sama di setiap tahun, namun ia berubah-ubah waktunya. Tahun ini boleh jadi jatuh pada tanggal dua puluh tujuh Ramadan, namun bisa jadi tahun yang akan datang jatuh di tanggal yang berbeda. Demikian ini menurut para ulama disengaja oleh Allah swt agar hambanya tidak hanya rajin beribadah pada satu malam yang telah ditentukan saja.

Namun begitu, ada satu petunjuk dari Rasulullah saw. yang menjelaskan bahwa umumnya Lailatulkadar jatuh pada sepuluh hari terakhir, dimulai malam ke dua puluh satu. Kata Rasulullah: ”Ia (Lailatulkadar) berada di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadan”. Riwayat lain menyatakan: ”Carilah dengan sungguh-sungguh Lailatulkadar di sepuluh hari terakhir (dari bulan Ramadan). Dan di antara sepuluh hari ini, ada sebuah riwayat yang menekankan untuk mencarinya pada hari-hari ganjil: ”Carilah ia (Lailatulkadar) di tiap-tiap hari ganjil (dari sepuluh hari terakhir).” Riwayat lain menjelaskan bahwa di antara hari-hari ganjil ini, malam ke dua puluh tujuh paling ditekankan berdasarkan riwayat dari Ubay bin Ka’b: ”Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dirinya, sesungguhnya ia (Lailatulkadar) berada di bulan Ramadan, dan demi Allah saya tahu pada malam apa ia berada, ia berada di malam dimana Rasulullah saw memerintahkan untuk mendirikan ibadah di malam itu, yaitu malam ke dua puluh tujuh.”. 

Ada dua cara seorang hamba bertaqarrub (mendekat) kepada Allah SWT. Pertama melalui in‚bah, yakni kembali kepada Allah SWT. Ia menghadapkan hatinya secara pelan-pelan, dengan niat yang sungguh-sungguh, menuju cinta hakiki kepada Allah swt. Jalan ini tak bisa dipangkas dalam waktu yang singkat, akan tetapi harus ditempuh melalui jalan yang panjang. Cara ini adalah jalan yang lazim diikuti oleh umumnya hamba-hamba Allah. Berkenaan dengan Lailatulkadar, seorang hamba yang ingin menggapainya sudah harus memulai upayanya sejak hari-hari awal bulan Ramadan, bahkan sebaiknya sejak hari-hari menyambut bulan Ramadan.

Cara yang kedua melalui jalan ijtib, yakni melalui pemilihan dari Allah swt yang dalam hal ini sepenuhnya merupakan rahasia-Nya. Jalan ini menggambarkan bahwa bukan seorang hamba yang mendekat kepada Allah secara langsung, akan tetapi justru Allah yang mengenalkan Dirinya kepada seorang hamba tersebut. Jalan ini sengaja dibuka oleh Allah swt agar seorang hamba tidak kehilangan asa berkomunikasi dengan Allah swt. Hamba-hamba Allah yang pada awal-awal Ramadan tidak sepenuhnya, atau bahkan lalai sama sekali, beribadah kepada Allah swt melalui jalan ini masih punya kesempatan untuk merengkuh Lailatulkadar.

Dua jalan ini disebutkan dalam Alquran, Surah Asy-Syu’ara [42]:13: Allah memilih kepada agama itu orang  yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada  (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Dengan memahami dua jalan ini, bisa dikatakan bahwa mereka yang memiliki kesempatan lebih untuk  mendapatkan Lailatulkadar adalah hamba-hamba Allah yang dari sejak awal Ramadan telah kembali kepada Allah dengan banyak beribadah dan berdzikir, namun begitu ada sejumlah hamba-hamba Allah yang secara khusus dipilih-Nya  untuk mendapatkan anugerah Lailatulkadar walau tidak dari awal kembali kepada-Nya.

Dengan demikian, kita dengan arif mengetahui bahwa seorang hamba tak boleh mengandalkan jalan ijtib‚` untuk merengkuh Lailatulkadar, bahkan untuk itu dia harus memulainya sejak dari awal Ramadan. Karena inilah jalan yang lazim, yang telah menjadi sunnatullah.  

Bulan Ramadan ini sangat istimewa bukan saja karena di dalam bulan ini terdapat Lailatulkadar, di mana beribadah di situ lebih baik dari pada beribadah selama seribu bulan, atau yang setara dengan delapan puluh tiga tahun lebih kira-kira empat bulan. Namun juga karena tanggal 17 Ramadan kali ini jatuh bertepatan dengan 17 Agustus, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Hal ini karena siklus pertemuan antara matahari dengan bulan adalah tiga puluh tiga tahun. Setiap tiga puluh tiga tahun sekali, tanggal dan bulan untuk tahun Qamariyah dan Syamsiyah akan kembali terulang. Dan tahun ini adalah siklus yang kedua, yakni enam puluh enam tahun, yang berarti untuk kedua kalinya siklus demikian terulang. Ini seperti sebuah tanda bahwa Negeri kita, Indonesia, adalah negeri yang telah digariskan oleh Allah sebagai negeri yang sangat dekat dengan rahmat-Nya. (34)
Post a Comment