Sunday, June 24, 2012

Wali dan Kewalian

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

Tentang Wali dan Kewalian

Nuruddin Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad Al-Jami

Seorang wali haruslah terjaga dari kemaksiatan. Maka barang siapa diakui atau mengaku sebagai wali tetapi tidak menjalankan syara', berarti telah terpedaya

Dalam kitabnya, Nafahatal-Uns min Hadhrat al-Quds (Embusan-embusan Kemesraan dari Hadhirat Yang Mahasuci), Nuruddin Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad Al-Jami memulai analisisnya dengan wali dan kewalian. Bab ini merupakan kupasan yang singkat dan padat tentang wali dan ke¬walian pada zamannya, dan tetap menjadi rujukan ulama hingga kini.
la mengartikan bahwa kewalian berasal dari kata wala', yang berarti "kedekatan". Kewalian ada dua jenis: ke¬walian umum dan kewalian khusus. Kewalian umum dimiliki bersama-sama oleh seluruh kaum beriman, sebagai-mana firman Allah

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

"Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman)." QS Al-Baqarah (2): 257.


Sementara itu, kewalian khusus hanya dimiliki oleh kaum khash, yaltu kalangan budi Iaku yang telah mampu menggapai Tuhan. Di antaranya, para pelaku tarekat atau syaikh sufi.
Dalam kitab yang aslinya dituilis dalam bahasa Persia ini, Jami mengutip perkataan sufi besar, Ibrahim bin Adham, kepada seorang lelaki, "Apakah engkau ingin menjadi seorang wali Allah?" "Ya," jawab orang itu. Ibrahim pun berkata, "Jangan sukai apa pun di dunia dan akhirat. Kosongkan dirimu, hanya untuk Allah. Hadapkan dirimu hanya kepadaNya. Jika sudah bisa berlaku demikian, engkau sudah menjadi seorang wali."
Dalam menelaah ihwal wali dan kewalian, Jami menggunakan referensi kitab ar-Risalah, karya Imam Al-Qusyairi, yang menjelaskan dua pengertian wali: Pertama, sebagai obyek pasif (maf'ul). Artinya, wali adalah orang yang segala urusannya diatur oleh Allah. Allah berfirman, "Dan Dia melindungi orang-orang yang shalih."QS Al-A'raf (7): 196. Dia sama sekali tidak bergantung pada diri-nya dalam menempuh suatu rencana, melainkan Allah-lah, Yang Mahabenar, yang mengendalikan segala urusannya.

Kedua, sebagai subyek aktif (fall). Maknanya, wali adalah orang yang urusannya hanya beribadah menyembah Allah dan menaati-Nya. Dia terus ber¬ibadah tanpa disusupi sedikit pun Iaku kemaksiatan.

Kedua pengertian di atas sama-sama menjadi persyaratan wajib untuk menjadi seorang wali sejati. Seorang wali wajib memenuhi hak-hak Allah dengan sepenuh jiwa dan raga, dan Allah pun senantiasa menjaganya dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.
Seorang wali harusiah mahfudz, terjaga dari kemaksiatan. Maka barang siapa diakui atau mengaku sebagai wali tetapi tidak menjalankan syara', berarti telah terpedaya atau keblinger.

Wali Palsu
Ini telah dibuktikan oleh Abu Yazid AJ-Busthami, seorang sufi besar, yang bermaksud menemui beberapa orang yang mengklaim diri sebagai wali. Tatkala telah tiba di masjid milik orang yang dimaksud, dia duduk sambil menunggu pemiliknya keluar. Akhirnya keluarlah juga laki-laki yang ditunggu itu dari masjid. Tapi Al-Busthami melihat, lelaki itu spontan meludah ke arah kiblat dan langsung ngeloyor pergi tanpa mengucapkan salam kepada orang lain.
Sufi dari Al-Busthami ini langsung berkomentar, "Orang ini tidak amanah menepati sopan-santun syari'at. Lalu bagaimana dia bisa amanah menepati rahasia-rahasia Yang Mahabenar?"

Kisah lain menyebutkan, ada seorang laki-laki yang juga mengaku wali datang menghadap Abu Sa'ld ibn Abu Al-Khayr, seorang sufi besar lainnya. Orang itu mendahulukan kaki kiri saat masuk ke masjid. Syaikh Abu Al-Khayr pun mengusirnya, "Balik! Orang yang tidak mengenal sopan-santun masuk Rumah Ali. tidak seyogianya dijadikan teman!"

Dua kisah itu menunjukkan, kewalian seseorang tidak bisa mengalahkan aturan syara'.
Jami juga mengutip kitab Kasyf a Mahjub, karya Al-Hujwiri, yang menye butkan bahwa Allah mengekalkan burhan an-nubuwwah (tonggak kenabian hingga akhir zaman. Dia menjadikan para wali-Nya sebagal pengemban amanah-Nya, sehingga ayat-ayat al-haqq dai hujjah kebenaran Nabi Muhammad SAW senantlasa terbukti.

Dengan demikian, Allah menjadikan para wali sebagal wulah al-awalim (pengampun sepala kosmos). Mereka tulus berbakti kepada-Nya dalam menempuh jalan perang melawan hawa nafsu. Hujan turun berkat barakah kaki mereka. Turnbuh-tumbuhan tumbuh karena kesucian ahwal mereka. Dan kemenangan kaum beriman atas kaum pengingkar juga ber¬kat berakah cita-cita mereka.

Setiap wali memilikl karamah sendiri-sendiri. Dalam kitab Dala'il Nubuwwah, karya Imam Al-Mustghfiri (350-432 H), disebutkan, karamah para wali adalah sebuah kebenaran, merujuk kitab Allah, hadits-hadits shahih, dan ijmak kalangan Ahlussunah wal Jama'ah. Kewalian kadang memang memperlihatkan keanehan, tetapi tidak boleh sedikit pun melanggar syareat.


Bukti Kewalian

Maha Suci Allah Dzat yang tidak menjadikan bukti atas para waliNya, kecuali bukti itu mengarah padanya (karakteristiknya), dan Allah swt tidak menyambungkan pada mereka(mengenalkan pada mereka) kecuali pada orang yang dikehendaki untuk sambung kepadaNya.

Ibnu Athaillah as-Sakandary dalam memasuki ungkapan hikmah ini diawali dengan tasbih kepada Allah Swt, semata karena tiga faktor:
Merasakan keagungan dan kebesaran perkaraNya,
Mengingatkan bahwa para wali Allah itu disucikan melalui penyucianNya.

Isyarat tidak adanya kesamaan indikator dari ungkapan rasa dan tujuan ucapan, sebagaimana Allah Swt tidak dikenal kecuali dari yang tampak dari tindakanNya, begitu juga wali tidak dikenal kecuali dari sifat-sifatnya yang tampak, juga mengenal wali itu tidak bisa digambarkan kecuali setelah mengenal Allah Swt, yaitu futuh dari Allah Swt.
Dalam kitab at-Tanswir, Ibnu Athaillah menegaskan, “Dan hal demikian, dikarenakan iman itu disebabkan oleh keterbukaan dari Allah Swt, sehingga tidak akan ada iman kecuali karena dibuka oleh Allah Swt.”
Wali itu sendiri menurut Syeikh Zarruq r.a. dikenal melalui tiga karakter:
Memprioritaskan Allah Swt.
Berpaling (hatinya) dari makhluk.
Disiplin terhadap Sunnah dengan benar.

Abu Ali al-Jurjany mengatakan, “Sang wali senantiasa fana’ dalam ruhaninya, Baqa’ dalam musyahadah kepada Allah Swt, dan Allah Swt memberikan limpahan pengaturan, sehingga cahaya-cahaya kewaliannya melimpah padanya. Kemudian ia tidak memiliki kabar dari dirinya, dan tidak memiliki tempat berteguh kecuali hanya pada Allah Swt. Dan dalam Isyarah dari Allah Swt, bahwa Auliya’ Aku sebut sebagai Auliya’ karena mereka mereka hanya (cinta) kepadaKu, bukan pada yang lain (makhluk) “
Simpulnya sang wali itu senantiasa mendapatkan limpahan ruhani dari Allah Swt, sehingga tak pernah sekalipun meninggalkan Allah Swt untuk selain Allah Swt., lahir maupun batin. Allah Swt, melimpahkan kewalian dan tak pernah menanjak pada yang lainNya, dan karena itulah yang terpenting mereka ini senantiasa dijaga oleh Allah Swt, dan bersambung dengan Allah Swt menurut kadar dan bagian masing-masing.

Siapa pun tidak akan sampai mengenal para wali itu, sepanjang ia tidak wuquf (perteguh) pada perintah dan menjauhi larangannya, berkait dengan hasrat dan ruhaninya, karena itu –tidak diragukan lagi– merupakan kunci wushul pada Allah Swt.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan, “Bersamalah kalian dengan Allah Swt, bila kalian tidak bisa bersamaNya, bersamalah dengan orang yang bersama Allah Swt, karena ia menyambungkan dirimu denganNya.”
Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily r.a. mengatakan, “Bergabunglah (bergurulah) pada orang yang apabila ia menyebut senantiasa ia mengingat Allah, sesungguhnya Allah Swt mencukupinya ketika ia hadir, dan menjadi Penggantinya ketika ia tidak ada. Ungkapannya adalah cahaya bagi hati, dan penyaksiannya merupakan kunci-kunci rahasiaNya.”

Wilayat dan Qutbaniyyat

Ar-Risalah Al-Aqrabiyat Fi Nubuwwat Wa Risalat Wa Wilayat Wa Qutbaniyat

WILAYAT berarti maqam kewalian dan ia merupakan maqam yang khas di kalangan

Ummat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam yang beriman. Seseorang yang telah mengamalkan Syari‘at Islam dengan sempurna dan menuruti Tariqat yang dibawakan oleh Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan menuruti segala Adab dan Sunnahnya, Makrifat dan mengenal Zat Allah dengan Sifat-SifatNya, Nama- NamaNya serta Perbuatan-PerbuatanNya dengan keyakinan yang sempurna serta telah mencapai Haqiqat dalam kefahamannya tentang wajibnya kewujudan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, hakikat Kenabian Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, hakikat Agama, hakikat kewujudan diri, dan segala hakikat kewujudan makhluk dan alam semesta, dia pasti akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala angkatkan ke darjat Para WaliNya.

Wali adalah seseorang yang beriman kepada Allah dan Rasul dengan keimanan yang sempurna dan dia sentiasa dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan membantunya dalam setiap urusan. Allah mengasihinya dan dia mengasihi Allah. Di dalam hatinya tidak ada rasa takut terhadap makhluk dan tidak ada rasa kesusahan hati baginya.

Perkataan Auliya adalah lafaz jamak bagi Wali yang bererti Para Wali dan memberikan makna Para Kekasih Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Para Wali adalah mereka yang menjadikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai pelindung dansentiasa menyerahkan segala urusan mereka kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu adalahAl-Wa l iy yang bererti Yang Maha Melindungi dan Dialah jugaAl-Wal i yang bererti Yang Maha Memerintah dan Menguasai Segala Urusan. Perkataan Wali dari sudut timbangan wazan dalam bahasa ‘Arab boleh membawa makna Isim Fa’il yang bermaksud katanama pelaku dan ianya juga boleh membawa makna Isim Maf’ul yang bermaksud katanama bagi sesuatu yang kena dari perlakuan tersebut.

Jika diandaikan perkataan Wali itu membawa makna Isim Fa’il, maka Wali itu bermaksud, orang yang sentiasa menjaga ketaatannya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menolak semua perkara yang selain dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kerana itulah, maka Wali adalah seorang yang mendapat pertolongan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika diandaikan perkataan Wali itu membawa makna Isim Maf’ul, maka perkataan Wali itu bermaksud, orang yang sentiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Jestru, seorang Wali itu jika dilihat dari sudut hamba, maka dia sentiasa taat menjaga hukum Allah Subhanahu Wa Ta’ala, melaksanakan segala yang telah diperintahkan dan meninggalkan segala yang telah dilarang oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika dilihat dari sudut Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka dia sentiasa dijaga dan dilindungi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga dia boleh melakukan ketaatan kepadaNya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah berfirman di dalam Al-Quran pada Surah
Yunus ayat 62 – 64 bagi menerangkan keadaan Para WaliNya yang bermaksud,

“Ingatlah, sesungguhnya Wali-Wali Allah itu tidak ada kekhuatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Iaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di Dunia dan di Akhirat, tidak ada perubahan bagi kalimah janji-janji Allah, yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”

Para Wali sentiasa mendapat perlindungan khusus dari Allah dan di kalangan mereka ada yang mencapai berbagai tahap dan tingkatan kesucian. Mereka adalah orang-orang yang sentiasa menyucikan dan mensucikan diri dengan Istighfar, Taubat, Zikrullah dan Selawat serta pembacaan Al-Quran.
Di dalam kitab Risalah Qusyairiyah ada dinyatakan ciri-ciri untuk mengenal
pasti bahawa seseorang itu adalah Wali Allah dan ianya menerusi tiga perkara, iaitu:
1) Mereka selalu menyibukkan diri dengan beribadah kepada Allah SubhanahuWa Ta’ala.
2) Mereka selalu bermunajat, meminta dan memohon kepada Allah SubhanahuWa Ta’ala.
3) Mereka menjadikan maksud dan tujuan mereka satu iaitu Allah SubhanahuWa Ta’ala.

Hadhrat ‘Abdullah As-Salim Rahmatullah ‘alaih mentakrifkan Wali sebagai,

“Mereka yang dapat dikenal kerana bicara mereka yang baik, tingkah laku yang sopan, merendahkan diri, murah hati, tak suka berselisih, menerima permintaan maaf dari siapa saja yang meminta maaf kepadanya, halus budi terhadap segala ciptaan baik yang elok rupanya mahupun yang buruk.”

Hadhrat Ibnu ‘Arabi Rahmatullah ‘alaih menyatakan bahawa,

“Seseorang itu disebutkan sebagai Wali apabila dia sudah mencapai tingkatan Ma’rifat, iaitu tingkatan tertinggi dalam tingkatan Tasawwuf Akhlak. Tetapi yang sulitnya Ma’rifat ini tidak dapat diperolehi melalui teori atau manhaj. Ma’rifat adalah pemberian dan anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Hadhrat Abu Yazid Al-Bistami Rahmatullah ‘alaih berkata bahawa,
“Wali ialah seorang yang sentiasa sabar di bawah suruhan dan larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Walaubagaimanapun, di kalangan Para Wali dan Auliya, Wilayat merupakan suatu maqam yang umum yang mampu dicapai oleh sekelian Ummat Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dan di sisi Allah terdapat suatu maqam kewalian yang lebih tinggi dan merupakan suatu maqam yang khusus di kalangan Para Wali yang menduduki maqam Wilayat dan ianya merupakan maqam Qutbaniyat. Ianya merupakan suatu kedudukan yang khusus bagi golongan yang khas.

Terdapat berbagai jenis Wali yang datang silih berganti yakni apabila wafatnya salah seorang dari mereka maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkat seorang lagi hambanya dikalangan orang-orang yang beriman untuk menggantikan tempat WaliNya yang telah wafat.

Iman merupakan syarat utama kerana sekiranya seseorang itu tidak beriman, bagaimanakah dia hendak mengenali Penciptanya? Walaubagaimanapun, hanya orang-orang beriman yang telah mencapai martabat Iman dan ‘Amal yang sempurna kepada Allah dan Rasul, barulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala akan mengangkatnya sebagai Wali. Seseorang Wali sekali-kali tidak akan dapat mencapai pangkat Nabi dan sesungguhnya setiap Nabi adalah Wali.
Hadhrat Ibrahim bin Adham Rahmatullah ‘alaih pernah bertanya kepada
seorang lelaki,
“Apakah kamu suka bila Allah menjadikanmu seorang Wali?”
Kemudian lelaki itu menjawab,
“Ya, aku suka.”

Ibrahim bin Adham Rahmatullah ‘alaih lalu berkata,

“Janganlah engakau menyenangi perkara dunia dan akhirat tetapi kosongkanlah jiwamu untuk Allah semata dan hadapkan wajahmu kepada Nya supaya Allah menerimamu dan menjadikanmu sebagai WaliNya.”

Hadhrat Syeikh Ahmad Al-Fathani Rahmatullah ‘alaih telah menyatakan di
dalam kitabnya Faridatul Faraid bahwa,

“Mengi’tiqadkan tsabit Karamat bagi Para Auliya pada ketika hidup dan setelah wafat mereka adalah wajib. Karamat atau Karamah ialah sesuatu pekerjaan atau perbuatan atau perlakuan yang menyalahi dan mencarik adat secara nyata dan ianya dikurniakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman lagi beramal soleh. Mereka adalah orang-orang yang sentiasa mendirikan dan menegakkan segala hak-hak Allah di atas muka bumi.”

Berkata Hadhrat Syeikh Abu Hafs Umar bin Muhammad bin Ahmad An- Nasafi Rahmatullah ‘alaih di dalam kitabnya ‘Aqaid An-Nasafi menyebutkan bahawa,

“Segala Karamah yakni segala perlakuan yang mulia dan indah yang terbit dari segala Wali itu adalah kebenaran yang Haq. Maka menjadi nyatalah segala Karamah itu atas jalan melawan adat bagi seseorang Wali, seperti melalui perjalanan yang jauh dalam masa yang sedikit, kelihatan hadirnya makanan atau minuman atau pakaian tatkala berkehendak, berjalan di atas air dan pada udara, boleh berkata-kata dengan Jamad yakni segala benda yang bersifat beku dan juga boleh berkata-kata dengan ‘Ajma yakni segala benda yang tidak tahu berkata-kata, dapat menolak sesuatu bala yang dihadapi, dapat memelihara daripada sesuatu yang mendukakan dari kalangan musuh dan seteru serta berbagai-bagai lagi yang selain dari yang telah disebutkan.”

Adapun perkara yang sedemikian itu apabila berlaku ke atas Para Nabi maka ianya disebutkan sebagai Mukjizat dan bagi orang-orang yang beriman, perkara tersebut dinamakan sebagai Karamat. Apabila perkara-perkara yang berbentuk Karamat ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala zahirkan di kalangan Ummat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam ianya adalah untuk menzahirkan bahawa sesungguhnya dia itu seorang Wali.
Hadhrat Ibnu ‘Ataillah Al-Iskandari Rahmatullah ‘alaih ada menyebut,
“Maha Suci Allah yang telah menutup berbagai rahsia Wali dengan
ternampaknya sifat-sifat manusia biasa.”
Menurut Hadhrat Syeikh Abu ‘Abbas Al-Mursi Rahmatullah ‘alaih bahawa,

“Jika Allah bukakan dan perlihatkan rahsia atau Nur Kewalian itu nescaya boleh merosakkan Tauhid Wali itu sendiri. Misalnya Hadhrat Mansur Al-Hallaj Rahmatullah ‘alaih yang pernah mengucapkan:
“Maha Suci Engkau, Maha Suci Aku” adalah ketika Nur Kewaliannya Tajalli
pada dirinya.”

Wali allah menurut hadits ke -38 kitab Arba`in Nawawiyyah

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله: إن الله تعالى قال: من عاد لي وليا، فقد آذنته بالحرب، وما تقرب إلى عبدي بشيء أحب إلي مما افترضته عليه، ولا يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه، فإذا أحببته، كنت سمعه الذي يسمع به، وبصره الذي يبصر به، ويده التي يبطش بها، ورجله التي يمشي بها، ولئن سألني لأعطينه، ولئن استعاذني لأعيذنه رواه البخاري

Dari Abu Huriroh rodhiAllahu ta’ala ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ta’ala berfirman, barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan. Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat, Akulah tangannya yang dia gunakan untuk berbuat, Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Penjelasan
Hadits ini merupakan hadits yang sangat agung. Rasulullah bersabda, [Allah ta’ala berfirman] hal ini menunjukkan bahwa hadits ini adalah hadits Qudsi. [Barang siapa memusuhi wali-Ku maka aku izinkan untuk diperangi] yaitu menjadikan wali Allah sebagai musuh yang ia benci. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dalam hadits ini jika seseorang membenci wali Allah karena agamanya. Adapun, jika ia memusuhi wali Allah karena perkara dunia sehingga terjadi perselisihan di antara mereka, maka hal seperti ini perlu dirinci. Pertama, Jika perselisihan tersebut menimbulkan kebencian maka dikhawatirkan orang tersebut akan termasuk dalam ancaman hadits ini. Kedua, jika perselisihan tersebut terjadi tanpa menimbulkan rasa kebencian, maka tidak termasuk dalam makna hadits ini, yaitu orang tersebut tidak menjadi orang yang diumumkan bahwa ia akan diperangi. Demikianlah, penghulu para wali umat ini pun saling berselisih. Abu Bakar dan Umar pernah berselisih dalam beberapa kesempatan. Sahabat Abbas pernah berselisih dengan sahabat Ali sampai perkaranya dibawa ke pengadilan dan beberapa kasus lainnya.

Terjadinya perselisihan tanpa diiringi kebencian kepada wali Allah, bukanlah yang dimaksud dalam hadits ini. Adapun jika ia membenci salah seorang wali Allah, maka orang ini layak diperangi. Allah jalla wa ‘ala telah mengizinkannya untuk diperangi dengan peperangan yang berasal dari Allah. Izin Allah untuk memerangi maknanya adalah bahwa orang tersebut diketahui akan mendapatkan hukuman dari Allah. Peperangan dari Allah maknanya adalah diturunkannya azab dan siksa Allah pada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, [Barang siapa memusuhi wali-Ku]. Istilah Wali menurut Ahlusunnah wal Jamaah adalah setiap mukmin yang bertakwa dan bukan Nabi. Inilah definisi Wali menurut Ahlusunnah wal Jamaah yaitu bahwa Wali adalah setiap orang yang memiliki keimanan dan ketakwaan.

Karena derajat keimanan dan ketakwaan bertingkat-tingkat, maka derajat kewalian –yaitu kecintaan dan pertolongan Allah pada hamba-Nya- juga bertingkat-tingkat. Yang dimaksud dengan wali adalah orang yang senantiasa menyempurnakan keimanan dan ketakwaan sesuai dengan kemampuannya serta sebagian besar kondisinya berada dalam keimanan dan ketakwaan. Hal ini berdasarkan firman Allah jalla wa ‘ala,

أَلا إِنَّ أَوْلِيَاء اللّهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَكَانُواْ يَتَّقُونَ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)

Allah menyebutkan bahwa wali-Nya adalah orang yang beriman dan bertakwa. Barang siapa yang memusuhi orang mukmin, bertakwa yang selalu menyempurnakan keimanan dan ketakwaan sesuai dengan kemampuannya dan tidak terdapat celaan yang mengurangi kesempurnaan iman dan takwanya maka dia diizinkan untuk diperangi. Yaitu bahwa dia diketahui dan diancam dengan siksaan dari Allah jalla wa ‘ala. Karena Wali tersebut dicintai dan ditolong oleh Allah jalla wa ‘ala dan kita wajib untuk mencintai orang tersebut karena Allah cinta padanya.

Kemudian Allah berfirman, [Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amal ibadah yang lebih aku cintai dari pada perkara yang Aku wajibkan]. Yaitu bahwa bentuk taqorrub (pendekatan diri) seorang hamba yang paling dicintai oleh Allah adalah menunaikan kewajiban. Inilah bentuk taqorrub yang paling dicintai oleh Allah. Seperti sholat lima waktu, menunaikan zakat, melaksanakan puasa wajib, melaksanakan haji yang wajib dan perkara lainnya yang telah diwajibkan oleh Allah kepada seorang hamba. Hal merupakan perkara yang paling dicintai Allah jalla wa ‘ala.

Hal ini berbeda dengan yang terjadi pada sebagian orang. Orang tersebut merasakan khusyuk dan tunduk ketika mengerjakan perkara yang sunnah tidak sebagaimana yang terjadi ketika mengerjakan perkara yang wajib. Hal ini menyelisihi ilmu. Sebagaimana disebutkan pada hadits qudsi ini bahwa Allah jalla jalaaluh mencintai bahkan lebih mencintai seorang hamba yang bertaqorrub dengan amalan yang wajib. Allah mewajibkan perkara-perkara yang fardhu karena Allah suka jika seorang hamba beribadah pada-Nya dengan perkara wajib tersebut.

Kemudian Allah berfirman: [Hamba-Ku akan senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya]. Yaitu hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perkara yang sunnah –yaitu perkara sunnah dalam ibadah setelah menunaikan perkara yang wajib- sehingga Allah jalla wa ‘ala mencintainya. Dia disifati sebagai orang yang banyak melakukan amalan sunnah karena banyaknya ia melakukan perkara sunnah baik berupa sholat, puasa, sedekah, haji, umroh dan lain sebagainya.

Allah berfirman: [Hingga Aku mencintainya]. Hal ini menunjukkan bahwa kecintaan Allah jalla wa ‘ala dapat diraih dengan bersegera dalam ketaatan dengan mengerjakan amalan sunnah dan bersegera melakukannya setelah menunaikan amalan wajib serta mendekatkan diri kepada Allah dengan perkara sunnah tersebut.

Allah berfirman: [Jika Aku mencintainya]. Karena kecintaan Allah jalla wa ‘ala pada seorang hamba akan memberikan pengaruh. Apa pengaruh tersebut? [Jika Aku mencintainya, Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Akulah penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat…] dan seterusnya hingga akhir hadits. Para ulama Ahlusunnah menafsirkan perkataan Allah [Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar] yaitu bahwa Aku akan memberikan taufik dan meluruskan pendengaran dan penglihatannya, serta apa yang diperbuat oleh kedua tangannya dan ke mana kakinya melangkah. Makna kalimat [Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar] yaitu bahwa Aku akan memberikan taufik dan meluruskannya. Penjelasan seperti ini bukanlah sebuah penyimpangan makna. Karena ketetapan syariat yang tegas menunjukkan bahwa zat Allah jalla wa ‘ala tidak bercampur dengan makhluk dalam pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, tangan-Nya dan kaki-Nya Maha Suci dan Maha Agung Robb kita. Maka ketetapan syariat menunjukkan bahwa firman-Nya: [Akulah pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar] yaitu Aku memberikan taufik dan meluruskan pendengarannya. Apa yang didengarnya adalah sesuatu yang Allah cintai untuk diperdengarkan. Apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang Allah cintai untuk dilihat. Apa yang dikerjakan dengan tangannya adalah sesuatu yang Allah cintai untuk dikerjakan, demikian pula dengan langkah kakinya.

Orang-orang sufi ekstrem menjadikan hadits ini sebagai dalil bahwa Allah bersatu dengan makhluk. Setelah firman Allah [Akulah kakinya yang dia gunakan untuk berjalan] mereka menambahkan redaksi hadits yang palsu yaitu: “Sampai-sampai jika ia berkata pada sesuatu, “Jadilah!” maka sesuatu tersebut akan terjadi.” Tambahan ini bersumber dari akidah hulul (keyakinan bahwa Allah bersatu dengan makhluk –pent). Tambahan ini diriwayatkan dengan sanad yang munkar. Bahkan sejumlah ulama menilai tambahan tersebut adalah maudhu’ (palsu).

Kemudian firman Allah, [Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan, jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi]. Yaitu, demi Allah, jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan. Karena huruf “lam” pada kalimat ini merupakan isi sumpah dan sebelumnya ada kalimat sumpah yang dibuang. [Jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan] yaitu, demi Allah jika dia meminta kepada-Ku akan Aku berikan apa yang ia minta. Yaitu bahwa Allah akan mengabulkan doanya. [Jika dia meminta perlindungan pada-Ku, akan Aku lindungi] ini adalah bagian dari kalimat sebelumnya. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk di antara hamba-hambaNya yang istimewa dan para wali-Nya.

Wali -Wali Allah

Habib Munzir Al Musawa

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ اللهَ قَالَ : مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ( صحيح البخاري )
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, Allah subhanahu wata'ala berfirman: "Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku kumandangkan perang terhadapnya. Tidaklah seorang hamba mendekatiKu dengan sesuatu yang Aku cintai dari perbuatan yang Aku wajibkan padanya dan ia masih terus mendekatiKu dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Ketika Aku mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Aku menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memegang, Aku menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.


Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya." ( Shahih Al Bukhari )
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ الْجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ هَدَاناَ بِعَبْدِهِ الْمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ ناَدَانَا لَبَّيْكَ ياَ مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلّمَّ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ اَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِيْ جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجْمَعِ اْلكَرِيْمِ وَالْحَمْدُلله الَّذِي جَمَعَنَا فِيْ هَذَا الشَّهْرِ اْلعَظِيْمِ وَفِي هَذِهِ الْجَلْسَة...

Limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa tunggal dan abadi, Maha melimpahkan keluhuran dan kebahagiaan bagi hamba-hambaNya di setiap waktu dan saat, Maha melimpahkan kelembutan dan kenikmatan yang tiada henti-hentinya kepadaku dan kalian, tidak satu detik pun rahmatNya terhenti untuk kita, tidak satu detik pun kasih sayang-Nya terhenti untuk kita terkecuali terus mengalir kepada kita, kenikmatan melihat, kenikmatan mendengar, kenikmatan berbicara, kenikmatan bergerak, kenikmatan berfikir, kenikmatan merenung, kenikmatan sanubari dan kenikmatan-kenikmatan luhur lainnya, dan kenikmatan-kenikmatan itu terus berlanjut, kenikmatan bernafas, kenikmatan penggunaan jantung dan seluruh tubuh kita, kenikmatan cahaya matahari, kenikmatan gelapnya malam, kenikmatan indahnya pemandangan, kenikmatan udara dan berjuta-juta kenikmtan lainnya. Allah subhanahu wata'ala berfirman

:وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ( ابراهيم : 34 )
" Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghitungnya ". ( Qs. Ibrahim : 34 )
Hal ini menunjukkan betapa banyak kenikmatan yang kita ketahui dan betapa lebih banyak kenikmatan yang tidak kita ketahui, dan Allah mengatakan bahwa manusia tidak akan pernah bisa menemukan jumlah kenikmatan itu. Semakin kita mempelajari maka akan semakin kita memahami baik secara ilmiah atau dengan hadits-hadits nabawiyah atau yang lainnya, secara logika atau pun dengan dalil, maka kenikmatan itu semakin kita pelajari maka akan semakin banyak dan semakin terbuka, semakin luas, semakin mulia, dan semakin indah.
Demikianlah perbuatan Sang Maha Baik, demikian perbuatan Sang Maha Luhur dan Mulia, demikian perbuatan Sang Maha Indah, demikian perbuatan Sang Maha mencintai, demikian perbuatan Sang Maha Pemaaf, demikian perbuatan Sang Maha penyelamat, demikian perbuatan Sang Maha lemah lembut sehingga Dia ( Allah ) subhanahu wata'ala melipatgandakan perbuatan baik kita dan senantiasa siap mengampuni kesalahan-kesalahan kita, demikian indahnya Yang Maha indah, demikian mulia dan berkasih sayang Yang Maha berkasih sayang.Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahAllah subhanahu wata'ala berfirman
:إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ ، وَمَنْ يَتَوَلَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالَّذِينَ آَمَنُوا فَإِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْغَالِبُونَ ( المائدة : 55- 56 )"
Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang ". ( QS. Al Maidah : 55- 56 )
Allah subhanahu wata'ala memberi pemahaman kepada kita, siapakah yang seharusnya kita jadikan sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan ?. Allah berfirman : " Sungguh yang melindungi kalian, yang menolong kalian dan yang bisa kalian mintai pertolongan adalah Allah dan RasulNya serta orang-orang yang beriman ",tetapi siapakah orang-orang yang beriman itu ?, maka Allah subhanahu wata'ala perjelas bahwa orang yang beriman adalah mereka yang mendirikan shalat, mereka yang menunaikan zakat, dan mereka yang memperbanyak melakukan ruku' yaitu banyak melakukan shalat sunnah di siang hari dan malam harinya, mereka yang dimaksud adalah para shalihin. Maka firman Allah bahwa pelindung kalian ( manusia ) adalah Allah, RasulNya dan para shalihin.
Maka Allah melanjutkan firmanNya : " Barangsiapa yang mengambil perlindungan dari Allah, dari RasulNya dan dari orang-orang yang beriman, maka sungguh tentara Allah lah yang pasti akan menang ".Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahKita fahami rahasia keluhuran, bagaimana jika kita meminta perlindungan kepada Allah. Di dalam riwayat Shahih Al Bukhari, ketika nabiyullah Ibrahim AS didekatkan dengan api Namrud, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : " Ketika nabiyullah Ibrahim didekatkan kepada api namrud untuk dibakar, maka kalimat terakhir yang diucapkan adalah :
حسبي الله ونعم الوكيل(
Cukuplah Allah untukku dan Dialah sebaik-baik pelindung )",
maka Allah subhanahu wata'ala cukupkan Allah sebagai pelindungnya, kemudian Allah perintahkan api itu menjadi sejuk dan membawa keselamatan bagi nabiyullah Ibrahim As, dengan firmanNya
:ياَنَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَسَلَامًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ ( الأنبياء : 69 )"
Wahai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim". ( QS. Al Anbiyaa: 69 ),
Namun Allah juga memberi kesempatan bagi kita untuk meminta pertolongan kepada para rasul dan nabiNya, dan pemimpin para nabi dan rasul adalah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana Allah subhanahu wata'ala berfirman
: وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا ( النساء : 64(
" Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk dita'ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang ". ( QS. An Nisaa: 64 )
Maka ketika para sahabat merasa telah banyak berbuat dosa, maka mereka berdatangan kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan bertobat kepada Allah dihadapan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, lantas Rasulullah pun memohonkan pengampunan dosa untuk mereka, maka pastilah mereka akan diampuni oleh Allah karena Allah Maha penerima taubat dan Maha Penyayang. Tadi kita berbicara tentang tiga pelindung bagi kita yaitu Allah, RasulNya, dan para shalihin. Yang pertama telah saya jelaskan sekilas, yang kedua berdasarkan dalil firman Allah dimana para shahabat berdatangan kepada Rasul untuk meminta perlindungan atas dosa-dosa mereka agar diampuni oleh Allah subhanahu wata'ala, dan banyak lagi riwayat Shahih Al Bukhari dimana ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sedang berkhutbah Jum'at, maka datanglah seorang dusun dari kejauhan, dan ketika Rasul sedang menyampaikan khutbah maka ia menyela dan berkata : " Wahai Rasulullah, kemarau tidak juga berakhir, hewan-hewan kami banyak yang mati, dan pohon-pohon kekeringan, tanah pecah terbelah dan kami sudah kehabisan air, maka mohonkanlah doa kepada Allah agar diturunkan hujan ".
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdoa. Diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa sayyidina Anas bin Malik berkata : " Saat kami keluar dari shalat Jum'at, maka Rasul mengangkat tangan dan berdoa agar diturunkan hujan, dan belum Rasulullah menurunkan tangannya kecuali awan-awan telah berdatangan dari segala penjuru Madinah Al Munawwarah, dan belum selesai kami melakukan shalat kecuali tetesan-tetesan air hujan mulai turun membasahi jenggot Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam". Maka hujan pun turun sedemikian derasnya dan tidak berhenti selama satu minggu terus membasahi Madinah Al Munawwarah. Dan di hari Jum'at berikutnya, ketika Rasulullah berkhutbah maka orang dusun tadi datang dan berkata : "Wahai Rasulullah, rumah-rumah dan tumbuhan habis, air tidak tertahan dan banjir dimana-mana, maka mohonkan kepada Allah agar Allah menghentikan hujan ", maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdoa
:اَللّهُمَّ حَوَالَيْناَ لَا عَلَيْنَا
" Ya Allah (hujan) disekitar kami saja, jangan di atas kami"
Maka Rasulullah memberi isyarat kepada awan, dan awan-awan yang diisyaratkan pun tunduk atas intruksi dari Rasul shallallahu 'alaihi wasallam sehingga Madinah Al Munawwarah bagaikan kubah yang bolong karena di atasnya di sekitar Madinah awan gelap masih menggumpal dan hujan deras, kecuali Madinah Al Munawwarah yang terik diterangi sinar matahari dan tidak ada setetes air hujan pun. Diriwayatkan di dalam syarah Fathul Bari dan riwayat lainnya bahwa hujan di sekitar Madinah itu berlangsung hingga sebulan. Demikianlah permohonan meminta perlindungan kepada Rasulullah.
Begitu juga meminta perlindungan kepada para shalihin yang mana hal ini banyak teriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah, diantaranya riwayat Shahih Al Bukhari kejadian yang sama di masa Khalifah Umar bin Khattab Ra, ketika mereka dalam keadaan kemarau yang panjang, mereka pun datang kepada sayyidina Umar bin Khattab untuk memintakan doa kepada Allah agar diturunkan hujan, maka sayyidina Umar bertawassul kepada sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib Ra dan hujan pun turun, demikian riwayat Shahih Al Bukhari. Fahamlah kita bahwa Allah membuka perlindunganNya dari Allah subhanahu wata'ala, dan dari para rasulNya dan juga dari para hambaNya yang shalih.
Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahSampailah kita pada hadits mulia ini, firman Allah subhanahu wata'ala dalam hadits qudsi
:مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ "
Barangsiapa yang memusuhi waliKu (kekasih-Ku), orang-orang yang Kucintai maka Aku umumkan padanya perang"
Maksudnya ia adalah musuh besar Allah jika ia membenci dan memusuhi kekasih Allah, kecuali ia bertobat. Jika ia bertobat, maka tentunya dimaafkan oleh Allah subhanahu wata'ala. Mengapa Allah subhanahu wata'ala murka jika mereka para kekasihNya dibenci?, karena para kekasih Allah tidak mempunyai sifat dendam dan mereka tidak marah tetapi yang marah adalah Allah subhanahu wata'ala karena Allah mencintai mereka, Allah subhanahu marah karena wali Allah yang dibenci tidak benci kepada yang membencinya, maka Allah subhanahu wata'ala yang murka kepada orang itu.
Siapakah para kekasih Allah itu?, firman Allah dalam hadits qudsi
:وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
Tiadalah seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah menuju keridhaan Allah, menuju kasih sayang Allah yang beramal dengan hal-hal yang telah diwajibkan kepadanya seperti shalat wajib, puasa ramadhan, zakat, dan haji. ( Namun untuk saudari kita yang baru masuk Islam tidak dipaksakan untuk melakukan hal-hal yang fardhu di dalam syariah islamiyah kecuali semampunya saja, yang mampu dijalankan dan yang masih terasa berat jangan dilakukan, karena iman itu butuh waktu dalam mencapai kemapanan untuk mampu melaksanakan segala hal-hal yang fardhu ). Dan hamba itu tidak berhenti hanya mengamalkan hal-hal yang wajib saja, tetapi meneruskan juga dengan hal-hal yang sunnah untuk terus mendekat kepada Allah sampai Allah mencintainya, maka ia telah menjadi kekasih Allah karena ia mengamalkan hal-hal yang fardhu dan yang sunnah, amalan yang seperti apa?
Tentunya yang diajarkan oleh sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, baik amalan yang fardhu atau pun yang sunnah yang mana yang kita ketahui kalau bukan ajaran sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Kesimpulannya, ketika seseorang mengikuti ajaran sang nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dalam kehidupannya dan semampunya maka ia akan mencapai cinta Allah subhanahu wata'ala, dan tidaklah seseorang mencapai derajat orang yang dicintai Allah ( Wali Allah ) kecuali ia telah mengikuti tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliaulah masdar al awliyaa dan manba' al awliyaa ( sumber para wali ).
Dan jikalau Allah telah mencintai hamba-Nya, maka Allah menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Allah akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Allah akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk membela diri , Allah akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Tentunya maksudnya bukan secara makna kalimat, tetapi mengandung majas yaitu makna kiasan. Maksudnya adalah jika seseorang telah taat kepada Allah, selalu ingin berbuat yang luhur, selalu menghindari hal yang hina, maka apa-apa yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata'ala, seperti jika ia mendengar aib orang lain maka ia doakan orang itu, ia mendengar cacian dan umpatan dari orang lain maka ia doakan orang itu, semua yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata'ala. Semua hal yang ia lihat menjadi rahmatnya Allah subhanahu wata'ala, misalnya ia melihat orang berbuat dosa maka ia doakan agar ia diampuni dosanya oleh Allah dan diberi hidayah, matanya yang melihat membawa rahmat Allah subhanahu wata'ala, tangan dan kakinya pun demikian, hari-harinya pun demikian.
Maka maksud firman Allah dalam hadits qudsi itu adalah Allah memancarkan rahmat dan cahayaNya dari hamba itu, melalui penglihatannya, pendengarannya, ucapannya, dan hari-harinya penuh rahmat Allah subhanahu wata'ala, demikianlah keadaan para wali Allah. Maka jika hamba itu meminta kepada Allah maka Allah kabulkan permintaannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada Allah maka Allah akan melindunginya. Allah melanjutkan firman-Nya dalam hadits qudsi
:وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ "
Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya".Yang dimaksud bukanlah Allah subhanahu wata'ala ragu dalam menentukan sesuatu untuk hambanya, karena Allah tidak memliki sifat ragu. Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, bahwa yang dimaksud adalah Allah subhanahu wata'ala merasa berat jika ingin menentukan suatu ketentuan yang bisa membuat para kekasih-Nya kecewa.
Allah tidak pernah merasa berat dalam menentukan sesuatu, kecuali kepada para walinya karena Allah subhanahu wata'ala tidak ingin mengecewakan mereka. Allah tidak mau mengecewakan para kekasih-Nya, jika kekasih-Nya belum ingin wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya. Maka ketika Allah mengundang hamba-Nya untuk wafat namun hamba-Nya masih ragu untuk wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya, Allah panjangkan usianya, kenapa? karena ia telah menjadi kekasih Allah. Bukan berarti Allah mengikuti semua yang dia inginkan, tetapi Allah sangat mencintainya dan tidak mau mengecewakannya. Tetapi banyak kejadian di masa nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau didzalimi, disakiti, dan dianiaya ?!, ingat ucapan Allah subhanahu wata'ala
:وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ "
Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya "
Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak ingin musuhnya celaka, maka beliau diam saja atas perbuatan musuh-musuhnya, sampai jika sesuatu itu membahayakan muslimin barulah beliau bertindak membela diri, tetapi jika hanya membahayakan dirinya sendiri maka beliau hanya bersabar dan bertahan, beliau tidak ingin kecelakaan terjadi pada musuh-musuhnya dan beliau masih berharap mereka bertobat dan kembali kepada keluhuran.
Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari di saat perang Uhud ketika panah menembus tulang rahang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka di saat itu darah mengalir Rasulullah sibuk menahan darah agar tidak sampai jatuh ke tanah, para sahabat berkata: " wahai Rasulullah biarkan saja darah itu mengalir ", diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menahan darah yang mengalir jangan sampai jatuh ke tanah, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : " Kalau ada setetes darah dari wajahku yang jatuh ke tanah, maka Allah akan tumpahkan musibah yang dahsyat bagi mereka orang-orang Quraisy yang memerangiku ". Allah murka jika ada setetes darah dari wajah Rasulullah sampai tumpah ke bumi, maka Rasulullah menjaga agar jangan sampai ada setetes darah pun yang mengalir ke bumi, dan beliau tidak peduli ada panah yang menancap di rahang beliau, beliau memikirkan jangan sampai musibah turun kepada orang yang memeranginya.
Inilah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam .Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahDemikian pula perbuatan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada sayyidina Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa dia adalah seorang yang beriman tetapi ayahnya adalah pemimpin munafik yang paling jahat kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, berkelompok dengan orang-orang yang memusuhi nabi, mengabarkan berapa jumlah tentara nabi, berapa senjatanya, kapan keluar Madinah, kapan masuk Madinah, kapan perdagangan di Madinah, kapan orang-orang Madinah berdagang keluar dan lainnya, semua itu yang membocorkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, sungguh jahat sekali tetapi anaknya adalah orang yang beriman, ia bernama Abdullah juga.
Maka sayyidina Abdullah datang kepada Rasul dan berkata : " Wahai Rasulullah, ayahku sudah sakaratul maut dan tidak ada yang mau mengurus jenazahnya ", kenapa? karena teman-temannya yang munafik tidak mau mengurus jenazahnya, mereka takut jika mereka mnegurusi jenazahnya maka orang-orang muslim mengetahui bahwa mereka adalah pengikut Abdullah bin Ubay juga, sedangkan orang-orang muslim juga tidak mau mengurusi jenazah itu karena jelas-jelas yang wafat adalah pimpinan orang munafik yang sangat jahat, dimana ketika orang muslim mengirim bahan makanan atau ke Madinah dimonopoli oleh Abdullah bin Ubay, mau mengirimkan bantuan atau perdagangan ke Madinah dirampok karena kapalnya sudah dibocorkan oleh Abdullah bin Ubay, justru mereka orang muslim senang dengan wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bangkit dan berdiri untuk mengurus jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, maka sayyidina Umar berkata : " Wahai Rasulullah, dia pimpinan munafik jangan engkau urus jenazahnya ", maka Rasulullah berkata: " biarkan aku wahai Umar ", maka Rasulullah lah yang memandikannya, Rasul yang mengkafaninya , Rasul yang menshalatinya, Rasul yang menurunkannya ke kuburnya, Rasul yang mendoakannya, lalu turunlah ayat
:وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ ( التوبة : 84 )"
Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik." ( QS. At Tawbah : 84 )
اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ ( التوبة : 80 )"
Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Meskipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." ( QS. At Tawbah : 80 )
Di dalam ayat ini ada makna yang tersembunyi, dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh menukil makna syarh ayat ini bahwa Allah subhanahu wata'ala sangat mencintai nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi Muhammad tidak menentang Allah, beliau diciptakan oleh Allah penuh dengan sifat lemah lembut, maka Allah biarkan beliau mengurus jenazah Abdullah bin Ubay, dan setelah semua selesai barulah turun larangan dari Allah subhanahu wata'ala, maksudnya supaya orang munafik yang lain tau bahwa jenazah orang yang seperti itu tidak boleh dishalati sehingga mereka mau bertobat .
Kalau seandainya Allah subhanahu wata'ala betul-betul tidak menginginkannya, maka sebelum Rasulullah melakukannya pastilah dilarang tetapi justru Allah melarang setelah Rasulullah melakukannya, supaya menjadi pelajaran bagi orang munafik yang lainnya untuk tidak memusuhi dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Lalu Rasulullah berkata kepada sayyidina Umar : " Wahai Umar, engkau lihat firman Allah bahwa aku tidak boleh memohonkan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul karena Allah tidak mau mengampuninya walaupun 70 kali aku memohonkan pengampunan, wahai Umar kalau aku tau bahwa Allah akan mengampuninya jika kumintakan pengampunan lebih dari 70 kali, maka akan kumintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul ", misalnya Allah menuntut harus 1000 kali nabi memintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay maka beliau akan mintakan pengampunan itu demi keselamatan Abdullah bin Ubay bin Salim dari kemurkaan Allah subhanahu wata'ala. Demikian mulianya sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahDan hubungan Rasulullah dengan mereka yang non muslim tetap baik, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak memusuhi orang-orang yang tidak memusuhi muslimin.
Ketika dalam perang Tabuk yang terjadi pada bulan Sya'ban, dimana raja Yohana telah mengikuti Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam walaupun dia tidak masuk Islam, namun dia tunduk kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajukan kepadanya untuk membayar jizyah ; seperti zakat tetapi untuk non muslim, jika untuk orang muslim disebut zakat dan untuk orang non muslim disebut Jizyah. Jizyah itu jauh lebih kecil dari zakat, maka sebagian orang non muslim berkata : " orang muslim kejam, orang non muslim kok harus bayar jizyah ", tidak demikian justru lebih ringan karena untuk orang muslim ada 7 macam zakat, diantaranya zakat fitrah, zakat tijarah, zakat tsimar, zakat ma'din, zakat rikaz, zakat hewan ternak, dan zakat emas dan perak, tetapi kalau non muslim hanya satu saja yang disebut dengan jizyah. Ketika dia ( raja Yohana ) telah membayar jizyah, maka Rasulullah menulis surat yang berisi : " Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad Nabiyullah dan Rasulullah, dengan ini aku telah menuliskan dan mengamanatkan bahwa raja Yohana telah membuat perjanjian denganku, maka dia aman, hartanya, perahu-perahunya yang dan kendaraan-kendaraannya kesemuanya aman, dia aman di darat dan di laut dengan jaminan keselamatan Allah dan Rasul-Nya".
Rasulullah yang menjamin keselamatannya, Rasul yang menjamin ia agar terjaga dari gangguan-gangguan orang lain dan musuh-musuhnya. Dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang Yahudi memohon izin untuk tinggal di rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka Rasul izinkan, bukan melarangnya atau mengatakan : " kamu najis, tidak boleh masuk ke rumahku ",tidak demikian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka pemuda Yahudi itu pun tinggal bersama Rasul, duduk bersama Rasul, makan bersama Rasul, tidur seatap dengan Rasul shallallahu 'alaihi wasallam. Kita mengetahui yang masuk ke rumah Rasul tidak sembarang orang, tetapi pemuda Yahudi ini bahkan tinggal bersama Rasul berkhidmah kepada beliau, membawakan makanan dan pakaian nabi tetapi beliau tidak memaksakannya untuk masuk kedalam Islam sampai pemuda itu sakit, ketika sakit ia pulang ke rumahnya dan tidak lagi datang ke rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka Rasulullah menjenguknya ke rumahnya bukannya Rasul senang atau mengatakan : " baguslah orang non muslim itu keluar dan tidak lagi datang ke rumahku ", tidak demikian bahkan Rasul menjenguknya dan sesampainya beliau di rumah pemuda itu, beliau dapati pemuda itu sudah sakaratul maut, di saat itulah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam membisikkan kepadanya : " katakan : " Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah ", maka pemuda itu melihat kepada ayahnya yang juga orang Yahudi apakah ayahnya mengizinkannya atau tidak untuk mengucapkan kalimat itu, maka ayahnya berkata : " Taatilah Abu Al Qasim ",
maka anaknya pun mengucapkan kalimat Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah kemudian wafat, maka Rasulullah pun memakamkannya kemudian pulang ke rumah dengan wajah yang bersinar dan terang benderang bagaikan sinar bulan purnama karena begitu gembiranya . Maka para sahabat bertanya : " Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu gembira sehingga engkau terlihat begitu terang benderang ", maka Rasulullah berkata : " Aku sangat gembira karena Allah telah memberinya hidayah ".
Hadirin hadirat, orang yang paling menginginkan semua non muslim masuk Islam adalah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, namun beliau mengetahui adab kepada Allah bahwa Allah lah yang memilihkan hidayah, mana yang dikehendaki dan mana yang belum dikehendaki Allah subhanahu wata'ala.Hadirin hadirat yang dimuliakan AllahMaka kita fahami rahasia keluhuran bagaimana Allah subhanahu wata'ala mencintai kekasih-kekasihNya, para nabi dan wali-Nya. Dan kita lihat dalam beberapa hari ini kita sudah kehilangan dua orang Al Arif Billah ; As Syaikh Muzhir bin Abdurrahman An Naziri Al Hasani dan Fadhilah As Sayyid Al Arif billah Al Habib Husain bin Umar bin Hud Al Atthas 'alaihima rahmatullah wamaghfiratullah. Sungguh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda riwayat Shahih Al Bukhari
:يَذْهَبُ الصَّالِحُونَ الأَوَّلُ فَاْلأَوَّلُ وَيَبْقَى ‏حُفَالَةٌ ‏‏كَحُفَالَةِ الشَّعِيرِ أَوِ التَّمْرِ لاَ يُبَالِيهِمُ اللَّهُ بَالَةً ( صحيح البخاري )“
Orang-orang shalih telah pergi (wafat), satu per satu, sampai tidak tersisa seorangpun kecuali manusia-manusia yang buruk, ibarat sampah gandum atau ampas kurma yang Allah tidak lagi mempedulikan mereka sedikitpun." ( Shahih Al Bukhari )
Akan terus wafat para shalihin satu persatu meninggalkan bumi, sampai nanti tersisa orang-orang yang tidak lagi peduli dengan Allah, dan Allah pun tidak peduli dengan keadaan mereka. Maka semoga Allah menumbuhkan lagi generasi shalihin yang baru, amin.
Hadirin hadirat, dan yang perlu saya sampaikan adalah agar kita selalu menjalin hubungan baik khususnya dengan Allah subhanahu wata'ala, dengan memperbanyak ibadah, memperbanyak sujud, memperbanyak kemuliaan, ingatlah beberapa hari lagi kita akan sampai ke bulan Ramadhan yang digelari dengan syahrussujud, bulan seribu sujud , karena kalau kita shalat tarawih setiap malam 20 raka'at dan witir 3 rakaat maka jumlahnya 23 raka'at, dalam 1 rakaat 2 kali sujud berarti jika tarawihnya setiap malam 20 rakaat maka setiap malam 40 sujud dikalikan 30 hari = 1200 sujud dalam satu bulan, itu shalat tarawihnya saja , belum lagi ditambah witir dan shalat sunnah yang lainnya, maka bulan Ramadhan itu digelari bulan seribu sujud karena muslimin melakukan shalat Tarawih di bulan itu sehinnga melakukan sujud lebih dari 1000 kali sujud. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari :
حَرَّمَ اللهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ أَثَرَ السُّجُوْدِ "
Allah mengharamkan api neraka memakan ( menyentuh ) bekas sujud " ( Shahih Al Bukhari )
Anggota tubuh yang digunakan untuk bersujud tidak boleh disentuh oleh api neraka, demikian Allah haramkan kepada api neraka untuk tidak menyentuh anggota sujud. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda riwayat Shahih Muslim
:أَقْرَبُ اْلعَبْدُ إِلَى اللهِ مَنْزِلَةً وَهُوَ سَاجِدٌ “
Keadaan yang paling dekat antara seorang hamba dengan Allah SWT yaitu ketika dia sedang sujud”
Diriwayatkan dalam Shahih Muslim bahwa sayyidina Tsauban Ra ditanya oleh para sahabat apakah amal yang paling dicintai Allah, maka ia diam sehingga para sahabat terus mendesaknya akhirnya ia pun berkata : " pertanyaanmu sudah pernah kutanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, dan Rasulullah berkata :
" perbanyaklah sujud ",karena barangsiapa yang sujud satu kali sujud maka terangkatlah dosanya, dan derajatnya terangkat semakin dekat dengan Allah setiap kali ia sujud. Diriwayatkan oleh sayyidina Rabi'ah bin Ka'ab Ra dalam Shahih Muslim ia berkata :
" ketika aku berkhidmat kepada nabi selama berhari-hari, aku membawakan makanannya, minumannya, dan air wudhunya kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, sampai ketika aku pamit maka beliau berkata :
" mintalah apa yang engkau inginkan dariku ", maka sayyidina Rabi'ah bin Ka'ab berkata :
" Wahai Rasulullah, aku meminta agar aku bisa bersamamu kelak di surga, sebagaimana aku menemanimu di dunia, aku ingin pula bisa menemanimu di surga ",maka Rasulullah menjawab :
" Bantulah aku untuk mendapatkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud ".
Hadirin hadirat, bulan Ramadhan adalah bulan suci semoga rahasia kemuliaan sujud berlimpah kepada kita, dan semoga Allah memuliakan kita dengan keluhuran sujud, dengan cahaya sujud dan kesejukan sujud. Bukakan bagi kami kelezatan sujud, keindahan sujud sehingga kami asyik bersujud mensucikan nama-Mu wahai Yang Pada-Mu kami bersujud, sebagaimana telah Engkau tundukkan kami untuk hanya sujud kepada-Mu, maka tundukkan hati kami untuk tidak tunduk dan sujud kecuali hanya kepada-Mu wahai Allah, jadikanlah penolong kami adalah dzat-Mu , jadikanlah penolong kami adalah Rasul-Mu, jadikanlah penolong kami adalah para shalihin-Mu Ya Rahman Ya Rahim.
Ya Allah limpahkan keberkahan kepada kami di bulan Sya'ban dan sampaikan kami pada keberkahan bulan Ramadhan. Ya Rahman Ya Rahim muliakan semua yang hadir di malam hari ini, dan jangan satu pun dari hajat kami yang tertolak, arahkan takdir kami selalu kepada keluhuran dan kebahagiaan , jangan sampai arah takdir kami menuju musibah dan kesusahan kecuali Engkau palingkan arah takdir kami, arah kehidupan kami kepada hal-hal yang Engkau ridha, kepada hal-hal yang Engkau cinta, kepada hal-hal yang Engkau muliakan, dan limpahkanlah rahmat dan kemuliaan lebih dari yang aku minta, limpahilah hajat lebih dari yang kami mohon, Engkau selalu memberi lebih dari yang kami minta, jika aku beramal dengan satu amal maka Engkau membalasnya dengan sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat, kami meminta satu doa maka berilah kami sepuluh hajat hingga tujuh ratus hajat, Ya Rahman Ya Rahim Ya Dzal Jalaly wal Ikram Ya Dazttawli wal In'am …
Selanjutnya saya mohonkan kesediaannya untuk mengikuti tahlil dan doa untuk ayahanda saya Fadhilah As Sayyid Al Maghfur Al Habib Fuad bin Abdurrahman bin Ali Al Musawa, di masa kecil saya kalau membaca Al qur'an saya selalu dipanggil dan didudukkan di pangkuannya, di saat itu saya belum mengetahui maknanya tetapi saya tidak boleh bermain kecuali harus berada di dekat beliau saat beliau membaca Al Qur'an, beliau selalu menghadiahkan hafalan Al Qur'an untuk kesemua anaknya dan selalu mendoakan mereka. Ketika saya akan berangkat ke Yaman tahun 1994 , beliau sangat berat dan sedih untuk melepas keberangkatan saya, beliau hanya memberikan tangannya untuk saya menciumnya lantas saya meninggalkan beliau, terlihat beliau membuang muka menandakan tidak ridha, tetapi ketika saya hampir naik ke mobil, beliau membuka pintu rumah dari jauh beliau melihat saya dengan berlinang air mata, ternyata beliau memalingkan wajah ketika saya akan pergi bukan berarti tidak ridha tetapi beliau tidak ingin saya melihat air mata beliau mengalir karena sedih untuk berpisah karena setelah itu saya tidak berjumpa lagi dengan beliau ,itulah pemandangan terakhir saya melihat beliau, ketika saya di Yaman beliau sudah wafat. Semoga Allah subhanahu wata'ala memuliakan beliau, amin. Mari kita membacakan tahlil untuk beliau dan juga untuk As Syaikh Mudh-hir bin Abdurrahman An Nadhiri Al Hasani dan Sayyid Al Arif billah Al Habib Husain bin Umar bin Hud Al Atthas.

Mengenai Wali Allah dan Tanda-tandanya

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia mereka.
Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah memandang diri dengan kerendahan dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu kekeramatan yang nyata bagi dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum atas diri wali di dalam perjalanannya dari tkebatalan kepada ketetapannya adalah kesungguhan menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil memohon kepada Allah segala kebaikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi al Husain, dalam kitabnya Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm. 179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”
Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.

Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai hamba-Nya yang membersihkan dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak bini, cerita-cerita yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan keindahan dan kemegahan wali-wali itu.

Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.
Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya (awliya’), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah pasti menang. (QS. al Maidah : 56)

Bagi Allah, ada orang takkan dapat dikenal melainkan oleh para khusus. Bagi Allah, ada orang (kelompok) yang dapat dikenal oleh oleh para khusus dan awam. Bagi Allah, ada orang yang takkan dapat dikenal oleh para khusus maupun para umum. Bagi Allah, ada yang telah diungkapkan pada “Bidayat” (permulaan)dan ditutup rapat pada “Nihayat” (kesudahan). Bagi Allah, ada orang yang ditutup rapat pada “Bidayat” (permulaan) dan diungkapkan pada “Nihayat”. Dan bagi Allah ada orang (kelompok) yang tidak dapat dikenal selain oleh Dia sendiri. Tiada yang dapat mengetahui apa yang terjadi antara mereka dan Allah Swt, kecuali para malaikat.


Seorang wali selalu mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dia tidak tertarik mengejar keutamaan duniawi, apalagi menguasai seperti diinginkan banyak orang. Ketika mendapat sedikit nikmat dia tetap bersabar, jika banyak dia bersyukur. Celaan atau pujian, terkenal atau tidak, baginya sama saja. Dia tidak sombong dengan kewalian yang dianugerahkan Allah kepada dirinya. Semakin tinggi Allah menaikkan derajadnya, semakin bertambah kedudukannya. Dialah orang yang berakhlak baik, sangat ramah dan bijaksana. Seorang wali senantiasa menyibukkan dirinya dengan hal yang disenangi dan di sunahkan Allah, sehingga ia dicintai Allah, menyatu dengan-Nya, do’a-do’anya selalu terkabul dan selalu mendapat perlindungan dari Allah Swt.

Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw :
قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : اِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ عِبَادًا يُغْبِطُهُمُ اْلاَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ. قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ. هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا بِنُوْرِ اللهِ مِنْ غَيْرِ اَمْوَالِ وَاَنْسَابِ، وُجُوْهُهُمْ نُوْرٌ. وَهُمْ عَلَى مَنَابِرَمِنْ نُوْرِ لاَيَخَافُوْنَ اِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَخْزَنُوْنَ اِذَا حَزِنَ النَاسُ. ثُمَّ تَلاَ. اَلاَ اِنَّ اَوْلِياَءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ.
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Dan apa amal perbuatan mereka? Semoga kita dapat mencintai mereka? Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda yang dengannya mereka saling memberi. Demi Allah, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).
Di antara sifat-sifat mereka adalah dapat mewariskan kepada para kawan semajelis mereka mengenai kesempurnaan dzikir. Mereka karena cintanya kepada Allah dan menyatu dengan-Nya, maka setiap orang yang menyebut Allah, mereka pun harus diingat pula. Dan setiap orang yang menyebut mereka, berarti Allah pun disebut. Karena nama Allah tidak bisa dipisahkan dengan nama mereka, dan nama mereka pun tidak bisa dipisahkan dengan nama Allah.
اِنَّ اَوْلِياَئِى مِنْ عِبَادِى وَاَحِبَّانِى مِنْ خَلْقِى الَّذِيْنَ يُذْكَرُوْنَ بِذِكْرِى وَاذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Sesungguhnya para wali diantara para hamba-Ku dan para kekasih-Ku di antara makhluk adalah mereka yang selalu disebut dengan nama-Ku. Begitu juga Aku disebut dengan sebutan (nama) mereka.
Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka.

Nabi bersabda :
اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.

Wahab bin Munabbih meriwayatkan, bahwa para hawariyun telah bertanya kepada Nabi Isa tentang siapa para wali Allah yang tiada merasa takut dan berduka cita? Nabi Isa menjawab: Mereka adalah para hamba yang selalu memandang kepada batin dunia ini, padahal para manusia yang lain memandang dari sisi lahirnya. Mereka mempersiapkan ajal (habisnya umur) dunia ini, ketika para manusia melihat pada kehidupan yang kini saja. Mereka menjauhkan diri dari sesuatu yang akan menodai kehambaan mereka. Pengingkaran mereka terhadap dunia ini merupakan suatu kemerdekaan dan kegembiraan mereka terhadap apa yang mereka capai daripadanya (dunia ini) merupakan duka cita.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits kudsi berikut ini :
ياَ أَوْلِيَائِى، جَزَائِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْجَزَاءِ، وَعَطَائِى لَكُمْ اَجْزَلُ الْعَطَاءِ، وَبَذْلِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْبَذْلِ، وَفَضْلِى عَلَيْكُمْ اَكْثَرُ الْفَضْلِ، وَمُعَامَلَتِى لَكُمْ اَوْفَى مُعَامَلَةٍ وَمُطَالَبَتِى لَكُمْ اَشَدُّ الْمُطَالَبَةِ. اَناَ مُجْتَبَى الْقُلُوْبِ وَاَناَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ وَاَناَ مُرَاقِبُ الْحَرَكَاتِ وَمُلاَحِظُ اللَّحَظَاتِ اَناَالْمُشْرِفُ عَلىَ الْخَوَاطِرِ، اَناَ الْعَالِمُ بِمَا جَالَ الْفِكْرُ فَكُوْنُوْا دُعَاةً لِى لاَ يَفُزُّ عَنْكُمْ ذَوِى سُلْطَانٍ سِوَايَ، فَمَنْ عَادَاكُمْ عَادَيْتُهُ وَمَنْ وَالاَكُمْ وَالَيْتُهُ وَمَنْ اَذَاكُمْ اَهْلَكْتُهُ وَمَنْ اَحْسَنُ اِلَيْكُمْ جَازَيْتُهُ، وَمَنْ هَجَرَكُمْ قَلَّيْتُهُ
Wahai para aulia-Ku, pemberian-Ku kepadamu adalah sebaik-baiknya pahala. Derma-Ku demi untukmu adalah semulia-mulianya pendermaan. Anugerah-Ku terhadapmu adalah sebanyak-banyaknya anugerah. Pergaulan-Ku kepadamu adalah setepat-tepatnya pergaulan. Tuntutan-Ku atas kamu adalah sekeras-kerasnya tuntutan. Akulah pemilik setiap hati sanubari. Akulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Akulah pemandang segala gerak-gerik. Akulah pengawas segala lirikan mata. Akulah yang melihat atas lintasan-lintasan hati. Akulah yang mengetahui gerakan pikiran.

Dengan demikian hendaklah kamu menjadi para pemanggil demi untuk-Ku. Janganlah kamu merasa takut kepada raja dan penguasa selain-Ku. Barang siapa yang berani memusuhi kamu, niscaya Akulah yang menjadi lawannya. Barang siapa yang menyakiti hati kamu, niscaya Akulah yang akan membinasakannya. Barang siapa yang berbuat baik kepadamu, niscaya Akulah yang memberinya pahala dan barang siapa yang meninggalkan kamu, niscaya Akulah yang membencinya.

Dalam riwayat yang lain, yaitu dari Dzunnun yang juga berkenaan dengan sifat mereka adalah bersegera kepada amal kebaikan, berpaling daripada senda gurau dan terbebas dari keraguan serta kekejian. Mereka seperti orang-orang yang bisu dan buta, padahal mereka fasih dan melihat, malah mereka memiliki pandangan yang tajam. Tentang kaum ini, tiada seorang pun yang berkemampuan untuk menguraikan seluruh dari hal ihwal mereka. Bersama mereka, dapat tercegah balas dendam dan atas mereka diturunkan berbagai keberkahan di muka bumi. Merekalah manusia yang paling indah dalam bertutur kata, manusia-manusia yang sangat memenuhi janji setia, cahaya bagi para hamba yang memberi sinar terang kepada Negara, pelita dimalam gelap gulita, pancaran hikmat kebijaksanaan, tiang yang kokoh bagi umat dan masyarakat. Tulang rusuk mereka amat renggang dari tempat tidur, memiliki sifat pemaaf dan gemar memberi keringanan. Tangan mereka terbuka serta dermawan. Mereka memandang pahala Allah dengan jiwa-jiwa yang penuh kerinduan. Dengan lirikan mata yang tepat. Amal perbuatan mereka yang rapi penuh dengan kesesuaian.

Mereka itulah yang telah mendapatkan cahaya Ilahiyat dengan nur ar Rahman, sehingga dapat memandang keindahan maut dan memandang akhirat dengan mata keridlaan. Membeli yang kekal dengan yang fana. Alangkah nikmatnya apa yang mereka jual-belikan dengan menghimpun dua kebaikan dan menyempurnakan dua kelebihan. Nabi bersabda :
اَحَبُّ الْعِبَادِ إِلىَ اللهِ اْلاَتْقِيَاءُ اْلاَخْفِيَاءُ الَّذِيْنَ اِذَا غَابُوْا لَمْ يَفْتَقِدُوْا وَاِذَا شَهِدُوْا لَمْ يَعْرِفُوْا اُولَئِكَ هُمْ أَئِمَّةُ الْهُدَى وَمَصَابِيْحُ الْعِلْمِ
Hamba yang paling cinta kepada Allah adalah yang tersembunyi. Apabila mereka gaib (tidak hadir), sekali-kali tiada orang yang dapat mengenalnya. Mereka itu adalah para imam hidayat dan lampu-lampu ilmu pengetahuan.

Sabda Beliau Saw yang lain :
اِنَّ مِنْ خِيَارِ اُمَّتِى قَوْمٌ يَضْحَكُوْنَ جَهْراً مِنْ سَعَةِ رَحْمَةِ رَبِّهِمْ وَيَبْكُوْنَ سِرًّا مِنْ خَوْفِ شِدَّةِ عَذَابِ رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ يَذْكُرُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ وَيَدْعُوْنَهُ بِأَلْسِنَتِهِمْ رَغَبًا وَرَهَباً وَيَشْتَاقُوْنَ اِلَيْهِ بِقُلُوْبِهِمْ عَوْدًا وَبَدَأَ مُؤْنَتُهُمْ عَلىَ النَّاسِ خَفِيْفَةً وَعَلىَ اَنْفُسِهِمْ ثَقِيْلَةً عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالىَ شُهُوْدٌ حَاضِرَةٌ وَاَعْيُنٌ حَافِظَةٌ وَنِعَمٌ ظَاهِرَةٌ يَتَوَسَّمُوْنَ الْعِبَادَ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِى الْبِلاَدِ اَجْسَادُهُمْ فِى اْلاَرْضِ وَقُلُوْبُهُمْ فِى السَّمَاءِِ
Orang yang terbaik di antara umatku adalah suatu kaum yang tersenyum karena luasnya rahmat dan kasih sayang Allah. Di samping itu, mereka manangis tersedu-sedu sambil mencucurkan air mata karena takut akan kerasnya adzab (siksa) Allah. Mereka senantiasa berdzikir dan berdoa sambil menaruh penuh harapan dan rasa takut. Mereka merindukan Rabb-Nya dengan hati yang tulus. Beban mereka atas manusia sangat ringan tapi atas diri mereka sendiri berat sekali. Penyaksian atas mereka dari Allah Swt dengan penglihatan yang memelihara dan aneka nikmat yang nyata. Mereka melihat tanda-tanda seorang hamba dan memikirkan negerinya. Jasad mereka berada di permukaan bumi, sedang hati sanubari mereka menjulang tinggi di langit.

Kemudian Beliau bersabda :
Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan menghadap kehadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku. (QS. Ibrahim : 14)

Al Hakim at Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (tanda-tanda kewalian), yang diantaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda kewalian itu.

Tingkatan Wali

Syaikhul Akbar Ibnu Araby dalam kitab Futuhatul Makkiyah membuat klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut :


Wali Aqthab atau Wali Quthub
Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.


Wali Aimmah
Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.


Wali Autad
Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Haiyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid.


Wali Abdal
Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.


Wali Nuqoba’
Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.


Wali Nujaba’
Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.



Wali Hawariyyun
Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair bin Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.


Wali Rajabiyyun
Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.

Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.

Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.


Wali Khatam
Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd,saw.

38 Hikmah Sufi Sayyid Ali Shah


Berikut adalah ringkasan tiga puluh delapan (38) kata-kata bijak dari Sufi besar dari abad 20, Sayyid Ali Shah (1840 -1951) dari Alipur Sharif, Sialkot, Pakistan. Syaikh adalah salah satu orang sufi besar dari Punjab dan masih keturunan Nabi dari kedua belah pihak ayah dan ibunya. Hadrat Ali Sahib terkenal karena kesucian-Nya bahkan sebagai anak muda setelah menyelesaikan studi agama (dia ahli dalam semua cabang fiqh, namun sangat mahir dalam ilmu hadis). Beliau keliling dunia tanpa lelah untuk Islam dan umat Islam.

Dia memiliki kepribadian indah, mengagumkan dan lembut, penuh kasih terhadap sesama. Syaikh memimpin oposisi terhadap rencana para penguasa Inggris di Lahore serta penolakannya untuk berdoa di belakang Imam Wahabi yang secara resmi sebagai Imam Haramain oleh Raja Saud. Ia pun menolak mengunjungi Raja ketika ia diperintahkan untuk melakukannya. Lalu menolaknya dengan kata-kata bijak, “Saya fakir, sedangkan dia adalah raja
Selain belajar pengetahuan yang luas, hingga menjadi syekh sufi yang suci, ia sangat dicintai oleh rakyat dan diperkirakan lebih dari 1 juta muridnya dari Afghanistan hingga ke ujung selatan India. Ia menerima [khirqah atau jubah sufi] dari Syaikhnya dengan sangat cepat setelah berbaiat, dan sekaligus menjadi wakilnya yang utama.

Dia adalah tokoh besar, dan dikagumi tokoh gerakan Pakistan, salah satunya Muhammad Iqbal, penyair besar itu.
Sebagai pengecap, berikut adalah contoh dari 38 perkataan Syaikh (malfuzat) yang saya terjemahkan. Sebagai pengecap, Dari contoh berikut adalah 38 perkataan Syaikh (malfuzat) Saya terjemahkan yang. Masing-masing adalah lautan kebijaksanaan dan semoga Allah membantu kita untuk mendapatkan keuntungan dari mereka dan untuk bertindak atas saran. Masing-masing adalah Lautan dan kebijaksanaan Semoga Allah membantu Kita untuk mendapatkan keuntungan Dari mereka dan untuk bertindak Atas saran. Ameen. Ameen.

Tiga puluh delapan ucapan-ucapan [Malfuzat] dari Syaikh Mulia, Sayid Ali Jamaat Shah Naqsybandi-Mujaddidi (Semoga Allah mensucikan rahasia batinnya).

1.Jika Asma Allah diucapkan sekali saja dengan lisan, itu disebut dzikir (mengingat) lisan, namun jika Nama Allah diingat dengan hati, maka itu akan sebanding dengan dengan tiga puluh lima juta ucapan-ucapan (dzikir) lisan. Itulah dzikir hati.
Ada 35 juta pembuluh darah dalam tubuh, dan semua yang terhubung ke jantung. Jika Nama Allah diucapkan bahkan sekali saja (dengan hati) maka semua yang mengalir mengucapkan juga.
2.Dalam sungai, perahu perjalanan di atas air dan semakin besar jumlah air, perahu akan lebih nyaman. Namun jika air masuk perahu, maka perahu akan terbalik. Jantung hati laksana perahu dan duka serta sakit hati air adalah dunia; kapal semua orang telah tenggelam kecuali bahwa Ahlullah -mereka yang melakukan dzikir- yang selalu tetap mengapung.
3.Allah Swt. telah menciptakan neraka untuk musuh-musuh Rasulullah Saw, dan surga diciptakan bagi mereka yang mencintainya. Orang-orang yang khawatir tentang apakah mereka akan pergi ke Surga atau Neraka setelah mati, harus bertanya pada diri sendiri apakah mereka pecinta Sang Kekasih Rasul Saw, atau justru jadi musuh-musuhnya.
4.“Kullu jadiidin ladzeezun”; Anda mungkin ingin meraih setiap hal baru dari dunia ini, tetapi, dalam hal Iman Anda, maka Anda harus tetap dengan Islam yang sama, yang asli, seperti yang dilakukan oleh pendahulu Anda.
5.Jika seseorang berbuat buruk (berdosa), maka Allah melarangnya dan karena itu imannya buruk. Dalam sebuah hadis ada tertulis, “Larilah dari penderita kusta seperti Anda lari dari singa; Nah, anda harus melindungi diri dari orang yang hatinya terkena keburukan “kusta”, jangan bermajlis dengan mereka.
6.Pikirkan sholat anda, seperti seseorang yang sedang sibuk melakukan pekerjaan. Orang yang sibuk bekerja namun hatinya selalu berpikir tentang sholat, sehingga kadang-kadang dia bertanya tentang waktu, kadang-kadang ia melihat jam tangannya, pada waktu lain ia melihat matahari (posisi), untuk memastikan bahwa dia tidak melewatkan waktu sholat (yang benar). Sampai fikiran tersebut tercapai, hingga sholat adalah ibadah dan kebiasaan yang sedang dilakukan. Semoga Allah Swt. memberikan kita tafakkur seperti itu!
7.Bila petani menggunakan bajak sepanjang hidupnya tetapi tidak menanam bibit, bisakah tanamannya tumbuh? Tentu saja tidak! Menggunakan bajak adalah puasa, salat, haji, dan menabur benih amal adalah zakat. Jika tidak memberikan zakat, semua ibadahnya, sia-sia.
8.Bila dua tugas harus dilakukan, satu untuk agama, yang lain untuk dunia, maka prioritaskan yang untuk kepentingan agama, maka akan memberi barokah pada kepentingan tugas dunia.
9.Setiap doa memiliki dua sayap: Keuntungan yang sah, dan lidah yang jujur. Barangsiapa mendapatkan melalui yang halal ia akan bicara denganbenar, doa-nya pasti akan diterima.
10.Siapa yang meminta dari Anda, sebenarnya Allah memberi Anda untuk (memberikannya) itu tujuh ratus kali lipat.
11.Ucapan, ‘La ilaha illa Allah’ membuat seseorang menjadi muwwahid (bertauhid), bukan orang yang perrcaya (mukmin). Jadi, kapan akan Anda menjadi seorang yang percaya (mukmin)? Ketika Anda mengatakan ‘La ilaha illallah Muhammadur Rasul Allah’. Bagi kami berkat terbesar (ni’mat) adalah Iman. Syetan pun melafalkan “La ilaha illa Allah ‘, tapi mengapa dia masih dikenal sebagai yang terkutuk? Dia (bahkan) mengatakan, ‘Inni akhafullaha Rabbal aalamin’ (Sesungguhnya, aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam). Semua manusia yang berbeda-beda di dunia ini sebenarnya percaya pada Keesaan Tuhan \[tauhid], apakah mereka seorang bhangis, pemabuk, Nashrani, atau golongan agama lainnya, tetapi mengapa mereka terlaknat? Karena mereka hanya mengatakan, ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ tetapi menghilangkan ‘Muhammad adalah utusan Allah’.
Apabila nama yang berkah bagi dunia akhirat, Kanjeng Nabi Muhammad saw, datang pada salah satu lidah seseorang, yang semua orang itu kafir, sinkretis, orang yang muysrik, terhapuslah semua dosa orang itu.

[*]Dewasa ini dan di abad ini, sudah tidak banyak orang yang memuji dan bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw, dibalik keterbatasannya. Tetapi mereka yang tahu akan ketakberdayaannya, justru ia akan meraihnya.Jika seseorang tidak tahu keterbatasannya, bagaimana ia melampauinya? Selain Allah Swt. tidak ada yang tahu rahasia Nabi Saw. Bahkan membaca Syahadat mulia sekali saja sudah cukup untuk menghapus dosa seumur hidup! Hal ini saja yang kita tahu yang terbatas ini.
Muhammad Mustafa, betapa telah dipuji oleh Allah Swt, bagaimana bisa dilupakan? Sungguh tak ada yang benar-benar memujinya.
Muhammad adalah Rahasia Ilahi, siapa yang tahu rahasianya?
Secara syariat, Nabi Muhammad Saw, adalah sosok manusia, tetapi hakikatnya, siapa yang tahu? Hanya Allah Yang Tahu.

Pada diri Muhammad Rasulullah, ada sifat terpuji dari seorang Nabi saw, orang-orang yang tidak suka atas karakter mulianya, juga harus menahan diri dari mengatakan, “Muhammad adalah utusan Allah.”

Bumi tidak memakan tubuh para Nabi, juga tidak menyentuh mereka. Para Nabi senantiasa sholat di kuburan mereka. Gunakan analogi itu, dan berpikir, bagaimana keagungan Nabi seperti (dalam kuburnya).

Rasulullah Saw, menyabdakan, siapa pun yang mengirim salam kepada saya, saya akan menjawab salamnya.

Kanjeng Nabi Muhammad, Saw, menyabdakan, bahwa siapa pun yang mengirimkan berkat mutiara mulia (sholawat) pada saya dengan cinta, aku mendengar dengan telingaku sendiri.

Kanjeng Nabi Saw, setelah menyelubungkan dirinya dirinya dari dunia ini, -- tanpa diragukan lagi,-- senantiasa hidup dan masih dengan Kenabiannya (walau dalam kuburnya yang penuh barokah) dan bahagia dengan ibadah dan membimbing ummatnya, agar senantiasa berbuat baik. Beliau sedih atas ummatnya karena dosa-dosa dan ketidaktaatan mereka pada Allah swt.

Unta yang liar dan tak terkendali itu tidak pernah mencapai tujuan dan dimanapun ia pergi itu dipukul dan terpukul. Unta yang patuh pada aturannya, dimana pun, walau lapar dan lelah, pasti akan mencapai tujuan itu.

Tubuh haruslah dimanfaatkanah, bukan untuk makan dan gemuk. Anda harus sadar, bangkitlah sekarang, walau di bawah bayangan langit. Anda harus memiliki kesadaran bahwa sampai hari kiamat nanti anda akan pulas tidur dalam bumi.

Dengan menempatkan kepala pada debu (dalam sujud), seseorang menjadi bersih suci. Apa hak kita harus meletakkan kaki kami di tanah? Ketika, dalam sujud, kita tidak pernah meletakkan kepala kita di atas tanah?

Jangan bermajlis dengan sekumpulan orang yang tidak benar akidahnya, Do tidak tinggal di perusahaan orang dengan keyakinan yang tidak benar, lakukan dengan nyata, anda tidak bermajlis dengan mereka.

Manakala air mengalir dalam wudhu’ selama itu pula neraka tidak akan membakarnya.

Sang fakir setelah bebas dari kemiskinannya, si fakir menjadi anjing dunia lagi. Sebagaimana orang bodoh setelah disucikan, ia pasti terlibat dalam kotoran lagi!

Pada ayat Al-Fatihah, ‘Tunjukkanlah kami ke jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat’ itulah sesungguhnya yang menjadi kebutuhan kita dan anutan kita.

“Fattabi ‘u millata Ibrahima hanifa” Ada 124, 000 Nabi dengan patuh pada perintah ini, “Oleh karena itu orang yang mengikuti agama Ibrahim akan terpisah dari dosa-dosanya.” “ membuktikan bahwa itu adalah wajib untuk melakukan taqlid pada Imam.

Setiap orang berada dalam kegelapan kuburnya, kecuali orang yang tahajjud akan dipenuhi limpahan cahaya. Membaca Ayat Kursi di setiap sholatnya, dan surat yang dimulai dengan “Tabaarokalladzi…” akan memebaskan siksa kubur.

Sebagaimana keharusan bersholawat dan berdoa kepada Nabi saw sepanjang sholatnya, juga harus dikirmkan doa itu kepada keluarganya.

Tak satu pun yang ada kecuali sudah ditakdirkan. Bahkan sebelum adanya waktu

Allah Ta’ala telah menciptakan hati untuk mengingat-Nya \[dzikir], dan tidak diciptakan untuk khawatir.

Bila orang berdosa karena bangsa-bangsa sebelumnya, maka ada wajah yang digunakan untuk metamorfosa. Maka yang mulia Nabi kita saw, bersabda “Allah Yang Suci tidak akan mengubah wajah mereka yang beriman kepadaku.”

Hari Kiamat akan tiba, apa bila tak satu pun hamba Allah yang nama Allah.

Bacalah Al Qur’an hanya untuk Allah. Membaca untuk alasan duniawi, adalah seperti memberikan berlian ditukar dengan beberapa sen tak berharga. Sebenarnya jika, setelah membaca karena Allah, Allah sendiri memberikan manfaat duniawi karena anda membaca (untuk-Nya).

Orang yang tidak punya rasa malu tidak memiliki iman.

Mendatangi undangan (untuk makan) adalah Sunnah. Nabi Saw, bersabda, “Bahwa jika seseorang mengundang Anda masih berada pada jarak tiga mil jauhnya, dan mengundang untuk sesuatu yang sederhana pun, Anda harus hadir.”

Apabila memasuki kota Madinah Al-Munawwarah yang mulia, anda harus memiliki adab (etika). Paling tidak, penampilan wajah seseorang harus menujukkan bahwa ia seorang muslim: mode fashion terbaru, dan gaya rambut dll, harus dihindari.

Bila seseorang memberikan sesuatu di jalan menuju Allah, orang harus melakukannya dalam hidupnya sendiri. Setelah kita mati, baik istri kita atau anak-anak kita akan memberikan apa pun untuk nama kita, kenyataannya sulit bahkan bagi mereka untuk datang membaca Fatihah di makam kita!

Bila ada sepuluh orang yang melakukan dzikir dan satu orang yang lalai \[ghafil], yang berdzikir akan membuat pencahayaan bagi yang lalai. Bergabunglah dengan majlis dzikir, karena disana ada kebahagiaan

Wali Allah Menurut Hakim At-Tirmidzi

Wali Allah Menurut Hakim At-Tirmidzi

Hakim at-Tirmidzi lahir di Tirmidz, Uzbekistan, Asia Tengah pada tahun 205 H/820 M. Nama lengkapnya adalah Abu Abd Allah Muhammad bin Ali bin Hasan al-Hakim at-Tirmidzi. Ia berasal dari keluarga ilmuwan ahli fiqih dan hadits.

Ia mendefinisikan Wali Allah adalah seorang yang demikian kokoh di dalam peringkat kedekatannya kepada Allah (fi martabtih), memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu seperti bersikap shidq (jujur dan benar) dalam perilakunya, sabar dalam ketaatan kepada Allah, menunaikan segala kewajiban, menjaga hukum dan perundang-undangan (al-hudud) Allah, mempertahankan posisi kedekatannya kepada Allah. Dalam keadaan ini, menurut at-Tirmidzi, seorang wali mengalami kenaikan peringkat sehingga berada pada posisi yang demikian dekat dengan Allah, kemudian ia berada di hadapan-Nya, da n menyibukkan diri dengan Allah sehingga lupa dari segala sesuatu selain Allah.

Karena kedekatannya dengan Allah, seorang wali memperoleh `ishmah (pemeliharaan) dan karamah (kemuliaan) dari Allah. menurutnya, ada tiga jenis `ishmah dalam Islam.
Pertama, `ishmah al-anbiya' (ishmah para Nabi) merupakan sesuatu yang wajib; baik berdasarkan argumentasi `aqliyyah seperti dikemukakan Mu'tazilah maupun berdasarkan argumentasi sam`iyyah.
Kedua, `ishmah al-awliya' (merupakan sesuatu yang mungkin); tidak ada keharusan untuk menetapkan `ishmah bagi para wali dan tidak berdosa untuk menafikannya dari diri mereka, tidak juga termasuk ke dalam keyakinan agama (`aqa'id al-din); melainkan merupakan karamah dari Allah kepada mereka. Allah melimpahkan `ishmah ke dalam hati siapa saja yang dikehendaki- Nya di antara mereka.
Ketiga, `ishmah al-`ammah, `ishmah secara umum , melalui jalan al-asbab, sebab-sebab tertentu yang menjadikan seseorang terpelihara dari perbuatan maksiat.

'I shmah yang dimiliki para wali dan orang-orang beriman, menurut at-Tirmidzi, bertingkat-tingkat. Bagi umumnya orang-orang yang beriman, `ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan dari terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi para wali ishmah berarti terjaga (mahfuzh) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka. Masing-masing mereka mendapatkan `ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya.

Inti pengertian 'ishmah al-awliya' terletak pada makna al-hirasah (pengawasan) , berupa cahaya `ishmah (anwar al-ishmah) yang menyinari relung jiwa (hanaya al-nafs) dan berbagai gejala yang muncul dari kedalaman al-nafs, tempat persembunyian al-nafs (makamin al-nafs), sehingga al-nafs tidak menemukan jalan untuk mengambil bagian dalam aktivitas seorang wali. Ia dalam keadaan suci dan tidak tercemari berbagai kotoran al-nafs ( adnas al-nafs ).

Adapun yang dimaksud karamah al-awliya' tiada lain, kemuliaan, kehormatan,( al-ikram) ; penghargaan (al-taqdir); dan p ersahabatan (al-wala) yang dimiliki para wali Allah berkat penghargaan, kecintaan dan pertolongan Allah kepada mereka. Karamah al-awliya itu, dalam pandangan Hakim at-Tirmidzi, merupakan salah satu ciri para wali secara lahiriah (`alamat al-awliya' fi al-zhahir) yang juga dinamakannya al-ayat atau tanda-tanda.

Hakim at-Tirmidzi membagi karamat al-awliya ke dalam dua bagian. Pertama, karamah yang bersifat ma`nawi atau al-karamat al-ma`nawiyyah. Karamah yang pertama merupakan sesuatu yang bertentangan dengan adat kebiasaan secara fisik-inderawi, seperti kemampuan seseorang unrtuk berjalan di atas air atau berjalan di udara. Sedangkan karamah yang kedua merupakan ke-istiqamah- an seorang hamba di dalam menjalin hubungan dengan Allah, baik secara lahiriah maupun secara batiniah yang menyebabkan hijab tersingkap dari kalbunya hingga ia mengenal kekasihnya, serta merasa ketentraman dengan Allah. At-Tirmidzi memaparkan karamah yang kedua sebagai yang berikut:

Kemudian Tuhan memandang wali Allah dengan pandangan rahmat. Maka Tuhan pun dari perbendaharaan rububiyyah menaburkan karamah yang bersifat khusus kepadanya sehingga ia (wali Allah) itu berada pada maqam hakikat kehambaan (al-haqiqah al-ubudiyyah) . Kemudian Tuhan pun mendekatkan kepada-Nya, memanggil nya, menghormati dan meninggikannya. Menyayanginya dan menyerunya. Maka wali pun menghampiri Tuhan ketika ia mendengar seru-Nya. Mengokohkan (posisi)-nya dan menguatkannya; memelihara dan menolongnya; sehingga ia meresponi dan menyambut seruan-Nya.Dalam kesunyian ia memanggil-Nya. Setiap saat ia munajat kepada-Nya. Ia pun memanggil kekasihnya. Ia tidak mengenal Tuhan selain Allah.

Orang yang menolak karamah al-awliya', menurut at-Tirmidzi, disebabkan mereka tidak mengetahui persoalan ini kecuali kulitnya saja. Mereka tidak mengetahui perlakuan Allah terhadap para wali. Sekiranya orang tersebut mengetahui hal-ihwal para wali dan perlakuan Allah terhadap mereka; niscaya mereka tida k akan menolaknya. Penolakan mereka terhadap karamah al-awliya', menurut at-Tirmidzi, disebabkan oleh kadar akses mereka terhadap Allah hanya sebatas menegaskan-Nya; bersungguh-sungguh di dalam mewujudkan kejujuran (al-shidq); bersikap benar dalam mewujudkan kesungguhan sehingga meraih posisi al-qurbah (dekat dengan Allah).

Sementara mereka buta terhadap karunia dan akses Allah kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Demikian juga buta terhadap cinta (mahabbah) dan kelembutan (ra'fah) Allah kepada para wali. Apabila mereka mendengar sedikit tentang hal ini, mereka bingung dan menolaknya.

Adapun derajat kewalian, dalam pandangan al-Tirmidzi, dapat diraih dengan terpadunya dua aspek penting, yakni karsa Allah kepada seorang hamba dan kesungguhan pengabdian seorang kepada Allah. Aspek pertama merupakan wewenang Allah secara mutlak; sedangkan aspek kedua merupakan perjuangan seorang hamba dalam mendekatkan diri kepada Allah. Menurut at-Tirmidzi, ada dua jalur yang biasa ditempuh oleh seorang sufi guna meraih derajat kewalian.

Jalur pertama disebut thariqah al-minnah (jalan golongan yang mendapat anugerah) sedangkan jalur kedua disebut thariq ashhab al-shidq (jalan golongan yang benar dalam beribadah). Melalui jalur pertama, seorang sufi meraih derajat kewalian di hadapan Allah semata-mata karena karunia Allah yang diberi kan kepada siapa saja yang dikendaki Allah di antara hamba-hamba- Nya. Sedangkan melalui jalur kedua, seorang sufi meraih derajat kewalian berkat keikhlasan dan kesungguhannya di dalam beribadah kepada Allah. Seseorang yang meraih derajat kewalian melalui jalur kedua disebut wali haqq Allah atau awliya' huquq Allah dalam bentuk jamak.

Menurut at-Tirmidzi derajat kewalian yang diraih melalui jalur kedua diperoleh setelah seorang sufi bertaubat dari segala dosa dan bertekad bulat untuk membuktikan sesungguhan taubatnya dengan konsisten di dalam menunaikan segala yang diwajibkan; menjaga al-hudud (hukum dan perundang-undangan Al lah) dan mengurangi al-mubahat (hal-hal yang dibolehkan); kemudian memperhatikan aspek batin dan menjaga kesuciannya dengan seksama.

Seorang sufi yang meraih derajat kewalian (al-walayah) melalui jalur kedua desebut wali haqq Allah, karena sufi itu telah mencurahkan seluruh perhatian dan usahanya untuk menjaga hak Allah. Perjuangan yang demikian berat ini telah menambah kesucian hati sufi tersebut. Hatinya menjadi terformat sedemikian rupa dengan sifat Allah al-Haqq sehingga al-Haqq menjadi salah satu sifatnya yang mendominasi perasaannya yang terdalam (al-wujdan) dan membimbing seluruh perilakunya.

Tidaklah seorang sufi itu mengucapkan sesuatu kecuali melalui Allah al-Haqq; tidaklah melakukan sesuatu kecuali menuju Allah al-Haqq; dan tidaklah dia diam kecuali bersama Allah al-Haqq. Maka al-Haqq senantiasa bersama-Nya dalam berbagai keadaan. Para wali yang memiliki kualifikasi ini disebut juga al-awliya al-shadiqin.

Sementara itu, memperoleh derajat al-walayah mel alui jalur pertama, thariqah al-Minnah, terbagi kedalam dua proses. Pertama, anugerah kewalian itu diperoleh dengan tanpa usaha sebelumnya. Melalui proses ini orang yang menerima anugerah al-walayah merasakan adanya kekuatan yang menarik dirinya kepada kualitas al-walayah tersebut. Para sufi yang meraih derajat kewalian melalui proses ini disebut al-mujtabun (yang diangkat) atau al-mujzubun (yang ditarik). Kedua, anugerah kewalian itu diperoleh karena ada prakondisi sebelumnya.

Derajat al-walayah yang diberikan melalui proses kedua ini mengandung pengertian bahwa anugerah al-walayah itu diberikan oleh Allah kepada seseorang yang telah berada di dalam maqam al-shidq, suatu kedudukan terhormat di hadapan Allah yang hanya bisa ditempati oleh para sufi yang telah memiliki kualifikasi wali di antara al-awliya al-shadiqin. Hal ini terjadi semata-mata karena kasih sayang Allah kepadanya.

Derajat kewalian dan kenabian, menurut at-Tirmidzi, merupakan anugerah Allah. Allah tela h memilih di antara hamba-hamba- Nya menjadi al-anbiya (Nabi-Nabi) dan awliya (para wali). Kemudian Allah melebihkan derajat sebagian al-anbiya atas sebagian yang lain. Sebagaimana Allah melebihkan sebagian derajat al-awliya atas sebagian yang lain. Kelebihan Nabi Muhammad SAW. atas para Nabi yang lain adalah kedudukannya sebagai khatam al-nubuwwah yang merupa kan hujjat Allah bagi makhluk-Nya pada hari kiamat, karena tiada seorang pun di antara al-anbiya yang mendapat kedudukan setinggi ini.

Hujjat Allah yang menjadi inti khatam al-nubuwwah tersebut tiada lain, qadam shidq, yakni kesaksian Allah bahwa Nabi Muhammad SAW. memiliki shidq al-`ubudiyyah (kesungguhan dalam kehambaan). Dengan qadam shidq tersebut Nabi Muhammad SAW. mendahului barisan para Nabi dan Rasul. Kemudian Allah menyambutnya dan menempatkannya di dalam al-maqam al-mahmud pada al-kursi. Dengan demikian para Nabi mengetahui bahwa Nabi Muhammad SAW. adalah orang yamg paling mengenal Allah. Beliau diberi bendera pujian (liwa al-hamd) dan kunci kemulian (mafatih al-karam). Oleh sebab itu, khatam al-anbiyyin, menurut at-Tirmidzi, bukan karena Nabi Muhammad SAW. paling akhir diutus; melainkan karena al-nubuwwah telah sempurna secara total pada diri Nabi Muhammad SAW. sehingga dia menjadi jantung kenabian (qalb al-nubuwwah) karena kesempurnaannya; kemudian al-nubuwwah ditutup (pada diri beliau).

Bertitik tolak dari pandangannya tentang al-anbiya dan al-awliya, at-Tirmidzi memandang bahwa khatam al-awliya (pamungkas para wali) adalah al-wali al-majdzub yang memegang kepemimpinan (al-imamah) atas para wali. Di tangannya terdapat bendera kewalian (liwa al-walayah). Para wali seluruhnya membutuhkan syafa'at dari padanya; sebagaimana para Nabi membutuhkan syafa'at dari Nabi Muhammad SAW. Ia memperoleh bagian kenabian yang paling sempurna; sehingga ia dekat dengan al-anbiya; bahkan hampir mendahuluinya; sebagaimana tergambar pada hadits yang berikut:

"Sesungguhnya diantara hamba-hamba Allah, ada orang yang bukan Nabi dan bukan syuhada; namun, banyak Nabi dan syuhada yang ingin seperti mereka, karena derajat mereka disisi Allah `Azza wa jalla." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah mereka? Beliau bersabda: "Mereka adalah suatu kaum yang saling mencintai dengan motivasi karena Allah; padahal bukan di antara kerabat mereka, juga bukan karena harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, wajah mereka niscaya laksana cahaya, mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasa sedih, ketika orang-orang bersedih. Kemudian beliau membacakan satu ayat:
(Q.S. Yunus: 62).

Maqam-nya (dihadapan Allah) berada pada peringkat tertinggi para wali (fi a`ala manazil al-awliya). Ia adalah pengikut Nabi Muhammad SAW. Maka sebagaimana Nabi Muhammad SAW. menjadi hujjah bagi para Nabi; wali ini pun menjadi hujjah bagi para wali(al-awliya)

Kecuali itu, al-Hakim at-Tirmidzi menghubungkan konsep khatam al-awliya dengan konsep manusia sempurna. Menurutnya, khatam al-awliya ialah manusia yang telah mencapai ma`rifah yang sempurna tentang Tuhan. Dengan demikian, ia pun mendapatkan cahaya dari Tuhan, bahkan mendapatkan quwwah ilahiyyah (daya Ilahi). Menurut at-Tirmidzi, ada empat puluh orang dari kalangan umat Nabi Muhammad SAW. yang mendapat kedudukan sebagai wali, satu di antara empat puluh itu disebut khatam al-awliya sebagaimana Nabi Muhammad SAW. menjadi khatam al-anbiya.

Sementara itu, Abu Yazid al-Busthami (w.264H/877M. ) memperkenalkan konsep al-wali al-kamil (wali yang sempurna). Menurutnya, wali yang sempurna ialah orang yang telah mencapai ma`rifah yang sempurna tentang Tuhan, ia telah terbakar oleh api Tuhannya. Ma`rifah yang sempurna akan membawa seorang wali fana' dalam sifat-sifat ketuhanan. Wali yang fana' dalam nama Allah, al-zhahir (yang nyata), akan dapat menyaksikan qudrah Tuhan ; wali yang fana' dalam nama-Nya, al-bathin (yang tersembunyi) akan dapat menyaksikan rahasia-rahasia alam; wali yang fana' dalam nama-Nya, al-akhir (yang akhir), akan menyaksi kan masa depan.

Kedudukan khatam al-awliya merupakan anugerah Allah. Allah memberikan al-khatm (penutupan [kewalian]) kepadanya agar pada hari kiamat hati Nabi Muhammad SAW. merasa tenteram. Para wali pun mengakui kelebihan wali ini atas mereka. Ia muncul menjelang terjadinya kiamat dan menjadi hujjat Allah bagi seluruh penganut paham monoteisme (al-muwahhidin) yang datang sesudahnya.

Pemikiran al-Hikam at-Tirmidzi tentang khatm al-walayah lebih jauh dikembangkan oleh Ibnu Arabi. Menurut Ibnu Arabi, konsep al-khatm (penutupan) mengandung dua pengertian. Pertama, al-khatm berarti Allah telah menutup kewalian secara umum (al-walayah al-ammah). Kedua, al-khatm dalam pengertian Allah telah menutup kewalian umat Nabi Muhammad SAW. (al-walayah al-muhammadiyah) .

Khatm al-walayah dalam pengertian yang pertama berada pada diri Nabi Isa as. Beliau adalah wali dengan kenabian mutlak (al-nubuwwah al-muthlaqah) yang muncul pada zaman ummat (Nabi Muhammad) ini. Kewalian Nabi Isa terputus dari nubuwwat al-tasyri', yakni kenabian khusus dengan kewenangan menetapkan syari'at agama dan kerasulannya. Nabi Isa turun di akhir zaman sebagai pewaris (Nabi Muhammad SAW.). Dan khatam [al-walayah] (pamungkas kewalian).

Tidak ada wali sesudahnya dengan kenabian mutlak sekalipun, sebagaimana Nabi Muhammad SAW. sebagai khatam al-nubuwwah (pamungkas kenabian) tidak ada Nabi sesudah beliau dengan nubuwwat al-tasyri'. Sedangkan khatam al-walayah dalam pengertian yang kedua berada pada diri seorang laki-laki dari kalangan orang-orang terhormat.

Pengetahuan tentang syari'at (al-ilm al-syari'i) – yang menjadi dasar nubuwwat al-tasyri' diwahyukan kepada seorang Rasul melalui malaikat. Sedangkan pengetahuan batin (al-`ilm al-bathini) yang dimiliki wali, baik dalam kapa sitasnya sebagai Rasul, Nabi, maupun wali saja; bersifat pancaran dari seorang khatam al-awliya. Adapun khatam al-awliya mendapat kan secara menyeluruh dari sumber pancaran ruhaniah (manba`al-faydl al-ruhi); yakni ruh Muhammad atau al-haqiqah al-Muhammadiyah.

Ibnu Arabi menghubungkan konsepsi khatam al-awliya dengan kemampuan menangkap al-`athaya (pemberian dan anugerah) Allah. Menurut Ibnu Arabi, ada dua jenis al-`athaya (pemberian) yakni yang bersifat dzatiyyah dan yang bersifat asma'iyyah. Adapun al-`athaya al-dzatiyyah tidak terjadi kecuali melalui tajalli ilahi; sedangkan tajalli merupakan pengetahuan tertinggi tentang Tuhan. Pengetahuan ini tidak diberikan kecuali kepada khatam al-rusul (pamungkas para utusan) dan khatam al-awliya (pamungkas para wali).

Tiada seorang pun di antara al-anbiya dan al-rusul dapat mengalami tajalli al-dzat kecuali melalui misykah, teropong, khatam al-rusul; dan tiada seorang pun al-awliya mengalami tajalli al-dzat kecuali melal ui misykah, teropong, khatam al-awliya bahkan al-anbiya dan al-rusul pun tidak dapat mengalami tajalli al-dzat kecuali melalui misykat al-khatam al-awliya'; meskipun khatam al-awliya merupa kan pengikut khatam al-rusul dalam syari'at yang dibawanya.

Dalam pandangan Ibnu Arabi, khatam al-anbiya mempunyai kedudukan yang sebanding dengan khatam al-awliya. Menurutnya setiap Nabi sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi terakhir; tiada seorang pun di antara mereka, kecuali mengambil dari misykat (teropong) khatam al-nabiyyin; meskipun khatam al-nabiyyin tersebut secara historis muncul terakhir. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW.: Aku sudah menjadi Nabi; sedangkan Adam di antara air dan tanah. Sedangkan para Nabi selain Nabi Muhammad SAW. menjadi Nabi setelah mereka diutus (ke dunia).

Demikian juga khatam al-awliya telah menjadi wali, ketika Adam masih berada di antara air dan tanah; sedangkan para wali yang lain menjadi wali setelah mereka memperoleh syarat-sya rat kewalian (al-walayah) , yakni setelah diri mereka tersifati oleh al-akhlaq al-ilahiyyah atau akhlak Tuhan, terutama berkenaan dengan pernyataan Allah sendiri yang menyebut diri-Nya al-wali al-hamid (Wali yang Maha Terpuji).


Mengenai Wali Allah dan Tanda-tandanya

Abu Yazid al Busthami mengatakan: Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumi-Nya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya. Mereka itu terkurung pada sisi-Nya di dalam hijab (dinding penutup) kegembiraan dan takkan dapat melihat kepada mereka seorangpun di dunia ini maupun diakhirat, yakni tiada dapat mengetahui rahasia mereka.
Tanda (alamat) bagi seorang wali itu ada tiga: yakni agar menjadikan kemauan kerasnya demi untuk Allah, pelariannya kepada Allah dan kemasygulannya dengan Allah. Pendapat lain menyatakan, bahwa tanda seorang wali adalah memandang diri dengan kerendahan dan merasa takut akan kejatuhan dirinya dari martabat yang ia berada di atasnya, sambil tidak percaya dengan sesuatu kekeramatan yang nyata bagi dirinya, tiada pula ia tertipu dengannya. Tiada ia memohonkan kekeramatan itu untuk dirinya dan tiada pula ia mengakui (kekeramatan itu).
Al Khaffaz telah berkata: Apabila Allah berkehendak untuk menjadikan hamba-Nya seorang wali, niscaya dibukakan baginya pintu dzikir. Apabila ia telah merasa lezat dengan dzikir itu, maka dibukakan pula atasnya pintu pendekatan. Kemudian ditinggikan martabat-Nya kepada majelis-majelis kegembiraan. Lalu ia didudukkan di atas kursi keimanan untuk disingkapkan (dibukakan) daripadanya hijab (tabir penutup) dan dimasukkannya ia ke pintu gerbang ke-Esaan serta diungkapkan baginya garis-garis ke-Maha Agungan Allah. Pada saat penglihatannya tertuju kepada ke-Maha Agungan serta kebesaran-Nya, niscaya ia akan tinggal tanpa dirinya dan akan menjadi fana (lenyap) untuk tiba menuju pemeliharaan (penjagaan) Allah, agar terlepas dari segala pengakuan dirinya. Baru kemudian ia pun menjadi seorang wali.
Mungkin seorang wali menjadi batal kewaliannya dalam sebagian hal ihwal. Akan tetapi, yang umum atas diri wali di dalam perjalanannya dari tkebatalan kepada ketetapannya adalah kesungguhan menunaikan hak-hak Allah Swt berbelas kasih kepada para makhluk-Nya dalam segala hal ihwal dengan hati yang sabar, sambil memohon kepada Allah segala kebaikan untuk para makhluk. (Mahmud Abul Faidi al Manufi al Husain, dalam kitabnya Jamharotul Aulia’ Terjemah Abu Bakar Basymeleh, th.1996, Mutiara Ilmu, Surabaya, hlm. 179).
Al Quthub Abdul Abbas al Mursi, menegaskan dalam kitab yang ditulis oleh muridnya, Lathaiful Minan, karya Ibnu Athaillah as Sakandari, “Waliyullah itu diliput ilmu dan makrifat-makrifat, sedangkan wilayah hakekat senantiasa disaksikan oleh mata hatinya, sehingga ketika ia memberikan nasehat seakan-akan apa yang dikatakan seperti identik dengan idzin Allah. Dan harus dipahami, bagi siapa yang diidzinkan Allah untuk meraih ibarat yang diucapkan, pasti akan memberikan kebaikan kepada semua makhluk, sementara isyarat-isyaratnya menjadi riasan indah bagi jiwa-jiwa makhluk itu.”
Dasar utama perkara wali itu, kata Abul Abbas, “Adalah merasa cukup bersama Allah, menerima ilmu-Nya dan mendapatkan pertolongan melalui musyahadah kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia-lah yang mencukupinya.” (QS. ath Thalaq : 3). “Bukankah Allah telah mencukupi hambanya?” (az Zumar : 36). “Bukankah ia tahu, bahwa sesungguhnya Allah itu Maha Tahu?” (QS. al Alaq : 14). “Apakah kamu tidak cukup dengan Tuhanmu, bahwa sesungguhnya Dia itu menyaksikan segala sesuatu ? (QS. Fushshilat : 53)”
Wali-wali itu merupakan orang-orang yang akan meneruskan hidup suci dari Nabi, orang-orang yang mujahadah, orang-orang yang menjaga waktu ibadat, yang rebut-merebut mengerjakan taat, yang tidak ingin lagi merasakan kelezatan lahir, kenikmatan panca indera, mengikuti jejak Nabi, mencontoh perbuatan Muhajirin dan Anshar, lari ke gunung dan gua untuk beribadat, melatih hati dan matanya untuk melihat Tuhan, merekalah yang berhak dinamakan Atqiya’, Akhfiya’, Ghuraba’, Nujaba’, dan lain-lain nama-nama sanjungan yang indah yang dipersembahkan kepada mereka.

Nabi berpesan, bahwa Tuhan mencintai Atqiya’ dan Akhfiya’, Tuhan mencintai Ghuraba’, yaitu mereka yang ke sana-ke mari menyelamatkan agamanya, yang nanti akan dibangkitkan pada hari kiamat bersama-sama Isa bin Maryam, Tuhan mencintai hamba-Nya yang membersihkan dirinya, yang melepaskan dirinya daripada kesibukan anak bini, cerita-cerita yang indah yang pernah disampaikan oleh Abu Waqqash, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Abu Umamah dan lain-lain yang menjadi pembicaraan dalam kitab “Hilliyatul Auliya”, sebagai kitab besar yang menyimpan keindahan dan kemegahan wali-wali itu.

Diceritakan lebih lanjut dalam kitab-kitab sufi, bahwa wali-wali itu merupakan qutub-qutub atau khalifah-khalifah Nabi yang tidak ada putus-putusnya terdapat di atas permukaan bumi ini. Mereka meningkat kepada kedudukannya yang mulia itu sesudah mengetahui hakekat syari’at, sesudah memahami rahasia kodrat Tuhan, sesudah tidak makan melainkan apa yang diusahakan dengan tenaganya sendiri, sesudah tumbuh dan jiwanya suci, tidak memerlukan lagi hidup duniawi, tetapi semata-mata menunjukkan perjalanannya menemui wajah Tuhan.
Barang siapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolongnya (awliya’), maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah pasti menang. (QS. al Maidah : 56)

Bagi Allah, ada orang takkan dapat dikenal melainkan oleh para khusus. Bagi Allah, ada orang (kelompok) yang dapat dikenal oleh oleh para khusus dan awam. Bagi Allah, ada orang yang takkan dapat dikenal oleh para khusus maupun para umum. Bagi Allah, ada yang telah diungkapkan pada “Bidayat” (permulaan)dan ditutup rapat pada “Nihayat” (kesudahan). Bagi Allah, ada orang yang ditutup rapat pada “Bidayat” (permulaan) dan diungkapkan pada “Nihayat”. Dan bagi Allah ada orang (kelompok) yang tidak dapat dikenal selain oleh Dia sendiri. Tiada yang dapat mengetahui apa yang terjadi antara mereka dan Allah Swt, kecuali para malaikat.


Seorang wali selalu mengerjakan perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya. Dia tidak tertarik mengejar keutamaan duniawi, apalagi menguasai seperti diinginkan banyak orang. Ketika mendapat sedikit nikmat dia tetap bersabar, jika banyak dia bersyukur. Celaan atau pujian, terkenal atau tidak, baginya sama saja. Dia tidak sombong dengan kewalian yang dianugerahkan Allah kepada dirinya. Semakin tinggi Allah menaikkan derajadnya, semakin bertambah kedudukannya. Dialah orang yang berakhlak baik, sangat ramah dan bijaksana. Seorang wali senantiasa menyibukkan dirinya dengan hal yang disenangi dan di sunahkan Allah, sehingga ia dicintai Allah, menyatu dengan-Nya, do’a-do’anya selalu terkabul dan selalu mendapat perlindungan dari Allah Swt.

Di antara para wali terdapat wali-wali Allah yang pangkatnya sangat digandrungi oleh para Nabi dan para Syuhada’ pada hari kiamat seperti hadits Rasulullah Saw :
قَالَ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ : اِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ عِبَادًا يُغْبِطُهُمُ اْلاَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ. قِيْلَ مَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ. هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوْا بِنُوْرِ اللهِ مِنْ غَيْرِ اَمْوَالِ وَاَنْسَابِ، وُجُوْهُهُمْ نُوْرٌ. وَهُمْ عَلَى مَنَابِرَمِنْ نُوْرِ لاَيَخَافُوْنَ اِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَخْزَنُوْنَ اِذَا حَزِنَ النَاسُ. ثُمَّ تَلاَ. اَلاَ اِنَّ اَوْلِياَءَ اللهِ لاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ.
Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada’. Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat karena kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Swt seorang dari shahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Dan apa amal perbuatan mereka? Semoga kita dapat mencintai mereka? Nabi Saw menjawab dengan sabdanya: Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan karena ada hubungan kekeluargaan dan bukan karena harta benda yang dengannya mereka saling memberi. Demi Allah, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita. (HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Kemudian Rasul membacakan firman Allah Swt:
Ingatlah, sesungguhnya para wali Allah tiada ketakutan pada diri mereka dan tiada pula mereka berduka cita. (QS. Yunus : 62).
Di antara sifat-sifat mereka adalah dapat mewariskan kepada para kawan semajelis mereka mengenai kesempurnaan dzikir. Mereka karena cintanya kepada Allah dan menyatu dengan-Nya, maka setiap orang yang menyebut Allah, mereka pun harus diingat pula. Dan setiap orang yang menyebut mereka, berarti Allah pun disebut. Karena nama Allah tidak bisa dipisahkan dengan nama mereka, dan nama mereka pun tidak bisa dipisahkan dengan nama Allah.
اِنَّ اَوْلِياَئِى مِنْ عِبَادِى وَاَحِبَّانِى مِنْ خَلْقِى الَّذِيْنَ يُذْكَرُوْنَ بِذِكْرِى وَاذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Sesungguhnya para wali diantara para hamba-Ku dan para kekasih-Ku di antara makhluk adalah mereka yang selalu disebut dengan nama-Ku. Begitu juga Aku disebut dengan sebutan (nama) mereka.
Pernah Rasulullah Saw ditanya tentang siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab: “Mereka itulah pribadi-pribadi yang apabila dilihat orang, niscaya Allah Swt disebut bersama (nama)-Nya.” Mereka terbebas (terselamatkan) dari fitnah dan cobaan dan terhindar dari malapetaka.

Nabi bersabda :
اِنَّ ِللهِ ضَنَائِنَ مِنْ عِبَادِهِ يُعْذِيْهِمْ فِى رَحْمَتِهِ وَيُحْيِيْهِمْ فِى عَافِيَتِهِ اِذَا تَوَافَّاهُمْ تَوَافاَّهُمْ اِلَى جَنَّتِهِ اُولَئِكَ الَّذِيْنَ تَمُرُّ عَلَيْهِمُ الْفِتَنُ كَقَطْعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ وَهُوَ مِنْهَا فِى عَافِيَةٍ
Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya.

Wahab bin Munabbih meriwayatkan, bahwa para hawariyun telah bertanya kepada Nabi Isa tentang siapa para wali Allah yang tiada merasa takut dan berduka cita? Nabi Isa menjawab: Mereka adalah para hamba yang selalu memandang kepada batin dunia ini, padahal para manusia yang lain memandang dari sisi lahirnya. Mereka mempersiapkan ajal (habisnya umur) dunia ini, ketika para manusia melihat pada kehidupan yang kini saja. Mereka menjauhkan diri dari sesuatu yang akan menodai kehambaan mereka. Pengingkaran mereka terhadap dunia ini merupakan suatu kemerdekaan dan kegembiraan mereka terhadap apa yang mereka capai daripadanya (dunia ini) merupakan duka cita.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits kudsi berikut ini :
ياَ أَوْلِيَائِى، جَزَائِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْجَزَاءِ، وَعَطَائِى لَكُمْ اَجْزَلُ الْعَطَاءِ، وَبَذْلِى لَكُمْ اَفْضَلُ الْبَذْلِ، وَفَضْلِى عَلَيْكُمْ اَكْثَرُ الْفَضْلِ، وَمُعَامَلَتِى لَكُمْ اَوْفَى مُعَامَلَةٍ وَمُطَالَبَتِى لَكُمْ اَشَدُّ الْمُطَالَبَةِ. اَناَ مُجْتَبَى الْقُلُوْبِ وَاَناَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ وَاَناَ مُرَاقِبُ الْحَرَكَاتِ وَمُلاَحِظُ اللَّحَظَاتِ اَناَالْمُشْرِفُ عَلىَ الْخَوَاطِرِ، اَناَ الْعَالِمُ بِمَا جَالَ الْفِكْرُ فَكُوْنُوْا دُعَاةً لِى لاَ يَفُزُّ عَنْكُمْ ذَوِى سُلْطَانٍ سِوَايَ، فَمَنْ عَادَاكُمْ عَادَيْتُهُ وَمَنْ وَالاَكُمْ وَالَيْتُهُ وَمَنْ اَذَاكُمْ اَهْلَكْتُهُ وَمَنْ اَحْسَنُ اِلَيْكُمْ جَازَيْتُهُ، وَمَنْ هَجَرَكُمْ قَلَّيْتُهُ
Wahai para aulia-Ku, pemberian-Ku kepadamu adalah sebaik-baiknya pahala. Derma-Ku demi untukmu adalah semulia-mulianya pendermaan. Anugerah-Ku terhadapmu adalah sebanyak-banyaknya anugerah. Pergaulan-Ku kepadamu adalah setepat-tepatnya pergaulan. Tuntutan-Ku atas kamu adalah sekeras-kerasnya tuntutan. Akulah pemilik setiap hati sanubari. Akulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. Akulah pemandang segala gerak-gerik. Akulah pengawas segala lirikan mata. Akulah yang melihat atas lintasan-lintasan hati. Akulah yang mengetahui gerakan pikiran.

Dengan demikian hendaklah kamu menjadi para pemanggil demi untuk-Ku. Janganlah kamu merasa takut kepada raja dan penguasa selain-Ku. Barang siapa yang berani memusuhi kamu, niscaya Akulah yang menjadi lawannya. Barang siapa yang menyakiti hati kamu, niscaya Akulah yang akan membinasakannya. Barang siapa yang berbuat baik kepadamu, niscaya Akulah yang memberinya pahala dan barang siapa yang meninggalkan kamu, niscaya Akulah yang membencinya.

Dalam riwayat yang lain, yaitu dari Dzunnun yang juga berkenaan dengan sifat mereka adalah bersegera kepada amal kebaikan, berpaling daripada senda gurau dan terbebas dari keraguan serta kekejian. Mereka seperti orang-orang yang bisu dan buta, padahal mereka fasih dan melihat, malah mereka memiliki pandangan yang tajam. Tentang kaum ini, tiada seorang pun yang berkemampuan untuk menguraikan seluruh dari hal ihwal mereka. Bersama mereka, dapat tercegah balas dendam dan atas mereka diturunkan berbagai keberkahan di muka bumi. Merekalah manusia yang paling indah dalam bertutur kata, manusia-manusia yang sangat memenuhi janji setia, cahaya bagi para hamba yang memberi sinar terang kepada Negara, pelita dimalam gelap gulita, pancaran hikmat kebijaksanaan, tiang yang kokoh bagi umat dan masyarakat. Tulang rusuk mereka amat renggang dari tempat tidur, memiliki sifat pemaaf dan gemar memberi keringanan. Tangan mereka terbuka serta dermawan. Mereka memandang pahala Allah dengan jiwa-jiwa yang penuh kerinduan. Dengan lirikan mata yang tepat. Amal perbuatan mereka yang rapi penuh dengan kesesuaian.

Mereka itulah yang telah mendapatkan cahaya Ilahiyat dengan nur ar Rahman, sehingga dapat memandang keindahan maut dan memandang akhirat dengan mata keridlaan. Membeli yang kekal dengan yang fana. Alangkah nikmatnya apa yang mereka jual-belikan dengan menghimpun dua kebaikan dan menyempurnakan dua kelebihan. Nabi bersabda :
اَحَبُّ الْعِبَادِ إِلىَ اللهِ اْلاَتْقِيَاءُ اْلاَخْفِيَاءُ الَّذِيْنَ اِذَا غَابُوْا لَمْ يَفْتَقِدُوْا وَاِذَا شَهِدُوْا لَمْ يَعْرِفُوْا اُولَئِكَ هُمْ أَئِمَّةُ الْهُدَى وَمَصَابِيْحُ الْعِلْمِ
Hamba yang paling cinta kepada Allah adalah yang tersembunyi. Apabila mereka gaib (tidak hadir), sekali-kali tiada orang yang dapat mengenalnya. Mereka itu adalah para imam hidayat dan lampu-lampu ilmu pengetahuan.

Sabda Beliau Saw yang lain :
اِنَّ مِنْ خِيَارِ اُمَّتِى قَوْمٌ يَضْحَكُوْنَ جَهْراً مِنْ سَعَةِ رَحْمَةِ رَبِّهِمْ وَيَبْكُوْنَ سِرًّا مِنْ خَوْفِ شِدَّةِ عَذَابِ رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ يَذْكُرُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ وَيَدْعُوْنَهُ بِأَلْسِنَتِهِمْ رَغَبًا وَرَهَباً وَيَشْتَاقُوْنَ اِلَيْهِ بِقُلُوْبِهِمْ عَوْدًا وَبَدَأَ مُؤْنَتُهُمْ عَلىَ النَّاسِ خَفِيْفَةً وَعَلىَ اَنْفُسِهِمْ ثَقِيْلَةً عَلَيْهِمْ مِنَ اللهِ تَعَالىَ شُهُوْدٌ حَاضِرَةٌ وَاَعْيُنٌ حَافِظَةٌ وَنِعَمٌ ظَاهِرَةٌ يَتَوَسَّمُوْنَ الْعِبَادَ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِى الْبِلاَدِ اَجْسَادُهُمْ فِى اْلاَرْضِ وَقُلُوْبُهُمْ فِى السَّمَاءِِ
Orang yang terbaik di antara umatku adalah suatu kaum yang tersenyum karena luasnya rahmat dan kasih sayang Allah. Di samping itu, mereka manangis tersedu-sedu sambil mencucurkan air mata karena takut akan kerasnya adzab (siksa) Allah. Mereka senantiasa berdzikir dan berdoa sambil menaruh penuh harapan dan rasa takut. Mereka merindukan Rabb-Nya dengan hati yang tulus. Beban mereka atas manusia sangat ringan tapi atas diri mereka sendiri berat sekali. Penyaksian atas mereka dari Allah Swt dengan penglihatan yang memelihara dan aneka nikmat yang nyata. Mereka melihat tanda-tanda seorang hamba dan memikirkan negerinya. Jasad mereka berada di permukaan bumi, sedang hati sanubari mereka menjulang tinggi di langit.

Kemudian Beliau bersabda :
Yang demikian itu adalah bagi orang yang takut akan menghadap kehadirat-Ku dan takut akan ancaman-Ku. (QS. Ibrahim : 14)

Al Hakim at Tirmidzi, salah satu sufi besar generasi abad pertengahan, menulis kitab yang sangat monumental hingga saat ini, Khatamul Auliya’ (tanda-tanda kewalian), yang diantaranya berisi 156 pertanyaan mengenai dunia sufi, dan siapa yang bisa menjawabnya, maka ia akan mendapatkan tanda-tanda kewalian itu.
Post a Comment