Sunday, June 24, 2012

Hubungan Hati, Mata Hati dan Nur Ilahi

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
·         NUR-NUR ILAHI ADALAH KENDARAAN HATI DAN RAHASIA HATI. NUR ITU ADALAH TENTARA HATI, SEBAGAIMANA KEGELAPAN ADALAH TENTARA NAFSU. JIKA ALLAH S.W.T MAU MENOLONG HAMBA-NYA MAKA DIBANTU DENGAN TENTARA ANWAR (NUR-NUR) DAN DIHENTIKAN SUATU KEGELAPAN. NUR ITU BAGINYA MENERANGI (MEMBUKA TUTUPAN), MATA HATI ITU BAGINYA SEBAGAI HAKIM DAN HATI ITU BAGINYA MENGHADAP ATAU MEMBELAKANG.
·         Allah s.w.t hanya bisa dikenal jika Dia sendiri mau Dia dikenali. Jika Dia mau memperkenalkan Diri-Nya kepada hamba-Nya maka hati hamba itu akan dipersiapkan dengan mengurniakannya warid. Hati hamba diterangi dengan Nur-Nya. Tidak mungkin mencapai Allah s.w.t tanpa dorongan yang kuat dari Nur-Nya. Nur-Nya adalah kendaraan bagi hati untuk sampai ke Hadirat-Nya. Hati adalah umpama badan dan roh adalah nyawanya. Roh pula berkait dengan Allah s.w.t dan perkaitan itu dinamakan as-Sir (Rahasia). Roh menjadi nyawa kepada hati dan Sir menjadi nyawa kepada roh. Boleh juga dikatakan bahwa hakikat kepada hati adalah roh dan hakikat kepada roh adalah Sir. Sir atau Rahasia yang sampai kepada Allah s.w.t dan Sir yang masuk ke Hadirat-Nya. Sir yang mengenal Allah s.w.t. Sir adalah hakikat kepada sekalian yang maujud.
·         Nur Ilahi menerangi hati, roh dan Sir. Nur Ilahi membuka bidang hakikat-hakikat. Amal dan ilmu tidak mampu menyingkap rahasia hakikat-hakikat. Nur Ilahi yang berperanan menyingkap tabir hakikat. Orang yang mengambil hakikat dari buku-buku atau dari ucapan orang lain, bukanlah hakikat sebenarnya yang ditemuinya, tetapi hanyalah sangkaan dan khayalan semata-mata. Jika mau mencapai hakikat perlulah mengamalkan wirid sebagai pembersih hati. Kemudian bersabar menanti sambil terus juga berwirid. Sekiranya Allah s.w.t kehendaki warid akan didatangkan-Nya kepada hati yang asyik dengan wirid itu. Itulah kejayaan yang besar dan bisa dicapai oleh seseorang hamba semasa hidupnya di dunia ini.
Alam ini pada hakikatnya adalah gelap. Alam menjadi terang karena ada kenyataan Allah s.w.t padanya. Misalkan kita berdiri di atas puncak sebuah bukit pada waktu malam yang gelap gulita. Apa yang dapat dilihat hanyalah kegelapan. Apabila hari siang, matahari menyinarkan sinarnya, kelihatanlah tumbuh-tumbuhan dan hewan yang menghuni bukit itu. Kewujudan di atas bukit itu menjadi nyata karena diterangi oleh cahaya matahari. Cahaya mendhahirkan kewujudan dan gelap pula membungkusnya. Jika kegelapan hanya sedikit maka kewujudan kelihatan samar. Sekiranya kegelapan itu tebal maka kewujudan tidak kelihatan lagi. Hanya cahaya yang dapat mendhahirkan kewujudan, karena cahaya dapat menghalau kegelapan. Jika cahaya matahari dapat menghalau kegelapan yang menutupi benda-benda alam yang nyata, maka cahaya Nur Ilahi pula dapat menghalau kegelapan yang menutup hakikat-hakikat yang ghaib. Mata di kepala melihat benda-benda alam dan mata hati melihat kepada hakikat-hakikat. Banyaknya benda alam yang dilihat oleh mata karena banyaknya cermin yang membalikkan cahaya matahari, sedangkan cahaya hanya satu jenis saja dan datangnya dari matahari yang satu jua. Begitu juga halnya pandangan mata hati. Mata hati melihat banyaknya hakikat karena banyaknya cermin hakikat yang membalikkan cahaya Nur Ilahi, sedangkan Nur Ilahi datangnya dari nur yang satu yang bersumberkan Zat Yang Maha Esa.
·         Kegelapan yang menutupi mata hati menyebabkan hati terpisah dari kebenaran. Hatilah yang tertutup sedangkan kebenaran tidak tertutup. Dalil atau bukti yang dicari bukanlah untuk menyatakan kebenaran tetapi adalah untuk mengeluarkan hati dari lembah kegelapan kepada cahaya yang terang benderang bagi melihat kebenaran yang telah ada, bukan mencari kebenaran baru. Cahayalah yang menerangi atau membuka tutupan hati. Nur Ilahi adalah cahaya yang menerangi hati dan mengeluarkannya dari kegelapan serta membawanya menyaksikan sesuatu dalam keadaannya yang asli. Apabila Nur Ilahi sudah membuka tutupan dan cahaya terang telah bersinar maka mata hati dapat memandang kebenaran dan keaslian yang selama ini disembunyikan oleh alam nyata. Bertambah terangnya cahaya Nur Ilahi yang diterima oleh hati bertambah jelas kebenaran yang dapat dilihatnya. Pengetahuan yang diperolehi melalui pandangan mata hati yang bersuluhkan Nur Ilahi dinamakan ilmu laduni atau ilmu yang diterima dari Allah s.w.t secara langsung. Kekuatan ilmu yang diperolehi bergantung kepada kekuatan hati menerima cahaya Nur. Ilmu yang didapatkan dari dalil naqli atau aqli kemudian diamalkan akan menjadikan Allah senang. Jika seseorang itu mengamalkan apa yang sudah diketahui, maka Allah akan mewariskan/memberikan ilmu yang belum diketahui. Itulah ilmu laduni. Ilmu ini tidak bisa didapatkan hanya dengan membaca buku atau mendengar ceramah agama tetapi Allah akan menyingkapkan kepada orang yang mengamalkan ilmu yang sudah diketahui. Ilmu ini disebut juga ilmu rabbaniyyah. Ilmu yang langsung dimasukkan ke dalam mata hati seorang hamba yang berbuat amal sesuai petunjuak Allah dan RasulNya.
·         Murid yang masih pada peringkat permulaan hatinya belum cukup bersih, maka cahaya Nur Ilahi yang diperolehinya tidak begitu terang. Oleh karena itu ilmu laduni yang diperolehinya masih belum mencapai peringkat yang halus-halus. Pada tahap ini hati bisa mengalami kekeliruan. Kadang-kadang hati menghadap kepada yang kurang benar dengan membelakangkan yang lebih benar. Orang yang pada peringkat ini perlu mendapatkan penjelasan daripada ahli makrifat yang lebih arif. Apabila hatinya semakin bersih cahaya Nur Ilahi semakin bersinar meneranginya dan dia mendapat ilmu yang lebih jelas. Lalu hatinya menghadap kepada yang lebih benar, sehingga dia menemui kebenaran hakiki.

Dasyat! Membongkar Rahasia kekuatan Tuhan 

menyibak pintu rahasia kekuatan Tuhan (tak terbatas) dengan kedasyatan kalimat “Yaa Sayyidi Yaa Rosulalloh” kalimat yang sangat hebat, kalimat yang bahkan bisa digunakan untuk menghentikan kekuatan dasyat ledakan bom atom atau ledakan nuklir yang pernah dibahahas pada tulisan sebelumnya akan tetapi yang paling penting ialah kedasyatan menghacurkan nuklir-nuklir sifat keakuan yang bersemayam didada manusia yang mengakibatkan bendera “AKU” berkibar, sehingga menjadi sumber mala petaka dan perpecahan dimuka bumi ini yang diakibatnya nuklir yang bersemayam didalam dada para pempimpin bangsa.

Kita awali dengan ayat “Huwal Awwalu wal Akhiru waz zaahiru wal-baatin” yang mempunyai arti segalanya menjadi kehendak yang Maha Wujud, yang maha tanpa awal dan tanpa akhir. Karena Alloh tidak membutuhkan awal dan akhir atau batas sebab yang dimaksud permulaan adalah batas, maka jelaslah Alloh tiada awal maupun akhir, karena waktu sendiri itu adalah makhluk ciptaanNya, mustahil yang menciptakan ikut campur dalam ciptaanNya ? it’s imposible I thing.
Maka Alloh lah sebagai sumber segala penciptaan seluruh makhluk alam jagad raya, baik meliputi alam, manusia, tumbuhan hewan, waktu, angan-angan, pikiran manusia, kaya maupun miskin, ataupun perbedaan keyakinan beragama, itupun semua adalah ciptaaanNya karena hakekatnya Dialah yang Maha ada, dan Maha Pencipta.
Dengan kekuatan kun fayakunNya tidak ada yang tidak mustahil dan tidak mungkin yang tercipta dari kekuasaanNya, karena apapun kehendaknNya pastilah terjadi. mustahil tidak ada yang tidak terjadi. Maka Dialah yang wujud dan samar, sehingga ada salah satu filsafat dari orang budha “Yang Berisi Itu Kosong Dan Yang Kosong Adalah Berisi”. Inipun berhubungan erat kaitannya dengan jiwa, kalau jiwa kita berisi “merasa” yaitu merasa mampu, merasa pandai, merasa hebat, merasa hidup, merasa memiliki, merasa… merasa dan merasa, maka sebenarnya jiwa kita adalah kosong, Begitu pula sebaliknya kalau jiwa kita berisi “tidak merasa” tidak merasa mampu, tidak merasa pandai, tidak merasa alim, tidak merasa hebat, dan tidak merasa hidup maka sebenarnya jiwa kita adalah adalah berisi.
Dan inilah yang dimaksud dengan filsafat diatas, karena pada saat kita mengosongkan diri, atau dalam bahasa lain meng “NOL” kan diri, pada saat posisi itulah Alloh bertajjali memperkenankan hambanNya untuk menemui DIA, karena pada saat kita mematikan diri disinilah nampak yang Maha Hidup ,dan hal ini yang sangat prinsip dan harus kita pahami.
Maka selanjutnya dengan kalimat dasyat “KUN FAYAKUN” (jadi maka jadilah), seketika Alloh menciptakan sesuai kehendakNya, yang mana asalnya tidak ada menjadi sebuah wujud yang diadakan, dan itulah yang dinamakan “MAKHLUK”, dan dengan kehendakNya pula Alloh memberikan amanat berat terhadap salah satu makhluk ciptanNya, siapakah dia? Itulah manusia dan jin, yang jelas tersurat didalam Al Quran surat Adzariyat ayat 56.
“dan tidaklah AKU(Alloh) ciptakan jin dan manusia melainkan untuk mengabdi kepadaKU”.
Inilah amanat pengabdian bagi seorang hamba yang harus dijalani, maka sebenarnya perjalanan hidup kita hanya satu tujuan yaitu menuju kepadaNya dalam istilah Al Qurannya “Fafirru Ilalloh”. Dan penting diketahui, amanat sebuah pengabdian inilah yang membutuhkan suatu petunjuk atau jalan agar benar-benar murni mengabdi dan menghamba kepadaNya.
Karena kita tidak akan pernah bisa menghamba kepadaNya, sebab alasan utama yang sangat kuat yaitu kita adalah makhluk ciptaan yang asalnya TIDAK ADA menjadi ADA, alangkah hebatnya sesuatu yang TIDAK ADA bisa mengabdi kepada yang MAHA ADA? sungguh mustahil bukan!
Maka tidak ada manusia yang bisa ingat kepada Sang Pencipta, tidak pula bisa beribadah dan bisa apa-apa karena hakekat manusia adalah tidak pernah ada dan tak akan pernah ada, karena hakekat manusia itu ada karena ada kekuatan kunfayakun sehingga manusia menjadi ada.

Dengan rujukan rambu-rambu didalam Al Quran surat Adzariyat ayat 56 inilah sebagai kunci suatu petunjuk utama kepada manusia bahwa Al Quran adalah suatu pintu petunjuk hidayah untuk mengenal Sang Pencipta.
“…..Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)….” (Qs Al Baqarah 185).
akan tetapi dalam benak kami ada sebuah pertanyaan, dimanakah Al Quran yang asli itu? apa Al Quran yang setiap hari kita tadaburi dengan ayat-ayat nya itu? ataukah Al Quran hanya sebuah simbolis dan ucapan seremonial saja sehingga identitas kitab suci agama islam akan sirna tidak pernah digali dan ditinggal oleh pengikutnya,
Kami teringat pada akhir zaman nanti akan datang suatu masa dimana Al Quran hanya tinggal bacaannya saja.
Dan kenyaataanya memang benar bahwa Al Quran sekarang tinggal seremonial bacaannya saja.
Padalah manusia harus sampai kepada Alloh dengan ayat innalillahi wa inna ilaihi rojiun “kita hamba Alloh dan Pasti kembali kepada Alloh”. Sangat sederhana akan tetapi sulit untuk dijabarkan.
Akhirnya Rosulalloh bersabda:
” Sesungguhnya Al-Qur’an adalah tali yang satu ujungnya ditangan Alloh dan ujungnya yang lain ditangan kamu. Maka berpeganglah dengannya. Sesungguhnya kamu tidak akan tersesat dan binasa selama-lamanya” (HR.Ibnu Hibban)
Dari rujukan diatas jelaslah Al Quran sebagai ujung sakelar, ibarat listrik kita hanya menekan tombol sakelar, seketika itu nyalalah lampu itu tanpa harus pergi ke pusat listrik.
Maka barang siapa ingin berhubungan dengan AKU (Alloh), maka sekali-kali kamu tidak akan ada yang bisa menemukan AKU, maka kalau kalian mencari Aku!, maka carilah makhlukKu yang dimana ujung Al-Quran satunya ada ditanganKu yang dan diujung satunya didadanya makhlukKu, yang bernama Muhammad Saw kekasihKu yang sesungguhnya.
Disinilah kronologis terbentuk kalimat syahadat dimana asalnya hanya Ashadualla IlahailAlloh, setelah itu ditambahlah menjadi Ashaduanna Muhammad Rosulalloh.
Sedangkan untuk mencapai kekuatan agung itu ada sebuah media yang disediakan oleh Tuhan yaitu Nur Muhammad yang bisa menjadi penghantar untuk berhubungan langsung dengan Alloh. Nur Muhammad sendiri adalah kekuatan yang sangat agung yang merupakan cikal bakal terciptanya alam semesta raya, jadi Nur Muhammad sendiri merupakan Kekuatan Ilahi. Dimana kekuatan Nur Ilahi ini terbungkus rapi didalam jasad Nabi Muhammad.
Inilah yang menjadikan petunjuk bahwa “ujung Al-Qur’an adalah tali yang satu ujungnya ditangan Alloh dan ujungnya yang satunya ditangan Muhammad Rosulalloh” karena Aisyah pernah ditanya oleh seorang sahabat bagaimana dengan Akhlaq Rosulalloh? Kalau kamu ingin tahu Akhlaq Rosulalloh ya Al Quran itu sendiri.
Maka ketika ada orang ingin bertemu dengan Alloh, orang itu harus masuk kedalam media Tuhan yaitu frekuensi Nur Muhammad yang dimana ada suatu gelombang yang tersambung otomatis kepada Nur Ilahi. Seperti layaknya aliran listrik yang berpusat di gardu induk mengalir menuju rumah yang dialiri listrik , tidak perduli tempatnya jauh ataupun dekat, apabila rumah itu terhubung dengan kabel yang terkena aliran listrik dari pusat aliran gardu induk, lampu rumah dipastikan bisa menyala.
Itulah sebagaian analoginya, maka mutlaklah untuk mencapai frekuensi Nur Muhammad harus memperbanyak hubungan rohani terhadap Nur Muhammad tersebut dengan cara memperbanyak masuk melalui metode nol.
Maka apabila kekuatan agung itu dilibatkan didalam dirinya, maka Alloh sendirilah yang akan menjadi bemper atau kekuatan yang sangat hebat yang menyelimuti dirinya. Maka tidaklah heran ada seseorang yang memusuhi kekasih Alloh otomatis dia menabrak keakuatan Alloh yang Maha Dasyat maka hancurlah seketika saat itu.
Maka jangan pernah sekali-kali mencoba memusuhi dan menghujat orang yang berselimut dengan melibatkan kekuatan Tuhan, karena Tuhan sendiri yang akan menjadi kekuatan dasyat didalam jiwa orang tersebut. inilah rahasia para kekasih-kekasihnya Tuhan. (kalaupun ucapan saya bohong boleh dibuktikan,, musuhilah kekasih Tuhan itu! ).
dari Abu Hurairah R.A, ia berkata: Rosulalloh Saw bersabda:
“Sesungguhnya Alloh berfirman, ‘Barangsiapa memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka Aku menyatakan perang terhadapnya.’” (HR Al-Bukhari).
Ketika orang itu menjadi kekasihnya Tuhan, maka kesabaranlah yang berselimut didalam dirinya.
“Sesungguhnya Alloh bersama orang-orang yang sabar” ( Al-Baqarah:153)
Dan ciri khas doa maupun ucapannya pasti mengandung kebaikan dan persatuan untuk seluruh makhluk penjuru alam. dia tidak pernah menghujat apalagi menyalahkan orang lain, yang ada selalu koreksi kedalam bahwa dirinya masih banyak melakukan salah dan dosa, sehingga rintihan air mata keprihatinan yang terus menyelimuti dirinya, sebagai bentuk pengaktualisasian dirinya sebagai hamba.
Lalu bagaimanakah dengan kita?
Post a Comment