Saturday, September 1, 2012

MUJAHADAH : Pendapat Para Tokoh Sufi

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Abu Nadhrah telah meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, suatu hari, Rasulullah SAW ditanya tentang jihad yang paling utama,
Beliau bersabda, “Menyampaikan kalimat yang benar kepada raja yang zhalim.”

Mendengar sabda Rasulullah SAW, berlinanglah air mata Abu Said ra. Abu Ali Daqaq berkata,”Barangsiapa menghiasi lahirnya dengan mujahadah, Allah SWT akan mempercantik hatinya dengan musyahadah.”
Allah SWT telah berfirman,

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan Allah) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Barang siapa yang tidak mau bermujahadah di permulaannya, maka dia tidak akan pernah menemui sesuatu pada jalan itu.
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan Allah) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.
Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69).
Abu Utsman Al-Maghribi
berkata,”Barangsiapa mengira telah melihat sesuatu atau ada sesuatu yang telah dibukakan baginya jalan ini, sedangkan dia tidak pernah bermujahadah. Sungguh, dia telah keliru.”
Abu Ali Ad-Daqad
berkata, “Barangsiapa dipermulaan perjalanannya tidak mau berdiri, maka di akhir perjalanannya tidak akan dapat duduk.” Dia juga mengatakan, “Bergerak membawa berkah. karena itu, gerakan pada lahir membawa berkah bagi hati.”
Al-Hasan bin Alawiyah
mengutip pernyataan Abu Yazid Al-Bisthami, “Duabelas tahun aku menundukkan nafsuku. Lima tahun aku berada pada cermin hatiku, dan satu tahun aku melihat apa yang ada di sana. Ternyata, aku melihat pada perutku ada tali pengikat yang tampak. Karena itu, aku berusaha memutuskannya selama dua belas tahun. Kemudian aku melihat ternyata pada batinku ada tali pengikat yang tampak. Karena itu, aku berusaha bagaimana aku telah memotongnya. Maka dibukakan bagiku. Lalu, aku melihat makhluk. Ternyata, mereka semua telah mati. Aku mengucapkan takbir atas kematian mereka empat kali.”
Diriwayatkan, Syekh Junaidi Al-Baghdadi berkata dengan menukilkan pernyataan Sirri As-Saqati, “Wahai sekalian anak muda. Bersungguh-sungguhlah sebelum kamu menjadi seperti saya, lalu kamu akan lemah dan tidak berdaya seperti aku.” Padahal pada saat itu, dia belum lemah dalam beribadah.

Hasan Al-Qazzaz
berkata, “Jalan ini ditempuh di atas tiga perkara, yaitu tidak makan kecuali telah lapar, tidak tidur kecuali telah mengantuk, dan tidak berbicara kecuali seperlunya saja”.
Ibrahim bin Adham
berkata, “Seseorang tidak akan mencapai derajat shalihin kecuali telah melalui enam tingkatan, yaitu menutup pintu kenikmatan dan membuka pintu kesusahan, menutup pintu kemuliaan dan membuka pintu kehinaan, menutup pintu kemudahan dan dan membuka pintu kesusahan, menutup pintu tidur dan membuka pintu terjaga, menutup pintu kekayaan dan membuka pintu fakir, menutup pintu angan-angan dan membuka pintu siap mati.”
Abu Umar bin Najid
berkata, “Barangsiapa memulyakan nafsunya bererti telah menghinakan agamanya”.
Abu Ali Ar-Ruzbari
berkata, “Apabila ada seorang sufi telah tidak makan lima hari mengatakan, ‘aku lapar’, maka bawalah dia ke pasar dan suruhlah dia bekerja.”
Dzun Nun Al-Mishri
berkata, “Tidak ada seorang hamba yang lebih dimulyakan Allah SWT daripada orang yang telah ditunjukkan agar merendahkan dirinya. Tidak ada seorang hamba yang lebih dihinakan Allah SWT dari pada orang yang terhalang dari merendahkan dirinya.”
Ibrahim Al-Khawash
berkata, “Tidak ada sesuatu yang menyusahkanku kecuali aku akan mengendarainya.” Dia juga mengatakan, “Muhammad bin Fadhal telah berkata kepadaku, ‘Kedamaian adalah bersih dari angan-angan dan nafsu’”.
Manshur bin Abdullah
berkata, Aku mendengar Abu Ali Ar-Rauzibari berkata, “Kerusakan itu masuk dari tiga pintu, yaitu perangai yang sakit, kebiasaan mengikuti tradisi, dan pergaulan yang buruk.” Aku bertanya kepadanya, “Apa yang dimaksud dengan peragai yang sakit? Dia berkata, “Memakan yang haram.” Aku bertanya, “Apa yang dimaksud engan kebiasaan mengikuti tradisi?” Dia berkata, “Melihat dan mendengarkan sesuatu yang haram dan berghibah.” Aku bertanya, “Apa yang dimaksud dengan pergaulan buruk?” Dia berkata, “Mengikuti setiap nafsu yang bergejolak”.
An-Nashrabazi
berkata, “Nafsumu telah memenjarakanmu. Jika keluar darinya, kamu akan menemukan kedamaian abadi”.
Abul Hasan Al-Warraq
berkata, “Beberapa ketetapan yang paling penting sebagai pelajaran dasar bagi kami di masjid Abu Ustman adalah pertama, mengutamakan apa yang akan dibukakan ke atas kami, agar kami tidak bermalam pada waktu yang telah diketahui. Kedua, bila ada orang yang datang kepada kami dengan sesuatu yang tidak menyenangkan agar kami tidak menyakitinya, tetapi harus memaafkannya dan merendahkan diri kepadanya. Ketiga, bila di hati kami ada perasaan menghinakan seseorang, kami harus berdiri melayaninya.
Mujahadah orang awam adalah memperbaiki amal, sementara mujahadah orang khawash adalah memperbaiki keadaan hati. Sungguh, mudah menahan lapar, haus, dan mengantuk tetapi amat sulit dan sukar mengubati akhlak yang buruk.

Demikian ungkapan para sufi tentang mujahadah, semoga akan bermanfaat bagi kita semua dalam menempuh jalan menuju Allah SWT. Semoga kita semua akan diberi kekuatan oleh Allah untuk selalu dapat bermujahadah di jalanNya sehingga menjadi orang-orang yang Menang.

Enhanced by Zemanta
Post a Comment