Wednesday, September 12, 2012

Berselubung dalam Cahaya Nama-Nama Allah"

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله

 
Setelah ia mendapat bekal dari sang guru, si Salik hendaknya menyelimuti dirinya dengan cahaya (nur) ‘Ruh al-Quds’ (Ruh Suci), mengubah dirinya menjadi sebentuk kaca ruhani, bertawaf mengelilingi ‘ka’bah hati’ , dan menyebut secara ruhaniah nama Allah yaitu “ALLAH” (nama bagi zat-Nya). Ia berputar seperti membentuk sebuah lingkaran, karena jalan menuju Zat itu tidak linear, melainkan berputar seperti sebuah siklus. Tak ada ujung dan pangkal dalam pergerakannya. Semua perjalanan yang dilaluinya terbungkus dalam gerak ruhani atau spritual.

Kemudian si Salik menuju ‘Arafah hati’ , tempat berdo’a secara batin yaitu tempat dimana seseorang mengharap dapat mengetahui rahasia-Nya (tidak ada Tuhan melainkan Allah, Yang Maha Esa dan dapat disekutukan dengan-Nya). Di tempat itulah dia berdiri membaca nama Allah “ HU ” (Dia). Disana si Salik tidak hanya seorang diri, karena Allah ada bersamanya, seperti firman Allah :

“…. Dan Dia bersama kamu di manapun kamu berada “. (Q.S. al-Hadid : 4)

Setelah itu ia membaca nama Allah berikutnya yaitu “AL-HAQQ” (Yang sebenar). Itulah nama bagi Nur Zat Allah.

Kemudian ia membaca nama Allah “AL-HAYYU” (Yang Hidup). Dari-Nya muncul segala yang hidup dan segala makhluk, karena Dialah sumber kehidupan.

Kemudian disempurnakan nama Allah AL-HAYYU itu dengan nama Allah “AL-QAYYUM” (Yang Berdiri Sendiri dalam mengurus makhluk-Nya). Ini membawa si Salik ke ‘Muzdalifah hati’.

Setelah itu si Salik dibawa ke Mina, rahasia yang suci di mana ia membaca nama Allah “AL-QAHHAR” (Yang Maha Berkuasa dalam berbagai perkara tadbiran-Nya, Yang Maha Perkasa mengatasi seteru-seteru-Nya). Dengan kekuatan nama Allah itu, diri dan ego dikorbankan, tabir kekufuran ditiupkan, dan terbuka lebarlah pintu ‘kekosongan diri’ (terasa diri fana dan kosong). Kemudian ‘kepala Ruh al-Quds’ dicukur dari semua sifat-sifat kebendaan.

Setelah itu dibaca pula nama Allah “AL-WAHHAB” (Maha Pemberi, Yang Memberi tanpa hadd dan syarat). Dengan itu si Salik memasuki ‘kawasan’ Maha Suci Bagi Zat.

Setelah masuk ke ‘kawasan’ maha suci itu, si Salik membaca nama Allah “AL-FATTAH” (Pembuka semua yang tertutup).

Si Salik memasuki suatu tempat, disitu ia duduk hampir dengan Allah, berkasih sayang dengan Allah dan jauh dari ghayrullah (selain Allah). Disitu si Salik membaca nama Allah “AL-WAHID” (Yang Maha Tunggal). Disitu si Salik mulai melihat manifestasi (penzahiran) sifat Allah yang bernama “ASH-SHOMAD” (Sumber Yang pada-Nya segala makhluk bergantung dan berharap). Si Salik mulai melihat ‘harta tersembunyi’ yang tidak habis-habis, yang dipandang oleh si Salik tanpa bentuk, tanpa rupa dan tiada sesuatu yang seumpama-Nya.

Setelah itu, mulailah dia melakukan tawaf yang terakhir. Ia berkeliling sebanyak tujuh kali sambil membaca enam nama Allah yang berikutnya, dan ditambah dengan nama Allah “AL-AHAD” (Yang Maha Esa). Kemudian si Salik diberi minum, seperti yang tersebut di dalam firman Allah :
“Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih” (Q.S. Al-Insan : 21)

Tempat yang menampung minuman itu berupa nama Allah yaitu “ASH-SHAMAD” (Sumber tempat segala yang ada bergantung, Yang memuaskan segala keperluan dan kehendak, Tempat untuk kembali).

Setelah minum dengan tempat itu, si Salik melihat semua hijab tersingkap dari Wajah Yang Qadim. Si Salik melihat Dia dengan nur yang muncul dari-Nya. Tingkatan ini tidak dapat diperbandingkan dengan yang lainnya, tidak dapat disamakan dengan apapun jua, tidak ada sesuatu apapun yang dapat melukiskannya, tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Tingkatan ini belum pernah dilihat sebelumnya oleh mata manusia, tidak pernah didengar oleh telinga, tidak pernah terlintas dalam hati. Kalam Allah itu tidak bersuara dan tidak berhuruf. Tidak ada kenikmatan yang melebihi kenikmatan melihat Allah dan mendengar Allah berkata-kata.
Post a Comment