Monday, August 6, 2012

Tatacara Shalat di Dalam Al-Qur'an

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
 Dalam upaya menyerukan apa yang diturunkan Allah (Al-Qur'an) pertanyaan tantangan yang paling sering dilontarkan adalah "Bagaimana caranya shalat kalau hanya berbekal Al-Qur'an? Mana ada tata cara shalat di dalam Al-Qur'an!"

Untuk menjawab pertanyaan yang menantang tersebut berikut penulis paparkan apa yang ditetapkan Allah tentang shalat. Apabila terdapat perbenturan dengan apa yang selama ini diyakini, marilah kita berhakim kepada apa yang telah diturunkan Allah saja (Al-Qur'an) dan berpaling dari selain itu.

Waktu dan Nama Shalat

Awal sekali kita harus tahu kapan waktu-waktu shalat itu. Allah menetapkan ada 3 waktu shalat bagi manusia dalam sehari semalam.
"Dan lakukanlah shalat pada dua tepi siang, dan pada awal malam." (11:114)

Fajar

Tepi siang yang pertama adalah pada awal hari (pagi), Shalat pada waktu ini dinamakan shalat Fajar (24:58).

Waktu fajar berawal ketika –dengan hanya mengandalkan cahaya alam—kita sudah dapat membedakan benang putih dari benang hitam.
"...Makan dan minumlah sampai jelas bagimu benang putih dari benang hitam, pada fajar..." (2:187)

Waktu fajar ini berlangsung sekitar 30 menit sampai kemudian cahaya alam menjadi terang benderang menandakan telah terbitnya matahari.

Di samping ibadah shalat, Allah menyuruh kaum muslim untuk mengkaji Al-Qur'an pada waktu fajar.
"... dan bacaan (qur'an) fajar; sesungguhnya bacaan fajar disaksikan." (17:78)

Wustha

Tepi siang yang kedua adalah pada akhir hari (petang), shalat pada waktu ini dinamakan shalat Wustha (2:238). Kita biasa mengenal waktu ini dengan istilah "maghrib."

Rentang waktu shalat Wustha adalah sekitar 30 menit sampai kemudian kegelapan malam datang menutupi.
"Lakukanlah shalat dari terbenam matahari sampai kegelapan malam..." (17:78)

Isya

Shalat pada awal malam dinamakan shalat Isya (24:58).

Allah di dalam surat 73:20 telah menetapkan pembagian waktu malam sampai 3 bagian. Karenanya dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan awal malam adalah rentang 1/3 pertama dari malam. Sebagai ilustrasi, apabila kita hitung bahwa malam dimulai pada pukul 06.30 malam dan berakhir pada pukul 05.00 esok fajar, maka lamanya waktu malam dalam 10,5 jam.

Dengan perhitungan ini berarti satu bagian malam adalah 10,5 jam dibagi 3, yaitu 3,5 jam. Maka rentang waktu untuk shalat Isya dalam ilustrasi ini adalah 3,5 jam pertama dari malam yaitu pukul 06.30 sampai dengan pukul 10.00 malam.

Duluki Syamsi

Pada redaksional asli surat 17:78 di atas terdapat frasa "duluki syamsi" yang kemudian diterjemahkan sebagai "terbenam matahari." Pada versi terjemahan yang lain frasa tersebut diartikan "tergelincir matahari."

Apabila kita mengecek kepada kamus ataupun Lexicon, kedua penterjemahan tersebut di atas sama-sama dianggap benar. Namun apabila kita memperhatikan lanjutan frasa tersebut yaitu "sampai kegelapan malam" maka akan diketahui bahwa ayat tersebut sedang berbicara tentang rentang waktu sebuah shalat yang dilakukan menjelang malam.

Waktu menjelang malam ini berkaitan dengan shalat pada tepi hari ke dua (petang) sebagaimana disebutkan surat 11:114, sehingga "duluki syamsi" pada surat 17:78 di atas lebih tepat diartikan sebagai "terbenam matahari."

Nama-Nama Lain

Walaupun nama-nama lain yang umum digunakan untuk shalat seperti 'shubuh' yang berarti 'pagi,' 'dzuhur' yang berarti 'tengah hari,' 'ashar' yang berarti 'masa/ waktu,' dan 'maghrib' yang berarti 'Barat' tercantum di dalam Al-Qur'an, tidak satupun dari nama-nama tersebut yang berhubungan dengan shalat ataupun dengan waktu shalat.

Menjamak Shalat

Shalat haruslah dilakukan pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Allah sebagaimana di atas.
"Sesungguhnya shalat itu adalah suatu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman." (4:103)

Tidak terdapat satu ayat pun di dalam Al-Qur'an yang membolehkan menjamak shalat. Dalam keadaan apapun shalat harus tetap dilakukan.
 
"Jika kamu dalam ketakutan, maka (shalatlah) sambil berjalan kaki, atau berkendaraan..." (2:239)

Membersihkan Diri

Setelah mengetahui kapan shalat harus dilakukan, yang perlu dilakukan sebelum shalat adalah membersihkan diri atau yang biasa kita kenal dengan istilah wudhu. Bagian tubuh yang perlu dibersihkan ada empat, yaitu: muka, tangan hingga siku, kepala, dan kaki hingga mata kaki.
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri untuk shalat, basuhlah mukamu, dan tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu, dan kaki-kaki kamu sampai kedua mata kaki..." (5:6)

Ada kondisi-kondisi dimana kita diperbolehkan untuk tidak membasuh diri dengan air. Kondisi-kondisi itu adalah ketika sakit, ketika dalam perjalanan, atau ketika tidak mendapatkan air. Dalam kondisi tersebut kita diperintahkan bertayamum dengan debu tanah yang baik. Bagian tubuh yang disapu ketika tayamum adalah muka dan tangan.
"...tetapi jika kamu sakit, atau dalam perjalanan, atau jika salah seorang antara kamu kembali dari kakus, atau kamu menyentuh perempuan, dan kamu tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah dengan debu tanah yang baik, dan sapulah muka kamu, dan tangan kamu dengannya..." (5:6)

Perlu dijelaskan bahwa frasa "menyentuh perempuan" pada ayat di atas bukanlah dimaksudkan bersentuhan kulit secara harfiah seperti apabila kita berjabat tangan. Frasa tersebut adalah istilah penghalusan dari "berhubungan seksual." Allah berkali-kali menggunakan istilah "menyentuh" untuk memaksudkan "berhubungan seksual" di dalam Al-Qur'an, beberapa diantaranya terdapat pada surat 2:236-237, 19:20, 33:49, dan 58:3.

Pakaian

Setelah membersihkan diri, berikutnya kita gunakan pakaian yang bagus untuk bermunajat kepada-Nya. Allah menyuruh kita agar mengenakan perhiasan di setiap tempat sujud (mesjid), termasuk perhiasan adalah pakaian yang bagus.
"Wahai anak Adam, kenakanlah perhiasanmu di setiap masjid" (7:31)

Kiblat

Untuk memulai ritual shalat kita berdiri menghadap kiblat. Kiblat menurut Al-Qur'an adalah Masjidil Haram, yang berada di kota Mekah.
"Sungguh Kami melihat kamu membalik-balikkan wajah kamu ke langit, sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu berpuas hati. Maka palingkanlah muka kamu ke arah Masjidil Haram, dan di mana saja kamu berada, palingkanlah muka kamu ke arahnya. Orang-orang yang diberi al-Kitab mengetahui bahwa itu adalah yang benar dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (2:144)

Adakalanya kita berada di suatu tempat yang kita tidak dapat mengenal tanda-tanda arahnya, atau berada di perjalanan dimana arah hadap kendaraan dapat berubah-ubah serta tidak bisa diharapkan untuk selalu searah dengan kiblat.

Pada kondisi seperti di atas kita dibenarkan untuk shalat dengan menghadap ke mana pun. Allah katakan bahwa Timur dan Barat adalah kepunyaan-Nya, dan bahwa ke mana pun kita menghadap di situ Wajah Allah.
"Kepunyaan Allah Timur dan Barat; ke mana saja kamu berpaling di situlah wajah Allah; sesungguhnya Allah Merangkumi, Mengetahui." (2:115)

Adzan

Pengumuman untuk melakukan shalat (adzan) tidak disyaratkan di dalam ajaran Islam. Sebagian orang telah menjadikan surat 62:9 sebagai rujukan tentang adanya ketentuan adzan di dalam Al-Qur'an.
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila dipanggil untuk shalat pada hari berkumpul (jumu'at), bersegeralah kepada peringatan Allah, dan tinggalkanlah jual beli; itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (62:9)

Ayat di atas sesungguhnya tidak memuat kata "adzan," melainkan kata "nudiya" yang berarti "panggil." Adzan dan nudiya adalah dua kata yang berbeda dengan arti dan penggunaan yang berbeda pula.

Adzan berarti pengumuman, sifatnya adalah seruan untuk umum. Salah satu contoh penggunaan kata adzan di dalam Al-Qur'an adalah pengumuman pada saat haji akbar oleh Nabi.
"Satu pengumuman dari Allah dan rasul-Nya kepada manusia pada hari Haji Besar, 'Allah dan rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan. Maka jika kamu bertaubat, itu lebih baik bagimu; tetapi jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa kamu tidak dapat melemahkan Allah.....'" (9:3)

Berbeda dengan "adzan," kata "nudiya" sebagaimana yang digunakan pada surat 62:9 bermakna "memanggil" dan ditujukan terbatas kepada orang tertentu. Di dalam Al-Qur'an salah satu contoh penggunaan kata "nudiya" ini adalah ketika Allah memanggil Nabi Musa.
"Apabila dia datang kepadanya, dia dipanggil dari tebing sebelah kanan lembah di tempat yang lekuk yang diberkati, datang dari pohon, 'Wahai Musa, sesungguhnya Akulah Allah, Rabb semesta alam.'" (28:30)

Karenanya kita tidak perlu mengusik ketenangan lingkungan dengan gema adzan melalui pengeras suara yang ditempatkan di atas menara/kubah mesjid. Patut dipertimbangkan bahwa sangat mungkin ada bayi yang sedang tidur, pekerja yang kelelahan, orang yang sedang sakit, maupun orang berbeda keyakinan yang terganggu dengan suara adzan itu.

Ketika akan shalat kita dapat mengajak anggota keluarga atau mungkin teman sekeyakinan yang berada di dekat kita. Namun tidak perlu mengumandangkan sebuah pengumuman untuk semua orang.

Seruan

Karena pada dasarnya shalat adalah sebuah media komunikasi antara hamba dan Tuhannya, maka awal sekali si hamba akan memanggil Tuhannya. Al-Qur'an mengajarkan kita untuk memanggil "Allah" (ya Allah/ wahai Allah), atau "Ar-Rahman" (ya Rahman/ wahai Yang Pemurah) atau nama-nama-Nya yang terbaik (asma al-husna) yang diajarkan di dalam Al-Qur'an.
"Serulah Allah, atau serulah Ar-Rahman, mana saja yang kamu seru, bagi-Nya nama-nama yang paling baik". (17:110)

Perlu menjadi perhatian bahwa "akbar" bukan merupakan salah satu dari asmaul husna sehingga tidak sepatutnya digunakan dalam shalat.

Sesudah kita memanggil Nama-Nya, Allah menyuruh kita agar memuji-Nya. Lafaz pujian tersebut diajarkan Allah pada ayat berikutnya.
"Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak ada baginya pelindung dari kehinaan..." (17:111)

Bacaan

Setelah memuji-Nya kita dapat memilih untuk menambah bacaan lain ataupun langsung ruku. Tentang apa lagi yang kita baca di dalam shalat baik ketika berdiri, ruku, maupun sujud terpulang kepada masing-masing orang.

Allah memerintahkan agar kita memohon pertolongan kepada-Nya di dalam shalat. Maka, mohonlah pertolongan sesuai dengan apa yang anda hajatkan.
 
"Dan mohonlah pertolongan dalam kesabaran dan shalat..." (2:45)

Apabila memilih untuk mengutip ayat-ayat Al-Qur'an, pilihlah ayat-ayat yang berisikan pujian maupun doa kepada Allah. Ada sangat banyak cuplikan doa para Nabi dan orang saleh di dalam Al-Qur'an.

Jangan sia-siakan momen shalat kita dengan menceritakan kisah Tentara Bergajah, kisah Orang Kafir, ataupun kisah Abu Lahab kepada Allah.

Shalat juga didirikan untuk mengingat/ menyebut nama Allah seperti Ya Allah..., atau Ya Malik..., atau Ya Ghaffar..., atau nama-nama-Nya yang lain.
"...dan dirikanlah shalat untuk mengingat/ menyebut Aku." (20:14)

Di akhir sujud menjelang selesai shalat kita disuruh untuk melafalkan sanjungan kepada-Nya.
"Dan sanjunglah Dia pada malam hari, dan pada ujung-ujung sujud." (50:40)

Contoh lafal sanjungan adalah "Allah disanjung"/Subhanallah (12:108), atau "Engkau disanjung ya Allah"/Subhanakallahumma (10:10).

Sebagai catatan tambahan, untuk kepantasan berkomunikasi dengan Allah, sepatutnya kita tidak mengucapkan kata "qul" atau "katakanlah" pada ayat-ayat yang diawali dengan kata "qul" atau "katakanlah" seperti yang terdapat di dalam surat al-Ikhlas, al-Falaq maupun an-Nas.

Bahasa

Bahasa bukanlah hal penting dalam menyembah Allah. Dia tidak pernah memerintahkan agar bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa pengantar dalam shalat untuk semua kaum. Islam itu mudah, orang-orang yang karena keterbatasan pendidikan ataupun karena usianya tidak sanggup menguasai bahasa Arab tetap dapat bermunajat kepada-Nya dengan menggunakan bahasa yang mereka mengerti.

Membaca ayat-ayat yang tidak kita pahami artinya bisa jadi menyeret kita ke dalam kedurhakaan. Bagaimana tidak durhaka kalau misalnya ayat yang kita ucapkan ketika menghadap-Nya adalah salah satu dari ayat di bawah ini:
"Wahai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut." (2:40)

"Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, kecuali pada masa yang lalu; sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci dan seburuk-buruk jalan." (4:22)

"Sesungguhnya Akulah Allah; tidak ada Tuhan selain Aku; maka sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (20:14)

Meskipun ayat-ayat di atas diambil dari Al-Qur'an, ia tidak pantas diucapkan di dalam shalat. Itulah pentingnya kita mengerti apa yang kita ucapkan.

Seiring dengan perkara ini, Allah melarang kita mendekati shalat ketika dalam keadaan mabuk sampai kita mengerti apa yang kita ucapkan.
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati shalat apabila kamu sedang mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan..." (4:43)

Suara

Suara di dalam shalat tidak dilantangkan dan tidak pula didiamkan. Allah menyuruh kita agar mengambil suara yang pertengahan, dan ini berlaku untuk keseluruhan shalat.
"Dan janganlah kamu melantangkan suara dalam shalat kamu, dan jangan juga mendiamkannya, tetapi carilah pertengahan di antara yang demikian itu." (17:110)

Gerakan

Berdiri, rukuk, dan sujud disebut berulang kali di dalam Al-Qur'an dan ini adalah gerakan ritual shalat.

"... Janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Aku, dan bersihkanlah Rumah-Ku untuk orang-orang yang mengelilinginya (haji), dan orang-orang yang berdiri, dan orang-orang yang ruku, orang-orang yang sujud (shalat)" (22:26)

"Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan keturunanku di sebuah lembah gersang dekat Rumah Engkau yang dihormati, ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati manusia cenderung kepada mereka..." (14:37)

Kedua ayat di atas menjelaskan kaitan antara perbuatan berdiri, ruku, dan sujud dengan shalat.

Tentang bagaimana cara berdiri, ruku,' dan sujud seseorang terpulang pada dirinya sendiri. Orang yang pincang berdirinya mungkin tidak tegak lurus; orang yang sakit pinggang atau sudah lemah mungkin ruku' dengan tidak terlampau menukikkan badan; orang yang keningnya ada penyakit mungkin sujud dengan pelipisnya. Kesemua itu tidak mengurangi kesempurnaan ibadah shalat yang dilakukan.

Rakaat

Al-Qur'an sama sekali tidak pernah menetapkan adanya rakaat shalat seperti yang umum diketahui. Dari ayat di bawah ini kita akan maklumi bahwa shalat berawal dari berdiri dan berakhir setelah selesai sujud.
"Apabila kamu di kalangan mereka dan melakukan shalat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri bersamamu dan menyandang senjata mereka. Apabila mereka sujud, hendaklah mereka berada di belakang kamu (berjaga-jaga), dan hendaklah segolongan lain yang belum shalat datang, dan shalat bersamamu..." (4:102)

Karenanya satu siklus gerakan berdiri-ruku-sujud sudah memadai.

Memendekkan Shalat

Apabila kita berada dalam perjalanan atau dalam kondisi membahayakan, maka kita dapat menyingkat shalat kita.
"Dan apabila kamu berpergian di bumi, tidak bersalah atas kamu untuk memendekkan shalat, jika kamu takut dianiaya orang-orang yang tidak beriman..." (4:101)

Menyingkat shalat ini dilakukan dengan cara mengurangi atau meniadakan bagian "menyebut/ mengingat Allah" sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya.

Setelah kita berada dalam keadaan aman, maka kita kembali menyebut/ mengingat Allah.
"...Apabila kamu telah aman, ingatlah/ sebutlah Allah sebagaimana Dia telah mengajar kamu apa yang kamu tidak tahu." (2:239)

Memendekkan shalat dapat pula dilakukan dengan cara mengurangi doa-doa yang ingin dipanjatkan.

Akhir Shalat

Kalau tadi kita telah mengawali seruan kepada-Nya dengan "Ya Allah" ataupun "Ya Rahman," maka Al-Qur'an mengajarkan bahwa akhir dari seruan kepada-Nya adalah pujian yang berbunyi "Alhamdulillahirabbil'alamiin" atau "Segala puji bagi Allah, Pemelihara semesta alam."
"...Dan akhir seruan mereka: 'Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.'" (10:10)

Ayat di atas adalah kutipan dari doa penutup para ahli surga. Ucapan yang sama kita gunakan karena shalat pada hakikatnya adalah juga sebuah doa. Dan penutup doa yang dipraktikkan oleh para ahli surga tentulah ucapan penutup yang paling sempurna.

Menyuruh Keluarga

Tidak cukup kita hanya memastikan bahwa diri kita pribadi telah melakukan shalat. Allah perintahkan kita untuk juga menyuruh keluarga kita melakukan shalat, termasuklah di dalamnya istri/ suami dan anak-anak.
"Dan suruhlah keluarga kamu shalat dan bersabarlah padanya..." (20:132)

Wanita Haid

Al-Qur'an tidak pernah melarang wanita yang sedang haid untuk masuk ke dalam mesjid maupun untuk melakukan shalat. Ketentuan Al-Qur'an tentang wanita haid hanyalah berkaitan dengan larangan melakukan hubungan suami isteri (2:222) dan waktu tunggu ketika akan bercerai untuk memastikan bahwa si wanita tidak sedang hamil (2:228, 65:4)

Shalat Fajar Bila Bangun Kesiangan

Pernah ada pertanyaan bagaimana dengan shalat Fajar kita apabila kebetulan bangun kesiangan. Jawaban kami, shalat adalah kewajiban yang diiringi oleh suatu ketentuan waktu. Karenanya apabila kita bangun kesiangan hingga lewat waktu fajar maka kita kehilangan kesempatan untuk shalat Fajar pada hari itu.
"... sesungguhnya shalat adalah satu waktu yang dikitabkan (ditentukan) bagi orang-orang mukmin." (4:103)

Larangan-Larangan

Kita dilarang mendekati shalat ketika dalam keadaan mabuk sampai kita mengerti apa yang kita ucapkan, dan dilarang juga ketika dalam keadaan junub sampai kita mandi.
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendekati shalat apabila kamu sedang mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula dalam junub kecuali sekadar berlalu, sampai kamu mandi..." (4:43)

Selain itu, kita dilarang pula menyeru (memanggil) nama selain nama Allah. Ketentuan ini mencakup juga larangan menyeru (memanggil) nama nabi-nabi semisal Nabi Muhammad.

"Bahwasanya masjid-masjid adalah kepunyaan Allah, maka janganlah menyeru kepada selain Allah di dalamnya" (72:18)

Sekian uraian singkat tentang tata cara shalat di dalam Al-Qur'an. Mungkin tidak sesuai dengan cara shalat yang kita anggap benar, namun demikianlah yang ditetapkan Allah di dalam Kitab-Nya. Dan apa yang ditetapkan Allah itulah yang benar.
Post a Comment