Thursday, August 16, 2012

Islam manakah yang benar

أشهد أن لا اله الا الله و أشهد أن محمدا رسول الله
Ketahuilah, Islam yang benar adalah yang berlandaskan al qur-aan, as-sunnah yang shahiih, menurut apa yang dipahami, diyakini, dan diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam dan para shahabatnya.
Mengapa kita harus mengikuti pemahaman, keyakinan dan pengamalan para shahabat?
1. Mereka adalah orang yang menyaksikan secara langsung turunnya al Qur-aan, mereka adalah orang yang menyaksikan secara langsung penjelasan Rasulullah dalam menjelaskan al qur-aan, mereka adalah orang yang menyaksikan sabda-sabda nabi secara langsung. Merekalah pun adalah kaum yang berbicara bahasa arab secara fasih, maka merekalah yang paling memahami agama ini, paling lurus keyakinannya, dan paling benar amalannya.
2. Mereka adalah orang yang diluruskan keyakinan, pemahaman atau pengamalan dalam beragama, jika mereka salah. Siapakah yang meluruskan kesalahan mereka? ketahuilah, yang meluruskan mereka adalah Allah dan RasulNya.
Maka mengikuti pemahaman mereka dalam beragama, mengikuti keyakinan mereka dalam beragama, mengikuti pengamalan mereka dalam agama adalah jalan keselamatan, dan jalan menuju surga. adapun menyelisihi mereka, maka itu adalah jalan menuju neraka.
Bukankah dalam setiap shalat kita meminta kepada Allah:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus,
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
(yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka;
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
(al faatihah 6-7)
Siapakah orang-orang yang diberi nikmat atas mereka?
Allah berfirman:
الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا
Orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
(An-Nisaa: 69)
Siapakah yang dipersaksikan sebagai ash-shiddiq (orang yang benar/jujur) oleh Allah dan RasulNya? tidak lain Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu ash-shidiqul akbar, dalam BANYAK HADITS yang shahiih.
siapakah yang dipersaksikan sebagai asy-syahid oleh Allah dan RasulNya? tidak lain adalah ‘Umar, ‘Utsman dan orang-orang yang mati syahid dalam peperangannya bersama Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam (semoga Allah meridhai mereka semua0.
Siapakah yang dipersaksikan sebagai shalihiin (orang-orang yang shalih)? tidak lain adalah para shahabat!
Maka mengikuti jalan mereka adalah keselamatan, sedangkan menyelisihi jalan mereka adalah kesesatan.
Allah berfirman:
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan MENGIKUTI JALAN SELAIN JALAN ORANG-ORANG MUKMIN, Kami biarkan ia leluasa terhadap KESESATAN yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
(An-Nisaa: 115)
Simak disini penjelasan lengkapnya: http://abuzuhriy.com/?p=938
Mereka (para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik) disebut oleh para ulama sebagai salafush shalih.
Merekalah:
- Ahlus-sunnah wal jama’ah
- Firqatun najiyyah
- Thaa-ifah al-mansyurah
- Hizbullah

Yang sebenarnya.
Adapun orang-orang yang mengaku-ngaku ahlus-sunnah wal jama’ah tapi dalam realita, ia tidak mengikuti jalan mereka (dalam hal keyakinan, pemahaman, maupun amalan), maka mereka adalah PENDUSTA, bukanlah ia seorang sunniy (pengikut ahlus-sunnah wal jama’ah).
Ingatlah pula, yang kita jadikan patokan adalah IJMA’ PARA SHAHABAT, bukan individu-individu mereka, karena mereka tidaklah ma’shum, satu-satunya INDIVIDU yang kita ikuti adalah Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam.
Jika INDIVIDU para shahabat tidak kita FANATIK (dalam artian kita mengikutinya, sekalipun pendapatnya menyelisihi as-sunnah)1, maka tentu orang selainnya (walaupun ia seorang ulama ahlus-sunnah) TIDAK PATUT untuk dijadikan sumber fanatisme.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata :
” Tidak boleh bagi seorangpun menisbatkan diri kepada SEORANG SYAIKH, lalu ia memberikan LOYALITAS dan PERMUSUHAN diatasnya!
Justru hendaklah ia memberi loyalitas kepada SETIAP AHLI IMAN yang BERTAQWA dari SEMUA ULAMA.
TIDAK BOLEH ia memberi loyalitas yang lebih kepada SALAH SEORANG dari MEREKA, kecuali jika ia mempunyai kelebihan iman dan ketaqwaan.
Hendaklah ia mendahulukan orang yang Allah dan Rosul-Nya dahulukan, dan mengutamakan orang yang Allah dan Rosul-Nya utamakan “.
(Majmu’ fatawa 11/512).
Beliau juga berkata :
“Barang siapa yang menjadikan SESEORANG sebagai pemimpin, siapapun ia (selain Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, ed), lalu ia MEMBERIKAN LOYALITAS dan PERMUSUHAN di atasnya DALAM PERKATAAN dan PERBUATAN orang tersebut, maka ia termasuk (dalam ayat):
الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ
“orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan.”
(Ar Rum : 32)
Dan apabila seseorang bertafaqquh dengan sebuah madzhab seperti pengikut para imam, maka ia TIDAK BOLEH MENJADIKAN guru dan teman-temannya SEBAGAI PARA METER yang ia memberikan loyalitas kepada orang yang sepakat dengannya dan memusuhi orang yang tidak sepakat dengannya”.
(Majmu’ fatawa 20/8-9).
Maka semoga hal ini dapat kita ambil pelajaran…
Fenomena banyaknya jama’ah atau kelompok dalam Islam
Ketahuilah, bahwa jama’ah-jama’ah, atau kelompok-kelompok, atau partai-partai, atau organisasi-organisasi, atau yayasan-yayasan2 yang ada sekarang ini, maka ini BUKAN STANDAR KEBENARAN.
Demikian pula madzhab-madzhab, imam-imam, ulama-ulama, ustadz-ustadz, kyai-kyai, wali-wali (atau yang lebih tepatnya YANG DIANGGAP WALI); itu semua BUKAN STANDAR KEBENARAN.
Tidak boleh kita menjadikannya sebagai STANDAR KEBENARAN, karena STANDAR KEBENARAN kita (sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah, kitab-kitabNya dan Rasul-RasulNya) adalah al qur-aan, as-sunnah yang shahiih menurut keyakinan, pemahaman, dan pengamalan para shahabat.
Tidak boleh pula kita menjadikannya sebagai TOLAK UKUR KAWAN-LAWAN, karena tolak ukur kawan dan lawan adalah menurut apa yang telah ditetapkan oleh Allah (dalam al qur-aan) dan RasulNya (dalam as-sunnah).
Kita melihat kebanyakan kaum muslimin BERPECAH BELAH dengan menjadikan hal diatas sebagai TOLAK UKUR KEBENARAN, sehingga barangsiapa yang menyelisihi jama’ahnya atau kelompoknya atau organisasinya atau yayasannya atau madzhabnya atau imamnya atau syaikhnya atau ustadznya atau kyainya; maka ia anggap telah tersesat dan ia anggap sebagai musuh baginya. walaupun orang yang menyelisihinya tersebut BERADA DIATAS HUJJAH yang kuat.
Hal-hal seperti ini, adalah HIZBIYYAH ASHABIYYAH (fanatik golongan), yang dicela dalam agama.
Allah berfirman:
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
(Al-Mukminun: 53)
Allah berfirman:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ
Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.
(Ash-Shura: 13)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa salalm bersabda:
فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Allah meridhai kalian bila kalian hanya menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukannya
وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya
وَلَا تَفَرَّقُوا
dan janganlah kalian berpecah belah.
(HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
مَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
Dan barangsiapa berjuang di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik gologan atau karena ingin menolong berdasarkan fanatisme, kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah.
(HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda:
وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً
sesungguhnya bani Israil terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dan ummatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan semuanya masuk ke dalam neraka kecuali SATU (GOLONGAN), ”
Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab:
مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
“(Mereka adalah golongan yang berpegang pada) apa-apa (yang) aku dan para sahabatku (berpegang teguh) padanya”.
Dalam riwayat yang lain:
‎مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
“(Mereka adalah golongan yang berpegang pada) apa-apa (yang) aku dan para sahabatku (berpegang teguh) pada hari ini”.
[hadits ini shahiih; diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, adz-Dzahabi, al-Baghawi (Syarhus Sunnah), asy-Syathibi (al-I’tisham), Ibnu Taimiyah (Majmu’ al-Fatawa), Ibnu Hibban (dalam Shohih beliau), Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-Adzim)]
Jika ada yang berkata, golongan-golongan yang memecah-belah agama ini “bersatu” untuk memerangi ahlus sunnah. maka ini telah dibantah oleh Allah:
بَأْسُهُم بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ
Permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah.
(Al-Hashr: 14)
Maka tidak heran kita melihat, golongan-golongan tersebut, walaupun mereka berada digolongan yang sama, mereka saling memendam permusuhan dalam hati-hati mereka. mereka menampakkan seakan-akan mereka bersatu, padahal mereka diantara sesamanya berpecah belah! Sehingga kebanyakan dari kelompok tersebut, telah terpecah-pecah lagi menjadi beberapa golongan, yang tadinya mereka berada dalam satu barisan. Lantas apakah mereka menginginkan untuk mengajak persatuan agar kaum muslimin berada diatas kelompok mereka?!
Maka hendaknya kita kembali kepada Islam yang benar, kembali kepada ahlus-sunnah wal jama’ah, kembali kepada keyakinan, pemahaman dan pengamalan para shahabat.
Sebagaimana telah diberikan solusi oleh Rasulullah, yaitu ketika beliau menasehatkan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu dalam menghadapi zaman yang banyak keburukannya (diantaranya banyaknya golongan sesat):
تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ
“Kamu tetap berpegang (bergabung) kepada jama’atul miuslimin dan pemimpin mereka”.
Hudzayfah berkata;
“Jika saat itu tidak ada jama’atul muslimin dan juga tidak ada pemimpin (Islam)?”.
Beliau menjawab:
فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
Kamu tinggalkan seluruh firqah (kelompok/golongan) sekalipun kamu harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dan kamu tetap berada di dalam keadaan itu (berpegang kepada kebenaran) “.
(Riwayat Bukhari VI615-616, XIII/35. Muslim XII/135-238 Baghawi dalam Syarh Sunnah XV/14. Ibnu Majah no. 3979, 3981. Hakim IV/432. Abu Dawud no. 4244-4247.Baghawi XV/8-10. Ahmad V/386-387 dan hal. 403-404, 406 dan hal. 391-399; dan lafazh diatas milik Ahmad)
Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda:
أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ
“Aku wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah,
وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا
Mendengar dan taat (–kepada penguasa kaum muslimin, dalam hal kebaikan–) walau kepada budak dari Habasyah.
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا
Sungguh siapa yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak.
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّي
Berpeganglah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa’ Rasyidin yang mendapat petunjuk.
وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
Gigitlah ia dengan gigi geraham.
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Hindarilah kalian hal-hal yang baru, sesungguhnya setiap hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”
(Shahiih; HR. Ahmad, Abu Dawud, at Tirmidziy, ad Darimiy, al Baghawiy, al hakim)
Maka hendaknya kita MENCARI KEBENARAN hanya kepada orang-orang yang benar (sebagaimana firmanNya dalam QS. 9:119), tidak boleh kita mencarinya kepada orang-orang yang banyak salahnya atau jatuh dalam penyimpangan. akan tetapi kita MENERIMA KEBENARAN dari siapa saja, walaupun dari orang-orang kafir bahkan jika yang menyampaikan kebenaran tersebut adalah syaihtan. maka yang terpenting bagi kita adalah MENGENAL KEBENARAN, dan BERSAMA ORANG-ORANG YANG BENAR.
Semoga Allah senantiasa menunjuki kepada kita kebenaran, dan menetapkan kita bersama-sama orang-orang yang benar di dunia, dan mengumpulkan kita bersama mereka pada hari kiamat. aamin.
Catatan Kaki
  1. Tentu kesalahan mereka tidak mereka lakukan dengan sengaja, sangat banyak alasan mengapa mereka telah salah dalam suatu perkara. Seperti; tidak sampainya dalil pada mereka atau kesalahan takwil mereka, dsb. dan ingatlah, walaupun mereka bersalah dalam suatu permasalahan, namun mereka tetap mendapatkan satu pahala, karena mereka semua adalah MUJTAHID
  2. Sebenarnya pendirian organisasi atau yayasan TIDAKLAH TERLARANG SECARA MUTLAK. Selama oragnisasi atau yayasan tersebut dibangun diatas MANHAJ YANG HAQ, dan selama organisasi dan yayasan tersebut para pemimpin dan pengikutnya TIDAK DIIKAT dengan BA’IAT, TIDAK PULA menjadikannya sebagai TOLAK UKUR KEBENARAN, dan TOLAK UKUR AL WALAA WAL BARA. Wallahu a’lam
Post a Comment